"Jadi," suara baritone rendah milik Uchiha Sasuke menggema halus di tengah ruangan apartement miliknya. Manik kelamnya berotasi sebentar, sekedar mengalihkan fokus dari gadis muda yang sejak tadi menjadi objek pandang matanya. "Kau bukan pembunuh?" Sekedar memastikan, ia bertanya dengan hati-hati—berusaha tak menuduh.

Gadis Haruno mengangguk mantap, ia angkat kepala merah mudanya untuk melempar tatapan lurus meyakinkan pada sesosok pria yang sedang duduk tenang—menginterogasi—di hadapannya.

Dalam diam, gadis berbalut kaos rumahan itu meremas jemarinya erat-erat—berupaya menguatkan diri. "Aku tahu kau tidak akan begitu saja percaya padaku, tapi," cicitnya kecil, ragu-ragu hendak menatap mata lawan bicaranya atau tidak—karena jujur saja, manik sekelam malam milik Sasuke benar-benar mengintimidasinya tanpa sadar.

Kening Sasuke berkedut, menunggu kalimat Sakura tuntas. "Aku tidak berbohong, sungguh bukan aku pembunuhnya." Dengan suara yang agak serak, Sakura melanjutkan kalimatnya. Ia tatap iris onyx Sasuke dalam-dalam, berharap besar laki-laki itu akan percaya pada tutur katanya—meski jika dilihat dari gelagatnya, tak bisa ia pungkiri secuil hatinya merasa ragu.

Ini bukan kali pertamanya Sasuke dihadapkan pada situasi yang serupa. In fact, dia adalah seorang pengacara—menghadapi orang seperti ini merupakan makanan sehari-harinya. Sasuke sudah lihai betul menilai mana orang yang benar-benar jujur dan mana yang hanya berpura-pura jujur.

Iris gelap itu kini menelisik lebih dalam. Menyelami emerald Sakura yang meski tampak berkaca-kaca tetap tak kehilangan cahayanya—menatap lurus balik ke arahnya. Fokusnya berpindah, tercuri sesaat oleh getirnya senyum tipis yang berusaha ditarik oleh gadis itu. Air muka Sakura saat ini pun terlihat benar-benar berbeda dengan Sakura yang biasanya menyambutnya riang tiap kali pulang di kediamannya.

Dan Sasuke paham betul apa artinya ini. "Tak apa," disusul dengan bangkitnya sang Uchiha dari peraduannya. Sakura mendongak, tanpa sadar kepalannya mengerat menahan takut—jujur, ia benar-benar takut Sasuke menolak mempercayainya. Ia tak punya siapa-siapa di Konoha selain Sasuke, sekarang.

Sembari beranjak melangkah, Sasuke melempar senyum teduhnya—ampuh membuat gadis di sofa sana terpana sesaat. Ditepuknya pelan kepala pink Sakura dengan satu tangan, sesekali mengelusnya lembut. "Aku mengerti," ucapnya pelan, nyaris berbisik.

.

.

.

Title : Jodohku

Disclamer : Masashi Kishimoto

Warnings : OOC, AU, Typo (s), Miss Typo, Humor garing, Konflik ngaco, dll

Maaf kalau jelek :)

Story by: Lolobii

Enjoy~

.

.

.

NORMAL POV

Matahari tampak bersinar gagah di atas sana, menantang para pekerja kantoran yang baru saja hendak beranjak dari tempat tinggalnya.

Seorang gadis cantik berbalut celemek biru tua dengan motif kipas merah putih di tengahnya tampak sedang asyik bersenandung riang di dalam dapur. Sesekali ia terkikik kecil di tengah kegiatan masak-memasaknya, lalu lanjut bersenandung lagi seolah baru saja memenangkan hadiah lotre keliling dunia tujuh kali plus uang saku unlimited dengan bonus seorang guide ganteng penuh pesona. Ia merasa beruntung sekali, pokoknya.

Suara geseran kursi dari arah ruang makan—yang letaknya bersisian dengan dapur—tampaknya ampuh menyedot atensi gadis muda itu kembali ke alam nyata. Kepalanya refleks menoleh, lalu melempar senyum tiga jarinya dengan enteng pada pria lajang yang sudah duduk anteng di depan meja—nyaris tersedak kopinya begitu dihujat senyum polos gadis dapur tadi. Buru-buru ia berdeham, memperbaiki posisi duduknya dengan agak salah tingkah.

Padahal baru semalam tadi ia melihat Haruno Sakura yang begitu rapuh nyaris menangis di hadapannya, tapi sekarang gadis itu malah tampak kelewat bersemangat—seolah baterainya sudah terisi penuh.

Segitu signifikannya 'kah kalimat 'Aku mengerti' Sasuke semalam?

Sasuke menggeleng hopeless. Padahal ia hanya berkata begitu, bukan 'Aku percaya padamu' atau 'Aku akan selalu berada di sisimu' ataupun 'Aku ingin kau menikah denganku' seperti—

—tunggu. Menikah? Apa-apaan it

"Pagi, Sasuke-san."

Dan kali ini Sasuke sukses tersedak kopinya sendiri—begitu sadar dari khayalan ngaconya yang berkelana liar tanpa arah.

Lekas Sakura menyerebet serbet di pojok meja, mengusap daerah sekitar mulut Sasuke yang sempat kotor terkena cipratan kopi dari cangkirnya.

Sasuke terdiam. Sakura menarik senyum simpul—yang tampak amat menawan dari jarak sedekat ini—selepas membersihkan wajah Sasuke. "Untung kemejanya tidak kotor." Senyum simpul lagi, ditarik dengan santai namun terlihat begitu tulus. Masih tak ada respon dari Sasuke, pria itu sepertinya masih syok akibat kejadian barusan.

"Kau tak apa, Sasuke-san?" Senyum Sakura luntur. Sasuke kembali ke bumi.

Pria berperawakan tinggi itu cepat-cepat membuang pandangannya ke arah lain, "Tak apa," jawabnya kilat, berupaya tetap bersikap tenang padahal jantungnya mulai memainkan ritme yang bertempo cepat.

Keduanya mulai sibuk menyantap makanan di piring masing-masing begitu Sakura selesai meletakkan sajian menu sarapan mereka pagi ini di atas meja. Gadis itu tak lagi bersenandung merdu seperti tadi, malah tampak melahap makannya dengan tenang di kursinya. Sementara Uchiha Sasuke terlihat sedikit bergelagat aneh, sesekali mencuri pandang pada gadis belia di hadapannya. Batinnya sedikit heran, gadis dengan perawakan sederhana dan lugu seperti ini bagaimana bisa menjadi korban tuduh pembunuhan yang tak berdasar. Sasuke tak habis pikir, bagaimana sebenarnya keseluruhan kisah Sakura hingga gadis itu bisa berakhir menjadi pihak tertuduh.

Ya, semalam memang Sakura sudah menceritakan inti kisahnya. Tentang seorang wanita yang menuduhnya telah membunuh suaminya, padahal Sakura tidak melakukan hal apapun yang bisa membuatnya layak dicap pembunuh. Malam itu ia hanya makan malam seperti biasa, mandi seperti biasa, dan begitu hendak tidur seperti biasa, ia sudah menemukan 'korban' tersebut kejang-kejang tak jelas di depan matanya. Tolong jelaskan, bagian mana yang bisa dikategorikan sebagai aksi pembunuhan, sebenarnya?

Jangan bilang Sasuke langsung menerima alibi Sakura sekenanya. Tidak, pria itu spontan memutar otak, mencari secuil kejanggalan dari apa yang dikisahkan Sakura. Namun nihil, cara Sakura mendeskripsikan semuanya dengan begitu lancar seolah menutup kecurigaan Sasuke padanya. Emerald itu jelas-jelas memancarkan kejujuran.

Naluri tajam Sasuke yang biasanya selalu menanggapi setiap persoalan dengan kritis langsung tumpul begitu saja, ketika melihat sorot tak kuasa di raut wajah gadis Haruno itu. Ada kesedihan di sana, sangat mendalam—manjur membuat bibir tipis Sasuke bungkam untuk menggali kisahnya lebih dalam. Toh, Sasuke bukan orang yang suka mencampuri urusan orang lain—terkecuali jika itu urusan client-nya. Dan saat ini Haruno Sakura hanyalah sepupu Karin yang dititip di apartement-nya selama dua minggu, tak pantas rasanya jika ia mencaritahu lebih dalam.

"Sasuke-san," panggil Sakura sopan, seraya menyudahi kegiatan makannya. Yang dipanggil hanya melirik sekejap, kemudian lanjut menyuap mulutnya lagi. "Terimakasih untuk yang semalam," ujar Sakura pelan, agak malu juga sebenarnya—tapi ia merasa perlu untuk berterimakasih, karena bagaimanapun kepercayaan Sasuke seolah sudah berhasil membangun rasa percaya diri gadis itu kembali. Ia sungguh-sungguh berterimakasih. "Jika ada yang bisa kulakukan untukmu, katakan saja. Aku akan sangat senang jika bisa membalas kebaikanmu." Gadis itu masih mengoceh tulus, sembari tersenyum malu-malu dari bangkunya.

Sasuke berhenti mengunyah sejenak, ia teguk sedikit air di dalam gelasnya sebelum angkat suara. "Kau tidak perlu berterimakasih," ditatapnya datar gadis di hadapannya itu. "Aku tak melakukan apapun yang pantas untuk itu," tambahnya—begitu melihat Sakura hendak protes.

Suara tawa halus meluncur dari bibir Sakura. "Sasuke-san sudah melakukan hal yang lebih dari pantas." Senyum manisnya lagi-lagi ia tarik sempurna. "Aku sebatang kara. Orang tuaku sudah meninggal dan kerabat dekat yang kukenal baik hanya Karin. Bisa bertemu dengan seseorang seperti Sasuke-san benar-benar suatu keberuntungan bagiku. Berkat itu, aku merasa lebih baik dibanding sebelumnya." Sakura menyudahi curhatan panjang lebarnya dengan sedikit terenyuh. Kenyataannya, Sasuke adalah orang pertama yang mempercayainya setelah Karin. Selebihnya, orang-orang hanya mencercanya dan menuduhnya sebagai pembunuh. Miris rasanya, karena itu hati Sakura makin lama makin mencelos. Sedih dan kesal bercampur aduk—entah mana yang mendominasi.

Pikiran Sasuke melayang, mulai menanggapi serius tawaran Sakura barusan. Toh, Sakura sendiri yang menawarkan bantuan, bisa mubazir kalau tidak dipergunakan—rayu logikanya. "Hm, jika kau bilang begitu," gestur Sakura yang semula hendak bangkit mencuci piring seketika terhenti secara spontan. Matanya menatap penuh tanya lelaki tampan di seberang mejanya. "Kau bilang ingin membantuku, 'kan?"

Sakura mengangguk polos.

Dalam hati Sasuke menyeringai senang, tak ia sangka bantuan akan datang secepat ini.


"Aw!" Sakura memekik kencang tatkala jari tangannya sempat bersentuhan sepersekian detik dengan setrika yang masih hangat-hangatnya itu. Panas alat pelicin pakaian itu masih terasa menusuk kulitnya, tapi tak seberapa mengingat ia sudah mencopot kabelnya beberapa saat yang lalu.

Sembari mengelus-elus sayang jemarinya yang nyaris melepuh, Sakura menimang angannya kembali. Pikirannya sejak tadi memang sedang tak di tempat, kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh Uchiha Sasuke tempo hari masih menghantui pikirannya hingga kini.

Satu kesimpulan yang berhasil ditarik Sakura dari penjelasan panjang lebar Sasuke padanya waktu itu.

Sasuke ingin memintanya untuk berpura-pura menjadi kekasihnya. Tolong garis bawahi kata 'kekasih' dan coret saja kata 'berpura-pura itu'.

Kenapa harus berpura-pura?

Kalimat itu yang melintas di benak Sakura kala Sasuke usai menuntaskan penjelasannya. Bukan, bukan berarti Sakura ingin menjadi kekasih sungguhan Sasuke—tentu. Ehm, perempuan manapun bisa dianggap kurang waras jika menolak pria macam Sasuke—hanya saja, Sakura benar-benar tak mengerti.

'Aku yakin dengan wajah setampan itu, kau bisa mendapatkan kekasih betulan, Sasuke-san.'

Beribu kali Sakura meruntuki dirinya dalam hati begitu sadar bahwa ia tanpa sengaja meng-off side-kan kalimat terus terangnya barusan. Bodoh sekali, Sasuke pasti berpikiran yang buruk tentangnya—karena terang-terangan keceplosan begitu.

Ingin rasanya Sakura menenggelamkan wajahnya ke kolam air mancur yang terpajang elok di depan gedung apartement Sasuke, kalau bisa—saking malunya ia sempat berkata begitu.

Namun, jauh dari perkiraan Sakura. Uchiha Sasuke yang sempat terdiam begitu mendengar kalimat spontan Sakura itu justru memetakan seringai tampannya—malah membuat Sakura semakin blushing—dan menjawab ringan, 'Karena itu aku ingin kau berpura-pura.'

Sakura sangsi, ia sama sekali tidak mengerti maksud Sasuke. Tapi, ketika interupsinya tergagalkan total akibat decakan tak sabaran Sasuke, Sakura hanya mampu mengangguk singkat bak anak baik sewaktu Sasuke nyerocos dengan penuh penekanan, 'Kau ingin membantuku atau tidak?'—plus tatapan penuh intimidasi.

Sakura menghela napas pasrah. Ia sungguh tak berdaya rasanya, entah bagaimana Sasuke selalu berhasil membuatnya menurut seolah tak punya pilihan. Padahal jauh di dalam hati Sakura, ia sangat penasaran mengapa ia perlu berpura-pura menjadi kekasih Sasuke segala.

Belum ketemu yang cocok, 'kah? Jadi Sasuke ingin dia berpura-pura mengambil peran sebagai kekasih agar tak dijodohkan oleh perempuan pilihan orang tua Sasuke. Begitu, 'kah? Tapi bagaimana jika di ending-nya nanti, dia dan Sasuke malah terjebak cinta lokasi hingga saling kasmaran. Seperti yang di film-film romansa picisan begitu, loh~

Sakura menggeleng-geleng absurd. Wajahnya terasa memanas bahkan hanya dengan memikirkan hal seperti itu saja. Ia elak mati-matian suara-suara di kepalanya yang mulai ber-cie-cie tak jelas menyorakinya.

"Sakura," suara berat Sasuke memanggil singkat. Sakura tersentak, buru-buru menoleh dengan gelagapan. "Apa yang kau lakukan pada bajuku?"

Gadis bermahkota merah muda itu kini berkedip heran.

Baju? Baju apa?

Barulah sedetik kemudian ia tersadar apa yang sebenarnya terjadi di dunia nyata saat khayalnya sedang terbang ke dunia lain. Gadis itu spontan melongo heran menyaksikan kemeja abu-abu Sasuke yang sudah kusut bukan main di tangannya—padahal baru saja ia setrika dengan telaten semenit yang lalu, hendak ia gantung niat awalnya.

Tatapan penuh intimidasi dari Sasuke lagi, menagih penjelasan rasional dari Sakura. Namun, gadis itu malah cengengesan kecil sembari meremas roknya gugup. Ia menunduk menyesal, "M-maafkan aku, Sasuke-san," cicitnya, tak berani menatap mata lawan bicaranya.

Sasuke menghela napas pelan, ia memang terkadang dibuat speechless sesaat ketika menghadapi gadis manis satu ini. Gestur tubuhnya itu loh, seakan minta dicium saja saking menggemaskannya.

Perlahan Sasuke mengurut batang hidungnya yang mancung, pikirannya melenceng lagi. Ini seperti adegan pasaran di ftv saja, kala sang majikan memarahi pembantu kesayangannya yang tak becus kerja—padahal dalam hati ia membatin tak kuasa, 'Tak apa bajuku kau kusutkan, asal jangan hatiku.'

Ups.

Tuh, 'kan? Sejak kapan otaknya jadi korslet begini?


Singkat cerita, Sakura dan Sasuke sudah tinggal sepekan lamanya di apartement yang sama. Masih butuh waktu sepekan lagi sebelum Karin menyudahi bulan madunya dan pulang kembali ke Jepang—melunasi janjinya yang hendak membantu Sakura menyelesaikan persoalan pelik yang melilitnya.

Sembari mencuci piring, Sakura meratapi nasib buruknya. Ia teringat pada sepucuk surat panggilan dari pengadilan setempat yang baru saja ia temukan di kotak surat Uchiha Sasuke—entah darimana pula para penuntut itu menemukan tempat tinggal sementaranya ini. Padahal Sakura sangat jarang ke luar apartement dan lagi ia dulunya tak memiliki handphone untuk dilacak—ehm sekarang ia punya, 'pemulus' dari Sasuke. Jika dipikir-pikir cukup aneh juga sebenarnya, mengingat Kurenai sempat meneleponnya tempo hari yang lalu di kediaman Uchiha.

Dari mana mereka tahu aku tinggal di sini?—pikirnya terheran-heran.

Tak mau ambil pusing, Sakura pun hanya mengendikkan bahu. Terserahlah, putusnya akhirnya. Dibanding susah payah memikirkan hal itu, lebih baik Sakura memikirkan skandalnya saja. Bagaimana caranya ia menghadiri panggilan pengadilan bersama pengacaranya besok lusa jika pengacaranya saja masih menikmati bulan madunya di Hawaii sampai pekan depan, heh?

Apa yang harus ia lakukan sekarang?

DDRRT

Handphone—ehm baru ehm—Sakura bergetar. Dengan gesit, gadis itu langsung mencuci tangannya sampai bersih lalu mengelapnya hingga kering di celemek biru tuanya. Ia rogoh kantong roknya dengan agak kasar, mencari benda kecil yang menggelitik pahanya tadi.

Sebuah pesan singkat masuk di handphone-nya, dari nomor tak dikenal. Sakura mengernyit sejenak, hanya ada dua orang di dunia ini yang tahu nomor handphone-nya. Uchiha Sasuke dan Hozuki Karin—dan nomor ponsel kedua manusia itu sudah tersimpan apik di dalam phonebook ponsel Sakura.

Tak ingin penasaran lebih lama lagi, Sakura pun langsung saja membuka pesan masuknya tadi.

Ternyata itu pesan dari pengacaranya, bukan Karin—terpaksa dialihkan karena Karin sedang ada keperluan mendesak, katanya.

Sakura mengernyit heran, mendesak?

Berdasarkan apa yang tertulis di layar touchscreen ponselnya, dengan bahasa formalnya pengacara-entah-siapa itu meminta waktu untuk bertemu dengannya besok siang di sebuah cafe yang namanya tak asing di mata Sakura—ia ingat pernah melewati cafe itu ketika hendak berbelanja di persimpangan jalan, tak jauh dari apartement Sasuke.

Senyum Sakura mengembang, senang sekali rasanya kekalutannya tadi langsung terbayar seperti ini. Tak perlu repot-repot ia memikirkan persoalan pengacara itu, rupanya—sebab sms terakhir Karin tampaknya tak main-main. Sepupu berkacamatanya itu telah mengurus semuanya, jadi Sakura tak perlu khawatir.

.

.

Siang hari yang terik. Panas matahari kala itu benar-benar menyengat kulit sampai melewati lapisan epidermisnya, rasanya. Wajar sih, sekarang sudah memasuki awal musim panas.

Seorang pria berpostur tegap tampak berjalan angkuh dari singgasananya. Tatapannya tajam, senyum percaya dirinya terpeta elok semenjak ketukan palu hakim ber-wig kriting gantung itu menggema di sepanjang ruangan sidang—tentu setelah menyudahi kalimat putusannya.

Tepuk tangan terdengar riuh, diiringi suara isak tangis yang bersahut-sahutan dari arah podium penonton. Seorang pria kurus berkostum narapidana berlari terbirit-birit menghampiri Sasuke sebelum hilang di balik pintu. Pria itu menangis sendu, sembari menggenggam tangan Sasuke kuat-kuat. "Terimakasih, Uchiha-san." Genggamannya bergetar, tak kuasa menahan air mata bahagia yang menetes jatuh dari bola mata bulatnya.

Sasuke tersenyum formal, tampak begitu profesional menjaga wibawanya sebagai pengacara kondang ternama yang selalu sukses membela client-nya dalam setiap kasusnya. "Sama-sama, Guy-san," balasnya.

Sebenarnya, Sasuke sama sekali tak kesusahan menghadapi kasus si Guy ini. Bukan kasus yang rumit, karena itu ia optimis bisa menang sejak awal menerima kasus ini. Toh Sasuke bukan pengacara sembarangan, yang asal menerima tawaran hanya karena nominal bayaran yang ditawarkan oleh client-nya tinggi.

Cih, hanya pengacara murahan yang bertindak seperti itu.

Sasuke memang pemilih. Ia hanya akan membela pihak yang menurutnya tidak bersalah, karena ia yakin bisa menang jika berdiri di pihak yang benar.

"Te-terimakasih, Sasuke-sama," suara serak seorang pemuda menyusup, di antara kerumunan peserta sidang yang sudah berlalulalang ke luar. Sasuke menoleh, mendapati seorang pemuda replika si Guy yang sedang menangis haru tak kalah kencangnya dari laki-laki mantan tersangka tadi.

"Hn," Sasuke hanya merespon dengan trade mark andalannya. Ia tahu, jika ia ikut-ikutan over meladeni duo rambut mangkok itu maka tangis mereka tak akan usai sampai esok lusa.

Pemuda berbusana hijau ketat kembali menyeka air matanya dengan ujung lengan bajunya yang sudah setengah basah. "J-jika bukan karena Sasuke-sama," ia terisak sejenak. "A-ayahku pasti sudah dicap sebagai si cabul yang hobi mencuri pakaian dalam perempuan." Kali ini ia menangis lebih kencang, benar-benar bersyukur predikat 'Anak Si Cabul' tak perlu disandang olehnya.

Sasuke menghela napas. Kasus yang ditanganinya kali ini memang agak konyol, tapi karena itulah dengan mudah bisa ia selesaikan tanpa perlu bersusah payah memutar otak seperti kasus berat lainnya.

Kasus penutup, begitu Sasuke sempat menyebutnya sewaktu ditertawai oleh rekan seprofesinya—Karin. Wanita itu awalnya tak sampai pikir Sasuke yang begitu perfeksionis dan bertalenta akan memilih kasus kecil macam ini—rasanya benar-benar tidak seperti Sasuke yang ia kenal.

Sasuke dan Karin memang telah saling kenal belasan tahun lamanya, ditambah lagi mereka juga bergelut di ranah yang sama. Jadi wajar saja jika mereka sudah hafal betul tabiat masing-masing. Barulah untuk yang pertamakalinya semenjak sembilan tahun lamanya Sasuke merintis karir, Karin melihat ada kemelencengan dari selera kasus yang ditangani Sasuke.

Kasus teri, begitu julukan Karin untuk kasus macam ini.

Sasuke sendiri sebenarnya tak begitu peduli. Toh ia sedang banyak pikiran belakangan itu, mengambil kasus berat bukan hanya akan menjadi pelampiasan semata—tapi namanya cari mati. Keremajaan kulitnya bisa berkurang jika ia terlalu banyak tekanan, olehnya itu Sasuke berencana hendak ambil cuti lepas menunaikan kasus teri ini.

Sayang oh sayang, kehendak hanyalah kehendak. Semuanya berubah sejak telepon Karin dari Hawaii menyapanya subuh itu. Ia—dengan amat sangat terpaksa—harus menerima satu kasus lagi, yang notabene merupakan kasus milik Karin.

Malas berdebat panjang lebar, Sasuke pun hanya asal menyanggupi saja. Meski ia tahu Karin bukan tipe wanita yang akan mengambil 'kasus teri' yang serupa dengannya ini, tapi tetap saja Uchiha Sasuke mengenal baik Hozuki Karin—ingat. Karin tidak akan mengambil risiko dengan menerima kasus yang tak bisa ia menangkan. Mengapa? Tentu saja, karena wanita suka kemenangan.

Sasuke tersenyum menang dalam perjalanannya kembali ke ruangannya, membuat sebagian wanita di sepanjang koridor melirik penasaran pria tampan yang tak sembrono mengumbar senyum itu—sebagiannya lagi hanya mampu melongo terpana sambil menggigit jari.

Begitu sampai di kursi empuknya, Sasuke langsung meraih sebuah ponsel berwarna biru metalik dari balik meja kerjanya. Jemarinya dengan lincah menari-nari di atas touchscreen ponselnya, sekedar memeriksa pesan dan panggilan teleponnya sejak ia tinggal tadi. Ingat, Uchiha Sasuke adalah pengacara elit profesional. Ia punya segudang tawaran, karena itu ia butuh satu ponsel yang khusus ia gunakan untuk keperluan pekerjaan. Itulah ponsel yang sedang ia gunakan saat ini.

"Ini berkas yang Anda minta, Uchiha-san," sela seorang pria berwajah datar, sembari meletakkan sebuah amplop coklat dengan sopan di atas meja pengacara tampan itu.

Iris Sasuke melirik sekilas, sebelum bergumam singkat, "Hn."

Ditatapnya jam tangannya sekali sapu. Masih tersisa satu jam sebelum waktu janjiannya dengan client barunya—mantan calon client Karin itu. Sasuke memang sudah membuat janji bertemu dengan orang itu kemarin, begitu ia berhasil memperoleh nomor teleponnya dari salah seorang staff yang bertugas untuk mengurus hal-hal seperti itu.

Senju-san.

Hanya itu yang tertulis di secarik kertas yang diberikan pada Sasuke kemarin. Sedikit penasaran juga sebenarnya, mengingat marga 'Senju' bukan marga keluarga sembarangan. Senju adalah keluarga kaya raya yang berperan aktif di bidang entertainment. Keluarga terpandang, mungkin sudah sejak zaman dahulu kala. Berita terakhir yang Sasuke dengar terkait dengan Senju adalah tentang kematian sang kepala keluarga—seorang kakek beristri tiga—sebulan lalu. Sasuke tak ingat jika ada skandal lain selain itu, entahlah. Arsip tentang kasus yang diserahkan Karin padanya itu memang belum sempat Sasuke sentuh seujung jaripun—lihat saja dokumennya yang masih hangat di atas mejanya itu, baru sampai sesaat lalu.

Menarik napas panjang, Sasuke pun memutuskan untuk menunda waktu mengkaji kasusnya. Nanti saja, setelah sampai di tempat janjian—yang ia yakini masih menyisakan waktu setengah jam sebelum waktu janjiannya. Bagi Uchiha Sasuke, setengah jam sudah lebih dari cukup.

.

Matahari tepat berada di atas ubun-ubun manusia kala panas menyingsing siang itu. Membuat mayoritas orang tak betah berlama-lama melintas di bawah naungan sang mentari.

Seorang pria berpostur semampai berjalan tegak dengan santai sembari menenteng sebuah amplop coklat di sebelah tangannya. Iris onyx-nya menatap lurus ke depan, sejenak melirik jam tangannya untuk sekedar memastikan ia memang sampai setengah jam lebih awal.

Pandangan datarnya ia edarkan sekilas bigitu dirinya menapak karpet cream di dalam cafe bernuansa klasik itu. Baru dua-tiga langkah, laju berjalannya yang konstan mendadak terhenti secara naluriah. Ada sesuatu yang mengganjal benaknya kala tanpa sengaja menangkap sekelibat warna merah muda di pojok meja cafe sana. Dengan cepat ia menoleh kembali, melempar tatapan tajamnya guna memastikan terkaannya tadi.

TUING

Perempatan kecil muncul di jidat Sasuke.

Rambut nyentrik mencolok. Kaos rumahan sederhana. Rok selutut polos. Dan pudding coklat di atas meja. Jelas sekali itu si Pinky, apa yang ia lakukan di sini?

Sasuke bergegas mengambil langkah menjauh. Menyerobot tempat paling aman yang jauh dari jarak pandang Sakura tapi memungkinkannya ampuh untuk melirik-lirik curiga pada gadis di ujung sana itu.

Otak Sasuke mulai bekerja, mereka ulang memorinya pagi tadi.

Sakura memang sempat bilang ia ada urusan sebentar, jadi ia ingin ke luar untuk bertemu dengan kenalannya. Awalnya Sasuke sedikit heran, mengira Sakura tak mungkin punya kenalan selain Karin dan dirinya di Konoha. Akan tetapi—sekali lagi—sifat tak suka mencampuri urusan lain sudah begitu meracuni Sasuke, tampaknya. Ia tak ambil peduli, jadi hanya mengiyakan mau Sakura saja.

Cih, katanya tak suka mencampuri urusan orang lain—tapi mengapa sekarang Sasuke malah terlihat bagai stalker kurang kerjaan yang sibuk curi-curi pandang gelisah pada si merah muda?

Bagaimana jika Sakura ada janji dengan seorang laki-laki?

Amplop tak bersalah dalam genggaman Sasuke seketika terkena imbasan cengkramannya. Memikirkan hal seperti itu malah membuat dadanya panas. Tanpa segan, Sasuke langsung menyeruput jus tomat yang sesaat lalu dipesannya. Bagaimanapun juga, saat ini Sakura telah berstatus sebagai kekasih pura-puranya. Tolong garis miring kata 'pura-pura' itu, karena sampai detik inipun sebenarnya mereka belum sekalipun pernah berpura-pura sebagai sepasang kekasih di depan siapapun, uh.

Aneh, 'kan. Jadi silakan beri saja tanda tanya besar pada kata 'kekasih' itu. Kata itu memang patut dipertanyaan keabsahannya.

Tapi tetap saja, ia tidak boleh melakukan itu—pokoknya tidak boleh.

Sekali gelengan, Sasuke berusaha mengusir pikiran 'jangan-jangan'nya tadi.

Mulai dari jangan-jangan Sakura janjian dengan laki-laki lain sampai jangan-jangan Sakura selingkuh di belakangnya—heh!

Tunggu, selingkuh? Bagaimana mungkin dikatakan selingkuh kalau jadian saja belum pernah?

Sasuke mencibir dirinya sendiri, bagaimana bisa ia berpikiran yang seperti itu sih. Ia seruput lagi jus tomat favourite-nya dengan sekali isapan. Ia pasti sudah gila, karena sempat merasa tak rela jika Sakura dekat dengan orang lain selain dirinya. Sadarlah, batin Sasuke mengingatkan diri.

Lagipula jika ini bisa disebut selingkuh, artinya Sakura selingkuh tepat di depan matanya—bukan di belakangnya.

UHUK

Sasuke refleks tersedak begitu sekelibat bayangan merah melintas di depan matanya, berjalan menjauh mendekati gadis di pojok sana.

Sasuke menelan ludah. Pikiran 'jangan-jangan'nya semakin menjadi-jadi tanpa sempat ia sensor.

SRET

Pemuda berkulit putih bak porselen itu berhenti tepat di sisi meja Sakura. Ia berbincang sejenak dengan sang gadis sebelum duduk tepat di hadapannya.

Sasuke syok—dalam hati, tentu saja. Tanpa sadar, pipet jusnya yang semula ia mainkan di ujung jarinya kini sudah ia gigit dengan gemas. Manik kelamnya menyorot intens punggung pemuda berambut merah itu dari kejauhan.

Apa-apaan orang itu!

Sasuke mendengus jengkel, gagal menangkap pembicaraan kedua makhluk beda gender itu dari gerakan bibir mereka yang saling tukar-menukar kata. Hatinya getar-getir tak nyaman, rasanya ia ingin sekali ikut nimbrung di meja sana.

Begitu hendak mengaduk gelas setengah kosongnya lagi, manik Sasuke mendadak tertumbuk pada secarik amplop yang tergeletak lusuh di atas mejanya. Ia jadi teringat niat awalnya datang ke cafe itu sebenarnya.

Ia—seorang pengacara kelas atas—ingin bertemu dengan client-nya.

Ke mana perginya profesionalismenya kalau begini, heh?

Begitu menyadari hal penting yang sempat terlupakan olehnya, Sasuke lekas-lekas menarik pandangan pada jam tangannya lagi. Tepat pukul dua siang—waktu janjiannya telah tiba. Langsung saja ia menekan tombol 'dial' pada si Senju.

'Moshi-moshi,' suara wanita muda menyapa indera pendengarannya.

'Hn, Anda di mana?'

'Saya sudah di cafe.'

Kening Sasuke mengernyit. 'Di bagian mana? Saya juga sudah sampai sejak tadi,' timpalnya balik.

Terdengar suara kasak kusuk sejenak sebelum yang di seberang kembali angkat suara. 'Di meja pojok.'

Sasuke bangkit berdiri, menerjang setiap pojokan dengan manik kelamnya.

Barulah sedetik kemudian ia dikagetkan oleh sesosok merah jambu yang sedang berdiri kaku di ujung sana—sembari memegang handphone miliknya di samping telinga.

Apa ini?

'Sakura?' Sasuke memastikan.

Sakura mengangguk dengan gerakan kikuk. Matanya masih tak melepas pandangan dari laki-laki bersetelan hitam yang berdiri memandanginya di seberang sana.

'Sasuke-san?' Kali ini nada ragu terdengar dari vokal yang berbeda.

'Hn?'

Sakura menggaruk pipinya yang tak gatal. 'Kau yakin tak salah telepon?'

.

.

.

TBC

Saya khawatir Sasukenya mulai OOC di chap ini wahahaah abis saya gemyeeees sih liat pengacara lajang itu uh keliatannya aja dewasa, aslinya gampang kumat childishnya kalo di depan orangorang tertentu #uhuk #digampar

Maaf apdetnya lama, gays. Saya lagi kebanyakan tugas dan kegiatan di kampus, jadinya halhal lain terlantarkan huhu skali lagi maap banget yaaak T3T

Buat urusan balesbales review, saya serahin ama Cho wkwk #kabur


*tiba-tiba muncul*

oke, chap ini saya jatah bales review dari readers yang alhamdulillah banget banyak ngasih masukan positif. saya dan bii nggak nyangka fic colab pertama kita dapet respon seperti ini *peluk readers-reviewers*

Maaf juga karena saya dan bii LDR jauh banget(apasih) jadi kita sering ngaret ngepost perkara waktu kosong kami sering tidak jatuh pada saat yang sama. sebenernya bii udah ngupload fic ini ke dokumen dari beberapa hari yang lalu, cuman karna waktu itu saya tidak punya banyak waktu jadilah ngaret yang super ini. bukannya nggak bisa nyisain waktu, cuma karena saya dan bii sepakat bahwa review harus di bales satu-satu sehingga membutuhkan kesenggangan waktu yang lumayan juga.

duh aku banyak bicara.

baiklah, ini balasan review untuk yang non log in :) yang log in check pm.


Haruno Cherry : ini udah update lagi, makasih ya reviewnya :)

Ruki Schiffer : haha iya itu adegan sumpit jatuh hasil dari banyolan kami di telepon, eh malah jadi ide wkwk makasih reviewnya :)

Sabila Foste : iniudah lanjut kok hehe makasih ya reviewnya :)

NameguesT : iya sakuranya memang sengaja kita bikin polos2 gemesin haha makasih ya reviewnya :)

Guest : umur sakura kira-kira 20an lah ya *plak* makasih reviewnya :D

shintaxsurya : ini udah update kok :D makasih revienya

sendoh : hihi ini udah update kok:) makasih reviewnyaaaa

SSL : wahhh makasih, hehe syukur kalo km suka. ini udah update kok :) makasih reviewnyaaa

Leciblossom : wkwk iya sakuranya memang polos hehe makasih revienyaaa :)

Guest : kyaaa makasih udah sukaaaa wkwkwk di kecup malah, kecup balik dari kita berdua :D makasih revienya.

kilua akasuna : eks-suaminya saku masih di rahasiakannnn wkwkwkw makasih reviewnyaaa :)

anNie : iya aku juga nggak mau nolek hehe makasih ya reviwnyaaa :D

vitri : ini udah update kok :D makasih ya reviwnyaaa

sakura sweetpea: wkwk alhamdulillah kalo keren :D makasih loh reviewnya, ini sudah update hehehe

mutiara : ini sudah update, makasih loh reviewnya :D

ray elisabet : hehe iya makasih ya reviewnya :D

Hana : wkwk iya judulnya alay karna niatnya pelepas penat aja sih ini fic hehe makasihnya reviwnya :D

ayuuuuu : ini udah lanjut kok hehe, suami saku dirahasiakaaannn wkwkwk nanti deh tahu sendiri :D Makasih ya reviewnya

Fina-chan : ini udah lanjutttt, makasih reviewnya :)

uchiha cheery : ini udah lanjut :D makasih reviewnyaa

yuli : makasih :D

fetry : hehe kan biar penasaran, makasih reviewnyaa

akhir kata... terimakasih untuk kalian :D :*

LOLOBII :*