Ryu : Huwaaaaa TTATT Akhirnya fic ini bisa update juga...
Miku : *nepuk'' pundak Ryu* Udah, biasa aja kale -.-
Ryu : Maaf, minna-san! Ryu sudah tidak update berbulan bulan... gara-gara keasyikan gambar, fanfic jadi dilupain... T_T
Kaito : Yup, ini adalah last chapter dari fin ini :D Maaf kepanjangan, karena Ryu gak bisa nahan jarinya buat ngetik lebih singkat~
Len : Dan... aku muncul di fic ini! :DDD #bangga Walaupun cuma sebentar ._.
Ryu : Oke, sekian dulu ^_^ Selamat membaca~
My Genie is My First Love
.
Disclaimer : Vocaloid Yamaha Corporation & Crypton Future Media ; Story Ryu Kago
Warning(s) : OOC, AU, Typo(s), Romance kurang terasa, dll ;-)
.
Miku Hatsune, seorang gadis SMA menerima hadiah berupa kotak musik dari teman, Rin Kagamine. Tapi, ternyata muncul sesosok jin dari dalam kotak musik itu dan memberikan Miku 3 permintaan. Kira-kira, apa yang akan diminta oleh Miku?
.
Miku menatap ke arah langit pagi yang indah. Langit biru yang dihiasi awan seputih kapas. Terlebih lagi dengan sinar lembut dari sang surya.
Hati Miku begitu bahagia pagi ini. Sahabat terbaiknya, Rin Kagamine, telah berhasil mendapatkan lelaki pujaan hatinya, Rinto Kagami.
Karena itulah pagi ini Miku berangkat sekolah sendirian. Dia tidak ingin mengganggu Rin dan Rinto yang pastinya ingin berjalan menuju ke sekolah berdua.
Tapi... tampaknya dugaan Miku salah...
"MIKU!" Miku pun segera menoleh ke arah di mana suara nyaring yang terdengar familiar itu berasal. Miku pun tersenyum ke arah sang pemilik suara.
"Ah, Rin-chan!" sapa Miku. "Ohayou!"
Anak berambut honey blonde itu tersenyum dan membalas sapaan Miku.
"Ohayou!"
Di samping anak yang dipanggil Rin itu, berdirilah seorang pemuda tampan yang bisa dibilang sedikit mirip dengan Rin, dengan rambut honey blonde dan beberapa jepit rambut yang menghiasi rambutnya, persis seperti Rin.
Anak itu tidak lain adalah Rinto Kagami, yang saat ini telah resmi menjadi kekasih Rin.
Rinto pun turut menyapa Miku dengan lembut.
"Ohayou, Miku-chan." Miku pun membalasnya dengan senyuman. "Ohayou, Rinto-kun!"
Miku pun melirik ke arah Rin, dan mengeluarkan seulas senyuman yang mungkin lebih pantas disebut sebagai sebuah seringai licik.
"Sepertinya aku mengganggu kalian, ya..." goda Miku sambil terus menyeringai. Wajah pasangan baru itu pun langsung merona layaknya buah arbei.
"T-tidak kok!" seru Rin dengan wajah tsundere-nya yang imut.
"Justru kami ingin berjalan bersamamu, Miku-chan." Rinto pun menarik tangan Rin untuk segera berjalan menyusul Miku yang saat ini sudah berada di depan mereka.
Miku tersenyum kecil menatap sepasang insan yang merupakan sahabatnya itu.
Saat itu juga, Miku merasa beruntung telah memiliki sahabat yang begitu baik, seperti mereka. Mereka bertiga pun berjalan ke sekolah mereka bersama-sama.
Perjalanan mereka dipenuhi oleh suara canda dan tawa. Miku dan Rin yang biasanya hanya berjalan berdua, kini disertai oleh seorang anak laki-laki yang bernama Rinto.
Rinto adalah anak yang cukup menarik. Candaannya selalu berhasil membuat tawa kedua gadis itu tergelak.
Di samping itu juga, Rinto merupakan lelaki yang cukup perhatian terhadap kekasihnya, Rin. Mereka berdua tampak begitu serasi dan bahagia. Miku pun turut senang melihat sahabat baiknya kini dapat tersenyum manis.
"Ah, aku ingin menanyakan suatu hal padamu, Miku-chan..." kata Rin tiba-tiba. Miku pun mengangkat alisnya sambil menatap ke arah Rin dengan tatapan heran.
"Nani?"
"Ng... kau telah membantu hubunganku dengan Rinto, jadi... bisakah kau memberi tahu kami, siapa orang yang kau sukai?" tanya Rin dengan penuh harap. "Aku ingin balas membantumu, barangkali ada yang dapat kulakukan untukmu..."
Pertanyaan Rin itu telah sukses membuat wajah Miku merona. Di kepala Miku pun terbayang wajah Kaito seketika, sehingga tanpa ia sadari dia sudah kembali melamunkan sosok pria berambut ocean blue yang ia cintai itu.
"Miku...?" Rin memanggil nama sahabatnya itu sekali lagi, dan membuat Miku tersadar dari lamunannya.
"Ah, ng... tidak ada kok!" jawab Miku berdusta. Tentu saja, karena jika ia mengatakan bahwa ia menyukai seorang jin, pasti Rin tidak akan percaya. Hanya orang bodoh yang mempercayai hal seperti itu.
Tapi, bukan sahabat namanya jika tidak menyadari dusta yang keluar dari mulut sahabatnya. Demikian pula dengan diri Rin.
"Bohong! Pasti ada! Ayo, katakan saja!" Rin mulai memajukan bibir bawahnya dengan imut. Wajahnya saat ini sungguh menggemaskan, sehingga Miku hampir saja mencubit pipi sahabatnya ini.
Rin memang gadis yang manis, tapi di sisi lain ia juga bisa menjadi gadis yang sangat perhatian dengan semua sahabatnya, khususnya sahabat karibnya yang kini berada di sisi kanannya, Miku.
"Ayolah, Miku-chan! Aku ingin membantumu juga," katanya dengan nada yang terdengar sedikit merajuk.
Miku pun menghela nafas. Sepertinya ia memang tidak bisa melawan sahabatnya yang satu ini.
"Aku... menyukai seseorang... yang sepertinya tidak pantas untuk disebut sebagai 'manusia'," kedua mata Rin terbelalak kaget. Siapa yang tidak terkejut setelah mendengar erkataan Miku barusan?
"Ayolah Miku, jangan bercanda..."
"Aku tidak bercanda," wajah Miku menampakan keseriusan yang tersirat di dalam ucapannya. Mata Rin dan Rinto pun semakin membulat setelah mendengar penekanan yang diucapkan Miku begitu tegas.
Tapi, perlahan wajah pasangan 2R itu mulai melembut. Seulas senyuman tipis mulai merekah di bibir Rinto dan Rin.
"Kami akan tetap membantumu," ucap Rinto dan Rin bersamaan. Walaupun awalnya Miku kaget mendengar perkataan mereka berdua, tapi di saat itu juga ia merasa bahagia, karena menyadari bahwa persahabatan yang sedang dijalaninya saat ini sungguh indah.
.
Bel istirahat pertama sudah berbunyi, dan saat ini Miku dan kedua sahabatnya a.k.a Rinto dan Rin, sedang menikmati makanan mereka masing-masing di atas meja kantin.
Miku dengan sup negi-nya, Rin dengan orange cake-nya, dan Rinto dengan smoothies jeruk yang dibelinya di kantin sekolah mereka yang memang cukup lengkap.
Di saat mereka bertiga sedang menikmati makanan dan minuman mereka masing-masing, Rin pun mulai membuka pembicaraan.
"Jadi, sebenarnya 'makhluk' apa yang kau sukai itu, Miku?" tanya Rin dengan wajah innocent-nya yang begitu polos. Hampir saja Miku menyemburkan kuah sup negi yang berada di dalam mulutnya saat mendengar pertanyaan polos Rin.
Pertanyaan Rin itu memang mengandung sedikit sindiran, yang sepertinya tidak disadari oleh Rin sendiri.
Yah, kata 'makhluk' yang diucapkan Rin itu mengandung makna yang ambigu, bukan?
"Dia... seorang jin," jawab Miku dengan ragu-ragu. Dia takut kata-katanya ini akan disalah artikan oleh sahabatnya yang masih polos ini.
Tapi, sepertinya Rin mengerti. Terbukti dari tatapan matanya yang jadi membulat dan menampakan keterkejutannya atas ucapan Miku barusan.
"J-jin...?" ucap Rin dengan sedikit terbata-bata."Jin... yang seperti di film Aladin itu...?"
Miku mengangguk pelan mengiayakan, karena memang benar bahwa keberadaan Kaito mirip seperti makhluk biru besar yang ada di dalam dongeng Aladin.
Kedua matanya yang berwarna sapphire itu menatap Miku dengan tatapan yang tidak dapat didefinisikan. Yang pasti, dari dalam tatapannya itu dapat terlihat bahwa Rin ingin mengatakan 'Kau masih sehat, kan?' pada Miku
Tapi, wajah Miku yang terlihat tegas menampakan dengan jelas keseriusan yang ada di dalam ucapannya.
"Memang sulit dipercaya, tapi sosok jin yang memiliki rambut ocean blue yang lembut itu benar-benar telah membuatku jatuh hati kepadanya pada pandangan pertama..." ucap Miku dengan wajah merah merona.
Namun ucapannya terhenti seketika ketika melihat ekdpresi kedua sahabatnya yang menampakan wajah kekhawatiran dan keprihatinan pada Miku.
Tidak salah lagi, Rinto dan Rin menganggap Miku sudah tidak waras lagi, atau semacamnya.
"Ah, lupakan ucapanku barusan! Lupakan saja!" seru Miku dengan senyum keterpaksaan di bibirnya.
Namun, tampaknya pandangan kedua sahabat Miku itu tidak terlepas dari Miku.
Keringat dingin pun mengalir di pelipis Miku. Tatapan kedua sahabatnya semakin mendesaknya.
Namun, tatapan-tatapan itu pun mulai melembut dengan perlahan, dan berganti menjadi seulas senyuman lembut.
"Sudahlah, ceritakan saja, Miku." Rin dan Rinto pun melipat kedua tangan mereka di atas meja kantin yang berwarna kecoklatan itu diiringi helaan nafas Miku.
"Jadi..." Miku pun menceritakan kejadian yang dialaminya dari awal. Kotak musik yang diterimanya dari Rin, lalu pertemuannya dengan Kaito, permohonannya yang pertama, namun ia tidak menceritakan permohonannya yang kedua.
"Jin yang bernama Kaito itu sangat tampan. Rambut birunya yang lembut dan kulit putih mulusnya itu telah menghipnotis mataku..." tanpa sadar, Miku telah terlena dengan bayangannya sendiri mengenai Kaito. Rinto dan Rin yang mendengarnya pun sweatdrop di tempat.
"Um... Miku," panggil Rin. "Kau masih memiliki satu permohonan lagi, kan?"
Miku pun mengangguk.
"Lalu, mengapa tidak kau minta saja agar jin yang bernama Kaito itu mau menjadi kekasihmu?" ucapan Rin barusan berhasil Miku membeku. Miku merenungkan ucapan Rin barusan.
'Benar juga...' batin Miku dalam hati. 'Mungkin ini agak egois, tapi biarlah.' Entah ini baik atau tidak, tapi Miku sangat menginginkan Kaito agar menjadi miliknya.
Tapi... benarkah bahwa ini lebih penting dari segala apapun juga, untuk dijadikannya sebagai permohonan terakhirnya...?
Piiip... piiip...
Tiba-tiba Handphone berwarna tosca yang diletakan Miku ke dalam saku roknya bergetar. Miku pun merogoh sakunya dan mengambil handphone itu.
Terlihat sebuah pesan masuk tanda bahwa ada email baru yang dikirimkan kepadanya. Dengan wajah heran, Miku pun membuka email tersebut dan mulai membacanya.
.
.
.
DEG!
Jantung Miku seakan berhenti saat membaca email tersebut. Kepalanya seakan kosong dan pikirannya runyam. Tubuhnya terasa kaku saat membaca kata-kata yang terlampir di handhone-nya itu.
"Miku...?" Rin pun memanggil nama sahabatnya dengan ragu-ragu.
Karena Miku tetap tak bergeming, Rin pun mengambil handphone yang masih digenggam Miku dan membaca isinya.
Mata Rin dan Rinto pun terbelalak saat membaca tulisan dalam email tersebut.
To : MikuMikuNegi
From : Teto_FranceBread
Miku-chan, maaf mengganggu kegiatan sekolahmu. Namun, Onee-chan harus menyampaikan berita ini kepadamu. Kakakmu, Mikuo baru saja mengalami musibah. Saat berangkat ke kampus tadi, ia tertabrak truk yang melintas tiba-tiba. Saat ini keadaannya sedang kritis. Cepat datang ke rumah sakit *****! Kakakmu sangat membutuhkanmu!
Email dari Teto Kasane, kekasih Mikuo itu berhasil membuat Rinto dan Rin turut membeku.
Mikuo... kecelakaan.
Perlahan-lahan mata Miku mulai berkaca-kaca, dan air mata pun turun dari kelopak matanya.
Irisnya yang indah dan bening kini menjadi suram dan berair dengan air mata yang menggenang di matanya.
Perlahan-lahan air mata mulai menetes dari pelupuk mata Miku. Membasahi wajahnya, dan dilampiaskan dengan raungan isak tangis.
"Huaaa... N-nii-chan... Huaaa..." Miku terus menangis tanpa mempedulikan sekitarnya. Kedua tangannya yang mungil menutupi kedua matanya, dan wajahnya pun memerah.
"Ayo Miku!" seru Rin dan Rinto bersamaan. "Apa kau mau membiarkan kakakmu begitu saja sementara kau hanya menangis di sini?"
Miku menatap kedua sahabatnya dengan mata berair.
"Ng... aku..." Miku pun menghapus air matanya. "Benar, aku harus pergi sekarang."
Disusul dengan anggukan Rin dan Rinto, Miku pun segera melesat ke rumah sakit sementara Rin meminta ijin kepada kepala sekolah dan guru piket, dan Rinto mengambil tas Miku (beserta tas milik Rin dan dirinya) dan membawanya ke rumah sakit tempat di mana Mikuo berada.
Sesampainya di rumah sakit ***** beberapa menit kemudian, Miku segera menghampiri receptionist dan menanyakan kamar tempat kakaknya dirawat kepada perawat yang ada di sana.
"Ah, lelaki berambut tosca yang kecelakaan tadi pagi, ya?" ujar perawat itu dengan wajah yang tampak sedang mengingat-ingat sesuatu. "Kalau tidak salah, dia berada di kamar 203, lantai dua, di sebelah ruang–"
"Arigatou gozaimashita, kankoshi-san!" Tanpa mendengarkan lebih lanjut dari sang penjelasan sang perawat, Miku segera berlari menuju lift.
Baginya, lift berjalan begitu lama. Walau hanya naik satu lantai, penantiannya yang hanya berkisar sekitar beberapa detik itu terasa bagai menunggu selama berabad-abad!
Karena itulah, ketika lift berbunyi dan pintu lift sudah terbuka tanda bahwa lift tersebut sudah mencapai lantai yang ia tuju, Miku pun segera berlarian mencari kamar 203, tempat di mana kakaknya dirawat.
'207... 206...' Miku terus menghitung setiap kamar yang dilewatinya.
'205... 204... 203!' Tanpa babibu lagi, Miku segera membuka paksa pintu bertuliskan '203' itu.
.
.
.
Miku terdiam sejenak melihat apa yang ada di hadapannya saat ini.
Kakaknya, Mikuo Hatsune, terbaring dengan perban putih dengan bercak merah yang meliliti tubuhnya. Tubuhnya tampak kaku dan lemah. Wajahnya begitu pucat, dan jarum infus tertancap di telapak tangan kirinya.
Sementara itu kekasih Mikuo, Teto Kasane, sedang duduk di atas salah satu kursi di dekat kasur tempat Mikuo terbaring. Ia terus menggenggam tangan kanan Mikuo yang dingin. Kelopak mata Teto tampak suram dan sembab, terlihat jelas bahwa ia habis menangis.
"N-nii-chan...?" panggil Miku kepada kakaknya. Keadaan kakaknya saat itu sangat menyedihkan. Terlebih lagi kedua orang tua mereka yang saat itu sedang berada di luar kota, sehingga tidak dapat menjenguk Mikuo.
Mikuo yang dipanggil hanya diam dan tak merespon panggilan Miku. Mungkin bisa saja ada beberapa orang yang mengira bahwa saat ini Mikuo sudah meninggal.
Tubuhnya begitu kaku. Diam dan tak bergerak sedikitpun.
"Miku-chan..." tiba-tiba Teto memanggil Miku.
"Ada apa, Onee-chan?"
"Tadi dokter bilang bahwa... kakakmu harus melaksanakan operasi malam ini juga," ujar Teto dengan suara serak seperti ingin menangis. "Ta-tapi... kemungkinannya untuk selamat..."
Teto tidak dapat melanjutkan perkataannya. Air matanya pun tumpah dan Teto kembali menangis sambil terus menggenggam tangan kanan Mikuo.
Miku yang melihat Teto yang sedang menangis sudah dapat menebak apa yang terjadi. Pasti kemungkinan bagi kakaknya tersayang untuk selamat sangatlah kecil.
Tapi, siapa tahu masih ada kemungkinan...?
"B-berapa... berapa besar kemungkinan Mikuo nii-chan untuk selamat...?" tanya Miku dengan sedikit ragu-ragu.
Suasana pun hening seketika. Teto menarik nafas dengan berat dan menjawab pertanyaan Miku.
.
.
.
Miku menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia sama sekali tidak percaya dengan perkataan Teto.
Air matanya mulai mengalir, dan kembali membasahi wajahnya.
"Tidak..." Miku terisak dalam tangisnya. "Hanya... hanya 2 persen...?"
"Kalau operasi tidak berhasil, Mikuo tidak akan selamat. Kalaupun ia dapat selamat secara ajaib pun, ia akan mengalami lumpuh permanen... atau koma yang cukup panjang. Itulah kata dokter..." Teto melanjutkan penjelasannya sambil menundukan kepalanya.
Sakit. Walau tidak ada luka yang terlihat, namun hati kedua insan yang kini sedang menemani sang empunya rambut tosca pendek ini sedang diselimuti rasa pedih yang mendalam.
"K-Kalau tidak operasi...?"
Teto menggelengkan kepalanya setelah mendengar pertanyaan Miku.
"Suatu keajaiban bagi Mikuo kalau ia bisa melewati malam ini..."
Miku kembali menutup mulutnya dengan kedua tangan mungilnya. Tidak menyangka akan apa yang didengarnya barusan.
Air matanya pun kembali mengalir. Namun kali ini lebih deras. Rasa pedih dan sakit saat mengetahui kenyataan ini memang benar-benar menyesakan hati.
Tepat di saat Miku hendak menangis sekencang-kencangnya, Rinto dan Rin masuk ke dalam kamar itu tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Miku pun menoleh ke arah kedua insan empunya rambut honey blonde itu tanpa mempedulikan mata dan wajahnya yang masih basah oleh air mata.
Dan tentu saja, hal itu disadari oleh Rin dan Rinto.
"Miku-chan?! Ada apa?" Rin menghampiri sahabatnya dan menghapus air mata yang ada pada diri Miku.
Miku pun menggenggam erat tangan Rin dan menceritakan semua hal yang dikatakan Teto barusan dengan mulut bergetar. Ia benar-benar sudah tidak sanggup untuk menghadapi segala kenyataan ini.
Bahwa... nyawa kakaknya sedang terancam...
Rin dan Rinto yang melihat mata Miku yang basah, serta tubuh Miku yang bergetar ketakutan, langsung menyadari kondisi saat itu juga. Sebuah kondisi... yang tidak dapat dideskripsikan begitu saja ke dalam kata-kata.
Mereka tidak dapat melakukan apa-apa. Rin dan Rinto membiarkan Miku menangis sepuas-puasnya di dalam pelukan Teto, sementara mereka berdua sendiri hanya dapat terpaku, tanpa dapat berbuat apa-apa.
Namun, tiba-tiba suara Rinto pun memecah keheningan.
"Miku-chan," panggil Rinto dengan tiba-tiba, sehingga tampak jelas ekspresi terkejut yang langsung terlukis di wajah Miku. "Bisa kita bicara sebentar... bertiga bersama dengan Rin?"
Miku pun melepaskan pelukannya di tubuh Teto, dan menghapus air mata yang membasahi wajahnya.
Dengan perlahan, ia bangkit berdiri dan menatap wajah Rinto dengan pandangan sayu dan mata sembab.
"Silahkan,"
Di sinilah Miku, Rin, dan Rinto saat ini. Di atas atap rumah sakit, tempat di mana Mikuo dirawat.
Angin berhembus sedikit lebih kencang di atas sini, meniup rambut mereka bertiga dan berhembus menerpa wajah mereka yang sedang dirundung rasa kesedihan.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Miku tanpa berbasa-basi. Kondisi kakaknya saat ini membuatnya tidak dapat berpikir jernih.
Rinto meregangkan pundaknya dan lengannya, dan meletakan kedua telapak tangannya di belakang kepalanya.
"Singkat saja," jawab Rinto dengan gaya cool-nya yang khas. "Tampaknya, ini lebih mudah dari yang kita bayangkan. Mengapa tidak kau minta saja kepada jin kesayanganmu itu untuk menyembuhkan Mikuo-senpai?"
Seketika suasana hening setelah Rinto berkata demikian. Hening, tak ada yang membuka mulut untuk mengucapkan sepatah katapun.
Selang beberapa detik, Miku mencoba berkata-kata, namun tak ada yang keluar dari dalam mulutnya. Suaranya seakan tertahan oleh sesuatu hal yang kuat, cukup kuat untuk membuatnya membisu.
Namun, tidak demikian dengan sosok gadis berambut honey blonde ini.
"Tapi, Rinto-kun... Bagaimana dengan perasaan Miku yang menyukai jin itu? Kalau permohonan terakhirnya tidak digunakan untuk mewujudkan perasaan Miku, ia tidak lagi punya kesempatan untuk..."
"Mana yang lebih penting, kakak atau cinta?"
Kata-kata itu seakan menusuk telak di hati Miku. Kata-kata yang tepat sasaran untuk membuat Miku terpaku. Mata Miku terbelalak, tidak tahu apa yang harus diperbuat.
'Kakak... atau perasaan ini...?' Miku tidak tahu, ke mana ia harus melangkah. Ia tahu, kalau ia menggunakan permohonan terakhirnya untuk keselamatan kakaknya, pasti Mikuo akan selamat.
Namun, itu sama saja dengan membuang cinta pertamanya, yang mungkin akan menjadi cinta terakhirnya.
'Kakak, cinta, kakak, cinta...' Kedua kata itu terus terngiang di dalam batin Miku. Miku meremas rambutnya, tidak tahan akan tekanan yang ia hadapi hari ini.
Tidak dihiraukan lagi, Miku pun jatuh terduduk. Kakinya lemas, tidak sanggup menahan segala beban kehidupan yang ia alami hari ini.
"Miku..." Rin menghampiri sosok Miku yang sudah tidak berdaya, dan memeluk tubuhnya dengan lembut.
"Aku yakin, kau pasti dapat menyadari betapa krisis kondisi saat ini. Jadi, kumohon... pilihlah dengan hatimu..."
Miku menjauhkan sosok Rin dari tubuhnya. Matanya terlihat suram, dan ekspresinya tampak seperti awan mendung.
"Biarkan aku sendiri..." ujar Miku, yang langsung menuruni anak tangga menuju ke lantai bawah.
Rinto meraih pundak kekasihnya yang hendak menahan Miku.
"Biarkan saja dulu. Dia memang butuh waktu untuk sendiri," ujar Rinto yang kemudian disusul dengan anggukan kepala dari Rin.
Sementara itu, Miku terus berjalan dan berjalan. Tidak ada tujuan yang menyebabkan ia terus berjalan. Ia hanya ingin sendirian, dan diberi waktu untuk merenungkan segala persoalan yang ia hadapi.
'Aku sayang pada Mikuo nii-chan... Tapi, aku juga sangat mencintai Kaito...' Batin Miku terus bergejolak dan melontarkan kata-kata yang terus berputar-putar.
'Kalau aku menyelamatkan Mikuo-nii, ia akan sehat kembali. Namun, mungkin akan ada penyesalan dalam diriku, yang telah membuang cinta pertamaku...'
Miku terus berjalan tanpa arah dan tujuan, hingga tanpa ia sadari, ia sudah berada di depan jendela kamar tempat kakaknya dirawat.
Miku pun melirik sedikit ke dalam jendela tersebut. Hatinya serasa teriris saat melihat apa yang terjadi di dalam kamar.
Teto, dengan berlinang air mata, terus menggenggam erat tangan Mikuo yang tampak kaku dan dingin. Sebuah senyuman yang tampak jelas dipaksakan tersungging di bibir Teto.
Mulut Teto terlihat seperti sedang mengucapkan sesuatu. Miku memang tidak dapat mendengar jelas apa yang dikatakan Teto, namun ia yakin bahwa kata-kata itu adalah kata-kata penghiburan yang ditujukan Teto kepada Mikuo.
"Aishiteru, Mikuo-kun..." Air mata Miku tumpah ketika mendengar kata-kata Teto barusan.
Memang hanya kata-kata singkat yang mudah diucapkan, namun itu merupakan sebuah pernyataan cinta yang sangat tulus.
Sebuah kasih sayang yang tidak akan dapat diberikannya kepada kakaknya, maupun kepada sahabat baiknya.
Miku sadar, kasih sayang Teto terhadap Mikuo begitu besar, dan mungkin lebih besar dari pada rasa cintanya terhadap Kaito. Kalau Mikuo tiada, Miku tidak dapat membayangkan, apa yang akan terjadi pada Teto. Pasti Teto akan sangat terpukul, lebih dari dirinya sendiri.
Miku pun mengusap air matanya, dan melangkahkan kakinya dengan yakin. Saat ini, tujuannya sudah sangatlah jelas. Ia akan segera menyelesaikan masalah ini.
.
Setengah jam waktu yang diperlukan seorang Miku Hatsune untuk sampai ke rumahnya dari rumah sakit yang baru saja dikunjunginya tadi.
Saat ini Miku sedang menaiki anak tangga di rumahnya satu persatu. Dengan langkah perlahan yang pasti, ia berjalan menuju pintu kamarnya.
Di dalam kamarnya, disapu setiap sudut yang ada, untuk mencari benda yang diperlukannya saat ini.
Pandangannya terhenti pada sebuah kotak yang berhias corak indah. Kotak itu tidak lain adalah sebuah kotak musik, yang diberikan Rin kepadanya sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke-17.
Miku pun berjalan mendekati kotak itu, dan meraih kotak itu.
Diamati setiap sudut yang ada pada kotak musik itu. Jemarinya meraba setiap inci dari kotak musik yang indah ini.
Inilah awal dari kisah cintanya, dan ini pula akhir dari kisah cintanya.
Dengan perlahan, Miku memutar tuas yang ada pada salah satu sisi kota musik, dan membuka kota itu dengan perlahan.
Kembali alunan lagu nan merdu terdengar, memenuhi ruangan kamar yang sempit, terus mengalun sampai ke luar jendela, dan terus terbawa angin sore yang sejuk.
Miku menikmati musik ini, yang mungkin akan menjadi yang terakhir kalinya terdengar di telinganya. Ia ingin meresapi setiap ritme yang ada, dan mengenang setiap nada-nada indah yang dihasilkannya.
Karena ini adalah yang terakhir.
Kembali asap kebiruan muncul dan memenuhi ruangan. Namun, kali ini Miku tidak menahan nafasnya. Ia ingin meresapi segala kenangan akan kotak musik ini.
Harum, seperti parfum yang biasa digunakan para pria.
Itulah yang tercium di hidung mungil Miku.
Dan kembali sosok yang dicintainya muncul di hadapan Miku. Kaito, sang jin yang telah berhasil merebut hatinya.
"Apakah ada yang bisa saya bantu?" tanya Kaito dengan penuh hormat kepada Miku.
Miku menatap Kaito, mengamatinya dari ujung rambut ke ujung kaki. Jangan sampai ada yang terlewat, karena mungkin inilah terakhir kalinya ia melihat sosok tampan ini.
"Kaito..." tanpa sadar Miku memanggil nama jin yang ada di hadapannya ini.
"Ada apa, Nona?" tanya Kaito dengan senyuman indah yang menghiasi wajahnya, dan berhasil membuat wajah Miku kembali memerah.
"Aku... aku akan menyampaikan permohonan terakhirku." Rasanya berat sekali bagi Miku untuk mengucapkan kata-kata tersebut. Karena itu akan menjadi kata-kata perpisahan bagi dirinya dan Kaito.
"Permohonanmu adalah perintah bagiku. Ucapkanlah," ujar Kaito dengan senyuman yang masih menghiasi wajahnya.
Miku menarin nafasnya panjang, dan membuka mulutnya, siap mengutarakan permohonan terakhirnya.
"Aku mohon, tolong selamatkan Mikuo-nii!" Miku meneriakan permintaannya, entah agar dapat langsung terdengar oleh sang jin, atau karena alasan lain.
Kaito tampak terkejut mendengar Miku berteriak. Lebih lagi, saat ini didapatinya Miku kembali menangis. Air mata membasahi pipi Miku yang memerah, dan bibirnya bergetar seakan hendak mengutarakan sesuatu.
"Akan saya kabulkan," jawa Kaito sambil menunduk hormat.
Tepat ketika Kaito kembali mengangkat kepalanya, tubuh Miku langsung memeluk dirinya.
"Kumohon, jangan pergi! Jangan tinggalkan aku!" Miku berseru dan meraung-raung layaknya anak kecil. Namun Kaito hanya dapat tersenyum, dan mengusap puncak kepala Miku.
"Saya hanya dapat mengabulkan tiga permohonan. Tidak lebih, tanpa terkecuali. Maaf,"
"Kumohon! Kau telah merubah hidupku, Kaito! Jangan pergi..."
"Bukankah saya sudah mengatakannya pada anda, Nona? Hanya tiga permohonan..."
Dengan perlahan, sosok Kaito mulai menghilang.
"Rasanya inilah saatnya kita berpisah, Nona. Sayonara..." Kaito tersenyum kepada Miku, mungkin untuk yang terakhir kalinya.
Miku tidak menyerah, ia tetap terus menggenggam pakaian yang dikenakan Kaito.
"Tidak sebelum itu, aku ingin mengatakannya! Aku..."
Terlambat. Kaito sudah menghilang. Begitu pula dengan kotak musik pemberian Rin. Semuanya lenyap. Cinta pertamanya, harus berakhir seperti ini.
Miku tahu, kalau saja ia mengatakan hal ini lebih cepat...
"Aku mencintaimu, Kaito!"
.
Beberapa bulan telah berlalu semenjak hari itu. Miku pun dapat melalui hari-harinya seperti biasa seperti sebelum ia menerima hadiah kotak musik itu.
Di luar dugaan para dokter, Mikuo sembuh dengan cepat, dan dapat segera kembali ke rumahnya setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit.
Saat ini, ia sedang berada di universitas tempat ia menimba ilmu. Mungkin saat ini ia sedang makan berdua dengan Teto di kafetaria dekat universitas.
Sementara itu, Miku, Rin, dan Rinto sedang menyantap makanan langganan mereka di kantin sekolah. Apalagi kalau bukan sup negi dan dua gelas smoothies jeruk?
Miku menyendok sup negi-nya dengan lahap. Pelajaran di sekolah hari itu benar-benar membuatnya lapar!
Sementara ia sedang makan, diam-diam diamatinya tingkah laku Rin dan Rinto yang tampak lebih pendiam dari biasanya. Miku yang memang pada dasarnya suka iseng langsung menggoda mereka.
"Kalian ini, seperti sepasang orang yang mau menikah saja!" seru Miku sambil tertawa terkikik.
Tanpa diduga oleh Miku, wajah Rin dan Rinto langsung memerah. Mata mereka terbelalak, dan mulut mereka serasa terkunci. Seolah kata-kata Miku tepat sasaran terhadap mereka.
"E-eh...? Kenapa reaksi kalian begitu? Aku kan cuma bercanda..."
"Ano..." Rin membuka mulutnya dengan malu-malu. "Kami... memang sudah merencanakan tanggal pernikahan kami..."
.
.
.
"SERIUS?!" Miku terlonjak kaget mendengar perkataan Rin. "Kalian 'kan baru 17 tahun!"
Rinto menghela nafas panjang dan menceritakan apa yang terjadi.
Jadi, ternyata keluarga Rinto adalah keluarga yang cukup kaya. Seminggu yang lalu, Rinto memperkenalkan Rin kepada keluarganya. Dan tanpa ada yang menduga, orang tua Rinto langsung memaksa agar mereka berdua secepatnya berkeluarga setelah akhir tahun ajaran nanti.
Setelah menikah nanti, Rinto dan Rin akan pindah ke Amerika, tepatnya di California. Mereka akan melanjutkan ke perguruan tinggi di California, dan mengharapkan kehidupan yang lebih baik di sana. Setidaknya, itulah yang diinginkan orang tua Rinto, yang langsung disetujui oleh kedua orang tua Rin.
"'Biar kami yang mengurus semuanya.' Begitulah orang tuaku berkata," ucap Rinto dengan berat. "Masa-masa remajaku akan terbuang..."
Miku pun kembali terkikik mendengar ucapan Rinto.
"Tapi, tentunya kau bahagia dapat bersama-sama dengan orang yang kau cintai..."
Kata-kata yang diucapkannya sendiri itu serasa menyayat hatinya. Ternyata, ingatannya akan Kaito belum juga menghilang.
'Ya. Betapa bahagianya dapat bersama dengan orang yang kita cintai...'
"Miku?" Rin memanggil nama Miku, khawatir pada sahabatnya yang diam secara mendadak.
"Ah, maaf. Aku jadi melamun," ujar Miku sambil kembali menyantap sup neginya yang masih tersisa setengah. "Pokoknya, semoga kalian berdua bahagia dan rukun selalu!"
Rinto dan Rin saling berpandangan, bingung pada perubahan sikap Miku yang tiba-tiba.
.
Miku menatap langit biru yang cerah. Langit ini terus mengingatkannya akan sosok cinta pertamanya yang ditemukannya sekitar 10 tahun yang lalu, ketika ia masih menduduki bangku SMA.
Miku membiarkan angin semilir meniup wajahnya, merasakan sensasi sejuk yang terus membuat hatinya merasa nyaman.
Miku yang sekarang bukanlah gadis kecil berusia 17 tahun yang sering menangis. Kini ia telah tumbuh menjadi sesosok wanita dewasa yang bekerja sebagai manager dalam sebuah perusahaan.
Dengan modal nilai yang tinggi di perguruan tinggi, Miku langsung direbut oleh perusahaan ternama dan menjadi kaya di usia yang begitu muda.
Hari ini hari Minggu, jadi ia pun menghabiskan waktu istirahatnya yang berharga dengan menikmati nikmatnya angin semilir yang selalu dirasakannya di balkon rumahnya.
Rambutnya yang berwarna tosca tertiup angin, berkibar lembut mengikuti arah angin membawanya. Nikmat sekali rasanya angin pada sore hari ini.
Tiba-tiba, terdengar di telinganya nada dering handphone-nya sendiri. Dengan terburu-buru, Miku segera berlari memasuki kamarnya yang berukuran 5mX6m itu dan menghampiri meja riasnya.
Diambilnya handphone berwarna kehijauan yang masih dimilikinya semenjak 10 tahun yang lalu.
Miku pun menekan tombol hijau pada bagian kiri permukaan handphone dan meletakan handphone tersebut didepan telinganya.
"Halo, Miku!" Terdengar suara yang tidak lagi asing di telinga Miku.
"Rinny! Apa kabar?"
"Ukh! Jangan panggil dengan nama kecil dong! Yah, aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?"
Miku tersenyum sendiri mendengar suara sahabatnya yang terdengar begitu ceria.
"Baik. Jadi, kapan kau, Rinto, dan Len pulang ke Jepang?"
"Kau bisa menjemput kami di bandara malam ini, pukul 8 malam. Tapi, apa benar kami boleh menginap di rumahmu selama kami sampai di Jepang nanti?"
Miku kembali terkikik.
"Tentu saja boleh! Kau tahu sendiri, 'kan? Rumahku yang besar ini hanya aku seorang penghuninya. Tentu saja aku bosan. Aku akan sangat senang kalau ada yang bisa menemaniku menghabiskan waktu di rumahku ini,"
"Iya deh, terserah padamu. Tapi, aku akan datang berempat, bukan bertiga. Tidak apa-apa 'kan?"
'Berempat...?'
"Tidak apa-apa kok! Bersepuluh sekalipun juga tidak apa-apa! Kita 'kan sahabat, Rin! Tapi, memang siapa lagi yang akan ikut ke Jepang bersamamu?"
Terdengan suara kikikan tawa Rin di handphone Miku.
"Len ingin membawa sahabat baiknya ke Jepang. Orang tuanya juga sudah mengijinkan. Len memang anak yang unik. Biasanya anak-anak seusianya akan membawa mainan jika berpergian jauh. Namun, dia membawa seorang sahabat! Yah, lagipula tampaknya teman Len yang satu ini memang sering ditinggal orang tuanya..."
"Wah, sepertinya dia anak yang manis. Aku akan menyambut kalian nanti, jadi ditunggu, ya!"
"Iya! Bye, Miku!"
"Bye, Rin!"
Miku pun menekan tombol merah pada handphone-nya dan menghela nafas panjang. Dalam hati ia iri pada Rin, yang dapat menikah dengan orang yang dicintainya dan memiliki seorang anak dari orang tersebut.
Rin dan Rinto menikah, tepat sehari setelah upacara kenaikan kelas. Lalu, mereka memiliki anak 1 tahun kemudian dan diberi nama 'Len Kagami'.
Miku menghela nafas panjang. Mengharapkan, seandainya saja ia dan Kaito dapat sebahagia itu.
Kakaknya, Mikuo pun tampaknya bahagia dengan keluarganya. Walau ia tidak sesukses adiknya, namun Mikuo tampak bahagia hidup bersama dengan Teto di daerah pedesaan di Hokkaido.
Miku sendiri, tetap berada di tanah kelahirannya. Di Tokyo, berada di dalam rumahnya yang terdiri atas 3 lantai dan banyak kamar.
Ia tidak tahu mengapa memilih untuk membeli rumah ini, namun siapa peduli? Lagipula Miku merasa senang berada di rumahnya, dan dapat menikmati angin segar setiap hari seperti ini.
Miku melirik jam tangannya. Pukul 5 tepat. Masih ada waktu untuk mempersiapkan diri sebelum datang menjemput Rin beserta keluarganya (ditambah seorang anak berusia 8 tahun sahabat Len tentunya).
Waktu 2 jam dimanfaatkan Miku untuk mandi dan makan. Ia mengenakan blouse berwarna tosca lembut dan rok biru yang panjangnya selutut. Tidak lupa ia memakai mantelnya yang berwarna putih, serta mengikat rambutnya dengan gaya andalannya sejak dulu, twintails.
Miku melihat dirinya sendiri di cermin. Sempurna, setidaknya itulah menurut batinnya sendiri.
Ia tersenyum puas, dan mengambil kunci mobil yang terletak di meja kerjanya, dan melangkah menuju mobil Rolls Royce-nya.
Tidak disangka, di usianya yang masih sangatlah muda, Miku dapat menjadi salah satu orang terkaya di daerahnya. Dengan otaknya yang cerdas, dan ketekunannya yang dikagumi banyak orang, gajinya dapat terbilang sangat besar.
Dia mengendarai mobilnya menuju ke bandara. Bandara tempat pesawat Rin dan keluarganya akan mendarat nanti memang cukup jauh, sehingga memakan waktu 1 jam penuh.
Miku tersenyum membayangkan wajah sahabatnya yang telah lama tidak bertemu dengannya.
Bayangkan, 10 tahun terpisah dan mereka masih bersahabat, walau hanya berkomunikasi dengan telpon dan email.
Miku penasaran, seperti apakah sosok sahabatnya kini setelah 10 tahun tidak saling bertatap mata.
Ketika memikirkannya, Miku jadi terkikik sendiri. Tanpa terasa, ia pun sudah sampai di bandara tempat di mana seharusnya Rin berada.
"Hei, Miku!" terdengar suara nyaring yang sangat khas di telinga Miku. Miku pun langsung menoleh ke arah di mana suara itu berasal, dan melihat Rin beserta Rinto, serta dua orang anak kecil berusia sekitar 8 sampai 9 tahun. Satu berambut honey blonde seperti Rin dan Rinto, dan satu lagi berwarna ocean blue, seperti rambut... Kaito.
Miku pun berlari menghampiri mereka berempat. Tanpa mengatakan apa-apa, Rin dan Miku saling berpelukan melepas rindu.
"Aku kangeeeeen sekali padamu, Miku-chan!" seru Rin sambil mempererat pelukannya.
"Aku juga kangen padamu, Rinny~!" Miku mengusap pelan rambut Rin, yang sampai saat ini pun masih dihiasi oleh pita putih yang besar, seperti masa-masa ketika di SMA dulu.
Namun kini ada yang berubah. Rambut sebahu Rin yang imut, kini telah menjadi rambut panjang sepunggung yang indah dan lebih dewasa. Namun, tetap ada satu hal yang tidak akan menghilang dari sosok Rin. Yaitu, jiwa bersahabat dan ikatan batin yang tersambung pada diri Rin dengan Miku.
"Yo, Miku-chan!" Miku pun menoleh ke asal suara itu. Rinto, kini telah tumbuh menjadi pria yang tampan, dan tampak begitu dewasa. Rin dan Rinto mengalami banyak perubahan semenjak 10 tahun yang lalu. Sementara dirinya, Miku Hatsune, tetaplah seorang Miku Hatsune yang berambut twintails. Hanya pada saat pergi bekerjalah ikatan rambut twintails-nya diubah menyadi ponytail yang memang terlihat lebih dewasa.
"Rinto-kun! Kau benar-benar berubah! Hampir saja aku tidak mengenalimu!" seru Miku terkejut melihat begitu banyak perubahan yang ada pada diri Rinto. Rinto yang dulunya tidak berbeda jauh tingginya dengan dirinya, kini telah menjadi sesosok pria dewasa yang akan membuat setiap wanita yang melihatnya luluh.
Namun tidak untuk Miku.
Bagi Miku, di hatinya hanya ada Kaito. Baik di masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang.
"Kau juga baonyak berubah, Miku-chan." Rinto mendekatkan wajahnya ke wajah Miku. Sontak Miku sedikit terkejut dengan sikap Rinto yang tiba-tiba begini.
"Kau tampak lebih cantik," bisik Rinto di telinga Miku, dan berhasil membuat wajah Miku sedikit memerah.
Tiba-tiba, terdengar suara tawa yang berasal dari Rin.
"Hahaha... kau berhasil menggodanya, Rinto!" seru Rin sambil menunjuk-nunjuk ke arah Miku. Rinto pun terkekeh, dan mengusap kepala Miku.
"Rin itu memang tahu betul kelemahanmu, ya." Rinto pun tersenyum, dan merangkul Rin untuk menghentikan tawanya.
'Jadi, tadi itu rencananya Rin...?' batin Miku dengan sedikit kesal. Namun, ia tidak kuat menahan tawanya, sehingga tawanya pun meledak dan ia tertawa terbahak-bahak.
"Kau ini, Rin! Bisa saja!" seru Miku. Tawanya meledak, mengeluarkan segala kerinduan yang ia pendam terhadap kedua sahabatnya ini. Rin dan Rinto pun turut tertawa, tidak menyia-nyiakan kesempatan yang begitu berharga ini.
Bayangkan, mungkin saja mereka hanya dapat bertatap wajah kali ini saja, karena Rin dan Rinto tidaklah berlama-lama berada di Jepang.
Bisa dibilang, sama seperti halnya Miku, Rin dan Rinto telah menjadi orang yang sukses di California. Mereka semua hidup bahagia, namun masih ada yang kurang pada diri Miku, untuk membuatnya menjadi orang yang benar-benar bahagia.
Ia masih belum memiliki pasangan, di usianya yang sudah menginjak usia 27 tahun ini.
Walau Rin beserta keluarga Miku sudah menawarkan diri untuk mencarikan Miku seorang pria yang baik hati, Miku tetap menolak.
"Aku ingin fokus pada pekerjaanku," ucap Miku setiap kali seseorang menanyakannya soal pasangan. Namun, tentu saja bukan itu masalah yang sebenarnya.
Ia masih belum bisa melupakan Kaito, cinta pertamanya yang bersemi di kala SMA.
Terdengar tampak seperti anak kecil yang sedang merajuk, memang. Tapi, pendirian Miku sudah kuat, dan tidak akan ada yang dapat menggoyahkannya.
Miku melirik ke arah Len dan si anak berambut ocean blue itu, dan tersenyum manis.
"Yang berambut pirang ini pasti Len! Dan ini, pasti sahabat Len yang diceritakan Rinny di telpon tadi." Miku menundukan tubuhnya, dan mengeluarkan senyuman terbaiknya pada anak berambut ocean blue yang terlihat malu-malu itu.
"Halo, siapa namamu?" tanya Miku dengan ramah. Anak itu menundukan kepalanya, dan menaitkan tangan kirinya ke lengan Len.
Len pun menatap sahabatnya yang tampak takut itu, dan mengucapkan sesuatu yang tidak terlalu jelas di telinga Miku.
Anak berambut ocean blue itu meneguk ludahnya, dan mulai membuka mulutnya.
"Namaku... namaku Kaito..."
.
.
.
"Namamu... siapa?!"
"K-Kaito..." Tampak jelas ekspresi wajah Miku yang tampak terjekut ketika mendengar nama itu kembali keluar dari mulut sang anak berambut ocean blue.
Miku menggenggam pundak anak itu seerat mungkin, dan menatapnya lekat-lekat. Air mata menetes dari iris tosca Miku yang indah, dan membasahi pipi serta dagunya.
Miku pun menarik tubuh anak kecil yang tampak kebingungan itu ke dalam pelukannya. Miku memeluk anak itu seerat mungkin, agar tak lepas dari sisinya.
"Akhirnya... kau kembali..." Miku berbisik di tengah isak tangisnya. Bisikan yang cukup pelan, sehingga hanya dirinya dan anak yang bernama 'Kaito' itulah yang mendengarnya.
Rin, Rinto, dan Len yang melihat kejadian ini hanya terdiam. Walau tidak tahu apapun, mereka tahu bahwa sebaiknya mereka diam saja, dan membiarkan Miku melampiaskan segala perasaan yang dipendamnya selama 10 tahun.
.
Malam telah tiba, dan masing-masing dari mereka pun sudah siap di atas tempat tidur mereka masing-masing untuk terlelap di dalam mimpi.
Begitu pula dengan Miku, yang saat ini tengah terbaring dengan mata terpejam di atas kasurnya yang berukuran Queen-size.
Pikirannya mulai menjadi kosong, dan sebentar lagi pasti Miku akan segera terlelap dan hanyut ke dalam mimpi.
Namun, sebuah suara memanggil namanya. Sebuah suara, yang sudah bertahun-tahun lamanya tidak terdengar di telinganya.
"Nona Miku," panggil suara itu dengan suara lembut. "Bangunlah,"
Miku mengedipkan matanya, dan mulai membuka matanya dengan perlahan. Ia pun mulai mengubah posisinya menjadi duduk, dan menoleh ke arah di mana suara itu berasal.
Betapa terkejutnya Miku, ketika ia melihat sesosok pria... yang telah lama tidak ia lihat sosoknya.
Pria ini sama sekali tidak berubah dari apa yang diingatnya dahulu. Rambutnya yang berwarna ocean blue, mata birunya yang lembut, dan bahkan pakaiannya yang menyerupai pakaian seorang bangsawan.
Sama... seperti yang diingatnya.
Dan sekarang, pria ini sedang duduk di tepi tempat tidurnya, dengan senyuman menawan yang selalu terkenang di hati Miku selama ini.
"K-Kaito..." Air mata Miku kembali menetes membasahi wajahnya. Dengan cepat, Miku pun langsung memeluk erat tubuh jin kesayangannya itu dan menangis di pelukan Kaito.
"Aku kembali, Nona..." bisik Kaito dengan lembut sambil mengusap kepala Miku sehalus mungkin.
Miku mengangguk di tengah isak tangisnya, dan mulai mengangkat kepalanya, mempertemukan pandangan mereka berdua. Dengan perlahan, sebuah senyuman manis tersungging di bibir Miku.
"Terima kasih," ucap Miku yang langsung disusul dengan munculnya asap berwarna kebiruan yang dulu selalu muncul ketika Kaito akan datang.
Seiring dengan hilangnya asap itu, sosok sang pria berambut biru pun menghilang, digantikan oleh sesosok anak kecil dengan warna rambut yang sama seperti sang jin, tertidur lelap di sisi lain tempat tidurnya.
Miku tersenyum menatap sosok Kaito yang kini menjelma menjadi sesosok anak kecil.
Dengan lembut, Miku mengusap kepala Kaito dan membisikan kata-kata di telinganya.
"Oyasumi, Kaito-kun..."
.
The End
.
Ryu : ... *shock liat jumlah words*
Miku : *liat juga* WHUT?! OAO 5,5k+?!
Kaito : Ternyata predeksiku kalau akan kebanyakan words benar :D #Slapped by Ryu
Ryu : Maaf, kepanjangan ya...? T_T Sudah deh, yang penting selesai... #Dor!
Rin : Pesan dari Ryu, katanya setelah chapter ini update, Ryu akan coba buat drabbles fic :D mungkin Ryu bakal ketagihan bikin kalau ceritanya pendek-pendek gitu XD (dari ngetik 5k+ ke 200+...?)
Ryu : Akir kata... review, please? ;)
