...
...
Chapter : 7
...
...
Sakura menatap penuh minat bangunan kecil tradisional dengan kain pendek warna biru yang di gantung tepat di atas pintu geser yang kini terbuka lebar menunggunya untuk masuk ke dalam, yang sebelumnya sudah di masuki oleh sahabat kuningnya. Bukannya Sakura tidak tahu nama bangunan di depannya, karena sudah jelas di depan mata tertulis 'kedai ramen Teuchi' dengan huruf katakana d sebuah papan, tepat di atas pintu masuk kedai.
Tapi yang membuatnya heran, darimana sahabatnya itu tahu kalau ada kedai ramen d wilayah ini? Apalagi tempatnya memasuki gang yang sedikit jauh dari jalan besar. Meski di sekitarnya masih banyak toko .
Dan 'Teuchi' itu...apa nama pemiliknya? Kenapa namanya mirip dengan koki di sekolahnya.
"Kau tak ingin masuk,Sakura- chan?"
"Hm." Gadis berhelaian merah muda panjang itu tak kunjung beranjak dari tempatnya berdiri. Malahan kini manik hijau miliknya sibuk memperhatikan beberapa gedung yang berada di kanan kiri kedai ramen itu.
"Ada apa?"
Sakura tak kunjung menjawab pertanyaan dari Naruto.
Sepasang Emerald miliknya masih memperhatikan sebuah bangunan di seberang jalan, yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Sebuah bangunan bercat hitam tanpa jendela, hanya ada sebuah pintu kaca yang di atasnya bertuliskan 'crimson pub' . Pintu kaca itu di jaga oleh dua orang pria berbaju hitam ,dan Sakura tahu tempat apa itu? Sebuah tempat hiburan malam. Dan yang menarik perhatiannya bangunan itu adalah keberadaan dua orang berbeda gender yang baru saja keluar dari bangunan itu, yang kini berjalan ke arahnya. Sakura terus memperhatikan dua orang itu sampai keduanya berjalan melewatinya dan berbelok kearah lain.
Sakura mengenal salah satunya. Seorang pemuda bersurai hitam yang di kenalnya meski tidak terlalu akrab, bahkan cenderung di bencinya. Tapi kenapa pemuda itu ada di tempat itu? Dan siapa gadis bersurai coklat panjang yang sedang di rangkulnya mesra itu.
"Kau memperhatikan siapa sih?" Tanya Naruto heran, yang kini berdiri di sebelah Sakura dan ikut memperhatikan ujung jalan di mana banyak orang lewat.
"Bukan siapa-siapa. Ayo... Masuk ke dalam." Ajak Sakura yang mulai melangkahkan kakinya ke dalam kedai.
...
...
Naruto tersenyum lebar menatap semangkuk ramen porsi jumbo yang berada di atas meja, tepat di depannya. Dengan air liur menetes ,dia mulai meraih sumpit dan mulai menyantap makanan favoritnya itu, bahkan belum ada sepuluh menit sudah habis setengah mangkuk. Tanpa peduli saat ini Sakura menatap jijik melihat kelakuannya yang seperti orang kelaparan itu. Benar-benar khas Naruto jika sudah menyangkut ramen.
Sakura menghela nafas bosan melihat Naruto yang tampak antusias memakan ramen, sedangkan dia sendiri tampak tak berminat dengan ramen di depannya. Melihat cara makan Naruto membuatnya menjadi tidak lapar.
"Kwau twidwak mwau mwakan?" Tanya Naruto dengan mulut penuh mie.
"Dari mana kau tahu tempat ini?" Sakura mulai menyumpit makanan berkuah itu. Sayang kan sudah membayar tapi tidak di makan.
Naruto menelan mie dalam mulutnya susah payah. "Insting."
Sakura mendengus bosan. Tidak ingin mendebat omongan Naruto, kalau soal ramen. Apapun itu bisa terjadi . Gadis Haruno itu meletakkan sumpitnya di dalammangkok yang baru berkurang sedikit, mendadak panggilan alam menganggu acara makannya. "Aku ke toilet sebentar."
Sakura bangkit berdiri dari kursinya dan akan beranjak pergi, baru saja dia akan berbalik tapi tiba-tiba suara Naruto berteriak melengking, bersamaan tubuhnya menabrak sesuatu.
"Awas Sakura!"
Duk.
"Aargh...panaasss." Suara teriakan seseorang membuat Sakura menatap kaget ke arah depan. Seseorang sedang membersihkan kemeja hitamnya yang tertimpa tumpahhan ramen.
Eh... barusan dia menabrak seseorang yang sedang membawa semangkuk ramen panas. Dan sekarang dia terdiam kaget menatap orang yang mengaduh sakit karena tabrakkan dengannya.
"Sakura -chan, daijoubu ka?" Sakura tersentak kaget mendengar suara Naruto yang kini menatapnya dengan raut khawatir.
Dengan buru-buru Sakura meraih tissue yang tersedia di meja, dan membantu orang itu- yang ternyata seorang pemuda dengan surai hitam panjangnya yang di kuncir rendah di bawah tengkuk- membersihkan kemeja hitamnya. Hanya memberikan tissue , mana mungkin Sakura ikut menyentuh tubuh orang itu. Kan mereka tidak saling kenal. Lagipula pemuda tadi sudah berlari ketoilet, mungkin untuk membersihkan bajunya.
...
...
Sakura langsung berdiri saat manik hijaunya menangkap sosok orang yang di tabraknya tadi berjalan kearahnya . Dengan segera Sakura langsung membungkukkan tubuhnya ke arah pemuda itu.
"Sumimasen. Aku tidak sengaja menabrakmu, Tuan."
"Aa. Ini hanya kecelakaan." ucap pemuda itu tenang.
"Tidak. Ini memang salahku." Ucap Sakura pelan. Manik hijaunya terlihat menyesal.
"Sudahlah. Aku tidak apa-apa." Pemuda bersurai hitam panjang itu kini menatap Sakura dengan senyum kecil yang menghiasi wajah tampannya."Kau sendiri? Tidak apa-apa kan?"
"Iya."
"Aa. Begitu syukurlah."
Sakura dan Naruto terus memperhatikan pemuda yang umurnya- di lihat dari keriput di kedua pipinya -pasti lebih tua dari mereka itu masih tersenyum. Yang lebih membuat heran dua sahabat itu adalah wajah orang itu.
Rambut hitam panjang. Sepasang manik hitam yang terlihat dingin dan lagi wajah tampan yang terlihat mirip dengan seseorang. Rasanya tidak asing.
"Ada apa? Ada yang aneh dengan wajah ku?"
Keduanya langsung menggeleng bersamaan.
"Maaf. Tapi anda mirip dengan kenalan kami." jawab Naruto pelan, dia masih terus memperhatikan pemuda di depannya.
" Benarkah? " Kedua bocah remaja di depannya itu langsung mengangguk."Kalau begitu kenalanmu itu beruntung, karena mirip dengan orang setampan aku." ucapnya pemuda itu bangga.
'Bahkan sifat narsisnya mirip' batin Sakura dalam hati.
"Kalian sudah memesan ramen?
Naruto dan Sakura mengangguk.
"Kalau begitu kita makan sama-sama. Oh...ya, siapa nama kalian berdua?"
"Uzumaki Naruto. Dan ini... Sakura Haruno."
"Kalau begitu kenalkan, namaku Uchiha Itachi."
Sakura dan Naruto terdiam. Memandang laki-laki muda yang kini duduk di depannya dengan senyum tipis menghiasi wajah tampannya.
Uchiha, ya. Pantas mirip sekali .
...
...
Issho 一緒
Disclamer © Masashi Kishimoto
Warning; typo(s), gajee, AU, OOC dan lain sebagainya
…
…
Don't Like Don't Read
...
{Kalau tidak suka jangan di baca}
...
...
Ino berjalan memasuki kelasnya pagi ini dengan perasaan enggan. Entah kenapa akhir-akhir ini, dia benar-benar malas mengikuti pelajaran. Terkadang Ino beralasan sakit agar bisa keluar dari kelas, dan sepanjang hari memilih untuk tetap berada di ruang kesehatan. Kalaupun tertinggal pelajaran baginya tak masalah, karena masih ada sahabat merah mudanya yang akan dengan senang hati mengajarinya.
Seperti saat ini, begitu tiba di kelasnnya Ino langsung menduduki kursinya tanpa perlu menyapa yang lain. Dan setelahnya gadis pirang itu akan mengeluarkan sebuah buku tebal dan membukanya. tapi bukan untuk di baca melainkan sebagai kedok saja, karena dia sendiri memilih melamun sambil menatap suasana luar dari jendela yang berada satu baris meja di kirinya. Mungkin terdengar membosankan, tapi bagi Ino itu masih lebih baik dari pada melihat seseorang yang akhir-akhir ini terlihat menyebalkan baginya.
"Ohayou... Minna."
Suara teriakan seseorang membuat Ino mengalihkan pandangannya ke arah asal suara. Dan setelahnya ,Ino menyesal dengan keputusannya. Seharusnya dia tak menoleh, jika akhirnya dia melihat pemandangan yang membuatnya merasakan sesak di dadanya.
Ino mengambil nafas panjang dan mengeluarkannya secara perlahan.
Manik birunya terus menatap ke arah depan, di mana seorang pemuda bersurai hitam pendek dengan senyum khasnya, tengah menyapa penghuni lain yang berada di kelas. Tapi yang membuatnya sesak bukan itu, melainkan seorang gadis cantik berhelaian coklat panjang a.k.a Yakumo Kurama yang menjadi penghuni baru di kelasnya, kini sedang bergelayut mesra di lengan kanannya. Dan pemuda itu terlihat tak menolaknya.
"Sai." ucap Ino lirih.
Pernah sekali, Ino bertanya pada Sai perihal kedekatannya dengan Yakumo, dan Sai mengatakan kalau mereka teman lama. Dan Ino tidak sepenuhnya percaya. Karena kedekatan mereka seperti memiliki hubungan special. Apa Ino harus membenci Yakumo? Tentu saja Ino akan berkata tidak. Karena sejak berkenalan dengan gadis itu, Ino tidak pernah di sakitinya. Ukh...Tidak tahu harus berbuat apa.
"Daijoubu ka, Ino-chan?"
Ino terus menatap ke arah pemuda bersurai hitam itu, dan tanpa menyadari ada seseorang berdiri di sebelahnya yang menatapnya heran. Dan seolah menyadari jika di tatap, pemuda bersurai hitam kini mengalihkan pandangan ke arahnya. Hitam bertemu dengan biru. Ino langsung mengalihkan pandangan ke arah sebelahnya, di mana seorang pemuda bertubuh besar yang memegang sebungkus potato chips.
"Lho...Chouji? Sejak kapan kau berdiri di sebelahku?" Ino menatap penuh tanya, yang di balas dengan anggukkan dari Chouji.
"Kau melamun lagi?"
Gadis pirang itu hanya menggeleng."Mana si pemalas itu?"
"Kau tak melihatku? Sejak tadi aku di sini. Dasar merepotkan." Shikamaru mendengus pelan.
Ino memutar mata bosan."Jadi aku tidak boleh mencarimu? Lagipula mana bisa aku melihat kalau kau di tutupi Chouji yang gen-Hmmp." Ino mengerjap kaget, saat tiba-tiba mulutnya di tutup oleh tangan pemuda Nara itu.
Shikamaru masih membekap mulut Ino, dengan perlahan wajahnya menunduk tepat di telinga gadis pirang itu dan berbisik pelan."Bukannya aku sudah bilang, jangan pernah mengatakan Chouji itu gendut. Dia bisa mengamuk." Dan Ino hanya mengangguk patuh.
"Aku kenapa, Ino?" Tanya Chouji.
Ino hanya menggeleng, masih dengan mulut yang tertutup oleh tangan Shikamaru.
"Haah.. Kau ini memang merepotkan, Ino." Shikamaru mengangkat tangan kanannya yang tadi di gunakan untuk membekap mulut Ino. Dan kini di arahkan ke atas kepala Ino dan detik berikutnya tangan itu sudah mengacak helaian pirang itu.
"Hei! Hentikan.. Shika!" jawab Ino kesal, salah satu tangannya kini bergerak menepis tangan kekar pemuda Nara itu. Padahal kan dia sudah repot-repot menata rambutnya, dan kini gara-gara pemuda nanas itu rambutnya jadi berantakan.
"Hm."
Tanpa mereka berdua sadari, pemuda yang tadi di lihat oleh Ino masih tetap menatap gadis pirang itu. Sepasang onyx hitam itu terus menatap intens keakraban keduanya. Dengan perlahan dia berjalan mendekati keduanya dengan kedua tangan pucat yang terkepal, meninggalkan gadis berhelaian coklat panjang itu menatapnya heran.
"Sai -kun."
...
...
"Ohayou."
Ino tetsentak kaget mendengar suara baritone pelan di sebelahnya. Gadis pirang itu langsung menoleh ke arah sebelahnya yang tadinya kosong kini sudah di dudukki seorang pemuda tampan yang sedang menatapnya. "Ohayou mo, Sai-kun." Jawab Ino dengan senyum kecil di wajahnya.
"Apa yang kalian bicarakan?"
Ino dan kedua laki-laki di sebelahnya mengernyit heran, tak biasanya pemuda Shimura itu ingin tahu pembicaraan orang lain. dan ini hanya perasaannya saja, atau memang aura di sekeliling Sai terasa lain,terasa menekan.
"Hanya pembicaraan tak penting." Jawab Ino pelan.
"Bagaimana jika kalian menceritakannya padaku?"
"I-itu...Err.." Belum sempat Ino melanjutkan perkataannya sebuah tangan sudah menarik kepala pirangnya ke belakang. Dan teriakkan dari Chouji membuatnya kaget.
"Awas, Ino!"
Duagk.
Sebuah penghapus meluncur tepat ke arah kepala Ino, untungnya bisa di hindari dan akhirnya menabrak tembok di belakang dengan cukup keras. Ino mengelus kepalanya, tubuhnya seketika merinding.
Jika tadi Shikamaru tak menarik kepalanya, sudah dapat di pastikan kepalanya akan benjol bahkan bisa saja dia mengalami gegar otak ringan, jika di dengar dari suara kerasnya benturan penghapus itu dengan tembok. Ino bersyukur dalam hati, ternyata Kami-sama masih menyayanginya.
"Kau tidak apa-apa, Ino?"
"Ada yang mengenaimu, Ino-chan?"
"Ino, kau tak terlukakan?"
Ino hanya mengangguk menjawab pertanyaan dari ketiga pemuda yang kini mengerubutinya.
Gadis pirang itu langsung menatap Shikamaru yang masih menatapnya khawatir. Dengan senyum kecil yang menghias wajah cantiknya, jemari lentik gadis pirang itu menggegam erat tangan Shikamaru yang masih berada di pucuk kepalanya."Terima kasih, Shika. Aku baik-baik saja."
Shimura Sai menggeram pelan, kedua tangannya mengepal di atas pahanya. Melihat Ino yang mengenggam tangan Shikamaru, membuatnya muak. Rasanya ada api yang membakar di dadanya. "Ck...kuso." umpat Sai kesal, dengan segera dia palingkan wajahnya ke arah lain.
"Ino-chan, gomen. Aku yang melemparnya tadi aku hanya ingin main lempar-lemparan dengan teman-teman. Apa kau terluka?" Gadis bersurai coklat itu menatap Ino dengan raut khawatir, kedua manik coklatnya kini terlihat menggenang air yang siap tumpah.
"Aku tidak apa-apa, Yakumo-chan."
Yakumo menunduk sedih. Suara isakan kecil keluar dari bibir tipisnya. "T-tapi kau hampir terluka karena aku. Maafkan aku Ino-chan."
Dengan segera putri keluarga Kurama itu memeluk erat tubuh ramping Ino sambil menagis sesenggukkan.
Suara bisik-bisik seketika terdengar dari seluruh penghuni kelas. Semua mata memandang ke arah Ino, bukan pandangan kasihan atau apa. Tapi pandangan sinis dan merendahkan, seolah-olah ini adalah kesalahan gadis pirang itu.
Ino menggeram kesal. Memangnnya dia berbuat apa? Kan yang jadi korban saat ini itu dia? Dan jika mencari kesalahan, seharusnya mereka itu menyalahkan Yakumo karena dia yang melempar penghapus tadi. Ino mengambil nafas panjang, kemudian mengangkat kedua tangannya balas memeluk tubuh mungil Yakumo yang bergetar ketakutan.
"Aku tidak apa-apa." Ino berkata pelan.
Yakumo melepas pelukannya, kemudian menatap wajah cantik milik gadis pirang itu. Sejenak dia menatap ragu pada Ino, tapi begitu melihat anggukkan dari kepala pirang itu, seketika senyum kecil tercipta dari wajah manisnya. "Ariagatou, Ino-chan."
Shikamaru yang melihat drama picisan khas gadis remaja itu, hanya menguap bosan. Dengan segera dia kembali ke mejanya yang berada di belakang setelah sebelumnya menepuk pelan kepala pirang milik Ino dan mengucap 'hati-hati'. Entah kenapa dia merasa lemparan penghapus tadi itu bukan permainan,tapi memang di arahkan pada Yamanaka Ino.
...
...
Hinata Hyuuga hanya siswi biasa-itu menurutnya- tapi entah kenapa setiap hari dia selalu mendapat tatapan kagum dari sekitarnya . Dia bukan gadis populer yang bisa melakukan apapun. Bahkan Hinata tak pandai dalam kegiatan yang berhubungan dengan fisik, yang menonjol dari gadis Hyuuga itu adalah kecerdasan otaknya serta kecantikannya.
Contohnya saat ini, hampir setiap hari dia menemukan sesuatu di dalam lokernya. Sebuah surat dengan nama seseorang yang tak pernah dia kenali. Isi surat itupun hanya ungkapan kagum dari pembuatnya. Hinata tak pernah merasa berinteraksi akrab dengan orang lain-selain Sasuke dan Sai, tentunya-, karena dia memang tak ingin. Mereka yang selama ini mau mengakrabkan diri dengannya selalu punya tujuan, dan itu bukan karena mereka mengenal baik dirinya. Karena itu dia menjaga jarak dengan orang lain, tentunya dengan sikap dinginnya.
"Kau mendapat surat cinta, Hinata -chan?"
Hinata berjengit kaget saat merasakan hembusan nafas hangat yang menerpa wajahnya. Dengan secepat kilat dia langsung membalikkan badan, dan bermaksud ingin mengusir orang itu. Tapi begitu melihat sosok itu, mendadak nyalinya menciut. Tubuhnya menegang. Mata perak miliknya menatap ketakutan pada sosok yang saat ini menyeringai licik ke arahnya.
Dan detik itu pula Hinata Hyuuga merasakan firasat buruk.
"A-ada a-apa?" Tanya Hinata ketakutan. Bahkan untuk bertanya pun terasa sulit.
"Hmm. Aku ingin meminta bantuanmu, bolehkan?"
"A-apa?"
"Sebaiknya kita tidak bicara di sini, kita pindah tempat."
"S-sebentar lagi p-pelajaran a-akan di m-mulai." Tubuh Hinata bergetar ketakutan saat sebuah tangan mencengkram erat lengan kanannya.
"Jangan membantahku, Hyuuga Hinata. Atau kau sudah lupa apa yang kulakukan padamu dulu,hah?"
Hinata menunduk ketakutan. Kata 'dulu' yang terdengar di telingannya membuat air matanya mendesak untuk keluar. Tidak ... Dia tidak ingin seperti dulu lagi. Sudah cukup untuk yang lalu.
"M-maaf. A-apa yang b-bisa ku b-bantu, Karin?" Hinata menengadah, menatap gadis bersurai merah yang menyeringai lebar padanya.
"Aa. Arigatou ne, Hinata -chan."
...
...
Uzumaki Naruto, adalah tipe pemuda aktiv yang punya sifat optimis-selalu mengganggap semua bisa dalam segala hal-, dia juga tipe pencerah suasana. Kemana pun pergi selalu menampilkan cengiran lebarnya. Sebagian orang menganggapnya aneh, tapi bagi yang sudah mengenalnya itu merupakan caranya untuk menikmati hidup.
Dalam berteman pun sebenarnya Naruto bukan tipe pemilih, siapapun bisa berteman dengannya. Naruto juga juga selalu perhatian pada setiap temannya, jika temannya sedang kesusahan maka Naruto akan berusaha membantu sebisanya, karena itu tak ada seorang pun teman yang mencoba menusuknya dari belakang.
Seperti saat ini, pemuda bersurai kuning itu menatap heran pada gadis cantik yang duduk di sebelahnya. Entah apa yang terjadi pada gadis itu, yang jelas sejak tadi pagi keadaannya sedikit mengenaskan. Mata indahnya menatap kosong ke arah depan. Hanya terdiam tanpa menyapa siapapun, sekalipun itu teman sebangkunya.
Sebenarnya apa yang terjadi dengan Hinata?
"Hinata -chan, kau kenapa?"
Naruto mendesah, lagi-lagi tak ada jawaban dari gadis Hyuuga itu. Dan itu membuatnya frustasi. Di alihkannya mata birunya ke penjuru kelas,. Sepi, karena memang saat ini jam istirahat sedang berlangsung. Bahkan sahabatnya pun tak ada di kursinya, kemana Sakura di saat seperti ini? Padahal Naruto berharap kalau gadis merah muda itu bisa membujuk Hinata untuk bicara.
Oh... Masih ada seorang lagi, Sasuke -teme? ah... Bukannya sejak pagi pemuda ayam itu tidak terlihat memasuki kelas.
Naruto menjambak rambutnya frustasi. Hinata Hyuuga benar-benar membuatnya bingung. Dia tidak bisa meninggalkan nya sendiri, karena Naruto merasa kalai gadis cantik itu membutuhkan seseorang di dekatnya.
"Hinata -chan, apa kau sedang sakit? Kenapa sejak tadi kau diam saja? "
"..."
"Aarrggh..." Akhirnya teriakan frustasi dari seorang Uzumaki Naruto berkumandang di ruangan kelas yang sepi."Aku tahu kau tidak menyukaiku. Tapi, aku benar-benar mencemaskanmu. Ku mohon jawab pertanyaanku,Hinata?"
Gadis bersurai indigo itu mengerjab kaget. Kenapa Naruto harus berteriak kencang seperti itu? Apalagi tepat di samping telinganya. Awalnya Hinata ingin menyumpal mulut Naruto dengan buku atau apapun itu. Saat ini dia ingin keheningan agar perasaan takutnya itu menghilang, dan suara pemuda kuning itu terlalu berisik. Tapi begitu mendengar perkataan selanjutnya dari Naruto membuatnya terdiam.
Jadi, Naruto mencemaskannya? Pemuda itu peduli padanya? Benarkah? Ah... Kenapa dia jadi ingin menangis.
"Hinata -chan?"
"N-naruto -kun."
Greb.
...
...
Greb.
Tubuh Naruto menegang. Sungguh kejadian ini terlalu dadakan. Terkejut- tentu saja. Dia tadi kan hanya bertanya, dan bukan jawaban yang dia dapatkan. Melainkan pelukan erat dari gadis indigo itu.
Hinata memeluknya erat. Bahkan Naruto dapat mencium wangi shampo yang menguar dari rambut panjang gadis yang sedang memeluknya itu. Naruto tidak tahu harus berbuat apa,, meski saat ini kedua pendengarannya menangkap isak tangis dari gadis Hyuuga itu. Jika itu Sakura atau Ino pasti Naruto akan memeluknya balik.. Tapi ini Hinata, haruskah dia memeluknya balik? Ah... Kenapa juga harus sulit-sulit memikirkannya, mungkin saat ini yang di butuhkan Hinata itu memang sebuah pelukan.
Tapi, kalau saat ini dia memeluk erat tubuh mungil Hinata dan si Sasuke- -teme melihatnya, apa yang akan terjadi padanya ya?
"Hiks...N-naruto -kun.. Hiks."
"Ssst.. Tenanglah. Aku di sini." Perlahan tapi pasti, kedua tangan kekar Naruto terangkat dan membungkus tubuh mungil itu, sesekali mengelus surai panjang itu.
Kenapa dia harus berpikir sejauh itu, kan si Teme itu juga belum nongol sejak pagi tadi. Santai saja lah.
"N-naruto -kun.. Hiks...b-berjanjilah padaku k-kalau... hiks..kau t-tidak pernah akan m-membenciku...hiks." Suara tangisan Hinata sesekali terdengar saat dia berbicara."K-ku mohon. J-jangan membenciku...hiks."
Naruto mengernyit heran mendengar setiap kata yang terucap dari bibir Hinata. Apa sih maksudnya? Kenapa dia harus mengucap janji? Dan kenapa juga, dia harus membenci gadis Hyuuga itu?
"Apa kau akan berhenti menangis jika aku berjanji?"
Dan sebuah anggukan di berikan oleh Hinata.
"Baiklah. Aku berjanji, tidak akan pernah membencimu." ujap Naruto yakin.
Hinata melepas pelukannya pelan. Masih dengan wajah yang penuh air mata, dia menegadah untuk melihat sosok pemuda yang barusan mengucap janji padanya. "Kau tidak akan mengingkarinya kan?"
Naruto menghela nafas panjang. Tangan kanannya terangkat dan mengusap kedua pipi mulus gadis cantik itu sampai benar-benar tak bersisa air mata. Kemudian secara perlahan, wajah Naruto mendekat dan mengecup pelan dahi yang tertutup rambut itu.
cup.
"Aku tidak akan mengingkarinya. Aku berjanji."
Dan senyum kembali tercipta kembali di wajah cantik itu.
...
...
Yamanaka Ino memandang malas salad sayur yang di pesannya untuk makan siangnya saat ini. Sejak tadi, yang di lakukannya hanya menusuk-nusuk potongan selada hijau yang ada di piring. Tak ada sedikitpun keinginan untuk menyuapkan ke mulutnya, meski saat ini perutnya meraung-raung minta di isi. Malas- ya... Itu alasannya.
Ino mengalihkan pandangannya ke pintu masuk kantin sekolah, berharap menemukan para sahabatnya berdiri di sana. Tapi yang di temukannya malah pemuda Shimura itu dengan Yakumo Kurama yang bergelayut manja di lengannya. Ukh...mendadak Ino ingin muntah. Dia tidak suka pemandangan itu.
Ino kembali menatap makanannya yang belum berkurang sama sekali. Dia benar-benar tak ingin makan, tapi haruskah dia membuang makanan ini sementara di luar sana banyak yang kelaparan. Bisa-bisa nanti dia kena kutuk oleh KAMI -sama.
"Kenapa tidak di makan?"
"..."
"Kau sakit?"
Ino merasakan seseorang duduk di kursi sebelahnya yang kosong. Wajah cantiknya menoleh sesaat dan kembali menatap depan. Tanpa mau menjawab pertanyaan dari pemuda tampan yang saat ini menatapnya dengan senyuman.
"Kau marah padaku?"
"Tidak. Memangnya kau melakukan sesuatu padaku?" Dan sebuah gelengan kepala di berikan oleh pemuda Shimura itu."Lalu, kenapa aku marah harus marah padamu?"
"Mungkin saja. Kau sejak tadi diam saja, Ino -chan." Tanya Sai khawatir. "Kau ada masalah?"
Ino mendengus pelan. Kenapa Sai jadi cerewet sekali? Biasanya dia yang cerewet dan pemuda ini yang mendengarkan. Sekarang rasanya seperti kebalikannya. Dan biasanya dia akan senang dengan perhatian dari Sai, tapi saat ini - entah apa yang terjadi padanya, Ino sedang malas berinteraksi dengan Sai. Apalagi setelah melihat kejadian di pintu masuk kantin tadi. Gadis pirang itu semakin bad mood.
"Ino, kau mendiamkanku lagi?" Wajah Sai tak lagi tersenyum, suaranya pun sedikit merendah. Seperti sedang kesal.
"Haah... Aku baik-baik saja, Sai. Aku hanya sedang malas melakukan apapun." Ino menatap malas Sai, dan ingin meninggalkan pemuda itu."Sedang apa kau di sini? Mana Yakumo?"
Sai menatap intens ke arah manik biru yang juga menatapnya saat ini , dan tiba-tiba pemuda Shimura itu mengangkat tangan kanannya dan meletakannya di pipi kiri Ino lalu mengusapnya pelan. Sepasang onyx miliknya terus menatap wajah cantik gadis pirang di depannya yang kini sedikit menampilkan warna merah.
"Kau bohong, Ino."
"A-apa? Aku memang baik-baik saja."
"Kalau begitu, jawab pertanyaanku?"
Ino mengangguk cepat. Wajahnya terasa memanas, entah warnanya sudah semerah apa. Usapan di pipinya tak berhenti, malahan semakin turun menuju rahangnya. Ah.. Perlakuan ini membuatnya meleleh. Terserah jika saat ini mereka berada di mana.
"Apa hubunganmu dengan Shikamaru?"
"K-kami cuma berteman." jawab Ino sedikit terbata. "M-memangnya kenapa?"
Sai terdiam sesaat ,tangannya masih dengan aktivitasnya. Menelusuri setiap inci dari wajah cantik gadis pirang yang sama sekali tak memberi perlawanan padanya. Tangan itu terus turun, dari pipi putih itu menuju rahang mungilnya, dan kini bergerak menuju bibir tipis warna pink itu. Bahkan tanpa sadar Sai menelan salivanya gugup. Bibir tipis itu sanggat menggoda untuk di lumat.
"Aku tidak suka." Jemarinya masih tetap dengan aktivitasnya, mengusap perlahan bibir tipis Ino dari sudut ke sudut. Secara perlahan wajahnya mendekat dan berhenti tepat di depan wajah cantik itu, menyisakan jarak minim di antara keduanya. "Jangan terlalu akrab dengan pemuda lain."
"Apa maksudmu?"
"Aku menyukaimu Yamanaka Ino."
Dan sedetik kemudian, Ino merasakan sesuatu menekan bibirnya pelan dan melumatnya perlahan. Apa yang terjadi? Sai menciumnya? oh...GOD...Sai benar-benar menciumnya. Dan pemuda itu melakukannya di tempat umum. Di tengah kantin yang penuh dengan para penghuni sekolah.
Haruskah dia menolaknya? TIDAK AKAN .Ino menyukai... Sangat menyukai perlakuan pemuda Shimura itu.
...
...
Yakumo menggertakkan giginya marah. Kedua tangannya terkepal erat sampai memutih. Dia tak percaya harus melihat pemandangan ini tepat di depan matanya. Dia tahu ini bagian rencananya, tapi melihat adegan itu secara langsung terasa sangat menyakitkan. Dia tahu kalau ini bagian dari rencana, tapi melihatnya langsung adegan itu membuatnya merasakan sakit. Dan dia tak menyukainya. Dan ini harus di hentikan.
Jemari lentik yang tadinya terkepal itu, kini meraih gelas kosong di depannya. Lalu mengangkatnya ke atas,bersiap-siap untuk melemparnya. Tapi sayangnya ada tangan lain yang merebut paksa gelas itu dan meletakkannya ke atas meja.
"Jangan ikut campur, Karin." desis Yakumo geram.
"Berhenti meneruskannya, Yakumo. Kau bisa merusak rencana kita." ucap Karin penuh penekanan.
"Jadi maksudmu? Aku harus diam, saat ada gadis jalang menyentuh milikku, begitu?"
"Ya. Tentu saja. Jaga emosimu, Kurama."
Yakumo menggebrak meja, lalu bangkit berdiri dan pergi meninggalkan teman-temannya di kantin. Jika tetap di sana, dia pasti akan tetap mencoba melempar sesuatu ke arah gadis pirang itu.
"Haah...dia memang eemosian. Dan apa katanya tadi? Miliknya? Menggelikan." ucap Kin tak suka.
"Sudah biarkan saja. Dia cuma gadis labil." Karin mengeluarkan ponsel miliknya, lalu menekan sesuatu di layarnya. Setelahnya mengarahkan tepat ke dua remaja yang masih asyik bercumbu itu , dan setelah menemukan fokus yang bagus. Karin segera menekan sebuah tombol berulang kali.
"Untuk apa kau mengambil foto mereka? Menjijikkan."
"Mungkin nanti bisa bergunakan " Karin menyeringai.
"Terserah lah."
...
...
...
...
"Kau pacaran dengannya?"
Tubuh ramping gadis pirang itu bergerak-gerak-gelisah- di atas sofa, saat sepasang manik emerald menatapnya penuh selidik. Kedua tangan lentiknya meremas-remas bantalan sofa, sedang wajah cantiknya terlihat memandang ke arah lain, menghindari gadis merah muda yang duduk tepat di depannya.
"Errrr... Tidak. Kami cuma berteman." Jawabnya lirih. Wajah cantik gadis yang mirip boneka barbie itu tampak bersemu merah.
"Lalu kenapa kalian berciuman di tempat umum?"
Ino menghela nafas pelan. Dalam hati gadis pirang itu merutuki kebodohannya, kenapa juga tadi bercerita kejadian di kantin pada Sakura, jika akhirnya mendapat banyak pertanyaan dari gadis merah muda itu.
Dengan sangat terpaksa akhirnya di alihkannya pandangannya, tepat ke wajah manis milik sahabatnya."Itu terjadi tiba-tiba. Dan ciuman itu bukan keinginanku." jawabnya malu-malu.
Sakura hanya mendengus bosan. "Dan kau diam saja saat mulut si mayat itu melumatmu.".
Ino menggeram kesal. Kenapa Sakura harus menekannya dengan kata-katanya seperti ini? Kalaupun dia berciuman dengan Sai, apa masalahnya? Bukan pacarnya juga.
" Ya. Ciuman Sai sangat hebat. Puas." ucap Ino kesal.
Mata hijau itu berotasi sesaat. "Jauhi Shimura setelah ini." Sakura berkata tenang. Kembali menikmati bacaan di tangannya yang sempat terlupa.
Ino terdiam kaget. Sebenarnya Sakura itu kenapa? Mendadak gadis merah muda itu ikut campur dengan siapa dia berciuman, apa alasannya?
Suasana tiba-tiba menghening. Keduanya tak kunjung mengucap sepatah kata pun. Sakura yang terlihat membaca buku , sebenarnya sedang memikirkan hubungan sahabatnya dan pemuda mayat itu. Sedangkan Ino sedang memikirkan, apa alasan Sakura menyuruhnya menjauhi Sai. Sakura harus membuat alasan yang masuk akal untuk masalah ini. Keduanya masih sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Kenapa?" Suara Ino mengalun rendah, dan di dalamnya terselip emosi. "Kenapa aku harus menjauhinya?"
Sakura menutup buku di tangannya lalu meletakkannya di atas meja. Manik hijaunya menatap dingin pada Ino. "Dia sudah punya pacar. Gadis dengan rambut coklat panjang, siswi baru di kelasmu."
Ino mendelik kesal. Gadis pirang itu tahu siapa gadis yang di maksud oleh Sakura. Dan mereka hanya berteman. Sai sendiri yang mengatakan padanya, meski dalam diri Ino sedikit meragukan perkataan Sai.
"Sai dan Yakumo hanya berteman." Jawab Ino lirih. "Lagipula Sai bilang, dia menyukaiku."
"Dan kau mempercayainya. Ckk... Menyedihkan."
Ino menggeram marah. Sepasang manik birunya menatap nyalang ke arah Sakura. Kedua tangan putihnya mengepal erat. Menyedihkan? Apakah mengetahui perasaan sukamu yang terbalas, itu bagi Sakura - Menyedihkan. Lucu sekali.
Ino bangkit berdiri. Detik setelahnya, entah apa yang lucu, Ino terkekeh kecil. Sepasang manik birunya yang tadi berkilat tajam, kini menatap remeh pada Sakura.
"Menyedihkan? Ha...ha... Ku rasa kata-kata itu ku kembalikan padamu, Haruno." Ino masih menatap remeh pada Sakura. Seringai kecil menghiasi wajah cantiknya. "Kau yang tak pernah di dekati laki-laki, mana mungkin mengerti rasanya jatuh cinta. Apalagi sampai tahu rasanya perasaan suka yang terbalas."
Sakura terdiam. Hanya menatap datar Ino yang masih berkata-kata.
"Sasuke? Ku rasa, dia mendekatimu hanya karena kasihan." Dan setelahnya Ino menyesal sudah berkata seperti. Tapi dia tak bisa menghentikan mulut dan lidahnya dalam berucap."Kau menyebalkan, Haruno Sakura. "
Ino menggigit bibir bawahnya. Wajahnya menunduk. Ada air yang ingin melesak keluar dari matanya. Dia tak boleh menangis. Setidaknya jangan di depan Sakura.
Tapi bagaimana reaksi Sakura saat ini? Apa sahabatnya itu marah? Kenapa Sakura tidak mengatakan apapun? Ino tidak berani memperlihatkan wajahnya, bukan karena takut Dia hanya tak ingin menyesali perkataan yang barusan di ucapnya. Meski saat ini, di sudut hatinya yang terdalam. Yamanaka Ino sangat menyesali tindakannya pada sahabatnya.
"Kau bukan orang tuaku, kau tak bisa memerintahku." Ino tahu sudah berkata kasar. Tapi mana mungkin dia meminta maaf sekarang. Lagipula Sakura juga berkata kasar padanya. Jadi bolehkan dia menganggap ini impas.
"Aku sahabatmusahabatmu, jika kau lupa. Dan Shimura tidak benar-benar menyukaimu."
Ini menyipitkan matanya. "Jika kau itu sahabatku, seharusnya kau mendukungku. Atau kau sebenarnya menyukai Sai."
Sakura mendengus. Menyuksi si mayat itu? Yang benar saja, melihat wajah pucatnya saja ogah.
"Hentikan pikiran konyolmu. Aku hanya memperingatkanmu. Dan bukannya kau itu sering gonta ganti pacar, seharusnya kau bisa membedakannya mana yang serus, mana yang main-main. Tingkahmu ini terlihat seperti gadis jalang saja."
Cukup. Ino benar-benar merasa terbakar. Sakura menghinanya. Sahabat baiknya itu, mengatainya gadis jalang.
Ukh... Ino ingin menangis. Tidak. Saat ini dia sudah menangis.
"Cukup, Sakura. Ini hidupku. Aku-." Ino mengambil nafas dalam dan mengeluarkan secara perlahan. "Aku bisa menentukan apa yang baik bagiku."
Dengan kasar dia hapus air mata yang mengalir di kedua pipinya."Aku tak percaya, sahabat baik yang ku sayangi menghinaku. Kau jahat, Sakura."
Ino langsung berjalan menuju ke tangga menuju lantai dua -kamarnya. Tanpa peduli Sakura yang memandangnya terluka. Ah... Tidak keduanya sama-sama terluka.
"Maaf, Ino." ucap Sakura lirih.
Entah jadi apa persahabatan mereka setelah ini.
...
...
Naruto menatap heran dua gadis yang berjalan di kedua sisinya saat ini. Ada yang salah pada keduanya beberapa hari ini.
ANEH.
Tak biasanya keduanya tanpa suara. Biasanya jika berjalan bersisian begini, pasti akan ada obrolan dari kedua gadis ini. Yang entah membahas apa pun. Dan meski terdengar berisik, tapi Naruto bisa mengatakan kalau mereka baik-baik saja.
Tapi saat ini, ada yang berbeda dari keduanya. Bahkan mereka tak saling memandang. Naruto bersahat dengan keduanya sejak kecil, jadi jika kedua gadis itu saat ini bersikap seperti orang tak saling kenal. Dapat di simpulkan, sesuatu sudah terjadi dan itu membuat mereka bertengkar.
Uzumaki Naruto menghela nafas pelan. Kedua tangannya sedikit melonggarkan syal putih yang melingkari lehernya. Meskipun sedang turun salju, entah kenapa dia merasa kegerahan. Ck...merepotkan.
Sudah lama kedua gadis itu tak bertengkar, kalau tidak salah ingat waktu mereka masih tingkat elementary. Dan kedua gadis itu bertengkar hanya karena ingin memperebutkan siapa yang paling cantik. Dan yang jadi jurinya adalah dia. Naruto masih ingat dengan jelas, dia yang harus jadi juri mesti melihat dan menilai kedua gadis itu yang berdandan sexy.
Ah... Berdandan sexy bukan berarti keduanya memakai baju minim yang memperlihatkan tubuh-tubuhnya yang menonjol. Tapi waktu itu mereka masih kecil, belum ada satupun bagian tubuh yang menonjol. Dan bagi kedua gadis itu, menjadi sexy adalah berdandan ala kabuki dengan bedak tebal serta bibir bercelemot lipstik merah. Dan itu sama sekali tidak sexy.
Ukh... Naruto langsung merinding mengingat kejadian itu. Waktu itu dia menolak memilih, dan akhirnya kedua gadis itu mengamuk padanya. Itulah pertama kali dia merasakan di bully dan pelakunya kedua sahabatnya. Itu mengerikan, tapi itu tak membuat persahabatan mereka bertiga berakhir. Bahkan tetap terjalin sampai saat ini.
Oh... Dan lagi untung saja setelah dewasa, keduanya punya sifat yang berbeda. Jadinya Naruto bisa tenang, tidak jadi komentator fashion keduanya.
Tapi mungkin setelah ini dia akan jadi pihak yang paling kerepotan.
"Kalian bertengkar?" Ucap Naruto pada keduanya. Pemuda kuning merasa jengah dengan kediaman Sakura dan Ino.
"Bukan urusanmu." Jawab Ino kesal. Sementara itu Sakura tak menyahut sama sekali.
Naruto menghela nafas panjang.
"Ayolah. Kalian bukan lagi anak kecil. Kalian ini sahabat. Berhenti untuk saling mendiamkan, Sakura... Ino!"
Ino menghentikan langkahnya. Dan berbalik pada Naruto dan Sakura yang menatapnya bingung. Sepasang manik biru milik gadis pirang itu memincing tajam. Dia tak menyukai kata 'sahabat' yang keluar dari bibir Naruto. Saat ini dia sedang tak ingin di ganggu dengan ikatan seperti itu.
"Sahabat? Kau tahu Naruto, jika orang itu menyebut dirinya sahabatku seharusnya dia tak melukaiku." Sejenak Ino mengambil nafas panjang."Aku rasa kami tidak bisa bersahabat lagi."
Sepasang manik hijau dan biru tua itu langsung melebar kaget. Sungguh mereka tak akan ada perkataan itu yang keluar dari bibir Yamanaka Ino. Sebegitu mudahnya persahabatan mereka berakhir.
"Ino."
"Maaf. Aku duluan." Ino bergegas berlari menuju gerbang sekolah yang hanya berjarak beberapa meter dari tempatnya berdiri.
"Sakura -chan?"
Sakura mengambil nafas dalam dan mengeluarkan secara perlahan. Langkah kakinya yang sempat terhenti kini mulai berlanjut. Meninggalkan Naruto yang masih menunggu jawaban darinya.
"Akan kuceritakan, tapi tidak sekarang." Tanpa berbalik ke arah Naruto. "Sebentar lagi sekolah akan di mulai."
Naruto mendengus kesal. Tapi tetap di langkahkan kakinya menujugerbang sekolah. "Pertengkaran kalian berdua, membuatku jadi malas sekolah."
...
...
Sudah hampir seminggu semenjak Sakura mengatakan alasannya bertengkar dengan Ino pada Naruto, ah...dan juga Tenten. Entah darimana gadis bercepol itu mengetahui kejadian ini, mungkin Ino pernah bercerita. Lagipula Sakura tidak peduli darimana Tenten tahu.
Yang saat ini dia pedulikan adalah sikap Ino yang semakin dingin padanya. Bahkan gadis pirang itu tak mau lagi berangkat bersamanya. Sejak beberapa hari lalu, Ino mendapat servis pulang-pergi dari Shimura Sai. Dari gossip yang tidak sengaja Sakura dengar. Yamanaka Ino dan Shimura Sai akhirnya berpacaran.
Dan sahabat pirangnya itu sepertinya mendapat teman baru. Siswi baru di kelasnya. Dan Sakura mengenali gadis bersurai itu, gadis yang sama dengan gadis yang bergelayut mesra di lengan Shimura beberapa hari lalu.
Haruskah dia memperingati Ino? Haahh...sudahlah. Sahabatnya itu pasti bisa melindungi dirinya sendiri. Meski Sakura tak yakin.
ctak.
"Arrgh..ini sakit, ayam bodoh." Sakura meringis kesakitan. Tangan kanannya terangkat untuk mengelus jidat lebarnya yang barusan menjadi korban pemuda tampan yang duduk di sebelahnya.
"Hn. Kau kenapa?"
Sakura melirik singkat pada bungsu Uchiha itu. Kesal. Kenapa pemuda itu suka sekali menyentil dahinya. Apa dia tak tahu, itu sangat menyebalkan dan juga sakit. Sialan.
"Kenapa kau suka sekali menyentil dahiku,hah?"
Sasuke menyeringai kecil."Hn. Aku suka dengan jidat lebarmu." Ucapnya menggoda.
Sakura memutar mata bosan. Tapi sungguh tak di sangka, ada segaris warna merah di kedua pipinya. "Dasar sinting."
Pemuda emo itu hanya terkekeh kecil melihat sifat Sakura yang ternyat merepotkan itu. "Dasar tsundere."
"Hei! Berhenti menyebutku seperti itu!"
Sakura mendecih kesal. Selain suka menyentil dahi lebarnya, Sasuke juga sering menyebutnya tsundere.Padahal kan dia tak pernah merasa begitu. Dia merasa normal.
Oh..ya, ngomong-ngomong hubungannya dengan Uchiha Sasuke, akhir-akhir ini menjadi lebih baik. Pemuda emo itu juga terkadang menemaninya membaca di perpustakaan, meski yang di lakukannya hanya tidur berbantalkan lengannya. Anggap saja pengganti Ino, karena biasanya gadis pirang itu yang selalu menemaninya.
"Apa?" Sasuke merasa risih mengetahui Sakura terus menatapnya. Tapi tak membuat gadis merah muda itu berhenti menatapnya. Dan itu membuatnya heran, mungkinkah- hn, sebuah seringai menggoda tercinta di wajah sempurnanya. "Hn. Kau terpesona ketampananku ,eh. Jadi kau sudah setuju jadi pacarku?"
"Tidak. Terima kasih. Aku tidak tertarik."
"Benarkah? Ku rasa kau mulai tertarik padaku." Sasuke berbisik lirih dan terkesan menggoda, tepat di telinga gadis merah muda itu. Dengan sengaja meniup telinga gadis itu.
Sakura berjengit kaget merasakan udara hangat yang berhembus di telinganya. Dengan segera gadis itu menoleh cepat, dan dapat di lihatnya tepat di depan matanya, wajah tampan Sasuke hanya berjarak beberapa inchi dari wajahnya. Bahkan kedua hidung mereka saling bersingungan.
Emerald dan onyx bertemu. Dan keduanya tak mencoba menutup mata ataupun mengalihkan pandangan. Sepertinya keduanya tertarik menyelami keindahan manik indah lawannya. Meski salah satunya memakai kacamata.
krek.
Sakura segera menoleh saat pendengarannya menangkap suara aneh. Suasana perpustakaan yang lenggang dan sepi, membuatnya mendengar suara sekecil apapun.
krek.
"Sasuke, kau mendengar sesuatu?" Sakura masih celingukkan mencari seseorang lain yang mungkin berada di sekitar mereka.
Nihil.
Tak ada sesosok manusia pun kecuali dia dan pemuda di sebelahnya. Hanya ada jejeran rak buku yang menjulang tinggi. Bahkan tak ada suara apapun yang kini terdengar.
Sakura menoleh ke sebelahnya, Uchiha Sasuke yang kini menatapnya dengan kedua alis menukik ke bawah. Wajah yang menunjukkan ketidak sukaannya. Tapi, memangnya ada apa?
"Hei! Kau tadi tidak mendengar suara apapun?"
"Hn."
Sakura mendengus kesal. Kenapa jawabnya cuma 'hn'? Apa tak ada kata-kata lain?
"Kau itu kenapa?"
Sasuke mendecih kecil. Di tatapnya wajah yang sebenarnya manis dari gadis berkacamata di depannya."Kenapa kau menoleh,hah? Padahal tinggal sedikit lagi."
Menoleh? Tinggal sedikit lagi? Apanya? Sakura mengernyit bingung dengan perkataan si bungsu Uchiha itu.
Gadis Haruno itu mencoba mengingat lagi tindakan apa saja yang di lakukannya bersama Sasuke. Menoleh ya? Kalau tidak salah tadi dia membaca buku. Diajak bicara ayam emo ini. Kemudian menoleh karena suara Sasuke terdengar di telinganya. Dan ternyata wajahnya terlalu dekat dengan wajah Sasuke. Kemudian dia menoleh lagi karena mendengar- tunggu menoleh? Lalu kata si bungsu itu tinggal sedikit lagi kan? Jangan-jangan dia mau- ukh... Sialan!
"Baka." Dengus Sakura pelan.
Tak di pedulikannya Uchiha Sasuke yang tertawa kecil di sebelahnya."Sudah tahu maksudku? Ayo... Lakukan denganku." Sasuke meraih jemari Sakura, yang langsung di tampik kasar oleh pemiliknya.
"Menjauh dariku,Uchiha."
Uchiha bungsu itu hanya tertawa kecil, melihat gadis pink itu terlihat salah tingkah.
"Hei...Sasuke, aku bisa minta tolong?"
"Hn?"
"Aku mau ke ruang kesehatan."
"Hn. Mau ku temani?"
"Tidak katakan itu pada Sensei yang mengajar setelah ini. Lagipula untuk apa kau ke sana?"
Sasuke mendekat sekali lagi ke telinga Sakura dan berbisik rendah."Kita berdua bisa melakukan sesuatu di sana. Seperti berbagi kehangatan." fuuuh- dan nafas hangat beraroma mint itu berhembus menerpa daun telinga gafis merah muda itu.
Tuk. Sebuah buku pun terlempar di wajah tampan sang bungsu Uchiha.
...
...
"Kau mendapatkannya?"
Gadis berhelaian panjang itu mengangguk pelan. Kedua tangannya yang membawa sebuah kamera terulur ke orang yang bertanya padanya barusan. "I-ini."
"Bagus." Seringai licik menghiasi wajah cantiknya. Sepasang mata ruby di balik kacamata miliknya berkilat senang melihat hasil karya gadis pemalu di depannya. "Setelah ini cari lagi foto yang lain, kalau perlu ikuti mereka."
Gadis berhelaian panjang itu bergerak-gerak gelisah di tempatnya. Kedua tangannya saling meremas gugup. Tidak - sudah cukup. Dia tidak mau lagi mengikuti keinginan dari sosok licik di hadapannya. "T-tidak. A-aku tidak bisa."
"Kau tidak mau, hah?"
Gyuut.
"Aarhh.. S-sakit." Wajah cantik itu meringis sakit saat rambut panjangnya di tarik paksa oleh gadis bermata merah itu. Manik pucatnya nampak berkaca-kaca karena sakit di kepalanya. "M-maafkan aku."
"Turuti aku, atau akan ku buat kau lebih sakit." Ancamnya. Tangannya semakin menarik kuat helaian panjang itu.
"B-baiklah. Akan ku lakukan."
Suara tawa melengking terdengar di telinganya. Dan itu berasal dari gadis berkacamata itu. Ah.. Pada akhirnya dia akan menuruti rencana licik dari gadis berkacamata itu. Mau bagaimana lagi, dia ini cuma gadis penakut.
...
...
Hatake kakashi bermaksud untuk bersantai sambil membaca buku oranye favoritnya di ruang kesehatan sekolah yang biasanya sepi di jam terakhir pelajaran. Tapi maksud hatinya itu mesti di urungkan, saat menemukan sosok merah muda yang duduk meringkuk memeluk kedua lututnya di atas ranjang. Guru matematika itu mengernyit heran saat melihat keponakannya itu di sini, apalagi saat jam pelajaran begini.
Tumben sekali. Sakitkah?
Kakashi berjalan mendekati gadis pink yang masih tak merubah posisi meringkuknya. Sepertinya gadis itu tak menyadari kehadiran pria bermasker hitam itu, dan tanpa hambatan duduk tepat di sebelahnya.
"Hn. Membolos pelajaran, hukumannya membersihkan toilet selama seminggu. Kau tak ingin melakukannya kan,Sakura?"
"..."
Kakashi menghela nafas pelan, saat tak mendengar satu katapun dari keponakannya."Kau bertengkar dengan Ino? Kalian tak saling menyapa selama seminggu ini."
"Bukan urusan, Sensei." Jawab Sakura ketus.
"Jawabanmu sama dengan Ino, waktu ku tanya kemarin." Ucap Kakashi bosan. "Ada apa?"
"Hanya salah paham."
puk. Tangan Kakashi terangkat ke atas helaian merah muda itu, dan mengelusnya pelan. Seperti yang biasa di lakukannya dulu, setiap gadis merah muda itu sedang kalut atau marah
"Hn. Tidak baik bertengkar dengan sahabat baik. Cepat minta maaf."
Sakura menatap wajah tampan pamannya yang tertutup sebagian oleh masker. Kedua matanya menyipit, yang menurut Sakura pasti pamannya ini sedang tersenyum. Gadis Haruno itu begitu menikmati setiap elusan tangan pamannya. Dan entah kenapa, dia jadi ingin memeluk pamannya itu.
grep.
"Aku takut, Ino tidak akan memaafkanku, Oji-san." Masih dengan memeluk pamannya, Sakura menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria bermasker itu.
Kakashi sendiri hanya bisa tersenyum tipis. Tangannya masih dengan setia mengelus surai merah merah muda Sakura. "Hn. Kalian bersahabat sudah sejak kecil, Ino saat ini pasti juga sedih tak bicara denganmu. Tidak usah takut. Ajak Naruto juga."
Sakura mengangguk. "Arigatou. Oji-san."
"Hn."
Dan tanpa keduanya sadari. Seseorang mengintip dari celah pintu yang terbuka sedikit, mengabadikan moment paman-keponakan itu lewat kamera ponsel.
...
...
Naruto melangkah sedikit cepat setelah menerima pesan dari Sakura- setelah jam pulang berkumandang. Sahabatnya itu sedang di ruang kesehatan , apa yang sudah terjadi? Apa Sakura kena bully lagi? Seingatnya, beberapa hari ini tak ada tindak kekerasan apapun yang di terimanya maupun kedua sahabatnya.
Pemuda kuning itu berlari cepat, tak di pedulikannya kerumunan murid yang di tabraknya, mengumpat kesal padanya. Sampai di tempat tujuan, Naruto menghentikan langkahnya saat melihat sosok seorang gadis berhelaian panjang berdiri di depan pintu ruang kesehatan yang sedikit terbuka.
Apa yang di lakukannya di sini?
Naruto berjalan mendekat lalu menepuk pundak gadis itu yang langsung terkaget.
"Hinata -chan, sedang apa di sini?"
Naruto memperhatikan wajah Hinata yang pucat. Kedua tangannya meremas erat ponsel layar sentuh warna putih yang Naruto yakini milik gadis itu. Dan yang membuatnya bingung, kenapa Hinata seperti ketakutan begitu.
"N-naruto -kun."
...
...
TBC
...
...
HAI...(^-^)
Di lanjut nih... Maaf ya lama. Ngetiknya di HP... susah banget. Bikin pusing, idenya ngilang terus. Tapi akhirnya bisa juga nerusin ceritanya.
Chap ini gimana? Kok aku merasa chap ini ga ada feelnya. Silahkan tanggappannya.
Oh..yang tetep nunggu acara balas membalas, yang sabar ya. Dan Sai- kayaknya banyak yang ga suka chara itu di sini. Sai sebenarnya ga jahat loe, itu semua di lakukannya demi sang pacar, jadi jangan nyalahin Sai.(#ppeluk Sai yang lagi pundung di pojokkan#)
Dan ada yang protes sifat Sakura di sini. Gimana ya? Sakura itu di sini itu gadis biasa yang punya sifat tegas dan kuat.
Dan jika ada yang ingin Sakura yang cantik dll, silahkan baca di fict yang lain.
Dan TERIMA KASIH buat yang udah nunggu kelanjutan fict ini. Udah follow dan favorit. Aku seneeeeng banget(#guling-guling#). Sekali lagi TERIMA KASIH.
Thanks reviewnya:
Nikechann - . - - - - Sakura Uchiha stivani - dianarndraha - wind chan - BaekhyunSaranghaeHeni - Fukinyan -nurulita as litasan - suzuki michiyo - hiugatsu kanazawa -pnd - SHL7810galogin - ongkitang - sasusaku lovers - Uchiha matsumi - de chan - hqhqhq - emeraldishTomato - un - guest - chalitha - kurnia713 - RyuujinFuu24 - guest - guest - Hajijah nurpooja - kilua akasuna - - kunoichi - saskey saki - ikha hime.
Sekali lagi TERIMA KASIH
...
...
KDR'30'7'15
...
...
