THE STORY ABOUT YIXING LIFE

Author -Takii_yuuki-

Genre [ angst, drama, hurt/comfort, yaoi,family, friendship, romance]

Main cast :

Zhang Yixing/Lay,

Wu Yifan/Kris

Xi Luhan

Oh Sehun

Kim Junmyeon

and Other Character...

Rating : T to M

(untuk saat ini T dulu lah, maaf berubah)

Length : Chaptered

Dislaimer : mereka milik orang tua mereka dan SMent, saya hanya pinjam nama.

Warning : cerita ini mengandung unsur boys x boys,M-PREG! DON'T LIKE DON'T READ, Shonen-Ai, BL, Typo(s), typo bertebaran, ooc, author masih amatiran. Mohon maaf. #deepbow kalau tidak suka silahkan di[x] ya, jangan bash author ya, saling menghargai. author menulis juga gak mudah. terima kasih pengertiannya.

Terinspirasi drama ICE ADONIS, dengan sedikit perubahan alur cerita, cerita ini menjadi versi Yixing.

#Kemarin saya menulis Yoora itu namja tapi seteah dipikir2 dia lebih cocok jadi Yeoja. maaf kan saya.

Happy reading...

CHAPTER 7

.

.

Sehun berjalan tergesa-gesa saat ia keluar dari rumah sakit, ia mengambil ponselnya dan mencoba menelpon seseorang tapi beberapa kali men-dial tapi tak kunjung diangkat.

"Angkat Chen, Come on..!" Sehun terus mencoba hingga ia memasuki mobilnya.

.

.

Gajima han madil motanda i baboga/Naega wae i baboman bwasseulkka? Cham motnan neol/ Baby catch me. Catch me. Catch me, girl, tonight/Tteona beorigi jeone (I'm serious I'm serious)

Dering ponsel Chen terus berbunyi saat Sehun menelponnya namun tidak mungkin ada yang menjawab karena Chen sudah tak sadarkan diri sejak 15 menit yang lalu.

.

.

Sehun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah Chen, beruntung saat itu sudah malam jadi lalu lintas sudah sepi. CKIT! Akhirnya setelah menempuh perjalanan sekitar 15 menit, ia pun sampai dirumah Chen.

Tok-tok-tok! Sehun mengetuk pintu namun tak ada jawaban. "Chen, Chen kau dirumah?" Tok-tok-tok! namun tak ada jawaban. Sehun mencoba menelpon dan ia mendengar suara ponsel Chen dari dalam. "Chen..! Chen..!" panggil Sehun sekali lagi. Sehun tak bisa menunggu lagi, ia mencoba membuka pintu rumah Chen namun terkunci. "Akhh terkunci. Chen.. kau di dalam." Tok-tok-tok! "Chen..!" panggilnya sekali lagi, "Baiklah. Maaf Chen tapi aku harus melakukan ini." Sehun mengambil ancang-ancang dan BRAKK! Ia menendang pintu rumah Chen dan akhirnya terbuka. "Chen.. Chen kau di dalam?" Sehun menerobos masuk dan mencari Chen.

"Chen.. kau di.. CHEN!" Sehun berlari menghampiri Chen yang bersimbah darah dan sudah tergeletak tak sadarkan diri di lantai dekat meja komputernya. "Chen.. bangun, kau kenapa? Chen.." Sehun mencoba membangunkan Chen namun tidak ada respon. "Kita harus ke rumah sakit." Saat ia akan mengangkat Chen, ia melihat sesuatu yang membuatnya membelalakan matanya.

"Kyungsoo-ya.."

.

.

.

At Hospital

Sehun terlihat mondar-mandir di depan ruang IGD, jas-nya kotor terkena darah Chen. Ia bingung haruskan menelpon Yixing atau menunggu kabar dari dokter yang saat ini memeriksanya.

CKLEK! Pintu IGD terbuka. Dokter Park keluar bersama Suster Kwon dan Suster Jang. Sehun segera menghampirinya dan menanyakan keadaan Chen. "Dokter Park, bagaimana dengan Chen? Apa yang terjadi dengannya?"

"Tuan Chen menderita kanker otak stadium 3, sekarang kankernya semakin berkembang dan mendekati stadium 4."

"Apa? kanker otak?" tanya Sehun terkejut.

"Benar Tuan Sehun, Tuan Chen menolak kemoterapi dan hanya mengkonsumsi obat-obat pereda rasa sakit." Sehun terdiam mendengar penjelasan dokter. "Jika begini terus, kemungkinan hidup Tuan Chen tak lebih dari 3 bulan." DEG! Sehun semakin tak bisa berkata apa-apa.

.

Sehun duduk di bangku ruang tunggu rumah sakit. Ia memikirkan Chen dan rekaman yang baru saja ia lihat. Sehun mengusap wajahnya kasar. Dia tidak bisa bertindak sendiri. Di tengah kekalutannya, Sehun mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.

Tut-tut-tut! PIP! "Yeoboseyo Xing…"

"…"

"Aku di rumah sakit. Bisa kah kau kemari."

"…"

"Chen, dia di rumah sakit sekarang."

"…"

"Nanti aku jelaskan disini Xing. Kemarilah."

"…"

"AKu tunggu." PIP! Sehun menutup teleponnya dan menyandarkan kepalanya di tembok kemudian memejamkan matanya sejenak.

.

.

"Sehun-Sehun…" samar-samar terdengar suara di telinga Sehun, Sehun pun membuka matanya dan melihat Yixing berlari menghampirinya kemudian duduk di sampingnya.

"Sehun, apa yang terjadi dengan Chen? Apa yang terjadi dengannya?" tanya Yixing panic.

"Kau sudah datang Xing?" tanya Sehun yang sudah sadar sepenuhnya.

"Begitu kau menelponku, aku langsung kemari. Apa yang terjadi dengan Chen? Kenapa bajumu berlumuran darah?" Tanya Yixing setelah melihat keadaan Sehun yang masih berlumur darah Chen.

"Chen, mengidap kanker otak stadium 3 dan sekarang memasuki stadium 4 karena dia tidak mau menjalani kemo."Jawab Sehun.

"MWO!" Yixing membekap mulutnya tak percaya.

"Dokter bilang, jika dia tidak mau menjalani kemo, kemungkinan hidupnya hanya 3 bulan." Lanjut Sehun. Airmata Yixing mengalir begitu saja.

"Andwae-andwae, Chen tidak boleh pergi. tidak boleh." Yixing segera pergi ke kamar Chen. Ia melihat keadaan Chen yang membuatnya juga sakit. Chen terbaring lemah dengan alat-alat bantu yang menunjang hidupnya. Yixing semakin tak bisa menahan tangisnya. Ia berjalan pelan mendekati Chen.

"Chen, apa yang terjadi padamu? Kenapa kau tidak memberitahukan hal sebesar ini padaku? Kenapa kau menyembunyikannya?" tanya Yixing dengan menahan isak tangisnya. Yixing bersimpuh di samping bed Chen, sambil menggenggam tangan Chen ia mengucapkan permohonannya, "Kumohon, kau harus bertahan, kau tidak boleh menyerah. Kau harus sembuh. Jika kau sembuh, aku akan menikah denganmu, kau bisa pegang janjiku Chen, kumohon."

.

.

"Chen menemukan bukti kecelakaan itu sebelum dia koma." ucap Sehun sambil menatap lurus ke depan.

"A-apa? D-dia sudah menemukannya?" Sehun mengangguk, "Jadi k-kau sudah melihat semuanya?" tanya Yixing menegaskan.

"Ne, aku sudah melihat bagaimana Yoora dengan biadab-nya menabrak Kyungsoo dengan mobil kecepatan tinggi dan membiarkan Kyungsoo sekarat di jalan sebelum akhirnya kau datang menolongnya tapi sudah terlambat."

"Maafkan aku Sehun, kalau saja aku lebih cepat saat itu, mungkin Kyungsoo masih hidup sampai saat ini." Sehun menggeleng.

"Ini semua takdir Xing, mungkin memang hidup Kyungsoo hanya sampai hari itu. Bukan itu yang kusesali tapi cara meninggal Kyungsoo yang sangat menyakitkan. Aku tak menyangka Kyungsoo harus meninggal dengan cara seperti itu." Sehun tertunduk dan menangis.

"Maafkan aku Sehun, maaf." Yixing memeluk Sehun dan mencoba menenangkannya.

"Kyungsoo ku, kenapa dia harus mengalami hal itu?" Sesal Sehun. Yixing tak bisa berkata apa-apa, setidaknya sekarang Sehun tahu kebenaran yang sesungguhnya, tentang pembunuh Kyungsoo yang asli. "Soo-ya, sebentar lagi kita akan mendapat keadilan, kau akan tenang disana." Bathin Yixing.

.

.

.

At Hotel Green

Suho baru saja bertemu dengan klien di hotel Green. Dia baru saja mendapat proyek baru senilai 15 Milyar Won untuk pembuatan iklan. Saat dia akan kembali ke kantor tiba-tiba ia melihat sesuatu yang membuatnya janggal, Yoora bertemu dengan Jay di restaurant. Yoora terlihat memberikan sebuah amplop tebal pada Jay.

Ketika Suho akan menghampirinya tiba-tiba ada yang menariknya dan menyembunyikan Suho dibalik tembok, Suho terkejut tapi namja itu memberi isyarat untuk diam sambil terus mengawasi Yoora dan Jay.

"Heenim, ada apa ini?"tanya Suho bingung.

"Sudahlah, kau akan tahu nanti. Berpura-puralah kau tidak tahu apapun atau tidak melihat apapun. Kau bisa melakukannya?" Suho masih terlihat bingung tapi ia pun mengangguk mengerti. Mereka pun terus mengawasi Yoora dan Jay.

.

.

Tok-tok-tok! "Masuk.." jawab Sehun dari ruang kerjanya. CKLEK! Pintu pun terbuka dan muncullah seorang Wu Yifan mendatangi Sehun di jam kerja yang cukup sibuk.

"Yifan, ada apa kau kemari?" tanya Sehun heran. "Tumben sekali. Biasanya kau mendatangiku jika hanya kau sedang mabuk" sindir Sehun kemudian ia melanjutkan pekerjaannya.

"Tunjukkan padaku."

"Tunjukkan apa?" tanyanya tanpa melihat Yifan.

"Mobil itu. Mobil yang digunakan untuk menabrak Kyungsoo." Sehun pun menghentikan pekerjaannya dan menatap Yifan dalam-dalam.

"Kau yakin?"

"Sangat yakin. Aku tidak akan percaya jika hanya sebuah foto, bisa saja itu rekayasa, aku ingin melihat yang nyata." Jawab Yifan yakin.

"Baiklah jika itu maumu." Sehun meninggalkan pekerjaannya dan membawa Yifan ke suatu tempat.

.

.

GREEKK! Sehun membuka rolling door di gudang dekat pelabuhan. Sehun masuk lebih dulu dan Yifan mengikuti di belakangnya.

Sehun berhenti di depan mobil sedan yang ditutupi penutup berwarna hitam. "Jangan terkejut." SRAKK! Sehun menarik penutupnya dan nampaklah mobil itu. Mobil itu masih bagus, tapi bagian depan terdapat bekas kecelakaan seperti yang di foto.

Yifan membelalakan matanya. Nafasnya mulai tersengal, ia tak percaya dengan apa yang dia lihat. "I-Ini mo-mobil Yoora? T-Tidak mungkin." Ucap Yifan tak percaya.

"Kau masih tidak percaya?" Sehun mengambil sesuatu dari sakunya yaitu sarung tangan karet dan memakainya. Yifan mengerutkan dahinya, tapi kemudian ia melihat Sehun membuka pintu dan mengambil sesuatu dari dashboard mobil itu. "Potongan kain ini, milik Kyungsoo kan? aku tahu ini miliknya karena aku yang membelikan mantel itu." Yifan menerima potongan kain mantel itu dengan perasaan tidak percaya.

"Tidak mungkin, tidak mungkin…" tubuh Yifan merosot, ia merasa lemah dan tak mampu mencerna apa yang terjadi saat ini. Kyungsoo adiknya, tewas di tangan istrinya sendiri. Yifan menangis, ia mencengkram dadanya yang terasa sakit.

"Kalau kau masih menyimpan mantel Kyungsoo, silahkan kau cocokkan, pasti sama dengan milik Kyungsoo."

"Kyungsoo-Kyungsoooo…" Yifan meneriakkan nama Kyungsoo.

"Sekarang kau tahu siapa yang sebenarnya jadi korban disini…" ujar Sehun tanpa melihat Yifan.

.

.

Yifan membuka lemari pakaian Kyungsoo dan mencari mantel yang Kyungsoo gunakan saat kecelakaan itu terjadi. setelah beberapa lama mencari, akhirnya ia menemukannya, masih terbungkus plastic dan mash terdapat bercak darah di mantel itu. Yifan membukanya dan mencari bekas sobekan di mantel itu, dan Gotcha! Yifan menemukannya, kemudian Yifan memasangkan potongan kain yang dia bawa dengan bekas sobekan yang ada di mantel itu dan hasilnya sama. Yifan terduduk lemas, jadi benar Kyungsoo dibunuh istrinya sendiri, Kang Yoora. Yifan hanya terdiam namun ia tak dapat membendung airmatanya. "Kyungsoo, maafkan hyung. Maaf.."

.

.

.

At hospital

Yixing masih setia menunggu Chen di rumah sakit. Ia sering membacakan cerita dan memperdengarkan music untuk Chen.

"Hei pangeran tidur, kapan kau bangun? Aku merindukanmu." Yixing mengusap tangan Chen dan menciumnya. "Aku janji, kalau kau bangun, kita segera menikah. Aku janji." Yixing menangkupkan kepalanya bed.

"Benar kau mau menikah denganku?"

"Iya aku mau." Yixing reflek menjawab setelah mendengar suara meskipun pelan. Butuh beberapa detik sebelum dia sadar apa yang baru saja terjadi, "Huh?" Yixing pun terbangun dan melihat Chen tersenyum kearahnya.

"Chen, Chen kau sudah sadar?" tanya Yixing tak percaya.

"Apa kau mau aku tidak bangun lagi? Baiklah…" goda Chen.

"Eh jangan, aku tidak mau. Aku tidak mau kau pergi." Yixing pun memeluk Chen bahagia.

"Tapi kau benar-benar mau menikah denganku kan?" Yixing hanya mengeratkan pelukannya, ia benar-benar bahagia akhirnya Chen sadar.

.

Setelah diperiksa intensif oleh dokter, Chen pun dipindah ke ruang perawatan biasa. "Berjanjilah padaku, kau mau menjalani kemo dan operasi." Ucap Yixing saat ia sedang menyuapi Chen. Chen hanya mendengus.

"Kalau aku ikut kemo, aku akan botak dan akan jelek, kau pasti tidak akan mencintaiku lagi." Jawabnya dengan mempoutkan bibirnya

"Jika kau tidak mau, aku tidak akan menikah denganmu." Ancam Yixing.

"Tapi kau kan sudah berjanji akan menikah denganku kalau aku sudah sadar."

"Lalu setelah kita menikah kau akan meninggalkanku karena penyakitmu ini? Aku tidak mau. Itu syarat untuk menikah denganku. Mau atau tidak?"

"Ne tuan putri." Jawab Chen sedikit terpaksa.

"Good boy." Yixing kembali menyuapkan bubur pada Chen.

.

.

.

At Sehun's Office

Siang itu, Sehun rapat dengan beberapa karyawan untuk persiapan launching produk terbaru perusahaannya di ruangannya. Saat sedang ditengah rapat tiba-tiba seseorang mengetuk pintu, "Masuk.." jawab Sehun dari dalam.

CKLEK! Pintu terbuka dan Luhan masuk dengan riang. "S-sehun hyung. S-s-selamat siang." Sapa Luhan riang. Ia datang dengan membawa bekal makan siang untuk Sehun.

"Lu-Luhan, kau kemari?" tanya Sehun sedikit terkejut.

"Ne-ne hyung,aku bawa ma-makan siang untukmu." Jawab Luhan sambil menunjukkan makan siang yang dia buat untuk Sehun.

"Ah itu." Sehun terlihat salah tingkah di depan karyawannya, karyawan lain saling berbisik dan tersenyum melihat Sehun yang saat ini terlihat lebih berwarna dibanding saat ia kehilangan Kyungsoo. "Sebentar ya.." kemudian beralih ke karyawannya, "Kalau begitu rapat selesai, tolong siapkan semuanya, aku tunggu laporannya setelah makan siang." Mereka semua mengangguk patuh.

"Baik Sajangnim, kalau begitu kami permisi." Ucap salah satu karyawannya. Sehun hanya mengangguk dan mereka pun keluar satu persatu dengan teratur.

"Luhan kemari." Panggil Sehun. Luhan berjalan riang menuju sofa dan duduk dekat Sehun, "Kau bawa apa hari ini?" Luhan pun membuka bekalnya. Luhan memasak sushi, kimbab dan beberapa makanan lain. "Wah pasti enak, hyung coba ya." Luhan mengangguk. Sehun mencicipi satu persatu makanan yang Luhan bawa. "Eumm enak sekali Lu, kau memang pintar memasak, siapa yang mengajarimu?"

"Yi-yixing hyung dan Umma.."

"Oh Yixing hyung dan Bibi." Luhan mengangguk.

"H-Hyung, kapan Y-Yixing hyung pulang? Umma menanyakan Yixing h-hyung t-terus." Sehun tersenyum dan mengusap kepala Luhan, "sebentar lagi Lu, sebentar lagi Yixing hyung pulang. Apa kau mau menelpon hyungmu?"

"Mau-mau, mau hyung." Jawab Luhan senang.

"Sebentar ya." Sehun megambil ponselnya dan menelpon Yixing.

Tut-tut-tut! PIP! "Yeoboseyo Xing, ada yang ingin bicara denganmu."

"…"

"Ne, ini aku berikan pada Luhan." Sehun memberikan ponselnya pada Luhan.

"Ye-yeobo-seyo hyung.."

"…"

"A-aku-aku merindukanmu h-hyung. Umma-umma sudah bi-bisa bicara hyung."

"…"

"Ne-ne, Umma-umma menanyakanmu terus."

"…"

"Hyung, cepat-cepatlah pulang."

"…"

"Sa-saranghae hyung." PIP! Luhan menutup teleponnya.

"Bagaimana? Apa kata hyungmu?"

"Dia-dia a-akan pulang. Yixing H-hyung akan pulang."

"Baguslah kalau begitu. ayo kita makan lagi. " ajak Sehun, Luhan mengangguk dan mereka pun melanjutkan makan siangnya.

.

.

.

Di kediaman Yifan..

Malam itu Yoora, Yifan dan Vic hanya makan bertiga karena Suho sedang ada rapat dengan klien di luar kota.

"Sayang, besok kan ada libur selama 3 hari, bagaimana kalau kita pergi ke Jeju. Temanku membuka resort baru disana. Dan aku mendapat voucher gratis untuk menginap disana selama 2 hari. Bagaimana?" tanya Yoora.

"Aku tidak bisa." Tolak Yifan.

"Sayang, kita sudah lama tidak liburan."

"Aku masih sibuk Yoora. Tidak bisa."

"Sayang…"rengek Yoora

Vic menghentikan makannya dan melihat pasangan suami istri itu, "Hei Yoora, apa di otakmu hanya ada liburan-liburan dan liburan? Apa kau tidak pernah memikirkan sesuatu yang harusnya sudah dimiliki yeoja seusiamu."

"A-apa maksud Umma?"

"Anak,memang apa lagi? kapan kau memberikan aku cucu. Sudah 6 tahun kau menikah dengan Yifan tapi sampai sekarang kau tak kunjung memilikinya. Teman-teman sebaya-ku , mereka sudah memiliki cucu, bahkan Shin Ae, cucu-nya sudah 2 padahal anaknya baru menikah selama 3 tahun. Dan kau, sampai sekarang tidak ada tanda-tanda kau akan memiliki anak. Jangan-jangan kau mandul."

"Umma.."

"Wae… memang benar kan? harusnya sekarang kau sudah punya anak. Setidaknya satu tapi apa yang terjadi sekarang, kau pasti.." / "Umma sudah hentikan, aku selesai." Potong Yifan kemudian ia melempar serbetnya dan pergi.

"Yifan kau mau kemana?" / "Sayang.." namun tak digubris oleh Yifan. Yoora hanya mendesah kecewa.

"Lihat, suami-mu juga pasti memikirkan hal itu, tapi sepertinya kau tidak memperdulikannya."

"Aku peduli Umma, tapi memang kami belum memilikinya. Aku normal, Yifan juga tapi belum ada kesempatan untuk kami Umma."

"Periksa sekali lagi, mungkin kau yang bermasalah. Yifan sudah pasti normal, yang kudengar Yixing pernah hamil.."

"Umma…" seru Yoora mengingatkan. "Umma jangan keras-keras, nanti Yifan dengar."

"Dulu, AKu memang tidak suka jika menantuku adalah seorang namja tapi sekarang, aku justru kecewa memiliki menantu yeoja mandul sepertimu." Vic melempar serbetnya dan meninggalkan Yoora sendirian.

Yoora mengepalkan tangannya erat. Dia sudah muak di perlakukan seperti itu oleh ibu mertuanya dan dibanding-bandingkan dengan Yixing, Yifan juga tak membela-nya. Ia akan membalas semua itu.

.

.

.

At Hospital

Yixing menyuapi Chen dengan telaten, "Kau ini makan seperti bayi." Keluh Yixing yang berulang membersihkan bibir Chen yang ada bekas buburnya.

"Wae?" tanya Chen lucu.

"Kau makan belepotan."

"Kau yang menyuapiku terlalu terburu-buru Xing." sanggah Chen.

"Ini sudah pelan-pelan Chen."

"Tidak, kau buru-buru, selama ini aku makan tidak pernah belepotan." Jawab Chen sambil mempoutkan bibirnya lucu.

"Jangan mempoutkan bibirmu seperti itu, kau sudah tua, tidak pantas seperti itu."

"Yak aku belum tua Zhang Yixing." Chen menarik tubuh Yixing hingga posisi mereka mendekat. Yixng terlihat begitu gugup, pipinya merona merah.

Saat mereka akan berciuman tiba-tiba CKLEK! Seseorang masuk tanpa mengetuk pintu dan pelakunya dalah Sehun. Yixing segera menjauhkan dirinya dari Chen.

"Ups maaf, sepertinya aku datang disaat yang tidak tepat." Sapa Sehun.

"Se-sehun, kau datang?" tanya Yixing gugup.

"Eh tidak usah gugup begitu. Aku ingin bicara sesuatu dengan kalian."

"Kau ini, siapa yang gugup." Ucap Yixing bohong.

"Masuklah. Kau ingin bicara apa?" Chen mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Tapi aku tidak sendiri."

"Maksudnya?" tanya Yixing bingung.

"Hei, masuklah." Panggil Sehun. Tak lama kemudian masuklah seseorang yang membuat Yixing terkejut dengan kedatangnya begitu juga dengan Chen namun ia tak seterkejut Yixing.

"Yi-Yifan?" tanya Yixing terbata, "Se-sedang apa kau disini?"

"Hai semua." Sapa Yifan menghampiri Sehun.

"Dia memaksaku ikut."

"Memaksamu ikut? Ada apa ini?" tanya Yixing semakin bingung.

"Dia sudah tahu semua." Jawab Sehun santai.

"MWO!"seru Yixing tak percaya.

"Maafkan aku Xing, harusnya aku percaya padamu sejak awal." Yixing menatap Yifan tak percaya. Chen menggenggam erat tangan Yixing, mencoba menguatkannya. "Aku akan membantumu, menemukan keadilan untuk Kyungsoo. Untuk adikku.." Mata Yixing berkaca-kaca, akhirnya Yifan percaya padanya. Ia memang tak berharap untuk kembali pada Yifan, ia hanya berharap Yifan percaya bahwa dia bukan pembunuh Kyungsoo dan akhirnya hari itu tiba.

"T-terima kasih Fan, terima kasih." Ucapnya.

.

.

.

Setelah pertemuannya dengan Yifan, Yixing memiliki semangat lagi. Bukan karena apa-apa tapi karena sekarang Yifan tahu bagaimana sifat 'istrinya' saat ini dan Yifan tahu bahwa dia bukan pembunuh Kyungsoo. Pertemuan hari itu,mereka ingin mengumpulkan bukti lebih banyak lagi untuk menjebloskan Yoora ke penjara. Yifan pun harus berpura-pura tidak tahu apa-apa tentang Yoora.

Dan saat ini Yixing pun berani menemui ibu dan adiknya Luhan yang sebenarnya satu rumah sakit dengan Chen tapi berbeda lantai. Ibunya Yixing di lantai 5 sedangkan Chen di lantai 3.

"Yixing.." panggil Liyin. Yixing menangis haru mendengar ibunya memanggilnya.

"Umma.." Yixing berlari kearah ibunya dan memeluknya.

"Anakku, anakku tersayang." Panggil Liyin. Yixing mengangguk.

"AKhirnya Umma kembali, terima kasih Umma."

"Anakmu masih hidup Xing. Dia masih hidup." Yixing melepaskan pelukannya dan melihat ibunya.

"Ne, aku tahu Umma, aku percaya dia masih hidup."

"Dia memang masih hidup sayang, Yoora yang mengambilnya darimu."

"MWO!"

"Yoora mengambilnya dariku Umma?"

"Ne, dia mengambilnya darimu, dia memberikan anakmu pada orang yang bernama Park Yongju."

"A-apa? Park Yongju?"

"Jaehyun, dia menamainya Jaehyun. Yoora bilang Yongju tinggal di Inggris saat ini."

"Taeyong-ku… Kenapa Yoora melakukan hal ini padaku?" Yixing memeluk Ibunya erat, "Kenapa Yoora begitu jahat padaku Umma. Aku ingin bertemu dengan Taeyong Umma, aku ingin bertemu dengan anakku."

"Iya sayang, kau pasti akan bertemu dengannya." Liyin mencoba menenangkan Yixing.

.

.

Yixing berjalan cepat menuju XOXO Ent, ia ingin menemui Yoora dan menanyakan keberadaan anaknya. Belum sampai ia masuk, ia melihat Yoora baru keluar dari mobilnya.

"Kang Yoora!"panggil Yixing dengan nada agak keras. Yoora berbalik dan melihat orang yang memanggilnya, yang tak lain dan tak bukan adalah Yixing. ia terkejut melihat kedatangan Yixing.

"A-apa yang kau lakukan disini?"

"Dimana anakku?" tanya Yixing dengan nada keras.

"Anakmu? Apa maksudmu?" tanya Yoora pura-pura tidak tahu.

"Jangan berpura-pura kau tidak tahu hal ini, dimana Taeyong? dimana putraku. Jaehyun, kau menamainya Jaehyun kan? dimana dia?"

"Aku tidak tahu, dan aku tidak mau tahu. pergi atau ku panggil keamanan." Yoora mengancam Yixing dan mendorong bahu Yixing.

"Silahkan, aku tidak peduli. Tapi aku akan menemui Yifan dan mengatakan yang sebenarnya, kalau dia memiliki putra dan sekarang putranya dijual oleh istrinya sendiri." Ancam Yixing. Yoora terbelalak.

"Kau berani mengancamku?"

"AKu sudah tidak takut lagi padamu Kang Yoora. Jangan kira aku seperti dulu, bisa kau injak-injak dan kau sakiti."

"Berani kau melakukan itu, ku pastikan kau akan menerima berita kematian anakmu." Akhirnya Yoora mengeluarkan suaranya tentang anak Yixing.

"Berani kau melukai anakku aku akan.."

"Akan apa? Memang kau tahu dimana putramu? Kau tidak akan berani menyakitiku, kalau kau berani melakukannya, anakmu yang akan menerima balasan dariku."

"Kau.. arrgghh!" Yixing mendorong Yoora.

"Kau berani mendorongku." Yoora balas mendorong Yixing. Beruntung sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, Yifan bersama Suho yang kebetulan akan keluar untuk rapat dengan klien di luar, melihat pertengkaran Yoora dan Yixing, mereka segera berlari dan memisahkan mereka. Suho memegang Yixing dan Yifan memegang Yoora.

"Hei-hei..Apa yang kalian lakukan? Hentikan!" Yifan membentak mereka berdua.

"Yixing tenangkan dirimu." Suho juga mencoba menenangkan Yixing.

"Dia duluan sayang, dia yang mendorongku dulu." Adu Yoora, "Aku akan tidak akan memaafkannya." Yoora mencoba maju untuk memukul Yixing dengan tas-nya tapi ditahan Yifan.

"AKu tidak akan membiarkanmu menyakiti keluargaku termasuk…" BUG! Sebelum Yixing sempat mengucapkan anaknya, Yoora berhasil memukul Yixing.

"Arrghh.." jerit Yixing.

"Yixing!"/ "YOORA!" seru Suho dan Yifan bersamaan. Yifan membalik tubuh Yoora dan PLAK! Dia menampar Yoora. Yoora tak berkutik, ia memegang pipinya yang baru saja ditampar Yifan, suami-nya sendiri. Suho dan Yixing terkejut melihat perbuatan Yifan pada Yoora.

"Sa-sayang? Ke-kenapa kau menamparku?" tanya Yoora bingung.

"Itu karena kau keterlaluan. Kau memukul Yixing." Yifan membela Yixing.

"Tapi dia duluan yang mulai sayang, dia yang mendorongku."Adu Yoora tak terima Yifan bela Yixing.

"Yixing tidak akan melakukan itu kalau kau tidak memulainya lebih dulu."

"Sayang, kenapa kau membela Yixing, aku ini istrimu." Seru Yoora tak terima.

"Kau kasar dan tidak tahu malu."

"Sayang…" rengek Yoora.

"Suho, bawa Yixing pergi, aku akan mengurus dia dulu." Suho mengangguk dan membawa Yixing pergi. sedangkan Yifan menyeret Yoora masuk.

.

BRAK! Yifan menutup pintunya kasar. Ia mendorong Yoora hingga sedikit terhuyung. "Sayang, kenapa kau kasar sekali?" tanya Yoora sedikit takut.

"Kenapa kau bertengkar dengan Yixing di depan kantor? Kau tidak malu dilihat para karyawan."

"Kenapa kau malah membelanya? Dia yang salah bukan aku."

"Yixing bukan orang seperti itu. Dia tidak akan memulai sebelum ada orang yang memulainya lebih dulu."

"Yifan.. Yixing pembunuh, bisa saja dia juga akan membunuhku karena dia dendam padaku."

"Hentikan bualanmu tentang Yixing, dia tidak seperti itu."

"Sayang.."

"Kau harus minta maaf padanya. Sikapmu sudah keterlaluan selama ini padanya."

"Apa? Minta maaf padanya? Sampai mati pun aku tidak mau minta maaf padanya." Tolak Yoora keras.

"Kau tidak mau minta maaf padanya?"

"Untuk apa aku minta maaf padanya? Dia yang salah bukan aku."

"Baiklah, kalau kau tidak mau minta maaf padanya. Jangan berani kau kembali ke rumah."

"K-kau mengusirku? Kau mengusirku karena namja jalang itu?"

"TUTUP MULUTMU! Dia bukan namja jalang."bentak Yifan, hal itu membuat YOora terkejut. Belum pernah sejak mereka menikah Yifan berani membentak dan berbuat kasar padanya.

"YIFAN! Ada apa denganmu?" nafas Yifan terengah-engah, ia menahan emosinya agar tidak meledak dan mengungkap bahwa Yoora adalah pembunuh adiknya. ia langsung meninggalkan Yoora dan tak menggubris panggilan Yoora. BRAK! Lagi-lagi Pintu di tutup kasar. Yoora menggeram marah.

"Aarrrghh.. ada apa ini? Kenapa semua membela Yixing. Yixing lagi, Yixing lagi, aku tidak akan tinggal diam, Yixing tidak boleh menang, dia harus mendapat balasan atas perbuatannya."

.

.

Di luar, Suho membawa Yixing menjauh dari kantor. "Lepaskan aku Suho."pinta Yixing.

"Kau sudah agak tenang?"

"Ya, aku baik-baik saja." Suho mengangguk dan melepaskan Yixing.

"kau mau pergi kemana? Biar aku antar."

"Tidak usah, aku bisa pulang sendiri. Terima kasih." Yixing membungkuk dan pamit pada Suho.

"Yixing…" panggil Suho, Yixing berhenti sejenak, kemudian berbalik.

"Ada apa?" tanya Yixing.

"Aku minta maaf."

"Akhir-akhir ini banyak yang minta maaf padaku." Sindir Yixing.

"Benarkah? AKu tidak tahu kenapa aku meminta maaf padamu."Suho menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Sudah, kau bisa pergi sekarang, tak usah menungguku, aku bukan anak kecil lagi yang harus kau tunggui."

"Ah baiklah, hati-hati."Yixing tersenyum, tak lama kemudian taksi berhenti di depannya dan ia pun meninggalkan XOXO Ent dengan taksi itu.

.

.

.

At Night – Yifan House

CKLEK! Yoora masuk ke kamarnya dengan wajah lesu, ia lelah dengan pekerjaan di kantor dan juga pertengakaran dengan Yifan. Setelah pertengkaran itu, ia tidak bertemu dengan Yifan hingga pulang kerja, teleponnya juga tidak diangkat, ditambah ia baru saja di omeli ibu mertua-nya karena ia pulang terlambat, hal itu membuat Yoora semakin tertekan.

"Sedang apa kau disini?" tanya Yifan tiba-tiba saat Yoora baru saja masuk.

"S-sayang, kau sudah pulang?"

"Kau tidak menjawab pertanyaanku, sedang apa kau disini? bukankah aku menyuruhmu untuk tidak pulang sebelum kau meminta maaf pada Yixing."

"A-apa? J-jadi kata-katamu tadi siang itu…"

"Aku serius Yoora, sebelum kau minta maaf pada Yixing, jangan pulang ke rumah. Keluarlah." Yifan pun mengusir Yoora. Yoora menghela nafas panjang. Ia benar-benar lelah saat ini dan sangat enggan berdebat lagi dengan Yifan.

"Baiklah, aku akan meminta maaf pada Yixing besok. Aku janji. Tolong jangan mengusirku. Ini sudah malam sayang, aku tidak mau membuat mereka khawatir. Kumohon.." mohon Yoora dengan nada memelas.

"Terserah kau saja." jawab Yifan yang kemudian memunggungi Yoora. Yoora mengepalkan tangannya erat. sudah cukup, ini tidak bisa dibiarkan. Ia harus membalas Yixing, kalau bisa melenyapkan Yixing secepatnya dari muka bumi ini.

.

.

Di rumah sakit, setelah dari kamar Chen, Yixing pergi ke kamar ibunya. "Luhan,kenapa kau belum tidur?" tanya Yixing saat melihat Luhan masih terjaga sedangkan ibunya sudah tidur. Luhan mempoutkan bibirnya dan hal itu membuat Yixing bingung.

"Kau kenapa?ada apa?" tanya Yixing yang sudah duduk di dekat adik tersayangnya itu.

"Aku mau es krim dan wafer cokelat."

"Mwo? Malam-malam begini? Luhan ini sudah malam, besok saja ya. Hyung aku akan belikan besok."

"Aku tidak mau, aku mau sekarang."

"Tapi sayang…"

"H-hyung tidak sayang padaku.." mata Luhan berkaca-kaca. Melihat hal itu Yixing menjadi tak tega. Dia tak mau Luhan menangis.

"Hei-hei jangan begitu, iya hyung akan belikan, jangan menangis. Arasso?" Luhan mengangguk senang. Yixing mengusap air mata Luhan dan mencium keningnya. "Tunggu sebentar." Yixing pun beranjak dan pergi meninggalkan Luhan untuk membelikannya

.

.

Di kamar lain, Chen merasa sesak nafas dan kepalanya berdenyut sangat sakit. Chen mencoba mengambil obat pereda rasa nyeri tapi justru obat itu malah terjatuh. Chen mulai batuk-batuk dan batuk itu mengeluarkan darah. "Yi-Yixing.." panggil Chen pelan. Ia mencoba meraih tombol darurat, meskipun dengan posisi kesakitan, ia berhasil dan ia tumbang. Chen terjatuh dari bed dan tak sadarkan diri.

.

.

Setelah Yifan tertidur, Yoora pun bangun. Ia memang tak tidur hanya memejamkan mata dan memastikan bahwa Yifan benar-benar tertidur. Yoora tersenyum licik sambil memandang Yifan yang sedang tertidur pulas. Ia mendekati Yifan lalu mengecup pelipisnya. Tangannya terjulur untuk mengambil ponsel dan mendial sebuah nomor. Dengan tenang menunggu sambil berjalan menuju balkon.

Tut-tut-tut! PIP!

"..."

"Aku ada pekerjaan untuk kalian."

"..."

"Tentu saja ada bayarannya. Jika berhasil, ku bayar empat kali lipat."

"..."

"Aku ingin kau menghabisi seseorang bernama Zhang Yixing. Ah terserah kau ingin berbuat apa padanya. Yang penting, buat dia menderita. Semenderita mungkin! Aku akan mengirim fotonya untuk kalian. dia di rumah sakit sekarang."

"..."

"Terserah bagaimana caranya, kau harus menghabisinya malam ini juga." PIP! Yoora menutup teleponnya,"Sebentar lagi kau akan hancur Zhang Yixing. Kau sudah salah bermain api dengan Kang Yoora!"Sudut bibirnya terangkat setelah selesai mengirim foto Yixing pada anak buahnya. Matanya memancarkan dendam yang teramat sangat.

Ia melirik ke arah Yifan lalu berjalan mendekat,merebahkan tubuhnya dibelakang Yifan lalu memeluk lelaki tinggi itu dari belakang dengan erat. "Kau milik ku sayang, aku tidak akan membiarkan Yixing mengambil dirimu dariku.~"

.

.

.

Jam sudah menunjukan pukul setengah sebelas malam. Yixing melangkahkan kaki keluar menuju supermarket 24 jam 200 meter dari rumah sakit. Luhan merengek minta es krim serta wafer coklat malam - malam begini. Sebenarnya ia bisa saja menolak, tapi melihat mata Luhan yang sudah berkaca - kaca membuatnya luluh juga. Sungguh, menenangkan Luhan manja yang sedang menangis adalah hal yang paling ia hindari.

Dan disinilah dia. Di jalanan yang sepi. Yixing mengeratkan mantel yang ia digunakan. Udara malam ini sangat dingin, apalagi sekarang memasuki musim gugur. Sekitar 100 meter lagi sampai, Yixing bernafas lega.

Belum selesai ia menghabiskan hembusan nafas leganya, angin tiba - tiba menerpa dari arah belakang dengan kencang. Bulu kuduknya berdiri dan ia merasa tidak nyaman. Seperti ada yang mengikuti. Kepalanya sedikit menoleh ke belakang lalu kembali menghadap depan dengan mata yang terbelalak. Refleks, Yixing mengeratkan syalnya dan berjalan sedikit cepat. Ia melihat bayangan seseorang dibelakang sana, tak jauh darinya. Dilihat sekilas dari bayangan, orang itu adalah laki - laki. Mengingat bayangannya yang tinggi pendek jenjang itu kembali menambah kecepatan, hingga nyaris berlari. Seseorang itu juga masih mengikutinya.

"Oh Tuhan, siapa orang itu.. Apa dia mengikuti ku? Aku harus cepat. Orang itu mungkin suruhan Yoora. Ak-aku harus meminta bantuan Sehun. Iya, Sehun!" Tangannnya mengeluarkan ponsel dari saku mantel dan mencari nomor Sehun.

"Sehun angkat, ku mohon angkat! Sehun-ah! Aku sedang diikuti seseorang dan sepertinya dia—hmph!"Laki - laki tadi berhasil menangkap Yixing. Orang itu membekap mulutnya dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius dosis rendah.

Ponsel Yixing terjatuh, ia berusaha melawan dengan memukul atau berontak, namun kerja obat bius itu dengan cepat membuatnya lemah. Ia tahu itu obat bius dan sudah berusaha menahan nafas, tapi dalam keadaan panik dan terdesak seperti ini mana bisa dia tenang menahan akhirnya pingsan.

Orang yang membekap Yixing segera menggendongnya bridal dengan mudah. Tak lama sebuah mobil SUV dengan kaca yang gelap datang. Orang itu dengan cepat membuka pintu belakang dan meletakkan Yixing disana lalu ikut masuk ke dalam.

"Ayo jalan!"Laki - laki yang menyetir itu menuruti perintahnya.

"Ingin kau apakan namja ini hyung? Membunuhnya? Perlahan - lahan atau langsung? Jujur, aku suka perlahan - lahan." ungkap Daehyun—lelaki yang sedang menyetir, sebut saja seperti itu— pada lelaki yang lebih tua. Sedangkan yang lebih tua terdiam sejenak dan tampak nikmat melihati wajah Yixing. Tangannya terjulur untuk mengelus pipi lembut Yixing.

"Hyung?"

"Kita ke hotel."

"M-mwo? Hotel? Kau ingin mengerjainya hyung?"

"Tentu saja, namja semanis dia sayang untuk dilewatkan, apalagi kalau langsung dibunuh."

"Baiklah, kalau begitu tapi aku boleh ikut kan?"

"Terserah kau."Lelaki yang bersama Yixing itu meraba paha Yixing dengan gerakan lembut namun penuh tekanan. Sebut saja Yongguk.

1 jam kemudian,

"Kita sampai hyung." Yongguk mengangguk lalu keluar bersama Yixing digendongannya. Dengan cepat mereka masuk ke hotel, tanpa check in. Karna hotel murah pinggir jalan ini milik Yongguk sendiri. Daehyun mengikuti bosnya dengan setia.

Setelah naik lift hingga lantai tiga, mereka sampai disebuah kamar VIP. Kamar milik Yongguk.

"Hah..."Yongguk meletakkan Yixing ditengah ranjang king size disana dan memperhatikan bagaimana rupa Yixing. Cantik. tak berapa lama, bola mata Yixing bergerak. Ia sudah mulai sadar. Tangannya terangkat memegang pelipis dan memijat cukup tidak terkejut melihat itu, karna memang obat bius yang ia berikan berdosis membuka kedua matanya dan mengerjap pelan. Hampir berteriak saat melihat wajah serta tubuh Yongguk diatasnya sebelum telunjuk Yongguk mencegahnya membuka mulut.

"Kau manis juga.." ungkap Yongguk lalu mengelus pipi terlihat mulai ketakutan. Pemuda diatasnya ini berwajah sangar dengan tindik di kedua telinganya. Tubuhnya juga kekar dan lebih besar darinya. Seperti bodyguard.

"S-siapa kau? Ak-aku dimana?" Yixing susah payah mengeluarkan suaranya.

Yongguk terkekeh licik,"Kau tahu Yoora? Dia bos ku dan menyuruhku untuk menghabisi mu, Zhang Yixing."

Manik hazel Yixing melebar, "Yoora..." gumamnya.

"Tapi setelah ku pikir - pikir, namja semanis dirimu sayang untuk dilewatkan dan menghabisi mu tak ada untungnya bagiku. Jadi aku memutuskan untuk menghabisi mu di atas sini. Aku mendapat untung bukan?Hahahahaaa!"Mata Yixing makin melebar mendengarnya. Ia tidak bodoh untuk tahu arti dari penyataan ambigu itu.

Yixing menggeleng keras, "Andwae-andwae..!"teriak Yixing. Namun kedua namja itu tidak memperdulikannya, kemudian mereka melancarkan aksinya.

.

.

Sehun berlari sambil memegang ponselnya, ia mencoba terus menghubungi Yixing tapi tak diangkat. Sehun pergi ke rumah sakit setelah mendapat telepon dari Luhan yang mengatakan kalau Yixing tak kunjung kembali padahal sudah hampir 1 Jam lebih.

Saat ia akan masuk lift, ia melihat beberapa suster keluar dari kamar Chen dengan membawa selimut yang berlumuran darah. Ia pun menghentikan salah satu suster dan bertanya padanya, "Maaf suster ada apa dengan pasien di kamar itu? Kamar itu masih ditempati Tuan Chen kan?"

"Tuan Chen sekarang berada di IGD, Dokter Park sedang menanganinya. Tuan Chen mengalami pendarahan, keadaannya Kritis." Jawab Suster yang ber-tag name Jang.

"Apa?" Sehun terkejut mendengar penuturan Suster Jang. "T-terima kasih suster." Sehun semakin panic, Yixing tak bisa dihubungi. Sehun memutuskan untuk pergi ke kamar Luhan lebih dulu baru setelah itu dia akan kembali lagi menemui Chen.

Sehun menunggu lift terbuka, beberapa saat kemudian lift pun terbuka, tiba-tiba matanya terbelalak melihat sesuatu yag ada di hadapannya.

.

.

.

.

TBC

MAU TAU APA YANG TERJADI PADA YIXING? BESOK NAIK RATING JADI M YA..

MAAF KALO LAMA DAN CERITANYA SEMAKIN GAJE MOHON MAAF, TERIMA KASIH SUDAH MAU MENUNGGU AKU KEMBALI.

REVIEW PLEASE, NO BASH YA PLEASEEE...!

TERIMA KASIH BUAT SEMUA YA