Hajimemashite^^

Menjelang chapter terakhir :D Mungkin chap selanjutnya akan menjadi akhir untuk Sasuke ;D

Tapi belum bisa up kilat untuk chap terakhir, karena belum diketik di fanfictionnya, baru diketik di hp

Ada yang minta Fanfic SasuHina yang baru, ditunggu aja yaa~

cerita nya lagi diketik, dan kemungkinan akan M :D

Ini tamat, pasti akan diterbitkan^^


MASASHI KISHIMOTO


"Baka baka baka baka baka! kau berengsek Aniki! Pergi sana! Menjauh cepat dari Hinata! Berani-berani nya kau mencium Hinata! Tidak akan ku ampuni kau!" Sasuke berlari mengejar Itachi-Nii yang sudah kabur ke dapur. Aku langsung tertawa pelan, sudah lama sekali aku tidak tertawa karena Sasuke, dan aku sangat senang hari ini.

.

.

.

Sasuke's POV

Ada sedikit perasaan lega dihatiku saat mengetahui kalau Hinata tidak sungguh-sungguh membenciku. Rasanya juga sedikit senang kerena telah menghabiskan waktu bersamanya, ya walaupun cuma beberapa jam saja. Aku kembali berpikir, apakah aku masih mencintainya? Apakah aku masih mencintai Hinata? Apakah didalam hatiku masih ada ruang untuk gadis Hyuuga itu? Tapi entah kenapa setiap aku memikirkan itu, selalu saja terbayang wajah Sakura di otakku.
Arghhh! Ini benar-benar membingungkan!

Setelah mengantarkan Hinata pulang tadi, aku bisa melihat raut bahagia diwajahnya. Aku tidak mau dan tidak bisa melihat Hinata bahagia karena pria lain, apalagi bahagia karena 'Setan Merah' itu. Sungguh benar-benar tidak rela. Saat hubunganku telah berakhir dengannya, aku merasa bahwa aku masih membutuhkannya. Tapi lagi-lagi Sakura hadir dalam pikiranku.

"Oi Sasuke! kenapa kau melamun heh?" ck, suara lantang Itachi membuat diriku sedikit tersentak.

"Pergilah Aniki! jangan menggangguku!"

"Kalau ada masalah, ceritakanlah padaku" Itachi langsung mengambil posisi berbaring diranjangku, aku hanya memandang malas ke arahnya. Tapi setelah pikir-pikir, mungkin tidak masalah jika meminta sedikit pendapat Itachi.

"Aniki, saat ada dua orang wanita didalam hidupmu, wanita mana yang akan kau pilih? Wanita pertama- dia sudah berada lama disisimu selama bertahun-tahun, tapi kau merasa bosan padanya, dan kau juga merasa sudah tidak mencintainya lagi" aku memberi jeda pada perkataanku, pikiranku pun langsung melayang tentang Hinata.

"Lalu wanita yang kedua?" Itachi merubah posisi nya menjadi duduk disampingku.

"Wanita kedua- dia baru hadir didalam kehidupanmu beberapa bulan yang lalu, tapi kau menyukainya, bahkan kau mulai mencintainya. Jadi, yang mana yang akan kau pilih?" aku memandang serius ke arah kakakku yang sepertinya sedang berpikir keras.

"Aku akan memilih wanita yang pertama" Itachi menjawab dengan mantab, tidak ada keraguan sedikitpun diwajah ataupun dalam nada suaranya.

"Kenapa?" keningku berkerut, itu berarti aku harus memilih Hinata? ck, tidak bisa begitu saja.

"Karena saat aku sudah bertahun-tahun lamanya bersama wanita pertama, itu berarti aku sudah terbiasa dengan kehadirannya. Setiap waktu ku habiskan bersamanya, dan lagipula bertahun-tahun itu bukan waktu yang singkat untuk menjalin hubungan. Pasti wanita itu sangat mencintaiku karena berada lama disisiku, walaupun mungkin dia mengetahui bahwa aku mulai bosan padanya, tapi nyatanya dia tidak pergi dari hidupku. Dan mungkin, aku akan merasa sangat kehilangan jika dia pergi meninggalkanku"

Aku mencoba untuk mengerti semua perkataan Itachi, ada benarnya juga dari penjelasannya.

"Memangnya kenapa dengan wanita yang kedua?" aku kembali bertanya, seketika terbayang wajah Sakura.

"Saat aku merasa bosan pada wanita yang pertama, hadirlah sosok wanita kedua. Aku merasa dia begitu menyenangkan, bahkan aku berpikir kalau aku mencintainya. Aku pun sering menghabiskan waktu bersamanya. Tapi tanpa kusadari, saat itu juga aku telah kehilangan wanita pertama ku"

Aku hanya tertegun mendengar pendapat Itachi tantang wanita yang kedua. Aku pun mengangguk mengerti.

"Satu hal lagi Sasuke. Kau dan Hinata sudah empat tahun bersama, kalian sudah saling mengenal satu sama lain. Kalian juga sudah saling mengerti dengan sifat dan sikap masing-masing. Berpikirlah seribu kali jika kau ingin meninggalkannya, dan ku harap kau tidak menyesal saat meninggalkan Hinata nanti".

Aku tidak terlalu terkejut saat Itachi menyadari bahwa 'Wanita pertama' yang ku maksudkan adalah Hinata, karena Itachi tahu kami sudah berpacaran sejak 1 SMP.

"Ya ya ya" ku tepuk pelan pundak Itachi.

"Tapi kalau kau ingin meninggalkan nya juga tidak masalah. Dengan begitu aku akan mendapatkan apa yang harus ku dapatkan dari dulu. Hahahaha!" aku yang mengerti perkataan Itachi pun langsung memukul kepalanya dengan kencang, tak lupa aku memberikan deathglare padanya.

"Apa? Kenapa kau menatapku seperti itu? Lebih baik kau tinggalkan Hinata, dan setelah itu aku akan menjadi kekasih barunya" Ck, saat aku ingin memukulnya lagi, Itachi langsung keluar kamarku.

"Jangan harap kau akan menjadi kekasihnya Baka!" aku berteriak dengan sangat keras. Cih, belum cukup dengan Gaara, sekarang Aniki ku pun ikut-ikutan.

.

.

.

Hinata's POV

Hari ini aku sangat bersemangat untuk sekolah, sudah tidak sabar ingin bertemu Sasuke. Harus ku akui, aku belum siap untuk benar-benar menghindar darinya. Apalagi aku dan Sasuke satu sekolah, itu benar-benar berat rasanya. Mungkin kalian berpikir aku ini bodoh karena masih saja mendekati atau bahkan mengharapkan Sasuke, tapi kalian tidak tahu bagaimana rasanya jadi diriku. Kami sudah berpacaran selama empat tahun, itu bukan waktu yang sebentar. Banyak sekali kenangan yang aku lalui bersamanya. Suka dan duka kami lalui berdua, dan sekarang? Melupakan seseorang yang sangat dicintai itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Itu semua butuh waktu, tidak mungkin dalam waktu sehari aku langsung berpaling dari Sasuke. Walau aku akui hatiku sering terasa sakit karena dia menduakanku, tapi sungguh aku belum mampu pergi darinya.

Jam pelajaran pertama akan segera dimulai, tapi belum ada Sensei yang datang ke kelas ku. Hahhh~ benar-benar membosankan. Aku memandang setiap sudut kelasku, teman-teman yang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. Aku terkekeh pelan melihat semuanya. Saat aku memandang sepintas ke arah jendela, saat itu juga aku melihat Sasuke lewat bersama Sakura. Hatiku sedikit miris melihat mereka berdua, dan aku benar-benar bingung.

Selama jam pelajaran berlangsung, sesekali pikiranku melayang tentang Sasuke. Tapi sesekali aku juga memikirkan tentang Gaara. Aku teringat perkataannya kemarin saat dia menyuruhku untuk berpaling padanya. Haruskah aku melakukan itu agar dapat melupakan Sasuke? Tapi aku juga tidak ingin menjadikan Gaara sebagai pelarianku, aku masih belum bisa menyukainya.

"Ayo kita makan, aku sudah lapar" aku tersentak kaget saat tanganku ditarik seseorang, dan itu adalah Gaara.

"G-Gaara-kun?"

"Aku heran padamu Hinata, kenapa kau ini hobi sekali melamun?" Gaara menyentil pelan keningku dengan jarinya.

"A-aku tidak melamun, dan jangan menyentil keningku, itu sakit" aku mengusap keningku.

"Apa kau terus memikirkannya? Apa kau belum bisa melupakannya?" wajahku langsung memerah saat tangan Gaara mulai merangkul pinggangku dengan erat. Banyak sekali siswa-siswi yang memperhatikan kami, dan itu membuatku merasa risih.

"G-Gaara-kun l-lepaskan" aku mulai menyentuh tangan Gaara yang melingkar dipinggangku.

"Diamlah, apa kau ingin aku menciummu lagi seperti kemarin?" Gaara mengatakan hal tersebut dengan nada yang terdengar menggoda, rona merah dipipiku pun semakin tak terhindarkan.

Kami pun langsung mencari meja kosong dan segera duduk. Hari ini aku tidak sempat membawa bekal karena terlalu terburu-buru, jadi Gaara pun sibuk memperhatikan daftar menu makanan, ku rasa dia sedang sangat lapar.
Aku melihat Sasuke dan Sakura yang baru saja memasuki kantin, mereka duduk dimeja yang berjarak jauh dari meja aku dan Gaara berada. Mata amethyst ku terus memperhatikan wajah Sasuke, aku berharap dia melihat ke arahku.

"Hinata, aku ingin berbicara serius padamu"

"..."

"Hey Hinata apa kau tidak mendengarkanku?"

"E-eh a-apa? Kau tadi bilang apa Gaara-kun?" saat aku menoleh ke arah Gaara, tiba-tiba saja dia sudah berada tepat disampingku.

"Berhentilah memperhatikannya! dan perhatikanlah aku!" Gaara memegang daguku, mata jade nya menatap lembut ke arahku.

'Glek'

Dengan susah payah aku berusaha menelan ludah, wajah kami begitu dekat. Jantungku berdetak dengan cepat, dan aku juga mulai grogi. Aku menepis pelan tangannya, dan kemudian ku pasang ekspresi wajah cemberut. Apa boleh buat, aku pun langsung menepuk pelan pipi Gaara.

"K-kenapa kau memukul ku Hime?"

"Itu salah mu, kenapa wajahmu dekat-dekat denganku" aku langsung mengalihkan wajahku untuk menyembunyikan semburat merah di pipi dari Gaara. Aku juga kembali memandang ke arah Sasuke. Dia terlihat tersenyum dan tertawa bersama Sakura. Tapi aku akui, aku senang melihat Sasuke tersenyum bahkan tertawa walaupun itu karena perempuan lain, bukan diriku. Mungkin sudah saatnya ku bulatkan tekad ku untuk menjauhinya. Harus bisa! Harus bisa! Harus bisa!

.

.

.

Sasuke's POV

Sudah ku putuskan, aku lebih memilih Sakura dibanding Hinata. Kenapa? Karena aku berpikir, jika aku dan Sakura terus melanjutkan hubungan ini, aku pun nantinya akan terbiasa dengan kehadirannya. Kami nantinya juga akan saling memahami satu sama lain seperti aku dan Hinata dulu. Dan tentang Hinata, mungkin aku akan menjalin hubungan sebatas teman saja dengannya. Ya walau hatiku akan selalu merasa sakit jika melihat dia dengan pria lain, tapi aku juga harus membiasakan melihat hal itu.

Jam pelajaran akan segera kembali dimulai karena waktu istirahat sudah selesai. Aku menggandeng tangan Sakura untuk ke kelas bersama.

"Sasuke-kun, kau ke kelas duluan saja. Aku harus bertemu Yamato-Sensei dulu" Sakura langsung melepaskan gandengan tanganku dan langsung berlari pergi. Aku hanya geleng-geleng kepala, dia benar-benar menggemaskan.

Aku pun kembali melangkah menuju kelas, langkah ku terhenti ketika melihat Hinata yang sedang berdiri didekat balkon yang tak jauh dari kelasku. Dengan perlahan aku menghampirinya, berdiri tepat disampingnya.

"Kenapa tidak masuk kelas? Apa kau tidak mendengar bel masuk heh?"

"A-aku menunggumu" mendengar jawabannya aku pun langsung menoleh ke arahnya.

"Untuk apa? Merindukanku?" aku kembali memandang lurus kedepan.

"A-aku juga tidak tahu" Hinata menjawab dengan nada yang terdengar pilu. Ku genggam tangannya, dan ku gandeng untuk mencari tempat lain. Tidak mungkin aku dan Hinata berbicara didekat kelasku, aku tidak mau Sakura melihatnya.

"S-Sasuke-kun, a-aku ingin berbicara b-banyak padamu" Hinata mulai memainkan dua jari telunjuk didepan dadanya. Aku mengambil posisi berjongkok didinding dan bersandar, sedangkan Hinata berdiri disampingku.

"Katakanlah"

"A-aku merasa cinta ku padamu ini hanyalah c-cinta yang b-bertepuk sebelah tangan, c-cinta yang sia-sia dan bodoh, c-cinta yang hanya ku rasakan s-sendirian d-dan cinta y-yang tak t-terbalaskan"

'DEG'

Lagi-lagi hatiku merasa seperti tersayat mendengar perkataannya, aku langsung bangkit dan berdiri dihadapannya. Entah kenapa aku tidak suka mendengar perkataannya barusan. Aku mencengkram kedua langannya, menatapnya dan aku melihat ada airmata yang mengalir dipipinya.

"Hinata aku tidak su-..."

"Kumohon padamu Sasuke-kun, berhentilah seolah mendekat padaku, j-jika yang akan kau lakukan padaku hanyalah menjauhiku s-saat aku berusaha k-kembali dekat padamu"

"Hinata berhenti ber-..."

"Meski hatiku selalu mengatakan 'Aku mencintaimu' tapi hanya bisa tertuang oleh airmataku. Airmata yang mewakili kata-kata permintaan maafku karena telah lancang s-sangat m-mencintaimu S-Sasuke-kun"

"Hinata dengarkan pen-..."

"P-pada akhirnya, a-akulah yang mengatakan kalau a-aku mencintaimu, meski ku ekori dengan permohonanan maaf berulang-ulang, maaf karena aku s-sangat mencintaimu."

"Hinata dengarkan aku!" aku sudah kehabisan kesabaran. Gadis ini selalu memotong pembicaraan ku, dan semua kata-kata nya itu membuat hatiku semakin sakit mendengarkannya.

"A-aku j-janji aku t-tidak akan mendekatimu l-lagi, aku t-tidak akan menjadi b-beban untukmu lagi, dan a-aku akan berusaha u-untuk melupakanmu S-Sasuke-kun".

Hinata melepaskan cengkraman tanganku, dia langsung berlari meninggalkan diriku yang masih terpaku dengan kata-kata nya barusan. Aku memandang ke arah Hinata berlari. Sial! Hatiku menjadi sangat sakit, begitu perih dan menyesakkan sekali didadaku.
Kenapa?! Kenapa disaat aku sudah membuat keputusan untuk memilih Sakuran dan lebih memilih untuk berteman dengan Hinata, tapi Hinata malah meninggalkanku?!
Lagi dan lagi hatiku kembali menangis, aku terus berharap agar Hinata tidak meninggalkanku tapi dia malah pergi lebih jauh dariku.
Kakiku terasa lemas seketika, tubuhku langsung merosot tak berdaya dilantai, dan ku berusaha menahan untuk tetap berdiri dengan kedua lututku. Aku meremas seragam dibagian dadaku, tanganku mengepal erat, aku belum bisa menerima ini semua!

.

.

.

.

TBC

REVIEW KALIAN ADALAH PENYEMANGAT DI CHAP TERAKHIR ^^