Naruto Masashi Kishimoto

CINTASalada

.

.

"Mbak, apa materi kuliah S2 Mbak itu sebegitu beratnya sampe kantong mata Mbak meleber gitu?" Menma mengernyit melihat kondisiku yang pagi ini tidak begitu baik. Benar-benar lemas gara-gara nggak bisa tidur semalaman.

Tak menjawab ucapannya, aku memberikan dia isyarat untuk duduk di meja makan dan mengambil lauk dan nasi untuk sarapan. Aku mendengar Menma menghela napas berat sebelum menghenyakan diri untuk duduk di sampingku, mengambil piring lalu menyendok nasi dan lauk. Menu makanan pagi ini cukup sederhana, cuma nasi putih, ditemani oseng teri dan tahu-tempe.

"Mbak udah makan?" aku melirik Menma yang mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi menatap segelas susu putih tanpa nasi yang ada di depanku.

Sedang nggak napsu makan, Dik. "Mbak makan nanti aja. Lagi nggak nafsu."

Menma langsung cemberut mendengar jawabanku. Dia memperhatikan lauk di piringnya sebentar, kemudian mendengus. "Nanti aku keluar, Mbak mau aku belikan apa?" tanyanya sembari memasukan nasi dan lauk ke dalam mulutnya menggunakan sendok.

Jyiaah. Dikira aku nggak napsu makan gara-gara lauknya Cuma oseng teri, tahu-tempe. "Nggak perlu. Nanti juga Mbak makan pake lauk ini."

Bibir Menma makin mengerucut.

"Beneran deh. Mbak janji," aku menambahkan ketika melihat tampang yang mulai berubah menjadi lebih galak dari Ayah.

Mendapat kejelasan seperti itu dariku, tampang Menma berubah normal kembali, "Oke deh," katanya kalem sembari kembali melanjutkan acara sarapan paginya.

Huaaah. Kalau aja Menma tahu apa penyebab aku nggak bisa tidur semalaman dan nggak nafsu makan pagi ini. Gara-garanya kejadian di kampus kemaren, nge-gepin cowok-cewek yang lagi indehoy di toilet, huhuhuuu, mataku … mataku yang suci ternodaaaa huhuhhuuu. Walau umurku udah hampir seperempat abad, aku belum pernah ngelihat adegan dewasa kayak gitu. Nonton blue film aja aku ngeri, apalagi kalau harus ngelihat langsung porn live action kayak gitu. Benar-benar menyeramkan. Hiks. Dan parahnya lagi aku malah kebayang-bayang terus, dan sampe kebawa mimpi. HUEEEE JANGAN TANYA DETAILNYA! AKU MALU SAMA DIRIKU SENDIRI DAN TUHAN! Masa iya aku mimpi nganuan sama cowok bejat di toilet itu? Aku nggak mauuuu!

.

"Ah! Ahhh. Ehnnn."

"Bagaimana Sayangh? Bukankah ini nikmat? Aaaah."

"Haaah. Haaah. Haaah. Lebih cepattth, kumohon."

"Sialan. Raut pasrahmu itu benar-benar menggairahkan."

"Ahhh. Ah."

"Kamu cantik. Sakura."

"Kamu …"

"Panggil aku Sasuke. Ahh."

"Sa-su-ke … Haaaah."

.

Blush. Blush. Blush.

Sakura sialaaaaan! Kenapa pake acara ingat mimpi itu segala? Otakmu bener-bener nggak mutu Sak, masa baru sekali nonton porn live action kamu langsung ikutan ngeres kayak cowok-cowok mesum? Ya ampuuun~

"Mbak?"

Eh? suara Menma yang kebingungan bikin aku balik ke dunia nyata.

"I-iya?" aku menoleh ke arah adikku sambil gelagapan.

Mata biru jernih Menma menyipit, menatapku curiga. "Mbak nggak sakit kan? Muka Mbak merah amat."

Eh? "Nggak kok. Mbak nggak kenapa-napa," melihat ekspresi tak percaya Menma aku buru-buru menambahkan, "kan orang sakit mukanya kudu pucat bukannya merah."

"Hmm. Iya juga ya?" dia mengangguk, "Terus kenapa muka Mbak merah?"

Tak menjawab, buru-buru aku menandaskan isi gelas susuku. Setelah selesai aku bangkit dari kursi lalu membawa gelas kotor itu ke wastafel tempat pencucian piring. "Aku mandi dulu ntar aku ikut kamu ke kampus. Ada beberapa buku yang mesti aku cari di perpustakaan." Ngibrit, buru-buru kabur sebelum Menma kembali bertanya soal alasan kenapa mukaku merah?

"Mbak. Mbak belum ngejawab pertanyaan aku!" nah, ini nih nggak enaknya jadi saudara Menma, dia itu bukan tipe orang yang bisa dialihkan topik pembicaraannya. "Kenapa muka Mbak merah?!"

Nggak ngejawab. Aku ke kamar bentar buat ngambil handuk, kemudian lari secepatnya menuju kamar mandi.

"MUKA MBAK MERAH BUKAN KARENA MBAK LAGI JATUH CINTA KAN?" teriak Menma dari dapur. Sialan. Malu-maluin aja, gimana kalau didengar tetangga? Lagian aku nggak mungkin jatuh cinta sama cowok bejat itu. "AWAS AJA KALAU MBAK SAMPE JATUH CINTA SAMA SALAH SATU MAHLUK ASTRAL YANG ADA DI KAMPUS, AKU MASUKIN KARDUS TRUS PULANGIN KAMPUNG TAHU RASA!" Ancamnya.

Kampret. Lu pikir gue bisa dipaketin lewat pos atau JNE! "BAWEL LU!" teriakku membalas ucapan Menma sambil menghidupkan keran air untuk mandi.

.

.

Aku menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan sambil membaca buku dan menyalin materi-materi penting. Menma bilang dia akan menjemputku setelah semua jam kuliah dan urusannya di senat selesai. Aku tidak keberatan dengan itu karena aku memang suka membaca. Suasana perpustakaan yang tenang dan hanya diisi oleh segelintir mahasiswa dan mahasiswi yang datang untuk mencari bahan tugas atau memperdalam materi benar-benar membuatku nyaman.

Sayangnya kenyamananku itu tak berlangsung lama. Sebelum …

"Hai cantik~"

Blush.

—cowok astral bejat yang menjadi sumber mimpi burukku tiba-tiba muncul dan seenak jidatnya duduk di depanku tanpa minta ijin dulu. Sebelah alisku menukik tajam menatapnya. Sialan. Dia sangat tampan. Memiliki garis rahang lembut, dipadu mata gelap tegas nan tajam seperti elang, hidung mancung, dan bibir menawan (yang aku pikir) dapat membuat para perempuan bertekuk lutut padanya. Sekilas menilik penampilannya, dia memakasi kaos berwarna putih dipadu jins biru, dan jaket kulis berwarna cokelat. Yang membuatku hampir terbahak adalah gaya rambutnya yang mengingatkanku pada … uhuk, model buntut ayam betina.

Coba untuk tidak merona karena mengingat mimpi semalam dan mengabaikan keberadaannya, aku mengembalikan perhatianku pada buku yang sedang kubaca dan menuliskan beberapa hal penting yang kudapat dari bacaanku.

"Aku Sasuke." Dia menyebutkan namanya padahal aku tidak bertanya.

Aku kembali melirik dan mendapati Sasuke yang tengah melemparkan tatapan nakal padaku.

"Aku tidak bertanya."

"Aku hanya menyebutkan," jawabnya kalem.

Hening. Walau aku sudah coba untuk tak peduli terhadap cowok bejat yang duduk di depanku, tapi entah kenapa aku merasa aneh, risih, dan tak setenang sebelumnya. Aku kembali melirik Sasuke, memergokinya sedang menatapku dengan sorot yang tak bisa kudeskripsikan. Ketika mata hijauku dan mata gelapnya bertemu, dia melemparkan sebuah senyum menawan penuh pesona yang dapat membuat perempuan manapun di kampus ini rela memberikan apapun dengan suka rela padanya. Dia mengalirkan sisi liar dan gairah seks dalam senyuman itu.

Aku mengernyit.

"Apa aku begitu menjijikan di matamu, sampai kamu memasang ekspresi seperti itu?" tanyanya tapi tidak tampak tersinggung.

"Bukannya pertemuan kita kemarin diawali dengan hal yang menjijikan? Kamu dan pacarmu benar-benar tak tahu tempat," kataku judes.

Dia menyeringai. "Dia bukan pacarku."

Aku tidak bertanyaaaa~

"Kamu mahasiswi baru ya? Sepertinya aku tidak pernah melihatmu waktu ospek."

Cuwek. Tidak mau menjawab. Lebih memilih membaca buku daripada melihat muka Sasuke. Buku sumber ilmu, Sasuke sumber dosa!

"Nggak apa-apa kok, nggak dijawab. Asalkan kamu mau ngasih tahu aku siapa nama kamu." Aku merasakan senyum Sasuke melebar.

Merasa terganggu oleh ulah mahluk di depanku, aku mengumpulkan semua bukuku dan memasukannya ke dalam tas. Lalu bangkit dari kursi dan mengembalikan semua buku pinjamanku ke rak yang seharusnya. Dari sudut mata aku melihat Sasuke masih duduk di tempat yang tadi sambil memperhatikanku dengan seksama.

Setelah memastikan semua kembali pada tempatnya, aku segera kabur—keluar dari perpustakaan. Keberadaan Sasuke di sana membuatku risih dan malu. Apalagi mengingat kejadian kemarin dan mimpi semalam. Itu benar-benar ASDFGHJKL gila.

Aku berjalan menuju taman kampus dan memutuskan untuk menunggu Menma disana.

"SAKURA!"

Langkah kakiku terhenti ketika mendengar seseorang, dari belakang, berteriak memanggil namaku. Aku berbalik dan terkejut melihat Sasuke yang berdiri dengan jarak sekitar dua puluh metar dariku. Dia tampak menyeringai puas, seperti seorang mahasiswa yang baru saja mendapatkan bocoran jawaban ujian.

"Jadi namamu benar-benar Sakura?" dia berjalan menghampiriku masih dengan seringai sombong di wajahnya, "padahal aku hanya menebak. Ternyata kamu memiliki nama yang hampir sama dengan bunga yang warnanya mirip rambutmu."

"Apa maumu?" desisku sebal ketika dia sudah berada dua langkah di depanku. Perasaanku tak enak saat melihat beberapa mahasiswi lain memelototiku seakan siap untuk menggigiti kepalaku sampai putus. Menyeramkan.

"Kamu. Kencan. Denganku," ucapnya putus-putus pada setiap kata. Matanya memerangkap mata hijauku selama sepersekian detik.

"Nggak."

"Kenapa?" dia memiringkan kepalanya dan memasang tampang polos. Sial. Apa dia pikir aku akan tertarik kalau dia memasang ekspresi yang bikin mukanya jadi ganteng maksimal cem itu.

"Aku nggak tertarik sama cowok bejat," setelah menyemburkan kata-kata itu pada Sasuke, aku segera berbalik meninggalkannya.

"TAPI AKU TERTARIK BUAT KENCAN SAMA KAMU CANTIK! AKU TAHU KAMU PASTI MAUU~" suara teriakan Sasuke di belakang bikin aku ngibrit secepat kilat dari sana. Mana itu para mahasiswi kece nan bohay (mungkin fansnya Sasuke?) pada makin banyak yang melototin dan kayaknya siap buat ngulitin aku hidup-hidup.

.

.

"Men! Menma!" asik nungguin Menma selama sekian puluh menit, begitu batang idungnya nongol dia ternyata sedang dikejar perempuan cantik berambut merah.

"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Sara," ucap Menma tampak gusar ketika gadis yang dia panggil Sara itu memegang lengan dan berusaha menghentikan langkahnya.

"Tapi dengarin aku dulu. Please."

Berhenti berjalan, Menma menoleh pada Sara. Ekspresinya terlihat sangat kecewa dan terluka. Sekalipun aku tidak pernah melihat Menma seperti itu. Memutuskan untuk memberi mereka berdua privasi, aku masih tak bergerak di bangku panjang dekat bunga bonsai. Pertengkaran Menma dan Sara cukup menarik perhatian sebagian mahasiswa-mahasiswi yang ada di taman untuk menontonnya.

"Dengerin kamu? Hei Sara, aku udah sering ngedengerin kamu. Semua alasan dari kebohongan kamu yang bahkan nggak masuk akal, aku udah sering ngedengerinnya! Terlambat pulang dari kampus dan nggak mau aku antar, ternyata kamu lagi berduaan dan ngelakuin hal yang nggak senonoh sama cowok lain. Dan juga kamu pernah ngelarang aku pergi ke kosan kamu, dengan alasan kamu nggak ada disana, tapi ternyata kamu bohong. Kamu lupa aku mergokin kamu dalam keadaan setengah telanjang sama Sasuke disana?" katanya pahit.

Aish. Sasuke lagi. Sasuke lagi.

Sara terlihat malu mendengar perkataan Menma. Apalagi dengan keberadaan banyak orang yang menonton pertengkaran mereka di taman. Matanya menyalang marah memelototi adikku. Minta ditusuk pake garpu tuh mata.

"Atau apa aku perlu nyebutin semua kebohongan kamu yang lain, hah?" Menma berbalik. Dia mengeluarkan ponsel dari sakunya dan memencet beberapa tombol.

Dia menelponku!

Aku merasakan ponsel yang ku—silent dalam saku depan celana jeans-ku bergetar.

"AKU NGELAKUIN SEMUA ITU KARENA KAMU NGGAK PERNAH NUNJUKIN RASA CINTA KAMU KE AKU! KAMU NGGAK PERNAH SEKALIPUN NYENTUH AKU! DAN BAHKAN KAMU NGGAK PERNAH NYIUM AKU." Sara yang berteriak keras dengan wajah memerah marah membuatku tak jadi mengangkat telpon dari Menma. "Aku kesepian Menma. Aku kesepian. Aku punya pacar tapi berasa kayak nggak punya pacar. Kamu terlalu naïf dan nggak kayak Sasuke atau cowok-cowok lainnya."

Itu cewek nggak punya malu banget ngebahas begituan di depan umum.

Menma tertunduk dalam. Getaran pada ponselku berhenti. Aku melihatnya memasukan kembali ponsel ke dalam saku. Dia berbalik menatap Sara sedih, senyum sinis nan miris mengembang di bibirnya.

Aku tahu pasti kalau perasaan adikku sekarang sedang terluka. Kami semua anak-anak keluarga Haruno dan Uzumaki sejak kami beranjak remaja sudah ditanamkan dalam pikiran kami untuk tidak melakukan seks diluar nikah.

"Iya aku memang naïf. Aku nggak nyentuh kamu selama ini karena aku menghormati kamu sebagai seorang perempuan. Aku mau sentuhan intim pertama kita terjadi setelah kita resmi menjadi suami-istri," mata Sara membelalak mendengarnya, "aku ingin itu menjadi kado untukku di pernikahan kita nanti. Tapi …," dia menunjuk Sara putus asa dari atas sampai bawah, kemudian menggeleng, "rasanya percuma berbicara tentang kehormatan pada perempuan yang sama sekali tidak mau dihormati." Dia berbalik, kemudian berlalu pergi meninggalkan Sara. Tangisan perempuan itu meledak ketika Menma sudah menghilang dari hadapannya.

Aku segera berlari menyusul adikku.

.

.

Aku menemukan Menma tengah terduduk di atas motor matiknya. Dia menunduk dalam-dalam. Sedikit kulihat raut wajahnya tampak sangat kusut. Beberapa mahasiswa lain yang juga ada di tempat parkir tampak menghindari Menma, sepertinya mereka tahu bahwa sangat berbahaya jika berada disekitar Menma yang sedang kusut atau marah.

"Ma. Menma," panggilku menghampirinya.

Tubuh Menma tampak menegang, dia mendongak. "M-Mbak?" katanya sambil tersenyum kaku.

"Kamu nggak apa kan?"

Menma menggeleng. Dia mulai menstarter motor yang akan membawa kami pulang.

"Aku udah lihat semuanya di taman tadi," ucapku pelan.

Menma terdiam.

"Dia … mantan pacar kamu yang hamil itu?"

"Ayo kita pulang, Mbak," gumam Menma pelan tanpa sedikitpun menoleh ke arahku.

Menma tampaknya belum mau membicarakan hal ini. Dia butuh waktu. Aku paham itu. Mendesah aku kemudian naik dan duduk di sadel belakang motor Menma. Dan sekejap motor itu melesat menjauhi tempat parkir, keluar dari gerbang kampus, lalu memasuki jalanan besar.

.

.

Menma masih menjadi pendiam hingga malam tiba. Dan itu bukan hal yang menyenangkan. Mulutnya yang biasa ngebawelin aku kayak emak-emak entah kenapa jadi terasa ngangenin.

Karena di kulkas sudah tidak ada lauk, Menma mengajakku makan malam diluar. Dia membawaku ke sebuah warung makan yang menjual nasi goreng, bakwan, dan juga bakso. Kami berdua duduk berdampingan—di bangku panjang tanpa sandaran—dalam diam, sambil menunggu pesanan datang. Aku memesan bakso sementara Menma nasi goreng.

Saat sedang asik menunggu pesanan, tiba-tiba seseorang duduk di sampingku. Aku menoleh dan terkejut ketika tahu bahwa itu Sasuke. Apa yang dia lakukan disini?

"Bang, baksonya satu!" serunya pada Abang penjual yang (dibantu sang istri) sedang sibuk di balik station-nya.

"Siap Mas!" satu jempol si abang penjual teracung tinggi.

Sasuke menoleh ke arahku lalu melempar senyum ganteng. "Hai Sakura, ketemu lagi ya?"

Menma yang duduk di sebelah kananku mendadak bangkit, dia memberiku isyarat untuk bergeser kesamping. Aku menurut, kemudian dia duduk di tengah. Antara aku dan Sasuke.

Muka Sasuke yang tadinya melempar senyum ganteng langsung berubah masam. Dia cemberut memelototi Menma.

"Ngapain kamu duduk disitu? Bikin gedeg aja."

"Kami yang duluan duduk disini, mending kamu deh yang jauh-jauh," balas Menma judes.

"Memangnya kenapa? Aku kan cuma mau dekat sama dia," kata Sasuke sambil menggedikan dagunya ke arahku. Menyadari bahwa aku memperhatikannya, dia kemudian mengedipkan mata nakal.

Menma mengerang sebal. Pesananku dan Menma datang, dengan cepat Menma mengambil garpu dan menodongkannya ke arah Sasuke.

"Sekali lagi ngedip-ngedip gaje gitu ke dia, matamu kutusuk pake garpu," ancamnya. Aku melongo, sementara Sasuke mencibir.

Beberapa menit kemudian pesanan Sasuke datang. Kami bertiga makan dalam diam ditemani aura suram tak menyenangkan yang menguar dari tubuh kedua cowok tegap di sampingku. Huaaah. Kalau kayak gini aku jadi kangen sama Naruto, soalnya sepupuku itu paling tahu cara bikin suasana buruk jadi menyenangkan.

.

.

BERSAMBUNG

Note : Jumlah words chapter 3 = 2241.

Akhirnya bisa ngelanjutin cerita ini setelah idenya mentok cukup lama. Terimakasih untuk yang sudah membaca dan member saya semangat lewat review di chapter-chapter kemarin. Maaf saya tidak bisa membalasnya, karena aplikasi yang saya gunakan untuk mempublish dan mengetik fict memiliki kekurangan.

Salam hangat.