ASK AS MUCH AS YOU WANT

A Naruto Fanfiction by Anfidoos

Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

.

Warning: OOC, Typo(s), EYD dipertanyakan (?), etc

.

.

.

DLDR

Chapter 2

"Aku ingin bekerja bersamamu di perusahaan, Sasuke-kun."

Sasuke sedikit terkejut dengan perkataan istrinya barusan, Ia tidak pernah memikirkan istrinya itu menginginkan sebuah pekerjaan di perusahaan. Maksudnya, dia sedang hamil. Bukankah hal paling baik yang dilakukan seorang lelaki yang sudah memiliki seorang wanita yang tengah hamil muda adalah menyuruhnya istirahat dan melarangnya melakukan pekerjaan berat? Lagipula dirinya tak setega itu membiarkan wanitanya kelelahan didepan matanya dengan mengambil sebuah pekerjaan.

"Sakura, ayo kita bicarakan nanti." jawab Sasuke, ia dapat melihat sedikit kekecewaan di wajah sang-istri, namun setelah ia mengeratkan pelukannya pada sang istri sukses membuat dirinya luluh, ia-pun mengangguk patuh menuruti permintaan suaminya, yang kini masih menggendongnya dan membawanya ke kamar mandi. "Tiduranlah di bath up, aku akan menyiapkan shampoo untuk istriku yang malas keramas ini terlebih dahulu."

Sakura tersenyum memandang suaminya takjub, Sasuke bahkan masih memakai pakaian kantornya lengkap, kecuali jasnya tentu saja sudah ia tanggalkan. Bahkan dasi dan dan sabuknya masih tertempel di tubuh atletis pria itu, kini ia melipat lengan baju atasannya, membuka dua ikatan kancing teratas bajunya, melipat celana panjangnya, dan terakhir melongggarkan ikatan dasi dan sabuknya. Tentu saja sepatu dan kaus kaki sudah ia lepas sebelum memasuki kamar mandi.

Penampilannya, bahkan tak mengurangi sedikitpun pesona seorang Uchiha Sasuke. Ia tetap tampan dan cool seperti biasanya, keadaanya yang sekarang justru menambah poin plus tersendiri, ia bahkan selalu memiliki aura yang menarik bahkan sesepele apapun pekerjaan yang dilakukanya. Mengeramasi istrinya bukankah termasuk hal yang luas biasa sepele? Sakura menelan ludah, Apakah lelaki itu benar-benar suaminya? Bagaimana bisa Sakura begitu beruntung memiliki suami seperti itu?

"Sakura, berkediplah. . . Kali ini apa? Masih tidak percaya lelaki ini adalah suamimu?" Lagi-lagi Sasuke selalu mengetahui apa saja yang tengah ada di pikiran Sakura, membuat wanita itu membuang pandangannya, sebenarnya ia hanya malu ketahuan memandangi dan mengagumi lelaki itu meskipun tentu saja merupakan hal yang wajar, dia kan suaminya. Tetapi kenapa Sasuke selalu mengetahui jalan pikiran dirinya? Kenapa perkataannya barusan seolah hanya Sakura saja yang terpesona oleh Sasuke?

Sasuke berjongkok dan mencoba menatap istrinya, serta mensejajari dirinya dengan wanita yang kini tengah membuang muka, enggan menatap dirinya dan mengerucutkan bibirnya sebal. Ternyata seorang ibu hamil memiliki emosi yang begitu sensitif, ia sudah merasakan hal itu belakang ini, setiap perkataannya bahkan hampir selalu dipandang negatif oleh Sakura.

"Kenapa kau selalu berpikiran seperti itu, Sasuke-kun? Selalu merasa bahwa dirimu adalah lelaki sempurna. Apa maksud dari ucapanmu adalah karena kau merasa tidak cocok denganku? Apa hanya aku saja yang terpesona denganmu dan kau tidak?"

"Sakura.."

" Kau bahkan selalu mengatakan bahwa aku selalu menatapmu dan mengagumi ketampananmu, sekarang aku baru sadar bahwa kau sedang meremehkan aku. Memang aku bukanlah wanita yang pantas untuk orang sempurna sepertimu—"

"Sakura, bukan itu maksud—"Sasuke mencoba meraih kedua pipi Sakura dengan tangannya, wanita itu masih saja menyerocos dengan pandangan yang berlawanan dengan dirinya, Sasuke berharap wanita itu mau memandangnya dan berhenti meneruskan ucapannya, tetapi Ia justru menepis tangannya.

"Hanya aku yang menyukai dan sangat merasa bersyukur memilikimu, kau bahkan mungkin tak pernah bersyukur dan merasa menyesal memiliki wanita seperti aku yang kekanakan dan manja serta merepotkan ini..Aku kerjanya cuma enak-enakan di rumah, dan kau justru… A-aaahhh" pancuran air tiba-tiba mengucur membasahi Sakura membuat dirinya terlonjak kaget dan memeluk erat lelaki di depannya, debaran jantungnya begitu kencang karena kaget. Melihat itu Sasuke mematikan keran yang sengaja ia nyalakan untuk menghentikan spekulasi aneh Sakura, ia sudah mencoba menghentikan ucapan negatif istrinya yang sama sekali tak ada yang benar itu, tetapi ia terus saja melanjutkan kata-katanya, membuat dirinya kesulitan dan hanya itulah yang terpikir olehnya. Tetapi melihat eskpresi ketakutan sang istri yang kini ada di pelukannya itu membuat ia merasa bersalah. Sangat!

Sakura baru sadar setelah tangan kekar Sasuke mengelus punggungnya lembut, serta mempererat pelukan mereka. Sakura memukul-mukul punggung lelaki yang tengah memeluknya, air matanya sudah tak dapat ia bendung, ia tak mengira Sasuke akan menggunakan shower untuk menghentikan ucapannya. "Kejam! Aku sudah menikahi lelaki tak berperasaan!"

"Maafkan Aku, Sakura. . . Aku sungguh menyesal. Aku hanya bingung, Aku sudah mencoba untuk menghentikanmu dengan mencoba membalikkan wajahmu yang enggan menatapku dengan tanganku. Tapi kau bahkan menepisnya, aku sudah tak tahan mendengar spekulasimu yang semuanya salah. Aku tidak merasa menjadi seorang yang sempurna seperti yang kau katakan. Lagipula, aku tak pernah bertemu dengan perempuan manapun yang kurasa cocok untuk menjadi pendamping hidupku selain dirimu, Sakura. Percayalah, yang barusan kukatakan bukan berarti aku tidak terpesona olehmu, aku juga hanya sedang menggodamu. Lagipula terlepas dari itu semua, hanya istriku yang dapat membuat aku, Uchiha Sasuke terpesona, jadi jangan merasa menjadi wanita yang tak pantas untukku. Aku sangat membutuhkanmu, Sakura.. Sangat! Hanya kau yang pantas untukku, tidak ada yang lain. Dan aku juga akan membuktikan hanya aku yang pantas untukmu. Dan jangan pernah berpikiran mengenai dirimu yang manja, kekanakan, merepotkan atau apapun yang barusan kau sebutkan tadi. Dimataku, kau adalah seorang wanita yang selalu mampu membiusku, selalu mampu membuatku tersenyum bahagia bagaimanapun keadaannya, seorang wanita yang membuatku hanya memikirkan dirimu, seorang wanita yang—"

Cup!

"Tidakkah kau berpikir hari ini kau cerewet sekali, Tuan Muda Uchiha Sasuke?" Sakura tiba-tiba melepaskan pelukan Sasuke yang terus menerus mencoba meluruskan pemahaman dirinya yang salah, lalu segera mendongakkan kepalanya, menghentikan ucapan suaminya dengan menempelkan bibirnya di bibir pria itu, lalu membuka mulutnya, menyinggung mengenai Sasuke yang sedikit cerewet padanya dengan bibir yang menyatu. Sakura merasa Sasuke tidak seperti suaminya yang biasa, Sasuke yang selalu bersikap manis padanya memang bukan hal yang luar biasa, suaminya itu memang selalu bersikap manis padanya. Tapi kali ini ia menjelaskan panjang lebar perasaannya, dan itu bukanlah perangai seorang Uchiha Sasuke, membuat dirinya yakin bahwa suaminya itu benar-benar mencintainya, dan juga mengharapkannya, tidak seperti perkataanya yang tadi sukses membuat suaminya berceloteh panjang lebar.

Sakura melepaskan ciumannya, membuat pria yang ada di hadapannya tertegun. "Aku ingin melakukan hal itu padamu tadi, tapi kau bahkan tidak mau menatapku."

"Arigatou, Sasuke-kun. "ucap Sakura kembali menelentangkan tubuhnya yang sudah kadung basah kena shower tadi di bath up, Sasuke segera mengambil shower yang awalnya terpasang diatas, kemudian mulai mengguyur helaian merah muda istrinya, sedangkan istrinya itu sibuk memandangi wajah dirinya yang serius dengan rambutnya.

"Kau berbakat sekali mengeramas rambutku, Sasuke-kun. Bahkan Temari tak ada apa-apanya denganmu."

"Jangan memintaku untuk turun jabatan dan menjadi hair stylist, Sakura. Aku tak mungkin menyukainya meskipun mungkin aku akan mempertimbangkannya karenamu."

" Tentu saja aku lebih bangga punya suami seorang direktur utama ketimbang hair stylish."ucapan Sakura hanya dijawab senyuman tipis di wajah Sasuke, sebelum ia mengalihkan pembicaraan.

"Jadi Sakura, apa yang membuatmu ingin bekerja di perusahaan sampai menyuruh pelayan untuk memata-mataiku? Bukankah lebih baik istirahat saja dirumah, hm?" Sasuke mematikan shower-nya, menumpahkan shampoo-nya di telapak tangannya, lalu mulai membelai rambut halus istrinya, saling mempertemukan kedua mata berbeda iris itu, serta menunggu jawaban darinya.

"Aku ingin tau, bagaimana Sasuke-kun kalau sedang bekerja, kau begitu berbeda dengan yang ada di foto."jelas Sakura menangkupkan kedua tangannya di pipi Sasuke, mendongak keatas, menikmati wajah rupawan suaminya dengan jarak sedekat itu.

"Kau akan terkejut, Sakura."

"Kenapa harus terkejut? Oh ya, aku sudah memikirkan akan mengambil posisi apa di perusahaanmu."

"Posisi apa yang kau inginkan? Haruskah kita berada satu ruangan? Aku bisa mengaturnya. Bagaimana dengan sekretaris? Meskipun sekretaris sudah memiliki jumlah yang cukup saat ini, aku bisa menempatkanmu kalau kau mau. Atau menjadi staff biasa mungkin, tapi tugasnya cukup melelahkan, tapi tidak masalah bila kau menginginkannya, aku tak akan menyuruhmu melakukan banyak tugas, atau menjadi asistenku mungkin, seperti Kakashi. Sehingga kita bisa pergi bersama-sama, dan banyak menghabiskan waktu kita berdua."

"Office boy, aku ingin menjadi office boy. Tapi karena aku wanita, berarti Office girl? Atau Office woman?"Sakura terkikik dengan ucapannya sendiri.

Sasuke menghentikan gerakannya di rambut Sakura, ia memandang bingung istrinya yang sedang menatapnya dengan eskpresi yang sama, namun raut wajah sang istri lebih terkesan ada-apa-dengan-wajahmu, mungkin seperti itu.

"Kenapa kau menginginkannya?" hanya itu pertanyaan Sasuke, ia kembali membelai helaian merah muda itu, memang bukan seorang Sakura bila hanya meminta hal-hal yang biasa, Sakuranya itu pasti akan meminta hal yang tidak biasa. Hal yang membuat dirinya memutar otak karenanya.

"Entahlah, karena aku malas terlalu serius. Lagipula, aku akan berpura-pura menjadi gadis biasa yang bahkan tidak mengenalmu. Pasti seru!"

"Hn?!"

"Iya, Sasuke kun. Aku akan berpura-pura menjadi gadis biasa, lalu mencari tau bagaimana pandangan para pegawai padamu. Pasti menyenangkan, mereka pasti akan lebih terbuka bila dibandingkan dengan langsung mengatakan yang sejujurnya. Aku juga akan diam-diam mendatangimu kok, Sasuke-kun. Boleh ya, Sasuke-kuuun.. Boleh yaa.."

Sasuke memutar bola matanya, jelas-jelas ia tidak setuju dengan hal itu. Apakah seorang suami yang menjabat sebagai direktur utama sebuah perusahaan akan dengan mudahnya menyetujui usul sang istri yang meminta bekerja sebagai office boy? Sasuke mendekatkan wajahnya ke arah Sakura, karena posisi Sasuke yang ada di belakang bathup membuat hidung mereka bersentuhan tetapi dalam keadaan terbalik, lalu membisikkan "Tidak boleh, Sakura."

Cup

Kembali Sakura memajukan wajahnya dan akhirnya menempelkan bibirnya pada bibir Sasuke dalam keadaan terbalik, membuat dirinya mengingat adegan kiss dalam film Spiderman. "Aku tidak terpengaruh dengan ini. Tetap tidak boleh."jawab Sasuke tak bergeming, berusaha mati-matian tak tergoda dengan ciuman Sakura yang dirasanya sangat menggoda itu.

"Aku tak mau melakukannya denganmu selama seminggu, aku bahkan akan pergi dari rumah!" Sakura bangkit membuat kepalanya terbentur kepala Sasuke, serta melarikan diri keluar dari kamar mandi, dengan keadaan rambut basah sedang disampo, kini airnya itu menetes-netes membasahi seluruh lantai yang dipijaki Sakura, ia bahkan dengan tingkah kekanakannya menaiki kasur king size-nya dan melompat beberapa kali diatasnya sambil menjulurkan lidahnya pada sang suami yang mulai kewalahan menghadapinya. Siapapun yang melihat tingkah sakura, pasti tak ada yang mengira kalau wanita itu sudah menikah dan bahkan tengah hamil.

"Sakura!"

"Ayolaaahh.. bolehlaaahh. . Aku tak mau melakukannya seminggu,lho!" Ya, pasti kalian mengerti maksud kata 'melakukan' disitu.

"Tetap tidak. Aku akan menahan diri selama seminggu."

"Kalau begitu sebulan, Aku tak mau melakukannya sebulan. aku akan pergi dari rumah, aku tidak main-main!"Ujar Sakura yang berlari-lari dan menghindar dari cengkraman sang suami yang seolah siap menelannya hidup-hidup tak tahan dengan sikap kekanakannya.

Sakura tengah berada di sebuah bandara kali ini, apalagi yang dilakukannya kalau bukan menunggui Sasuke kembali dari Cina. Tiga hari tanpa lelaki itu membuatnya frustasi, bahkan ia lupa menu apa yang masuk kerongkongannya dua hari lalu, nafsu makannya benar-benar hilang. Ia benar-benar merindukan suaminya lebih dari apapun saat ini.

Seperti biasa, penampilannya tak jauh berbeda dengan penampilan Sakura biasanya, hanya baju atasan longgar berwarna pink, dengan bawahan jeans hitam ketat memperlihatkan betapa jenjang kakinya, meskipun tetap saja baju bergambar Masha and the bear itu merusak fantasi beberapa lelaki yang tak sengaja melewatinya dan melirik kearah Sakura, belum lagi kini sakura bertelanjang kaki. Ia tak menghiraukan Temari dan Shikamaru yang sudah putus asa berjongkok dan mencoba meminta serta membujuk dan mencoba memakaikan nyonya-nya itu sendalnya, tetapi sakura bersikeras tak mau memakainya, entah apa yang sedang dipikirkannya. Tentu saja mereka tak bisa menyerah begitu saja apalagi ketika tuan mereka mengetahui istri kesayangannya itu tak memakai alas kaki saat suhu sedang dingin-dinginnya.

"Sudah kubilang aku tidak mau! Berhenti berjongkok, Temari-san. Orang-orang jadi memperhatikanku."

"Tidak sampai Sakura-sama mau memakai sandal. Suhu sedang dingin sekali, kaki Sakura-sama bisa membeku."

"Temari benar, Sakura-sama. Setidaknya sebentar saja, Sasuke-sama akan membunuhku bila melihat Sakura-sama tak mau memakai sandal." Tepat setelah ucapan Shikamaru usai, sebuah tangan mendorongnya ke depan, membuat Shikamaru sempat limbung dan hampir terjatuh sebelum Temari menangkapnya dan membuat dirinya kembali seimbang.

"Sasuke-kun!"pekik Sakura tak memperdulikan Shikamaru yang ada di hadapannya dan segera menghambur ke pelukan Sasuke dan meloncat ke tubuh suaminya, seakan sudah memperkirakan hal itu, lelaki itu bahkan tak kaget dan hanya menerima saja tubuh sakura yang kini sudah tak menapaki lantai, tapi sudah ditopang tubuh Sasuke. Kedua kaki Sakura bahkan menyilang di pinggang Sasuke, membuat dirinya terlihat seperti sedang menggendong bayi besar. Namun bedanya, bayi besar itu nampak menggoda dengan mengalungkan kedua lengannya pada lelaki yang sedang menggendongnya itu. "Aku sangat merindukanmu!"

"Aku tahu, aku juga merindukanmu, Sakura." jawab Sasuke, memeluk wanitanya, dan men-deathglare kedua pembantunya yang bahkan tak becus hanya menyuruh Sakura untuk memakai sandal, meskipun Sasuke sudah menyadari sifat keras kepala istrinya itu tak mungkin akan goyah karena permintaan pembantunya, death glare itu membuat kedua pelayannya menunduk.

"Kemarikan sandal Sakura."perintah Sasuke pada Shikamaru yang masih tak berani menatap tuannya itu, setelah menerima uluran tangan Shikamaru atas sandal sakura, kalian pasti tahu apa yang akan dilakukan sasuke. Ya, ia memang akan memakaikan sandal wanitanya itu. Karena ia sepenuhnya tahu, alasan Sakura bertelanjang kaki menemui dirinya saat suhu sedang dingin-dinginnya adalah karena itu.

"Sasuke kun, ayo temani aku berbelanja! Ajak aku ke KGM, mall baru itu sedang menjadi trending topic, dan aku belum pernah kesana."ucap Sakura setelah kedua kakinya sudah tersemat sandal yang baru saja dipasang Sasuke.

"Aku lelah, Sakura. Kita kesana sore saja, bagaimana? Aku hanya tidur saat di pesawat pulang tadi, selama tiga hari disana bahkan aku tak sempat memejamkan mataku"

"Kalau begitu kakashi saja yang mengantarku."

"Dia juga sama lelahnya denganku."

"Tetapi setidaknya dia tak akan menolak permintaanku, Sasuke! Tidak seperti seseorang yang sudah beristri tapi tak memperdulikan keinginan istrinya sama sekali."sindir Sakura bahkan ia tak menggunakan suffix apapun saat menyebut nama suaminya, dan kini ia mencoba turun dari gendongan Sasuke, tentu saja Sasuke yang jenius sudah paham betul bagaimana istrinya, Istrinya yang selalu merasa bahwa dirinya tidak pernah mengerti keinginannya, istrinya yang selalu menganggap dirinya tak memperdulikannya, istrinya yang juga selalu membuatnya bersabar setelah melakukan semua hal yang dimintanya namun tetap merasa bahwa Sasuke tak pernah memahaminya, seperti barusan. Padahal, keinginan mana yang tidak ia turuti? Hampir tidak ada. Sasuke langsung mempererat gendongannya, sebelum mulutnya membuka perintah.

"Bawa kita ke Konoha Grand Mall, Kakashi."ucap Sasuke mulai berjalan mendahului dengan masih menggendong Sakura, membiarkan barang-barangnya dibawa oleh pelayan mereka. Sakura-pun sudah berhenti memberontak bahkan kini sedang susah payah menahan senyumnya.

"Baik, Sasuke-sama."

….

Disinilah Sasuke berada, Konoha Grand Mall, atau biasa disingkat 'KGM', tempat yang dirutukinya karena membuat dirinya harus menahan kantuk dan lelah demi menemani sang istri berbelanja. Kalau saja bukan istrinya yang memintanya, ia pasti akan menolak mentah-mentah ajakan itu. Seorang Uchiha Sasuke adalah manusia biasa yang masih membutuhkan istihat setelah otaknya dipaksa berpikir selama tiga hari tanpa henti, itu sangat melelahkan memang, dan setelah kepulangannya, bukannya ajakan tidur dari sang istri, yang ada hanya ajakan ke tempat sialan ini, meskipun tidak benar-benar ia benci sepenuhnya, tempat ini sudah ia kunjungi sebelumnya.

Sasuke memutar bola matanya bosan, memandangi pintu kamar ganti sebuah toko gaun di dalam mall itu, menunggui istrinya yang sedang ada di dalam dan mencoba beberapa pakaian, menolak dirinya mentah-mentah yang berinisiatif masuk dan menemaninya didalam. Padahal bisa saja Sakura kesulitan mengenai sesuatu, misalnya membutuhkan bantuan untuk menarik risleting mungkin, setidaknya sesuatu yang lebih membuatnya tertarik selain menunggu dengan bosan diluar.

"Sasuke-kun, apakah aku cantik dengan gaun ini?" suara itu terdengar merdu di telinga Sasuke, suara wanitanya. Wanitanya yang amat ia rindukan, wanitanya yang selalu menggentayanginya selama tiga hari disetiap pemutaran turbin otaknya yang sudah kelewat batas maksimum seorang normal berpikir, namun si jenius itu tetap memaksa otaknya untuk memecahkan masalah disana.

Namun bukan hanya suaranya yang membuat Sasuke mematung, namun tubuh Sakura yang dibalut gaun cantik yang sekarang membalut tubuhnya, gaun ungu itu memiliki hiasan bunga tulip di sekelilingnya, serta ada sedikit belahan di bagian dadanya, mempertontonkan pemandangan yang sedikit membuat nafas Sasuke memburu karena tak disuguhi pemandangan indah seperti itu selama tiga hari di Cina sana, dan justru memelototi berkas-berkas sialan itu.

"Cantik." Sasuke menjawab, singkat. Saking singkatnya membuat si pengguna gaun itu mengerucutkan bibirnya sebal dan menunduk, emerald-nya sayu tak secerah saat keluar dari kamar ganti. "Seperti biasanya."Sasuke meneruskan kalimatnya, sukses membuat Sakura menaikkan pandangannya menatap Sasuke dengan emerald yang tidak lagi sayu, sama cerahnya seperti tadi, atau bahkan mungkin lebih cerah.

Kini Sakura memutar tubuhnya, lalu mendarat sambil menundukkan diri sembari memegang samping gaunnya seperti sedang melakukan penghormatan seorang putri pada rajanya, membuat Sasuke tersenyum dengan tingkah istrinya.

Setelah itu Sakura kembali memasuki ruang ganti, lalu keluar dengan gaun indah yang lain, berwarana putih perak, tak kalah cantiknya dengan yang pertama, begitu seterusnya sampai gaun yang ke enam. Kini ia sedang mencoba gaun berwarna merah, kulit putihnya begitu kontras dengan warna itu, dan Sasuke hanya bisa berdecak kagum, mengatur nafasnya setiap kali Sakura keluar dan memujinya seadanya. Dirinya tak begitu pandai memuji, dan ia bersyukur sang istri tetap tersenyum meskipun Sasuke hanya mengulang-ulang pujiannya.

"Dari semua gaun yang barusan kucoba, mana yang paling bagus menurutmu, Sasuke-kun?" Sakura menaruh kedua tangannya di bahu kanan Sasuke, membuat Sasuke harus memutar kepalanya agar onyx-nya bertemu dengan emerald Sakura.

"Semuanya bagus, kita ambil semuanya."

"Tapi harganya. . ."

"Sudahlah, tidak masalah berapapun itu asalkan kau menyukainya." Sakura tersenyum lalu memberikan kecupan hangat di pipi sang suami, Ia tersenyum bahagia. "Memangnya semua gaun itu untuk apa, Sakura? Kurasa tak ada pesta yang dapat kita hadiri di waktu dekat ini."

"Aku kan mau bekerja di perusahaanmu, Sasuke-kun."

"Dengan gaun pesta itu?" Onyx Sasuke terbuka lebar, Sakura mengangguk dengan semangatnya. Kami-sama, tolong sadarkan Sakura. Dirinya tak kuasa menyadarkan wanita itu dengan pemikiran polosnya, bagaimana bisa istrinya itu mau ke perusahaan dengan gaun pesta meriah dan mencolok seperti itu? Sedangkan dirinya merengek meminta pekerjaan OB, mana ada seorang OB memakai gaun seperti itu ketika staff lain saja hanya menggunakan kemeja dan rok pendek? Lagipula, mana ada yang bekerja menggunakan gaun pesta seperti itu?

"Ehm.. Sakura, Jangan tersinggung. Tetapi wanita di perusahaan tak ada yang menggunakan gaun untuk bekerja, mereka menggunakan kemeja dengan setelan rok selutut. Kau tak bisa memakainya untuk bekerja." Jelas Sasuke pelan-pelan, tak ingin menyinggung istrinya yang menatapnya kebingungan.

"Benarkah? Tapi aku ingin menggunakannya, aku kan office girl. Aku tidak seperti staff-staff biasa, tugasku hanyalah membantu pegawai lain, membuat kopi, mem-fotocopy, dan lainnya, tak masalah bagiku untuk melakukan itu semua, aku tak akan terjatuh hanya karena gaun ini dan sepatu highheels-ku."

"Bukan itu masalahnya, Sakura. Tapi pegawai lain saja menggunakan kemeja, tak ada yang menggunakan gaun."

"Aku kan office girl."

"Terlepas dari itu semua, office girl tidak memakai pakaian bebas seperti kemeja dan rok seperti staff lain, tetapi memakai seragam."ucap Sasuke.

"Seragam seperti apa?"Sakura menunjukkan raut wajahnya bingungnya, meskipun ia kecewa dilarang memakai gaun ke kantor, setidaknya ia tidak harus memakai kemeja dan rok yang pastinya membosankan bila dilihat, sepertinya memakai seragam bukan ide buruk.

"Kakashi, tolong tunjukkan gambar seragam OB di perusahaan kita."Kakashi mengangguk mengerti dan mulai mendekati Sakura untuk menunjukkan gambar di layar i-Padnya setelah penelusuran kilatnya barusan.

Mata Sakura terbelalak, bagaimana bisa seragam OB adalah sebuah baju longgar berwarna biru muda dengan logo Uchiha di depannya besar-besar, bawahannya tak kalah konyol dengan atasannya, warnanya senada dan sangat buruk sekali menurut pendapat Sakura. Bahkan seragam pembantu yang dipakai Temari lebih berkelas di banding seragam OB yang kini masih di tunjukkan Kakashi padanya. Sasuke menyeringai melihat ekspresi kekagetan Sakura, ia tentu saja berinisiatif menggunakan kesempatan emas ini untuk membuat Sakura membatalkan keinginannya.

"Bagaimana? Kau tak berniat untuk tetap tampil bodoh dengan baju rendahan itu kan, Sakura?" Sasuke segera mendekatkan Sakura padanya, melingkarkan tangan kekarnya di pinggang ramping Sakura, lalu mulai membisikkan kata-kata tadi.

"Tidak! Aku tidak akan menyerah! Aku akan tetap bekerja di perusahaanmu"Jawab Sakura cepat, ia melepaskan tangan Sasuke yang berada di pinggangnya, takut semakin lama terbuai dan akhirnya menuruti keinginan Sasuke agar tetap di rumah dan melupakan mengenai pekerjaan OB-nya. Sakura meneguk liurnya, "Meskipun harus mengenakan pakaian bodoh itu."

Tak ada lagi yang bisa di perbuatnya, Ia menarik lengan Sakura yang masih mengenakan gaun merah darahnya menuju kasir. "Bungkus semua gaun yang barusan dipakainya, kecuali ini. Biarkan dia memakainya."ucap Sasuke pada si-pelayan yang segera di jawab anggukan olehnya, sedangkan Sakura hanya tersenyum dengan ucapan suaminya.

"Apa tidak apa-apa mengenakan gaun seperti ini di mall Sasuke-kun?"ucap Sakura dengan manjanya, seperti biasa.

"Lebih baik dibandingkan menggunakannya ke kantor."Sahut Sasuke, membuat Sakura mengepalkan tangannya dan memukuli suaminya pelan. "Aku kan tidak mengerti apa-apa tentang hal itu."

Sasuke membungkam bibir istrinya dengan bibirnya, hal seperti ini sudah sering Sasuke lakukan bila wanitanya mulai merajuk, tentu saja dengan itu Sakura akan mudah melupakan rasa kesalnya. Meskipun ini adalah tempat umum, namun toko yang berada di mall ini sangat sepi. Hanya ada kedua pasangan suami istri itu, Kakashi, beserta kedua pasang pembantu yang dikatai tidak becus oleh Sasuke saat di bandara, serta beberapa pelayan yang semuanya laki-laki, memang tak heran karena koleksi pakaian toko ini memiliki harga yang benar-benar mampu membuat mata perih.

"Ini belanjaan anda, Tuan."Ucap si-pelayan yang nampak tak suka dengan Sasuke yang melakukan hal intim semacam itu di tokonya, memangnya dia siapa berani bersikap seperti itu dengan seorang direktur perusahaan paling kaya di negeri ini? Sakura melepaskan bibirnya dari pagutan Sasuke, tak enak juga melakukannya di tempat umum seperti mall besar ini.

"Kalau begitu katakan pada atasanmu aku akan membawa barang belanjaanku, aku sedang tak membawa uang. Tenang saja, aku kenal baik dengan pemilik mall ini."Nada angkuh terdengar jelas di penuturan Sasuke, Ia melirikkan matanya pada Kakashi, menyuruhnya membawakan semua belanjaan itu.

"Sasuke-kun, kau kenal baik dengan pemilik mall ini?" Sasuke hanya tersenyum sebagai jawaban, memang bukan hal yang baru bagi Sakura menemukan bahwa suaminya itu memiliki hubungan dengan orang-orang penting, kenal baik dengan pemilik sebuah mall bukanlah hal yang terlalu mencengangkan. "Apakah pemiliknya laki-laki?"

"Mengapa bertanya begitu, Sakura?" Sasuke menaikkan sebelah alisnya, untuk apa istrinya itu menanyakan hal tidak penting.

"Pasti tampan, bisa kau kenalkan dia padaku, Sasuke-kun?" Kini hati Sasuke bergemuruh hebat, untuk apa Sakura ingin berkenalan dengan pemilik Mall ini di depan suaminya? Kami-sama, tolong berikan dirinya kesabaran menghadapi wanitanya.

"Seorang lelaki tentu saja tampan, yang cantik itu kau, Istriku."jawab Sasuke menegaskan kata 'Istriku', berharap wanita kesayangannya itu tak lagi membicarakan hal itu dan mengerti maksud Sasuke.

"Terima kasih, Suamiku. Tapi hanya berkenalan saja tak apa-apa kan?" Sakura memelas, mulai melancarkan aksinya dengan mengalungkan kedua lengannya di leher Sasuke, menatapnya dengan tatapan menggoda khas miliknya.

"Aku keberatan!" Sasuke memalingkan wajahnya, sebelum istrinya itu menyihir dirinya dengan tatapan-nya itu, entah seberapa kali dia mencoba, akhirnya akan luluh juga dan membolehkan istrinya melakukan apapun, termasuk bekerja di perusahaan. Tapi tidak akan kali ini.

"Apa kau sudah tak punya kepercayadirian, Sasuke? Kau kalah tampan dengannya?" Sakura merengut dan melepaskan kedua tangannya, merajuk pada suaminya. Dan ya, dia tak akan menggunakan suffix –kun saat sedang kesal.

"Lagipula dia sudah beristri, jadi lupakan dia dan ayo kita pulang!"

"Aku tetap ingin berkenalan! Kau tau, kenal dekat dengan pemilik mall bisa menguntungkan kita. Misalnya, kita bisa mendapat discount atau barang gratis saat belanja."

"Aku masih punya cukup uang untuk sekedar membeli semua keperluanmu, tak perlu mengandalkan discount atau apalah itu."

"Aah, kalau begitu biarkan aku bertemu istrinya. Mungkin saja kita bisa bersahabat baik."

"Jangan istrinya."

"Kau kenapa sih, Sasuke?!" Sakura mulai tak bisa mengendalikan emosinya, ia melempar kasar kedua sepatu hak tingginya ke sembarang arah, membuat Temari kewalahan memungutinya. "Kau pernah punya sesuatu dengan istrinya?"

Sasuke hanya diam, ia tak merespon. Tidakkah seharusnya dia membantah ucapan Sakura? Kenapa hanya terdiam seolah membenarkan?

"Sasuke-kun, kau pernah punya hubungan khusus dengan istrinya?" Tanya Sakura hati-hati, ia berdo'a dalam hati semoga suaminya itu menggeleng.

"Jangan berpikiran yang aneh-aneh, itu bukanlah hubungan seperti yang kau bayangkan. Ayo pulang!" tak tahan dengan perbincangan ini, Sasuke segera membawa semua barang belanjaan Sakura yang seharusnya dibawa Kakashi, ia harus segera membawa istrinya itu pulang.

"Anda tidak bisa melakukan hal seperti, Tuan. Kami tidak bisa mempercayai sembarang orang."Tegas si-pelayan, aura di sekitarnya terlihat menakutkan. Sepertinya ketidaksukaannya pada Sasuke tidak main-main.

"S-sasori-san, dia bukan orang sembarangan. Aku sering melihatnya di TV."

"Maafkan saya, anda tidak bisa melakukan semua hal sesuka anda, kami memiliki peraturan, dan berlaku untuk semua orang, sepenting apapun anda, Tuan." Ucap si-pelayan berambut merah yang terpasang papan nama bertuliskan 'Akasuna Sasori', Ia mengabaikan temannya yang berbisik-bisik untuk berhati-hati dengan pelanggan itu.

"Tuan Sasori, Maafkan atas kelancangan saya. Kakashi, berikan dia jam tanganku untuk jaminan." Seru Sasuke membuat baik Kakashi maupun Sakura membelalakkan matanya, bukan karena Sasuke yang memanggil pelayan itu dengan sebutan 'Tuan', tapi ia menggunakan jam sebagai jaminan untuk gaun Sakura yang tak seberapa, anggap saja dua ratus tiga puluh juta untuk enam gaun termasuk hal kecil, karena itu memang sangat kecil bila dibandingkan jam tangan Sasuke yang bahkan mungkin tak setara untuk mall ini beserta isinya, mungkin terlalu berlebihan tapi begitulah kenyataannya. Lagipula jam itu bukan hanya mahal, butuh waktu dua belas tahun untuk mendapatkan jam yang asli, dan di Konoha hanya dirinya yang memiliki. Kalau versi KW-nya, jangan ditanya, Kakashipun kini sedang memakai jam tangan serupa dengan Sasuke, hanya berbeda keaslian, kualitas, derajat, harga dan lainnya.

"Sasuke-kun, jangan jam itu. Lebih baik aku tak jadi membeli gaun-gaun itu dibandingkan menukarnya dengan jam meskipun hanya sebagai jaminan. Jangan bercanda, itu tidak lucu." Cegah Sakura memegang lengan Sasuke yang berbalut jam mahal itu, ia juga melirik sebal kearah si-pelayan yang benar-benar menyebalkan itu, tidakkah ia mengerti ia berhadapan dengan suaminya? Orang terkaya se-Konoha? Ia memang sedang kesal dengan suaminya, bahkan sangat. Tapi, bertindak gegabah dengan menggadaikan jam bukanlah solusi untuk ini. Apakah sebegitu tak inginnya Sasuke membahas hubungannya dengan istri si-pemilik mall sampai melakukan hal sejauh ini hanya untuk cepat membawa dirinya pulang?

"Kakashi." Sasuke hanya tersenyum memandang sang istri yang nampak cemas bercampur kesal, Kakashi yang awalnya ragu mendengar namanya disebut yang berarti penegasan perintah itu segera melepas jam tangan yang melekat indah di lengan Sasuke dan memberikannya pada Sasori, pelayan itu sedikit menyeringai. Sekaya apapun pelanggannya itu, tetap saja memalukan kalau hanya membeli gaun untuk seorang wanita saja harus menggadaikan jam, yang benar saja.

"Tenang saja, aku akan mendapatkannya kembali, secepatnya." ucap Sasuke tenang, meremas jemari Sakura lembut, meyakinkan pada wanitanya bahwa asset–nya itu tak akan jauh-jauh darinya, pasti akan kembali secepatnya.

"Terima kasih, Tuan."responnya tak acuh.

"Tuan Sasori, sepertinya anda adalah karyawan yang patut di acungi jempol, meskipun sepertinya anda adalah pelayan baru disini, tapi anda memiliki sikap yang tegas dan tak mudah mempercayai perkataan seseorang, aku akan meminta pemilik mall ini untuk memberimu penghargaan atas sikapmu, kebetulan aku dekat dengannya."

"Tidak perlu, Tuan. Ini sudah seharusnya."Ucap Sasori yang mulai bosan setiap kali Sasuke membual mengenai kedekatannya dengan sang pemilik Mall. Apa pedulinya? Sasori memutar bola matanya, jelas-jelas ia tidak menyukai ucapan Sasuke, entah mau bagaimanapun dirinya memuji kemampuannya, tak akan berpengaruh padanya.

"Hey, ada apa dengan matamu? Matamu serasa menantangku untuk kucolok taauu!"Sakura mendelikkan matanya pada Sasori, membuat Sasuke terkekeh melihatnya. Ternyata tak hanya dirinya yang tak menyukai pemuda itu, wanitanya bahkan lebih tidak suka padanya.

"Jangan memarahi pegawaiku, Sakura. Nanti aku kehilangan pemuda bijak seperti dirinya."gumam Sasuke, terdengar sangat jelas membuat Sakura beserta Sasori mendongak dan membuka mulutnya, seakan melihat semut merobohkan dinding saja ekspresi yang mereka tunjukkan, sedangkan Kakashi hanya terdiam, ia terlalu lelah meskipun hanya untuk berekspresi, selain itu Kakashi juga sudah mengetahui semua faktanya.

"Tuan muda Uchiha Sasuke, apa lagi kali ini?"Sakura memberi tatapan tajam membuat Sasuke sedikit menyeringai, entah apa maksud dari seringaiannya, tetapi melihat Sakura yang melotot meminta penjelasan benar-benar lucu dimata Sasuke. "Sekarang kau mengaku-ngaku sebagai bosnya hanya karena kau kenal baik dengan si pemilik mall ini?!"

"Aku merasa tidak perlu menyombongkan mall yang belum berkembang ini padamu, Sakura. Setidaknya tidak sekarang. "jawab Sasuke enteng, kini Sasori mendongak kaget. Ia kehilangan kata-kata tentu saja, bingung harus melakukan apa selanjutnya, Sasori lalu menunduk dan pamit undur diri setelah mengucapkan 'gomennasai' berkali-kali. Sasuke tak begitu mempermasalahkannya, ia memang tak berniat mendepak pemuda itu, ia hanya butuh sedikit hiburan dan pemuda itu seakan memberinya jalan lebar agar dapat dengan leluasa menggunakannya sebagai hiburan, dan beginilah akhirnya. Nyatanya Sasuke sedikit terhibur dengan drama barusan, setidaknya eskpresi wanitanya mampu membayar kekurangajaran Sasori padanya. Peduli apa pada pemuda kepala merah tadi, kini ia pasti sedang meratapi nasibnya setelah bersikap kurang ajar terhadap big boss-nya.

"Jadi, kau pemilik Mall ini?"Tanya Sakura memutar otaknya, dari semua kemungkinan seorang Uchiha Sasuke dapat lakukan, ini adalah satu kemungkinan yang bahkan tak terpikirkan oleh Sakura. Jadi, sedari tadi Sasuke melarangnya untuk bertemu dengan istri pemilik mall ini yang maksudnya adalah dirinya sendiri? Sasuke mengangguk, hanya mengangguk. Ia bahkan tidak mencoba menjelaskan lebih.

"Tuan Uchiha! Kau hutang penjelasan padakuu!"

Sakura menghentak-hentakkan kakinya keras dan meninggalkan Sasuke beserta Kakashi dan kedua pembantu setianya di toko, Sasuke hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Sedangkan Temari dan Shikamaru yang mencoba mengejar nyonya-nya itu hanya mendapat larangan dari Sasuke.

"Boleh kuminta kembali jamku?"Tanya Sasuke datar pada pelayan-pelayan yang masih mematung di toko itu, nampak bingung dengan pengakuan Sasuke yang tak terduga. Mereka segera mengangguk dan mempersilahkan Sasuke untuk mengambil jam tersebut. Sebagian besar dari mereka, masih tak menyangka bisa bertemu dengan bosnya sekaligus orang yang sering Ia lihat di TV itu secara nyata. Pantas saja mereka merasa tidak asing dengan raut wajah Sasuke, tentu saja wajah itu adalah wajah yang sering mereka lihat sedang mengamat-amati keadaan mall setiap minggu, wajah yang juga tak bisa dikatakan jarang terlihat di TV karena tentu saja seorang Sasuke sering nampak di TV karena kepiawaiannya memimpin perusahaan. "Lain kali kalian harus mengenali siapa bos tempat kalian bekerja, sehingga hal seperti tadi tidak terulang."

"Gomennasai!"Sahut semua pegawai membungkuk, sedangkan Sasuke segera keluar dari toko dan berusaha mengejar Sakura yang nampak sudah jauh dari pandangannya, dan meletakkan asal barang belanjaannya barusan namun segera diambil alih oleh Kakashi.

…..

"Aku tak percaya ini, bagaimana mungkin aku memiliki seorang suami yang bahkan tidak membiarkan istrinya tau apapun mengenai pekerjaannya! Dia pikir aku ini siapa!"Sakura menggerutu tak jelas seperti sedang berkomat-kamit membaca mantra sambil berjalan tanpa alas kaki, membuat dirinya menjadi pusat perhatian. Belum lagi ia kini memakai gaun merah yang mencolok. Namun ia tak peduli, kini pasti suaminya sedang sibuk dengan pegawainya, bahkan tak memikirkan dirinya sama sekali. Seharusnya paling tidak Sasuke mengerti dan lebih perhatian padanya yang sedang mengandung dan menjaga keselamatan dirinya, bukannya membiarkan istrinya seperti ini. Belum lagi kakinya serasa mau membeku karena terlalu lama menapaki lantai mall yang dingin dengan kaki telanjang.

Seorang anak kecil yang baru saja keluar dari kedai es krim di depan Sakura mengamati lamat-lamat penampilan Sakura, Seolah dirinya adalah orang aneh yang tidak tahu apa-apa. Namun Sakura tidak memperdulikan tatapan aneh anak kecil itu, ia menelan ludahnya melihat es krim yang ada di genggaman anak itu. Ia memang kedinginan, kakinya bahkan serasa mati rasa karenanya. Tapi, tiba-tiba saja dirinya begitu menginginkan es krim itu.

"Kau mau?"anak kecil itu mengulurkan es krimnya pada Sakura, seolah mengerti keinginan calon ibu itu. Sakura mengangguk, lalu dengan perlahan mulai mendekatkan tangannya bersiap menerima uluran es krim itu dari tangan si anak, sebelum anak itu menarik kembali es krimnya dan menjulurkan lidahnya. "Beli sendiri sana! Dasar cewek aneh!"

"Apa kau bilang? Aku bisa membelinya sendiri. Aku bukan cewek aneh! Aku adalah istri pemilik mall ini tau!"sahut Sakura tak mau kalah, sedangkan anak kecil itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya seolah baru saja mendengar bualan tak berarti dan kini Ia pergi mengacuhkan dirinya. Bodohnya Sakura! Harusnya dirinya tak perlu mengatakan hal seperti itu. Orang mana yang akan percaya pada omongan wanita yang memakai gaun mencolok ke mall dengan bertelanjang kaki, belum lagi ia sendirian dan tak membawa uang sepeserpun, apalagi hal yang dikatakannya adalah sesuatu yang sulit di percaya meskipun itu merupakan kenyataannya.

"Hallo Nona!"sapa seseorang mengulurkan es krim yang sama persis dengan milik si-anak kecil. Sakura mendongak dan melihat wajah tak asing, wajah suaminya. Ia tersenyum dengan tangan yang masih mengulurkan es krim itu padanya. "Mau es krim?"

Sakura menampik es krimnya dan malah memasuki kedai es krim dihadapannya, mengacuhkan suaminya yang sedang mencoba membersihkan es krim yang menempel di kemejanya karena di tampik oleh Sakura.

Beberapa orang yang lewat melihat kejadian itu berbisik-bisik tak suka melihat seorang pria tampan yang mirip Uchiha Sasuke itu, (meskipun pria itu memang Uchiha Sasuke) diperlakukan tidak seharusnya oleh seorang wanita aneh. Mulai dari berbisik-bisik mengenai tampannya Sasuke, penampilannya, sikapnya, juga mengenai buruknya Sakura, dandanannya, sikapnya, dan kini mereka mulai membicarakan bahkan mencela Sakura yang tadi mengacuhkan dan bahkan menampik es krim dari tangan Sasuke dan membuat kemeja dan jasnya kotor karenanya.

Sasuke tak memperdulikan itu, ia hanya melepas jasnya dan memberikannya pada Kakashi, kemejanya tak terlalu kotor sehingga ia masih bisa menggunakannya. Kini ia mulai memasuki kedai es krim, mencari gadis bersurai pink dengan gaun merah mencolok, dan dengan mudahnya ia menemukan sosok itu. Sakura tengah berlutut dan menempelkan tangannya serta mendekatkan wajahnya seperti anak kecil yang sedang menginginkan sesuatu namun tak dipenuhi orang tuanya, dan Sakura melakukan hal itu. Ia mengamati seporsi es krim menu special disana lewat etalase kulkas kaca bening.

"Berikan aku seporsi es krim itu."ucap Sasuke pada seorang pelayan yang sedari tadi menyuruh Sakura enyah dari etalase, suara itu membuat Sakura menoleh, namun tak terlalu peduli dan justru kembali berkutat pada pandangannya. "Sakura, berhenti melakukan itu."

"Berhenti pura-pura peduli padaku."

"Apa aku kurang peduli padamu?"Sasuke mendekatkan dirinya, ia ikut berlutut mensejajari Sakura dan mulai menarik tubuh Sakura ke belakang, menyuruhnya bersandar pada dada bidangnya, Sakura masih tak terlalu peduli meskipun kini tubuhnya sudah di dalam rengkuhan suaminya. "Maafkan aku." lanjut Sasuke meletakkan dagunya di bahu sang istri yang masih enggan merespon tindakan suaminya.

Sasuke bangkit dan menuntun Sakura untuk ikut bangkit, akhirnya wanita itu menurut dan berdiri berhadapan dengan suaminya. "Aku tidak mencoba menyembunyikan apapun darimu, Sakura. Aku hanya merasa belum tepat mengatakan itu padamu. Sekarang kau sudah tahu jadi berhentilah merajuk, aku minta maaf. Dan aku peduli padamu, aku sangat peduli." Sasuke kembali berjongkok, memakaikan sandal yang kedua kalinya dalam seharian ini di kaki Sakura.

Beberapa pelanggan hanya mendecih tidak suka melihat seorang pria tampan yang sedang membujuk wanitanya agar berhenti merajuk, apalagi kini lelaki itu berjongkok memakaikan sandal wanita itu. Bahkan wanita itu bukan wanita yang cantik, seksi, menawan atau apapun. Wanita itu hanya terlihat manis, namun percayalah dandanannya norak, ia bahkan memakai gaun yang seharusnya dipakai untuk pesta. Dan wanita itu tidak seksi sama sekali, tubuhnya jauh dari gitar spanyol, mirip ukulele-pun tidak. Bagaimana bisa pria tampan mirip direktur Uchiha itu seakan sangat membutuhkan wanita itu?

Mereka memang tak ada yang mengira bahwa lelaki itu adalah Uchiha Sasuke, lagipula tak mungkin kan Uchiha Sasuke yang di beritakan baru pulang dari Cina itu langsung ke mall dengan seorang wanita aneh? Pastinya itu adalah orang lain yang kebetulan mirip. Meskipun pemikiran mereka salah sepenuhnya karena lelaki itu benar-benar Uchiha Sasuke.

Kini Sasuke berdiri memandang istrinya yang mulai berkaca-kaca, dan sebelum dirinya hendak merengkuh tubuh sang istri, istrinya itu sudah memeluknya terlebih dahulu. Sangat erat seperti tidak mau melepasnya, Kakashi yang sedari tadi nampak mengantuk-pun sedikit terharu dengan adegan-adegan drama kecil yang akhir-akhir ini sering ditunjukkan oleh kedua tuan dan nyonya-nya itu. Sedangkan Temari hanya tersenyum bahagia dan Shikamaru memutar bola matanya bosan diperlihatkan hal seperti itu.

"Semua orang membicarakanku, aku hanya orang aneh dimata mereka. Arigatou Sasuke-kun. Sepertinya tanpamu aku hanya wanita yang tak berarti."

"Aku mencintaimu, Sakura. Dan kau sangat berarti." Pelukan mereka terlepas melihat seorang pelayan yang mengantarkan pesanan Sasuke.

"Sasuke-kun, ayo makan es krim."Sakura menarik tangan Sasuke, menyuruhnya untuk duduk di sebuah bangku, "Kakashi-san, Temari-san, dan Shikamaru-san, kalian bisa memesan es krim yang kalian suka. Sepuasnya!"ucap Sakura berbinar, lalu memandang Sasuke meminta persetujuan.

"Tentu saja."Jawab Sasuke. Mendengar itu membuat ketiganya menyambar menu dan memesan es krim kesukaan mereka, tak sering tuannya itu membiarkan mereka makan saat sedang bertugas.

"Aaaa. . . Ayo makan, Sasuke-kun!"Sakura menyendokkan es krimnya ke mulut Sasuke, Sasuke yang tak begitu menyukai es krim karena rasanya yang terlalu manis itu membungkam mulutnya sendiri, menjauhkan wajahnya dari sendok berisi es krim yang terus Sakura sodorkan padanya. "Ya sudah, kumakan sendiri saja kalau begitu!"

Sakura mulai melahap es krimnya, mengacuhkan kembali suaminya yang hanya menatapnya antusias. Sebelum sebuah ide gila terlintas di pikiran seorang Uchiha Sakura, ia mengamil sesendok penuh es krimnya dan memasukkannya ke mulut kecilnya, membuat es krim itu meleleh keluar dari mulutnya, bibirnya-pun tertempel es krim dan ia tidak memperdulikannya, terus menyendok penuh es krimnya, mencoba berpura-pura tak memahami pandangan di depannya kini sudah berbeda, kini wajah yang memandangnya antusias sedang menggigit bibirnya sendiri tak tahan dengan godaan sang istri, dan setelah mulut Sakura yang penuh es krim itu dan semakin banyaknya lelehan es krim di mulut dan bibirnya yang membuat bibirnya dua kali lebih seksi, akhirnya pertahanan Sasuke-pun runtuh.

Ia mendekatkan dirinya dan mulai menempelkan bibirnya di bibir istrinya, menjilat es krim yang ada di bibir wanita itu, serta menyeruput lelehan es krim di kedua sudut bibirnya, setelah itu ia mulai menggigiti bibir istrinya itu yang hanya memejamkan mata, ia sudah menduga suaminya tak akan tahan dengan godaannya, meskipun ia tak mengira Sasuke akan secepat itu tergoda.

"Kau bilang tak suka es krim."sela Sakura, membuka matanya. Dihadapkan langsung pada onyx yang masih menikmati bibirnya dengan lahap, "Tapi yang kulihat tidak seperti itu."Lanjutnya yang masih dengan bibir menyatu.

"Aku suka es krim dari bibirmu, Sakura. Kau puas?"Sakura hanya terkikik mendengarnya.

….

TBC

Ya, kembali pada author gaje, ganti! Peep— Ganti! Roger! Bala bantuan! Author tidak terdeteksi!

Hollaa.. hehe, apaan sih aku. Wkwk.

Udah apdet nih, semoga memuaskan yaa..

Be-te-we, aku mau ngucapin se big-big'nya thanks, super duper besar makasiiih, mega luas matur suwun, dan ultra dalam arigatou buat temen berjuwet riaa kalo ngomongin FF, B Skypiea yang udah ngeriview panjang n bikin terharu dan ngasih saran serta ngasih tau tulisan yang bener itu gimana, entah deh ini udah bener belum -_-

Mucah-mucah ya B! :* :* :* Aku usahain biar makin bener sesuai EYD.

Ada juga satu orang yang bikin aing spiicless (bacanya versi indo ajah) pas baca review-nya, yaitu deepsi. Hm, mini mikro thanks ya -_- wkwk, becanda, deng! #ngelirik matanya lagi mendelik kok serem. Makasih saja deh! Ehh, kok jahat. Oke, big thanks ya #dipaksa sumpah! *angkat dua jari bikin huruf v*

Waks! Dep, i hate you! 3 :* (baca : I love you!) #tidak dalam arti sebenarnya. Heh? Yampun! Tolong hentikan kegajean ini -_-

Makasiih banget yang udah meriview, bener-bener makasiiiiihh banget, review kalian aku baca satu-satu dan bener-bener menghibur banget sumpah! Aku terharu bacanya, seneng deh : ) Terus review ya! Jujur, review kalian pengaruh banget sama mood-ku, wkwk.

buat yang log in aku balesnya lewat PM :)

dan yang gak log in :

Ruki Schiffer : Iya, bener banget! Aku juga iri maxx : ) ini udah apdet! makasih udah ripyu yaw. Jangan lupa ripyu lagi. : )

Guest : Iya, beda aneedd. Kan pas di rumah ada istri tercintahh : ) Ini udah apdet : ) Ayo ripyu lagii

Aka-chan : Makasiih *yeay dibilang seru* ini sudah apdet. Maaf ya gak kilat. Ayo ripyu lagii

Abilapr : Yeayy.. aku juga suka sasusaku disini. #lo lagi muji ff sendiri apa gimana?! Ini udah lanjut. Makasiih ya udah ripyu. Ayo ripyu lagii.. Maaf ya gak kilat.

NM : Bagus? Apa ganteng? Waks. Oke makasiih.. ini udah apdet. Ayo ripyu lagii

Mega : megaaa.. teh paitnya abiss, ketelen apa yah..wkwk. Iya, saya semangat sekaliii.. ini udah apdet. Maaf gak udah ripyu. Ayo ripyu lagii

Guest : AKu bahagia ada yang melelehh..wkwk. AMiiinn.. semoga selalu seperti ini. Mari doakan sama-sama. Wkwk. Ini udah lanjut. Makasiih udh ripyu.

Guest : Yeayy.. Makasiihh. Ayo ripyu lagii

Deep : -_- Aku lelah selalu dibuang. Okee say! -_- Gak ripyu gak papa, becanda deng! #kok gak lucu?! Abaikan. Ripyu lagi juga gapapa, kalo engga juga.. gak . Ayo ripyu lagi #basabasi.

Thankiieess all… :* :* :*

Sign

Anfidoos.