Matching (Sequel Part II)
Author : Izumi Akiko
Genre : Romance, Friendship, School Life bit Humor
Rate : T – T+
Cast : Kim Namjoon & Kim Seokjin (NamJin) and BTS's member
Disclaimer
Cerita ini murni ide saya, jika ada kesamaan ide itu hanya KEBETULAN BELAKA. Pemain hanya nama yang saya pinjam untuk ff saya ini.
"Bagaimana reaksimu saat mengetahui secara langsung bahwa sahabatmu menjodohkanmu dengan seseorang yang aslinya belum kau kenal? Hanya karena alasan bodoh mereka melakukan ini. Dan hal ini terjadi pada Seokjin tapi masalahnya seseorang yang dipasangkan dengannya sungguh mesum."
WARNING : YAOI, BXB, OOC, TYPO.
Don't Like Don't Read
NOTE : Disini beneran ada adegan 'itu'nya loh kalo ga sanggup baca ga usah maksai :p
.
.
.
.
.
.
Happy Reading
.
.
.
.
Suasana didalam kamar itu pun sungguh sunyi, hanya ditemani dengan suara dentingan jarum jam yang terletak manis dimeja kecil samping ranjang yang sudah dalam keadaan kacau balau dengan spray yang begitu terlihat berantakan dan lagi dua pasang pakaian yang berceceran kemana – mana.
Diranjang tersebut pun ada kedua namja yang sedang tertidur didalam selimut tebal yang menutupi dan memberi rasa hangat pada tubuh mereka berdua yang sudah naked. Tunggu naked?
"Eum...nghh aaaahh!"
Suara ringisan pun keluar dari salah satu namja yang terbangun duluan dari tidurnya, dirinya pun harus meringis sakit saat merasakan area bawahanya begitu perih. Ingatkan dia bahwa sebelumnya Namjoon bermain cukup kasar dan lama pada Seokjin, mereka berakhir pun itu karena Seokjin yang memaksa Namjoon agar berhenti karena dirasanya dia akan pingsang sehabis itu.
"Uhh kenapa sakit sekali ya.." Keluh Seokjin sambil terbangun dengan susah payah padahal hanya duduk diatas ranjang kekasihnya.
Disampingnya Seokjin bisa melihat Namjoon masih tertidur pulas disana, wajahnya sekarang sungguh terlihat tenang dan tampan –eh, ya dia mengakui itu. Kemudian matanya pun melihat ke arah jam kecil dimeja nakas samping ranjang Namjoon. Jam itu menunjukkan pukul 7 dan rasanya sekarang sudah malam pikir Seokjin, terbukti dari pemandang kota dari jendela besar diapartement Namjoon ini yang belum ditutup.
"Lebih baik aku memasak untuk makan malam saja." Gumam Seokjin kemudian harus kembali bersusah payah bangun dari ranjang dan tentu tanpa membangunkan Namjoon pastinya.
Bisa – bisa dia tidak akan selamat jika kekasihnya itu bangun sekarang.
.
.
.
.
.
.
Namjoon pun sedikit terusik dalam tidurnya saat merasakan tidak ada seseorang disampingnya, tangannya kemudian meraba – raba sebelahnya dan kosong. Sontak kedua matanya terbuka lebar saat melihat Seokjin tidak ada disampingnya, sempat panik dengan bangun dari tidurnya.
Tapi kemudian dirinya mencium harum bau masakan dari arah dapur yang kebetulan pintu kamarnya tidak tertutup sepenuhnya. Sebuah senyuman kemudian muncul diwajahnya. Mengambil asal celana pendeknya Namjoon memilih berjalan keluar kamarnya yang kebetulan juga memang dekat sekali dengan dapur.
Disana ada Seokjin kekasihnya yang sedang memasak sambil membelakanginya karena memang posisi dapurnya begitu. Dan tunggu, kekasihnya itu tidak memakai celana, dan sepertinya kemeja yang dipakainya itu milik Namjoon. Karena itu terlihat jelas begitu kebesaran ditubuh Seokjin bahkan panjangnya sampai menupi setengah pada mulusnya.
Uhh tak taukah itu semakin menggoda Namjoon saat ini? tanpa menciptakan suara ribut Namjoon menghampiri kekasihnya yang terlihat sibuk sekali memasak lalu memeluk pinggang Seokjin dari belakang.
"Sedang apa hyung?"
"Hwaaa!"
Merasakan sebuah suara berat dan pelukan tiba – tiba. Refleks Seokjin berteriak kaget kemudian membalikkan tubuhnya, dan sosok yang pertama dia lihat adalah Namjoon yang tersenyum santai padanya. Jantungnya sekarang sungguh merasa kaget begitu juga dengan nafasnya yang memburu, karena barusan perasaan paranoidnya muncul.
PLETAK ~
"Awwwh hyung! Kenapa aku dipukul?" Protes Namjoon sambil mengusap kepalanya yang baru saja dipukul oleh Seokjin dengan sendok sayur.
"Yah suruh siapa mengagetkan hyung?! Jantung hyung hampir keluar tau!" Jelas Seokjin kesal sambil mematikan kompor karena masakannya sudah matang sekarang
Sebenarnya Seokjin itu ingin membuat kejutan untuk Namjoon dengan memasakannya makanan yang enak lalu membangunkan namja itu dengan cara yang manis ya begitu. Tapi liat sekarang? Namjoon seperti merusak kejutannya sendiri, dan untuk yang memukul kepala Namjoon itu Seokjin refleks saja karena bingung harus apa.
"Uuhhh maaf hyung aku tidak sengaja. Maafkan aku ne." Pinta Namjoon sambil menarik Seokjin kembali kepelukannya
Dan sekarang tidak mendapat protes sama sekali.
"Iya dimaafin." Terang Seokjin sambil menaruh sendok sayur barusan
.
.
.
Diantara keduanya pun hening tidak ada yang berbicara, karena sekarang Namjoon sedang asik memakan makasan Seokjin dengan lahap berbeda dengan sang koki yang sudah menghabiskannya duluan. Karena sudah habis duluan itu Seokjin hanya diam memandangi Namjoon yang makan seperti orang tidak makan selama berhari – hari saja.
"Kau makan seperti gelandangan sekali Namjoonie?" Ungkap Seokjin dengan nada bercanda disana, sungguh dia sangat gemas sekali pada Namjoon yang makan hingga belepotan noda makanan dimulutnya.
Tapi kemudian pipinya pun memerah saat baru menyadari kalau Namjoon sedari tadi topless dan hanya memakai celana pendek. Dan sayangnya Namjoon melihat itu karena posisi duduk mereka yang berhadapan yang hanya dihalangi pantry dapur Namjoon.
"Hyung kenapa kau memakai bajuku ya ~" Tanya Namjoon saat sudah selesai mengahabiskan santapannya dalam sekejap lalu meminum segelas air putih
Sementara Seokjin yang ditanya seperti itu kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain yang penting tatapannya tidak bertemu dengan Namjoon yang sekarang sedang menatapnya instens dan lagi dirinya juga gugup.
"I-tu ka..rena kemejaku kancingnya ada yang copot jadi hyung pake kemejamu saja begitu." Jelas Seokjin dengan gugup sambil merutuki dirinya
Sebenarnya disini harusnya Namjoon yang disalahkan, karena dirinya terlalu tidak sabaran pada kekasihnya. Bahkan hanya membuka kemeja pun hingga mencopotkan beberapa kancingnya. Ckck.
"Oh begitu ya. Hyung kemari deh." Pinta Namjoon dengan santai
Setelahnya Seokjin pun menurutinya kemudian berjalan beberapa langkah menuju Namjoon. Tapi begitu sampai, Namjoon segera mengubah posisi duduknya menjadi menghadap samping kemudian menarik Seokjin agar duduk dipangkuannya seperti sekarang.
"Ahhh.." Desah Seokjin refleks saat merasakan bokongnya sedikit bergesekkan dengan milik Namjoon yang kebetulan hanya dialasi celana pendek yang berbahan tipis.
Hanya mendengar desahan singkat Seokjin saja, milik Namjoon sudah bangun disana. Seokjin pun kemudian menatap Namjoon horor yang dibalas dengan senyuman polos Namjoon.
"Hehehe aku mau lagi ya hyung ~ jeball.." Pinta Namjoon sambil mulai menarik Seokjin untuk diciumnya namun sempat mendapat protes.
"Tunggu dulu!" Ujar Seokjin menyela kegiatan Namjoon dengan menahan bahu Namjoon dengan kedua tangannya.
Namjoon pun berdecak kesal dibuatnya dan memasang ekpsresi bertanya.
"Tapi pelan – pelan ne, dan hanya sekali saja! hyung susah berjalan habisnya.." Pinta Seokjin yang malah terdengar seperti rengekkan manja
Mendengar bukan penolakkan Namjoon terkekeh, kemudian kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.
.
.
.
.
.
Sekarang keduanya pun sudah berada disofa besar berwarna hitam pekat diruang tv Namjoon. Dengan keadaan Seokjin yang berada dibawah tubuh Namjoon dan keadaan mereka berdua yang sekarang sudah naked kembali. Keduanya sedang berciuman yang entah sudah keberapa kali hingga kali ini Seokjin merasakan nafasnya mulai menipis.
Setelah melepaskan ciuman mereka Seokjin segera mengambil nafas dengan cepat, sungguh Namjoon benar – benar handal pikirnya. Padahal mereka sama – sama baru pertama kali melakukannya. Sementara itu Namjoon hanya memandangi kekasihnya yang sekarang benar – benar terlihat menggoda imannya. Dirinya pun sudah semakin hard sekarang.
"Hyung aku masukkan ne?" Pinta Namjoon lembut sambil mengecup beberapa kali bibir Seokjin gemas.
Hingga beberapa saat kemudian Seokjin pun mengangguk pelan sambil tersenyum manis disana, dan itu senyuman yang baru pertama kali Namjoon lihat dari kekasihnya. Sebelah tangan Namjoon pun menggenggam tangan Seokjin lembut.
"Aku akan pelan – pelan kok hyung, percayakan lagi semuanya padaku. Mengerti?" Ujar Namjoon kemudian mencium kening Seokjin cukup lama.
"Iya aku percaya padamu." Gumam Seokjin sambil mengalungkan kedua tangannya pada leher Namjoon.
Meski bagian bawahnya masih terasa sakit dan perih tapi melihat sikap Namjoon yang begitu manis padanya Seokjin mana bisa menolak itu bukan? Setelah ini mungkin dia akan sulit berjalan tapi biar Namjoon yang akan tanggung jawab masalah itu.
Setelah mendengar persetujuan dari Seokjin. Namjoon pun mulai mengarahkan miliknya yang tidak bisa dikatan kecil itu dengan tangannya yang menuntun miliknya kembali memasuki Seokjin yang masih terasa sempit saja baginya.
"Ah! Ssshh..Namjoonnie...ngghh sshakitt.." Ringis Seokjin sambil mempererat pelukannya pada leher Namjoon saat merasakan dirinya kembali dimasuki dengan milik Namjoon yang sudah dikatakan tidak bisa dibilang kecil itu.
Mendengar ringisan sakit dari kekasihnya, Namjoon langsung saja memanjakan milik Seokjin agar mengalihkan rasa sakit yang dirasakannya. Dan itu sukses membuat Seokjin harus mendesah diiringi dengan ringisan sakit juga.
JLEB...
"Aaaahh-mphh..."
Setelah mendorong seluruh miliknya kedalam lubang Seokjin, segera Namjoon menciumnya dengan lembut. Berniat membantu menghilangkan rasa sakit yang dirasakan Seokjin dengan cepat, meski nyatanya mereka sudah beberapa ronde melakukannya disiang hari tapi tetap saja yang namanya rasa sakit pasti ada.
.
.
.
.
Sekarang rasa sakit Seokjin pun sudah hilang dan digantikan dengan rasa nikmat yang terus menghujam tubuhnya. Desahan demi desahan pun kelur dari mulutnya, saat Namjoon semakin memberi kenikmatan pada miliknya serta tengkuknya. Entah sudah berapa tanda yang Namjoon buat dilehernya, yang jelas besok sepertinya Seokjin harus menggunakan syal untuk menutupinya.
Mendengar desahan dari Seokjin yang menurut Namjoon itu adalah nada yang paling indah dan membuat libidonya semakin naik. Dengan gencar Namjoon tak segan semakin memberi kenikmatan pada tubuh kekasihnya, hingga sampailah Seokjin pada titik puncaknya yang dimuntahkan pada tangan Namjoon.
"Aaaahh.. Namjoonieehh!" Desah Seokjin saat merasakan cairan miliknya keluar juga akhirnya
Berbeda dengan Namjoon yang setelah mendengar dan melihatnya segera mempercepat tempo miliknya agar segera menyusul Seokjin disana. Karena kasihan juga melihat Seokjin yang sudah lemas dibuatnya, hingga sampai 15 menit lebih barulah dirinya sampai pada puncaknya kemudian menjatuhnya tubuhnya pada tubuh Seokjin tak lupa dengan tidak menitik tumpukan beban tubuhnya.
"Saranghae hyung ~ jangan pernah tinggalkan aku.." Ungkap Namjoon dalam pelukannya yang menenggelamkan kepalanya di celah tengkuk Seokjin.
"Hmm nado, bisakah kau bangun? Panas Namjoonie ~" Pinta Seokjin yang kemudian permintannya dilaksanakan oleh Namjoon.
"Tentu sayang ~"
.
.
.
.
SKIP
.
.
.
.
Setelah selesai dengan adegan panas mereka, keduanya pun memilih mandi bersama. Ini semua pun karena Namjoon yang memaksa Seokjin dan berjanji sebelumnya tidak akan melakukan 'itu' lagi saat mandi. dan benar sesuai janjinya, dan sekarang keduanya pun sudah berpakian lengkap.
Bedanya Namjoon yang kini berpakian dengan kaos hitamnya serta celana jeans dan jaketnya. Beda dengan Seokjin yang kembali memakai celana seragam sekolahnya dan juga sweater milik Namjoon yang jelas kebesaran itu. Karena niatnya Seokjin ingin pulang sekarang, karena dia belum memberitahu orang tuanya. Namjoon yang sebenarnya tidak bisa menolak agar Seokjin menginap pun hanya bisa menuruti permintaan kekasihnya.
"Hyung kau yakin mau pulang? Berjalan saja susah hyung, kalau kedua orang tuamu curiga gimana?" Tanya Namjoon khawatir pada Seokjin yang sekarang sedang berjalan dengan dituntunnya pasti menuju pintu apartement Namjoon.
"Iya lagian besok hari libur kan, hyung tidak biasa menginap dirumah orang hehe." Jelas Seokjin sederhana sambil tertawa kecil
Melihat Seokjin yang tetap tersenyum dan tertawa seperti biasa itu membuat rasa penyesalan dan bersalah yang menghantui hati Namjoon pun perlahan memudar. Hatinya tenang sekarang melihat Seokjin yang seperti tidak menyesal sama sekali setelah persetujuannya melakukan 'itu' bersama Namjoon.
"Huh ya sudah, besok aku akan merawatmu seharian ya hyung!" Tegas Namjoon saat mereka sudah berjalan hampir sampai menuju parkiran
"Iya, Namjoonie ~" Balas Seokjin sembari tersenyum.
.
.
Begitu sampai di basement Namjoon pun membawa Seokjin kesalah satu mobil hitam yang berada disana. Mobil dengan merek terkenal dan pastinya dengan harga tinggi pula.
"E-eh ini mobil siapa?" Tanya Seokjin bingung saat Namjoon membawanya pada mobil hitam lalu membatunya memasuki mobil tersebut.
"Ini mobilku hyung hehehe. Jangan banyak bertanya, simpan pertanyaamu besok. Sekarang antarkanmu pulang lalu segera tidur ne!" Titah Namjoon
Dan setelah mendengar itu Seokjin pun hanya diam sambil mengangguk paham. Sungguh hari ini begitu banyak pertanyaan yang dibuatnya untuk Namjoon, dan lagi kenapa kekasihnya itu begitu misterius pikirnya. Tapi sekarang tubuhnya sudah lelah dan mengantuk, merasa perjalan masih lumayan lama Seokjin memilih mencoba menutup kedua matanya nyaman. Sementara Namjoon yang diam – diam melihatnya selagi menyetir tersenyum senang disana.
"Aku mencintaimu hyung." Gumam Namjoon.
.
.
.
Hehehe ._. selesai juga sequelnya. apa kurang hot? maklumin aja toh ini rating T tempatnya...
Sebenarnya Izumi udah ga bisa banyak komen lagi ini x_x makasih ya untuk semua readers yang pastinya NamJin hard shipper ini! Yang udah mantengin terus kelanjutan ff Izumi yang cukup ahh mesum ini ya T_T makasih banyak loh, tanpa kalian Izumi mah apa atuh/? hanya butiran debu...
Ditunggu riviewnya ^^)/
See You ~
