Matching (Sequel Part I)
Author : Izumi Akiko
Genre : Romance, Friendship, School Life bit Humor
Rate : T – T+
Cast : Kim Namjoon & Kim Seokjin (NamJin) and BTS's member
Disclaimer
Cerita ini murni ide saya, jika ada kesamaan ide itu hanya KEBETULAN BELAKA. Pemain hanya nama yang saya pinjam untuk ff saya ini.
"Bagaimana reaksimu saat mengetahui secara langsung bahwa sahabatmu menjodohkanmu dengan seseorang yang aslinya belum kau kenal? Hanya karena alasan bodoh mereka melakukan ini. Dan hal ini terjadi pada Seokjin tapi masalahnya seseorang yang dipasangkan dengannya sungguh mesum."
WARNING : YAOI, BXB, OOC, TYPO.
Don't Like Don't Read
.
.
.
Please read : Karena lumayan banyak yang minta sequel atau kelanjutannya tepatnya pas bagian dirumah Namjoonya :3 maka Izumi bikinin deh sequelnya hehehe, ceritanya sequelnya dibagi 2 ya. Yang chap ini Mnya rada dikit, dan maaf kepanjangan juga T_T semoga ga bosen ya bacanya. Udah itu aja kok.
Dan makasih banget yang udah review, kalian membuat Izumi semakin bersemangat membuat ff NamJin ternyata! Readers kalian semangatku hehe ^^)b
.
.
.
Happy Reading
.
.
Sebelumnya :
"Apa lagi?"
"Mau jadi kekasihku kan? Ini memang terlalu cepat, tapi kita jalani dulu bisa kan.."
"Aku...mau Namjoonnie."
"Jangan lupa pulang sekolah ya hyung ~ kalau kabur akan kuberi hukuman."
Sekarang :
.
.
.
Setelah kerjadian di atap sekolah itu kebetulan bel istirahat selesai berbunyi saat Namjoon rasanya mulai mencium bibir Seokjin lagi. Dengan perasaan kesal dan gusar Namjoon memilih melepaskan kekasihnya itu sekarang untuk kembali kekelas.
Sementara Seokjin yang mendengar bel berbunyi segera mengucapkan banyak terima kasih kepada guru piket yang setia menyalakannya. Sungguh dirinya merasa selamat sekarang dari monster mesum yang sayangnya sekarang berstatus kekasihnya.
Diperjalan menuju kelas pun kedua pipi Seokjin terus saja merona merah alhasil dia hanya bisa menundukkan kepalanya, sedangkan Namjoon berbanding terbalik menampilkan senyuman bahagianya sambil merangkul tubuh Seokjin erat sampai mereka harus berpisah karena sudah sampai kelas Namjoon.
.
.
.
"Loh Jin hyung kau kenapa?"
Itu suara Yoongi dengan nada herannya saat melihat sahabatnya memasuki kelas dengan kepala ditundukkan dan berjalan cepat menuju bangkunya. Begitu sampai dibangkunya barulah Seokjin mengangkat kepalanya dan bisa Yoongi lihat disana ada rona merah terlihat jelas.
"Ini semua karenamu Yoon!"
.
.
FLASHBACK
"Mwo jadi begitu ya... kenapa kau menolaknya hyung?" Tanya Yoongi saat sesi bercerita sudah selesai dan pertanyaan itu malah membuat Seokjin kaget dan gelagapan
"Ma...maksudmu aku harus setuju begitu?" Ucap Seokjin bingung dengan wajah yang lagi – lagi memerah
"Menurutku sih hyung hehe." Balas Yoongi sambil tertawa pelan
"Sini deh hyung aku bisikan sesuatu." Pinta Yoongi sambil menyuruh Seokjin agar mendekat padanya.
"Apa?" Tanya Seokjin semakin penasaran
"Nih ya hyung aku kasih tau tipsnya. Nanti kau berikan bekal ini pada Namjoon, terserah caramu bagaimana pokoknya kau harus membuat seolah – olah kau menerima tawaran Namjoon yang kemarin ah maksudku perlakuannya yang kemarin. Anggap saja permintaan maafmu kemarin hyung, begitu." Bisik Yoongi jelas yang pastinya tidak akan didengar oleh orang lain selain mereka berdua.
Mendengar tips Yoongi yang menurutnya agak aneh itu. Seokjin hanya bisa merasakan kedua pipinya memanas sekali bahkan jantungnya pun menjadi berdebar tidak karuan. Sekarang perutnya malah merasakan ada sesuatu yang terbang disana.
Kenapa?
"Kalau dia menolak bagaimana Yoon?" Ujar Seokjin masih dengan pipi memerah
Dan Yoongi yang melihatnya itu semakin gemas pada sahabatnya ini. ayolah, Seokjin disini belum tau apa – apa loh.
"Kalau dia tolak paksa aja hyung. Tapi ingat satu tips lagi dariku. Saat kalian melakukan 'itu' cobalah agresif sedikit hyung, Namjoon kan masih rada polos gitu." Jelas Yoongi sambil tersenyum manis
Begitu juga dengan dalam hatinya yang tertawa puas.
'Maaf hyung kalau besok tidak bisa berjalan dengan benar hehehe. Namjoon polos darimananya ya?' Batin Yoongi sambil tertawa puas disana
"Umm baiklah tapi aku belum pernah melakukan 'itu' sebelumnya Yoon." Keluh Seokjin sambil menggigit bibirnya tidak karuan
"Ya sesuai nalurimu saja hyung. Oke!" Ujar Yoongi memberi semangat
Sehabis itu Seokjin pun hanya mengangguk. Sungguh melakukan hal yaitu -seks- yang belum pernah dilakukannya itu. Memang dirinya pernah menontonnya bahkan memiliki koleksi filmnya (Eh tapi ga banyak juga ya.) tapi disaat disuruh melakukannya mana dia tau. Karena selama ini tak pernah tersirat dipikiran Seokjin untuk melakukan adegan panas itu, apalagi dengan Namjoon yang ah sulit dirinya definisikan namja mesum itu. Tapi kata Yoongi barusan dia polos? Eh?
FLASHBACK OF
.
.
.
Bel sekolah yang ditunggu – tunggu akhirnya pun berhenti, dengan perasaan bahagia semua murid keluar tapi itu tidak dengan Seokjin yang sudah merasakan gugup, grogi, jantung berdebar bahkan berkeringat dingin sejak 1 jam pelajaran terakhir dikelasnya. Ingin kabur? Tentu ingin sekali! Tapi mengingat pesan Namjoon diatap sekolah membuatnya membuang keinginan tersebut jauh – jauh.
Mereka berdua (Seokjin dan Yoongi) pun keluar dari kelas mereka cukup akhir karena Yoongi itupun, begitu mereka sampai didepan kelas disana sudah ada Namjoon yang berdiri sambil menyandar pada tiang disana. Tak lupa dengan senyuman yang Seokjin akui itu terlihat seperti seringai mesum -ekhem-.
"Siang Yoongi hyung dan my princess ~ hehe." Sapa Namjoon sambil berdiri menghadap mereka berdua.
Yoongi yang melihatnya hanya tersenyum seperti biasanya, sedangkan Seokjin sudah menunduk malu mendengarnya. Hallo ini masih disekolah dan Namjoon memanggilnya apa tadi? Untung saja kelas mereka sudah sepi jadi tidak ada yang mendengarnya.
GREP
Seokjin yang semula menunduk pun mengangkat kepalanya relfeks saat merasakan sebelah tangannya digenggam Namjoon erat. Bisa dia lihat Namjoon tersenyum hangat disana, rasanya seperti bukan senyuman Namjoon yang biasanya.
"Emm Yoongi hyung ka-"
"Iya ya ya aku mengerti saja. Aku tidak apa – apa, have fun ya!" Ujar Yoongi memotong ucapan Namjoon sambil memberikan pose mendorong mereka agar pergi
"Hehe kau peka sekali. Gomawoo hyung kami duluan ya." Pamit Namjoon sambil menggandeng Seokjin berjalan menujur parkiran
Selama diperjalan keduanya hanya terdiam tapi begitu terlihat jelas sekali Namjoon yang kebilang semangat menuju parkiran. Hingga mereka sampai diparkiran tepatnya dimotor Namjoon.
"Hyung?" Ucap Namjoon menyadarkan Seokjin yang lagi – lagi melamun didepannya.
"E-eh iya Namjoon. Ada apa?" Tanya Seokjin saat sudah sadar dari lamunannya
Entah apa juga yang dia lamunkan, pikirannya random sekali sekarang.
"Ayo naik hyung, jangan melamun terus." Titah Namjoon saat sudah menaiki motornya
"Baiklah, kenapa deja vu ya?" Tanya Seokjin sambil menaiki motor Namjoon dibagian belakang
"Entahlah ~ ya sudah pegangan hyung." Pinta Namjoon
Setelahnya Namjoon pun merasakan sebuah lengan perlahan memeluk pinggangnya dari belakang. Itu Seokjin pastinya, dalam helmnya pun Namjoon tersenyum senang disana. Tanpa banyak waktu lagi motornya berjalan tepatnya menuju kediaman Namjoon yang lumayan jauh sebenarnya dari sekolah.
.
.
.
Dalam waktu 20 menit barulah mereka sampai disebuah gedung yang kira – kira berlantai banyak ini. Seokjin pun sempat kagum melihat gedung mewah didepannya, dan saat itu juga motor Namjoon mengarah pada basement disana. Hingga motornya berhenti di salah satu parkiran tapi bukan parkiran umum sepertinya.
"Namjoon, kita mau kemana?" Tanya Seokjin bingung sambil turun dari motor Namjoon.
Apa Namjoon membawanya ke hotel? Eh tapi ini bukan hotel pikirnya.
"Kemana? Ya kerumahku hyung, mau kemana lagi? Oh hyung maunya dihotel ya?" Tanya Namjoon yang sudah melepas helmnya sambil tersenyum jahil berniat menggoda Seokjin pastinya.
Mau tak mau Seokjin harus rela pipinya kembali merona merah. Tanpa sadar dirinya pun sudah biasa diperlukan seperti ini oleh Namjoon. Toh dirinya nyaman – nyaman saja mulai sekarang.
"Bukan begitu, rumahmu disini? Diapartement?" Tanya Seokjin masih bingung
Dan tanpa menjawab Namjoon memilih kembali menggandeng tangan Seokjin setelah selesai mengunci motornya. Hingga akhirnya mereka pun naik lift dari basement ini, Namjoon menekan nomor 10 yang berarti menuju lantai 10. Kebetulan lift juga sedang sepi dan saat inilah kesempatan cukup bagus untuk Namjoon sepertinya.
"Hyung kau yakin ingin melakukannya?" Tanya Namjoon dengan nada menggoda yang dibuat – buat sambil menghimpitkan tubuh Seokjin kepojok lift
Ingat lift sekarang sungguh sepi. Seokjin yang dihimpit pun segera menaruh kedua tangannya didepan dada Namjoon berniat menahan agar kekasihnya tidak semakin memojokkanya sekarang.
"Hmm Namjoon ini dilift, nanti ada orang liat." Keluh Seokjin saat Namjoon mulai melakukan hal aneh padanya seperti meniup area tengkuknya pelan
Sungguh perasaan antara geli dan nikmati Seokjin rasakan. Tapi dirinya masih sadar ini ditempat umum.
TING ~
Pintu lift pun terbuka menandakan ada seseorang yang masuk, langsung saja Seokjin relfeks mendorong dada Namjoon agar menjauh darinya. Mereka tidak mau dicap sebagai pasangan mesum yang tidak sopan kan? Dan ternyata yang masuk adalah seorang ajhussi tua terlihat dari penampilannya dengan jas formal dan kacamata bulat.
Sekarang posisinya menjadi Seokjin ditengah antara Namjoon dan ajhussi tersebut. Tanpa dia sadari sedangkan Namjoon sangat menyadari itu, bahwa ajhussi yang memiliki wajah yang dibilang belum tua juga sedari tadi saat memasuki lift hingga sekarang terus memandangi Seokjin dengan tatapan laparnya. Apa ajhussi ini naksir kekasihnya begitu pikir Namjoon.
"Ekheemm" Ujar Namjoon berniat menyadarkan ajhussi itu bahwa sedari tadi ketahuan sedang memperhatikan kekasihnya itu dengan tatapan lapar alias mesum khas ajhussi ajhussi tua pikir Namjoon.
"Mwo ada apa Namjoon?" Tanya Seokjin sambil menatap Namjoon heran, sungguh dirinya tidak tau apa – apa disini.
TING ~
Lift pun terbuka menandakan bahwa sekarang sudah sampai dilantai 10. Tak ingin semakin lama ajhussi mesum memandangi tubuh Seokjin, Namjoon langsung menariknya keluar dan berjalan sedikit cepat menuju apartementnya. Setelah sampai dikamar nomor 12. Setelahnya Namjoon pun menekan digit angka disana sebagai kata sandi untuk mengakses kamarnya.
'04120912'
Karena kebetulan melihat dengan jelas Seokjin sempat heran melihatnya. Disana ada angka 4 dan 12, kalo 4 menandakan tanggal itu tanggal lahirnya dan 12 adalah bulannya. Tapi 9 dan 12 ngomong – ngomong itu apa? tapi Seokjin tidak mau pd sekali disini jadinya dia memilih diam.
Akhirnya pintu pun terbuka, begitu mereka berdua memasuki kamar milik Namjoon yang Seokjin akui ini sungguh mewah. Ruang pertama disuguhkan dengan ruang tamu kecil dan juga ruang tv sepertinya karena ada tv disana. Jika kedalam sedikit maka disana akan terlihat dapur didekat ruang tv dan juga ada dua pintu disana seperti pintu kamar. Apartement Namjoon pun bernuansa hitam dan putih, serta parabotannya yang sedikit namun rapih dan tertata.. Intinya pas sekali untuk orang yang tinggal sendiri.
Melihat dan tau Seokjin sedang menganggumi apartemetnnya, Namjoon terkekeh pelan disana tak lupa setelah mengunci pintu kembali.
"Kenapa hyung? Kagum ya hehe." Ucap Namjoon sambil memeluk Seokjin dari belakang
"Ah, apa kau tinggal sendiri disini?" Tanya Seokjin sambil sedikit kaget karena mendapatkan pelukan secara tiba – tiba.
"Iya aku tinggal sendiri disini hyung." Jelas Namjoon sambil mulai membuka kancing teratas kemeja Seokjin, membuat tengkuknya lumayan terekpos dan kesempatan itulah Namjoon gunakan dengan mengecup area disana pelan.
Perasaan aneh itu pun kembali lagi, ada rasa geli dan nikmat secara bersamaa. Dan sekarang ditambah dengan seperti sesuatu hendak keluar dari perut Seokjin serta kakinya pun mulai melemas yang untung ditahan oleh tangan Namjoon yang berada dipinggangnya.
"Eunggh... orang tuamu mmhh kemanahh..." Tanya Seokjin lagi sambil menahan desahannya.
Semakin gemas dengan kekasihnya. Namjoon segera membalikkan tubuh Seokjin agar menghadapnya.
"Orangtuaku diluar negri hyung dan jangan banyak bertanya lagi ne." Pinta Namjoon kemudian menggapai bibir Seokjin cepat
Diraihnya bibir Seokjin saat itu juga, dengan semangat Namjoon mulai melumat bagian atas dan bawah bibir Seokjin secara bergantian, sebelah tangannya pun menahan tengkuk Seokjin dan satu lagi sedikit mencengkram pinggang rampingnya. Sementara Seokjin hanya bisa pasrah dengan perlakuan Namjoon, toh dirinya juga mengingingkan hal ini juga. Kedua lengannya pun dikalungkan pada leher Namjoon.
Didalam ciuman mereka Namjoon pun tersenyum bangga disana apalagi sekarang Seokjin mulai membalas ciumannya dan mengimbangi. Mendapat respon positif dari kekasihnya Namjoon coba melakukan hal lebih dengan mengigit bibir bawah Seokjin sedikit keras meminta akses untuk memasuki mulut kekasihnya. Lagi – lagi mendapat respon positif Namjoon berteriak kegirangan dalam hati lalu kemudian menjelajahi goa hangat kekasihnya dengan semangat dan itu menghasilkan desahan tertahan dari Seokjin.
"Nghhh..mphh nngggaahh..."
Cukup lama mereka berciuman dan sekarang seragam Seokjin pun sudah tidak beraturan yaitu kusut dan juga kancingnya yang hampir semuanya terbuka, tasnya pun sudah terlempar kesembarang arah begitu juga tas Namjoon. Tapi saat sedang panas - panasnya ciuman mereka Namjoon malah menyudahi kegiatannya dan mendapat protes serta decakan kesal dari Seokjin.
"Kenapa? Apa ada yang aneh?" Tanya Seokjin bingung campur kesal sambil sedikit menghapus saliva yang terdapat disekitar bibirnya.
Sekarang jujur Seokjin sudah 'turn on' ternyata, tapi dengan enaknya Namjoon membuatnya sedikit kesal dengan memutuskan ciuman mereka. Hei siapa saja pasti kesal bukan jika begitu?
"Hyung kenapa kau jadi agresif ya?" Ucap Namjoon memandang Seokjin intens dan itu membuat kekasihnya risih.
"Benarkah? Hmm tak apa, memangnya kau tidak suka?" Balas Seokjin sambil tersenyum gugup
'Huh ini karena tips Yoongi.' Batinnya pasrah
Setelah mendengar jawaban tersebut Namjoon rasa memang sudah mendapat lampu hijau dari Seokjin. Merasa ini semakin membuang waktu Namjoon segera menggendong Seokjin ala bridal style dan membawanya sedikit berlari kekamar.
"Aku sungguh tidak tahan hyung!" Ujar Namjoon semangat bahkan membuka pintu kamarnya pun sampai ditendang.
"Yak! Tapi pelan – pelan, aku takut jatuh!" Protes Seokjin tak kalah teriak apalagi saat Namjoon menendang pintu kamarnya sendiri.
.
.
.
.
Setelah sampai dikamarnya yang sebelumnya Namjoon juga menendang pintu kamarnya dari dalam. Tubuh Seokjin pun langsung dijatuhkan dikasur diikuti dengan tubuh Namjoon yang menindihnya, baru saja Seokjin hendak protes namun bibirnya sudah dikunci duluan.
"Ya-mmmpphhh...hhnggg..."
Dan setelahnya ciuman mereka pun semakin kesini semakin panas, tangan Namjoon pun mulai nakal menggoda bagian bawah Seokjin disana yang mendapat lenguhan serta protes dari Seokjin.
.
.
.
.
Hoseok memandang gusar ponselnya yang menampilkan dial nomor Namjoon sahabatnya sedari tadi. Ini sudah ke 15 kalinya dia menelfon Namjoon namun tidak ada balasan disana sama sekali. Yang ada hanya suara operator aneh baginya yang menjawab.
"Kemana anak itu?! Katanya mau kerja kelompok jam 2 tapi sekarang sudah jam 4! Sialan liat aja besok disekolah!" Kesal Hoseok sambil memaki ponselnya yang dijadikan pelampiasan sebagai Namjoon sahabatnya.
Sedetik kemudian Hoseok pun teringat sesuatu dan menepuk dahinya pelan.
"Ah aku lupa! Pasti dia sedang 'itu' bersama Jin hyung. Huhu kasian padahal Jin hyung itu masih polos, kenapa aku terima saja ya dijodohkan dengan si mesum itu. Ah nasi sudah jadi bubur tapi enak juga sih kalo dimakan." Monolog Hoseok kemudian memilih menuju ranjangnya.
.
.
.
.
.
To Be Continued
