Hajimemashite^^

Author masih bingung mau bikin ending yang kaya gimana? -'

Antara Hinata yang berpaling dari Sasuke atau Hinata yang meninggal? :D

Aku butuh pendapat kalaian semua!


MASASHI KISHIMOTO


Sasuke's POV

Setelah insiden tadi pagi, moodd ku langsung berubah buruk. Hatiku masih terasa sangat kesal melihat Hinata dengan dengan si 'Rambut Merah' itu.
'Mungkingkah aku cemburu?' Cih, aku menepis jauh-jauh perasaan itu. Toh, aku kan sudah tidak mencintai Hinata lagi. Tapi aku benar-benar benci melihat kedekatan mereka berdua.

.

.

.

"Sasuke-kun" aku sedikit kaget saat Sakura memanggilku, dia langsung membuyarkan lamunanku.

"Ada apa?" tanyaku sambil menepuk-nepuk tempat duduk kosong disebelahku, mengisyaratkan agar Sakura duduk disampingku.

"Kulihat sejak pelajaran dimulai kau kelihatan tidak fokus Sasuke-kun. kenapa? apa kau ada masalah?" Sakura bertanya, tangan halusnya menggenggam tanganku.

"Tidak apa-apa" jawabku sambil tersenyum tipis dan hanya dibalas anggukan olehnya.

Saat aku sedang fokus mendengarkan perkataan Sakura, tiba-tiba saja alat pendengarku tidak sengaja mendangar...

"Oi Gaara! sepertinya kau sedang dekat dengan Hinata?"

"Kalau iya, kenapa?"

" Hahaha, tidak apa-apa. Tapi bukannya Hinata adalah kekasinya Sasuke?"

"Kau masih beranggapan seperti itu. Lihat saja setiap hari, Sasuke selalu berdua dengan seorang gadis yang kalau tidak salah adalah teman sekelasnya juga"

"Ah benar juga. Jadi, apa kau akan merebutnya dari Sasuke?"

"Tentu saja. Aku akan memilikinya, memiliki Hinata seorang"'

Telingaku terasa panas. Lagi-lagi hatiku bergejolak marah karena mendengar perbincangan tak berguna tadi. Dengan cepat, aku segera bangkit meninggalkan Sakura. Tapi sebelum itu, aku mengatakan padanya kalau aku ada urusan penting.

.

'Ketemu'

Aku berhasil menemukan Hinata, dia sedang duduk mengobrol dengan Ino. Aku menghampirinya dan langsung menyeret Hinata.

"Hey kau apa-apaan Sasuke?! Lepaskan Hinata" gadis pirang itu berusaha mencegahku.

"Menjauhlah atau akan kubunuh kau!" ancam ku dengan nada dingin.

"I-Ino aku t-tidak apa-apa su-..."

"Diamlah!" bentakku, kutatap tajam sepasang mata amethyst miliknya.

Aku menyeret kasar tubuh Hinata ke atap sekolah. Ku hempaskan dengan keras tubuh mungilnya ke tembok. Kulihat dia sepertinya ketakutan, tubuh mungilnya gemetar, kepalanya tertunduk, dan aku dapat mendengar isak tangisnya.

"Jangan menangis" aku mulai emndekatinya, memenjarakan tubuh gemetarnya dengan kedua tangan kekarku.

"Aku sudah bilang padamu Hinata, jauhi Gaara!" suara bariton ku terdengar saperti akan meledak.

"A-aku t-tidak mendekatinya l-lagi S-Sasuke-kun, sungguh aku t-tidak berbohong" aku benci saat mendengar dia bebricara gagap seperti itu.

"Apa kau ingin benar-benar aku marah padamu Hinata heh?!" aku mencengkram kasar dagunya, memaksanya untuk menatap mataku.

"M-maaf S-Sasuke-kun, maafkan a-aku"

"Aku sudah muak padamu Hinata" saat aku mengatakan itu, Hinata terperangah mendengarnya, airmata nya semakin menjadi-jadi.

"A-aku s-sangat m-mencintaimu S-Sasuke-kun" ucapnya lirih, Hinata mencoba memelukku tapi aku kembali mendorong tubuh kecilnya menjauh dariku.

"Buktikkan kalau kau memang mencintaiku, jauhi 'Setan Merah' itu" aku segera melangkah pergi meninggalkannya. Hinata hanya berdiam diri, isak tangisnya dapat kudengar dengan jelas tapi aku tidak peduli.

Aku menuruni anak tangga dengan tangan mengepal keras, kini sasaranku adalah 'Setan Merah' itu. Kulihat dia sedang duduk membaca buku bersama teman-temannya. Dengan langkah cepat, aku hampiri Gaara dan...

'Bughhh'

Aku meninju tepat diwajahku. Sebagian temannya langsung menarik tubuhku, dan sebagian lagi berhamburan ke arah Gaara yang terhempas lumayan jauh.

"Apa kau gila Sasuke? kenapa kau memukul Gaara?"

"Kau bangsat Sasuke!"

"Apa yang kau lakukan Sasuke?"

Teman-teman 'Setan Merah' itu mulai mencaci maki diriku. Aku hanya diam, aku hanya terus menatap mata jade itu yang terus menatap balik ke arahku.

"Kau! Jauhi Hinata!" jari telunjuk ku menunjuk tepat didepan wajahnya. Tapi apa yang kudapatkan? Gaara malah menyeringai.

"Tidak akan, dan tidak akan pernah. Aku akan memilikinya, memiliki cintanya" Gaara masih menyeringai sambil mengusap ujung bibirnya, kulihat ada darah yang menempel disana.

"Berengsek!" umpatku, tanganku mengepal dengan keras.

"Kau yang berengsek Sasuke!" cih, memangnya dia pikir dirinya siapa, beraninya menghinaku seperti itu.

"Kau telah menduakan Hinata, kau telah berselingkuh dibelakangnya! jadi kau lah yang berengsek!" aku sedikit kaget mendengarnya.

"Itu bukan urusanmu" aku segera melangkahkan kakiku pergi menjauh dari sana, namun lagi-lagi aku mendengar teriakan Gaara...

"Kau ingat baik-baik Sasuke! kau akan menyesal telah menyakiti Hinata, kau telah membunuhnya secara perlahan"

aku mencoba tidak peduli dengan kata-katanya barusan, aku langsung melenggang pergi menuju kelasku.

.

.

.

Hinata's POV

Aku hanya bisa melamun atas apa yang terjadi hari ini, dan itu benar-benar membuatku pusing. Sikap Sasuke semakin kasar padaku.
'Haruskah aku berpaling darinya?' tiba-tiba terlintas hal seperti itu dipikiranku. Dengan segera aku menggeleng-gelengkan kepalaku, aku tidak akan pernah melakukan itu dan tidak akan pernah. Hatiku benar-benar terasa perih, rasanya begitu sulit untuk bernapas, begitu sakit.

Bel pulang berdering, aku meraih tas ku dan langsung menuju keluar kelas. Langkahku terhenti ketika melihat Sasuke yang sedang berdiri bersandar ditembok dengan kedua tangannya yang berada didalam saku celananya. Aku kembali melangkah dengan gemetar, ku tundukkan kepalaku dalam-dalam.
'Aku berharap dia tidak melihatku, Kami-Sama' aku terus berdoa dalam hati, dan terus mengendap-ngendap berjalan malaluinya. Aku melirik ke arah wajah Sasuke, matanya sedang terpejam.

"kau mau kabur dariku heh?"

Aku tercekat, aku menelan ludah dan kembali membalikkan badanku. Ternyata Sasuke sudah berdiri tepat dibelakangku.

"A-aku t-tidak kabur" jawabku, dengan penuh kebaranian aku menatap mata onyx nya. Tiba-tiba Sasuke menarik tanganku dengan kasar.

"Kau pulang bersamaku" kata-katanya terdengar dingin, aku hanya menurut dan tidak mau berontak. Jemari besar miliknya memasuki jemari kecilku, Sasuke menggandeng tanganku. Telapak tangan kasarnya menggenggam tanganku begitu erat, aku tersenyum miris saat mengingat kapan terakhir kali Sasuke menggandeng tanganku, itu sudah lama sekali, bahkan aku tidak bisa mengingatnya dengan pasti. Aku sedikit bahagia, sudah lama sekali aku dan Sasuke tidak seperti ini. Kami berjalan beriringan dikoridor sekolah menuju parkiran mobil. Dia mengeluarkan kunci mobilnya, mematikan alarm mobil dan segera menyuruhku masuk.

Selama dalam perjalanan, tidak ada yang bebricara. Aku hanya diam, begitupun Sasuke. Aku sedikit canggung, padahal saat dulu kami selalu bercerita banyak hal jika sedang berduaan didalam mobil sport hitam milik Sasuke.

Tunggu dulu, ini bukan arah pulang kerumahku tapi ini adalah...

"K-kita ke apatemen mu S-Sasuke-kun?" aku bertanya, tapi yang ditanya hanya diam, dia tidak menjawab.

Setelah mobilnya terparkir dengan rapi, Sasuke kembali menggandeng tanganku. Aku melirik ke arah wajahnya, aku bisa lihat tatapan dinginnya dengan aura menyeramkan menguar dari dalam tubuh Sasuke. Tapi itu tidak masalah, aku senang bisa kembali berduaan dengan Sasuke, setidaknya aku merasakan sedikit kebahagiaan. Walau mungkin Sasuke sudah tidak mencintaiku, tapi aku bersyukur karena dia masih menginginkan aku untuk berada disampingnya, setidaknya dia 'masih belum' mengusirku pergi dari hidupnya.

.

.

.

Sasuke's POV

Aku menggandeng tangan kecil milik Hinata, aku melirik sedikit ke arahnya, kulihat Hinata hanya diam dan kepalanya terus tertunduk. Poni biru tua nya sedikit menutupi sebagian wajahnya, membuatku sulit memandang wajah manisnya. Baiklah, aku akui kalau Hinata itu jauh lebih manis dibanding Sakura. Tubuhnya lebih mungil daripada tubuh Sakura, dia jauh lebih lembut daripada Sakura, dan banyak sekali kelebihan yang Hinata punya melebihi diri Sakura. Tapi entah kenapa aku merasa bosan padanya, aku merasa cintaku perlahan memudar pada Hinata, itu sebabnya aku selingkuh. Dan soal perasaan, aku kembali menimang-nimang hal itu.
'Apakah aku masih mencintainya?'
Aku terus memikirkan hal itu, argghhhh! itu benar-benar membuatku stres.

.

.

.

.

.

TBC

^^ RnR ^^

Review kalian adalah penyemangatku^^