Hajimemashite^^
Author update kilat~ Tadinya mau update besok, tapi karena review dari kalian semua yang membuat author ingin cepat-cepat update^^
Mungkin GaaHina ataupun SasuSaku cuma selingan, chapter kedepannya mungkin akan penuh konflik SasuHina
Soal masalah ending, author sudah menemukan ending yang tepat dan sedang diketik. Mungkin kalian tidak akan menyangka jika akan ada ending seperti itu nanti^^
dan soal chapter, mungkin akan berakhir diatas chapter 10; karena author masih ingin menulis cerita ini sampai panjang^^
Inspirasi Fanfic ini adalah lagu Super Junior KRY - In My Dream, mungkin kalian juga harus mendengarkannya^^
MASASHI KISHIMOTO
"Untuk apa kau memandanginya terus?" aku sedikit tercengang perkataan Gaara. Tak lama bel berbunyi, Gaara mengantarkan ku sampai depan kelasku. Bahkan sebelum dia pergi, Gaara menyempatkan diri untuk kembali mengusap pipiku dengan lembut.
'Kenapa dia begitu baik padaku?'
.
.
.
Sasuke's POV
Sial! Sial! Sial! Sial! Sial! Sial! Sial!
Aku terus mengumpat kesal dalam hati. 'Setan Merah' itu, berani-berani dia menyentuh Hinata. Tangan sialan itu telah berani menyentuh wajah Hinata. Arghhhh! aku meremas frustasi rambutku, tidak peduli jadi berantakan seperti orang gila. Tidak seharusnya ini terjadi! Yang seharusnya terjadi itu adalah Hinata yang menangis karena melihat diriku tengah menggandeng Sakura; bukannya malah mata ku yang melihat pemandangan Hinata dan Gaara yang sedang duduk berduaan dikantin, ditambah lagi Gaara yang beraninya menyentuh wajah Hinata.
Apa yang terjadi pada dirimu Sasuke?! Mengapa begitu sulit rasanya mengendalikan diri jika sudah melihat Hinata dengan pria lain? Apa yang harus kulakukan? Kenapa hati ini rasanya begitu sakit ketika melihat Hinata bersama pria lain? Kenapa rasanya begitu sesak?
'Ayo pikir Sasuke! Pikir! Pikir!
"Sasuke-kun" panggilan dengan suara yang terdengar manja itu langsung membuyarkan lamunanku. Sakura duduk disampingku dan langsung bergelayut manja pada lenganku.
"Ayo kita ke kantin" Sakura memandangku seraya tersenyum.
"Baiklah, ayo kita ke kantin" aku dan Sakura langsung berlenggang menuju kantin. Sekarang adalah jam istirahat, dan aku merasa sangat tidak fokus ketika jam pelajaran tadi karena memikirkan Hinata dengan 'Setan Merah' itu.
"Sasuke-kun kita duduk disini saja" Sakura menarik tanganku untuk duduk ditempat yang dia inginkan.
"Kau mau pesan apa?" Sakura bertanya seraya memperhatikan daftar menu.
"Jus tomat" sahutku tanpa pikir panjang.
"Sasuke-kun, kau tahu, hari ini aku mendapat nilai plus-plus dari Shizune-Sensei" Sakura mulai bercerita panjang lebar, dan tentu saja aku terus memperhatikannya. Sesekali Sakura memainkan rambut merah muda miliknya dengan jari kecilnya. Dan lagi-lagi saat aku sedang fokus mendengarkan kekasihku berbicara tiba-tiba Gaara dan Hinata lewat disamping meja kami. mataku terus mengikuti gerak keduanya, aku juga bisa melihat jelas tangan 'Setan Merah' itu menggandeng tangan Hinata. Hinata dan Gaara duduk dimeja yang berjarak lumayan dekat dengan mejaku dan Sakura berada.
Ck, apa dia sengaja? Apa Hinata sengaja duduk berada didekatku agar aku bisa melihat kemesraan mereka? cih, sungguh aku tidak peduli. Aku kembeli mencoba fokus untuk mendengarkan cerita Sakura. Tapi entah kenapa telingaku justru mendengar hal yang seharusnya tidak ku dengar...
"Kau bawa menu bekal apa hari ini Hinata?"
"Emh a-aku hanya m-membawa ini G-Gaara-kun"
"Sepertinya sangat lezat, boleh aku mencicipinya?"
"T-tentu saja boleh, silahkan G-Gaara-kun"
"Ini sungguh enak Hinata, kau benar-benar ahli dalam hal memasak"
"T-tidak juga G-Gaara-kun, a-aku masih h-harus belajar banyak"
"Sepertinya aku tidak salah untuk memilih istri dan calon ibu untuk anak-anak ku nanti"
Mataku membelalak tak percaya mendengar perkataan terakhir yang terlontar dari mulut Gaara, aku pun langsung melirik ke arah mereka. 'Istri' katanya? 'Anak-anak'? cih, benar-benar membuat hatiku menjadi panas. Aku melihat Hinata yang sedang tenang memperhatikan Gaara yang asyik memakan bekal buatan Hinata. Tanpa ku sadari, tanganku mengepal keras. Seharusnya bekal itu untuk diriku! bukan untuk 'Setan Merah Sialan' itu.
Berengsek! Bahkan aku bisa melihat dengan jelas rona merah dipipi Hinata, seharusnya Hinata tidak boleh merona seperti itu! aku tidak suka! sangat tidak suka!
Aku mengalihkan pandanganku dari tempat mereka. Jika aku terus memandanginya, mungkin aku akan menghajar Gaara habis-habisan, sampai mati kalau perlu.
.
.
Hinata's POV
Aku senang Gaara mau mencicipi bekal buatanku, biasanya Sasuke yang akan menghabiskan ini semua. Tapi sekarang, itu semua hanya kenangan.
"Hinata, besok bawakan aku bekal mu lagi ya" Gaara menggenggam tanganku. Entah kenapa Gaara suka sekali menyentuh ku; apa dia tidak tahu kalau aku gugup setengah mati jika disentuh olehnya.
"B-baik Gaara-kun" saat aku ingin melepaskan genggamannya, justru itu membuat Gaara menggenggamku semakin erat. Ditambah lagi wajahnya mendekat ke arah wajahku.
'Blush'
"Aku suka saat kau merona seperti ini Hime" bisik Gaara tepat ditelingaku.
"A-aku h-harus ke toilet d-dulu" aku segera mencari alasan agar dapat menjauh dari Gaara, itu juga merupakan usaha agar Gaara mau melepasan genggamannya pada tanganku yang mulai keluar kerinat dingin. Gaara pun hanya merespon dengan mengganguk, dengan segera aku bangkit dari duduk dan menuju keluar kantin.
Saat aku baru akan melangkah masuk ke toilet, tiba-tiba ada yang menarik lenganku dan menyeret tubuhku.
"S-Sasuke-kun?" aku terperangah. Pemuda yang sangat ingin aku lupakan ini tiba-tiba membawaku ke ruang musik- ruangan yang selalu kosong atau bisa dibilang sepi. Dia menghempaskan tubuhku ketembok dengan kencang, aku merasakan sakit dipunggung karena berbenturan sangat keras. Sasuke memenjarakan tubuhku dengan kedua lengannya, dia mulai menghimpitku, kepalanya tertunduk dan wajahnya semakin dekat dengan wajahku.
"Apa karena 'Setan Merah Sialan' itu kau jadi meninggalkanku Hinata?" suara berat Sasuke benar-benar membuatku takut.
"T-tidak"
"Lalu kenapa kau terus-terusan bersamanya?!" Sasuke sedikit berteriak, mata kelam nya menatap mataku dengan penuh kekesalan.
"A-aku emh a-aku..."
"Aku apa hah?! aku apa?!" Sasuke benar-benar menghimpit tubuhku. Aku bisa mencium aroma maskulin yang menguar dari tubuhnya, aku juga sedikit merasa sesak saat dada bidangnya menekan dadaku.
"S-Sasuke-kun s-sesak" aku berusaha mendorongnya, tapi nihil, dia tetap menghimpitku.
"Sesak? Benarkah? Tapi hatiku jauh lebih sesak Hinata!"
Setelah membentakku dengan keras, Sasuke mencium bibirku. Aku terperangah, mataku membulat dengan apa yang Sasuke lakukan. Bukan ciuman lembut seperti dulu yang sering kami lakukan, melainkan ciuman yang sangat kasar dan penuh nafsu. Aku tetap berusaha mendorongnya, dengan sekuat mungkin mengeluarkan tenaga untuk menjauhkan Sasuke dari diriku. Bibirnya dengan kasar mengulum bibirku, aku melihat Sasuke memejamkan matanya, satu tangannya berada dibelakang kepalaku sedangkan satunya lagi memeluk erat pinggangku. Aku bisa merasakan lidahnya berusaha masuk paksa ke dalam mulutku, tapi aku tetap tidak akan membukakan mulutku.
Airmataku mulai menetes, aku tidak mau diperlakukan seperti ini oleh Sasuke. Tapi apa yang bisa kulakukan? Tenaganya jauh lebih kuat dari tenagaku. Tangisanku semakin menjadi saat lidah Sasuke berhasil masuk kedalam mulutku, tapi sepertinya Sasuke tidak peduli dengan diriku yang sedang menangis. Berselang tiga menit berlalu, Sasuke akhirnya melepaskan ciumannya. Bibirnya menjauh dari bibirku yang nampak bengkak akibat hisapan kasarnya. Kedua bibir kami sangat basah akibat terlalu banyak saliva.
.
.
Sasuke's POV
Aku menyudahi ciumanku pada Hinata. Kubuka perlahan mataku, aku melihat sepertinya Hinata kehabisan napas. Dia tersengal-sengal, dan wajahnya juga tampak sangat memerah. Aku menyeringai puas saat melihat bibir Hinata yang bengkak akibat kuluman yang aku berikan padanya. Aku juga masih dapat merasakan rasa manis dari bibir mungil Hinata, rasa yang sangat ku sukai.
"Kau tahu Hinata, aku tidak suka saat kau bersama dengan 'Setan Sialan' itu" aku berbisik pelan ditelinga, Hinata hanya terus tertunduk. Ku sentuh pelan dagunya untuk menegakkan kepalanya, aku melihat Hinata menangis. Dengan lembut aku mengusap airmata yang membasahi pipi chubby milik gadis Hyuuga ini.
"Cup cup cup, kau tidak perlu menangis Hinata. Bukankah kau mencintaiku? apa kau tidak merindukan kecupan lembut dariku?" aku melirik sepintas bibir mungilnya yang gemetar, ah~ bibir itu benar-benar membuatku ingin kembali melumatnya. Aku mencoba menahan hasrat untuk tidak kembali menciumnya, tapi sungguh aku sudah tidak tahan.
Aku sedikit merundukkan kepalaku, mengarahkan bibirku pada bibir Hinata, perlahan mataku terpejam, dan saat bibirku hampir bersentuhan dengan bibirnya tiba-tiba aku mendengar pernyataan yang membuat ku tercengang.
"A-aku m-membencimu U-Uchiha-san"
Mataku langsung terbuka, aku tatap lekat-lekat Hinata yang menatap balik ke arahku.
"Apa katamu?!" aku mulai tersulut emosi, tanganku seketika mengepal dengan keras.
"Aku membencimu Uchiha Sasuke" Hinata berteriak dengan mata amethyst miliknya yang terus menatap ke arahku.
"Kau! berani-beraninya kau mengatakan itu padaku Hinata!" aku pun tak mau kalah, aku membentaknya dengan suara lantang.
"Kau pikir kau itu siapa berani mengatakan hal itu padaku hah?!" aku kembali membentaknya dengan kencang. Cih, benar-benar membuatku kesal. Aku segera membalikkan badan dan ingin cepat-cepat meninggalkannya. Saat tanganku mulai menyentuh knop pintu, tiba-tiba Hinata kembali berbicara padaku...
"Kau ingin tahu siapa aku? Aku- Hyuuga Hinata, seorang perempuan yang sangat mencintaimu dengan sepenuh hati. Yang sangat menyayangi seorang pria yang bahkan telah berselingkuh dengan gadis lain. Tapi aku tidak marah bukan? bahkan aku mengalah untuk hubungan kalian. Pernahkah kau peduli dengan diriku S-Sasuke-kun? Mungkin kau berpikir kalau aku hanya gadis bodoh, ya itu benar. A-aku hanya gadis bodoh yang begitu menggilai dirimu walau kau telah menyakiti diriku berkali-kali"
Aku terpaku, aku hanya diam dan masih berusaha mencerna kata-katanya barusan. Saat aku ingin membalikkan badanku untuk kembali memandangnya, Hinata langsung berlari keluar dan meninggalkanku.
Kini, banyak sekali segala macam pertanyaan dibenakku.
Sejak kapan Hinata tahu kalau aku selingkuh? Kenapa dia hanya diam saja saat tahu kalau aku dan Sakura punya hubungan khusus? Kenapa perkataan nya barusan membuat hatiku seperti tersayat? Sebegitu tidak pedulikah aku padanya sampai-sampai aku tidak menyadari bahwa Hinata tahu perselingkuhanku?
.
.
.
^^ TBC ^^
RnR
REVIEW KALIAN ADALAH PENYEMANGAT UP KILAT KU :D
