Story By: Rue Arclight Sawatari
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Rate: T
Genre: Adventure, Fantasy, Action, Sci-Fi, Humor, Friend-Ship.
Warning: Typo, some mistakes EYD, OOC, beberapa kalimat frontal, Fanon, AU.
A/N: Hope you like, dan maaf jika ada yang tersinggung dengan kalimat di fic ini. Semua semata-mata hanya demi kelancaran Fic.
xXx
Rusionette
xXx
Chapter 4
xXx
.
.
.
Naruto's POV
Banyak cerita mengenai Vampire di mana-mana, entah berupa dongeng, mitos, urban legend, bahkan ada yang sampai meneliti mengenai Vampire. Banyak yang bilang bahwa Vampire berpenampilan mempesona, begitu cerdas, dan suka meminum darah. Mempesona? Aku tak pernah melihat sisi pesona mereka, begitu pula dengan kecerdasan mereka. Sesempurna apapun penampilan seorang Vampire, ia tak akan bisa menggunakannya di bawah sinar mentari. Secerdas apapun, tetaplah manusia yang lebih cerdas. Jika mereka memang cerdas, mengapa bisa kalah di tangan manusia? Bahkan mereka tak dapat hidup tanpa meminum darah, terutama darah manusia. Secara tak langsung, mereka mengakui diri mereka berada di bawah manusia. Sungguh memalukan. Vampire yang diakui sebagai bangsawan yang tinggal di kastil, harus meminta belas kasihan dari manusia hanya demi setetes darah? Apalagi sampai menyerang manusia, mencuri darah dari manusia. Perilaku tak terpuji, seperti itukah Vampire? Memalukan sekali, pantaslah meski bisa menang dari klan lain, tetapi mereka tak akan bisa pernah menang dari manusia. Hanya makhluk imitasi peniru manusia.
Begitu pula dengan Werewolf, keadaan mereka hampir sama dengan Vampire. Hanya saja, kuakui bahwa Vampire jauh lebih sopan dibandingkan Werewolf.
Lantas apa aku akan membanggakan Rusionette? Tentu tidak, justru aku mengakui bahwa aku juga sama rendahnya, bahkan kelebihanku sebagai seorang Rusionette hanya darah yang kumiliki dan racun yang kusembunyikan di balik rambutku. Rambut perak yang kusembunyikan di warna pirang keemasan ini. Aku bodoh, tak berguna, ribut, idiot, dan lainnya. Semata-mata hanya agar manusia terhibur, terhibur dengan segala tingkah bodohku.
Meski begitu, aku masih tak habis pikir, apa gunanya umat manusia mencari sesuatu tentang makhluk fantasy? Adakah gunanya bagi manusia? Berbeda dengan Rusionette, Mermaid, Vampire, ataupun Werewolf. Bukan hal yang aneh apabila sesama makhluk fantasy rendahan macam kami saling mencari tahu mengenai informasi dari klan lain, semua semata-mata agar dapat memenangkan peperangan yang telah berlangsung semenjak makhluk fantasy semacam kami diciptakan.
Aku tak tahu apakah manusia yang terlalu bodoh hingga menciptakan makhluk semacam kami yang dapat membahayakan hidup mereka, ataukah mereka yang terlalu kreatif. Seberapa kerasnya aku mencari tahu, yang dapat kuketahui hanyalah itu sifat dasar manusia.
Sayang sekali aku hanyalah boneka, boneka hidup yang dikendalikan oleh suatu program. Aku tak akan memahami hal semacam itu. Secara simple-nya, aku hidup dengan semacam insting tanpa emosi sepenuhnya layaknya manusia.
Sebagai Rusionette, aku tak dapat mengurungkan niatku untuk menjaga manusia dari terkaman makhluk fantasy lain. Karena itulah tugas sebagai Rusionette. Lagipula aku tak ingin menjadi makhluk durhaka, yang seenaknya meninggalkan manusia demi keselamatan sendiri seperti Rusionette lain.
Aku tak peduli meski harus menjadi pengkhianat. Sombongkah aku? Seenaknya sekali? Ya, aku memang sombong dan selalu seenaknya sendiri, dan aku bangga akan hal itu.
Kuharap aku tak bertemu dengan makhluk fantasy lain selain Vampire tadi untuk hari ini.
xXx
"Naruto? Apa yang sedang kau lakukan di situ?"
Naruto terhenyak, nyaris saja pensil di tangannya terjatuh. Cepat-cepat ia menyembunyikan buku catatan kecil di tangannya ke balik jaketnya, barulah ia menengok ke belakang, di mana Gaara tengah berdiri menatapnya curiga. Sungguh hal ini benar-benar berita buruk.
"Y-yo ..., G-Gaara ...," sapa Naruto disertai tawa garing, cengiran tak lupa tersungging. Berharap Gaara tak curiga dan melihatnya sedari tadi.
"Jangan berbohong, Naruto."
Oh, itu tak terkabul. Cengiran Naruto menghilang, wajahnya mulai memucat. Mampuslah ia, bagaimana nasibnya jika Gaara melihat tulisannya tadi?! Pasti Gaara akan mengomelinya habis-habisan semalaman suntuk karena catatan itu akan berakibat fatal jika diketahui makhluk fantasy lain! Hih! Cukup sudah Naruto trauma dengan ancaman pasir milik Gaara!
"Ehem. Naruto, kau mendengarku ..., 'kan?" Tepat pada kata terakhir, suara Gaara terdengar seperti bisikan kecil, seolah mengancam jika Naruto tidak segera mengakui perbuatannya barusan.
Rasa takut menghampiri Naruto, sungguh ia tak menyangka Gaara akan memergokinya berada di taman! Bukankah Gaara tadi sedang tidur dengan lelapnya? Naruto sudah memastikan dengan baik saat berencana akan ke taman, lantas kenap—oh ..., suara desiran pasir mulai terdengar ...
"Baiklah ..., aku mengaku ... Aku kemari untuk melihat bunga snowdrop ...," tutur Naruto, mengakui setengah dari rencananya datang ke taman ini. Hei! Yang penting tidak berbohong, 'kan? Meski begitu, Naruto hanya dapat kembali berharap bahwa Gaara tak menyadari note yang disembunyikannya tadi.
Mata kanan Gaara menyipit, "Oya? Kenapa harus malam-malam begini?" tanya Gaara.
/Yeah!/ Naruto menarik napas, "Kupikir ..., bunganya akan terlihat lebih indah jika dilihat saat malam hari. Makanya ..." Ucapan Naruto terputus, ia menggaruk-garuk pipinya dengan jemari telunjuknya.
Melihat itu, Gaara memejamkan kedua matanya dan menghela napas panjang. Naruto menelengkan kepalanya ketika melihat hembusan napas Gaara, ujung bibirnya terangkat, menunjukkan cengirannya.
Sungguh sabar sekali Gaara, mendapat tugas mengurus anak semacam Naruto tentunya membutuhkan banyak sekali kantong kesabaran. Bayangkan, keluar malam-malam tanpa izin. Untung saja Gaara menyadari Naruto yang mengendap-endap keluar dari apartemen, dan mengikutinya secara diam-diam dari belakang.
Siapa sangka, dia kemari untuk melihat bunga dan menulis segala curhatannya tentang makhluk fantasy. Hanya untuk itu! Oh, Gaara sangat bersyukur dia bisa memendam amarahnya. Jika orang lain, entah bagaimana nantinya. Bukan, yang harus dikhawatirkan bukan Naruto, melainkan seberapa stresnya pengurus Naruto nanti?
Sungguh keajaiban Gaara dapat bertahan bertahun-tahun lamanya.
"Benar-benar. Bagaimana jika mendadak kau diserang? Setidaknya jangan lupa untuk mengajakku, kau tahu bahayanya dunia manusia bagi kita, 'kan?" keluh Gaara, ia beranjak menghampiri Naruto.
Bibir Naruto mengerucut, "Oh, ayolah, Gaara. Hanya sebentar saja tak apa-apa, 'kan? Lagipula hanya makhluk bodoh yang masih mau menggunakan cara licik semacam itu di zaman modern seperti ini," sungut Naruto sebal, ia bergeser agar Gaara dapat duduk di sampingnya.
Kening Gaara mengerut sembari duduk di kursi taman, segera ia menegur, "Makhluk yang kau sebut bodoh itulah pimpinan kita, Naruto. Tidak, bahkan semua pemimpin klan. Kau tak ingin mendapat masalah lagi karena ucapanmu itu, 'kan?"
"Memang tidak, tetapi tetap saja aku benci itu ...," sambung Naruto, masih cemberut.
Gaara memutar kedua bola matanya. Mulai, deh. Seringkali Gaara heran, kenapa Naruto tak pernah jera dalam mengejek klannya sendiri atau bisa dibilang semua makhluk fantasy? Yang lucu, Naruto tak segan-segan mengatai dirinya sendiri dan mungkin jauh melebihi parahnya ejekannya pada makhluk lain. Tak mengaku bahwa dirinya lebih baik, justru mengakui bahwa dirinya bahkan lebih rendah dari yang diejeknya. Apa maunya Naruto, sih?
Bahkan Gaara yakin, pasti apa yang ditulis Naruto pada note yang disembunyikannya tadi berisi hal yang sama. Terakhir kali Gaara ingat, klan Rusionette digemparkan oleh selembar catatan yang berisi tulisan Naruto. Itu adalah hal terakhir yang tak ingin Gaara ingat seumur hidupnya—lagi.
"Hei, Gaara. Boleh aku izin sekolah untuk beberapa hari?" pinta Naruto mendadak, mengejutkan Gaara dari pemikirannya.
"Huh? Untuk apa?" tanya Gaara heran,tak biasanya Naruto minta izin. Bukankah biasanya langsung bolos saja? Tumben sekali, ada angin apa memangnya?
Naruto terkekeh, "Ada yang ingin kupastikan, dan aku ingin kau membantuku, Gaara. Tenang saja, aku tak akan mencoba hal yang aneh-aneh seperti memanjat tembok perbatasan seperti dulu kok," jawab Naruto santai.
Sekali lagi, kening Gaara mengerut, "Memang apa yang ingin kau lakukan?" tanya Gaara lagi.
Kali ini, Naruto tersenyum sebelum menyahut, "Nanti juga tahu. Kita mulai dari membongkar semua sejarah makhluk fantasy selain Rusionette."
~xXx~
Zaman dahulu kala, ada beberapa mitos mengenai makhluk aneh yang kini dikenal dengan nama Putri Duyung. Makhluk ini memiliki bentuk tubuh yang sangat aneh. Dari bagian atas, menyerupai wujud manusia, tetapi bagian bawahnya seperti ekor ikan. Banyak yang berpendapat bahwa makhluk ini tinggal di dasar laut, bahkan ada yang menyebarkan cerita adanya kerajaan di dasar laut yang dalam.
Selama bertahun-tahun pula, ada kepercayaan yang terjadi di kalangan pelaut. Menurut kisah, apabila salah seorang awak kapal yang melihat wujud putri duyung, maka itu merupakan pertanda buruk. Karena kemunculannya, menandakan akan adanya badai, kapal karam, serangan dari hewan laut, dan hal berbahaya lain. Mereka terancam akan mati tenggelam!
Namun, di satu sisi, ada pula yang mengisahkan bahwa putri duyung adalah makhluk yang memiliki sifat baik dan pemurah. Bukan suatu makhluk yang berbahaya ataupun menakutkan.
Menurut penelitian, kisah tentang putri duyung yang pertama adalah makhluk yang selalu menggoda para pelaut. Jika sampai tergoda, maka akan mengalami musibah dan bahkan kematian yang terjadi disebabkan oleh lautan. Hal itu menyebabkan masyarakat menjadi sangat menghormati putri duyung, bahkan menyembahnya.
Melalui perkembangan zaman, banyak yang menyebarkan cerita akan kepandaian putri duyung dalam menyanyi dan memainkan alat musik. Suara mereka yang begitu merdu akan membius para pelaut, semacam menghipnotis. Siapapun yang terbius, akan dibawa ke kerajaan dasar laut dan menjadi tawanan untuk selamanya.
Lambat laun, berbagai kisah mengenai makhluk ini semakin mengilhami banyak sekali seniman di seluruh muka dunia. Banyak para pelukis yang menggambar wujud putri duyung, kebanyakan menyerupai sesosok perempuan cantik dengan rambut panjang entah lurus atau bergelombang disertai tubuh bagian bawah yang menyerupai ikan. Sungguh lukisan yang indah.
Tak menutup kemungkinan para pengarang ikut terinspirasi, mereka ikut membuat berbagai macam cerita tentang putri duyung. Umumnya, putri duyung yang menjadi sumber itu digambarkan sebagai sosok makhluk yang baik hati. Dongeng-dongeng mengenai putri duyung tercipta, terkenal di kalangan anak-anak. Membuat mereka percaya adanya putri duyung di lautan sana, berenang di dasar laut yang dalam dengan ekornya.
Seorang petualang ulung yang menemukan benua Amerika telah menulis dalam catatan perjalanannya mengarungi lautan yang luas. Dalam catatan tersebut, ia menulis bahwa dirinya melihat sosok tiga ekor putri duyung. Saat itu terjadi, ia tengah berlayar di lautan. Berbeda seperti dongeng yang sering diceritakan, duyung-duyung tersebut tidak cantik, meski wajahnya benar-benar menyerupai manusia.
Di lain tahun, seorang pelaut Inggris juga mengaku telah melihat sosok putri duyung. Ketika melihatnya, beliau juga sedang berlayar. Saat itulah makhluk itu muncul, bahkan menoleh ketika pelaut tersebut bersuara. Sayangnya, makhluk itu kembali menghilang ditelan oleh ombak.
Ada pula seorang kapten kapal yang berkata ia juga pernah melihat seekor duyung tengah berenang di dekat kapalnya. Namun, awalnya ia mengira makhluk itu hanyalah seorang perempuan biasanya, tampaknya ia tak melihat bagian bawah makhluk itu.
Tidak hanya mereka yang seringkali berada di lautan yang pernah melihat, ada pula seorang petani yang mengaku melihat putri duyung sedang duduk di jurang karang, berdekatan dengan tempat tinggal petani tersebut. Saat itu, putri duyung tersebut sedang menyisir rambutnya.
Di Lautan Atlantik, suatu pantai, ada seekor makhluk aneh yang mati di sana. Kemungkinan, makhluk itu adalah putri duyung yang seringkali ramai dibicarakan. Para penduduk pun memakamkan makhluk tersebut.
Dalam kisah lain, seorang anak telah membantu makhluk yang dicurigai makhluk yang sama dengan putri duyung. Hanya saja, kali ini wujudnya bukan perempuan, bahkan makhluk tersebut dikatakan sangat mengerikan. Makhluk tersebut terdampar di suatu pantai, ia terjebak dalam sebuah sampan. Anak itu memberinya makan dan minum, hingga membantunya pulang kembali ke asal dengan memakai sampan itu. Meskipun anak itu sempat ketakutan saat melihat wujud sosok tersebut.
Begitu banyak kisah dan dongeng tentang putri duyung, hanya saja, benarkah sosoknya itu benar-benar nyata? Tak ada yang tahu, kalaupun ada yang melihatnya, akankah orang-orang percaya? Jika itu hanya berupa tulisan, orang-orang hanya akan menganggapnya dongeng. Jika itu berupa gambar, orang-orang akan berusaha menguak kepalsuan gambar. Ya, palsu.
"Namun, saat ini, di tempat ini, sosok makhluk tersebut telah berevolusi. Bukti nyatanya, adalah Anda, benar?"
Garis melengkung tipis terlukis pada wajah seorang wanita, rambut hitam bergelombangnya bergerak mengikuti angin. Bersamaan dengan musik yang terdengar dari sebuah harpa koral dengan hiasan kerang, musik yang melantun dengan lembut. Sungguh, suara yang begitu indah.
"Hei, mau sampai kapan bernyanyi? Apa Anda mendengar kata-kataku tadi?" protes seseorang berambut hitam yang berdiri di belakang wanita tersebut.
"Oh? Kasar sekali, meski aku sudah menjaga saudaramu?" balas wanita itu disertai tawa kecil.
Orang itu menelengkan kepalanya, "Aku berterima kasih untuk itu, tetapi saat ini beda topik utama. Nona, bisa untuk tidak melenceng dari topik utama urusan kita, 'kan?"
Wanita itu menghembuskan napas panjang, "Are are, meski begitu, tetap saja intinya ini tentang saudaramu itu, 'kan? Eh, Kuroi?"
Orang yang dipanggil dengan nama Kuroi itu terkekeh geli, "Meski begitu, Naruto tak pernah tahu namaku. Lagipula hanya aku yang pernah melihat wajahnya, dia mana pernah melihat wajahku. Rahasiakan darinya, ya," pinta Kuroi.
"Jika kau bukan keturunan dari Shares, aku tak akan sudi menuruti permintaanmu." Wanita itu tersenyum.
Kuroi mengangkat sebelah alisnya, "Oh, ayolah. Sebagai duyung, hanya Anda yang pernah berhubungan dengan Shares. Hebatnya, masih hidup dan awet muda," goda Kuroi.
Wanita itu berdecak, "Anak muda, jaga mulutmu. Ingat, aku menurutimu karena kau keturunan Shares. Jika tidak, semenjak tadi kau sudah terbius nyanyianku."
Kuroi hanya menyunggingkan cengiran kecil, "Coba saja," tantang Kuroi.
"Anak nakal."
"Kuanggap itu pujian."
Wanita itu menghembuskan napas panjang, telinganya yang menyerupai sirip bergerak. "Sudahlah, percuma berdebat denganmu," katanya, menyerah.
Sekali lagi, Kuroi terkekeh geli, "Oke, tolong pantau Naruto, ya. Jika dugaanku benar, pasti ia akan terpikir untuk meneruskan jejak Charys."
"Hm~" Wanita itu memicingkan kedua mata merahnya, "Kapan kau akan bilang alasannya? Apa ramalan itu akan terjadi?" tanya wanita itu, telinganya kembali bergerak. Kali ini, Kuroi bergeming untuk beberapa saat, barulah kemudian ia tersenyum kecil.
"Karena di salah satu catatan kuno, ada tulisan Shares."
Senyuman, terganti dengan seringaian.
"Tentang kebencian seseorang, pada kaumnya sendiri."
xXx
Sudah bukan hal baru jika mendengar nama Werewolf. Bukan hal aneh lagi jika seseorang mengisahkan cerita tentang manusia yang dapat berubah menjadi serigala, cerita ini bahkan dapat ditemukan di berbagai negara di seluruh dunia.
Terlebih, kisah mengenai Werewolf seringkali ditemukan di catatan-catatan Yunani kuno. Makhluk ini juga dikenal dengan nama Lycan.
Di dalam Literatur kuno Herodotus, dalam bukunya yang berjudul Histories, pernah menulis mengenai Neuri. Neuri adalah sebuah suku yang berdiam di timur laut Scythia, di mana penduduknya berubah menjadi serigala setiap sembilan tahun.
Di dalam mitologi Yunani kuno, raja Arcadia yang bernama Lycaon disebutkan telah diubah menjadi serigala oleh dewa Zeus akibat mengorbankan dan memakan daging anaknya sendiri. Oleh karena itu, nama Lycaon kemudian menurunkan kata Lycanthropy yang dikenal saat ini.
Cendikiawan Roma, Pliny the Elder, juga pernah menceritakan seseorang yang berubah menjadi seekor serigala setelah memakan isi perut seorang anak kecil.
Selain itu, Gaius Petronius menulis dalam bukunya mengenai Niceros, yang menyaksikan temannya berubah menjadi serigala. Ketika ia mencari sahabatnya, ia menemukannya tengah melepas seluruh pakaiannya dan menaruhnya di pinggir jalan. Kemudian, sahabatnya itu membuat lingkaran dengan urin di sekeliling pakaiannya yang tergeletak. Tiba-tiba, sahabatnya berubah menjadi serigala, melolong keras dan berlari memasuki hutan.
Meskipun lebih banyak ditemukan di Eropa, kisah mengenai Werewolf juga bisa ditemukan di wilayah luar Eropa. Di kalangan suku Indian Amerika, makhluk serupa dikenal dengan nama Skin Walker. Di Turki, disebut dengan nama Turkadam. Lalu, di Amerika tengah, dikenal dengan nama Nagual.
Dari seluruh kisah mengenai Werewolf,umumnya dikatakan pada saat bulan memantulkan sinar mentari seluruhnya, yakni purnama, seorang manusia, dalam kondisi tertentu akan berubah menjadi serigala. Tubuhnya akan menjadi tinggi dan kuat, kedua matanya bersinar terang seperti hewan pada umumnya. Kulit yang kasar, ditumbuhi rambut yang lebat.
Dari beberapa kepercayaan, ada yang mengatakan Werewolf dapat dibunuh denga menggunakan peluru perak. Ada pula yang bilang seorang manusia dapat berubah menjadi Werewolf apabila ada seekor Werewolf yang menggigitnya. Bahkan ada kepercayaan, seseorang menjadi Werewolf karena kutukan.
"Jika memang ada pertanyaan yang masuk di akal, maka pertanyaannya adalah mengapa begitu banyak kisah peperangan antara Werewolf dan Vampire?"
Seorang pria yang mengenakan topeng rubah tengah menyeringai licik, terlihat jelas dari bagian mulutnya yang tidak tertutupi oleh topeng. Tangan kanannya memegang sebuah buku catatan kuno, gambar serigala yang menjadi cover depannya sudah nyaris tak terlihat lagi.
Sementara itu, di belakangnya, berdiri seorang pemuda yang juga mengenakan sebuah topeng. Namun, topengnya berbentuk luak. Sama seperti pria yang mengenakan topeng rubah tadi, bagian mulutnya juga tidak tertutupi oleh topeng.
"Oi, Kyuubi, tanpa kau tanyakan itu, kau sudah mengetahui jawabannya, 'kan?" tegur pemuda itu.
Pria yang dipanggil 'Kyuubi' itu mendecih sebal, ia melirik ke belakangnya. "Berisik sekali kau ini, Shukaku. Tidak bisa diam saja apa? Suka-suka aku, 'kan?" cetus Kyuubi, membela diri.
Pemuda yang bernama Shukaku itu menghela napas panjang, "Sudah kubilang, panggil aku Ichibi, jangan sebut nama asliku lagi, Kyuubi."
"Oh, maaf. Aku lupa," sahut Kyuubi santai. Tak ayal membuat perempatan muncul di kening Shukaku, ia memejamkan kedua matanya.
"Kyuubi, sudah bosan hidup, ya?" tanya Shukaku, terdengar jelas ia sedang menahan amarah dari nada suaranya yang terdengar pelan nan dalam.
"Masih, tuh. Aku belum puas jika belum menendang bokong Si Keriput itu," jawab Kyuubi sekenanya.
Kening Shukaku mengerut, "Maksudmu anggota Akatsuki yang pernah kau temui waktu itu?" terka Shukaku.
Kyuubi menjawabnya dengan anggukan, tangannya sibuk menyimpan buku kuno tadi.
"Hm~" Shukaku bersandar di salah satu pohon, "Kau tak terima kalah darinya?"
JLEB!
Tak perlu dua kali mengulang kalimat Shukaku, sebilah kunai sudah menancap di dekat kepalanya. Beruntung sekali Shukaku sempat merasakan hawa bahaya dan menghindar, atau di wajahnya akan tercipta lubang.
"Kutiru ucapanmu, Ichibi. Apa kau sudah bosan hidup?" tanya Kyuubi balik, tanpa menoleh sedikitpun pada Shukaku.
"Tidak. Maaf."
Kyuubi mendengus kasar, pria itu bangkit berdiri. "Nah ..., sekarang ...," ucapnya setengah berbisik, "waktunya untuk berburu." Kyuubi menyeringai seperti iblis, lidahnya menjilat bibirnya sendiri.
"Er ... Kyuubi?" panggil Shukaku sembari menghampiri Kyuubi, "memangnya kita akan mencari makhluk apa?" tanya Shukaku.
Kyuubi bergeming beberapa saat, lalu melirik ke arah Shukaku, "Makhluk misterius yang ada di lautan, dekat suatu pantai di Inggris," jawab Kyuubi.
Makhluk? Tumben Kyuubi menyebut makhluk, biasanya langsung memberi julukan konyol pada sesuatu. Untungnya Kyuubi tahu arah pikiran Shukaku, dan segera menjelaskan.
"Dulu, ada kabar angin dari seorang penduduk kota kecil di Inggris, rumahnya terletak di tepi pantai. Suatu pagi, dia berjalan-jalan ke pantai. Pantai tersebut tak terlalu luas karena tertutup oleh bukit karang. Untuk masuk, seseorang harus melewati pintu besi yang tinggi. Selain itu, pada musim dingin, pintu itu dikunci dengan gembok."
Shukaku mengerutkan kening, hei, darimana Kyuubi mengetahui kabar ini? Pria yang hobi tiduran sambil membaca atau mengurung diri di ruangannya? Oh, sungguh misteri yang sulit dipecahkan. Kyuubi hanya menyeringai dan kembali melanjutkannya.
"Pagi itu, pintu gerbang ditutup. Penduduk itu memasuki pantai melewati belakang rumahnya, lalu memanjat pagar batu karang yang tidak begitu tinggi. Pantai yang terhampar, sungguh indah sekali dilihat di pagi hari. Namun, ketika itu, ada yang lebih menarik perhatiannya."
"Huh? Apa? Ada hiu terdampar di sana?" terka Shukaku, Kyuubi terkekeh.
"Lebih dari itu, beberapa bekas tapak kaki."
"Hah?" Shukaku menelengkan kepalanya, "Apanya yang lebih? Itu, sih, biasa. Paling seperti Bigfoot itu, 'kan?"
Kyuubi menggeleng, "Tidak, bodoh. Tapak itu bentuknya seperti tapak kaki kuda, tapi besar sekali! Selain itu, tapak itu masuk begitu dalam di pasir, seolah pemilik tapak kaki itu sangat berat."
"Oh ..., oke, itu lebih tepat disebut Dino ...," ulang Shukaku.
Kyuubi nyengir, "Yang mengherankan, tapak itu jelas sekali. Tak ada pasir-pasir yang berguguran di sekelilingnya. Jarak antara satu tapak dengan yang lainnya, kurang lebih sekitar 180 cm. Ditambah lagi, tapak itu bermula dari batu karang, menurun, dan langsung menuju lautan. Satu arah, ke lautan. Seakan-akan, makhluk tersebut hanya menuju ke lautan, dan tidak kembali lagi ...," sambung Kyuubi dengan nada suara yang sengaja dipelankan.
"..." Shukaku mulai menelan ludah.
"Tak ada yang mengetahui wujudnya. Mungkinkah makhluk laut? Tetapi, memangnya ada di antara ikan-ikan bersirip itu yang memiliki kaki sebesar itu? Jika memang binatang darat, seharusnya kembali. Namun, hingga sekarang, tak ada tanda-tanda kembalinya makhluk itu."
Wajah Shukaku sudah memucat, "Oi, Kyuubi ... Kau tak bermaksud ...?" ucapan Shukaku terputus, pastilah Kyuubi tahu kelanjutannya.
Benar saja, cengiran Kyuubi melebar, "Tepat sekali~ kita akan berburu itu~ lagipula pasti asyik mencari sambil menyelam."
"Menyesal aku ikut denganmu ..."
Kyuubi tetap mempertahankan cengirannya, berwajah sok polos. Tentu ia tahu, Shukaku sangat benci berdekatan dengan air, ia lebih suka padang pasir yang panas membara. Tak ada salahnya ia iseng, 'kan?
"Ayolah~ daripada padang pasir, lebih enak di dalam laut," bujuk Kyuubi riang.
"Che! Aku tak mau! Lagipula untuk apa memburu sesuatu yang tidak jelas?" tolak Shukaku.
"Hm~" Kyuubi bergumam, "sudah jelas, bukan?"
"Huh? Apanya?"
Kali ini, cengiran Kyuubi terganti dengan seringaian.
"Tak ada ampun bagi anjing kampung dan kelelawar bau penghisap darah yang berani mendekatinya."
xXx
Meski zaman sudah begitu maju, bukan berarti peperangan telah terhenti. Di permukaan bumi ini, selalu ada tempat yang belum terjamah. Bahkan ada pula tempat yang diperkirakan memiliki penunggu, hanya digunakan sebagai tempat hiburan. Begitu banyak turis yang mendatangi tempat semacam itu.
Semakin lama, semakin banyak bangunan yang memenuhi bumi. Banyak manusia yang terbuai akan kenikmatan teknologi, banyaknya ilmu pengetahuan, pekerjaan, hiburan, dan lainnya.
Namun, di balik itu semua, adakah manusia yang menyadari adanya peperangan yang selalu terjadi di antara mereka, makhluk yang memiliki wujud mengerikan, stamina, kekuatan, dan banyak lagi. Bertarung demi mendapatkan kekuasaan, kebebasan, sumber daya, ilmu, hingga masalah pribadi yang sering menjadi faktor peperangan.
Tak ada yang mau mengalah, masing-masing memiliki tempat perangnya sendiri. Tergantung persetujuan dari lawan.
Salah satunya, peperangan hebat antara Werewolf melawan Vampire. Banyak sekali yang mengakui peperangan di antara kedua pihak itu adalah perang yang paling mengerikan dan terhebat. Memakan banyak korban, dengan pihak Vampire yang selalu menjadi pemenang.
Setidaknya, itulah yang terjadi di saat Rusionette belum mengenal emosi dan belajar berpikir. Kini, sudah bukan hal aneh lagi jika ada pihak ketiga. Sebagai boneka, Rusionette tak bisa dianggap remeh. Sekuat apapun Vampire, tak akan berdaya di hadapan manusia. Boneka penipu ulung seperti Rusionette, bukan hal yang sulit membuat Vampire kewalahan.
Licik? Oh, lupakan, itu tak tertulis dalam larangan perang. Terlebih, racun yang dimiliki Rusionette juga tak dapat dianggap remeh.
Jangan lupakan para duyung, siren, dan peliharaan mereka, Kraken. Perairan bukan hanya ada di laut yang luas, bukan tanpa alasan danau di daratan dapat direbut paksa.
Ada pula ras yang berperang dengan cara yang lebih modern. Mereka melakukan penyamaran, meniru manusia, meniru tingkah lakunya. Sebagai seorang manusia, tentu sama sekali tidak menjadi hal aneh lagi jika ada mendengar kata perusahaan, bukan?
Sekarang, nyaris perhatian pada wilayah telah teralihkan. Salahkan manusia yang mengambil begitu banyak peran di bumi, nyaris saja makhluk fantasy seperti mereka tersingkir.
Kekuasaan masih menjadi incaran, tetapi yang paling diutamakan adalah informasi dari lain pihak. Meski hanya satu kata, kata tersebut dapat digunakan untuk menggulingkan salah satu ras. Kurang berharga apalagi? Hal ini bukan hal sepele, segala macam cara dihalalkan hanya untuk mendapatkan info.
Bersyukurlah para manusia pun ada yang tertarik pada beberapa makhluk fantasy, hingga menulis berbagai macam hal tentang mereka. Jika tak bisa mencuri info dari lawan, curi dari makhluk yang lebih pintar dari mereka. Walaupun cara ini tetap tak bisa dibilang mudah, tentu sulit menyembunyikan diri di tengah-tengah manusia, 'kan? Sepandai-pandainya tupai terbang, pada akhirnya tetap akan terjatuh.
Tidak bagi Rusionette, tentunya. Oh, bukan, jangan pernah mengira mereka bersikap baik dengan cara bergaul dengan manusia. Justru sebaliknya. Ingatkah bahwa mereka adalah boneka penipu ulung? Terima hati, curi jantungnya.
Berbeda dengan ras lain yang memiliki harga diri tinggi seperti werewolf, tentu mereka tak akan sudi meniru. Untunglah Rusionette lebih licik dan cerdik dalam menipu, harga diri bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah resiko terancam akan ketahuan manusia, ditambah umur yang tidak panjang.
Meski beberapanya ada yang memilih untuk berkhianat.
"Aaaargh! Kenapa dari semua sejarah, hanya sejarah Rusionette melulu yang paling lengkap?!"
Gaara memutar kedua bola matanya, tak terkira kapas yang digunakan untuk menyumbat telinganya tak berfungsi dengan baik, atau memang suara Naruto yang terlalu keras volume-nya? Kenapa anak yang satu ini tetap saja tak bisa diam meski sedang mengerjakan sesuatu? Apa dia tidak serius? Oh, Gaara tak yakin.
"Tanpa kujawab tentu kau tahu, 'kan?" tanya Gaara, lelah juga bersabar terus-menerus. Mau dilawan, yang ada hanya menambah penat.
Naruto merebahkan kepalanya di atas meja, buku kuno bertebaran di atas meja. "Justru itu, ada bagian yang tidak kumengerti, Gaara! Yang menjengkelkan, meski sudah kubaca berulang kali, tetap saja tidak ada sejarah lengkap dari semua buku-buku tua ini," gerutu Naruto jengkel, nyaris saja ia akan membuang buku di tangannya jika saja Gaara tidak mengancamnya sebelum membongkar semua buku kuno.
Gaara menghembuskan napas panjang, "Memangnya apa yang tidak kau mengerti, Naruto?" tanya Gaara.
Naruto hanya melirik Gaara sekilas, namun tetap menjawabnya, "Mengapa keturunan Charys bisa tetap hidup meskipun Charys dikatakan meninggal di maskas kelelawar bau?"
Mendengar itu, Gaara bergeming, keningnya mengerut mencoba mencerna pertanyaan Naruto. Naruto sendiri hanya diam, menunggu jawaban dari Gaara. Benar juga, kenapa, ya? Jika Shares, bisa saja mempunyai keturunan, sedangkan Charys? Semestinya tak ada keturunan Charys, kalaupun ada, pastilah akan menjadi incaran para Vampire. Meski begitu tetap ada kabar burung tentang keturunan Charys yang turun temurun selalu muncul setiap beberapa tahun sekali.
Gaara menarik sebuah kursi, duduk di hadapan Naruto. "Tunggu dulu, Naruto," kata Gaara, "apa hubungannya dengan hal yang tidak kau mengerti itu?" tanya Gaara.
Naruto mengangkat wajahnya, sebelah tangannya menopang dagu. "Hoh, karena semua sejarah ini hanya berdasarkan sejarah umum. Tentu terkecuali, hanya sejarah Rusionette saja yang berkembang, tentunya tak masalah jika sesama Rusionette diperbolehkan mengetahui segala sesuatu tentang bangsanya sendiri. Lucunya, semua itu berasal dari penelitian Charys dan Shares, yang sengaja diubah menjadi teka-teki."
Gaara mengangguk paham, "Lalu? Ada alasan lain?" tanya Gaara lagi.
Naruto menelengkan kepalanya, "Alasan lain, karena kita, para Rusionette, memiliki IQ yang terbatas."
"Terbatas?"
Naruto mengangguk, "Walau bagaimanapun, boneka tetaplah boneka. Tak mungkin Charys dapat meneliti sejauh itu, bahkan adiknya sampai mengakui semua penelitiannya juga menyambung dari eksperimen Charys yang terhenti karena kematian Charys. Darimana Charys bisa membuat kesimpulan secepat itu? Bahkan dalam waktu yang singkat," sambung Naruto, sekali lagi membuat Gaara bergeming.
"Karena itulah, aku ingin tahu ... Benarkah Charys melakukannya sendirian?"
xXx
To Be Continue
xXx
.
.
.
A/N: Pertama, saya minta maaf karena terlalu lama update. Alasannya, bahan-bahan untuk fic ini kurang. Sementara dari Internet saja, saya kurang mendapat bahan yang cukup. Oleh karena itu, saya terpaksa menunggu sampai libur panjang—lagi—karena tempat bahan fanfic ini ada di rumah orangtua. Saya tak bisa sembarangan karena nantinya fic ini jadi tidak masuk akal.
Kedua, mungkin di chapter ini, ada kalimat yang menjengkelkan, ya ...? Terutama di awal chapter ... Oke, itu memang sengaja dilakukan. Tetapi, itu saya lakukan karena saya ingin menunjukkan kebencian Naruto. Ya ..., mengetik kalimatnya juga sulit, memerankan diri sebagai 'Naruto' di fic ini menyulitkan. Sebagai boneka, Naruto hanya ingin menunjukkan bahwa dirinya bangga menjadi boneka yang bisa melindungi manusia dan membenci makhluk fantasy(saya menggunakan kata ini agar mudah dimengerti) yang berlaku jahat pada manusia(di fic ini, ya). Kenapa Naruto membenci Rusionette, karena menurutnya Rusionette berkhianat.
Sekali lagi, saya minta maaf.
P.S: Saya sempat menggambar wujud makhluk duyung di fic ini. Meski karakternya berbeda dengan duyung yang muncul di fic ini.
