...
...
Chpter; 5
...
...
Ruangan besar berbentuk persegi yang di huni tiga puluh siswa kelas dengan seorang guru yang duduk di kursi kebesarannya itu terlihat tenang, hanya suara lembaran kertas yang di buka serta suara helaan dari beberapa siswa yang terlihat bosan sambil menahan hawa dingin di musim dingin ini. Membaca—ya itulah kegiatan belajar di jam akhir sebelum pulang sekolah yang saat ini mereka lakukan , dan itu sesuai intruksi dari sang guru sejarah jepang—Mitarashi Anko, dan meski ini sangat-sangat membosankan bagi para siswa di kelas unggulan itu, ya—sampai suara keras itu membuyarkan aktivitas mereka.
Hatsyii.
Suara bersin yang di keluarkan oleh salah seorang murid di kelas itu, seketika membuat tatapan tajam dan gerutuan dari seluruh isi kelas kecuali sang guru tentunya. Si pelaku—gadis bersurai merah muda itu sama sekali tak peduli dengan pandangan tak suka yang di hadiahi oleh penghuni kelas, dengan cueknya dia merapatkan syal merah yang melilit lehernya dan kembali melanjutkan membaca buku tebal yang bertuliskan sejarah yang sekarang dia pegang.
"Pingkie, kau sakit?" suara baritone dingin dan datar itu mengalun dari samping kiri si gadis berhelaian merah muda.
"..."
"Mau kuantar ke ruang kesehatan? Di sana aku bisa mengobatimu."
"..."
Uchiha Sasuke mengernyit heran dengan gadis di sampingnya yang tak kunjung menjawab pertanyaannya, apa musim dingin membuat tenggorokkannya beku?
"kenapa kau diam? Atau mau ku hangatkan di sini,hm? Boleh saja."
Haruno Sakura yang mencoba tidak peduli dengan pemuda di sebelahnya yang mengajak bicara sejak tadi, karena memang apa yang di katakan pemuda di sebelahnya ini sangat tidak penting untuknya. Dan sejak kapan Uchiha di sebelahnya ini menjadi akrab dengannya, bukannya kemarin saja mereka masih saling menghina. Sakura masih akan tetap tidak peduli sekitar jika saja dia tak merasakan sebuah tubuh mendekat kearahnya dan ternyata itu adalah Uchiha Sasuke, aa—ada bahaya mendekat.
"Bisakah kau diam. Dan jangan pernah mencoba menyentuhku, UCHIHA." Sakura berdiri dari tempat duduknya dan menatap tajam kearah Sasuke yang memang merapatkan tempat duduknya kearah kursi milik Sakura.
"Ada masalah, Haruno-san." Suara wanita dewasa terdengar dari depan kelas dan itu membuat Sakura menoleh ke depan. Dan dapat dia lihat seluruh kelas menatapnya penuh tanda tanya, sepertinya Sakura tidak sadar tindakannya menjadi perhatian seluruh kelas.. "Apa Uchiha Sasuke menganggumu?"
"I'ie. Gomen Sensei" Sakura menunduk meminta maaf.
"Lanjutkan membacamu."
Sakura mengangguk dan kembali menduduki kursinya."Ha'i."
Suara kekehan tawa terdengar di telinga Sakura dan membuatnya menoleh kearah samping, di mana Uchiha Sasuke sedang tertawa sambil menatapnya. Sakura hanya menggeram pelan dan lebih memilih menghiraukan pemuda emo di sebelahnya yang sudah memancing emosinya.
"Aku serius. aku dengan senang hati akan menghangatkanmu, pingkie." suara baritone milik Sasuke berbisik di telinga kirinya.
Sakura semakin mendecih sebal dan mencoba sekali lagi tak mempedulikan Uchiha Sasuke.
...
...
…
…
Issho 一緒
Disclamer © Masashi Kishimoto
Warning; typo, gajee, AU, OOC dan lain sebagainya
…
…
Don't Like Don't Read
…
Kalau tak suka jangan di baca
…
...
Bulan Desember, awal dari musim dingin yang akan berlangsung selama tiga bulan di negeri bunga Sakura tersebut. Sejak kemarin sampai saat ini,salju turun cukup lebat dan akibatnya tumpukan salju terlihat menimbun jalanan, banyak para pengguna jalan yang mengeluh karena terpeleset atau gangguan lainnya meskipun setelahnya mereka tetap melanjutkan aktivitasnya .
Seperti saat ini, terlihat beberapa pelajar di Niitsu High School terlihat berkerumun di pelataran sekolah dan di tangan masing-masing siswa terlihat memegang sekop besar yang entah untuk apa itu. Tapi jika melihat tumpukkan salju yang terlihat di sekitar pelataran tentu sudah dapat di tebakkan. Beberapa siswa yang berkerumun di luar sekolah itu sedang ada pelajaran olah raga dan karena mereka tidak bisa melakukan olahraga di musim dingin, akhirnya sang guru olahraga pun mengalihkan kegiatan dengan cara lain, yaitu membersihkan salju.
"APA KALIAN SUDAH SIAP? KELUARKAN SEMANGAT MUDA KALIAN DAN SINGKIRKAN SALJU YANG MENGANGGU INI." Suara teriakkan keras penuh semangat yang berasal dari seorang guru aneh dengan rambut model batoknya—Maito Gai dengan setelan hijau pas yang di kenakannya, terlihat mencoba menarik minat para muridnya.
"SIAP GAI-SENSEI. SEMANGAT MASA MUDA" Suara lain yang tak kalah keras menyahuti, di ikuti seorang murid laki-laki dengan setelan hijau dari baju, syal dan juga sarung tangan yang berwarna sama terlihat mengangkat sekop di tangannya penuh semangat membara.
Rock Lee—salah satu murid pindahan yang berasal dari KLS sama dengan Tenten, ahh—masih ada seorang lagi, seorang pemuda yang selalu memakai kacamata kemana-mana yang hobinya mengumpulkan serangga—Aburame Shino, sayangnya dia di kelas yang berbeda dengan Tenten dan Lee.
Semua murid yang melihat dua orang itu hanya menggerutu pelan. Apanya yang semangat masa muda? Jika tahu akan membersihkan salju, lebih baik tadi tidak masuk saja sekalian. Beberapa anak perempuan mulai menggigil kedinginan, mereka melempar sekop di tangannya dan memeluk murid lain untuk sekedar mengusir dingin. Sepertinya baju hangat yang saat ini mereka kenakan sama sekali tak berpengaruh di udara dingin ini.
"Tak perlu sesemangat itu, Lee."
"Apa maksudmu? Tentu saja harus semangat, ini latihan untuk memperkuat tubuh." Lee menampilkan seringai miring sejuta watt nya itu kearah Tenten sambil mengangkat jempol tangannya ke atas."Aku benarkan Gai-sensei?"
"Ya. Aku setuju denganmu, Lee." Maito Gai langsung berpose sama dengan Lee, bahkan senyumannya berjuta kali lebih bersinar dari Lee. Semua murid yang melihatnya hanya bergumam 'menjijikkan' pada dua orang berseragam hijau itu.
Tenten hanya menghela nafas pasrah, apa pemuda beralis tebal itu sudah gila? Sepertinya Lee menemukan guru panutannya di sini. Ya—siapa lagi kalau bukan Maito Gai, lihat penampilan mereka pun sama persis dengan rambut batoknya belum lagi pakaian mereka yang sama, dan entah dari mana Lee mendapat pakaian menjijikkan itu sepertinya itu pemberian dari guru olaraga tersebut.
Ngomong-ngomong tentang Maito Gai- guru itu bilang kalau dia adalah sahabat baik serta rival dari Hatake Kakashi—guru di sekolahnya dulu. Masa iya guru Kakashi yang keren itu , punya sahabat aneh seperti Maito Guy? Rasanya sulit di percaya, ah—nanti akan dia tanyakan pada Sakura saja.
"Mereka mirip ya." Tenten menengok kearah belakang di mana seorang gadis berambut pirang berkuncir empat yang memakai jaket tebal berwarna coklat berjalan mendekat padanya.
"Sepertinya begitu." Tenten tersenyum kaku menanggapinya.'Terlalu mirip sampai terlihat seperti ayah dan anak'
Rei Temari—gadis pirang berkuncir empat itu hanya tertawa melihat tingkah dua makhluk hijau di depannya yang masih berpose sama sedang menyemangati teman-teman sekelasnya.
"Apa semua murid KLS sama seperti Rock Lee? Sangat menarik."
"Kau suka pada Lee?."
Temari hanya mendelik sebal pada Tenten."Candaan yang lucu, Tenten."
"Aku serius, aku bisa mendekatkanmu dengan Lee."
"Tidak. Tertarik bukan berarti aku suka."Temari menatap sinis." Aku hanya ingin tahu, apa semua siswa di KLS itu bervariasi seperti Lee?"
"Syukurlah."Tenten hanya menghela nafas panjang, pandangannya ter'arah pada Lee yang memanggil namanya sambil melambai padanya, dan tentu saja sama sekali tak di pedulikannya.
"Kenapa? Jangan-jangan kau yang suka pada Lee?"
Tenten lansung menatap tak percaya kepada Temari."Aku? TIDAK."
"Lalu kenapa kau terlihat lega?"
"Aku hanya tak bisa membayangkan? Bagaimana wajah anak kalian jika nanti kalian menikah? Kau dan Rock Lee."
Detik berikutnya terdengar suara pukulan keras dan teriakan kesakitan dari Tenten karena kepalanya di pukul oleh Temari yang sedang kesal.
…
…
Gadis bercepol itu mengeratkan jaket tebal berwarna cream itu, wajah manisnya di tengadahkan ke langit mendung yang masih menurunkan serpihan salju, sesekali helaan nafas keluar dari mulutnya membuat kepulan uap putih terlihat di udara dingin. "Temari, apa mereka tidak apa-apa di sana?"
"Siapa?"
"Ketiganya. Apa mereka baik-baik saja di sana?"
"Memangnya apa yang kau khawatirkan?"
"Konoha Leaf School itu penuh dengan anak orang kaya, mereka bisa melakukan apapun untuk menyingkirkan seseorang yang mengganggu mereka."
"Lalu kenapa? Siapa yang kau khawatirkan di antara ketiganya?"
"Semuanya. Sakura yang cuek tapi suka memancing bahaya, Naruto yang mudah terpancing emosi dan Ino yang mudah terbujuk rayuan pemuda tampan." Tenten sendiri tidak mengerti kenapa ketiga temannya itu memiliki sifat merepotkan. Apalagi sekarang di KLS sana ketiganya sudah menjadi sasaran kejahilan.
"Tenang saja. Mereka tidak akan apa-apa." Temari berusaha menghibur Tenten.
"Apanya yang tidak apa-apa? Sakura dan Ino sudah mulai berurusan dengan dua pemuda paling di minati di sana, asal kau tahu fansgirl mereka itu satu sekolah dan mereka itu mengerikan. Aku saja tidak mau berurusan dengan dua pemuda itu. Apalagi pemuda yang di incar Ino itu sudah punya pacar, semoga saja tak ada masalah apapun."
"Kalau Ino, bukannya itu sudah biasa. Tapi Sakura? Sejak kapan gadis itu tertarik dengan seorang pemuda?"
Tenten hanya mengangkat dua pundaknya tak tahu."Entah. Sakura hanya bilang kalau teman sebangkunya itu sangat menganggunya."
Tenten mengingat kejadian beberapa hari lalu, waktu dia menghubungi ketiga sahabatnya di Tokyo. Begitu banyak kejadian menarik yang dia dengar, salah satunya soal Sakura yang ternyata sebangku dengan Uchiha Sasuke yang merupakan salah satu pemuda paling ingin di jadikan kekasih oleh seluruh gadis di KLS, dan yang lebih membuat Tenten kaget adalah soal bungsu Uchiha itu yang katanya selalu menganggu Sakura. Aneh ? bukannya Sasuke itu selalu dingin dengan orang yang bukan incarannya? Masa iya Sakura itu jadi incarannya? Bukannya Sasuke hanya mengincar gadis cantik dan seksi, dan bukannya dia menghina sahabatnya,hanya saja penampilan Sakura di sana itu seperti gadis kutu buku yang tak mengenal dunia luar.
Apa mungkin Sakura cuma di permainkan? Dan jika itu terjadi Tenten berjanji tidak akan membiarkan Uchiha itu selamat, tidak boleh ada yang mempermainkan para sahabatnya.
"Baguslah. Setidaknya Sakura tidak akan kebosanan di sana dan siapa tahu Sakura bisa punya pacar di sana." Temari tersenyum simpul.
...
...
Suara bel sekolah sudah berkumandang di area KLS sejak satu jam lalu, para siswa pun sudah terlihat pulang ke rumah masing-masing kecuali para siswa yang masih ada kelas tambahan ataupun siswa yang sedang ekskul sepulang sekolah, mereka masih berkeliaran di area sekolah.
Haruno Sakura menghembuskan nafas sebal, sudah hampir satu jam dia menunggu kedua sahabatnya yang sedang ada ekskul di sekolah dan itu sangat membosankan, meskipun saat ini dia sedang membaca novel misteri kesukaannya di perpustakaan sekolah tapi itu tak membuatnya terhibur. Dalam hati dia berharap agar kedua sahabatnya cepat datang dan mereka bertiga segera pulang, dia tak sabar untuk menghangatkan diri di dalam selimutnya di kamar, sejak tadi pagi badannya sedikit tersa tak enak. Dan Sedikit pemberitahuan, Sakura itu sangat benci musim dingin.
"Sedang menunggu kedua temanmu, Sakura-chan?" Sakura menengadah untuk melihat siapa orang yang sudah mengajaknya bicara dan ternyata sang penjaga perpustakaan.
"Ha'i."
"Mau ku temani?" Yugao tersenyum manis kearah Sakura.
"Aa, tidak usah sepertinya temanku sudah datang."
"Kalau begitu ku tinggal." Yugao berjalan meninggalkan Sakura yang tersenyum sambil mengangguk ke arah guru penjaga perpus yang cantik itu.
Dari arah pintu ruang perpustakaan, dua orang berjalan kearah Sakura dengan wajah tertekuk sebal. Kenapa mereka?
"Menunggu lama, Sakura?" Ino langsung duduk di depan Sakura.
"Maaf, Sakura-chan. Tadi ada hal menyebalkan yang membuatku berlama-lama di sana."
Sakura hanya mengernyit heran sepertinya dua sahabatnya ini baru saja mengalami hal menyebalkan."Kenapa kalian?"
Ino mulai menceritakan kejadian menyebalkan di ruang cheerleader yang di ikutinya, sang ketua di club itu menyuruhnya melompat-lompat di tempat selama satu jam yang katanya itu sebagai gerakan yang harus di lakukan sebagai anggota baru. Yang benar saja? Ino meringis memegangi kedua telapak kakinya yang pasti akan memar nanti malam, dalam hati Ino berjanji akan membuat Kin Tsuci- sang ketua cheers membalas perbuatannya.
Sakura dan Naruto hanya menatap kasihan kearah Ino.
"Aku turut berduka Ino." Naruto berujar pelan dan itu membuatnya mendapat jitakan dari Ino.
"Ayo kita pulang."
...
...
Mereka bertiga berjalan berjejer, saling bercanda dan saling mengolok satu sama lain di halaman sekolah, saling tarik-menarik syal di leher masing-masing meski yang melakukan tindakan konyol itu hanya Ino dan Naruto, Sakura di tengah mereka hanya diam dan sedikit melerai mereka berdua. Mereka tak menyadari beberapa anak yang berjalan di belakang menatap penuh benci kearah ketiganya, sampai salah satu berjalan lebih dulu dan mendorong Sakura yang berjalan di tengah antara Ino dan Naruto sampai jatuh ke atas tumpukan salju di atas jalanan sekolah.
"Argh." Sakura meringis sambil membersihkan wajahnya yang di penuhi salju.
"Sakura-chan." Naruto langsung membantu Sakura untuk berdiri sambil memberihkan salju di atas rambut Sakura.
Ino yang melihat Sakura jatuh langsung menoleh ke belakang melihat siapa pelakunya. Di belakangnya berdiri lima orang gadis yang sedang menyeringai senang melihat ke arah Sakura yang jatuh. "Kalian lagi? Sebenarnya apa mau kalian?"
Shion Miko, si pelaku tersenyum senang sambil berjalan kearah Ino yang menatapnya penuh amarah."Bukan urusanmu. Ini urusanku dengan si pingki, jadi diamlah."
"Urusan Sakura, juga menjadi urusanku."
"Jangan jadi sok pahlawan, Yamanaka." Seorang gadis berhelaian merah pucat berjalan ke samping Shion, Tayuya tersenyum meremehkan ke arah Ino." Apa sih yang menarik darimu? Sepertinya mata Sai-kun perlu di periksa."
"Kenapa? Kau iri?"
Tayuya menatap penuh amarah kearah Ino, dengan gerakan cepat di berjalan maju kearah Ino dan langsung mendorongnya ke belakang , tiga orang gadis di belakang Tayuya langsung melempari tubuh Ino dengan bola salju. Ino yang belum siap, tentu saja langsung jatuh ke belakang, belum lagi lemparan bola salju yang mengenai tubuhnya membuatnya sulit bangun. "Berhenti."
Naruto yang sudah membantu Sakura berdiri langsung berjalan kearah Tayuya dan mendorongnya ke belakang dan membungkuk kearah Ino yang kesulitan berdiri sambil mejadi perisai dari lemparan bola salju. Sakura yang melihat kelima gadis yang sedang menjahili kedua sahabatnya itu hanya memutar mata bosan.
"Apa mau kalian?" Shion yang mendengar suara datar Sakura langsung berbalik menatap tajam kearah Sakura.
"Jauhi Uchiha Sasuke."
"Jauhi? Memangnya siapa yang dekat dengan si kepala ayam itu?"
Shion yang mendengar pemuda yang di sukainya di hina langsung emosi."Jangan menghina Sasuke-kun,memangnya kau siapa, bitch?"
"Bitch? Seharusnya panggilan itu cocok untukmu." Sakura tersenyum meremehkan.
"K-kau."
"Dengar. Kami sama sekali tak ingin bermusuhan dengan kalian, jadi jangan ganggu kami lagi." Sakura berbalik dan mulai berjalan menjauh."Ayo pulang, Ino...Naruto."
Ino dan Naruto yang sudah berdiri mengikuti Sakura yang sudah berjalang duluan, dengan sengaja Ino mendorong tubuh Tayuya yang berdiri kaget melihat interaksi Sakura yang sejak di mulai pembully'an selalu diam tapi barusan gadis merah muda itu berbicara banyak pada mereka. Ino yang berjalan di samping Naruto pun dengang sengaja menyenggol tubuh Shion dan berbisik pelan. "Menyedihkan."
...
...
Shion yang mendengar sindiran dari Ino itu langsung emosi dan berlari kearah Sakura yang berjalan di depan, tentunya setelah mendorong Ino jatuh lagi. Dengan penuh emosi Shion menarik bahu Sakura dan membuat gadis berhelaian merah muda itu berbalik dan detik berikutnya suara tamparan keras terdengar di telinga orang –orang yang ada di tempat kejadian tersebut. Bahkan suara teriakkan tinggi seseorang yang menyuruhnya berhenti tak mampu membuat tamparan di kedua pipi mulus Haruno Sakura terhenti.
"Sakura." Naruto langsung berlari kearah Shion dan dengan penuh amarah dia menarik rambut Shion ke arah belakang." Apa yang kau lakuakan, gadis sial?"
"Aaarrghh." Shion meringis menahan sakit di kepalanya."Lepaskan, sialan."
Naruto tak juga melepaskan jambakkannya, sampai suara wanita dewasa yangmenyuruhnya berhenti membuatnya terpakasa melepas rambut pirang milik Shion.
"BERHENTI. KALIAN SEMUA IKUT KE RUANGANKU. SEKARANG." Wanita berambut pirang berkuncir dua rendah itu menatap tajam beberapa anak didiknya itu, lalu berbalik pergi menuju ruangannya. "Kau juga ikut."
Gadis bersurai hittam yang sejak tadi di belakan sang kepala sekolah itu hanya mengangguk patuh dan berjalan mengikuti menuju ruangyang di yakininya menjadi pengadilan untuk teman-temannya nanti.
...
...
"Sebenarnya apa masalah kalian, hah?" Tsunade menatap garang lima murid didiknya itu.
Awalnya Tsunade hanya ingin mengelilingi sekitar sekolah sekedar memeriksa jika ada yang perlu di benahi di sekolah elitnya itu, sampai salah seorang siswi mendatanginya dengan nafas ngos-ngosan dan yang lebih mengherankan murid didiknya itu langsung melaporkan sesuatu hal yang membuatnya tak percaya,yahh- sampai kedua hazel miliknya melihat sendiri kejadian itu, apalagi kejadian itu terjadi di depan sekolah dengan salju yang turun lebat dari langit.
Wanita bersurai pirang yang masih cantik di umur tuanya itu memijat pelipisnya pelan. Sungguh amat mengagetkan dia akan melihat tindak kekerasan di sekolahnya, meskipun dia sering mendengar desas desus soal kejahilan para murid didiknya, tapi selama ini tidak pernah ada buktinya. Tapi sekarang di depan matanya, salah seorang siswinya itu berani menampar murid lain yang sebenarnya murid dari sekolah lain. Ck... ini sangat memalukan.
"Jawab pertanyaanku?" Mata hazel itu menatap satu persatu dari lima orang siswi yang jadi pelakunya. "Kalian tahukan siapa yang sudah jadi korban kalian? Kalian benar-benar mempermalukan sekolah ini."
Tayuya yang sejak tadi menunduk takut kini mulai mendongak sedikit untuk melihat sang kepala sekolah."M-mereka bertiga yang memulai mengajak kami bertengkar,Tsunade-sama."
"Hm, mereka bertiga yang memulai? Bukan itu yang ku dengar nona Tayuya." Gadis bersurai merah pucat itu mengernyit heran, memangnya apa yang sudah di ketahui Tsunade Senju? Dan lagi siapa yang sudah melaporkannya? Siapapun itu yang jelas dia harus mendapat pelajaran darinya.
"Tayuya benar Tsunade-sama. Mereka duluan yang menantang kami." Shion menatap kearah Tsunade dengan tanpa rasa takut.
Naruto yang berdiri di belakang kelima gadis itu hanya mendengus meremehkan sambil mengerutu tak terima. Kenapa jadi mereka yang di salahkan? Bukannya sudah jelas kalau mereka bertiga yang di datangi dan di jahili, lalu kenapa kelima gadis inimalah memfitnah mereka."Cih. sudah jelas salah tapi masih berkelit."
"Cih. Kau pikir kau hebat ,heh? Kau itu cuma pengecut yang suka melawan perempuan." Tayuya hanya menyeringai sambil melirik sinis pada Naruto.
Naruto yang merasa terhina mengepalkan kedua tangannya sampai memutih. "K-kau.."
"DIAM." Tsunade menghela nafas panjang."Ku tanya sekali lagi. Apa masalah kalian?"
Kelima remaja itu terdiam tak menjawab, mereka hanya saling melirik gelisah di tempatnya.
Tsunade menghela nafas sambil memijit pelipisnya lagi."Hukuman untuk kalian berlima. Skors selama seminggu di mulai besok." Kelima siswi itu langsung menatap keberatan pada sang kepala sekolah.
"Tapi mereka juga melakukan kekerasan pada kami." Tayuya mencoba membela diri."Setidaknya hukum juga mereka."
"Apa yang di lakukan mereka itu hanya tindakan untuk membela diri."
"T-tapi Tsunade-sensei."
Saat mereka mencoba membantah suara sang kepala sekolah berkumandang meninggi."TIDAK ADA BANTAHAN. Sekarang kalian boleh keluar."
Kelima siswi itu keluar dari ruangan pemimpin sekolah itu dengan raut marah dan tak percaya. Shion berjalan dengan hentakkan keras, dalam hatinya mengutuk tindakan Tsunade Senju yang sudah seenaknya memberi hukuman padanya. Cih—dia akan membiarkan penghinaan yang di dapatnya ini, Shion menyeringai senang, dalam otaknya sudah terpikir rencana untuk membalas kejadian yang mereka alami ini.
"Kalian akan membayarnya."
...
...
"Maaf atas ketidak nyamanan ini." Tsunade tersenyum ramah ." Haruno,kau tidak apa-apa kan?"
"Ya."
Tsunade menghembuskan nafas lega."Syukurlah. dan terima kasih atas laporanmu, Hyuuga."
HInata yang merasa terpanggil hanya bisa mengangguk. Sedangkan ketiga murid lain di ruangan itu menatap heran dan tak percaya kearah gadis Hyuuga itu.
'Jadi Hyuuga yang melapor pada Tsunade-sama. Ternyata dia anak baik.'
'Hn. Gadis yang baik'
'Hinata-chan, kau baik sekali'
"Jika mereka melakukannya lagi, laporkan saja padaku."
"Ha'i."
"Baiklah. Kalian boleh keluar."
Keempatnya mengangguk patuh dan keluar dari ruangan itu.
…
…
Hinata menatap heran tiga teman barunya itu. Setelah keluar dari ruang kepala sekolah, kenapa mereka tak langsung pulang? Malah berdiri di koridor penghubung , apalagi sekarang tiga orang itu menatapnya dengan pandang heran. Memangnya ada yang salah padanya?
"K-kenapa kalian melihatku?"
"Ah.. terima kasih ya, sudah membantu kami." Ino tersenyum senang dan langsung memeluk Hinata dari samping kanan tubuh Hinata. "Jidat, kau juga peluk Hinata sebagai ucapan terima kasih."
Sakura hanya memutar mata bosan, kenapa juga harus pelukan? Apa tidak bisa hanya bersalaman saja? Tapi karena untuk menunjukkan rasa terima kasihnya pada teman barunya itu akhirya Sakura mendekat dan langsung memeluk Hinata dari samping kiri. Hinata sendiri hanya bisa tersenyum kecil, rasanya sudah lama tak mendapatkan pelukan pesahabatan seperti ini sampai sepasang lengan kekar memeluk lehernya , dan tercium aroma maskulin dari belakang tubuhnya.
"Aku juga ikutan. Terima kasih Hinata-chan."
"Naruto, apa yang kau lakukan?" Ino langsung melepas pelukannya dan menatap Naruto tak percaya.
"Kenapa? Aku juga ingin memeluk Hinata-chan sebagai tanda terima kasihku."
"Lepaskan Naruto." Sakura yang juga sudah melepas pelukannya hanya menatap tak suka pada Naruto.
Naruto tak menggubris kedua sahabatnya, malah semakin mempererat pelukannya pada Hinata."Kenapa sih kalian ini? Hinata-chan saja tak masalah."
Sakura dan Ino hanya bisa terdiam melihat dua orang di depannya yang masih berpelukan, atau lebih tepatnya Naruto yang masih bersikeras tak mau melepas pelukannya pada gadis Hyuuga itu. Oh—andai Naruto tahu , saat ini Hinata sedang terdiam kaget dengan wajah yang berubah merah karena perlakuannya itu.
"Singkirkan tanganmu dari Hinata." Suara baritone berat dan dingin terdengar mengalun mengintrupsi keempatnya. Ketiganya langsung menoleh keasal suara.
Dari arah koridor dalam, dua orang pemuda tampan dengan mata onyx yang sama sedang menatap tajam kearah mereka, atau lebih tepatnya hanya kearah Naruto. Kedua pemuda itu sekilas memang mirip tapi jika lebih di teliti akan banyak perbedaan dari keduanya, dari wajah mereka—yang satu datar sedang yang lain selalu tersenyum, dari rambut mereka—yang satu hitam klimis sedang yang satunya berpotong emo mencuat ke belakang.
"Lepaskan tanganmu." Sasuke langsung menarik Hinata dari pelukan Naruto.
Naruto yang entah kenapa tak terima dan tak suka dengan tindakan Sasuke yang menarik Hinata secara paksa dari pelukannya."Apa masalahmu, Teme?"
Sasuke menggeram marah dan langsung menatap tajam kearah pemuda kuning di depannya."Baka-Dobe."
Naruto mendelik marah, kenapa juga pemuda Uchiha harus muncul di depannya. Apa tidak cukup pertemuan di lapangan basket tadi? Mengingat kejadian tadi membuat emosi Naruto sedikit naik, bagaimana mungkin dia yang jadi andalan di tim basket Niitsu dulu malah di kalahkan oleh seorang Uchiha tadi. Ckk... ini sangat memalukan untuknya.
Flashback On
Naruto memasuki lapangan basket milik KLS dengan penuh dengan semangat, dia akan tunjukkan pada semua orang di sini kalau dia tak akan kalah lagi dari si rambut ayam a.k.a kapten tim basket KLS itu. Naruto mengedarkan pandangannya ke seluruh area lapangan, banyak anak yang sudah memakai seragam basket berkumpul di pinggir lapangan. Melihat mereka, rasanya Naruto ingin sekali menyapa.
"Minggir." Naruto melirik belakangnya. Seorang pemuda bersurai hitam dengan wajah angkuhnya berjalan kearahnya.
"Akhirnya kau datang juga . Ayo bertanding lagi, kali ini aku tak akan kalah." Naruto mengeluarkan cengiran lebar saat pemuda itu tepat di depannya, namun pemuda itu hanya mendecih dan melewatinya setelah dengan sengaja menyenggol bahu Naruto.
Pemuda itu berhenti dan melirik Naruto lewat bahu kirinya."Cih, aku tak berminat bertanding dengan orang lemah." Dan setelahnya pemuda itu berlalu pergi.
"Ck. Teme." Naruto berlari kearah Sasuke dan meraih kerah leher kemeja putih milik Sasuke."Kau takut melawanku. Dasar pengecut."
Pengecut? Sasuke menyeringai tak terlihat oleh Naruto. Sepertinya si bodoh rambut kuning ini perlu di bungkam. "Hn, akan ku buat kau menangis nanti, Dobe."
Naruto menggeram sambil mengepalkan tangannya erat. Pemuda ini, rasanya ingin sekali dia membungkam sikap sombong dan angkuhnya. Basket—yup.. Naruto akan menunjukkan kepiawaiannya mengendalikan si bola coklat itu dan kali ini dia tak boleh kalah lagi. "Sepuluh menit. Kita lihat siapa yang terbanyak mencetak point, dia pemenangnya."
"Hn."
Mereka berdua menuju tengah lapangan basket dan saling berhadapan. Sementara itu para murid lain yang berada di tengah lapangan basket mulai menyingkir ke pinggir untuk menonton sang kapten yang bertanding satu lawan satu dengan murid baru itu lagi. Dan tentu saja semua penonton pasti akan mendukung Uchiha Sasuke.
Sepuluh menit berlalu.
Naruto masih menganga melihat skor yang di tulis oleh salah satu murid di papan tulis yang entah di dapat dari mana. Dan hasilnya sungguh membuatnya menangis dalam hati. Dia kalah lagi dengan skors yang kali ini berbeda jauh, tidak seperti kemarin di mana dia hanya kalah tipis oleh Uchiha muda itu.
"Baka-Dobe." Sasuke menuju pinggir lapangan dan meraih tasnya, meninggalkan Uzumaki Naruto dengan kekalahannya.
Flashback off
"Sial. Berani sekali kau memanggilku begitu. Dan aku tetap tak terima dengan pertandingan tadi." Naruto melipat kedua tangannya di depan dada, dan menatap Sasuke seakan menantangnya.
"Cih, siapa kau sampai aku harus takut padamu. Dan mengaku sajalah, kau itu di bawahku." Dengan penuh kebanggaan Sasuke tersenyum mengejek ke Naruto.
"Teme."
"Dobe."
"Teme sialan."
"Dobe bodoh."
Sai hanya mendengus melihat dua orang itu yang masih bertengkar, sepertinya Sasuke juga cocok dengan bocah kuning ini. Sai lalu mengalihkan tatapannya kepada Hinata yang mukannya masih memerah, dia tahu Hinata yang tak pernah di peluk seorang pemuda selain keluarganya, dia dan Sasuke pasti merasa malu."Hinata, daijoubu ka?"
"Aaa."Hinata hanya menunduk malu meski sesekali dia melirik seseorang di depannya yang masih asyik bertengkar.
"Kau berisik. Aku jadi lapar."
"Ck. Tidak penting." Sasuke mendengus dan beralih menatap kedua sahabatnya."Ayo pergi Sai..Hinata."
Sai sudah akan melangkah pergi mengikuti Sasuke yang sudah berjalan, tapi diurungkannya melihat Hinata yang masih terdiam di tempatnya dan pandangan gadis itu tertuju kearah si pemuda kuning itu."Hinata."
Hinata yang tersadar dengan suara Sai langsung membuka tas selempangannya dan mengeluarkan sebuah wadah dari dalam tas, kemudian Hinata berjalan kearah pemuda tadi dan menyerahkan wadah di tangannya.
"A-ano Naruto-kun ini. Bekalku masih ada, silahkan di makan." Hinata yang merasa pemuda di depannya ini tak juga menerima wadah di tangannya, langsung saja dia meraih tangan pemuda itu dan memberikan secara paksa wadah di tangannya kepada pemuda itu. Setelahnya Hinata langsung berlari pergi dari tempat itu menyusul pemuda lain yang sudah berjalan jauh. Sai yang melihat kejadian itu hanya tersenyum sinis kearah Naruto, lalu kembali melangkah mengikuti dua sahabatnya.
Naruto yang awalnya tak mengerti dengan tindakan Hinata tak ambil pusing, dia langsung membuka wadah di tangannya dan netra birunya langsung berbinar ketika melihat benda di tangannya."Makanan." dan setelahnya dia langsung memakannya tanpa peduli saat ini dia masih berdiri di lorong.
Sementara itu dua gadis yang sepertinya tak di anggap kehadirannya itu, hanya bisa mendengus tak suka dan berlalu pergi meninggalkan si pemuda kuning yang masih larut dalam makan berdirinya.
...
...
TBC
...
...
HO…HO…HO… Minna..
Gimana alurnya? Maaf ya, kalau belum bisa menampilkan adegan pembalasan sempurna dari trio SNI. Yang minta NH, ni aku kasih tapi sedikit. Lalu ada yang minta banyaki SS, hm- kucoba buat seimbang dengan yang lain. Pairing pertama? Semua sama, baik SS, NH, SI ….ga ada pengistimewaan.
Soal pacar Sai nanti, hayo- tebak siapa? Yang jelas dia salah satu chara di Naruto dan hobinya mirip dengan Sai.
Oh…oh… ada lagi . Aku tekankan lagi pada teman-teman yang emang dari awal udah ga ada niat baca ceritaku jadi ga usah nekat baca. Ada dua orang yang mungkin baca dan ngasih aku review ga penting, yang satu pake bahasa yang mengandung unsur kotor, yang satunya lagi katanya bosan. Udah kalian ga usah baca lagi sana, aku juga ga keberatan ataupun menyesal.
Untuk mbapakmu dan gapunya akun kalau kalian ga niatan baca, sana menyingkir bukannya aku sok hebat atau apalah, tapi aku ga suka aja ceritaku di begitu kan. Aku ga keberatan kalau ga dibaca kalian, malahan aku berharap kalian ga usah baca lagi.
Haah- jadi emosi, maaf ya.. teman-teman. Aku juga ngucapin makasih sebanyak-banyaknya buat yang udah review, follow, favorit dan alert aku.. makasih ya. Rasanya senang ada yang menghargai hasil karyaku.
Thanx to:
HazeKeiko – Hanazono Yuri – Helsidwiyana6 – Zeedezly clalucindtha – Uchiha Nura – Nyakoi chan – Azizaanr – Uchiha Riri – Lullaby Cherry – Kazama Sakura – UchiHaruno Misaki – Haruka Smile – Kitunesan436gmail – Rainy de – Virgo24 – Mina Jasmine – Eysha CherryBlossom – Erza sllalucyangkmeu – Hqhqhq – Pinklala Blue – Akino Chira – Blua Cherry – guest - guest.
…
…
Terima kasih buat reviewnya dan jangan lupa
REVIEW
lagi
...
...
KDR. 14'1'15
...
...
