Story By: Rue Arclight Sawatari
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Rate: M
Genre: Adventure, Fantasy, Action, Sci-Fi, Humor, Friend-Ship.
Warning: Typo, some mistakes EYD, OOC, beberapa kalimat frontal, Fanon, AU, Gender Bender.
A/N: Ada yang mengetahui beberapa hal mengenai makhluk fantasy atau sejenisnya? Boleh berbagi dengan saya? ^^ Oh, ya, berhubung bahasa sudah mulai berat, saya ubah Rating-nya.
xXx
Rusionette
xXx
Chapter 6
xXx
.
.
.
"AKU BENCI AIIIIIIIIRR!"
Kyuubi menutup telinganya, meski tak terlalu berguna. Sungguh volume suara Shukaku benar-benar tidak bisa ditandingi, nyaris saja gendang telinganya pecah. Yang mengherankan, kenapa orang sekalem dan tak banyak tingkah macam Shukaku bisa memiliki suara sekeras ini? Sekali lagi Kyuubi meragukan tipe makhluk seperti Shukaku, yang seharusnya hanya bersuara layaknya bunyi dentingan bel kecil.
Aduh, telinga Kyuubi mulai berdengung. Haruskah Kyuubi menghantam kepala Shukaku menggunakan batu karang di sekitar tepi pantai ini? Tak tahan Kyuubi mendengarkan teriakan Shukaku. Siapa tahu nantinya syaraf volume suaranya hancur saat dihantam nanti.
"DENGAR, KYUUBI! AKU TAK AKAN PERNAH LAGI MEMASUKI LAUTAN DAN BERAKHIR GAGAL SEPERTI INI! APALAGI LAUTAN YANG SEDALAM TADI! AKU TAK AKAN PERNAH SUDI MEMASUKINYA LAGI! KAU DENGAR, HAH?! LIHAT! SEKARANG AKU JADI BASAH KUYUP DAN KEDINGINAN! DAN JANGAN SEKALI-KALI BERNIAT MENGHANTAMKU, BRENGSEK!"
Nyali Kyuubi menciut, sungguh seram. Jika Shukaku sudah kalap, mana berani Kyuubi melawan. Saat masih normal, mending, enak dijahili atau ditipu. Kali ini, Kyuubi tak heran kenapa Shukaku bisa menjadi anggota organisasi Bijuu. Lha, dari teriakan saja sudah mengerikan. Meski Kyuubi agak heran, kenapa Shukaku bisa memiliki kemampuan itu.
Ngomong-ngomong, selain hal itu, ada hal lain yang membuat Kyuubi bingung, kok bisa-bisanya hewan dan makhluk fantasy yang biasa disebut Kyuubi bel berdenting dapat melahirkan Shukaku? Ah, dunia memang aneh, sangat malah lebih tepatnya.
"Maaf, maaf. Aku sendiri tak tahu akan gagal begini, atau mungkin makhluk aneh itu yang tidak mudah untuk dicari, melebihi perkiraanku," ungkap Kyuubi.
"Oh, kamu ingin lidahmu dipotong, Kyuubi-chan?" tawar Shukaku—ramah.
"Tidak. Terima kasih. Aku tak sudi," tolak Kyuubi spontan, tangannya dilambaikan di depan wajahnya.
Shukaku menghela napas panjang, "Lalu? Sekarang apa? Pulang?"
"Nggak. Berikutnya, menuju Danau Loch Ness," sahut Kyuubi.
"Sini, duduk di pangkuanku. Dengan senang hati kutenggelamkan kamu, Kyuubi-chan."
"Tidak. Terima kasih. Aku tak sudi. Lagipula kali ini aku hanya sendirian, kok," tolak Kyuubi baik-baik sambil menjauh lima langkah.
Shukaku mengangkat sebelah alisnya, "Memang apa lagi yang kau rencanakan? Menangkap Nessie?" cibir Shukaku.
Kyuubi menggeleng.
"Lalu?"
"Mengambil air danaunya," jawab Kyuubi santai.
"Sepertinya aku meragukan kewarasanmu."
"Memang kapan aku bilang aku waras?"
"Karena kamu, Kyuubi, satu-satunya anggota yang paling liar, dan teraneh, juga jenius. Buktinya, di hari pertama menjadi anggota, markas nyaris meledak."
"Siapa dulu~ namanya juga Tuan Kyuubi~"
Shukaku menutup matanya dengan sebelah tangan, entah kenapa Kyuubi selalu terlihat silau ketika membanggakan diri. Entah hormon darimana, atau memang sudah dari sananya begitu. Memang benar kata anggota mereka yang paling tua, tak akan cukup untuk sehari untuk membicarakan Kyuubi.
"Jadi, intinya kita berpisah di sini?" tanya Shukaku.
Kyuubi mengangkat bahu, "Jika kau mau mengikutiku, silahkan. Jika tidak, pergi saja sana," sahut Kyuubi.
"Santai sekali jawabanmu," komentar Shukaku.
Kyuubi nyengir mendengarnya.
"Baiklah. Lagi pula sepertinya aku akan mengunjungi adikku," ucap Shukaku, pemuda itu berdiri sambil memakai mantelnya.
"Oh, yang tak punya alis itu?" tebak Kyuubi.
BUK!
Kyuubi meringis saat tas perbekalan bagiannya dilempar Shukaku ke kepalanya, sakit juga.
"Jika sempat mungkin akan kucari dia dan memberikan foto terbarunya padamu," kata Shukaku yang tanpa merasa bersalah sedikitpun, berjalan pergi meninggalkan Kyuubi sambil melambaikan tangan pada Kyuubi yang berada di belakangnya.
"Bukan berarti kau boleh menghantamku dengan tas, Brengsek ...," gerutu Kyuubi kesal.
"Oh, ayolah. Setidaknya aku tidak sekurang ajar dia yang paling berani memanggilmu dengan nama aslimu." Itulah yang terakhir dikatakan Shukaku sebelum sayap transparan muncul di punggungnya. Bunyi dentingan bel yang sudah akrab di telinga Kyuubi kembali terdengar.
"Temui aku di Jerman tiga tahun lagi, Shukaku," pesan Kyuubi sebelum cahaya kecil di depannya menghilang.
"Lihat! Mama! Ada monyet!"
Naruko menoleh, dilihatnya seorang anak kecil sedang menunjukkan makhluk berbulu yang sedang memanjat pohon. Makhluk yang sama sedang duduk di rerumputan, memakan buah pisang di tangannya. Ibu dari anak itu tertawa, mereka berdua tertawa melihat tingkah makhluk itu.
"Monyet, ya ..." Naruko bergeming, gadis itu menoleh ke arah lain, tempat di mana binatang lain bergerak mengelilingi kandangnya masing-masing.
"Padahal kebun binatang ini begitu luas, tetapi setiap hewan tak punya tempat yang lebih luas dari kandangnya." Naruko tersenyum misterius, tangannya mencatat sesuatu pada buku diary berwarna orange cerah kesayangannya.
Selesai mencatat, Naruko mengambil ponsel di sakunya. Memasangnya dalam mode camera, lalu memotret monyet dalam kandang tersebut.
"Nah, selesai. Sebaiknya aku pulang," gumam Naruko sambil menyimpan diary beserta ponselnya di dalam tas yang dibawanya.
Sambil bersenandung, Naruko berjalan keluar dari kebun binatang.
Naruko Uzukaze, seorang penulis Light Novel. Penulis muda yang telah seringkali menulis cerita dengan selipan suatu pesan tersembunyi berbentuk teka-teki, selalu ada pada setiap ceritanya. Bahkan meski hanya sekedar cerpen yang tak lebih dari seribu kata.
Terkadang teka-tekinya tentang seekor hewan, terkadang juga sejenis masakan suatu tempat. Bila ada pembacanya yang berhasil memecahkan teka-tekinya, maka Naruko akan mengirimkan hadiah padanya.
Sama seperti saat ini.
Empat jemari Naruko menari dengan lincah, mengetik dan merangkai kata menjadi kalimat panjang hingga tercipta suatu paragraf. Sementara itu, tangan kiri Naruko memegang cangkir berisi cairan kecoklatan yang mengepulkan uap.
\Jangan bilang kalau kamu membuat seri terbaru ...\
Naruko menguap, diliriknya layar yang keluar dari ponselnya. Wajah editornya terlihat garang, diam-diam Naruko menahan tawa melihatnya.
"Tenang saja, seri yang sebelumnya sudah selesai, kok. Lagipula apa salahnya jika aku membuat serial baru?" Naruko nyengir, lalu kembali fokus mengetik. Dari layar hologram, editornya, Ino, menghela napas panjang.
\Naru-chan, memang bagus jika kamu punya serial baru. Tapi ...!\ Terlihat dari layar, Ino menunjuk ke belakang Naruko. \Lihat itu! Kamarmu semakin berantakan! Bagaimana jadinya jika kamu sakit?\
"Oh, ayolah. Itu tak ada hubung—"
\ADA!\
Naruto terhenyak, cepat-cepat ia matikan dan mendorong ponselnya menjauh hingga tepi meja. Gawat jika editornya sudah mulai kalap, bisa dua jam tanpa henti mengomel.
"Berisik sekali dia, terserah aku mau menulis apa, 'kan?" gerutu Naruko. Gadis berambut pirang itu menghembuskan napas panjang, lalu menghirup perlahan coklat hangatnya.
TEK!
Naruko tersenyum, ceritanya sudah mencapai setengah jalan. Berarti ini saat baginya untuk menunjukkan kebolehannya.
"Kita lihat, kali ini siapa yang akan berhasil memecahkan teka-teki ini?" Senyuman terganti dengan seringaian licik.
Naruko membuka buku diary-nya, membacanya sebentar, lalu mengetik beberapa paragraf lagi.
" ... saat kamu berada di suatu tempat, apa yang akan kamu lakukan? Apa reaksimu nanti? Apa yang akan terpikir olehmu? Apa yang akan terjadi pada dirimu?
Akankah kamu mengingat siapa dirimu? Akankah akal sehatmu bekerja? Akankah kamu bertindak? Akankah kamu bergerak? Akankah kamu berpikir?
Menurutku, kamu sudah 'mati'.
Bayangkan, ada seseorang yang berada di tengah-tengah padang pasir, padang rumput gersang tanpa hawa kehidupan, jalan yang dipenuhi rongkosan dan bebatuan hingga kegelapan yang memenuhi penglihatan tanpa adanya cahaya.
Jika kamu berpikir positif, kamu akan mengira orang tersebut akan tetap berjuang hidup, membangun hal yang baru. Segala hal yang bersikap positif.
Hasilnya? Happy Ending.
Namun, benarkah demikian?
Bagaimana semasa hidupnya dulu, orang tersebut dimanja oleh segala kenikmatan dan kenyamanan dunia yang tak abadi? Nikmatnya masakan lezat koki, asyiknya bermain game, senangnya mengakses dunia maya, hingga lainnya. Tanpa pernah sekalipun berpikir jika nantinya ia akan mengalami hal yang begitu mengerikan seperti itu.
Mengerikan? Ya! Sadarkah kamu bahwa hal itu sangatlah mengerikan? Ke mana kenikmatan masakan yang selalu dirasakannya? Ke mana game yang disukainya? Ke mana semua fasilitas menuju dunia maya yang selalu digunakannya dengan sesuka hati?
Hari ini pun, Yuuko berjalan tanpa ..."
Tangan Naruko berhenti bergerak, gadis itu merenggangkan tubuhnya. Melelahkan juga, mungkin ia perlu istirahat sekarang. Lagi pula, ia sudah terlalu lama duduk di kursinya. Lagipula tak baik berlama-lama berhadapan dengan layar. Naruko mengambil cangkir coklatnya, diminumnya coklat yang sudah mendingin itu.
"Hmp~ capek~"
Tepat saat seluruh isi cangkir habis, Naruko berlalu ke ranjangnya. Rasanya ia terlalu malas untuk menyempatkan diri mencuci cangkir, ranjang yang dilengkapi bantal empuk dan selimut hangat jauh lebih menggoda.
"Saatnya tidur~ aku datang, dunia mimpi~" bisik Naruko seraya berbaring di ranjangnya. Tangannya meraih sebuah guling, dipeluknya guling yang terasa dingin karena udara luar.
"Kuharap kamu tidak mengganggu tidurku hari ini. Sayangku, peliharaanku yang manis."
Pagi-pagi sekali, Gaara sudah terjaga dari tidurnya. Berbeda dengan kawan sekamarnya yang masih tertidur lelap dengan gayanya yang konyol, disertai banyaknya buku-buku yang mengelilinya, bahkan nyaris menyelimuti seluruh tubuh Naruto. Gaara benar-benar tak habis pikir dengan Naruto. Untung saja mulai hari ini dan beberapa hari ke depan, Gaara sudah meminta izin tak masuk sekolah bersama Naruto dengan alasan akan mengunjungi keluarga mereka di luar kota yang sedang sakit. Tak ada salahnya sesekali berbohong, 'kan? Toh, masalah tugas bisa diurus nanti setelah urusan Naruto selesai.
Gaara melirik jam yang menempel di dinding, masih sepagi ini, tentu pemuda berambut merah itu sempat untuk membuat sarapan sekaligus bekal untuk Naruto dan dirinya sendiri. Bekal? Mengingat saat Gaara membuka mata dan mendapati selembar kertas berisi permintaan Naruto untuk mengunjungi markas utama Rusionette pagi ini tanpa menyebutkan apa tujuannya, berarti nanti siang mereka tak bisa mencari makan. Naruto sudah menjadi perwakilan Rusionette, berarti mereka akan diseret ke ruang rapat secara paksa begitu tiba. Belum termasuk urusan Naruto yang tidak diketahui Gaara.
"Coba lihat ..."
Gaara membuka lemari tempat penyimpanan bahan makanan mentah, karena sibuk dengan urusan sekolah, Gaara tak sempat membeli bahan makanan. Naruto? Lupakan. Meminta Naruto berbelanja, sama saja menghabiskan uang anggaran untuk berkotak-kotak kardus ramen.
Meski Gaara tak masalah memakan ramen, Gaara tak akan pernah sudi makan ramen setiap hari.
Telur, daging asap, roti bakar, dan salad buah.
Kedengarannya lumayan enak, 'kan?
Gaara mengambil teflon, digorengnya beberapa buah telur menjadi telur ceplok. Masing-masing dibagi dalam dua piring berbeda, lalu ditaburi garam pada setiap telur. Berikutnya, Gaara memecahkan beberapa telur lagi dan mengocoknya dalam mangkuk kecil. Secara perlahan, dituangkannya dalam teflon, lalu menggulungnya perlahan menjadi tamagoyaki, yang nantinya akan digunakan Gaara sebagai bekal.
Berikutnya, membuat roti bakar. Berhubung hanya tersisa beberapa lembar, Gaara memutuskan untuk memanggang semua roti. Setiap roti diolesi mentega, lalu ditaburi butiran gula-gula halus sebelum mentega mencair karena panas roti. Wanginya menggelitik perut Gaara.
Memasak daging, memotong buah-buahan, lalu membuat bekal. Dengan demikian, tugas Gaara pagi ini selesai.
Kecuali membangunkan Naruto.
"Heran. Kukira kau masih tidur," tegur Gaara setelah berhasil mengontrol kekagetannya. Sungguh Gaara benar-benar shock ketika melihat Naruto sudah bangun dan kini tengah sibuk membongkar buku-buku sejarah. Kesurupan apa Naruto pagi ini? Sungguh tak mungkin sekali Naruto bisa bangun pagi sendiri.
"Oh, pagi, Gaara. Maaf, aku sedang sibuk," sapa Naruto selepas melirik Gaara sekilas sebelum kembali menyibukkan diri dengan buku-buku copy-an sejarah lama berbagai makhluk fantasy.
Gaara memutar bola matanya, berlalu dari kamar Naruto. Sepertinya pagi ini Gaara akan sarapan sendiri.
Sementara itu, Naruto membuka semua lembaran di setiap buku. Berulang kali hal itu dilakukannya, mencari-cari sesuatu di tengah-tengah tumpukan buku. Namun, seberapa banyaknya buku, ia tetap tak menemukan sesuatu yang dicarinya semenjak tadi malam.
Ya, ketika Naruto mengetahui suatu fakta dari pertanyaan yang ditemukannya tadi malam.
"Argh! Kenapa tidak ada informasi yang bagus, sih?!" Gerutu Naruto kesal, dibantingnya salah satu buku ke lantai. Akibatnya, debu-debu yang menempel menjadi berterbangan dan menggelitik hidung Naruto.
"HACHIM!"
Sial sekali.
"Naruto! Nanti saja dilanjutkan, mandi dulu sana! Sudah kusiapkan air hangat!" Seru Gaara dari luar kamar.
Naruto mengerang kecewa, sekaligus merasa sayang jika harus berhenti sejenak. Tetapi Gaara benar, dia belum makan sejak kemarin malam, apalagi seluruh tubuhnya kotor karena debu bekas aksinya membongkar tumpukan buku. Belum lagi kamarnya menjadi kapal pecah.
Mau tak mau, Naruto terpaksa harus membereskan semua kekacauan yang dibuatnya. Tak tega rasanya jika Gaara yang membereskannya selama ia berada di kamar mandi atau sarapan. Gaara sudah mau menemaninya saja sudah sangat baik, Naruto tak sanggup membayangkan apa jadinya dirinya kelak jika sejak awal Gaara tidak tinggal bersamanya.
Satu per satu, Naruto menyusun dan menumpuk buku-buku tersebut di pojok ruangan. Dibersihkannya debu-debu yang menempel, lalu menyapunya keluar, tak lupa menyusun bantal guling pada ranjangnya. Benar-benar melelahkan sekali, Naruto jadi bingung apa iya dengan membongkar buku saja bisa menyebabkan kekacauan seperti ini?
Oh, Naruto. Terkadang apa yang kita lakukan memang menghasilkan hal yang di luar dugaan.
Usai membereskan kamar, Naruto buru-buru menyambar handuk menuju kamar. Harus cepat, atau air hangat yang disiapkan Gaara keburu dingin, mana sudi Naruto mandi air dingin pagi-pagi begini.
Sedikit ngebut, Naruto mandi dan mengenakan baju hangatnya beserta sebuah sweater berwarna orange. Brr! Dingin sekali!
"Akhirnya datang juga," ucap Gaara begitu Naruto memasuki ruang makan, tepat setelah Gaara selesai menyuap potongan telur terakhirnya.
"Maaf," sahut Naruto singkat, lalu duduk berhadapan dengan Gaara. Di hadapannya, sarapan bagiannya masih tertata rapi, meski sudah tak hangat lagi. Entah kenapa Naruto agak menyesali kalimatnya yang menunda sarapan.
"Bekal sudah kusiapkan. Setelah menghabiskan sarapanmu, kita berangkat," kata Gaara sambil menghirup teh hangatnya.
Naruto mengangguk paham, "Itadakimasu."
Naruto melahap daging dalam satu suapan, mengunyahnya agak cepat. Begitu pula saat memakan roti, Naruto melipatnya menjadi berbentuk segitiga, barulah menggigit dan mengunyah cepat-cepat. Mungkin karena takut nantinya ia terlalu lama menghabiskan sarapan dan keberangkatan mereka akan tertunda. Gaara yang melihatnya menegur Naruto.
"Naru, makannya pelan-pelan, nanti malah tersedak."
Naruto menggeleng dengan mulut yang dipenuhi daging dan telur, "Hi-hid—Uhuk!"
Gaara menghembuskan napas pendek, benar-benar kawannya ini. Diambilnya cangkir gelas berisi teh manis dan disodorkannya pada Naruto. Cepat-cepat Naruto menerima dan meneguk isinya.
"Lihat, 'kan? Jadi tersedak."
Naruto hanya nyengir mendengarnya.
"Habisnya ... aku tak sabar lagi!" Seru Naruto bersemangat.
Gaara menaruh gelasnya yang sudah kosong, "Memangnya kenapa?"
"Charys tentunya," jawab Naruto, pemuda itu mulai memakan salad buahnya. Gaara bersidekap mendengarnya, dipandanginya mata kawan sekamarnya.
"Naruto ..."
"Hm?"
"Apa lagi yang mau kau cari? Ini yang kedua kalinya kau begitu bersemangat ke markas, itu aneh, Naruto. Namun, anehnya, setelah yang pertama, kau menjadi tidak bersemangat lagi jika harus ke markas, bahkan terkesan kecewa. Seolah-olah, apa yang kau inginkan tidak ada." Gaara memicingkan matanya pada Naruto, curiga.
"Tadi malam, kau terlihat kecewa saat kita kembali ke apartemen. Namun, hari ini, pagi-pagi kau bangun dan langsung membongkar buku copy-an sejarah. Seolah-olah ada yang menarik perhatianmu, atau kau menyadari sesuatu."
Gerakan tangan Naruto berhenti, nyaris saja ia akan menyuap buah apel ke dala mulutnya. Uh, bagus, Gaara mulai menginterogasinya lagi.
"Aku sudah lama mengenalmu, bahkan kita nyaris tak terpisah. Tentu aku sudah terbiasa dengan sifatmu yang tak menyukai Rusionette lain, meski awalnya kau selalu menyangkalnya. Namun, semenjak kau memiliki buku note aneh itu. Aku tahu, itu bukan milikmu. Selama ini aku tak pernah melihatnya, apalagi mengingat kau selalu ceroboh meletakkan barang-barangmu. Selain itu, rasanya aneh kau bisa membuat kesimpulan dengan data-data seadanya mengenai Charys. Sebelumnya kau bukan termasuk perwakilan Rusionette, dan hanya mereka yang termasuk anggota resmi yang bisa mendapat copy-an segala macam hal tentang makhluk fantasy yang lebih lengkap daripada buku-buku biasa tentang Rusionette yang biasa didapatkan oleh seorang Rusionette ketika berumur lima tahun. Aneh jika ada data-data yang seharusnya hanya diketahui anggota resmi, tercatat pada note itu."
"A ... itu ..." Naruto menggaruk pipinya, bingung menjawabnya.
"Jadi ..., Naruto ..." Gaara menopang dagu dengan tangannya, "Katakan ... apa yang sebenarnya ..."
STRIKE!
Hih! Singkirkan wajah menyeramkan itu, Gaara! Rasanya suhu ruangan jadi semakin rendah!
Naruto menelan ludahnya, cepat-cepat ia habiskan salad-nya dan meminum tehnya hingga tetes terakhir. Gaara diam, menunggu jawaban.
"B-baiklah, aku jelaskan ..."
Gaara mengangguk, dan menurunkan tangannya. Naruto mengambil napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya secara perlahan. Rusionette perak itu merogoh saku celananya, mengeluarkan note-nya.
"Awalnya, hal ini memang bermula dari buku catatan ini. Memang benar yang kau katakan, Gaara. Ini memang bukan punyaku," terang Naruto sembari menunjuk note tersebut.
"Lalu?"
"Bukannya aku tak mau mengembalikannya, tetapi buku ini sudah terlanjur dikira sebagai buku milikku. Sejujurnya aku sendiri heran, kenapa tulisannya bisa begitu mirip denganku, isinya penuh informasi tentang Charys yang ingin kuketahui, bahkan ide konyolku dulu tentang merebut kembali wilayah hutan ..."
"Telah dikembangkan sedemikian rupa hingga mencapai keberhasilan seperti yang telah terjadi?" sambung Gaara.
Naruto mengangguk mengiyakan.
"Oleh karena itu, kau mengakui bahwa buku note itu adalah milikmu? Menerima posisi sebagai wakil Rusionette, untuk mendapatkan informasi lebih lanjut tentang Charys. Namun, ternyata tak ada informasi baru karena semuanya sudah ada dalam note itu?" terka Gaara.
Sekali lagi, Naruto mengangguk.
Gaara memejamkan matanya, sebelah tangannya memijat keningnya. Entah pusing, atau apa. Dalam posisi itu, Gaara berucap.
"Pantas saja rasanya aneh, lagipula gaya bahasanya agak berbeda denganmu."
Naruto tertawa kering, ia jadi merasa bersalah mencoba merahasiakannya dari Gaara. Tak terlalu lama, karena mendadak, Naruto teringat sesuatu.
"Ah! Aku ingat!"
"Ng?" Sebelah mata Gaara terbuka, mengerling ke arah Naruto yang memegang dagunya sendiri sambil membuka lembar-lembaran note itu.
"Ada hal yang terpikir olehku kemarin malam, Gaara. Hal itu yang membuatku ingin ke markas. Oh, lebih tepatnya, mengunjungi bangunan tua yang diaku-akui sebagai laboratorium yang pernah digunakan oleh Charys yang terletak di belakang markas," terang Naruto.
Gaara mengernyit, bingung. Kedua matanya terbuka, "Apa maksudmu diaku-akui, Naruto? Memangnya ada apa dengan laboratorium itu?" tanya Gaara bingung.
Naruto menggeleng, raut wajahnya mengeras, "Bukan, Gaara! Itu bukan milik Charys!"
"Hah?" Gaara mengangkat sebelah alisnya, kurang memahami. Naruto tak langsung menjelaskan, justru menyodorkan buku note itu pada Gaara.
"Di dalam catatan ini, sedikit pun tak disinggung bahwa laboratorium itu adalah milik Charys. Hanya disebutkan, Charys melakukan penelitiannya di laboratorium. Bukankah itu aneh? Dari semua catatan sejarah, semuanya mengakui bahwa laboratorium milik Charys!" Naruto mengambil napas, sepertinya ia terlalu bersemangat menjelaskan.
Gaara hanya diam, membiarkan Naruto selesai menjelaskan analisisnya tentang Charys.
"Nah, selain itu, apa tidak aneh Charys bisa membuat kesimpulan?" tanya Naruto. Gaara menelengkan kepalanya, meminta penjelasan.
"Aku, Rusionette perak. Gaara, Rusionette hitam. Kecerdasan para Rusionette dalam memikirkan sesuatu di bawah kecerdasan seorang manusia, meski kecerdasan Rusionette male lebih baik daripada Rusionette female yang terkesan polos. Nah, anehnya kita bisa berkembang sampai saat ini. Itulah yang ingin kuketahui, Gaara. Apa yang menyebabkan Charys bisa membuat kesimpulan dari penelitiannya, da—"
"—Dan mengapa Charys bisa memiliki laboratoriumnya sendiri, 'kan?" sambung Gaara sekaligus memotong penjelasan Naruto. Naruto mengerjap-ngerjap, terkejut pada ucapan Gaara.
Gaara memegang dagunya, "Yang kau katakan benar, Naru. Hal itu memang aneh ..."
Naruto tersenyum dan menjentikkan jemarinya, "Benar, 'kan! Apalagi jika digabung, maka akan muncul pertanyaan ..."
"... Di mana dan siapa yang dibantu oleh Charys ...? Begitu bukan, eh, Naruto?" sambung Gaara.
"Gotcha!"
Gaara memejamkan matanya, memikirkan penjelasan Naruto. Memang benar, seharusnya Rusionette perak murni seperti Charys tak mungkin bisa berpikir sebegitu jauh. Selain itu, Charys tak berasal dari keluarga yang berada, bagaimana caranya ia bisa membangun laboratorium beserta peralatannya?
"Ayo, Gaara! Waktunya berangkat! Kit—"
"Tunggu dulu, Naruto," cegah Gaara sebelum Naruto sempat menariknya.
"Kenapa lagi?" tanya Naruto, tak sabar.
Gaara menoleh ke arah Naruto, "Kurasa pertanyaannya tak hanya itu, dan keanehannya tak sesederhana itu."
Naruto mengerutkan keningnya, tak mengerti. Memang apalagi pertanyaannya selain itu? Lagi pula ada keanehan apalagi? Gaara berdiri, namun pandangannya tetap mengarah langsung pada Naruto.
"Adik Charys, dikatakan meneruskan jejak kakaknya. Mengapa dia mau melakukannya?" tanya Gaara.
"Hah?" Naruto memandang Gaara skeptis, memang apa yang aneh dari itu?
"Apanya yang aneh? Jelas-jelas karena itu peninggalan kakaknya, 'kan?" jawab Naruto.
"Itulah anehnya. Bukankah jelas barusan kau bilang laboratorium itu bukan milik Charys? Berarti tak ada alasan bagi Shares untuk melanjutkan pekerjaan kakaknya, 'kan?"
Naruto terdiam mendengarnya, kedua permata biru sapphire-nya membulat sempurna. Gaara melanjutkannya.
"Beda cerita jika memang siapa yang ditanyakan pada pertanyaan tadi ..., membujuk Shares untuk melanjutkan pekerjaan kakaknya ... Oh, mungkin seharusnya pertanyaannya diganti."
Naruto menelan ludahnya.
"... Makhluk apa yang membuat Charys dan Shares, bekerja padanya ..."
Sasuke menegakkan telinganya, mendengarkan setiap suara pada tengah-tengah lembah pegunungan. Sesekali, Sasuke mengendus bau tak enak dari kejauhan. Ya, bau dari suatu makhluk yang menyerupai manusia, namun memiliki ukuran tubuh yang jauh lebih besar dan terkesan mengerikan. Ukh, mereka bau sekali.
Tangan Sasuke membuka sebuah gulungan, dibacanya dengan teliti hasil dari pekerjaannya selama seharian penuh tanpa tidur hanya untuk menerjemahkan buku yang diperolehnya kemarin. Meski tak semuanya dapat ia terjemahkan, namun sebagian isi dari buku itu berhasil ia ketahui.
Yang membuat agak kecewa.
Buku itu berisi legenda sejarah umum tentang raksasa, makhluk yang menyerupai manusia atau hewan. Umumnya berukuran jauh lebih besar dari makhluk yang ada di permukaan bumi. Dari buku-buku sejarah yang sering dibaca oleh Sasuke, pemuda itu mengenal raksasa adalah makhluk yang bodoh, bengis, suka mengganggu, dan memakan manusia.
Memang, ada beberapa buku yang berasal dari teori manusia bahwa raksasa juga dikenal sebagai makhluk yang pernah berdampingan dengan manusia. Seperti dongeng gulliver yang pernah dibacanya semasa kecil.
Namun, dalam buku ini, para raksasa itu disebutkan sebagai makhluk yang suka memangsa anak kecil. Karena daging anak-anak jauh lebih segar dan lebih empuk dibandingkan manusia yang sudah dewasa.
Itulah alasan mengapa Sasuke berada di sini. Di balik hutan, mengawasi desa tersembunyi para raksasa. Dengan matanya yang dikenal dengan nama sharingan, yang mampu melihat lebih jelas dibandingkan makhluk sejenisnya, Sasuke dapat mengamati desa tersebut dengan seksama.
Para raksasa itu, berbaur dengan hewan dan makhluk fantasy lain. Terutama anak-anak dari kaum Rusionette.
Padahal selama ini semua makhluk fantasy mengira bahwa Rusionette dan raksasa itu menjalin hubungan baik karena menjadi langganan bisnis bahan makanan, mengingat tak semua makanan atau bahan pangan mentah hasil manusia dapat dikonsumsi. Terlebih banyak bahan pangan yang telah diolah menjadi sesuatu yang menurut Sasuke, racun.
Ih, Sasuke bergidik saat ia mencoba meminum susu dan daging olahan para manusia. Nyaris saja ia mati konyol karena keracunan. Berterima kasihlah pada Neji yang telah menyelamatkannya, meski Sasuke tak sudi mengakuinya.
Mungkin benar Sasuke terlalu cepat memeriksa, tetapi ia ingin melihat sendiri, bagaimana hubungan raksasa dengan anak-anak saat ini.
Kenyataannya berbeda dengan yang tertulis di buku itu.
Apa buku ini palsu? Ataukah ada hal yang disembunyikan pada bagian yang belum diketahui oleh Sasuke? Tetapi, tulisan di buku itu semakin lama semakin sulit dimengerti. Seolah-olah sengaja dibuat demikian.
"Ini benar-benar aneh ... Raksasa-raksasa itu sama sekali tak tertarik untuk memangsa anak-anak yang berkeliaran di sekeliling mereka, bahkan malah bermain dengan riangnya bersama mereka."
Di dalam hutan yang sama. Taring seseorang muncul begitu ia melihat sosok Sasuke dari kejauhan.
xXx
To Be Continue
xXx
.
.
.
A/N: Ya Tuhan! Kelas dua belas itu benar-benar neraka! Maaf saya terlalu lama update. Fic ini memang membutuhkan konsentrasi tinggi dan perkiraan besar untuk membeberkan yang mana saja teka-teki yang akan ditunjukkan pada setiap chapter.
Ngomong-ngomong, fic ini akan minim scene action, lho. Justru akan lebih banyak kalimat-kalimat yang dipenuhi teka-teki, silahkan tebak sendiri. Kelanjutan cerita akan tergantung dari siapa saja yang dapat memecahkan setiap pertanyaan dan keganjilan yang ada di fic ini. Anggap saja ini adu kecerdasan. Tenang, saya sendiri masih perlu banyak belajar untuk membuat teka-tekinya.
Reply Review
To dwinur. halifah. 9: Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk me-review.
Sudah dilanjut, semoga suka untuk chapter ini. ^^
To NaYu Namikaze Uzumaki: Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk me-review.
Sama-sama, terima kasih juga untuk review-nya.
Sama, dong. Saya juga sering lupa yang mana saja info yang sudah disebutkan di fic ini.
Ping Pong! ^^
Tepat sekali, Kyuubi dan Shukaku adalah anggota dari organisasi Bijuu. Hm ..., sayang sekali, yang dimaksud bukanlah Naruto.
Oh, ya? Kalau begitu saya beri pertanyaan, Shukaku termasuk makhluk apa?
Update cepat itu hanya mitos. Mungkin kemarin saya hanya kesurupan.
Berhubung saya sudah kelas tiga SMK, maka waktu luang saya semakin sedikit. Doakan saya agar Writer Block tidak mengunjungi saya, ya.
