Naruto © Masashi Kishimoto
CINTA © Me
.
.
SASUKE
"Iya. Iya aku nggak akan pergi!" Neji kembali bertengkar dengan adik manisnya, Hinata, setelah gadis itu menyampaikan keinginannya untuk ikut anggota Mapala lainnya naik gunung. Gadis itu berkata bahwa dua bulan lagi dia dan teman-temannya akan pergi ke gunung Ichibi di Sunagakure, kontan saja Neji langsung meledak marah.
Ini cewek baru aja minggu lalu hilang di gunung, masih aja mau naik gunung. Capek deh. Tapi aku kagum sama staminanya—dan juga cewek-cewek pecinta alam yang lain—dibutuhkan fisik dan stamina yang oke untuk mendaki sebuah gunung, selain factor jarak, factor bukit-bukit terjalnya juga menguras banyak tenaga. Kalau nggak rajin olah raga dan ngelatih fisik, bisa mati kecape'an.
"Jangan pikir karena kamu udah ngomong gitu, aku bakal ngelonggarin pengawasan terhadap kamu," kata Neji datar. Suaranya terdengar mengancam.
Hinata mendesah, walau tidak diperlihatkan, aku tahu dia sangat senewen dengan sikap Neji yang over protektif—bisa dibilang juga sangat sister kompleks padanya. Tak menjawab, Hinata segera berbalik, pergi menaiki tangga yang terhubung ke lantai dua.
"Dasar. Anak itu." Setelah adiknya pergi ke kamar, Neji menghenyakan bokongnya pada sebuah sofa panjang berwarna putih, bersebrangan dengan sofa tempatku duduk. Sekarang aku sedang berada di ruang tamu kediaman keluarga Hyuuga. "Dia lebih sulit daripada Hinata," curhat Neji.
"Hmm," responku seadanya.
"Oh ya, ngomong-ngomong kenapa kamu datang kemari? Tumben."
Aku mengerang menghempaskan punggung ke sandaran sofa. Agak memalukan mengatakan aku datang kemari untuk meminta bantuan dan saran Neji soal perempuan yang ingin kudekati. Biasanya aku selalu sukses mendapatkan perempuan manapun yang kumau. Suka? Tinggal diajak jalan. Bosan, ya abaikan saja. Gampang kan? Cuma untuk urusan yang satu ini agak ribet, nggak bisa pake taktiknya Napoleon buat ngedeketin dia. Salah-salah serangan dadakan (yang katanya menjadi kunci kemenangan Napoleon dalam setiap perangnya) bisa menjadi harakiri untukku.
Sakura manis, sangat manis malah. Terutama saat dia pingsan di kamar kos Karin kemarin siang. Ah. Hampir saja aku ngapa-ngapain tuh anak orang kalau saja Karin nggak keburu masuk dan dengan garang mukul bokong berhandukku pake sapu. Memang sialan banget tuh sepupu, ngerusak kesenangan orang aja.
Sakura emang nggak pernah welcome sama aku. Yeah selain karena dia kakak kandung Menma (yang otomatis tuh Setan kagak bakalan ngebiarin aku ngedekatin Sakura, setelah apa yang terjadi diantara kami. Ya, mengenai masalah … nnnn, nama si rambut merah mantan pacar tuh Setan siapa ya?) Sakura juga pernah mergokin aku waktu 'uhh-ahh' sama … yah, someone yang namanya aku lupa juga.
"KAMU GILA?!"
Aku memutar mata melihat respon histeris Neji setelah aku menceritakan mengenai masalahku. Hei Bung, dimana pride-mu sebagai seorang Hyuuga?
"Nggak. Aku masih waras," jawabku kalem.
"Cewek itu kakaknya Menma, Sas."
"Memangnya kenapa kalau dia kakaknya Menma?"
Neji mendesis sebal. Dia menyipitkan mata ke arahku.
"Ada banyak hal yang yang bikin kamu nggak bisa ngincer dia. Yang pertama, kayaknya dia udah tahu kalau kamu buaya," sialan! "yang kedua, Menma pasti nggak bakalan ngebiarin kakak perempuannya dekat sama kamu. kamu juga mau dipukul lagi sama tuh anak? Aku tahu kamu bisa ilmu bela diri, tapi Menma jauh lebih jago daripada kamu, dia juara karate tingkat nasional, Sas. Dan yang terakhir, kamu nggak kasihan sama Karin? Dia udah lama ngejar Menma, dan mereka bahkan belum memulai apa-apa kamu udah ngerusak hubungan mereka dengan cara tidur sama Sara, dan bahkan sekarang kamu ngincer kakaknya Menma."
"Udah selesai ngomongnya?" tanyaku dengan gaya bicara sok sabar.
"Hn."
"Sakura kakaknya Menma ini bikin aku penasaran. Banyak tantangan dan kayaknya menyenangkan. Selain itu dia menarik, dari segi kepribadian, walaupun udah dewasa tapi aku lihat dia masih polos dan kekanakan. Khas gadis desa yang baru pertama kali ke kota. Kalau aku bisa ngedapatin dia di atas tempat tidur, kayaknya itu bisa jadi sebuah kemenangan yang memuaskan hati."
"Kamu bener-bener biadab. Jadi kamu mau ngerusak perempuan polos demi ego kamu?" walau kata-kata Neji kedengaran kejam, aku tahu dia nggak marah sama aku. Dia Cuma … yaahh, sebal gitu.
"Ayolah Ji, kamu tahu aku kan?"
Neji mendesah pasrah. "Hn. Apa yang bisa kubantu?"
Aku tersenyum mendengar nada 'terserah-apa-mau-lo' yang keluar dari mulutnya.
"Kamu kan jago untuk urusan mencaritahu sesuatu. Aku ingin kamu mencari tahu semua hal tentang Sakura. Nama lengkap, hal yang dia sukai, hobinya, dan semua hal tentang dia."
Sebelah alis Neji terangkat tinggi. "Yeah, terus?"
"Aku mau pake semua informasi itu buat dakatin dia."
Terdiam sejenak, Neji kemudian mengangkat bahu. "Ooke. Aku usahain."
"Trims."
"Semoga kamu selalu berada dalam lindungan Yang Maha Esa," katanya kemudian.
Heh, apa maksudnya itu?
.
.
"SASUKEEEEE!"
Anjrittt. Tuh cewek mana yang pagi-pagi udah berisik neriakin namaku dari gerbang kampus. Oke, ini emang bukan masih pagi, melainkan udah masuk ke siang karena jarum pendek di jam tanganku menunjukan pukul sepuluh liwat. Mood-ku sedang buruk untuk memulai hari. Aku kurang tidur, semalaman aku ngebantuin Neji (lagi!) buat nyari-nyari Hinata yang kabur dari Rumahnya. Demi Tuhan, tuh anak emang manis, lemah-lembut, dan kelihatannya sangat sempurna, tapi sumpah tuh cewek ngerepotin banget. Dua kali dia hilang, dua kali aku dipaksa sama abangnya buat nemenin nyeri tuh cewek. Pertengkarannya dengan Neji kemarin, adalah salah satu alasan yang bikin Hinata nekat kabur dari rumah. Kayaknya dia pingin banget ngikutin kegiatan pendakian ke Suna dua bulan lagi. Aku sama Neji berhasil nemuin Hinata di rumah salah satu temannya, Tenten. Dia berhasil kami seret paksa untuk pulang.
Dan usut punya usut, ternyata Hinata betah maen di organisasi orang gunung itu karena dia naksir berat sama Naruto, cuma tuh berandal pirang bego masih nggak nyadar sama perasaan Hinata. Aku dapat informasi ini dari Tenten, dan aku masih belum ngasih tahu Neji. Soalnya kalau dia tahu ntar makin gaswat. Bukannya dapat informasi tentang Sakura, ntar malah Neji emosi dan ngelabrak Naruto, dan ujung-ujungnya Hinata bakal ngambek terus kabur lagi dari rumah. Masih mending kalau Hinata kabur yang nyariin Cuma si Neji sama keluarga mereka doang. Ntar aku malah disuruh ikutan nyari lagi, itu yang aku ogah. Nggak bermaksud jadi sahabat yang nggak setia kawan, hanya saja ngebantu nyari cewek hilang tiap minggu itu ngebosanin. Mending kalau ceweknya bisa dipacarin dan diajak ke tempat tidur. Lha ini adik teman sendiri, nggak boleh itu.
"SASUKE TUNGGU SEBENTARR!"
Itu siapa sih? Berisik!
Berhenti, aku menoleh, sebelah alisku terangkat tinggi melihat seorang gadis manis bertubuh mungil—kecil nan bantet—berlari ke arahku. Dia kelihatan imut-imut kayak marmot. Aku kenal dia, tapi aku lupa siapa namanya.
"Ya?"
"Ini dari Pak Orochimaru. Daftar kegiatan fakultas kita saat melakukan riset ke Kirigakure minggu depan," katanya manis.
Oh, ya aku hampir lupa. Fakultas kami akan mengadakan riset di daerah yang terkenal sebagai pusat industri ekonominya Negara Hi. "Oke. Trims," ucapku datar sambil menerima sodoran kertas dari si manis-imut itu. "Ngomong-ngomong …," aku memiringkan kepala ke satu sisi untuk mengamati gadis di depanku. "Kamu siapa?"
Mata cokelat itu sontak membulat mendengar pertanyaanku. "AKU MAKI, BODOH! MAKIIII! TEMAN SEKELASMU YANG PERNAH KAU AJAK BERKENCAN DUA BULAN YANG LALU!" dia berteriak murka di depan mukaku.
Oh.
Setelah itu Maki menghentakan kaki emosi, lalu pergi dari hadapanku. Samar aku mendengar suara gerutuannya.
"Seharusnya aku tidak berharap dia bisa mengenaliku. Orang brengsek seperti dia mana bisa ingat sama perempuan yang pernah dikencani."
Aku meringis. Maaf deh Maki, soalnya aku nggak bisa ingat semua nama atau muka cewek-cewek yang pernah aku ajak jalan. Soalnya kebanyakan sih.
.
.
Awalnya aku pikir akan menemukan Sakura di perpustakaan seperti biasanya. Namun saat aku berjalan menuju perpustakaan yang ada di sebelah utara gedung rektorat, aku melihat dia tengah berdiri di bawah sebuah pohon beringin di depan gedung aula yang biasa dipake anak-anak fakultas seni untuk menari dan berteater ria. Mata hijau Sakura tampak berbinar ceria menonton pertunjukan teater yang saat itu dipentaskan. Dan disebelahnya ada … Karin? Mereka berdua tampak berbincang akrab. Saling berbisik lalu cekikikan, sementara mata mereka tampak fokus menonton pertunjukan.
Sejak kapan Karin akrab sama kakaknya Menma, dan kenapa dia nggak ngasih tahu aku?
Menarik napas panjang, aku kemudian berjalan santai menghampiri mereka. Lalu berhenti tepat di belakang Sakura. Kelihatannya kedua cewek ini belum menyadari kehadiranku.
Aku membungkuk agar wajahku sejajar dengan telinga Sakura, lalu berbisik, "Daripada nonton teater kayak gini, mending kita nonton di bioskop."
Tubuh Sakura tampak menegang mendengar suaraku, dia menoleh, mata hijaunya melebar kikuk saat melihat wajahku. Demi Tuhan, dia terlihat begitu menggemaskan ketika rona merah menjalari pipi putihnya.
"K-kamu …" dia merapatkan tubuh pada Karin seperti hendak meminta perlindungan. Sejak kejadian pingsan di kamar Karin kemarin, sepertinya Sakura sudah nggak terlalu galak lagi, dia berubah menjadi menggemaskan dan tampak salah tingkah saat melihatku. Ah, kalau tahu dia bisa berubah jadi 'jinak' setelah ngeliat aku telanjang dada, dari dulu-dulu aku pasti bakal nyeret dia ke kamar terus telanjang bulat di depannya. Khukhukhu.
Karin menoleh, dia mendengus sebal saat melihatku. Mata ruby-nya melotot garang. Dia memberiku tatapan 'Jangan-macam-macam-dengan-Sakura-atau-aku-akan-mengebirimu'.
"Jangan buat aku marah, Sasuke," katanya tajam.
Aku mendesah sok dramatis. "Ya ampun Karin, aku nggak mau buat kamu marah. Aku Cuma mau ngajak temanmu yang cantik ini nonton ke Bioskop."
Sakura makin menyembunyikan dirinya di belakang Karin. Oh, ayolah Sayang. Aku nggak gigit kok. Suwer deh. Karin kelihatannya nggak mau bekerja sama. Mungkin dia takut Menma akan menjauhinya kalau dia membiarkan Sakura bersamaku.
"Pergi Sasuke, jangan ganggu kami." Dia masih melotot. aku mengabaikannya, mataku terlalu fokus menatap wajah manis perempuan yang berdiri di belakang Karin.
"Ooke," ucapku singkat.
Sakura mengangkat kepala mendengar jawabanku, mata kami kembali bertemu. Aku tersenyum dan berkedip padanya. "Sampai jumpa, Cantik. Mungkin kita nontonnya lain kali saja."
Sakura cemberut. "Tidak akan," ketusnya pelan.
.
.
BERSAMBUNG
TERIMAKASIH BANYAK : kura cakun. asahinauchiharu, Zezorena, adora13, Hitsugaya55, EmikoRyuuzaki-chan, kana, Miko Yuuki, dan Hikarihikari29.
