"Jam kuliah Mbak, masih satu jam lagi kan?" tanya Menma sembari berjalan beriringan denganku menyusuri koridor kampus.
Setelah lebih dari enam minggu berada di Konoha, akhirnya aku resmi menjadi Mahasiswi di Universitas tempat Menma kuliah. Aku berhasil melewati tes seleksi penerimaan calon mahasiswa/i program pascasarjana dengan nilai yang lumayan bagus. Dan ini hari pertamaku kuliah.
Menma mendesah, dia menggaruk tengkuknya gelisah. "Lima menit lagi aku ada kuliah," gumamnya cemberut sambil menatap lurus ke depan, mengabaikan sapaan sok manis dan cekikikan genit dari Mahasiswi-Mahasiswi cantik yang berpapasan dengannya.
Ternyata adikku punya banyak peminat, lumayan popular. Kalau aja cewek-cewek itu tahu, Menma sering nggak mandi waktu datang ke kampus, cuma cuci muka, ganti baju, sama parfuman, pasti mereka bakalan illfell. Beruntungnya tampangmu nggak mendukung kebiasaan burukmu, Dek.
Menma membawaku ke Cafetaria, kami duduk di meja sudut ruangan yang tersembunyi dari pandangan penasaran Mahasiswa/i lain.
"Mbak, nggak apa-apa kan aku tinggal sendiri?" Menma menatapku cemas.
Aku mendengus. Ya ampun Menma, aku ini Kakakmu, bukan anak umur lima tahun yang harus dijagain! "Nggak apa-apa," jawabku kesal.
"Naruto sialan!" Menma kemudian menggerutu panjang-pendek tentang Naruto, yang kemarin sudah pergi untuk mendaki gunung Hokage bersama teman-temannya. Dia anggota Mapala. Dan Naruto bilang dia akan pulang minggu depan.
"Ya udah Mbak aku masuk dulu. Jangan macam-macam," dia memperingatkan.
Aku mendelik. Memangnya aku mau macam-macam soal apa coba?
"Jangan pergi kemana-mana, tunggu sampai jam kuliahku selesai. Nanti aku bakal antar Mbak ke kelas."
Ya ampun, makin hari adikku Menma, makin tuir kayak Bapak-Bapak.
"Dan yang terakhir ... Jangan tanggepin apapun kalau mahluk-mahluk astral di sana ngajak Mbak kenalan," dia menggedikan dagunya—menunjuk ke arah meja yang berada di tengah Cafetaria, yang ramai diduduki oleh mahasiswa-mahasiswi berpenampilan 'WOW' dengan kategori tampang cakep yang di atas rata-rata. Tahulah gimana penampilan anak orang kaya manja yang suka seenaknya, membentuk koloni sendiri, dan menganggap bahwa merekalah yang berkuasa. Aku melihat Karin berada dalam kelompok itu, dia menatapku sinis—seperti menyimpan dendam padaku.
Hei! Seharusnya aku yang dendam sama dia, waktu itu diakan sudah seenak dengkulnya ngetuk jidatku, dikira pintu apa?
"Beres!" Setelah mendapat jawabanku Menma kemudian beranjak pergi meninggalkan Cafetaria, sebelumnya dia berpesan padaku, kalau ada apa-apa aku disuruh menelponnya.
Oke Dek, Oke, tidak perlu khawatir, Kakakmu yang cantik ini bisa jaga diri.
Sambil menunggu Menma, aku memutuskan membeli minuman teh botol dan snack, untuk menjadi teman pengganjal perut. Bermain ponsel, bertegur sapa dengan teman-temanku di media social di dunia maya kulakukan untuk menghibur diri, menunggu Menma keluar dari kelasnya, dan menghindari tatapan penasaran dan tak suka dari mereka yang ada di Cafetaria.
"Hai Cantik."
Sebelah alisku terangkat tinggi melihat satu sosok cowok tinggi, berkulit hitam manis, dengan kepala rada plontos mirip mantan suami Ayu Ting-ting, menghampiriku lalu duduk di kursi di depanku. Dia mengenakan celana jins hitam yang sobek pada bagian lututnya, dan juga kaos hitam lengan pendek ketat yang mencetak otot-otot bisepnya. Aku bisa melihat potongan tatoo aneh—yang aku tidak tahu gambar apa itu, di lengannya. Dia berasal dari koloni yang tidak diperbolehkan Menma untuk bergaul denganku.
"Boleh kenalan?"
Dia mengulurkan tangan, aku masih diam—tak menjawab, bolak-balik menatap tangannya dan juga mukanya yang nggak jelek-jelek amat itu.
"Aku Shin, cowok terganteng dan terkece di fakultas Ekonomi," katanya percaya diri, disusul seruan mencemo'oh dari teman-temannya yang lain di belakang. "Kamu ..."
Aku terdiam sejenak, berpikir apakah aku menanggapi cowok ini atau tidak. Dan ...
"Sakura," jawabku memasang ekspresi datar, sambil kembali berkutat dengan smarthphone-ku, mengabaikan keberadaannya.
Menarik kembali tangannya yang tak ingin kujabat, Shin tersenyum lebar.
"Nama yang cantik untuk gadis secantik kamu," gombalnya tak menyerah menanggapi sikap dinginku, "mahasiswi baru ya?"
"Hmm."
"Jurusan?"
"Sospol."
"Oh," kepala pelontos Shin naik turun kayak anak ayam lagi matuk cacing. Dibelakang Shin, aku melihat teman-teman 'koloni'-nya berbisik-bisik sambil melirik ke arah kami. Sementara si Karin, mengabaikan mereka, dia lebih memilih berdandan dengan peralatan make up-nya. Ya ampun, itu anak mau kuliah atau ikutan fashion show?
"Udah lama kenal Menma?" Pertanyaan dari Shin kembali mengalihkan perhatianku.
Si Botak ini bawel ya?!
"Lumayan," jawabku singkat.
"Cantik. Daripada kamu sama Menma yang nggak tahu gimana cara memperlakukan cewek, mending kamu sama aku aja."
Maksudnya? Sepertinya tiga tanda tanya besar ala-ala film kartun dan animasi, muncul di atas kepalaku, sehingga si Botak sexy mau berbaik hati menjelaskan apa maksud perkataannya.
"Menma itu ... Nggak bisa nyenengin cewek." Nada suaranya merendah, seperti membicarakan suatu hal yang kotor.
"Hn?" Sebelah alisku terangkat tinggi menanggapi perkataannya. Ada gitu orang yang yang bicara buruk tentang orang lain, pada kakak orang yang dia jelek-jelekan.
"Dia nggak bisa muasin cewek," Kampret! Aku tahu kemana arah pembicaraan ini, aku memasang ekspresi super dingin saat si Botak Shin memamerkan cengiran menggoda padaku. Aku curiga nih anak belum punya pengalaman dalam menggoda cewek. Flat amat.
"..."
"Ceweknya yang dulu aja sampai ..."
"Shut up," potongku datar tak ingin mendengar kelanjutan kalimatnya.
"Kenapa Cantik? Apa Menma belum bisa memuaskanmu selama ini?"
Aku melotot galak menatap si Botak yang duduk di depanku, gayanya tak ubah seperti gigolo tak berpengalaman yang berusaha memikat pelanggan. Walau sebenarnya aku tidak tahu seperti apa gaya gigolo saat memikat pelanggan.
"Kalau Menma nggak bisa muasin kamu, maka ..."
PRAKKK! Kesal dengan kelakuan tak tahu malunya, aku memukul keras kepala plontos Shin menggunakan botol plastik dari teh botol yang kuminum. Dia meringis, sementara semua yang ada di Cafetaria tertegun melihat kelakuanku.
"Menma seribu kali lebih baik dari kamu, dan jangan sekali-kali menghinanya!" Ternyata aku bisa galak juga ya? "Kalau kamu masih berani menghina Menma, maka bukan botol plastik lagi yang bakal kupake buat mentung kepala botakmu! Tapi golok!" Setelah berkata demikian aku langsung kabur dari Cafetaria. Bisa gawat kalau si Botak Shin sadar dari keterpakuannya, dan langsung ngamuk.
Setelah keluar dari Cafetaria, aku memutuskan untuk pergi ke toilet.
Pintu terbuka, dan begitu aku masuk ...
"AWWW! Pelan-pelan Sasuke!"
"Ahhh. Enggghhh."
"Ahmmmm."
... Aku langsung membeku dengan wajah super pucat di depan pintu. Melihat aksi liveshow dua mahluk tak beradab di depanku.
Seorang cewek cantik berambut pirang bob, yang pakaiannya sudah acak-acakan—bagian bawahnya sudah sepenuhnya telanjang, tampak menungging di depan wastafel toilet, dengan seorang cowok di belakangnya. Cowok itu masih berpakaian lengkap, t-shirt biru pucat, dan jins hitam, hanya saja resleting celananya terbuka, dan bagian intimnya tampak berada di dalam milik si cewek itu!
Ya Tuhan, aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak muntah melihat adegan ini. Tapi ... Sepertinya aku mengenal cowok itu. Dia cowok yang waktu itu datang ke Rumah bersama Karin kan?
Sambil terus melakukan kegiatan bejatnya, cowok itu melirikku, sesaat dia tampak terkejut. Lalu sebuah senyuman menawan tersungging di bibirnya. Sementara si cewek seperti sudah kehilangan kesadaran dan kendali diri sehingga tidak menyadari bahwa aku berada di sana.
Dasar tidak tahu malu!
"Hai!" Sapanya mempercepat gerakannya.
DASAR SETAN!
Tak menjawab sapaannya, aku memasang ekspresi datar, mengabaikan keberadaan dua mahluk sialan itu, aku berdandan dan membenahi penampilanku.
"Arrrghhh. Sasuke, sebentar lagi aku mau ..."
Menjijikan. Aku mendengus saat melihat dari cermin, si cowok benama Sasuke masih memperhatikanku dengan tatapan intens.
Selesai berdandan aku segera berbalik, agar bisa pergi dari toilet laknat itu. Tak lama kemudian, terdengar suara geraman melengking si cewek yang lebih mirip suara anjing pudel kelindes bemo.
Aku yang sudah berada di luar toilet, hanya bisa menggeleng dan menggedikan kepalaku. Kok bisa ya ada manusia nggak tahu malu seperti itu? Udah sex bebas, nananina-nya di tempat umum lagi. Hiii.
.
.
.
(To be continue)
#Words : 1215
#Terimakasih untuk semua yang udah review kemarin.(adora13, guest, caesarpuspita, NikeLagi, Guest, Rin, Suket alang alang, guest, dan mantika mochi).
