Author update kilattttt~

tapi mungkin besok belum bisa update karena belum dapet inspirasi ceritanya^^

jangan lupa reviewwwww yawwwww!

Soal karakter Sasuke, sebenarnya Sasuke itu ga sadar kalau dia sayang banget sama Hinata. Gengsi nya terlalu besar, dan juga karena ada kehadiran Sakura yang membuat Sasuke merasa muak pada Hinata. Dan pada ending nanti, pria tampan uchiha ini akan sadar tentang semuanya.

Oh ya, follow instagram author yaa :: Luluo_Ilham


MASASHI KISHIMOTO


Kini, banyak sekali segala macam pertanyaan dibenakku.
Sejak kapan Hinata tahu kalau aku selingkuh? Kenapa dia hanya diam saja saat tahu kalau aku dan Sakura punya hubungan khusus? Kenapa perkataan nya barusan membuat hatiku seperti tersayat? Sebegitu tidak pedulikah aku padanya sampai-sampai aku tidak menyadari bahwa Hinata tahu perselingkuhanku?

.

.

.

Hinata's POV

Aku sangat menyukai menyendiri di UKS jika sedang ada masalah. Disini aku dapat menangis sepuasku, tidak ada yang mengganggu. Aku melipat kedua kakiku, melingkarkan kedua tanganku untuk memeluk kaki ku yang gemetar, ku pundamkan dalam-dalam wajahku disana, dan aku terisak dengan kencang.
Apa aku telah menyakiti hati Sasuke karena telah mengatakan hal seperti itu tadi? Ketika aku mengatakan bahwa aku membenci Sasuke, itu pasti bukan diriku yang sesungguhnya. Ku tarik napas dalam-dalam, tidak seharusnya aku mengatakan itu pada Sasuke.

"Kenapa kau terus saja menangis?"

"G-Gaara-kun?" sejak kapan Gaara sudah duduk disampingku? Tangannya menarik pelan tubuhku dan membawa kedalam pelukannya. Aku hanya diam, mencoba menikmati ketenangan yang Gaara berikan. Sesekali telapak tangan besarnya mengusap lembut rambut dan pipiku, membersihkan airmata yang mengalir disana.

"Haruskan aku menciummu agar kau berhenti menangis Hinata?" Gaara mendekatkan wajahnya ke arah wajahku, jarak kami begitu dekat, mungkin hanya berjarak 1cm diantara wajah kami.

"G-Gaara-kun?" aku menggigit bibir bawahku, jantungku mulai berdetak dengan cepat, detakan yang teratur dan berirama

'CUP'

Mataku membulat seketika,bibir kami bersentuhan. Aku bisa merasakan bibir Gaara menekan lembut bibirku, aku juga melihat mata Gaara yang terpejam.
'Apa yang harus kulakukan Kami-Sama?' aku mencoba berpikir, aku masih belum sadar ataupun bingung dengan hal ini. Saat aku mencoba untuk menarik kepalaku agar bibir kami terlepas, justru Gaara malah semakin menekan bibirku. Lidahnya mulai menjilati dengan lembut bibirku yang masih tertutup rapat. Wajahku benar-benar sudah matang karena memerah. Dengan mengumpulkan keberanian, aku mencoba membuka mulutku, memberikan ruang masuk untuk Gaara.
"Emhhhh~" aku sedikit bergumam saat lidah Gaara memasuki mulutku. Lidahnya menyenggol lidahku. Lidah kami saling menekan lembut satu sama lain, bahkan aku mulai memberanikan diri untuk menghisap lembut lidah Gaara. Aku merasakan tangan Gaara mendorong pelan pundakku, dia membaringkan tubuhku diranjang. Aku tidak berpikir untuk berontak, karena aku menikmati setiap sentuhan yang Gaara berikan untukku. Ini bukan ciuman yang berlandaskan nafsu, tapi ciuman penuh perasaan- hanya ada kelembutan yang saling menuntut untuk meminta lebih.
Aku mulai kehabisan napas, ku sentuh wajah Gaara dan mendorongnya untuk melepaskan ciuman ini. Bibir kami terlepas, lidah kami yang saling bersentuhan mulai terpisah, hanya terlihat benang-benang saliva yang tersisa. Mata kami saling berpandang, dan lagi-lagi jantungku berdegup dengan cepat.

"Lupakan dia, dan berpalinglah padaku" Gaara mengecup pelan keningku, aku hanya diam.

"Ayo kuantar pulang" Gaara membantuku untuk turun dari ranjang putih ini. Aku masih merasa sedikit grogi, dan juga masih terlalu malu.

"A-aku b-bisa p-pulang sendiri G-Gaara-kun"

"Aku tidak terima penolakan Hime" Gaara menggandeng tanganku, menggenggamnya dengan erat, sangat erat. Aku hanya merespon dengan gumaman yang tidak jelas.

Aku dan Gaara pun berjalan beriringan menuju gerbang sekolah. Sesekali aku bersenandung kecil, tapi justru itu membuat Gaara terkekeh mendengarnya. Dan Saat dia terkekeh mengejekku, aku pun langsung mencubit dengan keras pipinya. Aku merasa senang bersama Gaara, karena kehadirannya membuat diriku melupakan semua masalah yang terjadi antara aku dan Sasuke.

.

.

Sasuke's POV

Dari lantai tiga gedung ini, aku dapat melihat Hinata yang sedang bergandengan tangan dengan Gaara. Lagi-lagi hati menjadi panas, begitu sesak dan ah benar-benar menyebalkan. Cemburu? Cih, untuk apa aku cemburu! Tapi tidak bisa ku pingkiri bahwa aku sangat jengkel melihat mereka bersama.
"Hinata" gumamku lirih.

Sudah jam lima sore, sudah dua jam pula tertidur dikelas, dan sepertinya Sakura juga sudah pulang duluan. Dengan langkah malas aku berjalan menuju perkiran mobil, mematikan alarm nya lalu segera masuk kedalam. Ku sandarkan kepalaku dibagian setir, memikirkan Hinata benar-benar membuatku stres. Maih terngiang-ngiang ditelingaku saat Hinata mengatakan kalau dia membenciku. Ck, apa yang harus kulakukan?!

Ku kendarai dengan kencang mobil sport hitam milikku, tidak menghiraukan teriakan orang dari mobil lain karena aku melaju sangat cepat. Pikiranku benar-benar tidak fokus.
Dari ujung jalan, aku melihat seorang gadis yang sepertinya sangat ku kenal. Ku sipitkan mataku dan ku tajamkan alat penglihatanku ini.

'Hinata'

Hinata sedang berada dikedai es krim, dia tidak tampak mengenakan seragam sekolah, sepertinya dia telah diantar pulang lebih awal oleh 'Setan Merah Sialan' itu. Tanpa pikir panjang, ku injak pedal rem, berhenti tepat didepan kedai es krim. Aku menyeringai, sepintas terlintas dipikiranku untuk membawa gadis ini ke apartemenku.

.

.

Hinata's POV

"T-terimakasih, ini uangnya" setelah menerima es krim vanilla kesukaan ku, aku langsung memberikan uang kepada penjual es krim dikedai favoritku. Aku tersenyum senang, sudah lama tidak merasakan rasa es krim favoritku. Saat aku mulai menjilat sedikit es krim vanilla ini, tiba-tiba mataku membelalak...

"S-Sasuke-kun?"

Sasuke juga ikut-ikutan menjilat es krim milikku. Pria ini hanya merespon dengan tersenyum atau mungkin lebih tepatnya menyeringai.

"K-kau m-mau a-apa k-kemari?"

"Aku juga ingin membeli es krim" sahutnya dengan nada datar, kedua tangannya diletakkan didalam saku celananya, dan badannya sedikit membungkuk ke depan untuk mensejajarkan dengan kepalaku.

"Oh, k-kalau begitu a-aku permisi p-pulang" saat aku ingin benar-benar pergi dari tempat ini, Sasuke langsung menarik tanganku dan membawa kedekat mobilnya.

"Ayo masuk!"

"T-tidak mau, a-aku mau p-pulang" aku berusaha menyingkirkan tangannya yang mencengkram kuat lenganku.

"Aku bilang masuk Hinata!" aku bisa medengar jelas suara Sasuke yang menahan geraman marahnya, apa boleh buat- aku terpaksa masuk kedalam.

Selama diperjalanan, aku hanya terus memandang ke luar jendela seraya menjilat es krim yang kupegang. Aku sadar, ini bukan arah rumahku, tapi lagi-lagi apartemen Sasuke. Aku sedikit melirik ke arag pria Uchiha disampingku ini, dia menyetir dengan tenang, pandangannya lurus kedepan dengan ekspresi datar. Tanpa kusadari, lengkungan terbentuk dibibirku, aku tersenyum.

Sudah sampai, Sasuke langsung mengandeng tanganku. Dia masih tetap diam, dan wajahnya juga tidak berubah- tetap datar. Pintu apartemen terbuka, kami masuk secara bersamaan. Aku masih bisa mengingat jelas peristiwa yang aku alami disini tempo hari lalu, dimana aku mengakhiri hub ungan dengan pria yang sangat kucintai. Aku memandang sebentar ke arah Sasuke yang sedang sibuk membuka cargidan seragamnya, aku tersenyum.
'Tidak masalah jika aku terluka sehari ataupun setahun seperti ini, bahkan jika hatiku terluka, itu karena aku hanya mencintaimu'.

"S-Sasuke-kun" aku sedikit merasa tidak nyaman karena Sasuke membawaku kedalam kamarnya, dia mengisyaratkan agar aku duduk ditepi ranjangnya.

"Tunggu disini, aku akan kembali" Sasuke langsung berlenggang keluar kamar.
Hahh~ ku tarik napas panjang.

'Cklekkk'

Sasuke kembali masuk kekamar, dia memegang kaleng minuman soda ditangannya, lalu diminumnya perlahan. Sasuke berjalan mendekatiku, dan aku pun semakin menundukkan kepalaku. Aku mulai panik saat Sasuke mulai merangkak menaiki ranjang dan mendekatiku, sontak aku pun terus berusaha menjauh mundur. Sasuke menahan tubuhku, dan kini posisi ku adalah terbaring diranjang dengan Sasuke yang berada diatasku- dia menindihku. Mata kami saling berpandang, dan aku yakin tatapan mata Sasuke mengartikan kesedihan yang mendalam.

"Apa kau membenciku Hinata? apa kau sungguh membenciku?" suara bariton nya terdengar lemah. Dengan perlahan, tanganku mulai menyentuh dan mengusap pipinya.

"T-tidak Sasuke-kun" aku menggeleng pelan.

Aku tidak bisa menahannya, aku tidak bisa menahan perasaan ini. Aku sangat menyayangi Sasuke, tidak peduli apapun yang telah dia lakukan padaku. Perasaan cinta ini jauh lebih besar daripada rasa sakit yang kurasakan.
Sasuke mulai merundukkan kepalanya, ku pikir dia akan menciumku lagi. Wajahku mulai memerah, jarak diantara bibir kami semakin dekat, sampai akhirnya...

'Tetttt'

Suara bel apartemen Sasuke berbunyi, aku bisa melihat jelas kekesalan diwajah tampan Sasuke. Sasuke juga langsung berdecak kesal, mengumpat bahkan mengutuk siapapun itu yang berada didepan pintu apartemennya. Dengan wajah ditekuk, Sasuke langsung berlenggang keluar kamar, aku pun juga langsung bangkit dari ranjang dan ikut keluar.

"Kenapa kau lama sekali membukakan pintu untukku Autotou?"

Ternyata yang datang adalah Itachi-Nii. Sasuke tidak menjawab, dia justru memberikan tatapan deathglare pada kakak nya itu.

"Wah ada Hinata juga disini" kakak kandung laki-laki dari Sasuke ini langsung menghampiri dan memelukku. Tentu saja kami sudah saling kenal, bahkan terkesan akrab.

"Baka! Jangan sentuh dia Aniki!" Sasuke langsung menarik pundak kakaknya agar berhenti memelukku. Aku hanya terkekeh pelan melihat tingkah Sasuke.

"Kenapa? aku kan merindukan Hinata, dan aku pun yakin Hinata juga merindukanku. Benarkan itu Hinata?" Itachi-Nii menyentuh daguku dan menatap kearahku, wajahku mulai memerah.

"Kau menakutinya Baka!" Sasuke mulai melempar buku ke arah Itachi-Nii. Sungguh, aku sangat bahagia jika Sasuke seperti ini padaku. Dulu, Sasuke tidak akan segan-segan untuk memukuli kakak nya jika Itachi-Nii terus menggodaku. Dan sekarang, walau kami sudah bukan menjadi sepasang kekasih lagi, Sasuke tetap tidak mengizinkan Itachi-Nii untuk menyentuhku.

"Aww~ itu sakit Autotou, kau jahat sekali. Hinata kau semakin cantik saja, maukah kau berkencan denganku?"

'Cup'

Itachi-Nii mencium pipiku, sontak pipiku langsung merona merah dengan cepat.

"Baka baka baka baka baka! kau berengsek Aniki! Pergi sana! Menjauh cepat dari Hinata! Berani-berani nya kau mencium Hinata! Tidak akan ku ampuni kau!" Sasuke berlari mengejar Itachi-Nii yang sudah kabur ke dapur. Aku langsung tertawa pelan, sudah lama sekali aku tidak tertawa karena Sasuke, dan aku sangat senang hari ini.

.

.

.

.

TBC

RnR

Review kalian adalah penyemangatku!