Disclaimer : Masashi Kishimoto
"Bagaimana?"
Di depanku dan Menma, Naruto bertolak pinggang sambil memasang senyum bangga. Memamerkan mobil barunya pada kami, sebuah jeep CJ7 berwarna putih. Yeah, bukan mobil baru sih, hanya sebuah mobil bekas yang dibeli Naruto dari salah satu kenalannya. Tapi mobil jeep itu masih terlihat bagus, layak jalan, dan mengagumkan. Cocok untuk Naruto yang suka olah raga ekstrem.
"Bagus," pujiku. Mengangguk sambil memasang ekspresi menilai.
Senyuman Naruto berubah jadi cengiran lebar.
Menma memajukan bibir bawahnya. Tampangnya serius seperti sedang berpikir. "Iya bagus," katanya malas, "tapi kan kamu udah punya motor Nar, masa harus beli mobil? Boros tahu!" Nasihat Menma.
Naruto terkekeh. "Itu cuma mobil bekas Ma. Harganya murah. Yeah, walau hampir bikin tabunganku mengering. Aku beli itu, karena belakangan ini aku pikir aku lebih butuh mobil daripada motor."
Aku dan Menma sama-sama mengernyit mendengar perkataan Naruto.
"Aku nggak mungkin bisa nganter Mbak Sakura, sekaligus jemput Ino buat pergi ke kampus bareng," Naruto menjawab kebingungan kami dengan nada kalem."Kalau aku bonceng mereka sekaligus bisa kena tilang," tambahnya.
Aku dan Menma saling berpandangan. Fokus kami bukan pada mobil lagi, melainkan pada satu nama yang baru saja disebut Naruto. Ino?
"Ino?" Sebelah alis Menma terangkat tinggi, rasa bingung yang kentara terdengar jelas dari suaranya. "Yamanaka Ino?"
"Hu'um." Naruto mengangguk bangga.
"Kenapa kamu harus menjemput Ino?"
"Karena dia pacarku."
Mataku dan Menma langsung melotot ketika mendengar bahwa Naruto (yang selama ini nggak suka berkomitmen sama cewek) tiba-tiba udah punya pacar.
"Seriusan?" Tanyaku tak percaya.
"Iya." Naruto lagi-lagi ngangguk kayak bebek.
"Ino yang waktu Itu nyium kamu di kantin?"
"Hu'um."
"Kok bisa?"
Naruto menyeringai. Tak menjawab, dia hanya mengangkat bahu, lalu berbalik untuk masuk ke dalam rumah.
"Hei Nar! Kamu nggak ngelakuin hal yang aneh-aneh kan sama Ino? Kamu nggak ngintimidasi atau ngancam dia gara-gara ciuman itu kan?" Seru Menma khawatir. Naruto hanya tertawa.
Kami berdua terlalu mengenal si pirang yang satu itu. Kalau dia ingin sesuatu, dia akan mendapatkan yang dia inginkan dengan cara apapun. Dan ... Kami berdua punya firasat tak enak mengenai si Barbie Yamanaka. Yah. Semoga firasat ini salah.
From : 08xxxxxxx
Hai Sweetheart.
Sebelah alisku terangkat bingung ketika ada sebuah pesan singkat yang tiba-tiba masuk ke ponselku. Meletakan sembarangan diktat dan juga buku referensi yang sedang kubaca, aku kemudian menjawab pesan singkat itu.
Siapa?
Balasannya datang seketika.
Sasuke. Kamu masih ingat kan, sepupu Karin yang waktu itu pernah datang ke rumah kamu? Kalau masih nggak ingat, itu ... Cowok paling ganteng di Universitas Konoha. Wink. ;)
Icon mengedipkan mata?! Oh. Ya ampun. Darimana nih bocah tahu nomer ponselku?
Nggak ingat, kamu salah kirim sms kali.
Aku membalas smsnya gusar. Sialan, darimana dia dapat nomer hapeku? Jangan-jangan Karin? Tapi ... Nggak mungkin Karin, dia kan sudah berjanji (bahkan bersumpah) pada Menma untuk menjauhkanku dari sepupu buayanya.
Ah. Masa? Aku yakin kok nggak salah kirim dan kamu jelas masih ingat aku, Sakura.
Aku mengerutkan hidung. Bocah Uchiha yang satu ini bener-bener deh.
Ha-ha. Tetap nggak inget.
Tadikan aku niatnya mau belajar buat kuis. Kok malah ngebalasin sms gajenya Sasuke yah? Haaah. Sial.
Perlu diingetin? Aaah. Itu yang berduaan sama kamu di kamar kos Karin. Si ganteng yang cuma pake handuk doang. Yang ngangkat kamu ke atas ranjang, dan ...
Tak membaca kelanjutan sms-nya. Aku segera menonaktivkan dan melemparkan ponselku ke kasur. Wajahku terasa panas, memori tentang otot-otot bisep Sasuke mulai terbayang kembali di kepalaku. Bagaimana cara dia bergerak, dan ... Owh, stop it Sakura. Jangan mengingat bocah sialan itu! Dia brengsek. Playboy. Dan bahkan dia seumuran sama adikmu!
Oke. Lupakan Sasuke! Lupakan Sasuke! Lupakan Sasuke! Dan Fokus belajar!
Hari ini aku nongkrong sendirian di kantin Kampus. Yeah, aku akui aku ini cewek yang sangat-kurang-bersosialisasi. Bergaul dengan teman-teman sekelasku sekarang rasanya agak canggung, karena kebanyakan dari mereka adalah Bapak-Bapak dan ibu-ibu yang sudah berkeluarga, memiliki pekerjaan yang mapan, dan waktu mereka sangat tidak punya waktu untuk bergaul dengan Mahasiswi pengangguran manis macam diriku. Sementara untuk bersosialisasi dengan Mahasiswa-Mahasiswi strata satu yang mungkin hampir seumuranku ... Aku tidak pernah melakukannya. Salahkan saja Naruto dan Menma yang sudah mempersempit lingkungan pergaulan sosialku dengan sikap mereka yang kelewat over protektif.
Oh ya, ngomong-ngomong soal Naruto dan Menma. Dua adik manisku itu sama-sama sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Menma menghadap dewan kampus, karena dia memiliki sebuah masalah dengan seorang dosen di Fakultasnya, dan Naruto sedang sibuk dengan pacar barunya. Ugh. Bikin iri aja si Naru.
Kursi di sampingku tiba-tiba ditarik oleh seseorang. Belum sempat aku menoleh, sebuah suara berat nan familiar menyapa indera pendengaranku. Begitu dekat.
"Pagi Cantik. Hari yang cerah ya?"
Aku menoleh terkejut. Dan ...
Cup!
Sebuah kecupan mendarat tepat di bibirku.
"Hai."
Mataku membulat ngeri saat melihat Sasuke yang duduk di sampingku, sambil tersenyum manis dengan wajah tanpa dosa.
To be continue
