Naruto © Masashi Kishimoto
CINTA © Me
.
.
Sasuke Uchiha
Sakura tidak ikut mendaki, dia lebih memilih untuk menunggu di posko bersama mapala perempuan lain. Mengecewakan sekali. Padahal aku sudah benar-benar mengharapkannya untuk mendaki bersama kami. Fantasiku tentang bermain dengan Sakura di alam liar tak tercapai. Sebenarnya aku bisa saja mengobati rasa frustrasi seksualku dengan menarik sembarang gadis, yang ikut dalam pendakian, ke belakang semak-semak untuk menuntaskan hasrat. Oh, ayolah. Jangan menatapku seperti itu! Siapa coba yang bisa menolak pesona seorang Uchiha Sasuke yang tampan ini?
Yah Cuma sayangnya ... Para gadis anggota Mapala tidak ada yang ikut mendaki untuk mencari Hinata dan si Berandal pirang bodoh! Yang ikut mendaki dalam rombongan pencari laki-laki semua! Masa iya aku harus menarik Neji atau senior Deidara ke semak-semak atau belakang pohon untuk menuntaskan hasrat? Maaf ya, aku normal, aku lebih doyan lubang daripada batang.
Aku tidak tahu berapa lama kami mendaki, matahari sudah tinggi dan kakiku rasanya sudah mau copot. Aku berjalan di barisan paling belakang bersama Neji, yang sejak tadi pagi mukanya kuyu beut. Aku sangat tidak berpengalaman dalam acara daki-mendaki gunung, kalau daki-mendaki gunung dua dalam hal mencapai kenikmatan duniawi akulah jagoannya. Hehe.
Saat sedang mendaki, tiba-tiba orang di barisan paling depan berteriak. "SUDAH KETEMU! SUDAH KETEMU!" hueh? Benarkah?
Neji buru-buru merangsek ke depan, sementara aku hanya mendengus di belakang. Mensyukuri diri karena merasa beruntung sudah makan nasi bungkus di posko tadi. Yah. Mudah-mudahan yang ketemu cuma Hinata saja, si Berandal pirang nggak usah ditemuin juga nggak apa-apa, batinku. Namun sepertinya Tuhan jarang mengabulkan do'a orang ganteng sepertiku, karena orang pertama yang kulihat berjalan ke barisan belakang adalah si Berandal pirang dengan senyum lebarnya yang memuakan.
Haaaah, kampret.
.
.
Aku senang mereka yang hilang ditemukan lebih awal—tapi bukan berarti aku senang untuk si Berandal Pirang, aku justru berdo'a semoga mahluk merepotkan itu hilang selamanya—karena dengan itu kami bisa turun gunung lebih cepat. Neji terus berucap syukur sambil merangkul adik perempuannya. Para anggota Mapala dan tim pencari tampak puas pada diri mereka sendiri. Sementara Naruto, well, dia terus tersenyum lebar seperti orang gila sambil menggaruk rambut kepalanya yang kusut. Demi Tuhan, dia menyebalkan. Aku masih dendam padanya karena tempo hari dia sudah membantu Menma mengeroyokku, setelah si Bodoh Menma tahu pacarnya hamil. Aku memang pernah tidur beberapa kali dengan Sara, tapi bukan berarti aku yang menghamilinya. Aku ingat aku selalu memakai pengaman ketika melakukan hubungan intim dengannya, atau wanita manapun. Sara itu bom seks, body-nya luar biasa bagus, dan dia cantik. Sayangnya dia bukan tipe perempuan yang bisa setia pada satu atau dua laki-laki saja.
Banyak orang yang berpikir kalau aku bukan tipe orang yang bisa serius dengan satu perempuan saja, mereka pikir aku playboy karena terlalu mengumbar pesona—Hei, Uchiha itu sejak bawaan lahir sudah mempeson, Man, jadi bukan salah kami kalau kami terlahir tampan atau rupawan—dan aku juga sering gonta ganti pacar, beberapa mantanku diantaranya, Shion, Hanare, Sari, dan … ummm, aku lupa sebagian. Alasan aku sering berganti pacar adalah perempuan itu pada awalnya selalu memakai tehnik jinak-jinak merpati, dan sok jual mahal. Berpura-pura sulit untuk didapatkan, lalu setelah dapat sebagian dari mereka dengan tak tahu malu malah bersikap terlalu posesif dan merongrong. Kuberitahu ya, kadang laki-laki tidak terlalu suka diikat, ataupun diminta agar menelpon dan mengirim pesan singkat pada pasangannya tiap waktu, hanya untuk bertanya 'Kamu dimana? Dengan siapa? Semalam berbuat apa?' ngik, mirip lagu wali yo. Tapi yeah kadang laki-laki tidak suka hal-hal seperti itu. Karena hubungan dengan intensitas yang amat sering itu membosankan. Percaya deh.
Kalau ditanya suatu saat aku ingin hubungan yang serius, aku mencari perempuan yang seperti apa. Jawabannya adalah aku ingin yang mandiri, tidak terlalu bergantung atau merongrong laki-laki mengenai sebuah hubungan, dan pokoknya aku mau yang cerdas.
Memejamkan mata, aku coba membayangkan perempuan mandiri yang akan kudapat, aku coba membayangkan beberapa wajah gadis-gadis di kampus U.K mungkin ada yang seperti itu. Dan gadis bermata hijau galak tiba-tiba muncul dalam bayanganku. Ah, Sakura, pacarnya Menma dan saudaranya Naruto. Dia manis dan seksi. Tapi sayang dia galak dan judes, aku tidak punya kesempatan untuk mendekatinya. Dan juga dia pacarnya Menma.
Tapi kalau aku menggoda Sakura dan menikung Menma boleh kan? Selama masih belum ada janur kuning melengkung siapapun bebas untuk mengambil.
Sibuk dengan monolog batinku sendiri, aku tidak menyadari kalau hari telah gelap, dan kami sudah turun dari Gunung Hokage dan sudah sampai di posko satu. Ayah, Ibu, dan kerabat Neji yang lain langsung menyambut, memeluk Hinata suka cita. Begitupula teman-temannya. Sementara Naruto … dia langsung mendapatkan pelukan hangat dari Sakura yang tampak terharu, sorot mata galaknya yang biasa berganti lembut, basah, dan penuh kebahagiaan. Ugh. Aku iri pada Naruto.
Ngomong-ngomong Sakura yang menangis seperti itu tampak cantik. Kalau diperhatikan lagi Sakura memiliki hidung mungil runcing mirip Zoey Deucth dan dagu seperti Liz Taylor waktu muda. Dia menggemaskan. Aku membuat catatan mental untuk mendapatkan dia telanjang di atas tempat tidur. Mau dia pacar Menma atau bukan aku tidak peduli.
Sesaat aku bertemu pandang dengan Sakura. Dia tampak tertegun melihatku. Detik berikutnya, wajah manis Sakura yang melongo berganti dengan wajah memuakan Menma yang melotot galak padaku. Ugh. Dia tiba-tiba berdiri di depanku, menghalangi pandanganku ke Sakura. kenapa dia bisa ada disini sih?
"Apa liat-liat? Naksir?" tanyanya nyolot.
Kampret.
Aku balas melotot. Untuk urusan pelotot-pelototan Uchiha jagonya. "Bah. Siapa juga yang ngeliatin kambing burik macam kamu. Aku masih normal." Melengos pergi sebelum kepala Menma berubah besar dan meledak karena terlalu percaya diri.
Liat aja, kemarin aku nyabet Sara dari kamu, sekarang Sakura yang bakal kuambil, aku membatin sambil beranjak menuju mobil. Berpamitan pada Neji dan teman-teman lain untuk pulang. Sambil menyusun rencana di otak untuk menggaet Sakura.
Ngomong-ngomong dia dari fakultas mana?
.
.
Mereka bilang aku yang tak tahu malu karena suka berhubungan intim di sembarang tempat, tapi asal kalian tahu kadang terlalu agresif dan mengajakku 'main' di sembarang tempat. Contohnya sekarang, pagi ini aku mendapat kesulitan karena tidak bisa menghindari Pakura. Gadis menawan dari Farmasi ini menyeretku ke semak-semak untuk bercumbu, walau aku sudah coba menolak karena sebentar lagi aku akan mengikuti ujian di kelasnya Pak Orochimaru, tapi dia memaksa.
"Hmmmph."
Oh Tuhan. Ciumannya memabukan, belum lagi lekuk tubuh indahnya yang terasa menggelitik tangan.
"Nanti."
"Hm?'
Aku berusaha menghindari ciumannya. Bukan berarti aku tidak mau. Hanya saja waktunya tidak tepat, aku harus ujian!
"Nanti. Aku ada ujian sebentar lagi, setelah ujianku selesai aku akan menghubungimu," kataku.
"Janji?" dia menatapku dengan mata cantik yang berbinar.
"Hn." Aku mengangguk.
Setelah mendapatkan kepastian dariku, Bunga fakultas Farmasi itu segera mencium bibirku singkat, kemudian bangkit membenahi tanktop dan rok mininya, lalu pergi dari sana.
Aku mendesah. Bangkit dari posisi berbaringku, karena tindihan pakura tadi, aku membersihkan rumput yang menempel di baju dan celana jinsku, setelah itu aku keluar dari semak.
"Bah. Dia lagi."
Suara cibiran seorang gadis membuatku mendongak, dan mata gelapku lagi-lagi bersirobok dengan mata hijau galak seorang Sakura. Ah, kenapa aku selalu membuat kesan yang tidak bagus di matanya ya?
.
.
BERSAMBUNG
Terimakasih banyak : Suzuki michiyo, supercalifragilisticexpilaido, Lhylia Kiryu, Hitsugaya55, dewazz, Horyzza, kana, Forehead Poke, dan namina88.
Note : Maaf ya, untuk permintaan dipanjangin saya masih belum bisa. Lagi menikmati feel nulis pendek perchap *efekbacaTheGirlsOfRiyadh* piss hehe.
