Naruto (c) Masashi Kishimoto
CINTA (c) Me
.
Sasuke Point of view
.
Suara dering ponsel membangunkanku dari tidur. Itu ponselku, dan seseorang sedang menelpon.
Sedikit linglung aku terbangun dari posisi berbaring. Suasana sekitar, kamar sederhana yang agak sempit, tempat tidur kecil dengan kasur yang lumayan nyaman, dipadu seprai pink bermotif beruang teddy, meja rias, serta berbagaimacam aksesoris perempuan. Aku langsung tahu kalau aku sedang tidak berada di kamarku. Ini kos-kosan cewek. Tapi … siapa ya?
Aku menoleh dan mendapati seorang wanita cantik berambut cokelat dengan tubuh sintal tampak terlelap di sampingku. Ah. Iya, dia Matsuri, mahasiswi baru anak akutansi. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa berakhir dengannya di atas tempat tidur semalam. Tapi yang aku ingat kemarin sore Matsuri menelpon dan memintaku untuk datang ke kosnya, dia bilang ada beberapa hal tentang materi kuliah yang tidak dimengerti dan dia ingin bertanya padaku.
Aku menghela napas berat. Dasar cewek modus. Tapi selama dua-duanya sama-sama enak, aku nggak keberatan.
Ponselku yang diletakan di atas nakas samping tempat tidur masih bordering, mendesah aku kemudian meraihnya.
"Neji?" aku mengernyit melihat ID nama sobatku yang tertera pada layar ponsel. Apa yang terjadi? Tidak biasanya Neji menggangguku sepagi ini. Aku lalu menekan tombol hijau untuk menjawabnya. "Ada apa, Bro? tumben kamu …" sumpah serapah yang keluar dari mulut Neji di seberang membuat dahiku berkerut bingung. Dia terdengar kalut. "Apa yang terjadi Neji?" tanyaku hati-hati.
"Hinata hilang." Apa? Adik Neji hilang? Hinata itu adik kembarnya Neji. "Dia mengelabui kami sekeluarga. Dia bilang, dia akan menginap di tempat Tenten, tapi ternyata dia malah pergi bersama anggota mapala sialan itu ke gunung Hokage untuk mendaki."
"Darimana kalian tahu kalau dia pergi ke gunung Hokage?"
"Barusan salah satu anak Mapala kampus kita menelpon ke rumah, dia memberitahu kalau Hinata dan salah satu temannya hilang di gunung Hokage," katanya tak sabar.
Oke itu gawat. "Baiklah. Lalu apa yang bisa kulakukan untuk membantumu?"
"Temani aku ke Desa Senju. Desa yang ada di kaki gunung Hokage."
"Hn."
"Kita bertemu disana."
Aku mendesah sambil memutus sambungan. Turun dari tempat tidur, aku hanya bisa meringis melihat pakaian yang semalam kami kenakan terlihat berantakan di lantai. Kaos, jins, celana dalam—aku berharap celana dalamku tidak hilang lagi! Aku bosan kalau tiap akhir pekan aku selalu kehabisan stok celana dalam. Mungkin beberapa pemilik toko pakaian dalam khusus laki-laki sudah bosan melihatku bolak-balik toko mereka. Hhh. Para perempuan itu, apa mereka tidak bisa memakai isinya saja tanpa mencuri bungkusnya?
Terimakasih Tuhan, celana dalamku masih ada.
Memungut celana dalam laki-laki berwarna hitam—yang tergeletak begitu saja di lantai—aku kemudian segera mengenakannya, disusul jins dan kaos.
"Sasuke mau kemana?"
Hn? Aku menoleh ke arah Matsuri ketika mendengar suara manisnya. "Pulang," jawabku seadanya sembari menyisir rambut dan merapikan pakaian.
"Tidak menginap lagi?" tawarnya sambil mengerling nakal, menarik selimut hingga memperlihatkan tubuhnya yang menggiurkan.
"Tidak. Terimakasih," setelah merasa cukup rapi aku segera beranjak keluar dari kamar Matsuri.
"Jangan lupa telpon aku," katanya saat aku membuka pintu kamarnya untuk keluar.
"Hn." Nggak janji, Say.
"EH SASUKE SEBELUM PERGI TUTUP DULU PINTUNYA!"
Aku terkekeh mengabaikan teriakan Matsuri. Bagaimana cara dia menutup pintu kamar kosnya dalam keadaan telanjang seperti itu? Apalagi suasananya sedang ramai seperti ini.
"SASUKE! KEMBALI DAN TUTUP PINTUNYA."
Lalalala~
"SASUKEEEEE! ASDFGHJKL #%%&*(_+!"
Aku tergelak mendengar sumpah-serapah yang keluar dari mulut perempuan berambut cokelat itu. Masa bodo, tutup saja sendiri.
.
.
Neji yang kalut itu menyebalkan. Dia bisa berubah menjadi cerewet dan tidak masuk akal saat sedang panik. Aku tidak tahu apa kegunaaan dan fungsiku sampai dia benar-benar ngotot agar aku juga ada di posko Gunung Hokage untuk menunggu khabar tentang hilangnya Hinata. Aku bertemu Hinata hanya beberapa kali, mungkin dua atau tiga kali, dia gadis yang manis dan pendiam. Sama sekali bukan tipeku.
Ponselku kembali bordering. Dan itu dari Neji.
Ya Tuhan dia bahkan lebih bawel daripada Karin.
"Halo~"
"Kamu dimana?" tuh kan.
"Dalam perjalanan, sepuluh menit lagi nyampe."
Setelah mendapat jawaban, dia kemudian memutuskan sambungan telpon secara sepihak. Dasar tidak sopan.
Setelah dari kos Matsuri tadi aku tidak langsung pulang untuk sarapan atau apalah. Neji menyuruhku untuk langsung pergi ke desa Senju. Dia begitu cerewet terus menelpon untuk bertanya, aku ada dimana? Owh Ya Tuhan, apa dia tidak menghitung, jarak tempuh yang dari pusat kota Konoha ke desa Senju membutuhkan waktu dua jam.
Aku tahu Neji begitu menyayangi kembarannya, tapi kenapa aku yang harus dibuat repot?
.
.
"Bagaimana?"
Setibanya di desa Senju, di Posko Gunung Hokage, aku melihat Neji sudah seperti cacing kepanasan. Berjalan mondar-mandir dengan wajah pucat, raut khawatir tertera jelas di wajah sok gantengnya yang biasa datar. Aku juga melihat Ayahnya sedang berbicara dengan pimpinan tim pencari, seorang juru kunci gunung, dan beberapa anggota Mapala.
"Mereka masih belum menemukannya. Kemungkinan dia tersesat di daerah sekitar puncak gunung. Sejak semalam mereka bahkan tidak sampai ke pos akhir."
"Hn." Aku tidak tahu aku harus menanggapi kekhawatiran Neji dengan kalimat seperti apa. Aku ini tipe orang yang egois. Aku tidak tahu bagaimana cara menghibur orang yang sedang sedih. Berterimakasihlah pada Papaku yang selalu pasang muka judes bin galak, tiap kali aku atau abangku bersedih. Aku belajar dari beliau.
"Mbak ada di Desa Senju, di posko Gunung Hokage."
Kepala merah muda yang familiar berdiri tak jauh dari tempatku dan Neji berbincang. Dia tampak sedang menelpon seseorang—berdiri sendiri dalam jarak jangkauan signal ponsel. Ah, sudah seminggu aku tidak melihatnya, sejak malam perang dingin antara aku dan Menma di warung makan. Dia tampak menggemaskan dengan celana panjang jins hiking berwarna biru, dan jaket kain putih. Rambut merah mudanya dikuncir tinggi.
Tapi apa yang dia lakukan disini?
"Iya, tadi pagi Mbak dapet telpon dari anak yang namanya Kiba, katanya sejak semalam Naruto hilang di Gunung Hokage sama seorang anggota mapala cewek."
Jadi yang hilang sama Hinata itu, si Berandalan Pirang Bodoh Naruto Uzumaki. Yah, semoga yang satu itu nggak ketemu deh. Kalau ketemu juga percuma, nggak ada gunanya tuh manusia.
"Gimana Mbak bisa nungguin kamu, kamu kan masih di Oto. Oh. Oke, langsung kesini? Memangnya turnamen karate yang kamu ikuti udah selesai. Ah, iya. Pake kereta? Sip Mbak nunggu. Jangan lupa telpon Tante Kushina sama Om Minato buat ngabarin keadaan Naruto. Hmm. Iya, hati-hati." mematikan sambungan telpon, Sakura kemudian memasukan ponselnya ke dalam saku jaket. Raut wajahnya terlihat sedih.
Jadi dia saudarinya Naruto? Kok nggak mirip ya? Yang ini muka sama body-nya manis, bawaannya pengen ngejilatin semua dari ujung kaki sampai muka. Sementara yang hilang itu bau amis kayak Menma. Cuih.
Seolah tahu bahwa dia sedang diperhatikan oleh sesosok mahluk ganteng, Sakura mendongak. Mata hijau cantiknya bersirobok dengan mata gelapku yang menawan.
Dia mengerjap bengong.
Aku mengedip nakal.
Dan seketika tampangnya langsung switch ke mode jutek. Hehehe.
Sambil melotot sebal dia kemudian beranjak menuju gerombolan anak Mapala yang berdiri depan posko, lalu mengobrol dengan salah satu cewek bercepol dua.
.
.
Semua sedang sibuk melakukan persiapan untuk pendakian mencari Hinata dan si Berandal pirang. Aku juga akan ikut untuk menemani Neji. Dan aku harap si merah muda Sakura itu juga akan ikut. Jangan tanya padaku nama belakangnya, aku sama sekali tidak tahu. Karena dia saudarinya Naruto, mungkin nama belakangnya Uzumaki? I don't know.
Berbagai imajinasi liar menari di kepalaku. Aku memiliki beberapa opsi panas dalam pikiranku jika Sakura juga ikut mendaki. Menariknya menjauh dari kelompok pendaki, kemudian menyetubuhinya habis-habisan di dalam hutan, sampai dia berteriak memanggil namaku ketika orgasme. Itu akan menyenangkan. Semoga saja dia mau diajak bermain di alam liar.
Sepertinya Sakura selalu sadar kalau aku sedang memperhatikannya, mendongak, dia yang sedang berbicara dengan senior Deidara, menatapku galak. "Apa liat-liat?!" tanyanya garang. Beberapa orang yang ada di sekitar kami terkejut, lalu mendengus geli.
Sementara aku cuma bisa mesem-mesem. Sialan nih cewek, malu-maluin aja.
"Kamu kesini buat bantuin aku nyari kembaranku. Bukannya ngecengin cewek."
Aku mendengus mendengar suara protes Neji di sampingku. Sialan, apa salahnya sih, sambil menyelam minum air?
.
.
BERSAMBUNG
Terimakasih banyak untuk : Forehead Poke, adora13, Kagura, alzenardsmr, o, Lhylia Kiryu, Kana, dan Noal Hoshino.
