Naruto © Masashi Kishimoto

CINTA © Me

.

.

SAKURA

Naruto itu sableng. Minggu lalu setelah bikin aku, Menma, sama keluarga yang lain sport jantung gara-gara dia hilang di gunung Hokage, eh, sekarang dia sama anak-anak organisasi pecinta alam yang lain punya planning buat mendaki gunung Ichibi, gunung tertinggi di Sunagakure, dan termasuk gunung nomer dua paling tinggi di Negara HI.

Di kantin, sambil nyemil kripik singkong, Naruto membeberkan semua rencana pendakiannya padaku dan Menma.

"Ichibi tracknya lebih sulit daripada Senju, banyak bukit terjal dan udara disana dingin banget. Tapi pemandangan disana katanya amazing, eksotis dan cantik."

Aku dan Menma saling melirik. Melarang Naruto juga percuma, ini anak titisannya Tarzan, doyannya maen di gunung ama hutan belantara.

"Trus kapan kalian berangkat?" tanya Menma sambil menyingkirkan bungkusan kripik singkongnya dari serangan tangan Naruto yang siap mengembat.

"Dua bulan lagi," jawab Naruto kalem. Tak berhasil mendapatkan kripik singkong dari Menma, mie ayamku pun jadi korban. Ditariknya mangkuk mie ayamku ke depannya lalu dilahap.

"Woi beli ndiri napa?" protesku dianggap angin lalu.

"Tapi tiap weekend sebelum ke Ichibi, aku sama anak-anak lain punya rencana buat latihan marathon, naik beberapa gunung yang ada di wilayah Konoha. Jadi aku nggak bisa selalu ada di rumah dan ngawal Mbak Sakura di jadwal kuliah hari minggunya." Dia menatapku penuh penyesalan, dengan mulut aktif memakan ceker ayam dari mie ayamku. Aku cemberut.

"Hmmm." Menma mengangguk-angguk mendengar penjelasan Naruto. "Nggak apa-apa, masih ada aku."

"Trims."

Aku merebut kembali mangkuk mie ayamku. Mataku melotot saat isinya hanya tinggal kuah. Dasar Naruto nyebelin!

"Tapi jangan kasih tahu Papa sama Mama ya kalau aku masih naik gunung," pintanya sambil meringis masam. Sejak kejadian Naruto hilang di gunung, Tante Kushina sama Om Minato melarang keras anaknya untuk aktif dalam kegiatan naik-naik ke puncak gunung.

"Oke."

Aku membeli kembali beberapa cemilan untuk dimakan bersama Menma dan Naruto. Kami bertiga sama-sama sudah tidak ada jam kuliah lagi. Menma cuma satu jam tadi pagi, sementara Naruto datang ke kampus hanya untuk mengikuti rapat organisasinya, dan aku? Aku sama kayak Naruto nggak ada jam kuliah, daripada dikunciin kayak narapidana di rumah, mending datang ke kampus buat nyari angin sekaligus nebeng baca di perpus. Walau tadipagi waktu mau ke perpus, sempat melihat pemandangan yang tidak mengenakan mata. Adegan 'semak'nya Sasuke sama salah satu ceweknya. Oke, untuk hal itu mohon jangan diingat lagi.

Kami bertiga masih mengobrol santai ketika seorang gadis pirang cantik pake banget, kayak boneka Barbie tuh cewek, datang menghampiri tempat duduk kami. Dia melirik sekeliling dengan cemas. Menatapku, kemudian bolak-balik menatap wajah Menma dan Naruto bergantian.

"N-Naruto?" Naruto menoleh. Sebelah alisnya terangkat tinggi melihat si Barbie pirang itu. Dia seperti tidak mengenalinya.

"Ada apa, Ino?" tanya Menma kalem. Keningnya berkerut. "Dia teman satu kelasku di fakultas sejarah," jalas adikku ketika Naruto meliriknya dengan pandangan ; Kamu kenal nih cewek?

Ino menatap Menma putus asa, lalu memandang Naruto was-was.

"Iya ada apa ya?" Naruto bertanya sopan, sembari memutar duduknya menghadap Ino.

Terdiam sejenak, Ino menarik napas keras, lalu menatap Naruto dengan percaya diri.

"Tolong jangan diambil hati. Aku melakukan ini karena kalah taruhan."

EH? Kami bertiga saling pandang dengan ekspresi bingung. Dan yang terjadi berikutnya benar-benar membuatku hampir melompat berdiri dari kursi dan Menma mungkin akan terjungkal. Cewek Barbie cantik itu tiba-tiba menunduk dan … mencium Naruto tepat di bibir? MENCIUM NARUTO TEPAT DI BIBIR SODARA-SODARA! Suasana kantin mendadak hening. Aku bisa memastikan semua orang yang ada disana sedang menonton live show antara Naruto dengan si cewek Barbie. Dan itu pake acara kulum-kuluman bibir! Lidah yang menjulur, dan … WOI SIAPA YANG MATIIN LAMPU!

Aku tidak bisa melihat kelanjutan adegan ciuman itu karena tiba-tiba Menma menutup mataku dengan telapak tangan besarnya.

"Bukan tontonan yang baik untuk anak kecil," katanya masih tercengang.

"Yeee. Aku ini kakakmu tahu!" sewotku sambil berusaha membuka bekapan Menma pada wajahku, namun sia-sia. Dia baru membuka mataku setelah Naruto dan Ino berhenti berciuman. Mereka saling bertatapan selama beberapa detik, kayak di film-film romantis Hollywood, muka Ino berubah merah padam. Lalu dia berucap, "Maafkan aku. Tolong jangan diambil hati, aku menciummu karena aku kalah taruhan," katanya jujur. Kemudian dia berlari terbirit-birit meninggalkan kami yang bengong.

"Tadi itu …" Menma yang pertama pulih dari rasa kaget.

"Nar?"

Perlahan sebuah senyum geli mengembang di bibir Naruto. Dia lalu bangkit dan hendak mengejar Ino, tapi baru sepuluh langkah dia langsung berhenti. Melepas ransel, dia kemudian melemparnya ke arahku dan Menma.

"Titip Ma!" katanya sembari berlari menyusul cewek yang sudah mengambil keperjakaan bibirnya. Tapi apa iya bibir Naruto masih perjaka? Si Naruto titip ranselnya sama Menma tapi malah kepalaku yang jadi korban. Menma gagal menangkap karena lemparan Naruto melenceng.

"Dasar adik sepupu durhaka!" makiku kesal.

Menma dan beberapa orang yang melihat hal itu tertawa geli.

.

.

Aku dan Menma baru saja akan beranjak pulang, ketika seorang dosen perempuan rambut pirang dengan ukuran dada yang wow menghentikan langkah kami dan menyuruh Menma untuk segera pergi ke ruangannya. Katanya ada yang perlu dibahas. Dengan dingin dan penuh wibawa dia melangkah meninggalkan kami.

Menma tampak kebingungan.

"Mbak kembali aja lagi ke perpustakaan. Nanti aku jemput lagi disana," katanya.

Cemberut, aku hanya bisa mengangguk—mengiyakan.

Namun baru saja aku berbalik untuk pergi ke gedung perpustakaan, tiba-tiba Menma menahan. "Tunggu dulu Mbak," ucapnya lega sambil menatap lurus pada sesuatu atau mungkin seseorang di belakangku. "Kariiin!" panggilnya sambil melambaikan tangan.

Aku menoleh dan melihat si rambut merah berkacamata, yang waktu itu pernah datang ke rumah bersama Sasuke, berhenti beberapa meter dari jarak tempat kami berdiri dan membalas lambaian Menma.

Menma berlari kecil menghampiri Karin, mereka berbicara sebentar sambil sesekali melirik ke arahku. Entah apa yang dikatakan Menma, tapi sekilas kulihat Karin tampak terkejut. Setelah itu mereka berjalan ke arahku.

"Mbak, ini Karin. Teman sekelasku yang waktu itu datang ke rumah. Masih ingat kan?" Menma memperkenalkan kami. Aku mengangguk, dan ekspresi Karin nampaknya tidak sesinis kemarin-kemarin, dia terlihat lebih ramah. "Dan Karin, ini kakakku Sakura. Dia ngambil program pasca sarjana, fakultas sospol di kampus ini."

Kami berjabat tangan canggung, sambil menyebutkan nama masing-masing dengan senyum kikuk.

"Oh ya. Rin. Aku dipanggil Bu Tsunade ke ruangannya, katanya ada yang mau dibahas," kecemasan yang nyata terlihat di wajah Karin ketika Menma memberitahu hal itu, "mungkin dia masih ragu buat ngelulusin aku di ujian mata kuliahnya kemarin," ucapnya cemberut. Menma dan Bu Tsunade kelihatannya tidak memiliki hubungan yang bagus. "Nitip Mbak Sakura ya, temenin dia," pinta Menma.

Karin terlihat ragu. "Tapi aku mau pulang ke kos." Dia terdiam sejenak, "Gimana kalau Mbak Sakura ikut ke kosanku. Kamu bisa jemput dari sana. kamu tahu kan tempat kos Mandasari yang dekat kampus?"

Menma mengangguk. "Oke," katanya senang, "titip kakakku ya. Jaga dia baik-baik. Awas jangan sampai lecet, dan jauhin dia dari jangkauan si buaya jahanam, sepupu tengilmu itu."

Karin tertawa mendengar ucapan Menma. "Oke Bos. Siiip." Dia mengacungkan dua jempol tinggi-tinggi. "Yuk Mbak."

.

.

Karin itu anaknya asik. Enak diajak ngobrol dan bercanda. Walau penampilannya fashionable, dan kelihatan doyan dandan, tapi nih anak otaknya cerdas. Di kamar kosnya selain ada pernak-pernik cewek dan juga poster-poster bintang film dunia yang kece nan ganteng, ada rak khusus tempat penyimpanan diktat-diktat kuliah dan juga buku-buku tebal. Semuanya tentang pelajaran, dan nggak ada satupun novel, majalah, ataupun bacaan-bacaan lain yang menghibur.

Kami baru mengobrol selama sekitar tujuh menit, ketika teman kos Karin yang di kamar sebelah memanggilnya. Dia pamitan, katanya hanya sebentar, lalu keluar setelah menutup pintu kamar.

Ngekos disini kayaknya aman banget, karena tadi aku ngeliat Karin langsung ngebuka pintu kamar kosnya. Dia nggak ngunci pintu. Nggak takut kehilangan sesuatu.

Selama beberapa saat sendirian di kamar, kalau ada suara air yang terdengar dari kamar mandi yang ada di kamar kos Karin. (Tempat kos Karin merupakan tempat kos khusus putri, berbentuk seperti rumah biasa, dengan setiap kamar kos terdiri dari kamar kos dan juga kamar mandi). Apa Karin punya teman sekamar?

Mendesah, aku duduk di tepi tempat tidur sembari menikmati suasana kamar kos Karin yang nyaman.

Suara air di kamar mandi kemudian berhenti. Dua menit kemudian pintu terbuka, dan … ANJRITTTTT! Sesosok mahluk yang dinamakan laki-laki keluar dari sana. Bertelanjang dada, dan hanya mengenakan handuk pendek bermotif Scooby doo untuk menutupi bagian bawahnya, kulitnya putih, rambutnya hitam-basah-dan berkilau, porsi badannya kayak bintang iklan L-Men.

Darah langsung surut dari wajahku. Cowok itu sibuk mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil pendek berwarna putih, dan tidak menyadari keberadaanku. Atau mungkin dia menyadari, tapi dia mengira kalau aku si empunya kamar?

Ototnya. Aduh ototnya … ototnya bikin mataku ternoda, dan otakku yang suci jadi berpikiran khilaf. Mendadak badanku jadi gemetaran.

"Sorry Rin, aku pinjam kamar mandimu. Abis ini aku mau langsung ke kampus dan …" dia berbalik. Mata gelapnya tampak melebar melihatku. Oh, aku kenal cowok ini.

"Kamu …?" dia menghampiri dan berhenti tepat di depanku.

SASUKE!

Tak sanggup menerima pemandangan otot-otot penuh dosa di depan mataku. Aku kemudian pingsan setelah menjerit kencang satu kali.

.

.

Normal POV

"Jangan macam-macam!" Uchiha Karin memperingatkan sambil memelototi sepupunya.

"Aku udah ngincer dia selama sebulan Rin. Dan kamu malah nggak ngasih tahu kalau kamu kenal sama Sakura."

Karin mendengus. "Dia kakaknya Menma, Sas. Kami udah mulai dekat, dan tolong jangan kacauin hubungan aku sama dia dengan kamu 'ngerusak' kakaknya."

Sasuke cemberut. Melalui celah pintu, dia mengintip gadis merah muda yang terbaring pingsan di atas tempat tidur Karin.

"Jadi dia kakaknya Menma?"

"Iya!"

"Aku nggak bakal ngerusak Sakura kok. Aku cuma mau jadiin dia …," Sasuke terdiam sejenak, tampak berpikir, "pacar."

"Oh ya!" Karin menjawab sinis. "Jadi semua perempuan yang mampir di atas tempat tidur kamu itu namanya pacar? Berapa banyak jumlah pacar kamu minggu ini, Sasuke?"

"Oh. Ayolah Rin. Jangan merusak kesenanganku," rajuk Sasuke.

"Sekali nggak boleh, tetap nggak boleh. Pergi sana!" Karin menutup pintu kamar kosnya di depan hidung Sasuke,

.

.

BERSAMBUNG.

Note # Sementara saya hiatus dulu. Kegiatan pendidikan di dunia nyata sedang sangat menyita waktu dan menguras otak, jadi nggak bisa sering-sering apdet dan publish cerita kayak kemarin-kemarin. Tapi sekali-kali akan saya usahakan untuk mengapdet cerita multychapter saya satu-persatu.

Terimakasih untuk semua yang sudah membaca, mereview, mem-fave, dan mem-follow fict ini (dan juga semua fic saya yang lain) banyak maaf kalau saya jarang balas review. Tapi review kalian semua tetap saya baca dan jadi penyemangat saya.

Untuk hubungan SasuSaku di cerita ini yang terlambat berkembang, yaaah, saya minta maaf. Semua butuh proses. Nggak semua orang bisa mengalami cinta kilat pada pandang pertama dan setelah itu jadian. Saya benar-benar menikmati menulis cerita CINTA ini, mau panjang ataupun pendek. Saya menikmati bagaimana hubungan Menma-Saku-Naru, pergaulan dan kehidupan Sasuke, dan juga perkembangan hubungan SasuSaku.

Salam hangat.