Hajimemashite^^

author update kilat nih :D tapi mungkin besok belum bisa update kilat lagi, karena ceritanya belum diketik- inspirasinya juga belum dapat :D


MASASHI KISHIMOTO


'Cklekk'

Pintu kamar terbuka, aku melihat Hinata berjalan pelan menghampiriku. Aku bisa melihat matanya sedikit bengkak mungkin karena habis menangis, rambutnya juga agak berantakan, dia benar-benar terlihat tidak baik.

.

.

.

"H-Hinata?" Sakura terlihat kaget saat melihat keberadaan Hinata. Aku bangkit dari dudukku, dan mencengkram lengan Hinata.

"Kau, mau kemana?" tanyaku ketus.

"Aku mau pulang, lagipula ada Sakura disini yang menemanimu" aku terperangah, saat mengatakan itu Hinata tersenyum padaku, dan berbicaranya pun tidak gagap. Aku bisa melihat jelas tanda merah kebiruan dipipi putihnya, dan bisa ku pastikan kalau itu adalah hasil karya tanganku. Ada sedikit penyesalan dihatiku saat melihat tanda merah itu.

"Tidak! kau tidak boleh pulang!" aku kembali menyeret tangannya kekamarku, Hinata berusaha melepaskannya.

"Lepaskan aku Sasuke!"

Langkahku terhenti seketika, Hinata berteriak dan yang membuatku semakin kaget adalah cara dia memanggilku. Ku lepas cengkramanku, dan ku tatap lekat-lekat sepasang mata amethyst itu. Untuk pertama kalinya aku mendengar Hinata memanggilku dengan seperti itu.

"Kau, memanggilku apa?" aku berusaha menahan geramanku. Sakura mulai menghampiri kami, kurasa Sakura mulai terlihat takut. Sakura menarik lenganku untuk menjauhi Hinata, ku lepas dengan kasar genggamannya.

"Diam Sakura! Jangan ikut campur!" aku kembali memandang ke arah Hinata.

"Sasuke, aku sudah menyerah pada rasa ini, aku ingin mengakhiri hubungan ini. Bolehkah aku memohon sesuatu padamu? Demi segala kebersamaan yang pernah kita jalani, demi sesuatu yang kita lakukan bersama, aku mohon jangan pernah lupakan kenangan kebersamaan kita"

Mataku membelalak, aku tidak percaya dengan apa yang Hinata katakan. Dia? mengakhiri hubungan ini?. Aku diam, diam membisu, lidahku terasa kelu.

"Bolehkah aku memelukmu untuk sekali saja?" aku tidak menjawab, Hinata mulai memeluk tubuhku dengan erat, hatiku merasakan sakit yang begitu mendalam saat dia memelukku.

"Hinata" ucapku lirih. Hinata langsung melepaskan pelukannya, aku bisa melihat jelas airmata yang mengalir dipipinya.

"Dan untukmu Sakura, jagalah Sasuke baik-baik. jangan pernah mengecewakan dirinya, dia adalah seseorang yang berharga untukku. Ku titip dia padamu. kau tak perlu menangis, aku tak marah padamu Sakura, sungguh. Aku mendukung hubungan kalian. Melihat Sasuke tersenyum adalah kebahagiaanku, walau dia bukan bahagia karena diriku, tapi dia bahagia karena dirimu Sakura" ku lihat Sakura juga ikut memangis, Hinata memeluknya perlahan, lalu dia pergi menjauh dariku.

'Deg'

Perih! Sakit! Sesak! Aku merasakan semua itu didalam hatiku ketika melihat punggung Hinata yang perlahan menuju ke arah pintu apartemenku.

"Berhenti Hinata!" aku memanggilnya dengan setengah berteriak, tapi dia tidak menghiraukanku.

"Aku bilang berhenti Hinata!" aku berteriak dengan keras, tapi langkah kaki kecilnya tetap tidak berhenti. Dia membuka perlahan knop pintu, dan dia menghilang dari hadapanku. Aku hanya bingung dengan apa yang terjadi, itu bukan seperti Hinata yang aku kenal. Dan dalam diriku masih merasakan rasa sakit yang luar biasa.

.

.

Hinata's POV

Aku berlari dengan kencang, berlari semauku tanpa tahu tujuannya, hanya airmata yang menemaniku dengan setia. Aku mengakhirinya, mengakhiri hubungan dengan pria yang sangat ku cintai. Tapi aku sudah tidak kuat lagi bersama Sasuke. Aku mengusap kasar pipiku, menghilangkan jejak airmata yang ada disana.
Tidak! Seharusnya aku tidak menangis! Aku hanya kehilangan seseorang yang tidak mencintaiku; sedangkan Sasuke, dia telah kehilangan seseorang yang sangat mencintainya! Tapi kenapa? Kenapa airmata ini tidak mau berhenti? Kenapa rasanya begitu sesak? Aku merasa seperti gadis bodoh.
"Tidak seharusnya aku menangis" gumamku lirih.

'Brukkkk'

Tubuhku menabrak seseorang, aku terjatuh, dengan takut ku menengadahkan kepalaku.

"G-Gaara-kun?"

"Kau baik-baik saja?" Gaara membantuku berdiri.

"Kau menangis?" tangannya dengan lembut mengusap pipiku, aku hanya diam, aku masih menangis sesenggukan.

"Kenapa dengan pipimu Hinata? kau dipukul seseorang?" Gaara bertanya dengan nada penuh kekhawatiran, tapi aku tidak menjawab.

"Hey sudahlah jangan menangis, kau tampak jelek jika menangis seperti itu" Gaara perlahan memelukku, memeluk dengan erat tubuhku yang gemetar. Tangannya membelai pelan rambutku. Aku kembali terisak, kedua tanganku kugunakan untuk menutup wajahku, aku juga merasakan Gaara yang semakin memelukku dengan erat.
Saat itu banyak orang-orang yang berlalu-lalang melewati kami dengan langkah cepat, hujan mulai turun dengan deras, membasahi tubuhku dan Gaara. Kami tidak bergerak sama sekali, aku yang hanya terus-terusan menangis, sedangkan Gaara hanya terus memelukku- berusaha menenangkanku.

.

.

Sasuke's POV

Semalaman aku tidak bisa tidur, aku masih berusaha mencerna apa yang terjadi kemarin sore. Aku masih tidak percaya dengan apa yang Hinata katakan. Dia telah mengakhiri hubungan yang telah dibina selama kurang lebih empat tahun. Cih, aku masih benar-benar tidak percaya. Dia pikir dirinya itu siapa, beraninya memutuskan hubungan seenaknya! Aku mencoba untuk menghubungi ponselnya tapi tidak bisa karena aku telah membanting ponselnya kemarin. Jangan salahkan jika aku membanting ponselnya itu, salahkan saja Gaara yang tiba-tiba menelepon disaat Hinata sedang bersamaku. Arghhh! Aku merasa benar-benar seperti orang bodoh.

Aku berpikir, untuk apa aku bingung ataupun bersedih ketika Hinata telah mengakhiri hubungan ini, bukankah aku sudah muak padanya? Tapi aku merasa hatiku terasa sangat sakit, sangat sangat sakit, rasanya begitu sesak.
Tidak! Tidak Sasuke! Tidak! Tidak seharusnya kau menyesal seperti ini! Ya, tidak seharusnya aku bersedih karena gadis sialan itu. Aku seharusnya senang, aku sudah bisa berpacaran terang-terangan bersama Sakura, dan aku tidak akan diganggu ataupun dibebani lagi oleh Hinata. Lagipula Hinata sangat mencintaiku, dan aku tidak yakin jika dia bisa bertahan tanpa diriku. Dan bisa ku pastikan, dia akan mengemis untuk kembali ke pelukanku.

Aku melirik ke arah jam dinding yang bertengger didinding kamarku, sudah jam setengah tujuh pagi. Aku segera meraih tas dan kunci mobil, sudah saatnya untuk berangkat sekolah. Dan aku juga harus menjemput Sakura terlebih dahulu. Aku menyeringai, aku ingin lihat seperti apa ekspresi Hinata nanti saat aku tiba disekolah bersama Sakura. Cih, dapat ku pastikan dia akan langsung menangis. Aku bersiul senang~ Hinata, Hinata. Kau tidak akan pernah bisa hidup tanpa diriku, kau akan kembali pada diriku.

.

.

Hinata's POV

Aku benar-benar tidak mau sekolah hari ini, tapi lagi-lagi Neji-Niisan memaksaku. Aku benar-benar tidak mau bertemu Sasuke dulu, mungkin jika aku berpapasan dengannya, aku akan langsung menangis. Sungguh, malangnya nasibku.

Kaki ku melangkah dengan tenang menuju kelas, aku terhenti seketika ketika melihat Gaara yang berdiri didepan kelasku.

"Kau sudah datang" Gaara langsung menyematkan jarinya ke dalam jariku, singkat kata- dia menggandengku.

"G-Gaara-kun, k-kau menungguku?" aku merasa pipiku mulai memerah. Banyak sekali siswa-siswi lain yang memperhatikan kami, dan ku rasa Gaara akan mengajakku ke kantin.

"Aku mengkhawatirkanmu. kau tampak seperti orang gila kemarin sore. Tentu saja aku khawatir" aku sedikit merajuk mendengar Gaara mengatakan bahwa aku seperti 'orang gila'. Gaara langsung menarik ku untuk duduk disampingnya, dan aku semakin kaget saat dia mengusap lembut pipi kananku.

"Apa masih sakit?" Gaara bertanya dengan lembut, aku masih terdiam, aku mulai gugup.

"Apa Sasuke yang melakukannya?" aku tercekat mendengar pertanyaan Gaara, dengan segera aku menggelengkan kepalaku.

"B-bukan, S-Sasuke-kun m-mana mungkin m-melakukan ini" aku menepis pelan tangan Gaara yang terus-terusan mengusap pipiku.

"Lalu? apa penyebabnya?" Gaara menggeser kursinya agar duduk lebih dekat denganku.

"I-ini k-karena emhh a-aku...emhh a-aku..."

"Sudahlah, tidak usah mengelak lagi. si 'Berengsek' itu yang melakukannya, aku tahu itu" Gaara mendekatkan wajahnya ke arah wajahku, aku bisa merasakan deru hembusan napasnya.

"G-Gaara-kun, i-ini t-terlalu dekat, b-banyak y-yang melihat k-kita" aku mendorong pelan dada bidangnya, banyak tatapan mata yang memperhatikan kami, aku juga bisa mendengar mereka berbisik membicarakan aku dan Gaara.

"Kenapa? apa aku tidak boleh berada didekatmu Hinata?" Gaara kembali menyentuh pipiku, aku sedikit merasakan perih saat telapak tangan kasarnya mengusap pipiku yang masih terlihat memar. Mata jade nya menatap ke arah mata amethyst ku, mata kami saling bertemu.

'Deg'

Jantungku berpacu dengan cepat, aku menelan ludahku. Sungguh, ini benar-benar aneh. Aku merasakan sesuatu yang aneh dalam diriku.

"Aku ingin kau mengakhiri hubunganmu dengan dia" satu tangan Gaara yang lain memegang erat tangangku.

"Emh a-aku s-sudah putus d-dengan S-Sasuke-kun" aku tertunduk lemas, lagi-lagi aku merasakan sesak, rasanya sulit sekali untuk bernapas.

"Itu bagus, dan aku ber-..." Gaara tidak melanjutkan kata-katanya, dia juga memandang ke arah lain. Aku pun mengikuti arah pandangan Gaara dan aku menemukan Sasuke yang tengah berdiri dipintu masuk kantin. Sasuke juga memandang ke arah kami, dan dia juga tengan mengandeng Sakura. Hatiku kembali merasakan sakit, mataku mulai memanas, rasanya ingin sekali menangis. Aku sedikit kaget saat Gaara bangkit, tangannya masih menggenggam tanganku.

"Ayo kita pergi Hinata, aku tidak mau ada 'Pengacau' yang akan merusak kedekatan kita" Gaara berbicara dengan nada yang keras, aku hanya terus tertunduk. Kami berjalan melewati Sasuke yang masih diam mematung, aku bisa melihat tangannya yang mengepal dengan keras. Sesaat aku juga bisa melihat sepasang mata jade dan onyx yang saling bertemu, tatapan yang seakan mengartikan untuk saling membunuh satu sama lain, dan aura yang benar-benar mencekam diantara keduanya.
Kami berlalu melewati Sasuke, aku sedikit menolehkan kepalaku kebelakang, dan aku mendapati Sasuke yang masih berdiri mematung dengan tangan yang masih mengepal.

"Untuk apa kau memandanginya terus?" aku sedikit tercengang perkataan Gaara. Tak lama bel berbunyi, Gaara mengantarkan ku sampai depan kelasku. Bahkan sebelum dia pergi, Gaara menyempatkan diri untuk kembali mengusap pipiku dengan lembut.

'Kenapa dia begitu baik padaku?'

.

.

.

.

TBC

^^ RnR ^^