Tiltle : Remember Me?

Author : cindyjung

Pairing : YunJae (Yunho X Jaejoong)

Rate : T bit M

Diclaemer : Semua tokoh yang ada disini adalah hasil fiksi belaka, saya Cuma pinjam nama saja, jadi mohon jangan tersinggung ne? ^^

WARNING! YAOI, TYPO BERTEBARAN, ANGST DETECTED, COMPILICATED, OOC, BBB (BANYAK BASA BASI)

.

.

.

Kau berjanji padaku.

Dan kau harus menepatinya.

Jika suatu saat janjimu telah kau tepati,

Itukah akhir kisah ini?

.RememberMe?.

TEK TEK TEK

Tangan itu memotong bahan masakan tersebut dengan sangat rapi. Dimasukannya setiap masakan dan bumbu masak yang ada di dalam lemari dapur tersebut. Sedikit ia cicipi kaldu sup buatannya tersebut. Senyum mengembang disana.

"Kuharap kau menyukai ini"

TES

Sebuah cairan terjatuh ke'tangannya'. Tangan yang sejujurnya hanya ia pinjam untuk memasak. Tangan yang ia pinjam untuk menyentuh. Tangan yang ia pinjam hanya agar, ia dapat menghapal tubuh ini.

"Ah sial kenapa aku harus menangis" katanya mengusap pelupuk matanya tersebut dengan punggung 'tangannya'

"Aku tidak boleh membuat wajah Yunho jadi kelihatan seperti haraboji mesum bermata sipit dengan menangis saat aku menggunakan tubuhnya" katanya lagi sambil terus mengusap wajahnya dengan tangannya

"Ah sial perih sekali" rajuknya kala menyadari bahwa ia baru saja memotong bahan makanan yang membuat matanya pedas. Gumpalan air tak pelak semakin terbuat dipelupuk mata itu untuk menghentikan perih yang ada dimatanya.

"Berhentilah keluar" pekiknya sambil mengambil kaos yang tengah dipakai 'badan'nya tersebut dan mulai mengusap matanya berharap agar pedih itu terus berkurang.

"Kumohon,"

Satu yang tidak disadarinya adalah...,

Bukan perih dimatanya yang membuatnya menangis dan mengeluarkan air mata tersebut.

Tapi,

Perih didadanya, yang membuatnya mengeluarkan air mata tersebut.

Semua perasaan yang telah dipendamnya dalam sosok roh itulah, yang membuat ia menangis.

"Kim Jaejoong" terngiang suara bass yang terus berputar dalam kepalanya selama ini

"...berhentilah"

.RememberMe?

Matahari sudah cukup tinggi dan membuat biasnya memasuki tiap celah gorden milik kamar Yunho. Kelopak mata yang tadinya masih terus tertutp pun perlahan membuka dan menampakkan manik coklat miliknya. Diarahkannya manik matanya berpendar menelanjangi setiap sisi pada kamarnya.

Tidak ada.

Tidak ada sosok yang selalu tertidur atau bahkan menatapinya dari jauh.

Tidak ada manik mata doe yang kembali menyapanya di pagi hari.

DEG DEG DEG DEG

Jantung Yunho lantas langsung berdegup dengan tidak nyamannya.

Segera ia membangkitkan tubuhnya dan mencari sosok itu hingga ke dalam kamar mandi kamarnya.

"Ah, sial. Mana mungkin makhluk sepertinya butuh buang air?" batin Yunho merasa bodoh

Ia terus mencari sosok tersebut dengan panik. Jantungnya tidak mau berhenti berdegup dengan kencang sebelum ia menemukan sosok yang dicarinya. Ada perasaan yang sangat, sangat, sangat tidak nyaman didalamnya. Seakan Yunho tidak ingin kehilangan sosok itu.

Tidak lagi.

"Kim Jaejoong!" teriaknya keras dan menggema di dalam rumahnya

"YA! Berisik sekali eoh?! Kau bisa membangunkan Jiji yang sedang tertidur kau tau?!" pekik suara lain yang menyahut panggilan Yunho

Ia disana.

Berdiri dengan wajah kesal khas miliknya.

Dan nada suara cerewet yang selalu ternging menyenangkan ditelinga Yunho.

Yunho bernafas lega dan mulai mendekati sosok itu. Mendekatinya dan mulai menatapi sosok yang berhasil membuatnya panik dari awal ia bangun tidur tersebut. Ada perasaan marah dan lega secara bersamaan. Tapi jika harus memilih mana yang kini ada didalam hatinya, Yunho lebih merasakan lega. Detak jantung yang tadinya sangat menggebu pun perlahan mulai mereda dan berganti dengan senyuman di wajah Yunho.

"Ya! Kenapa kau senyum seperti itu eoh? kau gila?!" tanya Jaejoong ketika menyadari senyum aneh dari wajah Yunho

Yunho kemudian terkaget ketika menyadari bahwa dirinya telah menampakkan mimik wajah konyol pada sesuatu dihadapannya tersebut.

"Mwoooo?!" hanya itu respon yang dapat diberikan oleh Yunho karena tidak kunjung mendapat alasan yang tepat

"Apa aku salah? Lagipula kenapa kau senyum seperti itu, dan kenapa kau memanggilku seperti orang yang terasuki roh depkolektor, ya! Kau membuatku takut!" kata Jaejoong sambil memundurkan sedikit langkahnya

Yunho membuka kemudian menutup mulutnya mencoba untuk mencari alasan yang masuk akal kepada Jaejoong.

"Aku panik karena kau tidak ada, ah, mana mungkin aku berkata seperti itu. Ish, persetan dengan alasan aku lapar"

"Apa kau sudah masak?" kata Yunho kemudian yang sungguh sangat tidak menjawab pertanyaan Jaejoong

Jaejoong mengangguk.

"Baiklah, kalau begitu aku akan makan dulu. Ahhhhh.. kenapa kepala ini rasanya berat sekali" kata Yunho sambil membalikan badanya dan meninggalkan Jaejoong yang masih terdiam ditempatnya

Jaejoong hanya mengerjapkan matanya kecil sambil menatapi keanehan Yunho. senyum pun tidak dapat ia hindari kehadirannya di wajahnya. Hihi, hal ini, pasti akan Jaejoong kenang selamanya. Yunho yang tampak seperti orang aneh dengan pakaian dan rambut yang kusut dan mata yang masih setengah mengantuk. Yunho yang seperti ini pasti akan selalu dikenangnya.

"Aku akan merindukanmu, Jung Yunho"

.

"Ya! Makanlah pelan-pelan" bentak Jaejoong kala menatapi Yunho memakan makanannya dengan sedikit terburu-buru

"Makanlah hati-hati!"

DEG! Kembali sekelebat ingatan itu menyapa kepalanya. Suara yang sama, dan bentuk perhatian yang sama dengan yang Jaejoong berikan saat ini, sangat persis dengan apa yang selalu menggema dalam kepalanya.

Yunho menatap Jaejoong sejenak.

"Wae?" tanya Jaejoong dingin seperti biasanya

Yunho hanya terdiam sambil menatapi Jaejoong yang masih menatapnya. Ada perasaan yang aneh kala Yunho semakin lama menatapnya. Perasaan yang... membuat jantungnya berdebar lebih daripada ingatan tadi. Seketika Yunho memalingkan kepalanya menghadap lantai dan membuat kepalanya sedikit terasa pusing.

"Ah, sial sakit sekali" rajuk Yunho sambil memegangi kepalanya.

"Eh? Kau kenapa?" tanya Jaejoong mulai tampak sedikit panik sambil mendekati Yunho dan berlutut tepat ada di depan wajahnya

DEG

Kembali perasaan itu menyapa dada Yunho dan membuatnya memalingkan wajahnya dari Jaejoong dan kembali menatap ke arah kursi dihadapannya.

"Ah, tidak, aku.. hanya merasa pusing"

Jaejoong kemudian berdiri dan mulai menatapi Yunho yang tampak sedikit mengacuhkannya.

"Ah, soal itu, maafkan aku, tadi saat memasak matamu terkena bawang putih sedikit dan itu terasa perih sehingga aku menangis. Mungkin, sakit kepala itu karena tangisanku"

"Ya! Kau membuang air mataku sebanyak apa eoh? sakit kepala seperti ini hanya dapat terjadi kalau kau menangis sangat banyak" pekik Yunho sambil memegangi kepalanya yang masih terasa pusing

"Ah, itu," kata Jaejoong sedikit terputus "Aku memang..."

DRRRRRR sebuah getar ponsel sedikit menginterupsi perkataan Jaejoong.

"Yoboseyo?" jawab Yunho sambil masih memijit-mijit kepalanya dengan mimik muka yang sangat kesakitan

Setelah mendengar jawaban dari sebrang pun Yunho mulai menampakkan mimik kekagetannya dan perlahan berubah menjadi serius. Ia menatap sedikit ke arah Jaejoong dan menatapnya dengan tatapan yang bahkan tidak dapat Jaejoong mengerti.

"Baiklah..."

.RememberMe?

TIT TIT TIT

Bunyi alat jantung tersebut kembali terngiang seirama seperti sebelumnya. Tampak wajah namja yang tersenyum sambil memandang dengan sedih disana. diusapnya wajah pucat dihadapannya tersebut dengan sayang. Dirapikannya poninya dan dikecupkan kening itu dengan penuh perasaan rindu. Hingga tanpa terasa, sebuah cairan bening mengalir dari pelupuk matanya yang besar tersebut. Dikecupnya lama kening itu hingga ia melepasnya dan menjauhkan sedikit kepalanya namun masih tetap menatapnya.

"Sadarlah..." lirihnya dengan putus asa

"Sampai kapan aku harus menunggu,eoh?"

"Sampai kapan aku harus menanggung rasa sesal ini?"

"Kim Jaejoong, kembalilah..."

"Aku... merindukanmu..."

Changmin menangis hampir tanpa suara. Hanya air mata yang terus berjatuhan kala matanya menatap tubuh yang masih terbaring dihadapannya tersebut. Changmin merindukannya. Merindukan setiap tatapn mata dan suara cerwet yang dikeluarkan oleh namja dihadapannya. Bahkan merindukan ketika setiap kali ia mendapatkan pukulan dari Kim Jaejoong setiap ia pergi ke club. Ah~~ ia benar-benar merindukan masa itu.

Tapi.

Ia juga berharap hal itu tidak pernah terjadi.

Ia berharap ia tidak pernah mengunjungi club itu.

Ia berharap tidak akan pernah ada pukulan dari seorang Kim Jaejoong.

Seandainya ia tidak pernah pergi ke club, ia tidak akan bertemu dengan namja itu.

Seandainya saja ada kesempatan kedua, Changmin pasti akan memanfaatkannya dengan sangat baik.

"Kalau saja aku tidak menganggap hubungan kita sebagai sesuatu yang tabu, apakah kau akan tetap bersamaku?"

"Jika aku bisa memperbaikinya, apa kau tetap akan bersamaku?"

"Kim Jaejoong, aku... merindukanmu..."

TES

Kembali cairan dari pelupuk matanya terjatuh. Dadanya sakit. sangat terasa sakit dan tercekat setiap kali memandang wajah dihadapannya. Ia sangat menyesali setiap perlakuan yang telah ia lakukan dimasa lalu. Memandangan hubungan dengan Jaejoong sebagai hubungan yang tabu dan tidak mungkin dijalani, membuatnya melampiaskan kebingungannya pada setiap club. Jujur dengan sangat ia sangat mencintai Jaejoong, hanya saja, Changmin masih bingung saat itu.

Jika ada kesempatan kedua.

Changmin pasti akan berusaha lebih baik.

Pasti.

"Changmin ah?" panggilan nyaring seseorang membuat Changmin sejenak memalingkan wajahnya menuju asal suara

Tampak seorang disana yang memandangnya dengan pandangan yang tampak terkejut sekaligus wajah sedih.

"Hh..Hyung.." saut Changmin lirih sambil sedikit tersenyum lega. Setidaknya yang memanggilnya dan melihatnya dalam keadaan lemah seperti ii bukanlah orang lain. Melainkan seorang yang selalu membantunya dan juga merawat orang yang paling disayanginya.

"Junsu hyung, ap-, ah!"

Junsu menaruh tangannya dikepala kecil Changmin dengan tiba-tiba dan membuat namja tersebut kaget. Sedikit senyum muram tampak di wajah Junsu kala melihat Changmin yang tampak sedikit tidak berdaya dihadapannya. Keadaan Changmin saat ini sama seperti saat pertama kali Junsu melihatnya. Lemah, penuh penyesalan, dan rasa cinta.

Dielusnya perlahan kepala dongsaengnya itu dengan sayang membuat Changmin hanya bisa terdiam. Tanpa berkata apapun, Junsu hanya terus mengelus kepalanya dengan sayang. Hati Changmin yang tadinya merasa sangat tercekat dan tercekik, kini perlahan mulai menghangat berkat elusan di kepalanya. Sudah sangat lama Changmin tidak merasakan perasaan yang seperti ini. Mungkin semua ini karena Junsu, Changmin merasa, ia tidak sendirian.

.RememberMe?.

"Sebenarnya bagaimana kita berpisah, eoh?"

"Kenapa kau begitu penasaran?" kata yeoja itu sambil menuangkan botol soju itu ke gelasnya

"Bagaimana kita bisa menjadi orang asing, padahal kau terlihat begitu mempedulikanku?"

"Hmf, apakah sudah sangat terlambat untuk memperhatikanmu?" katanya lagi kemudian menegak soju ditangannya

"Bagaimana bisa, aku tidak memiliki perasaan berdebar denganmu, seperti saat ini, padahal dulu kita adalah sepasang kekasih?"

"Cih, perasaan berdebar? Jadi kau tidak memilikinya?! Jadi kau benar-benar melupakan aku?! JUNG YUNHO BRENGSEK! KENAPA KAU MENGATAKANNYA LAGI?! KENAPA KAU MENGATAKAN HAL YANG SAMA PADAKU SEKALI LAGI PADAHAL KAU BAHKAN TIDAK MENGINGATKU! BRENGSEK!" Rutuk Fanny dengan nyaring dan membuat setiap orang dalam tempat minum itupun menjadi risih

"Cih,..." ia menghela nafas dengan terburu menandakan amarahnya yang sangat besar dan kemudian mengambil kembali botol soju dan menyangkannya hingga sebuah tangan menghentikan pergerakannya

"Berhentilah, apa kau sudah gila?"

Fanny mencoba mendongakkan kepalanya dan menatap orang yang sudah menahan tangannya. Sejenak hatinya yang tadinya sungguh tengah keras mendadak meleleh seketika ketika sepasang mata tersebut kembali menatapnya. Mata yang amat ia rindukan... sangat...

Sedikit ia angkat kedua ujung bibirnya dan membentuk senyum disana. "O..ppa.."

"Ikut denganku" kata namja tersebut kemudian mengambil tangan Fanny yang tengah ia genggam dan membawa Fanny pada mobilnya dan membawa Fanny pergi dari sana

"Apa kau benar-benar tidak punya otak?! Bagaimana seorang wanita bisa minum-minum sebanyak itu dan mabuk sebanyak itu?" pekik namja tersebut keras sambil mengemudikan mobilnya dengan sedikit tidak tenang

"Oppa... aku merindukanmu... kau kemana saja uh? Sejak kau kecelakaan kau tidak pernah menemuiku lagi, kau tahu aku sangat merindukanmu. Oppa! apa kau tidak merindukanku?" kata Fanny seenaknya karena sedang berada dalam pengaruh soju

"Tidak"

"Yoochun oppa..." rajuk Fanny dalam mobil

"Fanny ah...kau adalah kesalahan dalam hidupku, bagaimana aku bisa merindukan kesalahanku?"

"Oppa!"

"Tenanglah, sebentar lagi kita akan tiba dirumahmu. Kau bahkan akan lupa kalau kita pernah bertemu"

Namja yang ternyata adalah Yoochun tersebut kemudian tetap menyetir dan mengabaikan Tifanny yang terus mengoceh didalam mobilnya.

Jika saja bukan Yunho yang menyuruhnya, mungkin ia tidak akan pernah mau untuk menemui Yeoja ini lagi. Walaupun, memang ada sedikit rindu disana.

Flashback

Yoochun yang sedang menyantap makanannya disebuah tempat makan cepat saji kemudian terkejut ketika ringtone ponselnya kemudian beebunyi dengan nyaring.

"Eh- Yoboseyo?" jawab Yoochun dengan sedikit panik

"Yoochun ah, apa kau sedang sibuk?" tanya suara diseberang sana yang adalah Yunho tersebut

"Anniya, Wae?" jawab Yoochun sambil menyantap kembali makanannya

"Maukah kau membantuku?" kata Yunho dengan nada yang lebih serius

"Hmm, baiklah. Apa yang bisa kubantu?"

"Maukah kau menjemput Tiffany disebuah kedai tempat minum soju?"

DEG

Fanny. Nama yang sangat sakral bagi Yoochun. Nama yang sesungguhny sangat ia lupakan kini. Nama yang berhasil membuatnya berpaling dari orang yang sangat ia cintai itu kini kembali terdengar dan mengusik hatinya.

"Apa...tapi... aku...eum"

"Fanny menelponku tadi sambil mabuk, tapi aku sangat malas untuk meladeninya. Bisakah kau menolongku?

"Tapi, Jung Yunho aku-"

"Aku mohon. Dia mabuk. Bahkan mungkin tidak akan ingat bukan aku yang ada disana"

"Jung Yunho-"

"Park Yoochun, aku percaya padamu"

DEG

Kembali jantung itu bergetar. Yah. Percaya. Sudah sangat lama bahkan sejak Yunho mengatakan hal itu dengan nada seserius itu kepadanya. Percaya? Saat terakhir Yunho percaya padanya adalah saat ia menitipkan Fanny padanya dengan wajah yang penuh luka. Sama seperti sekarang ia menitipkan lagi Fanny padanya dengan suara yang sangat serius.

Hening sejenak dalam sambungan telepon tersebut hingga sebuah suara kemudian angkat bicara.

"Baiklah"

Flashback End

"Yunho ah..."

.RememberMe?.

"Heh cabul! Sedang apa kau disana?" panggil Jaejoong pada Yunho yang tampak tengah mengambil makanan JIji

"Ya! Ya! Ya! Siapa yang kau panggil cabul heum? Kau sendiri sangat cabul kau tau? Setiap kali mengingatmu berkata kau selalu bergairah saat disampingku itu membuatku sangat merinding. Brr" jawab Yunho sambil menaikan bahunya dan meragakan orang kedinginan

"Ya!" Pekik Jaejoong karena merasa malu dengan pernyataan Yunho

Percakapan mereka terhenti sejenak dan membawa mereka kepada ikiran masing-masing. Jaejoong hanya dapat terpaku sambil tersenyum kecil kala menatapi Yunho yang sedang menyiapkan makanan untuk Jiji dalam sebuah mangkok. Sungguh ia rindu akan saat-saat seperti ini. Hal yang sangat iasa Yunho lakukan dulu dan kini mulai ia lakukan lagi.

Seandainya Yunho ingat. Pasti akan sangat menyenangkan bukan?

"Ya!" panggil Yunho kemudian

"Kenapa kau menatapiku seperti itu terus hm? Apa kau sedang merasa bergairang?" kata Yunho kemudian yang mengagetkan Jaejoong

"YA! BABO!"

.

"Jiji! waktunya makan nak!" pekik Jaejoong senang disamping Yunho yang sudah membawa mangkuk makanan Jiji

"Jiji?" pekik Jaejoong lai berusaha memanggil Jiji yang tak kunjung datang

Biasanya Jiji memang suka datang dengan lamban walaupun saat itu adalah saat makan, tapi saat ini sudah sangat lama sejak Jaejoong memanggilnya namun Jiji tak kunjung datang.

"Jiji kau dimanaaaa?" Pekik Jaejoong sambil mengelilingi rumah

"Apa jiji belum tampak juga?" tanya Yunho yang sedari tadi menemani Jaejoong berkeliling

"Anni. Jiji belum tampak, ah... kemana ia pergi. Chagi eodisseo?" panggil Jaejoong lagi dengan lebih keras dan raut wajah cemas

"Mungkin Jiji sedang berada dirumah sebelah atau jalan-jalan? Bukankah kucing suka begitu?" kata Yunho berusaha menenangkan Jaejoong

"Anniya. Jiji bukan kucing yang seperti itu, sejak bayi aku mengurusnya aku sangat tau Jiji tidak suka jalan-jalan. Ia lebih suka ada dihalaman rumah atau didalam rumah" jelas Jaejoong

Yunho hanya menatapi Jaejoong yang tengah mencari kucingnya dengan panik. Melihat Jaejoong saat ini mengingatkannya pada dirinya tadi pagi saat ia mencari Jaejoong dengan sangat khawatir juga. Perasaan Yunho saat itu adalah perasaan yang sangat tidak tenang dan tidak ingin kehilangan. Rasanya seperti, ia tidak ingin kehilangan namja dihadapannya lagi.

"Jijiii!" Pekik Jaejoong dengan kuat.

Yunho hanya dapat menatapi Jaejoong dengan rasa menggeitik didadanya. Senyum cerah tak pelak terukir diwajahnya. Sejak ia memutuskan hidup sendiri, ternyata Yunho tidak pernah berakhir dengan hidup sendiri disana, dan diramaikan dengan adanya sosok Jaejoong yang awalnya sangat ia takuti. Tapi ternyata tanpa Yunho sadar, sosok itu lah yang membuat Yunho tidak pernah merasa bosan. Jika saja tidak ada Jaejoong disana, mungkin Yunho akan mati kebosanan dan hidup kelaparan dengan makan mie instant dan makanan plastik lainnya. Tanpa Jaejoong disana, Yunho pasti...kesepian.

"Kim Jaejoong, jangan pergi. Kalau kau pergi aku juga akan mencarimu dengan gila seperti kau saat ini. Perkataanku saat itu, maukah kau melupakannya? Walau kau hanya roh cabul yang suka meminjam tubuhku untuk memasak, tapi aku membutuhkanmu. Entah untuk apa. Aku hanya ingin kau ada disisiku. Dan membuat kegaduhan seperti ini"

.

"Ah! Dibawah Meja!" Pekik Yunho saat berusaha mencari Jiji dibawah meja

"Hah?! Mana?" Jaejoong segera merespon dengan berjongkok dan melihat kebawah meja

Tidak ada Jiji disana. Hanya sebuah lantai kosong. Ah, Yunho sudah berhasil menipunya kali ini.

"YA!" pekiknya sambil menegadahkan kepalanya pada Yunho

DEG

Wajahnya dan wajah Yunho sangat dekat kini. Jaejoong dapat menatap mata musang itu kini balik menatap matanya dengan lebar. Ah... setelah sekian lama ia hanya bisa memandang wajah itu dengan mata yang tertutup, kini akhirnya ia dapat melihat mata tersebut dengan leluasa kala mata tersebut tengah terbuka dan menatapanya balik.

Jaejoong mengerjapkan matanya sedikit dan memalingkan matanya dari Yunho, sementara Yunho terus menatapnya dengan mulut yang ternganga.

"Kau kenapa?" tanya Jaejoong bingung kala menatap Yunho yang tak kunjung merubah posisinnya

"Aku jatuh cinta" jawab Yunho tanpa sadar

"Eh?! YA! Kau jangan membercandaiku lagi eoh! sudah menipuku tentang Jiji sekarang kau mengatakan hal yang tidak-tidak dasar gila" kata Jaejoong kemudian langsung bangkit dan menembus meja lalu kembali pergi mencari Jiji

Sementara Yunho tetap termenung mematung disana. Yah, melihat wajah Jaejoong sedekat itu dengan wajahnya memang memberikan guncangan yang luar biasa pada dadanya.

"Aku jatuh cinta"

Yunho terhenyak ketika mengingat kata-kata yang baru saja ia keluarkan dan ucapkan pada Jaejoong.

"Aishh! Bagaimana bisa aku mengatakan hal itu padanya! Jung Yunho bodoh!"

SREK SREK SREK

Yunho kemudian mendengar suara menggesek dalam lemari piring yang ada dibagian bawah. Yunho tidak ingat bahwa ada apapun disana selain piring yang dapat membuat suara seperti itu. Lagipula, piring? Ayolah. Bahkan sebuah anginpun tidak akan cukup kuat untuk menjatuhkannya, apalagi lemari yang tertutup rapat seperti ini.

Atau.

Apakah?

Hantu lain?

SREK SREK SREK

Yunho yang penasaran kemudian mengambil langkah pelan menuju lemari tersebut dan membukanya secara perlahan. Tampak dua mata bercahaya didalam lemari tersebut dan membuat Yunho terkaget

"AHHHHHHHHHHHHH" teriak Yunho histeris sambil terjatuh dan menutupi matanya. Ah, Yunho memang akan selalu menjadi penakut

"Ahhhhhhhhh JIJIIIII KAU DISINIII RUPANYAAAA!" pekik Jaejoong dengan nada bahagia kala melihat Jiji meloncat keluar dari dalam sebuah lemari

"AHHHHHHH! AHHHHH! AHHH! YA! JIJI! KAU MEMBUATKU KAGET SAJAAA!" pekik Yunho histeris pada Jiji yang tengah dielus sayang oleh Jaejoong

"YA! Kau yang malah menakutinya kau tau!" kata Jaejoong memarahi Yunho

"Ah, dasar" bisik Yunho sambil memberdirikan tubuhnya

"Aigo, bagaimana kau bisa sampai terjebak dalam lemari hum? Apakau ketakutan didalam? Mianhae Jiji, aku tidak akan membiarkan hal ini terjadi lagi. Jangan buat aku khawatir seperti tadi, jangan tinggalkan aku, aku membutuhkanmu kau tahu? Ah, seandainya aku masih punya tubuh aku yang aka membukakan pintu lemari itu untukmu. Maafkan aku ne? Aku tidak akan mebiarkan hal ini terjadi lagi. Aku janji, Chagiii" kata Jaejoong pada Jiji yang membuat Yunho sedikit terenyuh

"Kau juga"

"Jangan tinggalkan aku, Kim Jaejoong"

"Tapi..."

.RememberMe?.

Sebuah kaki terdiam disebuah pintu itu dengan ragu. Dalam pikirannya ia berkata bahwa ia harus membuka knop pintu tersebut dan melangkah maju melewatinya. Namun dalam hatinya, ia ingin membawa kakinya pergi dari ruangan itu dan kemudian tetap hidup seperti sebelumnya.

"Seandainya aku masih punya tubuh aku yang aka membukakan pintu lemari itu untukmu"

"Selama kau jadi berada di tempat yang lebih baik, aku akan menyingkirkanmu sekuat tenaga. Aku hanya ingin kau tenang"

Seketika dalam pikirannya terngiang alasan-alasan mengapa pada akhirnya ia memilih untuk datang kesini. Yunho berjanji untuk mengembalikan roh itu pada tubuhnya. Yah, Yunho sudah berjanji bahkan saat mereka masih dalam bentuk yang sama yakni 'roh' dan Yunho sungguh sangat ingin mengabulkan hal tersebut. Baginya, Jaejoong yang bahkan tidak dapat menyentuh orang atau hewan yang ia sayangi, terlihat sangat-sangat-sangat-sangat menyedihkan.

Tapi...

"Temukan tubuhku, dan aku akan menghilang selamanya dari hidupmu"

Kata-kata itu, adalah alasan mengapa Yunho masih tidak dapat memutar knop pintu tersebut hingga kini.

"Putar saja" kata 'seorang' yang sangat mengagetkan Yunho saat itu dan membuat jantung Yunho serasa akan berhenti

Yunho menolehkan kepalanya kekanan dan melihat sosok yang tegah dipikirkannya tersebut.

"Kim-"

"Putar, dan aku akan menghilang dari hidupmu selamanya" kata Jaejoong sambil tersenyum pada Yunho

"Aku-"

"Jung Yunho"

"Kau sudah berjanji bukan?" kata Jaejoong lagi sambil menaruh tangannya di knop pintu yang tindakannya diikuti oleh Yunho

"Kalau aku membukanya, apakah kau akan benar menghilang?" tanya Yunho sambil tertunduk

Hati Yunho sungguh sangat tidak karuan kini. Ia sangat ingin pergi. Sangat ingin membiarkan Jaeejoong menjadi roh yang tergantung padanya dan meminjam tubhnya unuk melakukan sesuatu. Ia ingin Jaejoong menjadi roh yang selalu tertidur disampingnya sambil menatapnya. Ia sangat Kim Jaejoong yang ini tetap menjadi Kim Jaejoong yang ini.

Yunho takut. Bila Jaejoong sudah kembali pada Tubuhnya, ia tidak akan kembali pada Yunho.

Yunho takut. Kata menghilang adalah 'menghilang'.

Tapi melihat ada Jaejoong disampingnya, Yunho tidak ingin tampak menjadi seorang pengecut yang ingkar janji.

Merasakan perasaan yang seperti ini, membuat Yunho sedikit bertanya dalam hatinya.

"Apakah aku jatuh cinta?"

"Yah. Aku rasa begitu" jawab Jaejoong yang agak tidak yakin ia akan menghilang seperti apa

CKLEK

Pintu itu kemudian terbuka dan menunjukkan sosok yang sangat lemah tengah terbaring disana. tubuhnya lebih kurus daripada sosok yang sedang berdiri disampingnya tersebut. Yunho tertegun kala menatap wajah Jaejoong secara langsung bukan pada wajah rohnya.

DEG DEG DEG

Jantung Yunho berdegup dengan kencang. Seakan keadaan seperti ini adalah keadaan yang sangat ia rindukan setelah sekian lama. Keadaan lama yang sangat sering dilakukan oleh Yunho kepada Jaejoong. Dadanya terasa sakit dan hangat disaat yang bersamaan kala menatap Jaejoong yang tengah terkapar disana. Sedikit disibakkannya poni Jaejoong dan melihat wajah itu lebih dekat.

TES

Air matanya menetes tanpa sadar seakan hatinya sangat merindukan wajah tersebut.

TIT TIT TIT

Bunyi pada mesin tersebut kemudian perlahan berubah menjadi lebih cepat dari sebelumnya dan membuat Yunho tersadar dari lamunannya.

"Kim Jaejoong!" pekik Yunho pada 'roh' Jaejoong yang ada dibelakangnya

"Atas selama ini, aku ucapkan terimakasih" kata Jaejoong sambil tersenyum kepada Yunho dan membungkuk 90 derajat

Kembali air mata Yunho terjatuh dan menatap Jaejoong yang masih membungkuk dihadapannya. Hatinya terasa hancur kala Jaejoong mengucapkan hal tersebut, seakan sosok tersebut benar-benar akan menghilang selamanya dari hidupnya.

"Kim-"

TIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTT

Bunyi panjang pada alat detak jatung tersebut bersamaan dengan menghilangnya roh Jaejoong perlahan dari hadapan Yunho.

Yunho hanya dapat menatap pemandangan dihadapannya dengan tertegun dan wajah terkejut.

Hatinya hancur secara seketika kala Kim Jaejoong meninggalkannya. Ketika roh Kim Jaejoong menghilang tepat dihadapannya. Ketika bahan ia belum sempat mengutarakan perasaannya yang ia rasa belum pasti tersebut.

Berdenyut. Sakit. rasanya sangat menusuk hati Yunho dengan dalam.

Seperti kepingan kepingan kaca yang menusuk hatinya. Membuatnya sakit.

Seperti ada sebuah penghisap oksigen disekitarnya yang membuatnya sulit untuk benafas.

Kenapa rasanya sakit sekali?

Seakan Jaejoong adalah orang yang paling tidak ingin Yunho biarkan hilang dari hidupnya.

"Temukan tubuhku, dan aku akan menghilang selamanya dari hidupmu"

Jaejoong memang menghilang.

Bukan hanya rohnya.

Tapi...

TTTIIIIIIITTTTTTTTT

Semuanya.

TBC

A/N : Alohaaaaaaa kembali pada cerita yang lama apdetnya ini '_')/. Buat semua para readers baru dan para pembaca yang mendukung cerita Cindy cindy ucapkan terimakasih dan ciuman banyak-banyak :* maafkan bila ceritanya kali ini malah makin aneh dan malah bikin akin panjang. Tadinya mau end-in disini aja dimana semuanya tetap tidak jelas (?) tapi ga enak bagi para pembaca yang pasti lebih suka kejelasan daripada sebuah ketidakjelasan /ini apa/ jadi di TBC kan hihihihi

Berharap kalian suka pada karya ini dan terus mendukung karya Cindy yang lain yah : D terimakasih semuanyaaaaa :*