Story By: Rue Arclight Sawatari
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Rate: T
Genre: Adventure, Fantasy, Action, Sci-Fi, Humor, Friend-Ship.
Warning: Typo, some mistakes EYD, OOC, beberapa kalimat frontal, Fanon, AU.
A/N: Hope you like, dan maaf jika ada yang tersinggung dengan kalimat di fic ini. Semua semata-mata hanya demi kelancaran Fic.
xXx
Rusionette
xXx
Chapter 5
xXx
.
.
.
Hei, tahukah kau tentang cinta?
Apa itu cinta?
Apakah itu sebuah nama? Nama apa? Bendakah itu? Atau nama seseorang? Kenapa seorang orang selalu mengucap kata cinta? Sebenarnya apa itu cinta? Apa yang hebat dari kata itu? Lima huruf yang bukan hal asing lagi di kalangan manusia. Entah untuk laki-laki, perempuan, tua, muda, anak-anak, hingga dewasa. Semuanya merasakannya, mereka mengetahuinya, dapat memahaminya.
Kuroi menyalakan lampu lilin, beberapa buah buku sudah berada di sampingnya. Tak percuma ia menyelam ke dalam lautan cukup lama bersama makhluk aneh yang sejenis dengannya untuk mendapatkan buku-buku catatan yang sudah berumur cukup lama. Meskipun begitu, kini ia terpaksa menyelimuti dirinya. Memang, menyelam di malam hari bukanlah ide bagus meski ada tujuan yang penting. Tak bisa diukur seberapa rendah suhunya.
Di dalam gubuk tua ini, Kuroi mendekam dalam mantel hitamnya. Mencoba menghalau rasa dingin yang menusuk, baru kali ini ia merasa sangat kedinginan. Sungguh ia tak habis pikir kenapa makhluk perairan bisa tahan berada di lautan dalam yang begitu dingin. Apa karena dia makhluk darat, ya?
Kuroi mengerutkan alisnya saat menyadari buku itu berdebu, bahkan ia sampai terbatuk saat menepuk-nepuk debu di cover bukunya. Oi, oi, apa tidak salah? Bukannya buku ini tersimpan di dalam air? Kenapa bisa berdebu? Jika berpasir, sepertinya masih masuk di akal. Oh, sudahlah, dipikirkan juga tak berguna.
"Baiklah, coba kita lihat ... Apakah benar buku ini benar-benar buku catatan harian Charys yang diberikan Shares pada temannya?" gumam Kuroi, pemuda itu mulai membuka lembar pertama buku tersebut.
~xXx~
Hari ini, seharusnya aku pergi ke laboratorium seperti biasa setelah menjadi pengasuh anak-anak manusia. Sedangkan Shares, berbelanja untuk mengisi bahan makanan.
Namun, Shares mendadak demam, mungkin karena ia kelelahan terlalu banyak bekerja. Oleh karena itu, aku yang menggantikannya berbelanja, sekaligus mencari beberapa buah kayu bakar untuk perapian di rumah. Tak lupa, aku menyempatkan diri untuk menyampaikan pesan dari Shares untuk atasannya bahwa ia izin tak masuk selama sakit, juga melapor dan meminta izin pada mereka.
Usai membereskan rumah dan menyusun bahan makanan di dapur, aku pergi ke hutan. Hihihi~ tak kusangka ternyata pergi ke hutan asyik juga. Banyak tumbuhan dan bunga-bunga liar, terkadang hewan-hewan kecil juga bermunculan. Sayang sekali Shares selalu melarangku masuk ke hutan. Padahal aku kakaknya.
~xXx~
Shares masih sakit, untungnya bahan makanan dan kayu bakar masih banyak. Tapi aku harus merawatnya, tak mungkin kutinggalkan dia sendirian. Apalagi Shares sangat rewel jika harus makan bubur, nantinya kurang asin, ingin yang ada potongan ayamnya. Huh, seperti anak kecil saja, padahal dia sendiri sering meledekku terlalu kekanakan.
Selepas mengerjakan tugasku sebagai pengasuh, akan kubeli obatnya di apotek. Semoga saja dia cepat sembuh.
Oh, aku juga harus meminta izin.
~xXx~
Akhirnya Shares sembuh juga, meski begitu ia masih harus istirahat. Mungkin besok atau lusa, ia sudah sembuh total. Baguslah, aku senang ia cepat sembuh.
Hihihi, sepertinya Shares malu karena aku merawatnya.
Hm ..., berhubung kayu bakar di rumah sudah hampir habis, aku harus kembali ke hutan lagi. Uh, tapi siang-siang begini malah hujan deras, bahkan terus-menerus hujan hingga sore! Malam baru reda, tetapi akibatnya udara menjadi lebih dingin dari malam-malam sebelumnya.
Dengan memakai scarf tebal, aku memasuki hutan. Sebenarnya Shares sudah melarangku dan berusaha mencegahku, tapi nantinya Shares akan kedinginan. Uh! Awalnya seram sekali, aku sempat ketakutan dan nyaris mengurungkan niatku.
Ternyata aku mendapat pengalaman luar biasa! Meski tak dapat dipercaya. Bahkan sampai sekarang aku masih merasa bermimpi.
Saat sedang sibuk mencari kayu kabar ..., hihi! Aku bertemu dengan seorang Vampire!
Mm ..., bukan bertemu, sih. Bisa dibilang, aku melihatnya dari jauh. Dari penampilannya, kurasa dia Vampire jantan.
Seperti yang dikabarkan, penampilan seorang Vampire memang rupawan, tapi aku tak merasa bahwa ia berbahaya. Soalnya, saat itu aku melihatnya sedang menolong seekor tupai yang terluka. Berbeda sekali dengan Vampire lain yang biasa diceritakan leluhur dan tetua.
Entah kenapa aku malah memperhatikannya, mungkin karena aku terlalu heran ada Vampire yang baik.
Sayang, setelah menolong tupai itu, dia langsung pergi. Meski kecewa tak bisa melihatnya lebih lama, aku tetap berharap bisa melihatnya lagi. Mungkin nantinya bisa kutanyakan pada mereka.
~xXx~
Sepertinya Shares mulai mengetahui hubunganku dengannya. Itu jelas, tidak kusangka Shares mengikutiku bertemu dengannya. Shares, jujur saja, sebagai kakakmu, aku kecewa karena kau membuntutiku.
Meski begitu, aku lega dia tak tahu aku mulai berhubungan dengan Vampire yang kulihat waktu itu.
Oh, ya. Vampire itu bernama Fred, Frederick.
Seperti dugaanku sebelumnya, dia memang Vampire yang baik.
~xXx~
Wah, sepertinya sudah lama sekali aku tak menulis. Sudah berapa lama, ya?
Ngomong-ngomong ...
Aku lega, akhirnya Fred bisa diterima oleh penduduk. Meski hanya di desa ini. Walaupun begitu, aku berharap ... kedatangan Fred sebagai Vampire di kalangan Rusionette akan merubah pandangan mereka pada kaum Vampire.
Aku yakin, ada juga Vampire lain yang seperti Fred. Tidak beringas seperti yang sering dikisahkan dan ditakuti oleh Rusionette lain, salah satunya Shares.
Masih saja adikku itu gencar menyuruhku menjauhi Fred. Padahal Fred memang tak bermaksud jahat, dasar dia itu ...
~xXx~
Oh, ada apa denganku? Kenapa aku selalu merasa aneh jika bersama Fred? Apa karena aku merasa was-was berada di dekat Vampire? Tapi aku percaya padanya! Lagipula dia tak pernah berlaku jahat padaku!
Tapi kenapa ...?
Apa aku terkena penyakit seperti yang diguraukan Shares? Ah, tidak mungkin. Shares hanya berupaya segala hal untuk menjauhkanku dari Fred, mana mungkin benar-benar terjadi. Lantas kenapa? Oh, ini benar-benar membingungkan, aku tak mengerti apa yang terjadi padaku.
Setiap kali bersama Fred, aku selalu merasa aneh, tubuhku terasa panas, padahal aku yakin tidak demam. Masa iya Fred menularkan penyakit seperti yang dibilang Shares? Ah! Tidak!
Selain itu, jika tidak bersama Fred, seringkali wajahnya terbayang, jantungku juga berdetak. Huwaaa! Terbayang lagi!
Apa, sih, sebenarnya? Masa kutukan? Berarti benar Vampire itu bisa mengutuk? Tapi kenapa Fred mengutukku? Apa aku telah berbuat salah sampai membuatnya mengutukku?
~ xXx~
"Hanya sampai sini?"
Kuroi mengerutkan keningnya, tak yakin pada buku di tangannya. Meskipun begitu, berapa kalipun ia membalik lembar-lembar halaman pada buku itu, memang hanya sedikit tulisan yang ada di dalamnya. Kuroi menutup buku di tangannya, ia menghela napas panjang sambil menatap langit-langit ruangan.
"Benar-benar mengecewakan, masa aku menyelam di lautan hanya untuk beberapa lembar tulisan? Bahkan isinya hanya tentang curhatan gadis biasa," gerutu Kuroi kesal dan kecewa, kemudian pemuda itu merenggangkan tubuhnya sambil berdiri.
"Kurasa aku perlu istirahat ...," gumam Kuroi, dengan santainya ia melempar asal-asalan buku di tangannya sambil melangkah keluar.
Dari gubuk kecil yang terlihat kumuh dan tak terawat, ternyata tak ada yang mengira bahwa itu menjadi tempat tinggal Kuroi. Bahkan musuh sekalipun. Meskipun begitu, Kuroi tetap bersiaga, tak mungkin akan selamanya gubuk miliknya ini selalu aman.
Kuroi menuruni anak tangga menuju tanah, dengan tenangnyaia berjalan di atas rerumputan menuju danau kecil berbekal cahaya dari sinar pantulan rembulan dan gemerlapnya kunang-kunang.
"Sungguh sayang jika hutan ini juga akan dibabat habis oleh manusia." Kuroi memejamkan matanya, terbayang kembali ingatannya saat melihat para manusia yang menebang pepohonan, menggundulkan hutan, merusaknya, membunuh tumbuhan penghasil oksigen yang dibutuhkan oleh mereka sendiri.
Sungguh Kuroi tak mengerti, kenapa manusia terus melakukan itu? Jika memang beralasan kekurangan tempat tinggal, kenapa tidak bunuh saja manusia yang menganggur? Atau manusia yang serakah akan harta. Mereka tak berguna! Lagipula, apa salahnya? Jumlah manusia sudah terlalu banyak, tak masalah jika disingkirkan satu per satu.
"Itulah salah satu hal yang menjadikan kita tak bisa bertemu, Naruto." Kuroi membuka kembali matanya, tepat di saat ia berhenti melangkah, berdiri di tepi danau sambil memperhatikan sekian banyaknya kunang-kunang berterbangan.
Sungguh indah, tak bisa dilukiskan. Cahaya lembut dari rembulan kembali terpantul dari danau, seperti cermin. Bunga-bunga liar yang mekar di malam hari ikut memperindah, menghiasi tepi danau. Suara serangga tak mau kalah, ikut serta memainkan suara seperti musik lembut.
Kuroi tak dapat membayangkan apabila seandainya danau ini menghilang, dilapisi oleh lantai keras yang dingin. Angin sejuk yang alami, diganti dengan angin buatan dari mesin. Harum segar rerumputan dan dedaunan, terganti dengan harum bau parfum buatan manusia.
Segalanya tak ada yang alami.
Itulah yang dibenci oleh Kuroi apabila ia harus berbaur di kalangan manusia, ia begitu benci saat-saat itu.
"Jika saja bukan karena aku harus menjagamu, aku tak akan pernah sudi berdekatan dengan manusia, Naruto ..."
Kedua mata Kuroi terpejam lagi untuk yang kedua kalinya, kali ini, terbayang wajah pemuda sebayanya yang berkulit tan dengan garis tanda lahir di pipi disertai rambut perak. Sungguh berbeda dengan kulitnya yang pucat dan rambut yang berwarna hitam.
"Kenapa kau harus membenci makhluk imitasi, Naruto ...? Apakah makhluk imitasi itu benar-benar rendahan ...? Apakah makhluk imitasi jauh lebih rendah dari manusia yang seenaknya menghancurkan alam, serakah, dan begitu bejat ..."
Tak sadar, mutiara bening mulai meleleh. Ibarat sungai, mengalir dari celah kecil, turun perlahan seperti air terjun. Hingga jatuh ke tanah seperti hujan. Di tengah-tengah keheningan malam, Kuroi bernyanyi, ditemani suara musik serangga.
Bintang-bintang di langit
Apa kabar dirimu?
Tempatmu tinggi di langit
Bintang-bintang di langit
Apa kabar dirimu?
xXx
Sasuke mengacak rambutnya, malam ini ia terlalu malas untuk bangun. Rasanya ia masih terlalu lelah, pemuda itu masih ingin melanjutkan tidurnya yang nyenyak. Sungguh, bukankah dirinya sudah terlalu lihai menghindari peluru perak? Mengapa ia masih harus mengikuti pelatihan yang membosankan itu?
Oh, sudahlah. Tak berguna terus-menerus dipikirkan.
Dimulailah rutinitas sehari-hari Sasuke. Dimulai dari membersihkan diri dari sisa-sisa makan malamnya, mengganti bajunya dengan baju berwarna hitam kelam kebanggaannya, barulah dirinya beranjak keluar dari kamarnya.
Seperti biasa, suasana semarak nan ramai menjadi pemandangan sehari-hari. Sasuke memandang jijik pada makhluk sejenisnya yang sedang memakan hidangannya, cepat-cepat ia menambah laju langkahnya menuju bangunan tua yang cukup besar. Terletak di tengah-tengah hutan, sulur-sulur tanaman menghiasi sekitar.
Cih, Sasuke benci melihatnya. Ia lebih suka bangunan megah dengan dinding kaca, lantai keramik dingin, putih bersih. Seperti yang sering dilihatnya di antara bangunan kalangan manusia. Sungguh ia sangat kecewa saat sarannya untuk mengubah rupa bangunan di area ini ditolak para tetua.
Apa salahnya? Rasanya kuno dan terlantar sekali harus bertempat tinggal di daerah hutan belantara, begitu miris. Tak terhormat sama sekali. Curang sekali kaum manusia. Bahkan di malam hari, mereka sama sekali tak kegelapan karena bantuan cahaya buatan yang disebut 'lampu'.
Memang, Sasuke tahu jika berbuat sesuatu yang menyerupai manusia, takutnya populasi mereka akan diketahui oleh manusia. Itu berbahaya, ehem! Menurut para tetua. Huh, mereka hanya para orang-orang paruh baya yang penakut. Jika ketahuan, lawan saja! Habisi sekalian!
Terlalu banyak berpikir, tak sadar Sasuke berpapasan dengan seseorang.
"Selamat malam, Sasuke. Kau bangun cepat hari ini," salam rekan kerja Sasuke, tak lupa mengangkat tangannya sebagai isyarat. Sasuke nyaris tersentak, namun kembali memasang tampang datarnya, barulah ia membalasnya dengan lambaian tangan dan gumaman kecil.
"Hn."
"Huh, sombong sekali. Mentang-mentang kau yang meneruskan jejak leluhur kita," ledek rekan kerjanya.
"Jangan sampai kau menyebut nama pengkhianat itu, Neji," tegur Sasuke dingin.
Neji tersenyum geli, "Tentu tidak. Itu nama yang terlarang di sini, tak akan kusebut. Sana, kau sudah ditunggu para tetua. Katanya mata-mata kita sudah bertemu dengan wakil Rusionette," suruh Neji.
Sasuke mengerutkan kening, "Oh, sudah? Cepat sekali," komentar Sasuke.
Neji mengangkat bahunya, "Kudengar, wakil itu memang sengaja menampakkan diri."
"Pasti dia sangat bodoh ..." Sasuke memutar kedua permata obsidiannya dan beranjak pergi meninggalkan Neji.
"Jangan sampai bertengkar dengan para Tetua, ya~" pesan Neji dari kejauhan. Sasuke menjawabnya dengan decihan kesal, sukses membuat Neji kembali tertawa geli.
Kembali Sasuke mempercepat langkahnya, kali ini beda dengan keadaan seperti hari-hari sebelumnya. Tak membutuh waktu lama untuk mencapai bangunan, dengan agak terburu-buru, Sasuke memasuki bangunan. Jarang-jarang ada kabar bagus yang bisa didapat, kalaupun ada kabar, hanya kabar tak berguna. Menurut Sasuke.
Mendadak, Sasuke mengendus wangi masakan dari tengah-tengah ruangan. Hm ..., baru baunya, bau daging bakar. Tumben sekali, biasanya hanya bau daging mentah saja, mungkinkan terjadi sesuatu yang berbeda kali ini? Semacam ..., info baru mengenai lawan-lawan mereka?
BRAK!
Dengan begitu kasarnya, Sasuke mendobrak pintu keras-keras hingga menimbulkan bunyi dentuman besar. Cukup keras untuk mengejutkan semua orang yang berada di dalam ruangan tersebut. Benar saja, banyak yang terkejut dan langsung menengok ke arah pintu. Terutama para Tetua.
"Sasuke! Jangan seenaknya mendobrak pintu!" Bentak seorang Tetua, bahkan beliau sampai menggebrak meja.
Tanpa memperdulikan sang Tetua, Sasuke dengan cueknya berjalan tegap menuju kursinya. Namun, pandangan matanya mengarah pada seseorang yang duduk di kursi lain dan menggunakan jubah, di depannya tersedia sebuah bungkusan. Di sebelahnya, duduk seorang pemuda sebayanya yang diketahui oleh Sasuke mata-mata yang diturunkan untuk mencari dan mengawasi wakil Rusionette yang baru.
"Ada info baru?" tanya Sasuke, langsung ke inti. Otomatis menambah amarah para Tetua, terutama Tetua yang membentaknya tadi.
"SASUKE! LANCANG SEKALI KAU! DENGARKAN KATA-KATAKU!"
Sekali lagi, Sasuke sama sekali tak acuh dan justru lebih menghiraukan orang berjubah itu. Terpaksalah beberapa orang yang bertugas menjaga tempat itu berusaha menenangkannya.
"Sebenarnya bukan informasi mengenai musuh, melainkan sebuah catatan yang ditinggalkan oleh seorang Rusionette tentang leluhur kita yang berkhianat," terang sosok tersebut, dari balik tudung jubahnya, ia melirik ke sebelahnya.
"Catatan ini kudapatkan saat mengunjungi wilayah para raksasa. Bersama adikku, kami memasuki kediaman kastil mereka," sambungnya.
Sasuke mengangkat sebelah alisnya, "Huh? Raksasa? Kenapa ke sana?" tanya Sasuke heran.
Mata-mata tadi, yang juga diketahui adik dari orang berjubah itu segera menjawab, "Karena aku sempat mendengar percakapan sekilas dua orang Rusionette dari gedung sebelah di sekolah. Mereka sempat membicarakan akan mengunjungi kenalan mereka, seorang raksasa. Oleh karena itu, aku mengirim pesan pada kakakku, dan kami memasuki wilayah para raksasa."
"Kenapa bertindak nekat?" tanya Sasuke lagi.
"Bukan hal aneh jika makhluk terlatih seperti kita nekat, 'kan? Lagipula, jika harus berencana, pasti akan terlalu lama. Bisa jadi malah keburu dicurigai," jawab mata-mata tersebut mantap.
"Kerja bagus." Sasuke tersenyum puas.
Tudung jubah tersibak, memperlihatkan wajah seorang wanita, mirip dengan mata-mata yang disebutnya sebagai adiknya. Matanya berkilat tajam, disertai taring yang terlihat dari balik bibirnya. Wanita itu mendorong bungkusan di depannya ke arah Sasuke.
"Itu hasilnya. Silahkan diperiksa." Wanita itu membungkuk, mempersilahkan Sasuke mengambilnya.
Sasuke tak langsung mengambil, pemuda itu menopang dagunya, memandangi bungkusan tersebut. Dari bentuknya, sepertinya berisi buku tua. Diikat dengan tali kecil yang sudah usang. Entah apa isinya, pasti sudah sangat tua. Sasuke menerimanya. Dengan malas, ia membolak-balik bungkusan itu. Rasanya enggan melihat isinya, bagaimana jika ternyata isinya hanyalah resep masakan seperti yang sering dikoleksi para raksasa?
"Bukalah, Sasuke. Di dalamnya ada informasi mengenai raksasa dan peristiwa bersembunyinya kalangan Rusionette terdahulu dan leluhur pengkhianat kita di wilayah para raksasa," jelas salah satu Tetua, sukses membulatkan kedua mata Sasuke.
"APA?!"
Nyaris saja Sasuke menggebrak meja dan menjatuhkan bungkusan itu. Hei! Apa dia tidak salah dengar? Rusionette terdahulu? Bersembunyi? Wilayah para raksasa?! Pantaslah Tetua sampai menghidangkan daging bakar! Ini lebih dari sekedar informasi biasa!
Cepat-cepat Sasuke membuka bungkusan tersebut, untung saja bungkusnya tidak ikut sobek karenanya. Namun, saat melihat isinya, kening Sasuke kembali berkerut.
"Cih, huruf lama ... Belum diterjemahkan?" gerutu Sasuke jengkel.
Seorang Tetua mengangkat tangannya, "Huruf itu huruf yang digunakan oleh para raksasa, tetapi sekilas, ada beberapa huruf yang digunakan oleh manusia, pasti agar bisa dimengerti oleh kalangan Rusionette."
"Selain itu, ada beberapa gambar yang menggambarkan jelas situasi pada peristiwa itu." Tetua lain menambahkan.
Sasuke memijat keningnya, "Terlalu lama jika menunggu penterjemah yang menerjemahkan buku ini ... Bahkan Neji juga pasti membutuhkan waktu yang tidak sebentar," gumam Sasuke.
"Ho, kalau begitu kau saja yang melakukannya," tantang Tetua yang membentak Sasuke tadi.
Sasuke melirik sinis, "Aku?"
Tetua itu mengangguk.
Untuk beberapa saat, Sasuke terdiam. Memikirkan berapa lama waktu yang akan digunakannya. Hanya menunggu pasti bosan, lagipula kejeniusannya pasti akan lebih berguna daripada para penterjemah biasa.
"Baiklah. Aku yang akan melakukannya," tutur Sasuke, menyanggupinya.
"Hmp, lakukan sesukamu."
Sasuke menyeringai tipis, "Lalu, ada kabar apalagi?"
"Ada kabar bahwa organisasi Bijuu mulai bergerak."
"Bijuu? Organisasi yang selalu berbuat semaunya dan dicap sebagai pengkhianat itu?" terka Sasuke, mengingat-ingat ciri khas organisasi Bijuu. Berhubung organisasi ini sangat jarang bergerak, bahkan nyaris tak pernah semenjak mereka membuat keributan beberapa tahun lalu, hal ini membuat Sasuke terlalu malas untuk mencaritahu apapun mengenai mereka.
Lagipula keributan yang dibuat itu hanya sekedar ancaman belaka, ancaman yang tidak jelas. Pemimpinnya hanya mengancam bahwa tak boleh ada seorangpun yang mendekati'nya', siapa? Setelahnya, mereka tak pernah muncul lagi.
Sekarang, kenapa baru saja dikabarkan pergerakan mereka? Lagipula apa yang mereka lakukan?
Mengetahui jalan pikiran Sasuke, wanita itu segera melanjutkan, "Dari yang kudengar, mereka membagi diri menjadi beberapa kelompok. Pemimpin dan anggotanya menuju Inggris, dia sendiri yang menampakkan diri."
"Menampakkan diri? Apa dia bodoh? Atau memang sengaja?" Sasuke terkekeh sinis.
"Entahlah. Tak ada informasi yang jelas."
"Haaah~" Sasuke menyandarkan tubuhnya. Sejujurnya, dibandingkan mencari tujuan ataupun mencaritahu siapa yang dimaksud oleh pemimpin Bijuu, Sasuke lebih tertarik pada topeng-topeng yang digunakan oleh setiap anggotanya. Rasanya ... ia jadi teringat sesuatu setiap kali melihatnya.
Entah apa ...
Sasuke memejamkan matanya. Usai pertemuan, ia berencana untuk langsung meminjam buku-buku dan kamus tua yang disimpan di gudang buku. Semoga saja berjalan lancar.
"Salahmu telah berkhianat dan berpihak pada boneka ..."
xXx
Bintang-bintang di langit
Apa kabar dirimu?
Tempatmu tinggi di langit
Bintang-bintang di langit
Apa kabar dirimu?
Dengan ditemani secangkir coklat panas, Naruto menikmati waktunya bersantai sambil melihat bintang dan bernyanyi, untunglah salju tidak turun. Gaara sudah lebih dulu terlelap, mungkin kelelahan karena sudah seharian menemani Naruto membongkar buku-buku tua.
Untunglah Naruto sudah puas, atau lebih tepatnya kecewa karena tak menemukan apa yang dicarinya. Meski begitu, Naruto tetap tak bisa memaksa Gaara untuk mengikutinya. Apalagi Gaara sudah terlalu lelah mengurusi tugas-tugas yang sebenarnya harus dikerjakan Naruto sebagai wakil Rusionette.
Sebenarnya, Naruto bukannya tak mau, tapi ia terlalu malas untuk bertemu Ruionette lain selain Gaara. Sungguh Naruto sangat bersyukur Gaara mau mengerti dan membantunya.
Tentu bukan tanpa alasan Naruto dijadikan wakil. Pada awalnya, Naruto juga menerimanya, karena ia mengira akan mendapatkan informasi lebih banyak tentang Charys. Penyebabnya adalah ditemukannya buku note ini, yang entah kenapa berisi nama dan tulisan tangan Naruto tentang rencana merebut kembali wilayah hutan yang direbut oleh Werewolf dulu.
Padahal bukan Naruto yang menulisnya, bukan Naruto pula yang merencanakannya. Meskipun begitu, mau tak mau Naruto terpaksa mengakui buku itu adalah miliknya. Karena, di dalamnya juga terdapat petunjuk tentang Charys.
Jika Naruto tak mengakuinya, bisa saja buku catatan itu malah dibawa pergi para Tetua tanpa sempat dibaca oleh Naruto seluruhnya. Hih! Mana mau Naruto membiarkannya terjadi! Petunjuk apapun tentang Charys harus didapatkan!
Kenyataannya? Sungguh mengecewakan. Pada akhirnya, meski buku itu kembali ke tangannya, tak ada yang bisa diharapkan lebih dari buku ini, isinya hanya rangkuman sejarah Charys dan kesimpulan tentang kemungkinan adanya seseorang yang membantu Charys dalam meneliti.
Naruto membuka kembali buku catatannya, dibukanya lembar-lembar lama yang sudah ditulisi oleh penulis lain yang entah kenapa mirip dengan tulisan tangannya. Dibacanya kembali, terutama bagian yang terdapat nama Charys.
Sesekali, Naruto menghela napas. Rasanya percuma saja, tak ada hal yang bisa dijadikan petunjuk jawaban semua kesimpulan yang selalu terbayang di kepalanya. Sungguh ia sangat penasaran, tetapi?
Pada akhirnya, ia hanya mendapatkan kekecewaaan—lagi.
"Hei, Charys. Jika kau mendengarku, bisa kau jawab ini ...?" pinta Naruto, kepalanya ditundukkan.
"Benarkah kau meneliti seorang diri? Itu pasti bohong, 'kan? Tak mungkin kau bisa melakukannya sendirian. Darimana dan bagaimana kau bisa melakukannya? Huh, Shares juga sama. Pasti ada yang membantunya juga, mungkin orang yang sama dengan yang membantu Charys. Lagipula bukan hal aneh jika mau dibantu, Shares pasti mau, terlebih demi menjaga laboratorium itu. Pasti akan dijaganya dengan baik. Semua kenangan kakaknya ada di sana. Da—"
Naruto mengerjap-ngerjap, "... Ada di sana ... di mana?"
Sejenak, Naruto bergeming. Mengingat-ingat sejarah lama tentang Charys, lebih tepatnya, mengingat-ingat kata-kata yang tertulis pada buku-buku kuno tentang Charys dan rangkuman sejarah Charys pada buku note itu.
Bruk!
Buku di tangan Naruto terjatuh, serasa di sambar petir begitu ia menyadari sesuatu. Sesuatu yang selalu salah dipahami oleh para Rusionette! Termasuk dirinya sendiri!
Naruto ingat sesuatu. Ya, setiap kali ia membaca rangkuman itu, ia selalu membaca kalimat yang menjadi fakta. Ya! Ya! Suatu fakta bahwa Charys melakukan penelitian di sebuah laboratorium. Lalu, kapan ada tersimpan catatan atau petunjuk mengenai laboratorium itu? Tidak ada. Lebih tepatnya, memang tak ada Rusionette yang mengetahuinya. Bahkan di buku note itu.
"... Pertanyaannya bukanlah siapa yang membantu Charys ... Tetapi di mana dan siapa yang dibantu oleh Charys ...?"
xXx
To Be Continue
xXx
.
.
.
A/N: Wahahaha! Saya nggak nyangka bisa update cepat! Yah ..., mumpung ada bahan dan saya ada waktu, mungkin? Meskipun saya hanya bisa update melalui ponsel, sih. Salahkan signal di pegunungan yang tak pernah mau diajak kompromi ...
Nah, jangan bingung dengan wujud Sasuke, ya. Di Chapter pertama(setelah prologue), sudah saya sebutkan dia termasuk makhluk apa. Tentang raksasa, mungkin di chapter depan baru saya sebutkan sejarahnya.
Oke, maaf tak bisa berlama-lama. Langsung ke jawaban review, sekaligus untuk review chapter sebelumnya yang tak sempat dibalas karena kesibukan. Bahkan update fic juga seadanya kekurangan bahan ...
Untuk beberapa orang, sudah dijawab, ya. ^^
To NaYu Namikaze Uzumaki: Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk me-review.
Oh, tentang sejarahnya, ya? Sekarang saya balik pertanyaannya, percaya tidak jika saya bilang, nyaris sebagian besar didapatkan dari buku majalah Bobo yang kebetulan berisi artikel tentang makhluk fantasy? Selain itu, saya juga sempat mencarinya di wikip***a.
TING TONG! Tepat sekali, Anda benar. Akan tetapi, sampai alasan kenapa dia memakai nama Kuroi terungkap, di Fic ini akan tetap memakai nama Kuroi.
Kyuubi dan Shukaku? Bukan, kok. Mereka bukan werewolf.
Gaara? Coba baca kembali prologue, lihat kembali ciri-ciri Rusionette. Yang pasti, berbeda jenis dengan Naruto meski sama-sama Male. ^^
Sekali lagi, terima kasih untuk review-nya.
xXx
To Kuraki Shuiha: Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk me-review.
Boleh, kok. Sebetulnya itu scene yang pernah—sering—saya praktekkan.
Maaf saya terlalu lama menjawabnya, setahun lewat malah. Sekali lagi, terima kasih.
xXx
To Hatake1803: Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk me-review.
Hm ..., sebelumnya, sih, harusnya seminggu sekali. Tapi berhubung saya kekurangan bahan, jadi sekarang saya update jika bahan tentang makhluk fantasy-nya cukup, ya.
~ xXx~
Berhubung akan menjelang hari raya. Saya ucapkan mohon maaf lahir dan batin.
