Story By: Alza Saiko-Yoochi
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Rate: T
Genre: Adventure, Fantasy, Action, Sci-Fi, Humor, Friend-Ship.
Warning: Typo, some mistakes EYD, OOC, beberapa kalimat frontal, Fanon, AU.
xXx
Rusionette
xXx
Chapter 2
xXx
.
.
.
"AHAHAHAHA! Gaara, sayang sekali kau tidak bisa masuk kelas, wajah Iruka-sensei benar-benar lucu!"
"Naruto, habiskan makananmu dulu, nanti kau tersedak," tukas Gaara sembari meminum teh kotaknya. Naruto menurut, lalu kembali memakan ramen-nya sambil menahan geli.
"Kenakalan apalagi yang kau lakukan? Teriakan Iruka-sensei terdengar sampai ruang OSIS."
"AHAHAHAHA! REKOR TERBARUKU!" Naruto kembali tertawa keras sambil memegangi perutnya, hampir saja ia menumpahkan mangkuk ramen-nya, berterima kasihlah pada Gaara yang sudah menyelamatkan sang ramen dari bahaya maut.
"Selesaikan dulu tertawamu, lalu habiskan makananmu," pesan Gaara, pemuda berambut merah itu meletakkan mangkuk ramen milik Naruto di atas meja, sementara empunya sedang sibuk berguling-guling di lantai.
Tak lama kemudian, Naruto sudah tidak tertawa lagi. Karena masih lapar, dia kembali memakan sisa ramen-nya. Sedangkan Gaara membuatkan orange juice untuknya, sungguh kawan yang perhatian. Beruntungnya kau, Naruto.
"Jadi …" Gaara melirik Naruto yang masih asyik memakan ramen-nya sambil menonton film kartun, kedua tangannya masih sibuk berkutat membuat dua gelas orange juice. "Kenakalan apalagi yang kau lakukan?" ucap Gaara mengulang pertanyaannya.
Mendengar itu, Naruto hanya kembali menunjukkan cengirannya.
"Tadi pagi …"
~Flashback: On~
"Soaaaal~ soaaaal~ matematika~ sangaaat~ susah sekali~ kiriii~ kanaaan~ minta jawaban~ pada peliit~ semuaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa~!"
BRAK!
"Naruto, jangan ribut! Dan jangan mencontek!"
Naruto menyunggingkan cengiran usil melihat reaksi Iruka, sebelah tangannya asyik menari-nari di atas layar Studybook, menjawab asal soal-soal cetar membahana yang harus dia kerjakan.
Untuk yang kesekian kalinya, Iruka mengeluh karena ulah anak didiknya yang entah kenapa tak pernah bisa tobat. Mungkin tidak berbuat ulah secara fisik atau tindakan, tapi mulutnya yang ibaratkan 'tong berisi nyaring bunyinya' itu membuat guru-guru resah, namun ada juga yang suka dengan hal itu. Iruka terkadang mengakui kalau Naruto bisa membuatnya semangat dalam mengajar, walau hanya 20%, 80% sisanya digunakan untuk menghukumnya.
Salah satunya, seperti sekarang.
"Sensei! Boleh keluar sebentar? Mau buang sampah!" seru Naruto.
Iruka melirik Naruto, "tidak ada yang boleh keluar sebelum ulangan selesai."
Mendengar jawaban Iruka, Naruto mengerucutkan mulutnya, lalu kembali berkutat pada Studybook-nya. Iruka pun kembali mengawasi kelas, terutama Naruto tentunya. Selang waktu tak lama, seruan Naruto kembali terdengar.
"Sensei! Mau tanya!" Seru Naruto seraya mengangkat tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegang Studybook.
"Apa yang ingin ditanyakan …?" tanya Iruka sambil menghela nafas dan berharap agar Naruto hanya menanyakan pertanyaan yang 'normal'.
"Kasih tahu rumus nomor empat, dong~" pinta Naruto.
Iruka memutar kedua bola matanya, "Naruto, sudah kubilang jangan menanyakan jawaban saat ulangan sedang berlangsung. Tidak bisakah kau kerjakan dengan tenang seperti teman-temanmu ini?" balas Iruka. Kalimat yang tidak sesuai dengan keadaan kelas yang sesungguhnya.
Diam-diam, Naruto menyunggingkan cengiran usil andalannya. "Lah? Sensei ini bagaimana?" tukas Naruto.
"Bagaimana apanya?" tanya Iruka heran.
"Saya, 'kan, minta kasih tahu rumus, bukan jawabannya."
Iruka menghela nafas pendek, memang butuh kesabaran ekstra dalam menghadapi muridnya yang satu ini. "Sama saja."
"Lho? Beda dong! Kalau saya minta kasih tahu rumus, berarti saya mesti meras otak menghitung hasilnya. Nah, kalau minta jawaban, berarti saya minta hasilnya langsung, nggak meras otak. Begitu!" Terang Naruto memprotes Iruka.
Entah Iruka yang salah atau Naruto yang terlalu 'masuk di akal'. Yang pasti, hal itu memicu tekad api Iruka untuk memberikan hadiah special khusus anak muridnya yang satu ini.
"NARUTOOOOOOOOOOOOOOOOOO! KELUAR DARI KELAS, SEKARANG!"
"Lho? Tadi bukannya Sensei bilang tidak ada yang boleh keluar sebelum ulangan selesai?"
… dan melayanglah vas bunga yang terbuat dari plastik ke kepala Naruto.
~Flashback: Off~
Mau tak mau, Gaara ikut tertawa mendengar cerita Naruto. Bukannya apa, tapi gaya dan ekspresi Naruto saat bercerita itulah yang membuatnya tertawa. Naruto sendiri hanya cengengesan dan memasang pose victory.
"Pantas saja Iruka-sensei begitu kesal, lagipula kau keterlaluan, Naruto."
"Maaf, deh~ lagipula hanya Iruka-sensei yang asyik dijahili~"
"Kau ini …"
"Ehehe, maaf. Oh, ya, Gaara …" Perlahan, raut wajah Naruto berubah. Rasa gelinya seolah menghilang begitu saja, tergantikan dengan raut wajah yang serius.
"Ada apa?" tanya Gaara heran, apa yang terjadi pada teman sepermainannya sejak kecil ini? Tumben bisa kalem mendadak.
Naruto tak menjawab, ia terdiam beberapa saat. Kedua permata biru Sapphire-nya mengarah lurus pada gelas orange juice yang masih terisi seperempatnya. Gaara pun tetap menunggu Naruto melanjutkan ucapannya dengan sabar.
Tak lama kemudian, Naruto membuka mulutnya, melanjutkan perkataannya.
"Charys Rusionette itu … hanya tokoh dalam dongeng, 'kan?"
"Huh?" Gaara mengerenyit.
Naruto mendongak, pandangannya mengarah langsung pada Gaara. "Charys yang sering diceritakan itu, dia hanya tokoh dalam dongeng, 'kan?"
"Apa maksudmu, Naruto?" tanya Gaara balik.
"Habisnya …" Naruto melirik ke samping. "Dari buku sejarah Rusionette yang kubaca, sifat Charys jelas seperti Yamato Nadeshiko, 'kan?"
Gaara mengangguk.
Naruto kembali mengarahkan pandangannya pada Gaara. "Nah, hal itu membuatku bingung. Bukannya dia termasuk perak? Seharusnya dia ribut dan sering berbuat usil sepertiku, kenapa malah sebaliknya?" tanya Naruto.
Gaara tersenyum kecil, "hal itu juga sudah dibicarakan, Naruto. Dan tak akan terjawab sebelum ramalannya terjadi. Entah hal itu benar-benar nyata atau tidak, kita sendiri tak tahu. Yang penting, kita fokus pada tujuan kita sebagai Rusionette. Yakni membangkitkan kejayaan kita!"
"Hm …," gumam Naruto sambil mengangguk paham, walau masih ada keraguan padanya. Sesuatu yang rasanya ia lewatkan, entah apa ….
/Kuharap, yang kau katakan benar, Gaara … dan aku juga mengharapkannya./
Malam hari.
Saat di mana hampir seluruh makhluk hidup yang ada di permukaan bumi mengistirahatkan diri dari segala macam kegiatan yang mereka lakukan di siang hari, melepaskan penat yang berkepanjangan dan segera mempersiapkan diri untuk berbarik pada tempat tidur yang empuk, bersiap memasuki kereta menuju alam mimpi.
Walaupun begitu, masih ada yang lebih memilih untuk tetap bangun dan mengerjakan kegiatan lain. Entah belajar, menonton acara tivi, mengerjakan sisa tugas, dan hal lainnya yang mungkin hanya bisa dikerjakan di malam hari.
Entah dengan Naruto.
"Hh …" Naruto menghela nafas panjang, entah sudah berapa kali ia melakukannya. Ia tak bisa tidur, ada hal yang mengganggu pikirannya. Semakin lama, ia justru semakin memikirkan lelulurnya, Charys Rusionette. Entah karena apa, padahal sebelumnya ia tak pernah peduli sedikitpun pada bangsanya sendiri.
"Charys Rusionette … sebetulnya kau ini siapa …?" gumam Naruto.
Namun, berapa kalipun Naruto menanyakan hal itu, Naruto tetap tak mendapatkan jawabannya. Tak ada yang akan menjawab, siapa pun juga.
Benarkah itu …?
"Eh?" Naruto terkesiap, ia melihat sekelilingnya. "Siapa?"
Hanya angin yang menerpanya.
"Apa aku bermimpi?" Naruto membenarkan syal di lehernya, "hm … sebaiknya aku segera tidur, kapok disiram air es oleh Gaara," gumam Naruto seraya melangkahkan kakinya kembali ke dalam kamar.
Jika kau bertemu denganku … apa kau percaya padaku?
Tap!
Naruto terdiam, terdiam seribu bahasa, bulu kuduknya serasa berdiri. Naruto menelan ludanya, berharap bahwa suara yang terdengar oleh indera pendengarannya itu hanya halusinasinya saja.
Berbaliklah … Naruto.
STRIKE! Seketika, wajah Naruto memucat drastis, hawa disekitarnya terasa begitu dingin. Kali ini, dia benar-benar yakin bahwa yang didengarnya barusan itu hal yang nyata. Atau mungkin …?
/Bukan hantu, bukan hantu, bukan hantu, bukan hantu, bukan hantu! GAH! Itu pasti Rusionette lain yang sedang menggodaku! Berpikir positif!/ Naruto kembali menelan ludahnya, lalu menolehkan kepalanya secara perlahan-lahan.
Merah ruby.
Hanya itulah yang ada dipikiran Naruto begitu melihat helaian benang yang berwarna merah bagai darah, panjang, lurus, terurai teratur dan berkilau terkena sinar phoenix yang terpantulkan oleh bulan. Membingkai wajah seorang wanita. Senyuman ramah keibuan terlukis pada wajahnya, senyuman yang sering kali menenangkan seorang anak.
"Kau … siapa?" Naruto berbalik, menghadap tepat pada wanita di hadapannya.
Wanita itu tetap menyunggingkan senyumannya, tetapi tak segera menjawab pertanyaan Naruto. Naruto sendiri hanya diam, menunggu jawaban.
Kau tahu … kau sangat mengenalku … walau hanya melalui tulisan …, tapi kau sangat mengenalku.
"…"
Tolong … pertemukan aku dengannya … sekali saja … aku berjanji, semuanya tak akan terjadi lagi ….
"Huh? Apa maksudmu?"
Syuuu~!
"Kh!" Naruto terkesiap, mendadak angin berhembus dengan sangat kencang, membuat jendela balkon terbuka lebar. Perlahan, angin berhenti berhembus, bersamaan dengan Naruto yang menyadari bahwa wanita yang dilihat barusan telah menghilang.
"Menghilang …?" Naruto melihat sekeliling, hanya ada dirinya di balkon kamarnya.
"Yang barusan … siapa?"
TBC
A/N: Wah, maaf. Saya baru sempat update sekarang, telat dua hari, ya? Berhubung saya sibuk dengan sekolah, saya hanya sempat update dan tak sempat membalas review. Nah, bagi yang menanyakan tentang karakter yang akan muncul atau hubungan leluhur di masa lalu dengan Naruto dkk, tidak akan saya jawab.
Mana mungkin saya membocorkan rahasia fanfic, nanti tidak seru lagi. -3-
Dan untuk Gia-XY: Musti wajib miriplah, wong aslinya gue sendiri, cuman ceritanya doang yang diubah. Ada juga orang pada sakit perut kalo baca yang asli. Aman ato kaganya, daku sendiri tak tahu. XD
Terima kasih sudah membaca. ^^
Next Chap, jika tak ada halangan, di-update minggu depan.
