\(^.^\) (/^.^)/

Disclaimer: Naruto Masashi Kishimoto

MaleXMale, Typo (saya harap tidak ada)

.

Pulang

Chapter 2

By: Uzumaki Arisa

Special fic for Arya Angevin's Birthday

.

\(^.^\) (/^.^)/

Tidur lelapnya buyar ketika secara tidak sengaja Sasuke mendengar bunyi deritan ranjang yang menghampiri indra pendengarannya. Dengan malas, Sasuke membuka matanya untuk mengetahui sebenarnya apa yang telah terjadi.

Naruto bangun di pinggir rajang membelakanginya. Dari minimnya cahaya masih dapat terlihat kalau Naruto bersimbah keringat, bahkan belakang kaos dalamnya ikut basah karena keringat. Laju nafasnya cepat—terengah-engah dan berat. Tampak tangan kanannya yang gemetar menyagga kepalanya yang condong. "Ya Tuhan—," gumam Naruto pendek.

Itulah yang terpantul dari bola matanya. Naruto mimpi buruk, mimpi yang sama setiap malam, mimpi yang selalu dengan sigap menghampirinya, menghantuinya malam suntuk.

Sudah sepuluh tahun mereka bersama, tinggal di ruangan yang sama, walaupun bukan tempat mewah seperti tempat tinggal teman-teman kerjanya, hanya sebuah apartemen sederhana kalau tidak mau dibilang tempat kumuh, walaupun sebenarnya mereka mampu membeli apartemen yang ebih layak. Ya, semacam itulah. Tapi toh tak menjadi masalah asalkan setiap berangkat kerja dan selepas pulang kerja Sasuke bisa melihat senyum renyah dari wajah pemuda berambut kuning itu.

Lama Naruto terdiam dengan posisi seperti itu, masih menyangga kepalanya. Agaknya Naruto tidak sadar kalau dirinya sebenarnya terbangun dan mengira kalau dirinya tidur terlelap. Ya makhlumlah kalau setiap kali mereka bercinta, pasti Sasuke yang terlelap duluan. Terkadang ia terbangun sejenak saat mendengar gemericik air shower—menandakan Naruto sedang mandi—kemudian kembali tidur dan terbangun esoknya.

Besok adalah awal bulan April. Bulan dimana Naruto selalu emosional dari biasanya. Gampang marah, gampang tersinggung, acapkali mengeluarkan kata-kata kasar kalau ada sedikit saja yang tidak sesuai atau mengganggu hatinya. Pada bulan itu Sasuke hanya bisa diam, membiarkan Naruto dengan perangai-perangainya. Bukannya tidak peduli, hanya saja Sasuke membiarkan Naruto bertindak seperti itu karena ia tahu Naruto tidak bisa mengontrol diri. Naruto frustasi.

Sasuke tidak akan pernah lupa dimana Naruto meringkuk, menangis di pelukannya. Sasuke juga tahu Naruto tidak akan pernah lupa bahwa ia meninggalkan orang tuanya di awal bulan itu.

Menyedihkan.

Laju nafas Naruto sudah mulai teratur. Tangan yang semula menyangga kepalanya kini telah bersandar di pangkuannya. Berkali-kali menghela nafas, berusaha menyeimbangkan tekanan berat yang terbeban di dadanya. Sasuke tersenyum tipis. Naruto sayang ayah ibunya, Naruto sangat menghormati orang tuanya. Andai saja dirinya bisa menyayangi orang tuanya seperti Naruto yang begitu menyayangi orang tuanya. Mustahil terjadi mengingat Sasuke diusir dari rumahnya. Ayahnya yang begitu murka mengetahui bahwa putranya adalah seorang gay dengan geram menyuruhnya untuk keluar dari rumah dan menyuruhnyauntuk jangan kembali, tidak akan pernah mengakuinya sebagai putranya lagi. Ibunya yang tak kalah terkejutnya dengan ayahnya hanya bisa menangis sendu. Tak terkecuali kakaknya yang sangat ia sayangi melebihi ayah ibunya. Menatapnya tidak percaya. Tidak membelanya ataupun meyakinkan kepada ayah ibunya untuk menerima Sasuke apa adanya. Setidaknya menghentikannya untuk pergi dari rumah. Tidak satu pun kakaknya melakukan semua itu.

Terlepas dari itu semua, Sasuke sudah cukup bahagia bisa mengenal Naruto dan hidup bersamanya. Sasuke hanya membutuhkan Naruto.

Sebenarnya, titik permasalahan Naruto adalah keberadaan dirinya. Dulu, ketika orang tua Naruto telah mengetahui semuanya, seminggu tepatnya setelah orang tua Naruto telepon, sempat Sasuke mengemasi barang-barangnya dan menyeret koper untuk pergi dari apartemen mereka, berencana untuk hilang dari kehidupan Naruto.

Sasuke sadar diri dan tahu tempat.

Nyatanya ketika Sasuke hendak membuka pintu, Naruto lah yang telah membuka pintu terlebih dahulu, baru pulang mengajar kelas malam. Kelereng sapphire-nya membelalak. Lama mereka berdiam diri, kemudian tanpa berkata apa-apa Naruto menyambar koper Sasuke dan membuka isinya. Meletakkan kembali pakaian-pakaian Sasuke ke lemari serta barang-barang lainnya yang ada di koper. Setelahnya Naruto duduk di ruang tengah. Dengan suaranya yang serak dia meminta untuk jangan meninggalkannya. Naruto butuh dirinya. Yang dimiliki Naruto saat ini hanya dirinya.

Setiap kali mengingat kejadian itu Sasuke tak henti-hentinya mengutuk dirinya sendiri. Sempat-sempatnya Sasuke berpikiran untuk meninggalkan Naruto di saat Naruto tidak punya apa-apa. Selain itu, Naruto juga berkali-kali berkata pada dirinya bahwa semua ini, hal perih yang terjadi pada Naruto, sama sekali bukan salahnya. Ini terjadi karena kesalahanny sendiri yang tidak memberitahukan dari awal tentang hubungan Naruto dengan dirinya. Bukannya tidak berniat, Naruto bahkan sudah berencana untuk pulang ke kampung halamannya bersama Sasuke. Selain untuk memberitahukan keberhasilannya yang didambakan orang tuanya dan mengajak untuk tinggal bersama di Amerika, juga untuk memberitahukan mengenai hubungannya dengan Sasuke.

Sempat juga Sasuke protes, menyuruh Naruto untuk mengenalkan dirinya sebagai teman—atau apalah. Yang penting selain sebagai kekasih. Sasuke tidak ingin wajah murka dan tangis sendu orang tua Sasuke akan terjadi pada orang tua Naruto. Namun, Naruto sama sekali tidak menggubrisnya. Alih-alih, Naruto malah tertawa.

Aku ingin jujur, apa adanya, mengenalkanmu pada orang tuaku dan menjadikanmu sebagai bagian keluargaku—katanya saat itu.

Ah, semuanya sudah terlambat. Semuanya sudah didahului oleh Kiba.

Sasuke mengerti benar kenapa Kiba menaruh dendam kesumat pada Naruto. Sampai-sampai Kiba pergi ke kampung halaman Naruto—yang Sasuke herankan, berani-beraninya Kiba menyelidiki kehidupan Naruto—untuk memberitahukan pada orang tua Naruto tentang hubungan Naruto dengan Sasuke. Kiba memang sejak awal beniat melakukannya sebagai bentuk balas dendam. Kiba tahu kalau Naruto hendak mengajak Sasuke pulang, dan Kiba pergi mendahuluinya untuk membuat semuanya menjadi runyam.

Kiba itu tidak senang melihat Naruto disukai oleh para dosen ketika masih kuliah, terlebih Kiba satu fakultas dengan Naruto. Maka dari itu Kiba selalu mencari gara-gara dengannya.

Dan tanpa disangka-sangka, dua tahun lalu, Naruto mendapat kabar kalau Kiba meninggal karena kecelakaan mobil. Modus pasaran memang mengingat banyaknya kecelakaan mobil akhir-akhir ini, dan walaupun Kiba adalah penyebab dari masalah terbesar dalam hidup Naruto, Naruto tetap merasa prihatin dengan Kiba. Desas-desusnya Kiba memang sengaja ditabrak oleh rekan kerjanya sendiri. Tapi entah itu benar atau tidak dan entah apakah kasusnya sudah diusut dengan tuntas apa belum oleh pihak kepolisian Naruto mengaku ia sendiri tidak tahu, dan Naruto memang merasa tidak perlu prihatin, Naruto tetap tidak bisa melupakan apa yang sudah diperbuat Kiba padanya.

Gosip kalau Kiba mati ditabrak lari oleh rekan kerjanya sendiri mungkin karena tingkah laku Kiba yang sama seperti tingkah laku Kiba pada Naruto. Seperti menyingkirkannya dari pekerjaannya dan membuat rekan kerjanya itu menjadi seorang jobless mungkin? Entahlah.

Sasuke mencoba untuk bangkit dari tidurnya—tenggorokannya kering, ingin minum air putih—dengan susah payah mengingat belakang tubuhnya masih terasa nyeri. Naruto yang mendengar bunyi derit ranjang bersamaan dengan suara gerak tubuh Sasuke terperanjat, sama sekali tidak mengira kalau Sasuke sebetulnya terjaga dari tadi.

Kedua mata Naruto terlihat cekung—menatap Sasuke dengan pandangan dalam. Jakunnya naik turun, seperti mencoba untuk berkata sesuatu namun susah. Mengerti akan maksud Naruto, Sasuke mengurungkan niatnya untuk pergi ke dapur. Menunggunya.

"Aku ingin pulang," nafasnya terasa berat, "Bersujud—mohon ampun pada ibu dan ayah—"

Sekali lagi, malam itu, setelah sepuluh tahun berlalu, Naruto menangis kembali di pelukan Sasuke. Orang tua Naruto adalah kelemahan terbesar Naruto.

"Aku tidak mau menjadi anak durhaka."

\(^.^\) (/^.^)/

TBC

\(^.^\) (/^.^)/

A/N: Sempat menenggelamkan diri dengan hobby baru, baca manga BL. Gegara itu aku sampai sempat meninggalkan fic-fic ku yang belum tuntas. Maaf, ya beb :(

Ah, aku merasa ada yang kurang dengan fic ini, sudah aku rehab beberapa kali tapi tetap aja masih ada yang kurang. Mudah-mudahan ini cukup bagus menurutmu. Walaupun aku sendiri tidak merasa yakin (T.T) Menjelang lima bulan berlalu dari ultahmu, ah aku tetap mendoakan semua kebaikan tetap datang menghampirimu :)

Terimakasih untuk Chooteisha Yori, Namikaze lin-chan, Gunchan CacuNalu Polepel, aryangevin, Aomi Ammyu, OchiCassiJump atas reviewnya~ Jangan bosan-bosannya untuk menunggu chapter selanjutnya! See You Next Time :)