Tiltle : Remember Me?
Author : cindyjung
Pairing : YunJae (Yunho X Jaejoong)
Rate : T bit M
Diclaemer : Semua tokoh yang ada disini adalah hasil fiksi belaka, saya Cuma pinjam nama saja, jadi mohon jangan tersinggung ne? ^^
WARNING! YAOI, TYPO BERTEBARAN, ANGST DETECTED, COMPILICATED, OOC, BBB (BANYAK BASA BASI)
.
.
.
Terasa sangat menyenangkan
Melihat bulan sabit itu menyapa wajahmu
Tapi juga terasa menyakitkan
Karena itu bukan untukku
.RememberMe?.
DRRRRRR
Sebuah getaran mengganggu pemilik mata musang yang tengah meringkuk manja di dalam selimutnya. Tangannya kanannya yang bebas kemudian meraih sebuah ponsel di meja yang berada tidak jauh dari tempatnya berada. Matanya yang tadinya terpejam manja kini perlahan mulai membuka dan menampakan segaris mata lelah disana. Tampak beberapa pesan masuk disana yang berasal dari sumber yang sama.
From : Tiffany Hwang
Selamat pagi :D
Apakah kau tidak bersiap untuk bekerja?
Ah, aku lupa kau sudah tidak bekerja. Baiklah kalau begitu, aku hanya ingin mengucapkan selamat pagi.
Fighting! ^^
Mata musang itu menatap layarnya sambil terdiam. Tidak ada niat untuk membalas pesan singkat tersebut namun sebagian hatinya seakan ingin membalas segala pesan singkat manis itu untuknya. Entah apa perasaan yang Yunho rasakan kali ini. Perasaan yang tertinggal? Atau kah...
"YA!" pekik seorang yang mengagetkan Yunho dan membuat mata sipitnya terbelalak dan menghadapkan kepalanya menuju keasal suara dibelakangnya
Jaejoong yang tengah terbaring manja di belakang Yunho sambil mengintip pesan singkat yang tampak diponsel milik Yunho hanya dapat terdiam ketika wajah Yunho perlahan membalik mendekati wajahnya.
DEG!
Jantung Yunho menghantam dengan kencang dan nafasnya terhenti sejenak. Bukan karena rasa takut yang diberikan oleh Jaejoong, namun lebih kesebuah perasaan yang hangat. Untuk pertama kalinya Yunho menatapi wajah 'orang' tersebut secara lebih dekat. Matanya yang doe, hidungnya yang mancung, bibirnya yang berbentuk seperti buah persik, dan... wajahnya yang sungguh pucat. Entah mengapa pemandangan itu begitu menghangatkan Yunho.
"Cantik" itulah gambaran yang Yunho dapatkan pada pagi hari ini tentang Kim Jaejoong
"YA!" lagi pekikan itu mengalun dari pemilik bibir peach tersebut
"Kau kenapa eoh? Masih tidak terbiasa melihatku disisimu? Apakah masih harus kujelaskan ini rumahku, yah namja cabul yang menyebut orang lain cabul?" kata Jaejoong kemudian
Yunho yang tadinya merasa pemandangan didepannya begitu indah tiba-tiba mengalihkan pikirannya dan menggelengkan kepalanya kesal sambil memejamkan matanya.
"Apa yang baru saja kupikirkan eoh?" batin Yunho sambil menaruh kembali pada ponselnya dan menidurkan tubuhnya menghadap langit-langit kamar
Yunho membangkitkan tubuhnya dan duduk di tempat tidur, diikuti dengan Jaejoong yang juga melakukan hal yang sama disamping Yunho masih sambil memandang Yunho.
"Siapa yang kau bilang 'namja cabul yang menyebut orang lain cabul' huh?" kata Yunho sambil menghadapkan kepalanya menatap Jaejoong
"Kalau memang aku cabul lalu kenapa eoh? Itu mungkin kenyataan. Tapi 'orang' yang kau sebut dalam pernyataan itu siapa hum? Kau? Kau bahkan bukan manusia, mengerti?" gertak Yunho kejam sambil meninggalkan tempat tidur itu dan menuju kamar mandi
Jaejoong hanya menatap datar kepergian Yunho hingga akhirnya mengeluarkan sebuah desahan berat ketika telah didengarnya sebuah gercik air.
"Benar, aku bukan manusia, lalu kenapa? Apa aku tidak boleh memperhatikanmu? Apa aku tidak boleh menggodamu? Apa aku tidak boleh mengganggumu? Jung Yunho. Aku menyukaimu" bisik Jaejoong pelan
.RememberMe?.
Changmin melangkahkan kakinya pelan ketika memasuki ruangan dengan wangi yang sangat menusuk itu. Di tangannya terdapat beberapa tangkai bunga mawar yang masih segar. Senyum terkembang dengan indah setiap kali kepalanya memikirkan untuk siapa bunga itu hendak diberikan.
"Junsu ssi!" panggil Changmin kala menatapi orang yang memang ingin ditemuinya
"Ah, Changmin ah, ada apa kau sampai kemari?" tanya Junsu dengan senyum yang tidak kalah mereka kala menatapi namja manis itu ada dihadapannya
"Ini" kata Changmin sambil memberikan sebuket bunga mawar merah kepada Junsu
"Woah, ini cantik sekali. Dan hmmmm, harum sekali, aku akan menaruhnya di tempat yang baik" kata Junsu sambil tersenyum dan berbinar menatapi bunga yang ada dalam genggamannya itu
"Terimakasih banyak telah membantuku selama ini, Junsu ssi" kata Changmin sambil terus mempertahankan senyumnya
"Ya! Hyung! Hyung! Kalau kau benar-benar berterimakasih padaku, sebaiknya mulai sirnakan kata '-ssi' itu dan panggil aku hyung. Junsu Hyung!" kata Junsu masih memprotes panggilang Changmin padanya
"Tapi..."
"Ya! Hyung! Junsu Hyung!"
"Baiklah, Junsu Hyung, terimakasih banyak!" kata Changmin bersemangat dengan senyumnya yang manis seperti anak berumur 3 tahun
"Kau namja yang baik Changmin ah, jika aku menjadi kekasihmu, pasti rasanya menyenangkan sekali yah? Diberi bunga seperti ini setiap seminggu sekali" canda Junsu pada Changmin
"Ah, aku tidak sebaik itu hyung, aku ini hanya manusia biasa dan memiliki banyak kesalahan" kata Changmin yang mulai tersenyum canggung
"Omo, omo apa aku tidak salah dengar? Ya! Perkataanmu itu tua sekali eoh? Kau hidup di masa apa hum? Hahaha, sudahlah, sebelum bunga ini layu, aku akan menaruhnya ketempat yang benar, oke?" kata Junsu kemudian membawa mawar tersebut pergi
Changmin mengangguk pelan sebelum Junsu pergi dan mengalihkan tubuhnya meninggalkan tempat tersebut.
.RememberMe?.
Langkah basah itu terdengar menandakan Yunho telah selesai membersihkan dirinya. Yunho meletakkan handuk itu disekitar lehernya membiarkan sisa-sisa kebasahan rambutnya terserap oleh handuk tersebut sementara celana pendek telah menutupi tubuh bawahnya dengan sempurna sementara tubuh atasnya dibiarkan terbuka. Sedikit tangan kirinya terasa perih sebelum akhirnya tangan Yunho mengambil ponselnya. Ada sebuah pesan singkat disana.
From : Tiffany Hwang
Annyeong, apa kau sudah makan? Jangan lupa makan arrachi? Lambungmu itu lemah, jadi jangan sampai waktu makanmu terlewat. ^^
Seujung senyum Yunho terangkat mendapati pesan singkat yeoja itu kini selalu ada dalam ponselnya. Yunho terduduk dikasurnya sambil mengelap sisa air yang masih ada di wajahnya. Sedikit kepala berpikir dan melintasi waktu untuk mengingat pertemuannya yang terakhir dengan yeoja tersebut.
Flashback
"Hem, Yunho ah... maukah kau... memberikanku kesempatan kedua?"
"Hm?"
"Bolehkah aku... menjadi kekasihmu lagi?"
Yunho terdiam mendengar pernyataan Fanny yang tampak terlalu terburu-buru dan tiba-tiba tersebut. Memang kala Fanny menceritakan tentang hubungan mereka tampak hubungan mereka terjalin sangat baik sejak awal mereka dari sahabat hingga menjadi sepasang kekasih. Tapi bagaimanapun juga tidak ada hal yang selamanya baik.
"Yah, sayang sekali semuanya harus berakhir dengan tidak begitu baik"
Kata itu melekat begitu dalam pada kepala Yunho dan membuat Yunho berpikir dua kali hanya untuk menerima pengakuan gadis manis dihadapannya tersebut.
"Maafkan aku, tapi aku benar-benar penasaran," kata Yunho terhenti ditengahnya. "Bolehkah aku tau mengapa kita berpisah?"
Kini Fanny yang bergantian terdiam dan menatap Yunho sedikit kaget. Matanya menatap kesegala arah menandakan dirinya kini tidak ampak dengan pertanyaan Yunho.
"Apa kau menolakku?"
"Eh?"
"Kau ingin tau mengapa kita berpisah, itu berarti kau tidak menyukaiku kan? Apa berarti itu sebuah penolakan?"
"Maaf?"
"Tidak apa, Jung Yunho. Aku akan berusaha. Sekali lagi. Mendapatkan hatimu" kata Fanny kemudian sambil mengangkat kakinya pergi meninggalkan Yunho yang terdiam disana
Yunho mengerjapkan matanya bingung dengan segala perkataan Fanny tadi.
"Aneh, aku kan Cuma ingin tau bagaimana kita berpisah. Belum tentu aku menolaknya. Dasar wanita"
Flashback End
Seujung senyum Yunho tertarik kala mengalami kekonyolan yang baru saja ia kenang. Apakah wanita memang seperti itu? Terlalu cepat menyimpulkan padahal para namja belum mengucapkan jawaban yang sesungguhnya? Entahlah.
Yunho menggelengkan kepalanya pelan sebelum akhirnya sebuah perasaan mengganggu perutnya.
"Ah, aku lapar"
.
Yunho duduk terdiam menatapi meja makannya. Seketika ia membuka tudung saji seketika juga ia melihat meja makan yang sudah sangat rapi dengan berbagai macam makanan disana. Memang sudah tidak terlihat hangat lagi hanya saja, tampak masih belum lama ini dibuat.
"Omo, siapa yang pagi-pagi datang kesini dan membuat semua ini? Ahhh... apa ibu datang kesini diam-diam dan membuat makanan ini? Hmmmm ibu memang pengertian, baiklah, selamat makan!" kata Yunho sambil mencicipi sebuah sup didekatnya
DEG!
Sebuah rasa yang familiar terasa dilidahnya dan seketika membuat perasaan rindu tersebar dalam seluruh dadanya.
Ini jelas bukan masakan ibunya, tapi masakan orang lain yang sangat dirindukan oleh lidahnya dan juga dirinya. Tapi siapa? Siapa yang membuat masakan seperti ini?
"Apakah tidak enak?" kata Kim Jaejoong kemudian mengagetkan Yunho
"Huh?"
"Makanan itu. Apakah tidak enak?"
"Huh?"
"Ya! Apa kau benar-benar tidak suka masakanku?" kata Jaejoong sedikit meninggikan suaranya
"Huh?!"
"Jung Yunho!"
"Kim Jaejoong, bagaimana?" tanya Yunho kemudian
"Huh?"
"Kau memasak ini semua, bagaimana caranya?"
"Huh? Um..."
"Kim,"
"Merasukimu" Jawab Jaejoong kemudian
"Aku... merasukimu..."
Yunho kembali terdiam dengan sejuta pikiran dikepalanya. Namja dihadapannya ini. Sesosok namja dihadapannya ini benar-benar selalu memberikan kejutan untuknya setiap hari.
.RememberMe?.
Yunho POV
Aku mendengarkan penjelasan dari hantu itu dengan seksama. Sedikit tidak bisa dipercaya memag. Tapi jika kalian suka menonton film-film yang ada di bioskop mungkin hal yang dikatakan oleh Jaejoog bisa jadi benar-benar terjadi.
"Jadi jika aku tertidur, kau bisa memasuki tubuhku seenaknya? Begitu?"
Aku berkata dengan nada kesal karena merasa tidak suka apabila badanku ternyata bisa diperlakukan dan dimasuki seenaknya oleh sosok dihadapanku ini. Ya! Bagaimana bila aku bisa melihat sosok lain selain dia? Bagaimana jika aku bisa melihat dan merasakan hantu lain juga? Apa itu berarti tubuhku bisa digunakan seenak jidat mereka?!
"Maafkan aku" tuturnya sesal
Aku terdiam. Kembali memikirkan segala positif yang kini kuhadapi. Setidaknya hanya dia sosok yang kulihat bukan? Setidaknya hanya dia yang merasuki tubuhku bukan?
Banyak sekali pikiranku berputar dan membuat kepalaku sakit sebelum aku akhirnya berusaha menekankan amarahku.
Sedikit tanganku meraih sumpit dan kembali mengambil suapan jjangmyeon disana.
"Kau boleh terus merasuki tubuhku"
Kulihat kepalanya yang tadinya menunduk peuh sesal kini mulai menegadah dan menatapku tidak percaya. Aku mendesahkan sedikit nafasku saat menatap dirinya. Entah mengapa pemandangan wajah Jaejoong saat ini sangat ingin membuatku tertawa. Keningnya mengerut lucu, matanya yang sudah besar tampak terbuka cukup lebar dan bibirnya sedikit ia majukan kedepan. Mungkin dia memang hantu tapi hey? Siapa menyangka ia memiliki raut wajah seperti itu? Sangat manis.
"Hanya untuk memasak. Aku memberimu izin menggunakan tubuhku hanya untuk memasak"
"A-ah... Baiklah"
"Selama kau bisa membuat masakan yang enak seperti ini, aku akan mengizinkanmu, tapi jika tubuhku kau gunakan untuk hal cabul, jangan harap!"
"Aku mengerti! Lagipula aku ini bukan orang cabul sepertimu!"
"Ya! Aisshh"
Cukup! Semua kata-kataku tentang dirinya kucabut! Dia tidak manis sama sekali! Dia menyebalkan!
Kuambil lagi sesumpit, dua sumpit, tiga sumpit hingga kumakan habis jjangmyeon disana itu. Aku begitu menikmati makanan yang terasa sangat menggoda itu. Dan entah mengapa, ada perasaan menggelitik didadaku. Seperti sebuah rasa yang sudah lama sangat aku rindukan.
"Makanlah hati-hati!" sebuah kelibatan suara seseorang tiba-tiba menyapa kepalaku dan membuat denyut tidak nyaman disana
"Apakah itu tidak enak?"
Lagi, sebuah suara menggema dikepalaku
"Kau menyebalkan"
DEG! Jantungku berdegup kencang ketika menyadari suara yang menggema dalam kepalaku adalah suara yang sangat tidak familiar lagi. Bahkan bisa aku bilang, dia adalah orang yang sudah sangat terbiasa berada didekatku.
Aku menatapkan mataku pada sesosok namja dihdapanku.
Kim Jaejoong.
Apa aku pernah mengenalmu sebelumnya?
Yunho POV End
.RememberMe?.
Yoochun terduduk diam di sebuah kursi taman tidak jauh dari sebuah rumah sakit disebelahnya. Kepalanya menunduk dengan lemas dan matanya memandang hamparan tanah dengan hampa. Pemandangan yang dilihatnya tadi benar-benar menyita perhatiannya dan terus terputar ulang dalam ingatan kepalanya.
Terlihat seorang namja tinggi yang memberikan bunga mawar merah kepada Junsu. Walaupun Yoochun tidak dapat melihat siapa namja yang memberikan bunga tersebut, hanya saja, Yoochun yakin. Pasti itu dia. Shim Changmin.
Kepalanya berputar dengan keras. Setiap detik dalam kepalanya ia tidak dapat melupakan ekspressi yang Junsu tunjukan saat ia menerima bunga tersebut.
Binar itu.
Senyum itu.
Dua hal yang sangat di rindukan Yoochun itu. Junsu tampakkan pada namja lain.
"Sial,"
"Brengsek,"
"Ah, ini menyebalkan" kata Yoochun sambil menutupi wajahnya dan mengusapnya kasar
Tiba-tiba sebuah perasaan dingin mengenai pundak Yoochun yang kaku sehingga mengagetkan pemilik pundak tersebut.
"Ah, astaga" pekik Yoochun kaget
Sebuah minuman dingin kini telah terarah dihadapannya. Yoochun menatap keasal suara dan melebarkan tatapan matanya tidak percaya.
"Park Yoochun?" kata seorang yang tengah memegang minuman dingin itu
"Kau?"
.RememberMe?.
"Dasar namja menyebalkan!" pekik seorang yeoja sambil menghempas kasar ponselnya
"Ya! Pelan-pelanlah sedikit! Kau pikir ponsel itu barang yang murah eoh?! Ya! Apa yang terjadi?!" saut seoran yeoja lain yang duduk tidak jauh darinya
"Tae ah, apa menurutmu aku bisa kembali dengan Jung Yunho?" tanya yeoja yang ternyata adalah Fanny tersebut
"Jung Yunho? Jung Yunho yang itu?! Ya! Apa kau masih berhubungan dengannya?!"
"Heum, aku baru saja berhubungan dengannya lagi," sedikit Fanny mendesahkan nafasnya "Taeyeon ah... apakah kau pikir, ia akan mengingatku?"
"Kalau Yunho sampai mengingatmu, memangnya apa yang akan kau lakukan?"
"Aku tidak tau. Aku hanya berharap, ia tidak akan pernah mengingatku lagi. Tidak akan pernah mengingat Tiffany Hwang yang dulu"
"Bukankah itu sangat tidak enak?"
"Uh?"
"Kau berharap ia tidak mengingatmu yang dulu, kan? Bagaimana ia akan memaafkan segala kesalahanmu di masa lalu kalau begitu? Fanny ah, bukankah sangat tidak enak bila kita menyimpan sesuatu yang buruk di masa lalu tanpa sempat dimaafkan?" Taeyeon mencoba memberikan nasihat
Fanny terdiam. Telinganya menyerap dengan sangat kata-kata Taeyeon saat itu. Ia berusaha merekamnya hingga ia tanamkan dalam kepalanya. Memang benar, bila Yunho tidak mengingat dirinya, ia akan merasa sangat bersalah bahkan jika naj aitu berhasil kembali jatuh dalam pelukannya. Namun masih ada satu hal yang membuat Fanny teguh pada kata-katanya. Sesuatu yang jelas tidak akan Taeyeon mengerti.
"Aku sudah terlalu jahat padanya"
Flashback
"Kenapa kau melakukan ini padaku, eoh?! Apa salahku padamu!? Ya Tifanny Hwang! Jawab aku!" pekik Yunho sambil berusaha mengambil tangan Fanny dan menghadapkannya padanya agar Yunho dapat menatap wajahnya
Mereka kini ada di sebuah lapangan parkir tidak jauh dari sebuah klub malam.
"YA!" pekik Fanny keras menghempaskan genggaman Yunho dan menamparnya
"Apa salahmu? Kau mau tau apa salahmu eoh?! Kau salah telah berurusan denganku, Jung Yunho! Apa-apaan kau berani mencium orang lain dihadapanku eoh?! Kau pikir aku tidak mempunyai mata untuk melihat?!"
"Itu mendadak, Fanny ah! Aku bahkan tidak mengenalnya!"
PLAK! Sebuah tamparan kembali mendarat dipipi Yunho yang masih tampak mulus.
"Tidak mengenalnya?! Tidak mengenalnya dan kau menerima saja ia menempelkan bibirnya dengan bibirmu?! Jung Yunho! Kau brengsek!" pekik Fanny lebih keras sambil menjatuhkan butir pertama air matanya
DEG! Jantung Yunho merasa berdebar kencang kala kata itu menghantam harga dirinya. Tangan kanan Yunho mencoba meraih pipinya dan mengelusnya pelan. Terasa perih disana. Tapi jujur, hatinya saat ini lebih perih.
"Lalu kau apa huh? Jika aku brengsek kau apa, Tiffany Hwang?!" teriak Yunho keras sambil menatap penuh ketidaksukaan pada Fanny
Fanny bergidik kala mendengar nada kemarahan yang jujur saja tidak pernah Fanny dengar sebelumnya. Dan kini saat Yunho mengeluarkannya, Fanny sangat takut hingga menundukkan kepalanya.
"Kau pikir laki-laki itu tidak memiliki perasaan eoh? Kau pikir aku tidak bisa marah kepadamu huh?!"
"Aku mencium seorang yang didepanmu? YA! ITU BENAR! Tapi bahkan dia bukanlah orang yang kukenal. Bagaimana dengamu hum? Bagaimana denganmu?!"
Pekik Yunho lagi sambil memojokkan Fanny ketembok dekat sana dan membuat Fanny mengalihkan matanya dari mata Yunho .
Mata yang tadinya menatap penuh harap pengampunan perlahan berubah merah tanda penuh kemarahan. Rasa cemburu dan sakit yang dipendamnya selama ini terlalu menyakitinya sehingga ia tidak dapat lagi berpikir jernih.
"Aku tidak marah saat kau menerima telepon dari namja itu,"
"Aku tidak marah kau diperhatikan lebih olehnya,"
"Aku tidak marah bahkan jika kalian pergi berdua, karena aku mempercayai kalian."
"Aku tidak marah kau pergi dengannya, karena aku MEMPERCAYAIMU!"
"Aku bersabar karena aku tahu aku orang yang sibuk dan aku tau kau akan mengerti."
Yunho yang memulai perkataannya dengan sedikit pelan perlahan mulai menekankan nadanya pada saat menuju ke akhir kalimat. Terasa dadanya semakin tercekat setiap kali ia mengucapkan kalimat-kalimat yang pasti akan menyakiti yeoja dihadapannya.
"Jika aku sungguh brengsek karena mencium orang asing itu, bagaimana dengamu hum?! Bercumbu mesra dibelakangku dengan orang yang sangat aku kenal, APA KAU TAU SEBERAPA SAKITNYA ITU?!"
"Y-Yun..."
Yunho menghembuskan nafasnya yang tidak teratur dan mulai mencoba mengendorkan urat kemarahannya. Terbongkar sudah bahwa Yunho mengetahui bahwa adanya kisah cinta lain dibalik kisah cinta mereka. Dipejamkannya mata Yunho berusaha kembali menjernihkan pikirannya dan mencoba berbicara dengan nada yang lebih baik lagi.
Bagaimanapun, Yunho tidak ingin kehilangan yeoja itu. Yeoja yang sangat dicintainya.
"Fanny ah..." panggil Yunho dengan lebih sedikit tenang sambil membelai rambut Fanny sayang
"Yunho ah maafkan aku" kata Fanny sedikit bergetar menahan laju air matanya
"Tidak. Maafkan aku. Aku terlalu kasar kepadamu. Ini karena aku cemburu. Aku..."
"Maafkan aku" sela Fanny lagi kemudian meneteskan air matanya
Yunho terdiam. Belaian sayangnya ia hentikan saat merasa ada hal yang tidak beres dalam setiap kata dan tatapan Fanny. Perasaan Yunho merasa sangat buruk kini.
"Aku mencintainya"
Yunho terdiam. Membeku.
Segala hal yang ingin ia lakukan agar dapat mempertahankan yeoja dihadapannya itu kini sudah terasa sangat tidak berguna. Berawal dari sebuah kesalah pahaman kecil, sebuah pengekspresian dari rasa cemburu, siapa sangka, sebuah rahasia terkuak disana?
'Aku tau kau akan memilihku' sebuah kata yang tidak sempat terucap.
Dan tampaknya kata itu memang tidak ada artinya lagi.
"Aku mencintai, Park Yoochun"
Flashback End
"Aku melepaskannya seenaknya. Dan itu bukanlah perpisahan yang baik"
"Jika ia mengingatku, akankah ia memaafkanku?"
.RememberMe?.
Dua orang namja itu kini tengah duduk dengan santai di sebuah taman yang masih tidak jauh dari rumah sakit itu. Seorang namja meneguk minuman soda pertamanya dan menghelakan nafasnya dengan sangat berat. Wajah kusut itu, desahan seksi yang mengalir itu, jelaslah bahwa itu adalah Park Yoochun.
"Aigoo, kau sedang dalam masalah yang berat eoh?" kata namja disampingnya sambil menatap Yoochun
"Akan lebih baik jika ini adalah soju kau tau?" kata Yoochun sambil menatap seorang disampingnya tersebut
"Ya! Ini masih siang! Apa kau ingin menjadi pemabuk gila di siang hari?!"
"Ya, tampaknya itu cukup menyenangkan. Aku lelah menjadi orang normal dan menjalani hidup yang tidak menyenangkan seperti ini"
"Cih," desis namja disampingnya meremehkan
"Ya! Kau seperti ini pasti karena dia itu kan? Kim Junsu?" lanjutnya
Yoochun mengalihkan pandangannya menjadi pandangan yang tidak fokus memandang namja tersebut menjadi memandang pemandangan lain disamping namja tersebut. Sedikit dimajukannya bibirnya sebelum sebuah senyum lemah terpajang disana.
"Ah, sudah kuduga. Park Yoochun, apa kau sebegitu mencintainya sehingga kau begitu tidak ingin kehilangannya?"
Yoochun terdiam meresapi pertanyaan namja disampinya.
"Huhh," desah namja itu pelan kala menatap Yoochun yang hanya bisa terdiam
"Kau tidak mencintainya" lanjut namja itu sambil membangkitkan tubuhnya
DEG! Dada Yoochun menghantam keras kala mendengar perkataan namja tersebut. Ada sebuah aliran tidak nyaman kini membuat sebuah denyutan tidak nyaman dikepalanya. Matanya melirik kesegala arah seakan bingung mencari arti dari perkataan namja tersebut.
"Apa..." kata Yoochun berusaha menatap namja tersebut
"Itu hanya rasa penyesalan. Kau menginginkannya kembali karena kau ingin memperbaiki semuanya. Kau hanya ingin semuanya kembali seperti semula"
"Itu bukan cinta"
Yoochun terdiam lagi mendengar kata-kata namja tersebut. Benarkah semua rasa kesal, amarah, jengkel, dan semuanya hanya karena sebuah rasa penyesalan?
"Saat kau menyadari kau mencintainya, kau boleh mengejarnya lagi"
"Tapi..."
"Sampai jumpa" namja itu kemudian meninggalkan Yoochun sendirian disana
"Ya!"
Yoochun menatap hampa hamparan disekitarnya. Rasa bingung benar-benar menjelajahi setiap jengkal dari kepalanya dan membuat kepalanya berdenyut sangat tidak menyenangkan.
Penyesalan? Benarkah itu hanya penyesalan?
Cinta? Bukankah selama ini Yoochun memang mencintainya?
"Kau boleh mengejarnya lagi"
Kata yang sangat menyita perhatian Yoochun. Kenapa dengan mudah namja itu memberi izin dirinya untuk mengejar namja manis itu? Bagaimana bisa? Bukankah namja itu adalah kekasihnya?
"YA! Shim Changmin!" pekik Yoochun berusaha memanggil namja yang baru saja meninggalkannya
.RememberMe?.
Junsu menata mawar merah yang baru saja diterimanya tersebut dengan cantik. Ia memasukannya didalam vas yang penuh dengan air segar agar bunga mawar itu dapat bertahan lebih lama dan menyebarkan keharumannya lebih lama.
"Hemmm, romantis sekali" kata Junsu dengan nada yang iri
Ditatapinya bunga yang telah terpajang rapi disebuah meja kecil yang tidak jauh dari hadapannya dengan pandangan senang sekaligus iri. Dimasukannya tangannya kedalam saku jas dokternya
"Seandainya bunga ini untukku, aku pasti akan lebih senang"
"Kau orang yang sangat beruntung, kau tau?" kata Junsu lagi kepada seorang yang terbaring tidak jauh dari meja kecil tersebut
Junsu menatap kamar yang tampak sebenarnya tidak tampak terlalu indah untuk dipandang dimata. Berisi banyak peralatan kedokteran, tabung oksigen, wangi obat-obatan menyengan, dan alat penunjang hidup yang tertempel diseluruh tubuh orang tersebut sangat tidak tampak menyenangkan.
Mungkin hanya wajah cantik yang tengah terpejam dan bunga mawar yang berada di meja kecil itu yang dapat membuat mata itu sedikit mendapatkan pemandangan yang segar.
"Cepatlah sadar, dia pasti sudah menunggumu," kata Junsu sambil tersenyum kecil
"Kim Jaejoong" lanjutnya dan beranjak meninggalkan ruangan kecil yang tampak sunyi itu
TBC
A/N: Halloo kembali dengan ke-lieur-an cerita Cindy disiniiii! :D Cindy yang buatnya aja bingung sebenarnya ini cerita macam apa wkwkwkw. Kali ini masih pengenalan masalah, penjabaran sakit hati dan juga pemunculan konflik baru wakakaka. Mohon maaf YunJae momentnya kurang, soalnya jujur, suit banget bikin kisah cinta hantu dan manusia. Kayanya kalo manusia sama manusia sih lebih gampang wkwkw. Jadi salut deh yang bisi bikin cerita kaya gini. Cindy sudah merasakan kerumitannya dan rumit bangeeeettt.
Maaf kalo jadinya ff ini sangat membingungkan para pembaca semua. Kalau ada yang tidak suka dan memiliki kritik dan saran yang membangun, silahkan di share saja ya, Cindy ga keberatan kok :D
Dan maaf juga updatenya ga bisa asap karena sesungguhnya Cindy cukup sibuk, jadi mungkin update sebulan sekali. Bahkan bisa lebih hehehe
Terimakasih semuanyaaaa :D
