Tiltle : Remember Me?

Author : cindyjung

Pairing : YunJae (Yunho X Jaejoong)

Rate : T bit M

Diclaemer : Semua tokoh yang ada disini adalah hasil fiksi belaka, saya Cuma pinjam nama saja, jadi mohon jangan tersinggung ne? ^^

WARNING! YAOI, TYPO BERTEBARAN, ANGST DETECTED, COMPILICATED, OOC, BBB (BANYAK BASA BASI)

.

.

.

Kau dekat.

Sangat dekat.

Tapi bahkan walau kau sedekat nadi,

Kenapa aku tidak bisa menyentuhmu?

.RememberMe?.

Tubuh itu tertidur dengan lelapnya tanpa menyadari ada sebuah sosok yang tengah terduduk sambil memperhatikannya dengan tatapan sendu kini. Mata besar milik Kim Jaejoong itu kini hanya dapat memandang wajah itu penuh kasih sayang. Sejenak tangan yang tadinya tersila manis didadanya, ia angkat dan berusaha menyentuh kepala namja disampingnya sayang.

SRET

Tidak bisa.

Tangan itu tidak bisa meraih bahkan menyentuh kepala yang berada didekatnya.

"Tsk,"

"Menyebalkan"

Kembali ia menatap namja itu sambil kemudian menundukkan kepalanya dan mengarahkan kepalana pada namja bernama Jung Yunho tersebut. Diarahkannya bibir persiknya ke arah bibir hati yang tampak selalu menggodanya tersebut.

Dekat.

Dan semakin mendekat.

Dan bahkan walau bibir itu sekarang telah bersatu, tak ada sedikitpun rasa hangat yang terasa dibirnya. Ditengadahkan kembali kepalanya sambil kemudian ia menatap namja itu lagi.

"Hah..." desahnya berat

"Aku harus bagaimana, Jung Yunho?"

"Apa yang harus kulakukan?

Kembali dirinya menghela nafas masih sambil memandangi namja itu. Namja yang kini sangat-sangat-sangat. Sejujurnya sangat mengisi hatinya. Entah sihir apa yang telah diberikan oleh seorang Jung Yunho hingga Kim Jaejoong dapat mengubah hatinya seperti itu, namun yang pasti kini Jaejoong sudah berada dalam gengamannya sepenuhnya.

Tubuh yang terduduk itu kemudian menidurkan badannya dan tidur di sebelah namja itu sambil diarahkan tubuhnya menghadap Yunho.

Kemudian mata itu terpejam.

Walau tidak benar-benar tidur, Jaejoong ingin mendengarkan nafas halus yang berasal dari orang disampingnya.

.RememberMe?.

Kembali namja itu meneguk soju digelas kecilnya untuk kesekian kalinya. Kepalanya sudah sangat pusing dan matanya sudah sangat terasa berat bahkan hanya untuk menatap gelas kecil yang ada dihadapanya. Tapi bahkan dalam mulutnya, seakan ia tidak pernah merasakan soju itu melewati tenggorokkannya dan membuatnya terus meneguknya. Ia hanya merasakan bahwa semua yang terjadi pada kepalanya hanya karena kejadian yang baru saja dilihatnya tadi.

"Shim Changmin brengsek" desisnya

"Sampai kapan kau akan terus mempermainkanku dengan semua wanita di clubmu itu hum?"

"Aku muak melihatnya"

"Setiap minggu, cih, apa bersamaku saja tidak cukup hum? Dasar brengsek"

"Ahhhhh, menyebalkannnn" lanjutnya sambil kembali mencoba menuang soju dalam gelasnya

Saat mencoba menuangnya, botol itu meleset dari gelas minum milik Jaaejoong dan kemudian terjatuh sehingga mengeluarkan semua isi sojunya.

Jaejoong terdiam sebentar menatapi botol soju yang jatuh dihadapannya dan kemudian menyeringai kecil sambil mendesahkan nafas beratnya seakan menahan amarah yang sudah sangat tidak tertahankan, hingga sebuah getar terasa disekitar dadanya.

Jaejoong meraba saku jaketnya dan mengambil sebuah ponsel disana. Ditekannya tombol hijau itu dan dijawabnya panggilan tersebut.

"Yoboseyo?" katanya dengan kepala yang terasa sangat berat

"Kembalikan ponselku"

"Eh?" katanya lagi sambil menyipitkan matanya dan membuka lebar mulutnya

"Ponsel yang sedang kau gunakan"

Dijauhkannya ponsel layar sentuh hitam itu dari telinga Jaejoong. matanya semakin menyipit dan mulutnya semakin melebar kala mencoba menatap ponsel yang memang berbeda dari ponselnya.

"Ah, oke. Sekarang?"

"Hm"

"Baiklah. Smskan alamatmu"

Setelah menutup panggilan tersebut kemudian Jaejoong mencoba membangkitkan tubuhnya.

BRUK

Tubuh itu jatuh seketika dan semuanya kemudian menjadi gelap.

Kepalanya sangat berat dan matanya terpejam rapat.

Yang ia ingat hanyalah sebuah suara hembusan nafas yang menyapa telinganya pagi itu.

Dan sebuah mata yang kini tengah menatapnya dihadapanya.

"Kau sudah bangun?"

.RememberMe?.

"Kau sudah bangun?"

Jaejoong membuka matanya dan menatap mata yang sama dari sepasang mata yang baru saja dikenangnya saat itu.

Pandangan mata yang sama dipagi hari yang sama, dan pandangan mata yang pada akhirnya mampu meluluhkan hati Jaejoong seketika itu juga.

Pandangan mata yang penuh luka, namun tetap memancarkan binar diantaranya.

Pandangan mata yang sangat disukai Jaejoong.

Sepasang senyum kemudian terukir di wajah pucat nan cantik milik Jaejoong. Setelah sekian lama, akhirnya suara itu kembali menyapa dirinya dipagi hari.

"Tsk, apakah kau pikir aku pernah tidur?"

Alis namja dihadapannya kemudian mengerut dan bibirnya mengerucut lucu.

"Ya!" pekiknya sambil menyilakan tangannya didadanya

"Kau pasti benar-benar hantu cabul eoh? kau tidak pernah tidur? Jadi untuk apa selama ini kau berbaring disampingku, huh?! Ya! Apa kau ini hantu yang selalu bergairah?!"

Jaejoong tersenyum kecil sambil memandangi Yunho yang kini sangat menghiburnya.

"Em,"angguknya "Aku merasa sangat bergairah saat berada didekatmu"

Mata Yunho membelalak besar seakan hendak keluar dari tempatnya berada. Kepalanya yang tadinya masih mendekat dengan wajah Jaejoong dijauhkannya seketika ketika mendengar pernyataan Jaejoong.

"Woah, Kim Jaejoong, kau benar-benar hantu yang menakutkan" kata Yunho speechless sambil membuka mulutnya lebar seakan tidak percaya

"Aku bercanda bodoh! Kau pikir aku hantu macam apa,huh? Cepat bangun dan sarapan! Kau membutuhkan tenaga setidaknya jika ingin mengolok-olokku!"

Kata Jaejoong sambil membangkitkan dirinya dari tempat tidur tersebut dan kemudian pergi menjauh meninggalkan Yunho yang tampak masih syok dengan kejutan pagi yang diterimanya.

.RememberMe?.

Yunho POV

Aku menatapnya dengan ujung mataku. 'Sesuatu' yang kini tengah duduk dihadapanku sambil menatapku kala menyantap makanan di meja makan. 'Sesuatu' yang tidak kuhadapi lagi dengan bulu kuduk yang berdiri maupun tatapan acuh karena ketakutan. Kali ini, 'sesuatu' itu sungguh sangat menyitaku dan membuatku selalu ingin menatapnya.

Mungkinkah karena kulit pucatnya yang tampak sangat bersih?

Mata besarnya yang sangat bulat dan tampak seperti mata kucing kala dia tersenyum?

Hidungnya yang sangat runcing?

Ataukah bibirnya? Yang... em... cukup menggoda untuk seorang laki-laki?

"Kim Jaejoong" kataku sambil menegadah dan menatapnya

"Sudah lama kau disini, dan aku bahkan melupakan apa yang ingin kulakukan di awal aku melihatmu"

"Hm?" sautnya ringan

"Kim Jaejoong. apa kau benar-benar tidak tau bagaimana kau kecelakaan? Tertabrak kah? Jatuh ke jurangkah? Ataukah bagaimana?"

Hening.

Tidak ada jawaban.

Bahkan kau bisa mendengar suara detik jam dengan jelas disana.

Hingga akhirnya pertanyaan tersebut bersaut. "Kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal itu?"

"Aku sudah terlalu terbiasa denganmu. Aku tidak takut denganmu. Malah kini, aku ingin membantumu agar tenang"

"Bukan karena kau ingin menyingirkanku?"

"Selama kau jadi berada di tempat yang lebih baik, aku akan menyingkirkanmu sekuat tenaga. Aku hanya ingin kau tenang"

Sedikit dapat kulihat senyum dari bibirnya tersebut.

"Apakah kau akan baik-baik saja bila aku tidak ada?"

DEG!

Aku dapat merasakan jantungku berdegup begitu kencang saat ini. Entah mengapa, namun pertayaan yang diajukannya benar-benar menyekat dadaku. Seakan aku tanpanya, tidak akan baik-baik saja.

Tapi kenapa?

Apakah karena aku sudah sangat terbiasa dengannya?

"Tapi aku sudah berjanji bukan?"

Kembali hening.

"Yah, bahkan saat kau masih menjadi roh kau sudah berjanji denganku" jawabnya dengan nada sedikit kecewa

"Karena itu..."

"Baiklah," katanya memotong pernyataanku. "Temukan tubuhku, dan aku akan menghilang selamanya dari hidupmu"

DEG!

Lagi kurasakan dadaku bergetar hebat. Jung Yunho bodoh! Mengapa kau bertanya tentang hal seperti itu jika hal itu membuatmu kini tidak nyaman huh? Tanpa Kim Jaejoong kau pasti akan baik-baik saja, tapi kenapa dadamu seperti ini? Kenapa rasanya sesak sekali?

Kenapa?

Bahkan rasanya air mata ini ingin keluar dari pelupuk mataku?

"Itukan perjanjian kita?" tanyanya kini menatap mataku dengan cukup dingin

Aku tertunduk. "Baiklah"

Yunho POV End

.RememberMe?.

"Jun... eh? Kau mau kemana?" tanya Yoochun pada sosok manis dihadapannya

"Hm? Tidak kemana-mana, hanya saja aku ada pertemuan para dokter, kenapa?" jawab Junsu yang kini tampak manis dengan kemeja putih dibadannya dan dipadukan dengan jas hitam yang membuatnya tampak lebih manly.

"Ah, tidak, aku tadinya ingin mengajakmu makan siang" kata Yoochun kecewa

"Astaga, kenapa kau selalu datang disaat yang tidak tepat hum? Maafkanaku tapi aku sudah ada janji, lain kali ne? Aku tidak ingin mengecewakan sahabatku lagi, kok" Kata Junsu dengan senyum manisnya sambil menepuk pundak Yoochun

Junsu kemudian mengambil tas jinjingnya dan hendak meninggalkan Yoochun dan ruangan dokternya.

"Apa kau menghindariku?" tanya Yoochun yang membuat Junsu menghentkan langkahnya tepat saat ia baru saja hendak membuka pintu putih tersebut

Sedikit terdengar desah kecil dari mulut Junsu. "Begitulah" katanya singkat kemudian meninggalkan ruangan tersebut

Yoochun terdiam. Begitu banyak hal yang menyita perhatiannya dan kembali dalam pikirannya. Pertanyaan dari mulutnya benar-benar tidak ia sangka akan dijawab dengan pernyataan sepeti itu oleh Junsu.

"Kim Junsu, apakah tidak bisa? Sekali lagi" kata Yoochun membisik pelan

"Itu hanya rasa penyesalan. Kau menginginkannya kembali karena kau ingin memperbaiki semuanya. Kau hanya ingin semuanya kembali seperti semula"

Seketika teringat perkataan Changmin yang cukup menohoknya kala itu.

"Yah"

Yoochun mendesah cukup berat, seakan semua beban duni tengah dikeluarkannya

"Aku memang ingin semuanya kembali seperti semula"

"Tapi, itu karena aku, mencintainya"

Katanya sambil menyandarkan dirinya pada menja kerja Junsu. Yoochun menghirup wangi diruangan tersebut dan mencium parfum Junsu disana.

Selama seumur ia memasuki ruangan tersebut, ia tidak pernah menyadari ada harum itu disana. Ia terlalu sibuk mengejar Junsu sehingga tidak menyadari ada harum yang menghangatkan hatinya tersebut. Mungkin sama seperti selama ini.

Ia terlalu mengejar hal yang lain.

Tanpa sadar.

Ad yang lebih hangat disekitarnya.

Yah,

Ada Junsu disana.

CTAK!

"Dokter Kim, ada pergerakan dari pasien Kim Jae Joong!" pekik seorang yang membuka pintu itu dengan terburu

Yoochun terdiam sejenak. Dan membelalakan matanya ketika ia menyadari nama yang terasa sangat familiar di telinganya terebut.

"Ah, maaf apakah anda tahu kemana dokter Kim?" tanya seorang yang tampaknya juga adalah dokter disana

"Ah, ia.. baru saja pergi" jawab Yoochun sedikit terbata

"Ah, baiklah, aku akan mencari dokter lain. Umm, maaf, apa yang anda lakukan disini?" tanyanya lagi sedikit curiga

Wajar saja. Menemukan orang asing dalam ruangan sepi yang bukan ruangannya tanpa ada orang lain didalamnya. Apakah yang mungkin aka kalian pikirkan hum?

"Ah," Yoochun tersadar dari kekagetannya. "Aku teman Dokter Kim Junsu, hehehe" lanjutnya kemudian

"Baiklah kalau begitu, apakah ada hal lain yang akan anda lakukan disini?"

"Ti..tidak ada.."

"Baiklah, jika tidak ada mohon anda meninggalkan ruangan ini, karena akan memicu kecurigaan bila anda ada disini sendirian. Saya permisi dulu"

"Ah, tunggu!" panggil Yoochun keras menghentikan dokter tersebut dan membuatnya berbalik

"Pasien itu... Kim Jaejoong...Bolehkan aku melihatnya?"

.RememberMe?.

Jaejoong terjongkok dipintu depan sambil menatapi Jiji yang kini tengah tidur siang. Ia terdiam. Matanya tidak sungguh-sungguh menatapi Jiji. sejujurnya, matanya memandang dengan hampa ke arah Jiji.

Segala perkataan yang diucapkan Yunho tadi pagi cukup membekas dikepalanya.

"Menepati janji, hum?"

"Cih,"

"Kau bahkan... tidak mengingat janji itu"

"Aku sudah terlalu terbiasa denganmu. Aku tidak takut denganmu. Malah kini, aku ingin membantumu agar tenang"

Sedikit ujung bibir itu tertarik dan membentuk senyum sinis itu di wajah Jaejoong.

Rasanya Jaejoong saat ini sungguh ingin tertawa.

Tertawa dengan lepas. Tertawa dengan keras. Dan tertawa dengan lantang.

"Kalau kau sudah terbiasa denganku," kata Jaejoong sambil sedikit menurunkan senyumnya

"Kalau kau ingin membuatku tenang," katanya lagi sambil mulai menggigit bibirnya

"Kenapa kau tidak menahanku untuk ada disisimu?"desahnya pelan sambil menundukkan wajahnya perlahan

Jaejoong terus menundukkan kepalanya sambil menutup matanya dan menggigit bibir cherry miliknya kuat-kuat. Tidak ada rasa sakit apapun disana. tidak ada luka, bahkan tidak ada sesuatu membekas walaupun ia menggigit kuat-kuat bibirnya.

Tidak bisa merasakan sakit.

Tidak bisa merasakan luka.

Bahkan untuk menangis dan mengeluarkan air mata dari pelupuk matanya pun tidak bisa.

"Kenapa?"

"Kenapa aku begitu menyedihkan?"

TINGTONG

.RememberMe?.

TINGTONG

"Siapa?" teriak Yunho keras sambil menuju ke pintu depan rumahnya sambil melihat dari kamera rumah yang ada disamping pintu itu

Tampak seorang wanita dengan rambut panjang yang sedikit digelombangkannya tengah menatap pintu depan penasaran, berharap pintu itu akan segera dibuka

"Ada apa?" kata Jung Yunho sambil membuka pintu dengan sedikit malas

Tampak tatapan lega pada wanita itu kala pintu rumah Yunho terbuka. Senyum diwajahnya mulai mekar dan matanya pun turut membuat bulan sabit lucu disana.

"Aku membawakanmu makanan" katanya semangat

Yunho menatapinya dengan pandangan biasa. Tidak ada kegirangan sedikitpun. Tidak seperti saat Jaejoong memarahinya hanya untuk membuatnya makan.

Kenapa rasanya berbeda?

Padahal Tiffany adalah masa lalunya. Dan mereka sempat memiliki hubungan.

Tapi, rasanya berbeda.

"Ah...kenapa aku mulai membandingkan mereka?" batin Yunho

.

"Waw, aku tidak menyangka makanan dirumahmu cukup banyak. Kukira kau akan kekurangan makanan" kata Fanny takjub kala melihat makanan di meja makan Yunho

Sedikit senyum mengembang dari wajah Yunho, "Yah, kupikir juga begitu"

"Kau bisa memasak? Aku tidak ingat kau bisa memasak masakan lain selain pasta" kata Fanny mulai cerewet

"Ah, soal itu..." jawab Yunho sambil sedikit menengok ke arah tangga rumahnya. "Aku juga...tidak begitu yakin"

"Um... Yunho ah"

"Hm?"

"Apakah kau sudah memiliki kekasih?"

"Hah? Apa? Belum"

"Bagaimana dengan seorang idaman lain, apakah kau memilikinya?"

Hening. Yunho terdiam.

Entah apa yang membuatnya terdiam saat itu.

Hanya saja rasanya, seperti ia memang memiliki orang yang ia idamkan.

Rasanya seperti saat pertanyaan itu mengalir dalam kepalanya, ia haruslah menjawab iya.

"Aku..."

"Benar-benar tidak bisa yah?" kata Tiffany melemah sambil menaruh makanannya di meja makan

"Eh?"

"Memilikimu. Memilikimu lagi. Apa aku... sudah tidak bisa?" kata Fanny sambil menatap Yunho dengan senyum kecil di wajahnya

"Fanny ah... Masih ada satu yang mengganjal darimu" kata Yunho dengan wajah yang turut sedih namun juga penasaran

"Sebenarnya bagaimana kita berpisah, eoh?"

"Bagaimana kita bisa menjadi orang asing, padahal kau terlihat begitu mempedulikanku?"

"Bagaimana bisa, aku tidak memiliki perasaan berdebar denganmu, seperti saat ini, padahal dulu kita adalah sepasang kekasih?"

Kini Fanny yang terdiam. Mendengar semua perkataan Yunho tersebut membuat pikiran Fanny menjadi tidak begitu bersih. Ada amarah dan kecewa di dalamnya. Namun juga tidak meninggalkan rasa penyesalan disana.

"Fanny a-umph"

Tubuh kecil Fanny langsung menuju Tubuh Yunho dan menyatukan bibirnya disana. Fannya mencium Yunho dengan cukup berapi-api, sesuai dengan apa yang ada dikepalanya saat ini. Sangat berapi-api. Penuh amarah kecewa penyesalan.

Tidak ingin ada pernyataan apapun yang keluar dari mulutnya saat itu.

Ia hanya ingin Yunho kembali menjadi miliknya.

Hanya ingin mata Yunho hanya menatapnya.

Dan bibir itu menyapa bibirnya lagi.

Fanny hanya ingin semuanya kembali seperti semula.

Mungkinkah?

.

Senyum itu terukir disana. namun ada sesuatu, yang tidak bisa disembunyikan oleh mata itu.

"Mungkin memang seharusnya, cerita antara kita harus berakhir"

"Selama kau jadi berada di tempat yang lebih baik, aku akan menyingkirkanmu sekuat tenaga. Aku hanya ingin kau tenang"

"Kau, tanpaku pun, baik-baik saja kan?"

.RememberMe?.

TIT TIT TIT TIT TIT TIT TIT

Sebuah langkah kaki terburu terdengar menuju ruangan yang sangat sepi tersebut.

"Panggil Dokter Kim! Passien ini kembali bereaksi!" kata seorang disana yang adalah perawat

"Baik!" katanya segera menuju suatu ruangan

"Ada apa ini?" tanya seorang penasaran yang melihat kesibukan para dokter dan perawat tersebut

Namun pertanyaannya dihiraukan oleh para perawat yang tampak cukup panik hingga akhirnya Junsu datang dengan segera dan menuju ruang pasien.

"Ya!" pekik seorang namja sambil menarik tangan Junsu dan membuatnya berbalik

"Apa yang terjadi? Ada apa dengannya?"

"Tenanglah, Changmin ah, tampaknya dia, sudah mulai mendengar panggilanmu" kata Junsu sambil tersenyum cukup cerah dan membuat Changmin merasa cukup lega

Changmin melepaskan tangan Junsu dan membiarkannya masuk ke dalam ruangan tersebut.

"Benarkah?"

"Benarkah kau akan bangun, Kim Jaejoong?"

TBC

Halo semua kembali dengan Cindy disini :3 maafkan yah, Cindy bilang sih update sebulan sekali eh taunya mau setahun baru update hihihi. Selain karena berbagai faktor yang ada, Cindy mengucapkan banyaakkkkk banyaaak maaaaafffff kepada kalian semua maaf karena ternyata Cindy jarang pdate lagi dan memberikan cerita yang mungin malah membuat kalian bingung (( maaf banget yahhh huhuhuhuhu. Tapi semoga kalian terhibur dengan cerita ini, kritik saran tetap akan selalu diterima.

Eh iyah chap 5 menyusul karena sebenarnya udah progress heheheheh

Salam sayang Cindy calonnya Yunho (?)