Hajimemashite!

Maafkan author kalau kalian banyak menemukan typo dan maafkan juga kalau chap nya terlalu pendek^^

di chap ini Gaara belum muncul, tapi di chap selanjutnya Gaara akan datang dengan membawa banyak kebahagiaan untuk Hinata.

Dan soal Sasuke, emh entahlah. Author belum menemukan hukuman yang tepat untuk si 'tampan'.


MASASHI KISHIMOTO


Sasuke's POV

Aku menggandeng tangan kecil milik Hinata, aku melirik sedikit ke arahnya, kulihat Hinata hanya diam dan kepalanya terus tertunduk. Poni biru tua nya sedikit menutupi sebagian wajahnya, membuatku sulit memandang wajah manisnya. Baiklah, aku akui kalau Hinata itu jauh lebih manis dibanding Sakura. Tubuhnya lebih mungil daripada tubuh Sakura, dia jauh lebih lembut daripada Sakura, dan banyak sekali kelebihan yang Hinata punya melebihi diri Sakura. Tapi entah kenapa aku merasa bosan padanya, aku merasa cintaku perlahan memudar pada Hinata, itu sebabnya aku selingkuh. Dan soal perasaan, aku kembali menimang-nimang hal itu. 'Apakah aku masih mencintainya? Aku terus memikirkan hal itu, argghhhh! itu benar-benar membuatku stres.

.

.

.

Kubuka pintu apartemen, aku masih menggandengnya, aku menyuruh Hinata duduk disofa dan segera ku pergi meninggalkannya menuju kamar.

Ku hempaskan tabuhku ke ranjang besar dikamarku, mataku terpejam, tiba-tiba terbayang wajah cantik Sakura diotakku.
"Sakura" gumamku pelan. Dengan segera ku raih iPhone ku, ku nyalakan layarnya, kupandangi wallpaper ponsel yang menggunakan foto Sakura. Aku tersenyum, ya untuk sekarang ini hanya Sakura lah yang bisa membuatku tersenyum. Foto Sakura terlihat sangat cantik, dia tersenyum dengan mata emeraldnya yang indah membentuk lengkungan seperti senyuman.

Lagi-lagi otakku memikirkan dua perempuan yang hadir dalam hidupku. Yang pertama Hinata, kemudian Sakura. Keduanya berstatus sebagai 'kekasih' ku, tapi aku tidak mencintainya keduanya, aku hanya mencintai Sakura~ Gadis periang berambut pink yang membuatku hidupku jauh lebih berwarna. Tidak seperti Hinata, gadis itu selalu membuatku kesal~ cih, benar-benar gadis bodoh yang memuakkan. Mungkin aku akan segera mengakhiri hubunganku dengannya.

.

.

.

Hinata's POV

Aku hanya diam duduk mematung disofa, Sasuke meninggalkanku dan dia masuk kekamarnya. Aku menghela napas panjang, ku memperhatikan keadaan sekitar. Dulu Sasuke sering mengajakku ke apartemennya, bukan untuk belajar bersama malainkan menghabiskan waktu berdua seperti memasak bersama, menonton film bersama atau bermain PS bersamanya.
'Aku benar-benar menginginkan hubunganku seperti dulu Kami-Sama'
Aku berdoa dalam hati, mataku terpejam, airmataku pun ikut menetes.

'cklekk'

Aku menoleh, Sasuke berjalan menghampiriku dan sepertinya dia baru selesai mandi. Sasuke hanya menggunakan boxer hitam dengan handuk kecil yang menggantung dilehernya, rambut hitam nya yang masih basah menyebabkan banyak tetesan embun disetiap ujung rambutnya, memperlihatkan tubuh atletis miliknya yang menggoda banyak kaum hawa- termasuk diriku. Sasuke duduk disampingku, aku tidak berani menoleh kearahnya, aku masih terlalu takut.

"Aku lapar" Sasuke menyentuh poniku, mata kami saling bertemu, dan aku rasa pipiku mulai memerah.

"A-aku akan m-memasak untukmu" aku segera bangkit dari duduk dan berlari kedapur. Jantungku selalu berdegup cepat jika diperlakukan seperti itu oleh Sasuke, aku menepuk-nepuk pipiku yang menjadi merah, tidak seharusnya aku merona seperti ini.

.

.

.

Sasuke's POV

Ku perhatikan baik-baik Hinata yang sedang memasak. Aku memandanginya dari belakang, seperti nya dia tidak tahu jika aku sedang memperhatikannya. Mata kelamku menatap intens tubuh Hinata yang tertutupi seragam sekolah. Sesekali pinggulnya bergoyang, membuat rok pendeknya tersingkap keatas dan aku bisa melihat jelas celana dalamnya yang berwarna putih.
Dengan langkah senyap, aku mendekatinya, berdiri tepat dibelakangnya. Ku lingkarkan tanganku pada pinggang rampingnya, sepertinya Hinata terperangah karena aku memeluk nya dengan tiba-tiba.

"Aku lapar dan ingin memakanmu Hinata" bisikku parau tepat ditelinganya, aku bisa melihat rona merah mulai menjalar dipipi nya yang chubby.

"S-Sasuke-kun a-aku s-sedang memasak, j-jangan ganggu" Hinata mulai berontak. Aku tidak peduli, aku tetap memeluknya, membenamkan wajahku dilehernya yang jenjang dan putih, mencium dalam-dalam aroma lavender yang melekat pada tubuhnya.

"S-Sasuke-kun l-lepas"

"Cepatlah, aku sudah lapar sekali" ku hembuskan napasku dilehernya, dan itu membuat Hinata sedikit kegelian.

"I-ini hampir s-selesai, k-kau tunggulah dimeja makan" kulepaskan pelukannya, dan segera duduk manis menunggu makanan yang telah Hinata buatkan. Kalau soal masakan, lebih baik kalian jangan bertanya. Rasanya sungguh sangat lezat, tiada yang dapat menandinginya, bahkan Sakura pun tidak terlalu hebat dalam hal memasak.
Hinata menghampiriku dengan membawa nampan yang berisi piring-piring yang terdapat makanan, dia meletakkan piring-piring itu secara perlahan dimeja, menatanya dengan rapi. Aku melihat ada teriyaki, sushi dan yakiniku, ah juga terdapat suama. Tanpa pikir panjang, aku mulai melahap satu per satu makanan yang telah disediakan Hinata. Mataku melirik ke arahnya, Hinata tersenyum tulus ke kepadaku. Bibir merah ranumnya membentuk lengkungan senyum, matanya hampir menyipit, dan pipi chubby nya yang semakin terlihat jelas jika sedang tersenyum.

'DEG'

Jantungku berdegup dengan cepat, dengan cepat kualihkan pandanganku. Entah kenapa hatiku sedikit miris ketika melihat senyuman itu, ketika aku membayangkan kalau aku menduakannya, ketika aku membayangkan bahwa aku telah berselingkuh dengan perempuan lain. Aku mengontrol diriku, aku tidak ingin terlihat seperti orang bodoh dihadapan Hinata. Saat aku mulai kembali makan dengan tenang, terdengar ponsel berdering, dan itu bukan milikku melainkan milik Hinata.
Aku kembali memandang kearahnya, Hinata tidak mengangkat telepon tersebut, kuperhatikan baik-baik dia seperti ketakutan. Ada yang tidak beres disini, aku menyerengit heran, tanpa bertanya aku segera merampas iPhone putih miliknya.

"S-Sasuke-kun k-kembalikan" Hinata berusaha merebutnya kembali, aku langsung mentapnya tajam, dan itu membuat Hinata tertunduk. Ku alihkan pandanganku ke layar ponselnya.

'Gaara?'

Dadaku kembali terasa sesak, amarahku kembali memuncak, kekesalan yang langsung menyelimuti tubuhku membuat diriku langsung membanting ponsel milik Hinata.

"Sudah kubilangjauhi dia!" ku pukul dengan keras meja makanku, sontak meja yang terbuat dari kaca itu langsung pecah seketika. Hinata terlihat sangat ketakutan, tubuhnya gemetaran, tapi sungguh aku tidak peduli. Aku sudah benar-benar kesal pada gadis yang sedang berdiri dihadapanku ini.

"Apa kau tuli Hinata?! jawab aku!" aku menyeret tubuh mungilnya kekamarku, menghempaskannya dengan kencang ke tepi ranjang kayu meringis seraya mengusap pinggangnya, dia mulai menangis, dan aku benci airmatanya itu.

.

.

.

Hinata's POV

Pinggangku terasa sangat sakit karena benturan cukup keras dengan tepi ranjang keras milik Sasuke. Airmataku kembali menetes, aku benar-benar cengeng. Aku hanya bisa menangis, menangis, dan menangis. Sasuke mencengkram daguku, memaksaku agar menatap wajahnya.

"Kau yang meminta Hinata, kau meminta agar aku membunuh 'Setan' itu! Aku sudah memperingatmu bukan?! tapi sepertinya kau tidak menghiraukan itu"

'Plakkk'

Satu tamparan keras melayang ke pipi kananku, aku tidak percaya dengan apa yang Sasuke lakukan. Sasuke menampar dengan kencang pipiku, rasa perih mulai menjalar dengan hebat, bekas merah membekas dengan jelas bahkan mungkin terlihat kebiruan. Aku terus menunduk, satu tanganku menutup mulut untuk menahan isak tangisku yang mulai terdengar kencang, sedangkan satu tanganku yang lain memegang sebelah pipiku yang terasa sangat perih.

"Aku benar-benar membencimu Hinata! kau memuakkan!" Sasuke meninggalkanku dikamarnya setelah mengatakan hal tersebut, perkataan yang langsung menyayat hatiku. Dia membanting dengan keras saat menutup pintu kamarnya.

Didalam kamar yang bernuansa serba abu-abu ini, hanya terdengar isakan tangis seorang perempuan. Seorang perempuan bernama Hyuuga Hinata- itu diriku. Aku yang sangat mempedulikan Sasuke padahal dia selalu mengabaikanku, aku yang selalu berusaha untuk ada disamping Sasuke padahal dia tidak pernah lagi menyisihkan sedikitpun waktunya untukku, aku yang selalu tersenyum padahal Sasuke selalu menyakitiku, aku yang selalu memaafkan Sasuke padahal dia terus saja mengulangi kesalahannya. Dan aku, seprang perempuan yang sangat mencintai seorang pria yang telah menyia-nyiakan cinta tulus dariku.

.

.

.

Sasuke's POV

Kubanting dengan keras pintu kamarku, napasku memburu, dan hatiku juga terasa sakit. Arghhhh! aku benar-benar frustasi. Apa yang harus kulakukan padanya? Apa yang harus kulakukan pada gadis bodoh itu? Haruskah aku menyudahi hubungan sialan ini dengan dirinya? Tidak! aku tidak mau melepasnya dulu! Walau aku sudah benar-benar muak dengan Hinata, aku merasakan sebagian dari hati kecilku belum msu melepaskan dirinya. Ku jambak dengan keras rambut hitamku, aku benar-benar kacau hari ini.

'Tettt'

Aku menyerengit, bel berbunyi, itu artinya ada seseorang didepan pintu apartemenku. Sialan! siapa lagi yang ikut-ikutan membuatku kesal dengan datang bertamu disaat yang tidak tepat seperti ini. Aku tarik napas panjang, aku melangkah pelan dan membukakan pintu apartemen.

"Hai Sasuke-kun"

Sakura? Untuk apa dia kesini? Emh aku bukan bermaksud tidak senang dia datang ketempatku, tapi ini benar-benar waktu yang tidak tepat. keadaan apartemen ku sedang sangat kacau; meja makan pecah, makanan berserakan dilantai, keadaan diriku yang berantakan, dan ditambah lagi didalam kamarku ada Hinata yang sepertinya masih menangis.

"Apa aku mengganggumu Sasuke-kun?" Sakura bertanya lalu menggenggam tanganku.

'Mungkin dengan kehadiran Sakura akan membuat diriku jauh lebih tenang' pikirku. Aku menggandeng tangannya masuk, sepertinya Sakura terperangah saat melihat meja makan kaca milikku yang pecah.

"Apa yang sudah terjadi Sasuke-kun? kenapa meja nya pecah? apa ada orang yang mengobrak-mengabrik apartemenmu?" Sakura terlihat sangat khawatir, aku meresponnya dengan menggeleng dan tersenyum.

"Tidak usah dibereskan Sakura" aku mencegahnya saat Sakura mulai berjongkok untuk memunguti pecahan kaca yang berserakan, aku kembali meraih tangannya, dan membawanya untuk duduk disofa.

"Benarkah tidak terjadi apa-apa?" Sakura menyentuh kedua pipiku dan aku kembali merespon dengan hanya mengangguk.

'Cklekk'

Pintu kamar terbuka, aku melihat Hinata berjalan pelan menghampiriku. Aku bisa melihat matanya sedikit bengkak mungkin karena habis menangis, rambutnya juga agak berantakan, dia benar-benar terlihat tidak baik.

.

.

.