Title : Angel (Into Your World)

Author : Raichi Lee SangJin ELF

Rated : T

Pairing : KaiSoo (for this chap)

Genre : Romance, drama and fantasy

DISC : para cast hanyalah milik tuhan YME, orang tua, dan SM Ent. Saya hanya pinjam mereka untuk membuat fantasy saya menjadi terwujud di FF ini.

Summary : aku mengendarai awan lembut untuk memasuki duniamu, aku berdiri didepanmu dan tersenyum. Kau bertanya aku berasal darimana. Kau bertanya dengan sangat polos, jadi aku menjawab itu adalah rahasia.IT'S YAOI! KRISTAO AND OTHER COUPLE IS HERE! DON'T LIKE, DON'T READ :)

Let's check it out, Chingudeul and Yeorebeun~!

Warning : BL/ BoysLove/Shonen Ai. Miss typo(s), alur terlalu dipaksakan, gaje, bikin mual, EYD yang ngasal. I told you before, if you hate YAOI or IF You HATE me, better if you don't read my fanfic, okay?

Author's note : annyeong ^^. Kembali lagi dengan saya, Rai.

GYAAA~!

WOY~! I am back woy~! *dilemparsepeda*

Maaf baru lanjut, habis semester sih Y.Y

Deg deggan sm hasilnya, hiks DX

Okay, ada kabar baik ini~

Jeng

Jeng

Jeng

Jeng!

HUNHAN for this chap! XD

Vote HunHan sama BaekYeol nyaris seimbang, tapi akhirnya HUNHAN menang. XD.

Ayo, yang req HunHan, ayo merapat! XD

Karena sebagai permohonan maaf, chap ini akan panjang :D

NO FLAME, NO BASH CHARA, NO PLAGIAT, NO SILENT READERS XD

Nah, mari kita langsung saja mulai FFnya ^^

tolong tetap beri saya review anda *bow*

.

.

Oke, tanpa banyak bacot, mari kita langsung saja.

.

.

.

.

DON'T LIKE, DON'T READ!

.

.

I TOLD YOU BEFORE!

.

.

IF YOU HATE YAOI, BETTER IF U NOT READ MY FIC!

.

.

RAICHI

.

.

Terlihat seorang namja manis sedang mengepel lantai toko bunga.

Namja manis dengan umur 21 tahun ini terlihat giat membersihkan toko ini dengan senyum manis.

KLING!

"Selamat datang!" ujar namja manis bernama Xiao Luhan atau Luhan ini. Namja asli China yang menetap di Seoul.

"Ah, ini aku yang menelpon semalam. Boleh saya ambil pesanan saya?" tanya seorang namja tampan. Luhan tersenyum.

"Ah, iya. Ini dia, satu bucket bunga mawar putih dan merah." Ujar Luhan.

Setelah menyiapkan bunga itu, Luhan memberikannya pada sang pembeli.

"Jeongmal khamsahamnida. Aku suka sekali dengan tatanannya. Kau berbakat. Aku pergi dulu, annyeong!" ujar namja itu.

"ne, cheon. Semoga berhasil dengan gadis incaranmu..~" ujar Luhan lalu tersenyum. Luhan menatap kalender.

"Hihi, nanti malam ulang tahun Mei Lin. Aku akan masak kue coklat kesukaannya." Ujar Luhan dengan senyum riangnya yang membayangkan wajah adik kesayangannya tersenyum bahagia dengan binary dimatanya menatap makanan kesukaannya yang Luhan akan buat untuknya, dan sangat khusus!.

Xiao Mei Lin. Adik Luhan. Nanti malam, dia berumur 20 tahun. Mei Lin sedang kuliah.

Luhan dan Mei Lin sudah ditinggal dengan orangtuanya karena malu dengan perceraian mereka yang menghasilkan anak, dan akhirnya keduanya terdampar di panti asuhan.

Di pojok ruangan, seorang namja tampan terlihat tersenyum tipis padanya.

Dialah, Oh Sehun.

Sang malaikat tampan yang berstatus seorang malaikat.

"Manis sekali untuk ukuran namja." Ujarnya untuk memuji Luhan. Sehun mulai menghilangkan sosok dirinya.

.

.

.

.

"Seangil chukka hamnida~ seangil chukka hamnida, saranghaneun uri Mei Lin, seangil chukka hamnida!" Luhan bernyanyi. Dia bahagia. Sekarang, adiknya resmi berumur 20 tahun dan 2 bulan lagi umurnya juga akan 22 tahun.

"Xie Xie, oppa! Aku suka sekali!" ujar Mei Lin. Mei Lin membuat permohonan, setelahnya, dia meniup lilin tersebut.

Keduanya menikmati kue dan berbicara dengan hangat. Luhan adalah keluarga satu-satunya Mei Lin, karenanya, dia begitu menyayangi sosok kakaknya.

Setelah agak lama, keduanya memutuskan untuk mengakhir acara ulang tahun ini, dan bersiap untuk tidur.

.

Pagi yang tidak cerah di Seoul. Angin sedikit berhembus kencang.

Luhan terlihat memandangi dirinya di cermin.

"Eh? Memar? Memar apa ini?" tanya Luhan aneh. Wajah manisnya mengerut bingung. "Sepertinya aku tidak pernah berkelahi dan terlibat kekerasan? Ah, mungkin aku kelelahan. Aku akan bekerja lagi!" ujar Luhan semangat.

Setelah mandi, Luhan langsung saja membuat sarapan.

"Pagi oppa." Sapa Mei Lin. Wajah manis Luhan juga didapat dengan Mei Lin. Mei Lin begitu manis.

Dengan rambut coklat gelap bergelombang panjang hingga punggung, kulit putih bersih, tubuh mungil, mata berwarna coklat indah dan dengan bibir pink merekah.

"Pagi." Balas Luhan sambil tersenyum. Mei Lin memperhatikan kakak prianya ini.

"Memar apa ini? Kau berkelahi?" tanya Mei Lin. Luhan memperhatikan memar di tangan, kaki, dan betisnya.

"Aku tidak berkelahi. Sungguh! Aku baru bangun tadi pagi sudah mendapat gejala ini. Aku pikir, aku hanya lelah. Gwaenchana. Ayo sarapan, lalu lekaslah kau pergi kuliah! Oppa juga harus secepatnya membuka toko" ujar Luhan. Mei Lin mengangguk.

"Ah, karena besok minggu, aku akan membantu toko. Baiklah, aku pergi dulu, pay~" ujar Mei Lin lalu pergi. Luhan membereskan makanannya, dan mulai bersiap membuka toko.

.

.

.

Luhan terlihat giat membersihkan toko dan mengatur bunga-bunga cantik yang sangat lengkap jenis, dan warnanya di sini.

"Ah, pesanan! Aku lupa menyiapkan pita untuk keranjangnya! Aish!" Luhan segera mengambil pita dan mulai menyiapkan pesanan untuk pelanggannya. Luhan berpendapat, kalau kerjanya bagus, maka pelanggan akan berdatangan dengan sendirinya.

KLING!

"Selamat datang!" ujar Luhan riang. Luhan terpesona pada sosok namja didepannya.

Namja tinggi, dengan kulit putih susu, dengan rambut coklat keemasan, matanya sipit, tajam dan indah, dan tubuhnya proporsional sekali. Tampan. Kata itulah yang cocok untuk namja itu.

Namja itu mengenakan jaket berwarna hitam, t-shirt putih polos, jeans putih, dan sepatu kets putih.

Namja itu mendekati Luhan dan tersenyum. membuat Luhan semakin terpesona pada sosok didepannya ini.

"Aku ingin membeli 2 tangkai mawar putih." ucap namja itu. Luhan mengangguk dan segera mengambilkan pesanannya.

"Ini dia." Ujar Luhan. Namja itu tersenyum.

"Siapa namamu?" tanya namja itu.

"Lu..Luhan imnida. Neol?" tanya Luhan dengan rona merahnya. Namja itu tersenyum lagi.

"Oh Sehun. Baiklah, terima kasih bunganya. Ini uangnya. Bye." Ujar Sehun lalu berlalu pergi.

Luhan tersenyum manis lalu melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi.

.

.

.

.

Mei Lin terlihat sedang makan bersama dengan kakaknya ini. Luhan terlihat pucat.

"Oppa, kau pucat. Apa kau sakit?" tanya Mei Lin cemas. Luhan tersenyum.

"Sepertinya aku kelelahan. Mei Lin-ah, maafkan oppa, bisakah oppa tidur saja? Sepertinya besok akan mendingan kalau tidur cepat." Ujar Luhan. Mei Lin mengangguk. Luhan pergi dan menuju kamarnya untuk tidur.

.

.

.

.

Pagi ini, cuaca kurang bersahabat. Cuaca mendung dan udara dingin.

Mei Lin sedang menuju kamar Luhan untuk membangunkan Luhan sarapan.

"Oppa, ireona, ayo kita sara-ASTAGA!" Mei Lin memekik takut ketika melihat Luhan memuntahkan darah dan hidungnya berdarah.

"Uhk..Mei Lin..pagi..uhk.." ucapan Luhan terpotong. Mei Lin bergegas mendekati Luhan.

"Oppa! Kau kenapa?! Ayo kita kedokter!" pekikan Mei Lin membuat Luhan menggeleng kuat.

"Aku Cuma kelelahan! Aku tidak apa-apa. Lihat? Darahnya sudah tidak mengalir lagi. aku sembuh!" ujar Luhan. Mei Lin menggeleng kuat.

"Kau bohong! Kalau kau tidak ingin mengatakannya, aku akan menelpon dokter untuk datang kesini!" ujar Mei Lin lalu mengambil ponselnya.

Luhan terbaring lemah mendengar ucapan sang adik yang berlebihan.

Luhan juga bingung, ada apa dengan dirinya?

Kenapa sampai muntah darah dipagi hari, dan mimisan dengan jumlah yang tidak sedikit. Luhan akui, dia sudah beberapa kali belakangan suka mimisan. Tapi hari inilah yang parah.

.

.

.

"Tuan Luhan ini hanya demam. Istirahat, dia akan sembuh. Baiklah, saya permisi dulu." Hanya itu yang diucapkan oleh si dokter lalu dokter itu pergi.

"Mei Lin, aku mohon keluarlah, oppa ingin tidur." Ucap Luhan. Mei Lin mengangguk lalu pergi setelah mengecup pipi Luhan.

Setelah Mei Lin pergi, Luhan menangis tanpa suara.

Ingatannya ingat sesuatu.

FLASHBACK

.

.

.

Kini, Luhan dan dokter itulah dikamarnya. Mei Lin sedang ada tamu sedikit.

"Tuan Luhan, anda terkena Leukeumia. Sudah akut, dan mustahil disembuhkan." Ujarnya. Luhan kaget.

"Ka…kalau begitu..a..aku.."

"Umur anda hanya 2 bulan lagi." ujarnya. Luhan menangis tanpa suara mendengar penuturan dokter itu. dokter itu diam dan menatap sedih seolah dia juga ikut sedih.

"Anda harus bicara sendiri dengan nona Mei Lin. Dan mulai besok, anda harus menjalani kemoterapi." Ujar sang dokter. Luhan menangis. Dokter itu tertunduk sedih.

"Dan..bila memang sudah tidak ada harapan…kau akan masuk Hospis…" ucapnya. Luhan menatap sang dokter.

"Hospis?"

"Sebuah tempat, terpencil dan tenang..orang sakit yang masuk kesana…tidak akan keluar dengan keadaan hidup lagi. kau akan menghabiskan harimu disana." Ucapnya. Dan itu membuat Luhan semakin menangis terisak.

.

.

END OF FLASHBACK

.

.

Sehun menatap di ujung ruangan. Matanya tajam dan wajahnya tanpa ekspresi.

"Sayang sekali namja ini terkena kanker. Tapi, itu sudah keputusan langit." Ujar Sehun. Dia tersenyum menatap buku ditangannya. Agak lama, akhirnya dia menghilang.

.

.

Pagi ini, Mei Lin sedang menangis tersedu.

Bagaimana tidak? Sang kakak sudah memberitahukan dengannya kalau dia terkena Leukimia. Dan sudah sangat akut.

"Oppa…ayo kita ke rumah sakit…kita akan melakukan kemoterapi..hiks…aku ingin kau sembuh..hiks.." ucap Mei Lin di sela tangisnya. Luhan mengangguk dengan tangisan yang juga mengalir dimatanya. Dia memeluk adik perempuannya ini agar tenang. Sedih sekali Luhan melihat adiknya menangis. Padahal, Luhan sudah bertekad ingin membuat adiknya terus tersenyum tanpa tangisan.

.

.

.

Mulai saat ini, Luhan akan tinggal disini. Luhan menatap sedih.

Tadi dia baru saja dari ruang steril untuk persiapan kemoterapi besok. Luhan menatap pot bunga Lily putih disana.

"Ah, kau harus diberi sinar matahari sedikit, manis." Ujar Luhan lalu dia membawa pot itu ke arah jendela. Luhan tersenyum.

"Hai." Sapa sebuah suara. Luhan menoleh dan mendapati namja yang membuatnya terpesona, Sehun.

"Kau…wae..kenapa kau..?" Luhan tidak bisa berkata-kata. Sehun tersenyum dan mendekati Luhan.

"I'll protect you, Xiao Luhan." Ucap Sehun lalu memeluk tubuh mungil Luhan dengan hangat sekali.

"Eh? Kenapa? Kenapa kau bicara begitu? Kau itu pelangganku.." ucap Luhan. Tidak tahu mengapa, Luhan ingin menangis bahagia mendengar suara lembut Sehun yang entah juga mengapa, terdengar begitu melindungi dan indah. Indah sekali.

"I'll protect you…" bisiknya lagi.."Cause I love you…" bisik Sehun lalu mengecup pipi Luhan lama dan lembut sekali. "Aku akan menemanimu di sini. Kau tidak akan masuk Hospis." Ucap Sehun. Luhan menangis begitu kencang mendengar ucapan Sehun.

Sehun tersenyum dan terus memeluk tubuh mungil ini. Menyalurkan kehangatan tubuh Sehun yang menyerap kehangatan surga.

"Hiks..kau itu berasal darimana…hiks…kenapa kau ingin melindungiku..kenapa kau mencintaiku..? hiks..jawab aku." Pinta Luhan yang seolah terdengar putus asa.

"Itu adalah rahasia." Ucapnya lalu mengecup bibir mungil Luhan. "Saranghae…" bisik Sehun disela ciuman keduanya. Luhan hanya mengangguk dan membalas sedikit ciuman Sehun yang menenangkan.

.

.

.

"Tuan Luhan! Berusahalah! Telan obat itu. anda pasti bisa!"

"Hentikan! Aku tidak ingin meminumnya! Obat itu ingin membuatku masuk Hospis! Hentikan! Hentikan!" pekik Luhan yang dipaksa meminum larutan obat yang aromanya begitu menjijikan dan rasanya pahit dan menjijikan.

"Saya mohon tuan! Anda harus sembuh!" pekik suster itu yang akan memaksakan Luhan meminumnya.

"Hentikan! Kau tidak tahu rasanya jadi diriku..hiks! hentikan! Henti-" ucapan Luhan terhenti dengan suntikan sang dokter yang menyuntikkan obat penenang pada pinggang Luhan. Sang suster segera meminumkan obat itu sampai habis dan tertelan semua oleh Luhan. Luhan mulai merasa mengantuk.

.

.

.

.

Kini, Luhan ada di dalam ruangan steril untuk dirinya sendiri. Luhan menatapi setangkai Lily putih yang baru saja disiapkan oleh Mei Lin.

Sehun terlihat menemani Luhan.

"Kau sedih?" tanya Sehun sambil tersenyum. Sehun mengusap wajah Luhan. Luhan hanya mengangguk. Sehun mendekatkan wajahnya pada Luhan dan mengecup puncak kepala Luhan. Luhan hanya diam dan menikmati sentuhan lembut yang memberinya kekuatan. "Aku ada disini. jangan bersedih." Bisiknya. Luhan hanya mengangguk dan tersenyum lemah.

.

"Besok, anda akan melakukan pengobatan lagi." ucap seorang suster. Luhan mendesah berat.

Saat ini, dia hanya butuh Sehun untuk menemaninya. Hanya Sehun yang bisa memberinya kekuatan melawan kanker ini.

"Berjuanglah, penyakitmu bisa disembuhkan. Kau hanya perlu berusaha." Ujar sang suster yang tersenyum lalu pergi dari ruangan untuk menyiapkan obat kemo lagi.

Tak lama, seorang wanita datang dan masuk ke dalam ruangan Luhan.

"Oppa…" panggilnya. Luhan tersenyum.

"Mei Lin, masuklah.." ucap Luhan dengan senyum manisnya.

"Aku bawakan rangkaian bunga mawar putih dan Lily putih kesukaan oppa..maaf rangkaian bungaku belum seindah rangkaian oppa.." ucap Mei Lin. Mei Lin mengenakan pakaian steril dari rumah sakit. Mei Lin juga harus mengenakan masker yang menutupi setengah wajahnya.

Luhan tersenyum.

"Ini sangat indah, Xie Xie Mei Lin." Ujar Luhan sambil tersenyum. Mei Lin tersenyum pedih. Airmatanya mengalir.

"Aku tidak ingin oppa pergi…cepatlah sembuh. Oppa sudah berjanji denganku untuk melihatku bersanding dikemudian hari dengan orang yang aku cintai. Oppa sudah berjanji suatu hari nanti, ketika aku menikah, oppalah yang merangkaikan bunganya untukku. Kau sudah janji akan mencari pendamping, dan aku juga akan menghadirinya. Karenanya..jangan pergi. Cepatlah sembuh..hiks…oppa..hiks.." tangisan Mei Lin telah keluar. Luhan memeluknya.

"Oppa janji, oppa akan menjadi kakak yang baik untukmu. Oppa akan ada dihari pernikahanmu. Jangan menangis, ne?" tanya Luhan.

Tangisan Mei Lin semakin kencang. Luhan berusaha tidak menangis demi adiknya ini.

Mei Lin berterima kasih pada tuhan, karena sudah memberinya seorang kakak yang begitu menyayanginya. Mei Lin mengelus pelan rambut Luhan dan terkejut ketika mendapati rambut Luhan rontok dengan banyak sekali. Mei Lin semakin menangis kencang. Mei Lin mengambil rambut itu dan meletakkanya dibawah bantal Luhan.

Dipojok ruangan, Sehun menangis menatap Luhan dan saudaranya, Mei Lin. Sungguh persaudaraan yang kuat sekali.

Sehun tersenyum dan menghilang.

.

.

.

April tanggal 20, tahun 20XX

Luhan terlihat sedang ada diruang perawatan. Malam ini begitu dingin.

Luhan terlihat sedang diambang batas hidupnya.

Mei Lin, bersama seseorang dan beberapa dokter beserta suster ada disana.

"Oppa..hiks…ini..hiks..orang yang akan bersanding denganku tahun depan..aku mohon..kuatlah..hiks..jangan tinggalkan …kau sudah janji denganku. hiks.." tangisan Mei Lin semakin kencang. Luhan tersenyum.

"Gege..dui bu qi…aku bawakan rangkaian bunga buatan kami berdua..terimalah.." ucapnya. Luhan tersenyum dan memeluk bunga itu.

"Hangat…" ujarnya. "Xie Xie.." tambah Luhan. Airmatanya mengalir namun senyumnya terus terkembang.

Luhan melihat Sehun disampingnya sambil tersenyum. tubuhnya transparan.

Sehun tersenyum lembut. Dan itu membuat proses kematian Luhan terasa ringan. Ringan sekali.

Luhan tersenyum. Orang yang dia cintai, seorang malaikat ternyata. Apa dia akan pergi bersama dengan malaikat itu? entahlah, sum sumnya sudah hancur, daya tahan tubuhnya hancur akibat kanker.

"Mei Lin…bila aku meninggal..tolong..abu pembakaranku..kau terbangkan di taman kaki gunung yang penuh dengan rumput hijau.." ucapnya.

"Oppa! Jangan berbicara seolah kau akan benar-benar mati!" pekik Mei Lin. Luhan melihat kesamping. Sehun tersenyum hangat dan menggenggam tangannya walau tangan itu hanya bisa dilihat olehnya.

"Terima kasih, kalian datang untuk merayakan ulang tahunku yang ke-22 tahun. Xie xie…" bisik Luhan lalu menutup matanya dihari ulang tahunnya yang berumur 22 tahun.

.

.

.

"Mei Lin, ini tempat yang indah, bukan?" tanya sebuah suara. Suara suami Mei Lin.

Mei Lin menatap guci berisi abu pembakaran mayat Luhan. Mei Lin menatap sedih.

"Haruskah kita terbangkan abu oppaku ini, sayang?" tanya Mei Lin. Suami Mei Lin mengecup puncak kepala Mei Lin dan mengangguk.

"Oppa..semoga kau bahagia disana..kau pantas mendapatkannya." Bisik Mei Lin. Mei Lin menerbangkan abu pembakaran Luhan.

Abu itu terbang bebas diiup angin.

Mei Lin tersenyum. dia berbalik bersama suaminya dan berjalan pergi.

Tanpa diketahui olehnya, Luhan ada disana bersama Sehun yang bergenggaman tangan.

"Semoga kau bahagia, Mei Lin." Ucap Luhan. Luhan dan Sehun berbalik dan pergi menuju tangga langit, menuju rumah Sehun, surga.

.

.

.

END

Hikssu! Nangis sendiri bikinnya!

Huweee! DX

VOTE, oke?

Otte? Review please?

No flame, no bash chara, no siders, AND NO PLAGIAT!