Sasuke's POV
Bel istirahat berbunyi, teman-teman sekelasku mulai berhamburan keluar, menyisakan diriku berdua dengan Sakura. Ya, kami memang sekelas.
.
.
.
"Sasuke-kun" dia menghampiriku dan berdiri tepat disamping mejaku. Aku meraih tangan putihnya, ku genggam dengan erat.
"Kau pasti akan makan siang dengan Hinata" ucap Sakura pelan, mata emerald nya menayap sendu ke arahku.
"Tidak, aku akan makan siang bersamamu" aku langsuung bangkit, lalu berdiri dihadapannya.
"hah? apa?" Sakura terlihat kaget. Aku hanya tersenyum, kemudian sedikit merunduk dan mendekatkan wajahku ke arah wajahnya.
"Kita akan makan siang bersama" tanpa pikir panjang lagi, aku menggandeng tangan Sakura keluar kelas. Melewati banyak tatapn curiga siswa-siswi, ya karena selama ini yang mereka tahu adalah aku berpacaran dengan Hinata.
"Sasuke-kun, lepas. Aku takut Hinata melihat kita" Sakura mulai berusaha melepaskan genggamanku, tentu saja aku tidak mau melepaskannya.
"Biarkan saja dia melihatnya. Dengan begitu, dia akan sadar kalau aku sudah tidak mencintainya lagi" sahutku dingin, itu cukup membuat Sakura terdiam.
'Kantin'
Kami segera mencari meja kosong, setelah memesan makanan, kami langsung duduk dengan posisi berhadapan. Sakura mulai bercerita tentang banyak hal kepadaku, aku hanya diam mendengarkan dan sesekali aku terkekeh pelan ketika mendengar ceritanya.
Aku merogoh saku celanaku krtika ku merasakan ponselku berdering.
'Palingan dari gadis bodoh itu' batinku.
'Aniki?'
Ck, ternyata dari Itachi. Aku sedikit heran, sudah semenjak kemarin tidak ada satupun pesan masuk dari Hinata. Biasanya setiap lima menit sekali dia akan mengirim pesan tidak penting yang langsung memenuhi 'inbox' pesanku. Dan biasanya saat istirahat seperti ini, Hinata akan sibuk mencari diriku. Tapi sekarang? Bahkan dari tadi pagi aku belum melihatnya sama sekali. Bukan bermaksud khawatir atau sedih, tapi aku sangat senang jika dia tidak mengangguku.
.
.
.
Hinata's POV
Aku sengaja tidak membawa bekal hari ini, dan aku sudah memutuskan untuk berdiam diri dikelas saar istirahat. Pikiranku berkecamuk dan hatiku masih terasa sangat sesak, sesekali airmata membasahi pipiku. Aku tidak tahu harus berbuat apa, kecuali mungkin aku hanya bisa menangis.
"Hinata, tadi aku melihat Sasuke dan Sakura dikantin" Ino berlari ke arahku, napasnya tersengal-sengal.
"Benarkah? itu bagus" sahutku lirih. Aku melipat kedua tanganku diatas meja dan membenamkan wajahnya disana.
"Hinata kenapa kau berbicara seperti itu?" Ino menyentuh dan mengusap punggungku.
"Kau tahu Ino, aku merasa Sasuke sudah tidak mencintaiku lagi" airmata ku kembali pecah, aku mulai terisak.
"Hinata jangan menangis~ Dasar Uchiha bodoh! Lancang sekali dia berselingkuh"
Aku hanya diam mendengar ucapan Ino.
'Sasuke-kun, kenapa kau tega melakukan ini padaku?"
.
.
.
Sasuke's POV
Sudah tiga hari berlalu, dan sudah tiga hari juga Hinata tidak menampakkan dirinya dihadapanku. Dia juga tidak mengirimi ku pesan, saat disekolah pun aku tidak pernah melihatnya lagi. Apakah ia sadar kalau aku sudah tidak membutuhkannya lagi? Apakah Hinata juga telah berselingkuh seperti yang aku lakukan padanya? Kalaupun iya, aku sudah tidak peduli.
Aku turun perlahan dari mobil sport hitam milikku, melangkah pelan memasuki sekolah elit yang terkenal ini.
"Hinata-chan! Gaara mencarimu"
Langkah ku terhenti ketika mendengar teriakan cempreng Ino. Aku menoleh mencari sumber suara dan sekarang aku mendapati sosok gadis yang sangat aku kenal. Dia sedang berdiri dengan membawa tumpukkan buku dalam pelukannya. Aku meulai menejamkan alat pendengaranku, aku ingin mendengar apa yang sedang Hinata dan Ino bicarakan.
"Gaara mencarimu. dia menunggu mu di UKS"
"U-untuk apa d-dia mencariku?"
"Entahlah. aku tidak tahu. Mungkin Gaara merindukanmu Hinata-chan"
"M-mana mungkin"
"Sudahlah cepat sana pergi"
Hinata mulai melangkah pergi, dan sepertinya dia menuju UKS.
"Cih, ternyata kau selingkuh juga" gumamku, aku terus mengikutinya secara diam-diam dari belakang. Aku segera bersembunyi ketika melihat sosok berambut merah yang didekati Hinata. Aku tidak bisa mendengar jelas apa yang mereka berdua katakan. Sesekali aku melihat Gaara tertawa dan Hinata tersenyum. Sampai aku merasakan sesuatu yang aneh dalam tubuhku. Tanganku mengepal keras, jantungku berdetak kencang, gigiku menggeretak dan~ hatiku merasa sesak. Aku cemburu? entahlah, aku tidak tahu. Tapi entah kenapa rasanya ingin sekali meninju wajah pria bermata jade itu lalu menyeret Hinata pergi dari sana. Dengan langkah cepat, aku segera berlalu dari sana. Jika aku terus-terusan disana, mungkin aku sudah tidak dapat mengontrol diriku lagi.
.
.
.
Hinata's POV
Aku menggenggam erat boneka manekin kecil pemberian Gaara. Boneka yang sangat mirip dengankun Gaara bilang dia memesannya khusus untuk diriku. Sudah tiga hari aku tidak bertemu dengan Sasuke. Setiap aku melihatnya dari kejauhan, dengan sesegera mungkin aku menghindar dan bersembunyi. Aku sedang berusaha untuk melupakannya, tapi sepertinya itu tidak mungkin. Bayangannya selalu muncul dalam pikiranku.
"Disini kau rupanya"
Mataku membelalak kaget mendengar suara tersebut, aku benar-benar hapal suara itu
"S-Sasuke-kun?" aku membalikkan tubuhku, dan mendapati sosok pria yang sangat kurindukan sedang berdiri menatap tajam ke arahku.
"Wow, lihat! Apakah itu adalah pemberian dari si 'Rambut Merah'?!" Sasuke mengambil dengan kasar boneka kecil tersebut, lalu melemparnya sampai pecah. Aku hanya tidak percaya dengan apa yang Sasuke lakukan.
"Jadi, kau berselingkuh Hinata?" pertanyaan dingin yang Sasuke lontarkan membuat dirku tercekat.
'Aku? Selingkuh? Bagaimana mungkin aku bisa berpaling darimu? Bahkan kau yang menduakanku Sasuke-kun' jeritku dalam hati.
"T-tidak S-Sasuke-kun! A-aku dan G-Gaara-kun hanya berteman" aku benar-benar takut. Sasuke semakin mempersempit jarak diantara kami, dia mulai menghimpit tubuhku.
"Bahkan kau memanggilnya dengan sebutan 'Gaara-kun', itu sangat romantis" bisiknya ditelingaku, secara perlahan aku berusaha mendorong dadanya untuk menjauh.
"A-aku tidak s-selingkuh"
"Jangan bohong!" Sasuke semakin membentakku.
"A-aku t-tidak selingkuh t-..." aku tidak bisa menlanjutkan kata-kataku. Saat aku ingin berkata kalau dialah yang selingkuh, tiba-tiba lidahku terasa kelu. Aku tidak ingin dan tidak bisa menyakiti hati Sasuke, jadi mungkin jika lebih baik aku saja yang merasakannya.
"Kalau aku melihat dirimu lagi bersama 'Setan Merah' itu, maka aku akan membunuhnya" Sasuke sedikit mencengkram kuat lenganku, dan itu rasanya sangat sakit. Aku dapat melihat tatapannya yang penuh amarah dan kekeselan.
'Apa mungkin Sasuke-kun cemburu?' lagi-lagi aku berpikir hal konyol seperti itu.
"A-aku akan m-menjauhi Gaara-kun"
"Terus saja kau memanggilnya dengan sebutan itu!" Sasuke kembali membentakku, setelah itu ia langsung pergi berlalu meninggalku yang hanya bisa menangis.
.
.
.
Sasuke's POV
Setelah insiden tadi pagi, moodd ku langsung berubah buruk. Hatiku masih terasa sangat kesal melihat Hinata dengan dengan si 'Rambut Merah' itu.
'Mungkingkah aku cemburu?' Cih, aku menepis jauh-jauh perasaan itu. Toh, aku kan sudah tidak mencintai Hinata lagi. Tapi aku benar-benar benci melihat kedekatan mereka berdua.
.
.
.
.
TBC
^^ RnR ^^
Review kalian adalah mitovasi ku
