...
...
...
Sakura menatap nyalang dua makhluk yang ada di depannya. Pemuda berambut aneh yang menatapnya dengan seringai menggodanya yang entah terlihat menjijikkan baginya serta wanita bersurai hitam panjang yang berada di pelukan pemuda itu tak terlihat wajahnya karena membelakanginya. Dan bagaimana bisa mereka berdua sama sekali tak mengubah posisi, apa mereka sama sekali tak merasa malu karena perbuatannya di ketahui orang lain.
"Kenapa kau diam,hn? Kau tuli?"
Sakura menggeram pelan, kedua tangannya yang mengepal menahan emosi mulai memutih , mungkin saat ini wajahnya sudah berubah merah seperti kebiasaannya jika sedang emosi. Ingin sekali rasanya dia melempar dua orang itu lewat jendela di sana, karena perpustakaan ini di lantai dua jadi cukup kan membuat dua orang itu sekarat atau sekalian mati saja, tapi sayangnya semua hanya jadi keinginannya.
"Rambutmu itu asli? Aneh."
Emerald hijau itu semakin memicing tajam menatap dua objek di depannya. Dan apa katanya tadi? Rambutnya aneh? Tadi juga dia di katai tuli? Damn , yang benar saja, bagaimana bisa orang yang tak di kenalnya menghina rambut kebanggaannya yang memang di akuinya sedikit aneh tapi tetap saja dia tak terima .
"Hn?"
Cukup sudah, mumpung saat ini dia masih bisa berpikir sebaiknya dia pergi dari sini, jika tidak dua manusia itu benar-benar akan di lemparnya. Sakura berbalik badan dan mulai melangkah pergi jika saja suara baritone yang dalam dan terkesan datar itu tak menahannya untuk berhenti.
"Mau pergi? Tak ingin bermain denganku dulu,hn?"
Sekali Sakura menggeram menahan emosi yang mulai terpancing lagi. Sakura langsung berbalik kembali menatap pemuda yang tetap menampilkan seringai menjijikkan yang semakin lebar saja.
"Kau-." Sakura menatap tajam manic onyx yang masih menatapnya nakal, dengan penuh kekesalan Sakura mengangkat jari telunjuknya tepat kearah wajah yang lumayan tampan milik pemuda itu. "Sangat menjijikkan."
Sakura langsung berbalik pergi meninggalkan dua manusia itu, tanpa peduli bagaimana reaksi dari pemuda yang dia tunjuk tadi.
...
...
Shimura Sai masih terkekeh kecil setelah mendengar cerita dari sahabatnya itu. Sungguh sangat mengagetkannya, bagaimana bisa sahabat baiknya itu yang di kenal sebagai prince charming di sekolahnya itu, bisa di hina oleh seorang gadis yang katanya tidak dia kenal itu. Apa pesona sahabatnya itu sudah menurun? Atau gadis itu yang terlalu hebat? Sepertinya dia harus mengacungkan jempol pada gadis itu jika mereka bertemu nanti.
"Kau kepergok seorang siswi?"
"Hn."
"Dan siswi itu mengataimu menjijikkan?"
Pemuda bersurai hitam kebiruan itu hanya mendecih mendengar perkataan dari Sai."Apa?"
"Sepertinya aku harus memberi hadiah pada gadis itu."
"Ck."
Sai kembali ingat kejadian sepulang sekolah tadi. Saat dia dalam perjalanan pulang ke rumah tiba-tiba ada telepon dari pemuda bersurai hitam yang duduk di depannya ini , dan meminta bertemu di rumah Hinata. Inginnya sih menolak tapi ketika mendengar suara Uchiha Sasuke -sahabatnya yang terlihat penting itu akhirnya dia menyetujui, dan di sinilah mereka berdua duduk santai di gazebo tengah taman belakang milik keluarga Hyuuga sambil memandang keindahan taman yang di tata ala taman tradisional jepang .
"Kenapa?" Sai mengernyit heran mendengar decihan dari mulut Sasuke.
"Apanya?." Sasuke memalingkan wajahnya melihat kearah kolam ikan koi di samping gazebo.
"Kau marah padaku atau gadis yang menghinamu, hn? Kau merasa tertolak ya?"
"Urusai."
Sai semakin terkekeh geli melihat alis Sasuke yang menukik ke bawah sangat terlihat tak suka, sudah dapat di tebak Sasuke sedang kesal tapi bukan padanya melainkan dengan gadis yang menghinanya di sekolah. Sai jadi ingin bertemu dengan gadis itu? Seperti apa seseorang yang sudah berani menolak Uchiha bungsu itu.
"Maaf menunggu lama." Hinata datang dari arah rumah dengan membawa tiga gelas minuman dan setoples roti kering. Penampilan gadis itu sudah berubah, tak lagi memakai seragam melainkan kimono rumahan berwarna biru muda dengan obi biru tua yang mellit di pinggang gadis cantik itu.
"Tak masalah." Sai tersenyum manis sedangkan Sasuke hanya mengangguk.
"Ada apa? Sepertinya Sasuke sedang kesal." Hinata memperhatikan Sasuke yang tampak tak berminat.
"Dia di tolak." Sai menjawab cepat.
"Hoi."
"Benarkah, ini harus di rayakan." Hinata tersenyum senang memandang Sasuke. "Jadi siapa gadis yang menolak Uchiha Sasuke yang terkenal ini."
"Aku tidak di tolak dan aku tak kenal gadis aneh itu." Sasuke menjawab tak terima.
Hinata menatap tak percaya pada Sasuke. "Tapi kau terlihat kecewa, Sasuke-kun."
"Aku setuju."
"AKU BAIK-BAIK SAJA. Dan kalian berhenti menggodaku." Sasuke menatap tajam dua manusia berlainan gender yang duduk di depannya, bukannya takut keduanya malah tertawa melihat tingkah Sasuke.
"Sai-kun, sepertinya kita benar-benar harus merayakannya."
"Ok." Sai mengangkat gelas di tangannya tinggi, di ikuti oleh Hinata yang juga mengangkat gelasnya tinggi.
Sasuke hanya menghela nafas bosan melihat tingkah dua sahabatnya, biarlah dua sahabatnya tertawa sampai mereka puas karena memang di akuinya, dia sedikit kecewa dan merasa tertolak dengan hinaan dari gadis berambut pink itu. Lihat saja, jika mereka bertemu lagi gadis pink itu harus mendapat balasannya, tapi bukannya mereka satu sekolah jadi pasti mereka akan bertemu kan.
...
...
Issho 一緒
Disclamer © Masashi Kishimoto
Warning; typo, gajee, AU, OOC dan lain sebagainya
…
…
Don't Like Don't Read
...
…
Hatake Kakashi mengernyit heran melihat tingkah ketiga bocah SMA yang juga duduk di meja makan sama dengannya, mereka bertingkah sangat aneh pagi ini- yah—meski memang ketiganya aneh tapi pagi ini tak biasanya, sepi—itu yang terasa saat ini.
"Hn?" Kakashi memperhatikan satu persatu bocah sma di depannya.
Lihat saja ,Uzumaki Naruto- bocah yang biasanya hyperaktiv itu kini tampak duduk dengan kepala di taruh di atas meja, memandang bosan kearah sepiring nasi goreng hangat di depannya, sangat tidak biasa mengingat dia yang paling suka makan di rumah itu. Yamanaka Ino, gadis cantik mirip barbie itu juga tak menyentuh sarapannya pagi ini dan lebih senang berkutat dengan ponsel di tangannya bahkan sesekali terlihat kekeh'an kecil mengalun dari bibir tipisnya dan setelah itu jemari nya akan bergerak lincah di atas ponselnya. Dan yang terakhir Haruno Sakura, keponakan tersayangnya yang kini terlihat tenang dan cuek memakan sarapannya, sama seperti biasanya hanya saja pagi ini di sekelilingnya terlihat aura hitam dan dingin selain itu kedua mata hijaunya menatap awas tajam sekeliling seperti berkata'jangan dekati aku, jika tetap nekat MATI kau'. Yah begitulah sedikit penjabaran dari ketiga bocah di depannya.
'Haah, merepotkan' batin guru sma itu.
BRAAK.
"Ramen. Aku ingin makan ramen." Naruto tiba-tiba berdiri dari kursinya sambil menggebrak meja, lalu menatap kearah Kakashi. "Buatkan aku ramen instan."
"Tidak. Kebanyakan ramen , kau bisa bodoh Naruto dan jangan main perintah . Aku ini senseimu." Kakashi menatap sinis pada Naruto, dan di balas dengusan bocah rambut durian itu. "Dan kau, Ino cepat makan sarapanmu jangan mainkan ponsel saat makan."
"Ish, urus saja dirimu sendiri Kakashi-sensei." Ino mencibir pada orang paling dewasa di rumah itu tanpa sekalipun menatap wajah pria bersurai perak itu.
Kakashi menghela nafas panjang, kenapa dua bocah ini sulit sekali di atur."Sakura, bisakah kau urus dua temanmu. Dan berhentilah mengeluarkan aura menakutkan itu. Jika tidak-"
BRAAK. Kini giliran Sakura tiba-tiba mengebrak meja dan menatap satu persatu penghuni rumah itu dengan aura dingin penuh emosi.
"BERISIK." Semua langsung terhenti dari kegiatannya dan menatap gadis pink itu. "Naruto cepat makan. Atau kau ingin merasakan seperti kemarin."
Naruto bergidik ngeri mengingat kejadian sepulang sekolah kemarin, dia yang se'enaknya masuk kamar Sakura tanpa ketuk pintu dulu padahal gadis itu sedang serius belajar, alhasil sebuah tinjuan di perut dia dapatkan. Naruto mengelus perutnya sayang, cukup kemarin dan dia tak mau lagi.
"Ino. Kau ingin ponsel kesayanganmu itu remuk, hn?" Ino menatap ngeri kearah Sakura, gadis pink itu sedang emosi lebih baik menurutinya jika tidak ucapkan selamat tinggal untuk ponselnya,untuk membalas sms dari Sai bisa nanti.
"Dan kau-." Sakura menunjuk kearah Kakashi."Jangan coba mengancamku atau ku bakar semua koleksi buku kuningmu itu." Dan setelah itu Sakura meninggalkan meja makan menuju kamarnya masih dengan aura dingin penuh ancaman.
'Mengerikan' Batin ketiganya sambil memandang gadis pink itu menaiki tangga dan menghilang tertutup tembok. Ketiganya langsung melaksanakan perintah Sakura, sebelum gadis pink itu benar-benar akan melaksanakan omongannya.
...
...
Lamborghini reventon berwarna hitam metalik itu memasuki wilayah Konoha Leaf School dan berhenti tepat di pelataran parkir, dari dalamnya keluar seorang pemuda dengan penampilan yang tampak berantakan. Kemeja putih panjangnya tak di masukkan dengan dua kancing atas terbuka sedangkan dasi panjang merah kotak-kotak terpasang longgar, blazer merah yang seharusnya terpakai kini menyampir di bahu kanannya. Pemuda itu sesekali menguap dan terlihat mengacak rambut hitam kebiruannya menjadi semakin berantakan, semua murid yang kebetulan berada di lokasi menatap waah padanya.
"Kyaaa.. Sasuke-kun."
"Sasu-kun, i miss you."
"Sasuke... love you."
Kedua onyx hitamnya memutar bosan melihat sekeliling, teriakkan yang memanggil namanya serta pandangan memuja padanya selalu terjadi setiap hari dan itu sangat mengganggunya. Sasuke mengedarkan pandangan kesekeliling mencari seseorang dan ketemu, dua orang berbeda gender yang memakai seragam sekolah sama dengannya sedang berjalan kearahnya.
"Kenapa heboh sekali setiap kau datang."
"Hn. Kau iri?" Sasuke menyeringai mendengar kalimat yang di keluarkan Sai.
"Ohayou, Sasuke-kun."
Uchiha Sasuke hanya mengangguk menjawab ucapan dari Hinata. Ketiganya kemudian berjalan memasuki gedung sekolah dengan di iringi teriakan memanggil nama dua pemuda keren itu, Hinata yang notabene perempuan di antara dua pemuda tampan itu sedikit risih dengan teriakkan itu, apalagi dia berjalan di tengah-tengahnya, dapat dia rasakan pandangan iri dan sinis dari para sisiwi yang melihatnya sepertinya sudah resikonya bersahabat dengan dua pangeran sekolah.
"Tak ingin menyapa mereka?" Sai melirik Sasuke yang berjalan di sebelah Hinata.
"Hn. Seperti aku senang menanggapi mereka saja."
"Kau hanya menanggapi saat mereka mengajakmu bercinta saja."
"Hn."
"Tapi mungkin saja, salah satu dari mereka mau menemanimu malam ini."
"Tidak untuk saat ini."
"Kenapa?"
"Ngantuk." Sai mengernyit heran dengan jawaban dari Sasuke.
"Kau bermain semalam?" Sasuke hanya mengangguk mendengar pertanyaan dari Sai. "Dengan siapa?"
"Tsuchi Kin."
"Gadis berambut hitam panjang itu, bukannya kau kemarin seharian bolos dengannya."
Sasuke mendengus mendengar rentetan pertanyaan dari Sai, kenapa pemuda itu jadi cerewet? Dan kenapa dia jadi ingin tahu kesehariannya? "Gadis itu menghubungiku semalam."
"Kenapa tak kau tolak?"
"Aku tak pernah menyia-nyiakan kesempatan." Sasuke menyeringai kecil pada Sai.
"Kenapa kau tak menghubungiku, kita bisa main bertiga."
Sasuke hanya menggeleng."Maaf, aku tak suka berbagi."
"Oh. Dan biar ku tebak, gadis itu tidak masuk pagi ini karena kelelahan karena permainanmu." Sai tersenyum kearah Sasuke.
"Hn." Sasuke enyeringai penuhh kebanggaan.
Hinata hanya diam mendengar pembicaraan dua sahabatnya, bukannya tak mengerti hanya saja dia tak ingin ikut campur. Sasuke yang terkenal Bad boy, senang sekali menghabiskan malam-malamnya dengan para gadis itu, sudah seringkali dia menasehati bungsu Uchiha itu tapi selalu tak di dengar.
"Berhenti merayu gadis-gadis itu, Sasuke-kun."
"Aa, mereka yang mengundangku dan sebagai tamu yang baik, aku menuruti keinginan mereka."
"T-tapi kan-."
"Sudahlah Hina-chan, percuma menasehati Sasuke."
Hinata hanya menghela nafas panjang, ketiganya berjalan menuju kelasnya masing-masing, karena Sai berbeda kelas dengan Sasuke dan Hinata, dia mendahului mereka menuju kelas yang bersebelahan dengan kelas dua sahabatnya.
...
...
Sakura dan Naruto berjalan di lorong sepi sekolahnya, bel masuk sudah berkumandang lima belas menit yang lalu dan kenapa mereka baru akan memasuki kelas? Itu karena mereka harus menemui wakil kepala sekolahnya membicarakan kegiatan club yang akan mereka jalani, meski saat ini tahun akhir mereka sekolah dan karena di KLS ada peraturan seorang siswa harus ikut club meski ini tahun terakhirnya jadilah mereka harus ikut kegiatan itu. Dan jika tanya di mana Ino? Gadis pirang itu sudah melenggang pergi setelah dari ruang wakil kepala sekolah, karena memang pelajaran jam pertama kelasnya olahraga jadi dia harus buru-buru.
Dan mengenai soal club extra, Sakura memilih ikut club memasak karena memang gadis pink itu sangat suka memasak meski makanan yang dia buat tak begitu enak sih, Naruto mendaftar jadi anggota club basket seperti dulu saat di sekolah lamanya, dia ingin menjadi pemain inti di sekolah barunya. Sedangkan Ino lebih memilih ikut club cheerleader yang katanya bisa membuatnya populer itu.
Keduanya berjalan tanpa obrolan. Naruto melirik gadis pink di sebelahnya yang berjalan tanpa suara dengan tatapan lurus kedepan. Uzumaki naruto menhela nafas kasar, dia yang tipe pencerah suasana ini, berjalan dengan keheningan dan itu membuatnya tidak betah.
"Sakura-chan,sebenarnya kau itu kenapa?"
"Apa?"
"Apa kau masih marah padaku? Gomen." Naruto meraih jemari Sakura dan menggenggamnya, matanya berkaca-kaca menatap Sakura.
Sakura menghela nafas, sepertinya dia sudah membuat Naruto salah paham. Dia memang lebih emosi pagi ini, ah—tidak sepulang sekolah kemarin dan jika di tanya penyebabnya ? kejadian di ruang perpustakaan kemarin itulah penyebabnya, dan kemarin juga Naruto datang di saat yang tidak tepat, akhirnya bocah kuning itu yang jadi pelampiasan emosinya. Sepertinya setelah ini, dia harus minta maaf pada Naruto.
"I'ie. Seharusnya aku yang minta maaf. Aku marah bukan karenamu."
"Jadi ? Siapa yang sudah membuatmu marah, katakan padaku biar ku hajar orang itu."
Sakura tersenyum tipis melihat reaksi Naruto, ya—Naruto selalu peduli padanya dan selalu menjaganya sejak dulu. Sakura akhirnya menceritakan kejadian kemarin di perpustakaan pada Naruto, reaksinya tak jauh berbeda dengan Ino yang pagi tadi juga memaksanya untuk cerita, hanya saja Ino bersikeras ingin bertemu dulu dengan pemuda itu. Mengingat dia akan satu sekolah dengan pemuda mesum kemarin, membuat Sakura sedikit malas semoga saja mereka tak satu kelas.
"Kenapa tak kau usir mereka? " Naruto berkata penuh emosi.
"Inginnya sih begitu, tapi kita ini murid pindahan. Aku tak mau berurusan dengan murid sekolah ini."
"Tapi sejak awal mereka yang membuat urusan pada kita."
"Aku tahu." Sakura melirik Naruto yang terlihat tak suka dengan jawabannya. " Nanti, tidak untuk saat ini. Kau mengerti kan."
Naruto awalnya tak mengerti maksud perkataan Sakura, tapi setelah melihat senyum tipis tapi juga terlihat seperti seringai di bibir Sakura, akhirnya Naruto mengerti. Sepertinya untuk saat ini dia mesti bersabar.
...
...
Akhirnya mereka sampai di kelas mereka, sesaat mereka heran kenapa kelasnya begitu tenang dan hening. Bahkan saat mereka lewat tadi, dia bisa melihat murid-murid di kelasnya terlihat duduk rapi lewat jendela kelas yang berjejer di sepanjang koridor.
ANEH. Tak seperti biasa.
Sakura memandang pintu coklat di depannya yang sedikit terbuka itu, hmm—tidak terdengar suara murid ataupun guru yang mengajar dan kalau tidak salah ingat pelajaran pertama hari ini matematika dan yang mengajar pelajaran ini—
"Sedang apa kalian di depan pintu?" -Hatake Kakashi berjalan kearah dua muridnya yang terbengong memandangnya. "Kenapa kalian telat? Sakura ..Naruto."
"Kami tadi di panggil Shizune-sensei. Dan kenapa anda juga telat Kakashi-sensei?" Mata emerald yang terlindungi kacamata itu memincing tajam kearah guru bermasker itu.
"Ha...ha. Tadi ada nenek yang tersesat di jalan, jadi aku-."
"USO. Kau pasti membaca buku mesum mu itu lagi." Naruto berteriak memotong perkataan Kakashi.
Sakura menghela nafas bosan, seperti biasa pamannya ini telat dan alasan soal 'nenek tersesat' itu pasti bohong. Gadis pink melangkah mendekati pintu kelas dan meraih kenop pintu, tapi tiba-tiba di urungkannya membuka lebih lebar pintu itu, rasanya ada mengganjal di atas daun pintu. Dengan segera Sakura melihat atas—ah—sesuatu benda di letakkan di atas daun pintu dan jika dia membuk lebih lebar pintu maka benda itu akan jatuh menimpanya, dan itu sangat buruk.
"Hn. Ada apa? Cepat buka pintunya." Sakura melirik Kakashi. Hmm- sepertinya teman-teman barunya perlu sedikit pelajaran.
"Kakashi –sensei lebih dulu, kami berdua di belakangmu saja." Sakura tersenyum kearah pamannya itu sambil melangkah ke samping memberikan ruang untuk wali kelasnya itu masuk ke kelas lebih dulu.
"Sakura-chan, kenapa-."
"Sssttt. Lihat saja." Sakura memperingatkan Naruto untuk diam saja.
Kakashi melirik curiga pada keponakannya yang terlihat bicara berbisik pada Naruto, kemudian dia melihat pintu coklat di sebelahnya, memangnya ada apa sih? Kakashi meraih kenop pintu dan langsung mendorongnya ke dalam, dan bersamaan itu juga sesuatu benda jatuh mengenai kepalanya.
Byuurr... jduag..klontang.
Kakashi terdiam. Kaget—tentu saja, tiba-tiba sesuatu mengguyur kepalamu kemudian sesuatu benda keras menimpa kepalamu, lalu terdengar suara seperti ember jatuh, dan detik berikutnya kau merasa bajumu basah dan hidungmu mencium bau tidak sedap serta rasa sakit di kepala..
Dengan senyum tertahan di balik maskernya, Kakashi menatap puluhan murid yang melihatnya kaget."Hn. Jadi adakah yang mau mengaku?"
...
...
Sasuke menguap bosan di tempat duduknya, di pojokkan kelas dekat jendela. Bel sekolah sudah berkumandang lima menit yang lalu, Haah—lagi-lagi wali kelas sekaligus guru matematikanya itu telat, tau begini lebih dia bolos saja setidaknya dia bisa tidur di UKS. Ingin sekali dia meletakkan kepalanya di atas meja di depannya, tapi sayangnya ada sesuatu yag menahannya untuk terjaga.
"Sasuke-kun, kemarin kau kemana? Mobilmu ada di parkiran, tapi seharian kau tak masuk kelas."
Sasuke mendengus bosan mendengar kalimat manja dari seseorang yang duduk di sebelahnya, inilah alasan kenapa dia tidak bisa tidur di mejanya, manik onyx menatap bosan gadis pirang yang menempel padanya sejak dia memasuki kelas tadi, bahkan dengan berani kepala pirangnya menyender di lengan kanannya sambil jemari gadis itu mengelus dada bidangnya, jika saja saat ini dia tidak sedang ngantuk pasti dia akan mengikuti kemauan gadis pirang yang sangat terlihat jelas sedang menggodanya ini.
"Hn. Sedang apa kau di sini? Bangkumu di depan kan,Shion."
Shion mengerucutkan bibirnya sebal, kenapa pemuda tampan di sebelahnya ini tidak sadar sih, kalau saat ini dia sedang rindu berat pada pemuda Uchiha itu."Tapi aku masih ingin di sini, aku merindukanmu Sasu-kun."
"Hn."
Sasuke membiarkan saja Shion yang bermanja-manja padanya, di usir pun gadis pirang itu tidak akan pergi ke bangkunya di pojok depan sana. Ah—ngomong-ngomong bukannya bangku di sebelahnya ini tidak kosong lagi, dan kata Hinata yang duduk di sebelahnya ini seorang gadis dari pertukaran siswa dengan sekolah lain, katanya juga nilai gadis itu tertinggi di sekolahnya, hmm-bisa jadi saingan untuknya.
"Sasuke-kun, kau mendengarkanku kan?" Shion menarik pelan kemeja putih Sasuke, tapi sayangnya pemuda Uchiha itu tak mengubrisnya sama sekali, kedua netra Sasuke menatap kearah luar jendela dan tak peduli suara gaduh di kelasnya.
"Sasu-kun." Sasuke melirik sekilas gadis pirang yang menatapnya penuh harap, kemudian dia alihkan pandangannya ke ruang kelas yang baru saja dia tahu begitu ramai.
Seorang anak laki-laki bersurai coklat dengan tato segitiga merah di kedua pipinya terlihat membawa seember yang entah apa itu isinya ke arah dua anak laki-laki lain yang berdiri di depan pintu kelas, salah satu dari mereka membawa kursi lalu berdiri di atasnya sedang anak bertato segitiga tadi memberikan ember tadi keanak tadi dan menaruhnya dia atas pintu kelas yang sedikit terbuka, kemudian mereka tertawa dan saling toast bersama-sama. Sedangkan murid yang lain hanya tertawa cekikikan sambil menutupi hidungnya.
Sasuke menghela nafas melihat kelakuan teman sekelasnya, dia sudah bisa menebaknya pasti ini untuk menjahili anak pindahan itu. Dasar kurang kerjaan.
...
...
"Sasu-kun."
Sasuke merasakan sentuhan halus di pipinya, dia pun menoleh kembali kearah Shion. Dan onyx hitamnya bertubrukkan dengan manik keunguan dengan sinar menggoda sedang menatapnya."Hn?"
CUP.
Sasuke mengernyit heran saat merasakan benda basah dan kenyal itu menyentuh sudut bibirnya, belum lagi aroma lembut yang berasal dari tubuh gadis pirang di sampingnya itu yang sejak tadi mampir di hidungnya semakin tercium jelas. Bibir tipis itu tak juga pergi dari wajahnya tapi justru semakin merapat ke bibir Sasuke dan mengecupnya seperti mengundang bibir milik bungsu Uchiha itu untuk bermain.
Uchiha Sasuke menggeram pelan saat merasakan gadis di sampingnya itu yang tetap menggodanya bahkan kini menciumnya, bukannya dia tadi sudah bilang sedang bad mood tapi kenapa bukannya pergi malah membuat tubuhnya sedikit memanas.
Sial. Sasuke mengumpat dalam hati, sepertinya dia harus menunjukkan pada gadis pirang ini, apa akibatnya jika menggoda Uchiha Sasuke yang sedang bad mood. Dengan segera dia merengkuh lebih dekat tubuh Shion untuk lebih merapat pada tubuh kekarnya, terserahlah jika ulahnya ini akan jadi pandangan seluruh kelas.
Sasuke menelusupkan jemari kanannya ke tengkuk Shion dan menekannya lebih dekat, sementara bibirnya kini melumat kasar bibir tipis itu dan lidahnya yang bermain dalam rongga mulut milik gadis itu. Kedua manik hitamnya menutup rapat untuk semakin menikmati cumbuannya di pagi ini, hanya telinganya yang mendengar suara tak terima dari murid-murid perempuan yang mungkin melihatnya. Jika di tanya bagaimana gadis yang jadi mangsanya pagi ini? Shion tak tampak melakukan perlawanan pada Sasuke, justru gadis itu semakin memeluk erat tubuh kekar Sasuke itu meski dari samping.
Sampai suara benda jatuh terdengar di telingannya dan arahnya berasal dari pintu kelas, tapi tak membuat dua manusia itu melepas ciuman panasnya.
"Hn. Jadi adakah yang mau mengaku?" Sasuke sedikit membuka mata dan melirik kearah pintu masuk, di mana sang sensei yang berdiri dengan rambut dan tubuh bagian atasnya tersiram sesuatu.
Haah- sepertinya teman-teman sekelasnya ini salah sasaran ya? Bukannya anak pindahan itu yang kena tapi wali kelasnya yang kena. Pasti setelah ini akan ada yang mendapat hukuman.
"Tak ada yang mau mengaku. Baiklah, aku pastikan kalian sekelas akan menerima hukuman."
Sasuke sama sekali tak peduli, dan dia masih sibuk dengan gadis pirang dalam dekapannya.
...
...
"Aku akan pergi membersihkan diri, dan kalian-." Hatake Kakashi menatap seluruh kelas dan berhenti tepat di pojok kelas, di sana terlihat dari tepatnya berdiri dua muridnya sedang melakukan sesuatu yang seharusnya tak terjadi di depannya.
"Uchiha Sasuke. Bisakah kau hentikan adegan panasmu dan dengarkan kata-kata wali kelasmu.''
Sasuke yang mendengar namanya di sebut akhirnya dengan berat hati menghentikan adegan panasnya kemudian menatap kearah senseinya."Hn?"
" Kalian persiapkan saja diri kalian untuk menanti hukuman. Dan aku harap kelas ini akan bersih saat aku kembali." Kakashi melangkah keluar dari kelas tapi kemudian berhenti tepat di depan pintu. "Kalian berdua masuklah, dan berhenti tertawa Naruto, atau kau juga ingin mendapat hukuman."
Setelah itu sensei berambut perak berdiri itu keluar dari ruang kelas, dan di gantikan dua bocah yang masuk ke dalam ruang kelas dengan tertawa meski hanya di salah satunya saja ,dan kehadiran mereka di kelas langsung di hadiahi cibiran salah dari seluruh kelas.
"Ini salah kalian, seharusnya kalian yang kena. Ckk, sial." Seorang murid laki-laki menunjuk dua murid yang baru masuk itu.
"Kuso, aku benci hukuman."
"Brengsek."
Sementara seluruh kelas ramai-ramai menyalahkan dua manusia yang berdiri di depan kelas yang menampilkan raut tak peduli. Uchiha Sasuke juga menatap ke depan, tapi bukan kearah keduanya tapi lebih kepada gadis bersurai pink yang tak sadar akan kehadirannya. Dan secara tiba-tiba sebuah seringai hadir di bibir tipis milik Uchiha Sasuke.
...
...
Hatake Kakashi berjalan dengan malas kearah toilet khusus guru, kedua tangannya membawa kemeja dan celana cadangan yang dia pinjam dari guru lain. Helaan nafas panjang keluar dari mulutnya yang tertutupi masker mengingat kelakuan murid di kelasnya, kenapa mendadak mereka menjadi usil ? apa karena kedatangan keponakan juga temannya? Yaah—bukannya Kakashi tak tahu rumor tentang pembullyan murid pindanhan itu, tapi hanya saja selama ini para murid pindahan tak ada yang melapor jika dia di bully. Semoga saja itu tak terjadi pada keponakan tersayangnya.
"Waah, apa yang terjadi? Kenapa bajumu kotor semua, Kakashi-sensei?"
Kakashi melirik seorang guru wanita yang baru saja keluar dari toilet khusus wanita yang berada di sbelah toilet laki-laki."Hm, murid sedang masa kreatif."
Suara tawa mengalun dari bibir tipis yang di poles lipstik merah milik wanita bersurai ungu panjang itu."Ha..ha.. tak seperti biasanya."
"Yah.. begitulah."
"Aku sudah bertemu keponakanmu, dia manis sekali."
'dia memang manis luarnya, tapi jika sedang emosi.. mengerikan' batin Kakashi seraya tersenyum kecil. "Hn, benarkah."
"Cepatlah ganti bajumu, baumu tidak enak." Yugao menutp hidung sambil berpura-pura jijik melihat penampilan Kakashi, sambil melangkah menjauh dari pria bermaker itu.
"Terima kasih pujiannya, Yugao." Kakashi berjalan masuk ke dalam toilet tapi belum sempat dia menyentuh pintu, suara Yugao terdengar lagi di telingannya.
"Bolehkah aku datang ke rumahmu? Aku ingin sedikit lebih akrab dengan keponakanmu itu, Kakashi-kun?"
Kakashi tersenyum di balik maskernya dan enatap teduh wanita yang berjarak tak jauh darinya. "Ya, akan ku tunggu."
...
...
Naruto masih mendengar cercaan dan cemoohan dari murid sekelas. Mereka kenapa sih? Bukannya ini ulah mereka sendiri, lalu kenapa dia dan Sakura yang di salahkan. Mata birunya memutar bosan saat beberapa siswa menghinanya dengan sebutan anak desa atau apalah itu, sampai sebuah benda melayang kearah mereka dan itu membuatnya refleks memeluk gadis di sampingnya.
"Sakura-chan awas."
Duagk..
"Aarghh." Naruto meringis sambil tetap memeluk tubuh mungil Sakura, namun benda-benda keras masih tetap menghujani tubuhnya. "Hei, apa-apaan kalian ini? Hentikan."
"Kenapa? Ini pantas untuk kalian yang orang asing dan anak pinggiran." Ucap siswa laki-laki dengan tato segitiga yang tadi melempar penghapus kearah Naruto.
Sakura menatap tajam beberrapa siswa yang tetap melempar gumpalan keratas ke arahnya dan Naruto, meski saat ini dia berada di pelukan Naruto tapi dia masih bisa melihat senyum kemenangan dari beberapa siswa. Emerald hijau itu menatap keseluruhan murid sampai tak sengaja berrsitatap dengan onyx hitam yang juga sedang menatapnya dari bangku di pojokkan, tepat di sampingnya bangkunya.
'kenapa dia ada di sini'
...
...
TBC
...
...
Halo... Minna.
Maaf ya, aku baru bisa lanjut sekarang. Semoga aja setelah ini aku bisa lancar-lancar update nya,dan di dini aku juga mau ucapin terima kasih buat teman-teman yang udah mau nyumbangin fave dan follw ke fict ku yang lain meski fict itu udah tamat sekalipun. Makasih banyak.
Banyak yang cari Sasuke kan, nih udah muncul dan juga kenapa banyak yang ngira cewek terakhir yang bareng Sasu itu Hinata... BUKAN lah.. SasuHinaSai itu sahabat'an.. jadi ntar ga ada intrik percintaan di dalamnya... dan cewek yang sama Sasu tuh.. jawabannya udah aku kasih tahu di atas.
Oh... maaf kalau banyak kesalahan di chap kemaren, typo bertebarankan trus alur yang kelambatan, maafin ya.
Ah...ah... manga Naruto udah tamat, kenapa cepet banget ya? Tapi ga terasa ya, manga nih udah aku baca sejak SMP dan sampek aku setua ini baru tamat. Oh..oh... SasuSaku akhirnya bersama ... senengnya... tapi kenapa anaknya cewe ya, padahal kan enaknya cowo biar saingan lagi ma anaknya Naruto, tapi ya sudahlah...
Dan aku akan balas beberapa review yang udah masuk:
Nyakoi-chan :
Salam kenal juga ... beneran tinggal di KDR, wah..bagian mana? Kalau aku..tahu SLG, q tinggal di sekitar situ... tepatya di atas monumen.. ha-ha bercanda ;-D. Dan soal permintaanmu? Tenang bakal di turutin kok di chap-chap depan, di tunggu aja dan repiew lagi ya.
Go Minami Hikari Bi:
Iya.. cow terakhir tu si Sasuke. NaruHina bakalan dekat kok, tenang saja tapi ga sekarang. Hmm... orang KDR juga?
Kazama Sakura:
He..he.. sabar-sabar.. ntar ada kok saat di mana Sakura ngebalas. Alasan kenapa di bully? Ada kok pokoknya ntar chap –chap depan di jelasin. Tinggal di BLITAR—tetangga'an dong. Salam kenal ya ;-)
Thanx yang udah review;
HazeKeiko – Uchiha Riri – Zero Kryuu I – Animea Khunee Chan – UchiHaruno Misaki – Jun30 – Eysha CherryBlossom – Iwasaki Ifha – Yollapebriana – Ruru – Nadira Cherry – Arufi Rizuki Yoshida – Jasmine DaisynoYuki – Mina Jasmine – Uchiha SalsaDila – Angodess – Cherryl Sasa – AF Namikaze – guest – Mitosenju – Erika.
.
.
.
Trima kasih Teman.. jangan lupa review lagi.
(^-^)
