...
...
Chapter : 6
...
…
"Ne..Hinata-chan. apa hubunganmu dengan Sai?" Manik biru itu menatap penuh ingin tahu kepada gadis cantik dengan surai indigo panjang yang berdiri di depannya.
"K-kenapa?" tanya gadis itu penasaran, tanpa peduli kalau dia belum menjawab pertanyaan dari gadis di depannya.
Gadis pirang panjang itu menunduk menyembunyikan kedua pipinya yang bersemu merah. "Aku hanya ingin tahu."
Hinata mengambil nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Apa maksudnya? Kenapa hubungannya dengan pemuda itu di pertanyakan? Dan kenapa gadis pirang di depannya ini terlihat malu-malu saat menyebut nama sahabat kecilnya?
"Apa kau menyukai Sai-kun"
Gadis pirang itu terlihat salah tingkah. Manik biru lautnya bergerak gelisah, kedua pipi putihnya semakin berwarna merah karena gadis itu tak lagi menunduk, Hinata jadi bisa melihatnya. Dan itu terlihat manis di mata sewarna mutiaranya. Jadi benar ya, gadis ini tertarik dengan sahabatnya.
"A-ano.. i-itu.."
"Kami hanya berteman." Jawabnya dengan lembut, senyum kecil menghiasi wajah cantiknya.
"Begitu ya." Gadis pirang itu menghembuskan nafas lega. Akhirnya sesuatu hal yang menjadi beban pikirannya hilang sudah. Tapi, dia belum bisa tenang. Setidaknya dia harus tahu status dari pemuda itu. "Ne.. Hinata-chan.Apa Sai sudah punya pacar?"
Hinata Hyuuga terdiam. Kini dia yang bingung harus menjawab. Apa dia harus berkata jujur? Tapi jika dia berbohong, pasti nantinya gadis di depannya ini yang akan terluka. Karena pada kenyataannya pemuda yang di taksirnya sudah memiliki pasangan.
"A-ano .. sebenarnya Sai-kun sudah pu-."
"Apa yang kalian bicarakan? Ino... Hinata-chan."
Yamanaka Ino menatap tak suka kearah pemuda kuning durian yang berjalan kearahnya. Decihan kecil keluar dari bibir tipisnya karena kelakuan pemuda itu yang tak lansung membuat pembicaraanya dengan HInata jadi terhenti. Padahal tinggal sedikit lagi dia mendengar perkataan HInata soal status dari pemuda incarannya, dan sekarang Ino yakin HInata pasti tidak mau lagi mengatakan sesuatu padanya. Dan itu karena pemuda rubah kuning yang berdiri di depannya saat ini. Ck… sialan.
Berbeda dengan Ino yang benar-benar benci dengan kedatangan Naruto. Hinata sendiri tidak tahu harus bagaimana untuk membawa tubuhnya. Mendadak tubuhnya terasa kaku, belum lagi jantungnya tiba-tiba berdebar pelan. Wajahnya juga terasa panas dan itu hanya karena mendengar lantunan suara baritone milik Uzumaki Naruto. Hinata sendiri tidak mengerti kenapa dengannya, rasa-rasanya dia mulai seperti ini sejak pemuda kuning di sebelahnya ini memeluknya tempo hari.
"Ini bukan urusanmu, Naruto." Jawab Ino ketus.
Alis kuning milik pemuda itu terlihat menukik—tanda penasaran. Memangnya ada apa sih? Kenapa dia tidak boleh tahu?
"Hinata-chan, memangnya si babi ini membicarakan apa?" Tanya Naruto pada Hinata. Ino sendiri yang telinganya mendengar panggilan kesayangannya itu terlontar dari mulut Naruto langsung melotot pada Naruto. Tapi sayangnya pemuda Uzumaki itu tak menggubrisnya.
Hinata langsung tersentak kaget saat pundaknya di tepuk pelan oleh Naruto.
"I-itu.." tanpa sadar Hinata berbicara gagap. Wajahnya semakin terasa panas, saat menyadari wajah pemuda dengan surai kuning durian itu mendekat kearah wajahnya. 'Terlalu dekat' inner Hinata berteriak-teriak heboh.
"Tidak usah menjawab si bodoh ini, HInata!" jawab Ino kesal ." Untuk apa kau kemari?"
Naruto mengalihkan wajahnya dari Hinata lalu menatap bosan kearah Ino."Kau mau pulang atau tidak?"
" Aku masih ada piket. Tunggu sebentar lagi.." Ino berjalan cepat menjauhi dua orang berbeda gender itu. Setelah agak jauh dia berteriak pada Hinata karena sudah menjawab beberapa hal yang di tanyakannya tadi."Hinata-chan, terima kasih ya."
Hinata hanya tersenyum tipis melihat Ino yang melambai kearahnya.
"Jadi? Apa yang di tanyakan Ino ,Hinata-chan?"
Senyum di wajah Hinata langsung memudar, di gantikan raut gugup. Semu merah kembali hadir di kedua pipinya saat mengetahui posisinya yang saat ini terlalu intim dengan pemuda itu. Bayangkan saja tubuh mungilnya terkurung dalam lengan kekar Naruto yang berada di kedua sisi tubuhnya—menyangga di tembok belakangnya.
"I-itu.." Hinata menatap gugup wajah tampan pemuda di depannya yang entah perasaannya saja, terasa semakin mendekat. Entah wajahnya saat ini sudah semerah apa, yang jelas rasanya wajahnya terasa mendidih. Kepalanya juga mendadak pusing. Apa mungkin Naruto itu menularinya semacam virus?
"Ada apa?" Hinata bisa mencium aroma mint dari nafas pemuda tampan itu, membuat jantungnya semakin berdebar cepat.
'Kami-sama, tolong aku' HInata tidak kuat lagi... tubuhnya mendadak terasa ringan...dan wajah pemuda itu terasa mengabur... lalu gelap. Suara pemuda itu juga tersa sangat jauh saat memanggil namanya.
"Lho... Hinata kau kenapa? Hinata-chan... Hinata-chan...Kenapa kau malah pingsan?"
Naruto menatap kaget gadis di depannya yang tiba-tiba terjatuh sambil memejamkan matanya. Dengan sigap Naruto langsung menangkap tubuh Hinata yang sepertinya pingsan. Naruto juga tidak mengerti kenapa tiba-tiba HInata pingsan. Ada dengan gadis Hyuuga ini? dan Naruto hanya bias memanggil nama gadis Hyuuga itu di koridor sekolah yang sudah sepi.
...
...
Issho 一緒
Disclamer © Masashi Kishimoto
Warning; typo(s), gajee, AU, OOC dan lain sebagainya
…
…
Don't Like Don't Read
...
{Kalau tidak suka jangan di baca}
...
...
Manik seindah lautan luas itu menatap horor pemandangan di depannya. Ah.. bukan pemandangan berdarah yang bisa memuatnya kena serangan jantung, mungkin sedikit memunculkan emosinya saat ini-iya. Pemandangan yang menampilkan sebuah kelas yang penuh sampah di lantai, meja serta kursi yang berjungkir balik tak beraturan, itu adalah kelasnya.
Dan bagaimana bisa kelas ini jadi seperti tempat pembuangan sampah. Padahal sepuluh menit lalu dia baru kelas dan semuanya masih normal. Tapi kenapa saat dia kembali kelas jadi penuh sampah seperti ini. Dan sialnya lagi, hari ini adalah gilirannya piket sepulang sekolah dan dia di tinggalkan seorang diri untuk menyelesaikan semua kekacauan ini-benar-benar seorang diri—ukh... damn't. Sepertinya penghuni kelasnya sekali lagi berhasil mengerjainya.
Ino mengambil ponsel yang ada di saku roknya. Jemari lentiknya langsung menari di layar ponsel pintarnya, dan ketika menemukan nomor dari kedua sahabatnya itu. Ino tanpa ragu langsung menghubunginya. Yaah.. berharap mungkin sahabatnya itu mau membantu untuk membersihkan kekacauan di kelasnya. Tapi ternyata keduanya tak bisa di hubungi.
"Damn't." Gadis cantik mirip boneka barbie itu menggeram pelan, dengan langkah berat dia berjalan memasuki kelas dan mengambil sapu di pojokkan kelas. Dan memulai membersihkan kelasnya, yang entah akan selesai jam berapa. Setidaknya dia harus mengerjakannya, sebelum kedua sahabatnya menjemput untuk pulang bersama setelah mereka selesai dengan. Oh… dan ingatkan nanti untuk mengomeli dua orang itu yang tadi tak mengangkat panggilannya.
Dengan penuh ketelatenan gadis pirang itu menyapu dan mengumpulkan berbagai sampah plastik serta kertas ke wadah plastik sampah warna hitam, dan dia mesti mengambil lebih banyak plastik hitam itu mengingat sampah yang di kumpulkannya benar-benar banyak. Gadis bermarga Yamanaka itu benar tak mengerti, darimana orang-orang itu mendapat sampah sebanyak ini? Apa mungkin orang-orang di kelasnya mengangkut sampah dari TPS terdekat?
"Kau sendirian?"
Ino tersentak kaget mendengar suara seseorang di belakangnnya. Sepertinya dia terlalu banyak berpikir sampai tak menyadari seseorang masuk ke kelasnya, ah- sepertinya juga kelas orang itu.
Ino mendecih kesal. Manik birunya menatap tajam pemuda berkuncir tinggi di depannya. Untuk apa pemuda itu di sini, jangan-jangan untuk mengerjainya juga. "Apa?"
"Kau sendirian?"
Ino mendengus tak suka."Memangnya kau lihat ada orang lain selain aku."
"Ck. Merepotkan.''
"Apa maksudmu? Kau mengataiku merepotkan?" jawab Ino ketus. Manic birunya masih menatap tajam kearah pemuda bersurai hitam itu.
Pemuda tadi hanya menguap lebar dan menatap malas kearah Ino. Dengan langkah pelan, pemuda bersurai hitam itu berjalan menuju ke sebuah kursi yang terjatuh ke lantai , tangan kekarnya meraih kursi itu dan meletakkannya terbalik diatas meja, di ikuti kursi lainnya yang mendapat perlakuan yang sama.
"Sedang apa kau?" Tanya Ino heran.
"Memangnya kau lihat aku sedang apa? Apa aku terlihat sedang memegang mangkuk dan sumpit, hah?" jawab pemuda itu malas.
Ino mengernyit heran melihat tindakan pemuda di depannya, yang dia ketahui sebagai ketua di kelasnya itu. Apa pemuda itu sedang membantunya? Masa sih? Kan dia juga salah satu dari orang-orang itu, mana mungkin saat ini pemuda itu membantunya. Pasti ada sesuatu di balik sikap ramah pemuda itu.
"Kenapa kau malah melamun? Kau ingin berlama-lama di sini? Ck..merepotkan." Suara sinis terdengar dari pemuda itu membuat Ino menggeram kecil.
Ino berjalan mendekat kearah pemuda itu dan menarik paksa lengan kekar itu. Manik birunya menatap tajam kearah manik hitam yang terlihat malas itu. "Apa yang kau rencanakan?" tanya Ino dengan suara rendahnya.
Pemuda itu mengernyit heran mendengar penuturan gadis pirang di dekatnya. Rencana? Sudah jelaskan dia ingin membantunya, kenapa masih di tanya lagi. Dia selaku ketua kelas pasti tidak akan membiarkan bawahannya terlihat kesulitan, apalagi seorang gadis yang baru mengenal sekolah ini. Pemuda bermarga Nara itu sebenarnya sedikit kesal dengan teman-temannya yang lain, kenapa setega itu meninggalkan gadis pirangitu seorang diri dengan kelas yang seperti kapal pecah ini. Dan dia juga memakhlumi jika saat ini Yamanaka Ino marah padanya karena membiarkan bawahannya selama ini mengerjainya. Salahkan sifat bawaan yang di turunkan ayahnya, yang membuatnya terlalu malas untuk mencampuri masalah orang lain.
"Tidak ada rencana apapun. Aku cuma ingin membantu, apa itu salah?" jawabnya malas.
Ino mendengus pelan. Rasanya sangat aneh mendengar perkataan pemuda itu. "Tentu saja. Kau salah satu dari mereka, pasti setelah ini kau akan menyebar sampah ini di lantai. Dan aku harus membersihkannya lagi."
Pemuda Nara itu mendengus pelan. Kenapa dia di samakan dengan bocah-bocah kurang kerjaan itu?
"Hoi... Yamanaka! Jangan samakan aku dengan mereka. Aku terlalu tua untuk bertingkah seperti bocah." Jawabnya tegas dengan kedua tangannya yang meneruskan mengangkat kursi keatas meja.
"Kau mengenalku? "
Pemuda menyeringai kecil dan melirik kearah Ino." Kau pikir aku ini seorang ketua yang tak tahu nama bawahannya, hn? Aku sudah tahu namamu sebelum kau memasuki kelas ini."
'bawahan' Ino mendecih tak suka, tapi tak juga ingin membantah. Ino lebih tertarik dengan penuturan pemuda nanas itu, yang katanya—mengetahui namanya itu.
"Benarkah? Darimana kau tahu?" Tanpa sadar Ino mengobrol biasa dengan pemuda Nara itu. Tatapan tajam yang tadi dia keluarkan tergantikan dengan tatapan ingin tahu.
Shikamaru Nara hanya menghela nafas, apa dia harus mendongeng untuk gadis pirang ini. "Kepala sekolah yang memberitahuku."
Ino hanya mengangguk –angguk mengerti.
...
...
"Ne..jadi kenapa kau membantuku?" tanya Ino sekali lagi. Kedua tangannya sibuk mengelap meja guru yang penuh dnegan bubuk kapur, sedangkan pemuda Nara itu kini menghapus papan tulis yang penuh dengan soretan di muka kelas. Lantai sudah bersih dari para sampah serta kursi dan meja sudah tertata rapi.
"Kenapa masih bertanya? Bukannya tadi sudah ku jawab." Jawab Shikamaru Nara bosan.
Ino hanya terkekeh kecil mendengar jawaban malas dari pemuda itu. "Kalau begitu? Siapa namamu?"
"Kau tak tahu nama ketua kelasmu sendiri?"
"He..he gomen. Aku terlalu sibuk dengankejahilan temanmu sampai lupa mengetahui nama ketua kelasku."
"Ck...mendokusei. Shikamaru Nara." Jawabnya pemuda itu singkat.
"Baiklah. Nara-."
"Shikamaru saja. Jika kau memanggiku seperti itu, rasanya kau seperti memanggil ayahku saja."
Ino hanya terkikik geli. Dia tak menyangka akan ada orang lain selain Sai yang bisa di ajaknya mengobrol secara biasa."Oke. Kau juga harus memanggilku Ino. Bagaimana?"
"Hn."
"Hmm.. apa itu artinya kau mau berteman denganku?" tanya Ino ragu-ragu.
Shikamaru menatap heran kearah Ino yang berdiri di meja guru yang juga sedang menatapnya dengan manik biru yang penuh tanya. Apa sih maksud dari pertanyaan itu? Bukannya itu jelas sekali.
"Kau itu benar-benar merepotkan. Sejak kau masuk ke kelas ini, kau itu sudah jadi temanku." Jawab Shikamaru malas.
Ino langsung tersenyum cerah. "Ha..ha.. arigatou ne, Shikamaru-kun."
"Hm."
Dan setelahnya keduanya mulai mengobrol tentang apa saja kegiatan di sekolah. Meski hanya Ino yang bicara panjang dan di tanggapi kata-kata seadanya dari pemuda Nara itu. Ino sudah merasa senang, setidaknya ada seorang lagi yang mau berteman dengannya.
Dan tanpa mereka berdua sadari sejak tadi ada sepasang onyx hitam yang menatap tidak suka melihat keakraban keduanya, dari arah pintu kelas yang sedikit terbuka. Dengan langkah pelan pemilik mata hitam itu berbalik pergi, di iringi suara dari para gadis yang memanggil namanya dengan kagum.
…
…
Haruno Sakura menghembuskan nafas hangat dari mulutnya kearah kedua tangannya yang terbungkus sarung tangan warna putih. Sesekali kedua tangannya merapatkan syal putih yang melilit lehernya serta jaket tebal wana hijau yang membungkus tubuh mungilnya. Hawa dingin yang ada di sekitarnya membuat tubuhnya semakin menggigil, apalagi saat ini koridor tempat berdiri menghadap tepat halaman tengah gedung sekolah yang terbuka dan itu membuat angin musim dingin menerpa tubuhnya secara langsung.
Gadis berhelaian pink panjang itu menggerakkan kedua tangannya untuk memeluk kedua lengannya dan menggosoknya pelan berharap itu bisa membuatnya hangat meski sedikit. Sebenarnya dia ingin pergi dari koridor itu dan mencari tempat yang lebih hangat, tapi takutnya nanti kedua orang yang di tunggunya nanti tidak bisa mencarinya.
Sepertinya hawa dingin membuat otaknya ikut membeku, sampai-sampai dia lupa apa gunanya ponsel pintar miliknya. Ya… sudahlah.
"Apa yang mereka berdua lakukan sih? Ck.. lama sekali." Batin Sakura kesal di iringi decihan kecil keluar dari bibir tipisnya yang sudah mulai membiru.
Hampir satu jam dia menungu tapi kedua orang itu tak juga memunculkan wujudnya di ujung koridor. Sebenarnya dua orang itu sedang melakukan apa? Kalau Ino sudah pasti Sakura tahu, karena hari ini waktunya piket. Tapi Naruto, kemana bocah kuning itu? Sampai-sampai tak juga kembali, padahal tadi Sakura hanya menyuruhnya untuk melihat keadaan Ino.
Tap.
Tap.
Sakura segera mengalihkan pandangannya kearah koridor, saat telinganya mendengar langkah kaki mendekat kearahnya. Tapi ternyata langkah kaki itu bukan dari dua orang yang sedang di tunggunya, melainkan dari dua orang siswi yang tak di kenalnya yang melewatinya begitu saja tanpa menyapanya. Sakura tidak peduli, lagipula dia juga tidak kenal dengan dua siswi tadi.
Tapi berdiri sendirian di koridor sesepi ini, entah kenapa membuatnya sedikit merinding. Belum lagi hawa dingin membuat bulu kuduknya sedikit meremang. Ukh… sial.
Dia benci keadaan begini, membuatnya takut. Sekarang Sakura benar-benar berharap agar dua sahabatnya itu cepat-cepat datang.
Puk.
Sakura tersentak kaget. Memikirkan kesendiriannya di koridor ini, sampai-sampai membuatnya lupa memeriksa sekeliling. Gadis Haruno itu segera menoleh ke arah pelaku yang sudah mengagetkannya barusan, dan menemukan seorang pemuda dengan jaket hoddie warna hitam yang sedang menatapnya dengan onyx hitam yang menawan. Tapi jangan harap Sakura akan terpesona, buktinya saat ini Emerald hijau itu kini sudah menatapnya tajam.
"Apa?" tanya Sakura dengan nada ketus.
"Melamun, eh?"
"Bukan urusanmu."
Uchiha Sasuke memutar mata bosan. Gadis pink ini benar-benar menyebalkan, padahal dia bertanya baik-baik. "Hn. Sedang apa di sini?"
Sakura tetap diam tanpa menjawab pemuda tampan di malas untuk menanggapi pemuda itu. Entah kenapa setiap berhadapan dengan pemuda Uchiha ini membuatnya kesal. Mungkin karena pertemuan awal mereka sudah ada kejadian buruk jadinya sampai seterusnya ya-jadi buruk.
Sampai sebuah sentuhan hangat sedikit panas berada di pipi kanannya membuatnya dengan terpaksa menoleh. Dan sekaleng benda panas yang di sodorkan tepat di depan wajahnya membuat alis merah muda Sakura mengerut heran. Apa maksudnya? Menyodorkan sekaleng kopi panas—Sakura tahu dari gambar biji kopi yang ada di kaleng—padanya, yang mungkin di dapat pemuda itu dari mesin penjual minuman yang ada di kantin.
Tapi untuk apa kopi kaleng itu? masa Uchiha Sasuke rela membelikannya minuman panas? darimana pemuda itu tahu saat ini dia sedang kedinginan. Mencoba berbuat baik, eh? Tapi kenapa?
"Apa lagi?"
"Hn." Sasuke menyodorkan gelas itu semakin mendekat kearah wajah Sakura. Sayangnya tak ada respon dari gadis berhelaian merah muda itu yang ingin mengambil gelas itu. Sasuke menghela nafas pelan, akhirnya tangan lain yang tadinya berada di saku jaket hitamnya bekerja untuk membuka penutup kaleng. Mungkin gadis pink itu tak bisa membuka penutup kalengnya."Minumlah. kau kedinginan kan? Mumpung masih panas."
"…"
Sakura mengernyit curiga pada minuman yang di sodorkan tepan di depannya.
"Tidak ada racun di dalamnya. Jika yang kau takutkan itu." Sasuke mendengus bosan.
"Kau berniat meracuniku?" Sakura terus menatap wajah tampan milik pemuda Uchiha itu dengan tajam. Dan balasannya pemuda itu justru mendengus geli. Memangnya ada yang lucu?
"Aku tidak sekejam itu sampai meracuni temanku." Dengan segera Sasuke mengangkat minuman kaleng itu dan meminumnya sedikit. Mungkin untuk membuktikan kalau minuman itu benar-benar tak ada racunnya."Aku sudah meminumnya . Jika memang ada racunnya , aku yang mati duluan."
"Konyol. Lagipula siapa yang kau maksud temanmu,eh?"
"Kau." Sasuke mengankat telunjuk kirinya dan menyentuh dahi lebar Sakura lalu mendorongnya pelan.
Sakura langsung menyentakkan tangan Sasuke dan mengelus dahi lebarnya."Ck..Aku tidak tertarik jadi temanmu.''
Pemuda tampan dengan surai hitam kebiruan itu terdiam sebentar, kemudian menyeringai kecil."Hn. jadi kau tidak mau jadi temanku? Lalu kau ingin jadi apaku? Pacarku?" jawab enteng Sasuke masih dengan seringai kecil di wajahnya.
Sakura mendelik kesal. Yang benar saja, jadi temannya saja OGAH apalagi jadi pacarnya. Bagi Sakura itu, Uchiha Sasuke itu pembawa masalah untuknya. Makanya itu, Sakura tidak ingin dekat-dekat dengan pemuda itu. Cukup dengan tempat duduk yang bersebelahan, dia tidak mau lagi bertegur sapa dengan pemuda itu. Bisa membuatnya kena sial.
"Cih. Mati saja sana."
Sasuke terkekeh kecil mendengar jawaban dari Haruno Sakura. Sepertinya menggoda Sakura menjadi hobi barunya. Sejak awal Sasuke tahu kalau gadis ini tidak tertarik dengannya, meski dia kesal karena ada yang menolaknya tapi saat melihat raut tak suka yang di keluarkan gadis pink itu saat di dekatinya membuatnya terhibur. Hmm… cukup menarik.
"Kenapa? Aku sama sekali tak keberatan kalau kau jadi pacarku."
"Berhenti bicara omong kosong Uchiha." Jawab Sakura semakin kesal.
"Ini bukan omong kosong, Haruno. Jika kau mau, aku bisa meresmikan hubungan kita detik ini juga."
Sakura mendengus tak suka."Dasar sinting."
Suara tawa kecil keluar dari Uchiha Sasuke yang sangat jarang tertawa. Gadis pink di depannya ini benar-benar membuatnya tertarik. Pemuda emo itu mengangkat tangannya yang kosong keatas , tepat kearah wajah Sakura dan sedetik kemudian sebuah sentilan di hadiahkan di dahi lebar milik Sakura yang terbuka tanpa di tutupi rambut.
CTAK.
"Aarghh."
…
…
Sakura mengernyit bingung saat tangan yang terbungkus sarung tangan biru gelap itu terulur tepat di depan wajahnya. Apa yang di lakukan Sasuke? Dan detik berikutnya, dia sudah mengerti kenapa tangan itu terangkat karena saat ini dia merasakan sakit tepat di jidat lebarnya. Pemuda itu baru saja menyentilnya dan itu sangat menyakitkan.
"Aarghh." Sakura segera mengangkat kedua tangannya dan mengelus jidat lebarnya yang pasti sudah memerah karena ulah Sasuke. Berani sekali bungsu Uchiha itu main tangan padanya? Bukannya penyentilan itu termasuk tindak kekerasan kan. "S-sakit."
Sakura yang akan bersiap unutk membalas ulah Uchiha, tiba-tiba terdiam kaku saat melihat wajah tampan milik pemuda itu tepat di depan wajahnya. Dan secara tiba-tiba Sakura merasa tak bisa bernapas menatap makhluk berparas sempurna di depannya. Selama ini Sakura tak mau menatap langsung wajah Sasuke, baginya berdekatan saja malas jadi untuk apa bertatap wajah, meski dia akui kalau pemuda itu tampan. Tapi sekarang Sakura benar-benar bisa menatap langsung wajah mulus dari Uchiha Sasuke. Walau hanya sebentar karena pemuda itu mengalihkan wajahnya ke samping Sakura.
"Kau benar-benar membuatku tertarik, Haruno Sakura."
Tubuh Sakura tiba-tiba meremang saat merasakan nafas hangat Sasuke yang berhembus di telingannya. Ukh..kenapa dia tadi lupa tak memakai penutup telinga. Dan apa ini? Kenapa jantungnya tiba-tiba berdebar pelan. Wajahnya juga terasa panas. Jangan bilang ini karena Uchiha di depannya. Tidak mungkin, ini pasti karena kedinginan.
"A-apa yang kau lakukan, hah?" Sakura mundur selangkah menjauhi pemuda yang sudah berdiri tegak dan sedang menyeringai seksi kepadanya.
"Hn. Kau-." Suara panggilan dari seseorang membuat Sasuke tak lagi melanjutkan perkataannya. Bungsu Uchiha itu menoleh menatap seseorang yang berjalan kearahnya dengan senyum yang selalu berada di wajahnya.
"Sasuke, kau belum pulang?"
"Hn. Kau sendiri? Bukannya kau bilang pulang lebih awal. Kenapa kembali ke sekolah?"
"Ada barang yang ketinggalan."
"Lalu?"
"sepertinya ada orang lain yang memungutnya." Jawab Sai dengan senyum kecil . manic hitammilik Sai bergulir kearah Sakura yang berdiri di samping Sasuke."Apa yang di lakukan dengan si jelek ini?"
Sakura langsung mendelik tak terima. Jelek? Barusan pemuda Shimura itu menghinanya. "K-kau."
Sasuke yang menyadari Sakura akan emosi langsung berdiri di depan Sakura. Lalu tangannya meraih tangan Sakura dan memberikan kaleng kopi yang masih lumayan hangat pada Sakura."HN. cepat minum."
Setelahnya Sasuke berjalan kearah Sai dan melewatinya."Hn. kita pulang."
Sai masih memandang wajah Sakura yang menatapnya tajam. Gadis ini marah, ya.. dia tahu. Sebenarnya dia masih ingin berbicara sedikit dengan gadis pink ini, tapi Sasuke sudah mengajaknya pulang jadi ya.. sudah. "Jaa ne. Jelek."
"Sai."
Suara Sasuke terdengar memanggil namanya. Sepertinya Sasuke tidak ingin dia berinteraksi dengan gadis pink ini."Ya. Aku pulang sekarang."
''Brengsek." Gumam Sakura kesal. Manic hijaunya masih menatap tajam pada punggung dua pemuda yang berjalan keluar pintu gedung sekolah. Dia masih tidak terima dengan penghinaan dari Shimura Sai. Lain kali dia pasti akan membalasnya , lihat saja.
Dengan sedikit kesal Sakura meminum kopi yang di berikan Sasuke. Lalu berjalan kembali ke dalam gedung sekolah, mencari kedua temannya yang juga menjadi slaah satu sumber kekesalannya saat ini.
Tapi ngomong-ngomong, bukannya tadi Sasuke juga sempat meminum kaleng kopi itu. Dan bukannya hanya ada satu lubang untuk lewatnya cairan kopi. Hmm… itu artinya kan…
Yaah.. mungkin Sakura tak sempat memikirkannya lagi.
…
…
"Kau lihat kan tadi? Brengsek, gadis itu benar-benar mau mendekati Sasuke-kun." Gadis berhelaian hitam panjang itu menatap benci kepada gadis yang barusan berbicara dengan dua pemuda most wanted di sekolah.
Awalnya dua gadis itu ingin membully Haruno Sakura. Tapi niat itu di hentikan saat melihat kedatangan Uchiha Sasuke. Kedua gadis itu melihat bagaiman seorang Uchiha yang bisa sesantai itu dengan gadis pendatang itu. Padahal selama ini, Sasuke sangat sulit di dekati. Pemuda Uchiha itu hanya bisa di dekati jika sudah berurusan dengan pesta dan ranjang. Meski kedua gadis itu tak keberatan, tapi dalam hati mereka ingin bisa seakrab itu dengan pemuda emo itu. Dan sekarang mereka meliha kalau seorang Haruno Sakura bisa berinteraksi akrab dengan Uchiha Sasuke.
Tentu saja , mereka tidak terima. Karena itu mereka berusaha menjatuhkan gadis pink itu.
"Kau pikir aku buta, hah? Dia sama sekali tak takut dengan ancaman kita."
"Apa yang akan kita lakukan, Karin?"
Karin terdiam sambil berfikir. Dia harus memiliki rencana untuk memberi pelajaran pada gadis pink itu. Sedetik kemudian seringai lebar tercipata di wajah cantiknya. "Hm. Aku punya rencana,Kin."
"Apa?"
"Hm. Tidak sekarang,kita akan menunggu Shion kembali ke sekolah." Jawabnya Karin tenang.
"Apa? Selama itu? Yang benar saja. Aku tidak bisa membiarkan gadis itu merebut Sasuke-kun." Jawab Kin tak suka.
Karin hanya merotasikan mata jengah. Memangnya dia akan membiarkan si kutu buku pink itu merebut pemuda yang di sukainya. Tentu saja jawabannya TIDAK AKAN PERNAH. Hanya saja saat ini dia perlu waktu untuk mejalankan rencananya, apalagi saat ini murid-murid yang lain masih takut dengan ancaman dari Tsunade-sama. Dia harus bermain hati-hati.
"Karena itu kita harus merencanakan bersama. Biarkan mereka semakin dekat dulu, dan nanti tiba saatnya kita akan buat mereka saling menyakiti."
"Itu rencanamu?"
"Hm."
"Baiklah aku ikut."
"Kita akan mencari seseorang yang bisa mengawasi mereka dari dekat, dan jika ada kesempatan dia bisa mencari kelemahan mereka."
"Tapi siapa?"
"Hm. Aku sudah menemukan seseorang yang akan kita gunakan."
"Siapa?" Tanya Kin inign tahu.
"Seseorang yang dulu sempat menjadi teman kita."
…
…
Sakura menatap kesal dua orang di depannya yang sejak tadi mencoba meminta maaf padanya karena sudah membuatnya menunggu tadi sepulang sekolah. Bahkan sampai malam, saat ketiganya berkumpul di ruang tengah sambil menonton TV. Sakura masih enggan berbicara dengan keduanya. Bukannya Sakura itu seorang pendendam, hanya saja dia ingin sedikit mendiamkan kedua Sahabatnya itu.
"Berhenti ngambek seperti itu, Sakura. Kau sendiri tahu kan kalau tadi aku sedang piket." Ino jengah dengan kediaman Sakura yang menurutnya berlebihan."Mereka menebar sampahcdi kelas jadinya aku harus membersihkannya."
Sakura bisa mengerti Ino. Dia juga pernah merasakannya. Manic hijau Sakura kini menatap kearah Naruto yang menunduk.
"Sebenarnya tadi aku menunggui Hinata-chan pingsan." Jawab Naruto kalem, mungkin takut dengan aura Sakura yang sedang emosi.
Kedua gadis itu saling menatap tak mengerti . kenapa Hinata sampai pingsan?
"Hinata pingsan?" naruto mengangguk mendengar pertanyaan Sakura.
"Kau apakan Hinata, heeh..Naruto?"
"Kenapa aku?" jawab Naruto tak terima. Dia kan tak melukai hinata, entah kenapa dia juga tak mengerti kenapa gadis Hyuuga itu bisa pingsan."Dia tiba-tiba pingsan waktu ku tanyai. Bukan salahku kan."
"Dasar tak bertanggung jawab." Ino menatap sinis Naruto.
"Menyedihkan." Sakura juga tak kalah menatap sengit pada Naruto. "Aku ragu kau seorang pria."
"Hoi! Bukannya tadi aku sudah bilang, aku menungguinya sampai dia sadar. Kenapa kalian masih menyalahkanku." Jawab Naruto kesal.
"Tetap Saja. Kau itu pria menyedihkan. Pantas tidak ada yang menyukaimu.
"Sialan kau Ino. Jangan menyangkut pautkan dengan statusku." Teriak Naruto marah.
Dan setelahnya ruangan itu ramai dengan kedua gadis itu yang masih meneriki Naruto sebagai 'pria tak bertanggung jawab'. Dan keributan itu baru selesai saat Hatake Kakashi muncul da menyuruhnya diam.
…
…
Pemuda tampan itu menatap langit musim dingin yang mendung di atas sana dari balkon di kamarnya. Helaan nafas keluar dari mulutnya dan membuat uap-uap putih di sekitar wajahnya. Entah apa yang ada di pikirannya? Kenapa dia tak tenang saat ini, rasanya ada yang mengganjal di hatinya. Dan entah apa itu, dia benar-benar bingung.
Manic hitam itu masih setia menatap ke atas. Udara dingin yang berhembus menerpa tubuhnya sama sekali tak di pedulikannya, meski saat ini dia hanya memakai kaos hitam dan celana pendek berwarna sama. Rambut sehitam seboni yang biasanya terata rapi itu kini tampak acak-acakkan. Sama sekali seperti bukan dirinya yang biasanya rapi.
Sejak kejadian tadi siang. Saat dia memergoki gadis itu akrab dengan pemuda lain. Ada sesuatu di dalam hatinya yang tak suka dengan tingkah laku gadis itu. Dia tak suka gadis itu akrab dengan orang lain kecuali dirinya. Ah… apa saat ini dia sedang cemburu? Mungkin tidak. Karena dia sama sekali tak mencintai gadis itu. Dia juga tak memiliki hubungan apapun dengan gadis itu kecuali teman.
Jadi apa yang saat ini yang dia alami?
"Sai-kun." Sentuhan lembut yang melingkari pinggangnya dari belakang tak membuatnya mengalihkan pandangannya dari langit mendung di atas sana."Sedang apa di luar sini?"
"Hn. Aku membangunkanmu, Yakumo-chan?"
Gadis di belakangnya itu menggeleng, meski dia tak melihatnya dia bisa merasakan dari kepala yang menempel di punggungnya itu bergerak-gerak. Gadis itu semakin mengeratkan dengan begitu kehangatan dair pemuda yang di peluknya saat ini bisa menular padanya.
"Ada apa?" Tanya Sai pelan. Tubuhnyakini berputar dan menatap heran kearah gadis yang sudah memeluknya kembali. Bahkan pelukan dari gadis itu semakin erat.
"Aku merindukanmu, Sai-kun."
Sai hanya tersenyum tipis, kedua tangannya kini membalas pelukan gadis di depannya sama erat."Makanya, jangan suka pergi."
Gadis berhelaian coklat panjang itu mendongak dengan bibir yang mengerucut sebal."Salahkan orang tuaku yang tak mengijinkanku tinggal. Padahal aku sudha bilang, kalau selama meeka tidak ada. Kau yang akn menjagaku."
"Hm. Mereka hanya ingin bersama anak gadisnya. Kurasa itu wajar saja." Jawab Sai pelan, tangan kananya kini mengelus pelan surai panjang gadis yang sudah menempati hatinya selama ini.
"Kau membela mereka?" Yakumo kembali mendengadahkan wajahnya, menatap kesal peuda tampan yang semakin mempesona di matanya.
"Hm. Sudahlah , bukannya saat ini kau sudah bertemu denganku kan." Sai menunduk dan mengecup pelan bibir ranum gadis cantik itu. Ya… ciuman yang tadinya hanya kecupan kini sudah berubah menjadi lumatan karena gadis itu juga membalasnya.
Sai menlepas ciumannya saat merasakan kalau kekasihnya itu kehabisan nafas. Dan kembali memeluknya erat.
"Sai-kun, ku dengar ada gadis yang menyukaimu?"
"Tidak ada."
"Tapi teman-teman bilang, kalau gadis baru itu terlihat menempel padamu." Yakumo melepas pelukan Said an menatap tajam pemuda yang juga menatapnya bingung."Merka ada tiga orang. Dan kau paling dekat denagn gadis baru itu yang duduk di sebelahmu." Jawab Yakumo kesal.
"Aa. Kami hanya berteman."
"Benarkah?"
"Kau tidak percaya padaku?"
"Aku percaya. Hanya saja, aku tak suka ada gadis lain di sekitarmu." Jawabnya gadis itu pelan."Ne.. Karin sedang membuat rencana untuk memeberi pelajaran pada mereka. Hmm… aku juga ingin kau ikut ambil alih. Aku ingin membuat gadis pirang itu menjauh darimu."
"Hanya kau yang kubutuhkan. Tapi jika itu bisa membuatmu tenang? Maka akan ku lakukan." Jawab Sai datar. Entah dia tidak yakin dengan perkataannya, karena saat mengatakan itu wajah cantik gadis itu sedang menari di benaknya.
"Arigatou, Sai-kun. Aku mencintaimu." Yakumo memeluk mesra tubuh tegap Sai."Bolehkan aku menginap? Kita sudah lama tidak melakukannya denganmu."
"Hn." Sai mengikuti Yakumo yang membawanya ke dalam kamarnya.
…
…
Ino menatap lesukearah ponsel putih di tangannya. Helaan nafas kembali keluar dari bibir tipisnya melihat layar hitam itu. Galau—ya saat ini hatinya merasakan perasaan itu. Dan itu karena pemuda tampan itu yang meninggalkan tadi siang. Tanpa mengucap salam pulang, pemuda itu tiba-tiba menghilang dari kelas dan tak kembali. Sebenarnya Ino bingung dnegan perasaannya. Dia yakinkalau dia tertarik dengan pemuda bermarga Shimura itu, tapi entah kenapa hati terdalamnya mengatakan jangan terlalu dekat dengan pemuda itu.
Ah… bukan saja suara di dalam dirinya. Kedua sahabatnya juga melarangnya terlalu akrab dengan pemuda itu. Kedua temannya itu terlihat tak begitu suka dengan pemuda itu, padahal kan si tmapan itu sangat baik padanya.
"Sai-kun, saat ini kau sednag apa?" gumam Ino sendirian.
Manic biru iut menatap kembali ponsel di tangannya. Bolehkah dia saat ini menghubungi Shimura Sai? Tapi jika saat ini Sai sedang tidur bagaimana?Ino melirik jam digital yang menempel di dinidng kamarnya.
'pukul 10' bukannya lumayan malam untuk menghubyngi seseorang. Tapi saat ini dia benar-benar merindukan pemuda itu. Jadi? Dia harus bagaimana?
Drrt..drrtt.
Ino tesentak kaget saat merasakan ponsel di tangannya bergetar pelan. Dengan segera jemari lentiknya langsung membuka layar ponsel miliknya. Dan detik itu pula senyum cerah langsung tercipta di wajah cantiknya.
Pemuda itu mengirimi pesan untuknya.
From :Sai-kun
Sedang apa? Sudah tidur?
Ino meloncat senang melihat barisan tulisan yang ada di layar ponselnya? Apa ini mimpi? Pemuda itu bertanya padanya. Tanpa membuang waktu lagi, Ino segera mengetik balsan pesan dari pemuda yang di pikirkannya sejak tadi.
To :Sai-kun
Aku tidak bisa tidur. Ada apa?
From; Sai-kun
Tidak bisa tidur? Memikirkanku, eh.
Ino menatap tak percaya balasan dari pemuda itu. Bagaimana pemuda itu bisa tahu, kalau dia memang tak bisa tidur karena memikirkannya. Tapi Ino tak bisa mengiyakan saja.
To; Sai-kun
Tentu saja… tidak. Ne.. sai-kun sedang apa?
From; Sai-kun
Memikirkanmu.
Wajah Ino bersemu merah melihat jawaban pemuda itu. Apa benar pemuda itu memikirkannya?
to; sai-kun
bohong.
From; sai-kun
Aku serius, Ino-chan. Memangnya untuk apa aku mengirimu pesan? Aku sepertinya merindukanmu.
Ino menghela nafas pelan. Kenapa pemuda ini bilang sepertinya. Rasanya seperti tidak ikhlas saja.
To; sai-kun
Sepertinya? Jadi itu bohongan.
From; sai-kun
tidak. Aku serius.
Aku benar-benar merindukanmu.
Ino merebahkan diri di atas kasurnya. Dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya yang bersemu merah.
To; sai-kun
Aku juga merindukanmu.
Dan setelahnya Ino terlarut dengan pesan-pesan dari pemuda Shimura itu yang membuatnya melayang. semoga saja setelah ini hunbungannya dengan Shimura Si bisa lancar.
ah... andai kau tahu kenyataannya, Yamanaka Ino.
…
…
Shimura Sai tersenyum kecil menatap layar ponsel di tangannya. Pesan terakhir dari gadis yang menhantui benaknya sejak tadi, entah kenapa membuatnya senang. Benarkah gadis itu merindukannya? ah... itu mungkin saja kan.
Gadis pirang itu tertarik padanya. Dan dia menyadari itu.
suara lenguhan pelan terdengar di sebelahnya, tempat di mana sang kekasih tidur karena kelelahan akibat dari aktivitas yang baru di lakukan bersamanya. Bahkan saat ini dia tak mengenakan selembar bajupun, sama dengan gadis cantik di sebelahnya. mungkinhanya selimut yang menutupi tubuhnya dan tubuh gadis di sebelahnya.
"Haah." suara helaan nafas keluar darinya.
ukh... mendadak kepalanya pusing.
"Maaf. Ino-chan."
Dan kata-kata maaf itu keluar dari bibirnya, yang tak mungkin terdengar oleh gadis yang di sebut namanya tadi. karena mungkin setelah ini, dia melakukan sesuatu yang akan menyakiti gadis itu.
...
...
TBC
...
...
A\N;
HAI... semuanya ... apa kabar? sudah lama ya tidak bersua. (tebar#tebar #bunga) maaf ya, aku udah telantarin fict ini , luama banget malahan. mendadak daya imajinasiku berkurang... aku tka bisa lagi berpikir cepat. mahklum udah tua.. jadinya banyak pikiran yang lainnya.
tapi setelah ini kau coba kan update cepat... yah.. minimal satu bulan satu kali.(tp ga janji) .
Maaf ya... yang udah lama menanti. :-)
oh... mengenai fict ini, mungkin banyak yang bertanya-tanya . kapan Sakura cs ngebalasnya? kok lama? oke... akan aku jelasin. begini... aku masih ingin ngebuat tiga pasangan itu semakin dekat, dan nanti akna ada kejadian yang ngebuat ketiganya jadi pecah. mungkin di chap ini ada petunjuknya. siapa yang akan berbuat kejahatan untuk Sakura cs.
jadi tunggu saja! Dan MAAF, jika chap ini pendek dan tidak bisa memuaskan keinginan kalian sekali lagi maaf.
ohh... sudah ada yang baca Naruto ep 707. Sarada beneran anaknya Karin? kok aku ga rela ya? aku baca banyak blog Naruto di Fb tentang epsd ini, ukh.. rame banget. pro dan kontra. bikin penasaran kelanjuannya. ada yang baca gak? silahkan komentarnya.
...
...
Maaf ga bisa balas reviewnya.
Tapi teep au ucapkan TERIMA KASIH buat yang sudah nyediain waktunya buat baca dan reviev, follow dan fave carita aku. MAKaSIH sekali lagi.
Aku masih setia menunggu jejak kalian di pojok review.
...
...
KDR'
13'6'15
...
...
...
...
