Sasuke membuka was-was pintu kamar madinya dari dalam—mempersiapkan mental jika saja Sakura akan pingsan akibat melihatnya topless dengan kulit segar yang masih bermandikan tetes-tetes air.
"Hn?" Ruang tengah kosong, harapan kecil Sasuke terpaksa harus ia kubur rapat-rapat. Ia pun akhirnya hanya melenggang santai menuju kamarnya, hendak berpakaian.
Usai mendaratkan diri di sofa, Sasuke meraih remote TV yang tergeletak di atas meja kacanya lalu mulai menggonta-ganti channel dengan malas. Jam pagi begini, hanya ada acara gosip di TV.
"Mau pudding?" tawar Sakura ramah, begitu ia melintas membawa piring kecil berisikan pudding coklat yang entah dia dapat dari mana. Sasuke meliriknya sinis, ia tak pernah suka makanan manis. "A-ah maaf, aku lancang memakai dapurmu," ujar gadis itu sedikit grogi.
Sasuke kembali ke kegiatan awalnya, mengganti-ganti channel TV. "Aku tidak suka makanan manis."
Sakura yang baru saja memasukkan potongan pudding rasa coklat buatan rumahnya langsung menggigit sendok berwarna peraknya dengan gaya imut. Sasuke mendadak tersadar betapa jauhnya perbedaan umur—sembilan tahun—mereka jika melihat tingkah Sakura yang kekanakan seperti sekarang.
"Apa?" tanya Sasuke risih—tak tahan diperhatikan dengan begitu lekat oleh gadis di sampingnya.
Sakura menggeleng salah tingkah, "Tidak kok," lalu terkekeh kecil.
Keheningan kembali tercipta, Sasuke masih sibuk dengan remote TV-nya sementara Sakura sedang asyik melahap habis pudding coklat di piringnya.
Jujur, masih ada banyak hal yang mengganjal pikiran Sakura terkait laki-laki yang sepertinya memiliki hubungan lebih dari sekedar tetangga apartement dengan sepupunya itu. Tapi bagaimanapun juga, ia telah berhutang budi pada Sasuke. Rasanya tak sopan jika ia bersikeras ingin tahu segala hal menyangkut Sasuke, karena itu Sakura tetap diam bak anak baik.
TING TONG
Bel apartement Sasuke berdering, sebelum sempat Sakura menawarkan diri untuk membukakan pintu, laki-laki bertubuh tegap itu sudah bangkit dari duduknya lalu melangkah menuju pintu depan. Alhasil, Sakura pun memilih melenggang menuju dapur—membersihkan peralatan makan yang ia pakai.
.
.
Selesai mengerjakan tugasnya, Sakura melangkah menuju ruang tengah kembali—jujur, lepas ini Sakura ingin meminta izin pada Sasuke untuk memakai telepon rumahnya. Hanya sekedar meminta penjelasan pada Karin mengenai nasib skandal hukum yang menjeratnya.
"Papaaaaa~" Suara lengkingan bocah perempuan menyambut Sakura hangat begitu ia melintas menuju sofa. Di ambang pintu, seorang gadis kecil memeluk erat kaki kanan Sasuke—yang terlihat biasa saja dengan reaksi gadis kecil itu.
Sakura cengo, sebab sedetik kemudian, dua bocah laki-laki lainnya langsung menghambur pelukan Sasuke dengan seruan yang sama, "Papa~"
Ada apa ini?
Sasuke?
Sudah punya anak?
Jika saja Sakura membawa cangkir berisi air panas tadi, maka scene ini dapat lebih didramatisir lagi saking syoknya perasaan Sakura sekarang—ehm, sedikit melankolis.
"Sa-Sasuke-san?" Sakura masih syok melihat kejadian manis di ambang pintu itu. Sementara sang 'Papa' terlihat santai saja.
"Waaah~ Papa membawa Mama baru~" seorang bocah laki-laki yang terlihat paling tinggi dibanding yang lain berteriak lantang sembari menunjuk Sakura dengan semangat. Bocah-bocah berambut gelap, berkulit putih, dan beriris onyx yang lain serempak menoleh menatap Sakura. Mini-mini Sasuke berlarian menubruk pinggang gadis yang masih syok itu.
Tak tahu harus berbuat apa, Sakura pun hanya bisa pasrah dipeluk-peluk dengan ganas oleh bocah-bocah di sekelilingnya.
"Kalian membuatnya takut," komentar Sasuke tajam, yang entah sejak kapan sudah duduk kembali di sofanya.
Mendengar itu, ketiga bocah duplikat Sasuke itupun mundur dengan serempak, menjaga jarak aman dari Mama baru mereka. Sakura menunduk menyejajarkan diri dengan ketiga anak kecil tersebut. Ia menatap mereka satu-satu dengan senyum manis yang terulum dengan sendirinya.
Dua anak laki-laki dan satu anak perempuan. Dua bocah laki-laki di antaranya kembar, dengan seorang anak perempuan manis yang terjepit di tengah-tengah si kembar. "Aku suka Mama baru~ Mama yang ini terlihat seperti ibu peri~" seru si bocah perempuan, sembari kembali menerjang Sakura tanpa permisi.
Sakura sedikit terheran mendengar ucapan gadis kecil itu. Apa dulu Sasuke pernah membawa perempuan lain sebelum dirinya?—err dan kenapa Sakura mulai merasa menjadi calon ibu dari ketiga anak itu sekarang?
"Memang kalian punya berapa Mama?" tanya Sakura bingung, begitu pelukan maut gadis cilik tadi terlepas.
Bocah berambut eboni yang berdiri di barisan paling kanan menyahut, "Banyak, tapi Jii-san dan Baa-san bilang Papa belum menemukan Mama yang cocok."
Di sofa sana, Sasuke mendelik mengancam ke arah bocah laki-laki cerewet itu—yang dibalas dengan juluran lidah mengejek sang bocah.
"Ahya, maaf atas kelakuan adik-adikku, Ma—err, bolehkah kami memanggilmu Mama?" Bocah tertinggi bertanya penuh harap. Tak tega melunturkan keceriaan mereka, Sakura pun menjawab dengan sekali anggukan. Dan pekikan tertahan dari ketiga Uchiha kecil itupun membahana.
"Namaku Uchiha Daisu, yang baju merah ini adik kembarku, namanya Uchiha Hito, lalu yang yang terakhir adalah adik perempuan kami, namanya Uchiha Miu."
Jadi, benar? Sasuke adalah duda beranak tiga?
Sakura membelalakkan mata, nyaris tidak percaya.
Title : Jodohku
Disclamer : Masashi Kishimoto
Warnings : OOC, AU, Typo (s), Miss Typo, Humor garing, Konflik ngaco, dll
Maaf kalau jelek :)
Story by: Lolobii
Enjoy~
.
.
.
NORMAL POV
"Mereka sudah tidur?"
Sakura nyaris terlonjak mendengar suara baritone Sasuke di belakangnya, ia refleks menoleh dan mendapati Sasuke berdiri gagah dengan setelan abu-abunya.
Astaga tampan sekali!
Sakura menggeleng pelan, mengingatkan pada diri sendiri bahwa Sasuke adalah duda. Duda beranak tiga—lebih lengkapnya.
"Iya, mereka baru saja terlelap," senyuman manis menutup penjelasan singkat Sakura. Sedikit ragu, Sakura bertanya dengan hati-hati, "Sasuke-san mau ke mana?"
Sasuke merapihkan dasinya, ia menatap Sakura dengan tatapan menilai. "Ada urusan, kau tolong jaga mereka selama aku pergi. Hubungi saja aku melalui telepon rumah kalau mereka mulai bertingkah, jika kau lapar masaklah sesukamu."
Sakura mengangguk patuh, setelahnya Sasuke langsung menghilang di balik pintu apartement-nya.
.
.
Waktu berjalan cepat, tapi tak cukup cepat untuk dapat melepaskan Sakura dari beban tak kasat mata yang bertumpu pada pundaknya. Persoalan pelik yang melilitnya hingga kini masih belum kunjung usai juga, malah mungkin akan semakin runyam. Badan hukum negara yang nantinya akan menentukan ending dari skandalnya tersebut mungkin saat ini sedang sibuk berkelut dengan bukti-bukti yang sengaja dikumpulkan untuk menyudutkannya. Sakura sendiri tak berani membayangkan putusan seperti apa yang akan diberikan oleh pengadilan nantinya.
Telepon di kediaman Uchiha Sasuke berdering nyaring ketika Sakura sedang sibuk memotong beberapa buah paprika dengan pikiran yang melambung jauh. Nomor tidak dikenal, rupanya.
"Moshi-moshi."
"Haruno."
Pisau dalam genggaman tangan Sakura terlepas begitu saja—sekujur tubuhnya pun menegang dengan spontan. Sakura sangat mengenal suara ini, suara yang tidak pernah ingin didengarnya lagi.
"K-Kurenai-senpai?"
"Rupanya kau masih mengenali suaraku ya, Pembunuh Polos? Bagaimana hari-harimu? Menyenangkan setelah kabur dari sini?"
Wajah Sakura pucat pasi, sejak awal perempuan itu memang tidak pernah menyukainya.
Digenggamnya erat gagang teleponnya, berusaha menahan diri agar tidak merasa gentar. "S-Senpai, demi Tuhan aku benar-benar tidak membunuh siapa pun, percayalah pada—"
"Sakura ... Sakura ... Sa-ku-ra, kau pikir kami akan mempercayaimu, hm? Aku tahu orangtuamu meninggalkan banyak sekali hutang, tapi bukan seperti ini caranya. Ah, kau tidak usah takut padaku, aku hanya ingin menunjukkan keadilan saja." Suara tawa terdengar dari seberang telepon.
Tangan Sakura bergetar hebat. Ini memang bukan salahnya, tapi jika harus ditekan seperti ini terus-terusan dia juga tidak mungkin sanggup. Sakura meletakkan teleponnya kembali di atas counter ruang tengah, tubuhnya merosot bersama dengan air matanya yang jatuh perlahan-lahan. Secepat kilat ia menghapusnya, ia tidak boleh lemah—takut. Ia benar tidak bersalah, jadi untuk apa ia merasa kalut seperti ini? Lagipula ketimbang itu, dia masih memiliki hal lain yang perlu diurus—anyway, ia harus selesai memasak sebelum anak-anak bangun tidur. Tanpa sadar wajahnya memanas, ia merasa seperti seorang ibu yang ditinggal kerja sang suami.
Astaga, Sakura sadarlah! Inner-nya berteriak nyaring.
.
.
"Anak itu mematikan teleponnya?" tanya seorang wanita berambut kuning pucat pada wanita yang tengah menyeringai puas sembari memegang gagang telepon.
"Seperti yang kau duga Nee-chan, gadis ingusan itu ketakutan. Sayangnya, aku sama sekali tidak menaruh rasa simpati padanya. Aku akan menghancurkan gadis itu seperti dia menghancurkan rumah tangga kita." Senyum penuh dendam itu kembali melengkung, membuat wanita di sebelahnya menghela napas berat.
"Jangan terlalu keras padanya, Kurenai," manik madu wanita pirang menyipit tidak suka. "Aku yakin dia tidak bersalah," belanya, memancing kerutan tipis di dahi Kurenai.
"Nee-chan! Gara-gara dia suamiku jadi—"
"Suami kita Kurenai, suami kita." Wanita yang dipanggil Nee-chan itu merapikan rambutnya yang dikuncir dua, sebelum ia melempar tatapan penuh arti pada Kurenai dan melenggang pergi—melewati jendela raksasa yang membiaskan matahari sore yang menerpa rambut emasnya.
Selepas kepergian wanita itu, Kurenai memperhatikan cahaya senja yang menerobos jendela, sinarnya menyirami kursi goyang yang biasa ditempati mendiang suaminya.
Rumah ini berubah, semenjak orang itu meninggal semuanya berubah.
Ada kesedihan.
Sempat terlihat keredupan di dalam manik merah Kurenai, sebelum seulas senyum lebar terulum di bibir merahnya.
.
.
Aroma pertama yang Sasuke dapati ketika memasuki apartement-nya adalah wangi menggoda dari masakan lezat Sakura—disertai suara ribut anak-anak kecil yang berasal dari arah dapur.
Sasuke melirik tembok apartement-nya. Jam dinding di atas rak sepatu menunjukkan pukul delapan malam.
"MAMA LIHAT DAISU-NII MENGAMBIL TEMPURA-KU!"
Sasuke mengernyitkan sebelah alisnya ketika indera pendengarannya menangkap suara cempreng Miu. Pasti Sakura sangat kerepotan menghadapi mereka bertiga, batinnya.
"Jangan bertengkar, atau kalian mau Nee-chan adukan pada Ayah kalian nanti?"
Hening. Sasuke menahan napas.
Apa-apan, Ayah katanya?
Suara telepon rumah berdering, Sakura bergegas keluar dari dapur—hendak menjawab panggilan tersebut sebelum sebelah tangan Sasuke menginterupsinya dari jarak kurang dari satu meter.
Sakura menunduk sopan sebelum kembali memasuki dapur.
"Sakura? Kau 'kah itu? Baiklah, ini aku Tsunade, ada hal yang ingin aku sampaikan padamu."
Hampir saja Sasuke menyela, namun batinnya berhasil menahan ketika didengarnya suara wanita di seberang sana kembali berbicara, "Bukti tuduhan pembunuhan yang kau lakukan sudah lengkap, berhati-hatilah kerena 'mereka' sudah mempersiapkan persidangan untuk kasus ini. Aku tahu kau tidak bersalah, tapi maaf, semua bukti benar-benar menyudutkanmu."
Sasuke mematung. Sakura pembunuh?
"Hanya itu yang bisa aku sampaikan, apakah sekarang kau sedang bersama Karin? Berhati-hatilah karena besok Kurenai berniat mengirimkan sesuatu padamu, aku tidak tahu pasti tapi ... Sakura, aku harap kau bukan pelakunya." Hening, Sasuke dapat mendengar helaan napas panjang dari seberang telepon sebelum panggilan terputus.
.
.
Makan malam kali ini dihiasi keheningan, tiga bocah yang biasanya selalu ribut kini tengah sibuk melahap masakan Sakura—terlalu menikmati hingga kehilangan fokus pada hal lain. Harus Sasuke akui bahwa masakan gadis itu memang sangatlah lezat. Pikirannya kembali pada beberapa saat yang lalu, ia memandang Sakura, mencoba meneliti berulang kali, benarkah gadis sepolos dia adalah seorang pembunuh?
Sasuke mengeratkan pegangan tangan pada sumpitnya, ia harus menginterogasi gadis ini secepatnya. Ia juga harus sesegera mungkin menelepon Karin.
"Jam berapa supir menjemput kalian bertiga?"
Miu menatap Sasuke ragu, mencoba mengingat pesan dari ayahnya.
"Jam sembilan, kata Ibu."
Sakura memandang keduanya bergantian. Oh, jadi Sasuke-san dan mantan istrinya secara bergantian menjaga anak mereka, pikir Sakura maklum.
"Bersiaplah, lima belas menit lagi supir kalian datang."
"Papa, besok kami boleh main kemari lagi? Aku ingin main dengan mama Sakura."
Hito memandang Sasuke dengan penuh harap, sementara sang Uchiha dewasa tersebut hanya mengela napas berat.
"Main bersama ibumu saja, besok aku dan Sakura ada urusan."
Terdengar erangan tak terima dari ketiga bocah di seberang meja sana. Si gadis cilik mulai merajuk, bibirnya ia kerucutkan lucu sembari menghentak-hentak kaki kursinya dengan kesal.
Sasuke diam, melempar sorot mata mengancam ke arah tiga pasang onyx yang masih memandangnya penuh harap. "Ayolah, Papa~" kali ini ketiga bocah Uchiha itu mulai makin merajuk, melancarkan jurus pamungkas mereka—yang menjadi kelemahan Ayah dan Kakek mereka—pada paman tampan lanjang mereka di depan sana, lengkap dengan bonus puppy eyes yang menggemaskan.
Uchiha Sasuke menghela napas, maniknya terpejam rapat. "Tetap tidak boleh," putusnya mutlak.
Sakura menyipit tidak suka. "Maaf Sasuke-san, tapi tidak kah sebaiknya kau meluangkan waktu untuk mereka? Bukannya aku mau ikut campur, tapi kau kan adalah ayah kandung mereka. Yah, meski kau memang sudah berpisah dengan ibu mereka, tapi tidak ada yang namanya mantan anak, 'kan? Jangan sampai mereka bertiga kurang kasih sayang, aku tahu ayah sepertimu pastilah sibuk. Tapi sesekali luangkanlah waktumu untuk anak-anakmu."
Sakura menuntaskan kalimatnya dengan lancar dalam satu tarikan napas, bersamaan dengan itu terdengar bunyi sumpit jatuh dari ke-empat Uchiha.
.
.
Sasuke memang sadar jarak usia mereka, namun ia sama sekali tidak mengira betapa polos dan lugu pola pikir seorang Haruno Sakura. Untung saja dia bukan laki-laki mesum yang bisa saja memanfaatkan kepolosan gadis itu. Memanfaatkan kepolosan gadi itu ... hm... ide yang bag—tidak, Sasuke tentu saja adalah laki-laki yang sopan dan baik budinya.
Harga diri Sasuke kini tersakiti. Ayolah, semua orang juga tahu bahwa dirinya itu single ting-ting, bukan duda beranak tiga seperti yang dikatakan Haruno Sakura. Maaf saja, Sasuke masih suci.
Ingin sekali rasanya ia memarahi Sakura, memaki gadis itu sampai besok. Tapi mau bagaimana lagi, keinginan hanya keinginan belaka. Mana tega sih Sasuke memaki gadis yang tengah menatapnya dengan pandangan seimut itu, cara gadis itu meremas roknya pun sangat imut.
Tunggu, Sasuke barusan berpikir apa? Imut? Tsk!
"Ku-kukira Sasuke-san benar-benar ayah Hito, Miu, dan—"
"Sakura hentikan."
"M-maaf."
Hening. Jam dinding menunjukan pukul sembilan lewat dua puluh menit, tiga Uchiha kecil sudah dijemput supir Ibu mereka—Saara, istri Uchiha Itachi, kakak Sasuke.
Sakura menunduk tak kuat, merasa dirinya sudah betul-betul lancang telah berkata hal seperti tadi di meja makan—di depan ketiga keponakan Sasuke, pula. Berkali-kali ia meruntuki dirinya yang tadi seenak dengkulnya telah mengambil konklusi sendiri, menarik kesimpulan dengan gegabah hanya karena panggilan 'Papa' yang disandang Sasuke. Malunya ia sempat berpikir yang macam-macam.
Tak ingin mengungkit persoalan yang telah mengusik harga dirinya tadi, Sasuke pun hendak mengalihkan topik pembicaraan—lagipula ia tak tega melihat Sakura menunduk penuh sesal terus-terusan. "Tadi ada telepon dari seorang wanita," Sasuke dapat melihat pundak Sakura yang menegang seketika, "Dia mencari Sakura ... si Pembunuh. Jadi, bisakah aku mendengar sesuatu darimu?"
Sakura menelan ludah dengan susah payah, ia memang berniat membicarakan hal ini dengan Sasuke, tapi bukan sekarang. Ia menunggu saat yang tepat, yakni ketika Karin kembali kemari. Tak punya pilihan lain, Sakura pun hanya bisa menghela napas panjang.
Ya sudahlah, sudah ketahuan mau bagaimana lagi?
.
.
.
TBC
Author's line:
Maaffff updatenya lama sekaliiii*pundung*
Aku lagi sibuk KKL dikampus sih jadi kalau ngetik bisanya dikit-dikit :'(
Maap buat pasangan kolabku *ketjup Bii* maaf ya yayang, aku lama banget nganggurin proyek kita.
Segini aja dari aku, untuk next chapter akan ditulis Bii *terjang
Maaf kalau pendek dan feelnya kurang dapet, huhuhu
Sign,
LoloBii
Balesbalesrevieeeew~ hihi untuk edisi ini yang bales reviewnya Bii yaaa~ karna chap kemarin yang nulis saya. jadi baru buat chap depan Cho yang bales reviewnyaaa XD
vinestash: akhirnyaa yaa wkwk makasih reviewnya :)
: hahaha siapaaayooo~ tebak coba :p Im sure u'll get it ;) btw makasih reviewnyaaa~ ini lanjut :)
Nur520: lanjuuut~ meski gak kilat :v #plak makasih reviewnyaa :)
JungYH: bayangin pelafalan judulnya tuh kayak pas Anang nyanyi bagian reff lagunya. Jodohkuuuu~ gitu :v #woi makasih reviewnyaa :)
: semoga bisa gitu aamiin ihihi makasih reviewnyaaa :)
GaemSJ: pacar kamu umurnya berapaaa? aaah kalo emang dasarnya ganteng sih yaa umur berapapun tetep ganteng, terutama di mata pasangannya wkwk XP makasih reviewnyaaa :)
JessicaStephanie: apdeeet hihi tapi maaf gak kilat :v makasih reviewnyaaa :)
: hihi makasiiih :3 yosh ini lanjut~ makasih reviewnyaaa :)
caesarpuspita: Sasucakes sebenarnya gak OOC, cuma ini sisi lain (?) dirinya ajaa, yang tersembunyi dan hanya bangkit pada orang-orang tertentu :3 #maksudlo #digampar hahaha Sakura belum 'tersentuh' jadi dia masih polos meski udah janda :3 #nak makasih reviewnyaaa :)
suket alang alang: ini udah kudu wajib harus lanjut :v #oi hahaha makasih reviewnyayaaa :)
kimmy ranaomi: makasih hihi makasih juga reviewnyaaa :)
Kumada Chiyu: iyadooong~ yang ada bukan cuma larutan penyegar (?) aja, tapi fic penyegar juga ada :v #melenceng makasih reviewnyaaa :)
SHL7810: ini lanjuuuut~ mainstream banget yak? yaaah tapi semoga plotnya gak begitu menstrem wkwk makasiih~ seneng bisa balik lagi :3 btw si Cho lagi bobo cantik tuh *cubit Cho di ranjang* Cho~ ada yang nagih ficmu tuuuh! tuntasin giiih wkwkwk :v *teriakin Cho dengan penuh kasihsayang(?)* makasih reviewnyaaaa :)
Kuro Shiina: lanjuuut~ makasih reviewnyaaa :)
YOktf: lanjuut~ makasih reviewnyaa :)
: hahaha kan biar meyakinkan, agar Sasuke tak salah pilih lagi :v #eh makasih hihi makasih juga reviewnyaaa :)
UchiHaruno Misaki: makasih banyaaak hihi :3 ahgak kok, kami juga baru belaaajar~ semoga kita bisa lebih baik kedepannya ;) ohmaaf itu typo yaa? kedepannya diperbaikin deh XD makasih reviewnyaaa :)
Ly Melia: Karna Sasuke mendapat feeling yang bagus, bibirnya gak bisa nahan seringai :v #woi makasih reviewnyaaa :)
Tsurugi De Lelouch: hihi makasih banyaaak kak Wul XD okesiiip~ semoga chap kedepannya bisa lebih memuaskan, makasih reviewnya kak :)
UchihaCherryHaruno12: hahaha makasih banyaaak :3 iyaaa kita rencananya bawa nyante fic ini aja kok ;) samaaa~ saya juga penasaran apa kata Sasu pas tau Saku janda :v #nyebutwoi makasih reviewnyaaa :)
naintin: umur bukan penghalang :v #ea makasih reviewnyaaa :)
: hahaha lajang 30 thn sexy? :v #langsungberburulajang30 #woiwoi makasih banyaak reviewnyaa :)
undhott: hahaha demi Sasu yang sexy bohay~ saya juga suka sama dia #eh makasih reviewnyaaa :)
Lhylia Kiryu: lanjuuuut hihi makasih reviewnyaa :)
Rachel-Chan Uchiharuno Hime: dia bakalan kaget dengan elit (?) wakakak :v #woi makasih reviewnyaaa :)
uchiharuno35: dia lucu tapi kadang ngenesin jugaa haha liat lanjutannya ajadeeeh :v makasih reviewnyaa :)
Sabila Foster: heeh? Sakura belum minta diapapain kok :p #dishanaroo makasih reviewnyaaa :)
Kiki RyuSullChan: apdeet~ meski gak kilat :v makasih reviewnyaaa :)
mantika mochi: hihi makasiih :3 makasih juga reviewnyaaa :)
1: hihi makasih aitara yang keceee X3 kami sangat berharap bisa buat karakter mereka greget segreget2nya :v makasih banyak reviewnyaaa :)
an username: hahaha ini Bii dan Cho looh~ ini juga fic collab kita yang pertama, maklum yaaa kalo masih gimana2 :v haha makasih~ makasih juga reviewnyaaa :)
guest : makasiih banyaak :3 apdeet~ makasih juga reviewnyaa :)
Naya Aditya: semangaaat diterimaaaa XD ini apdet hihi meski gak cepet :v #plak makasih reviewnyaaaa :)
Bloody Onihime31: she wont be survive 3:) #jder bwahahaha Sasuke yang diamdiam mesum? semua cowok juga gitu kaaan wkwk :v makasih reviewnyaaa :)
SS: lanjuuut hihi makasih reviewnyaa :)
Guest: lanjuut hihi makasih reviewnyaaa :)
eci nindy: makasihmakasiiih hihi ini udah cukup panjang belum sih? :v spesial chap dari Cho nih hihi XD makasih banyaaak reviewnyaa :)
Cherry Philein: makasiiih :3 guess who? Sarutobi? boleh jugaa tuh :v #woi makasih reviewnyaaa :)
sisilavender: makasiih hihi salam kenal jugaa~ Bii dan Cho di sini :3 makasih reviewnyaaa :)
: toh Sakura numpang tinggal gratis di rumahnya, kan gapapa Sasuke sedikit memanfaatkan Sakura :v #dibejek makasiih reviewnyaaa :)
uchan: lanjuuut~ makasih reviewnyaaa :)
Nafidah: saya juga gatau mau nulis apa :v #woi lanjuuut~ makasih reviewnyaaa :)
Mayu: makasiih hihi ini apdeeet~ makasih reviewnyaaa :)
The Deathstalker: saya ngerti gimana rasanyaaaa T^T #mendadakmerasasenasib pulang kuliah, penat dengan tugas mid dll, pengennya nyante ngehibur diri dengan fic ringan yang buat kita ngelupain persoalan RL sejenak :v #curhat lanjuut~ makasih reviewnyaaa :)
sasa cherryl: anda penasaran? samaa, saya jugaa :v #hoi hihi ini lanjut kok makasih reviewnyaa :)
shinma hanasaki: ini apdet kok hihi makasih reviewnyaaa :) Sasu emang mesum :3 #dihajar
Guest: lanjut~ mkasih reviewnya :)
NikeLagi: lanjuuut makasih yaa :)
GaemCloud347: Sasuke gituuu~ selalu berhasil memanfaatkan keadaan :v makasih reviewnyaaa :)
Blossom winter: ini lanjuut kok haha meski telat banget sih :v #plak makasih reviewnyaaa :)
kojima miharu: ini lanjuut kok, haru hahaha maaf telaat :v makasih reviewnyaa :)
Black Rave Strike Namikaze : hihi inji lanjut kok, meski telaaat XP makasih reviewnyaa :)
YashiUchihatake: wkwwk boleh juga tuuh :v #oi makasih reviewnyaa :)
Vitri: ini apdeeet hihi makasih reviewnyaa :)
IndahP: ini lanjuuuut hihi makasih reviewnyaa :)
suzuka haruno: ininininininini lanjuuuut kok hihi makasih reviewnyaa :)
CbiellUchiha1: ini lanjuutannyaaaa kok hihi makasih reviewnyaa :)
