ASK AS MUCH AS YOU WANT

A Naruto Fanfiction by Anfidoos

Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

.

Warning: OOC, Typo(s), EYD dipertanyakan (?), etc

.

.

.

DLDR

Chapter 3

Bunyi gemelotak heels yang terketuk akibat gesekan-gesekan dengan lantai yang berulang-ulang dan menggema di kamarnya itu membuat Uchiha Sasuke kembali menutupi telinganya dengan guling. Ia sudah meniliknya dan yang ia dapati adalah sang istri tengah bergaya di depan kaca dengan mencoba memakai pakaian office girl-nya, dan yah sejujurnya ia tertarik untuk menonton tingkah polah menggemaskan istrinya itu. Namun ia tak bisa lagi membiarkan matanya untuk bekerja setelah dipaksa untuk digunakan terus menerus, pekerjaanlah yang selalu memaksanya begitu.

Belum lagi semalam istrinya itu kembali berulah dengan memintanya menemani dirinya untuk mengadakan kursus dadakan dengan para pelayan. Semalam semua pelayan dikerahkan Sakura dan dimintai tolong olehnya untuk memberinya bimbingan, seperti cara membuat teh dan kopi, mengelap meja, mencuci piring, dan hal lainnya yang dapat membuat Sasuke melongo. Ia tak pernah melihat Uchiha Sakura, istrinya itu begitu tertarik dengan sesuatu sampai benar-benar melakukan semuanya sejauh itu. Dan, meskipun dengan berat hati, tetap saja tak ada yang bisa ia lakukan selain menuruti keinginannya, ia bahkan tetap menemani istrinya itu sampai setengah satu malam, memang tak mudah mengajarinya.

Dan kini waktu masih menunjukkan pukul setengah lima pagi, SETENGAH LIMA PAGI. Dan suara heels yang dipakai Sakura untuk mondar-mondar benar-benar menginterupsi pikirannya, ia tak bisa tidur dengan tenang jika begini.

"Sakura, berhentilah berkaca. Kemarilah, kau perlu istirahat."Sasuke menyerah dengan usahanya untuk kembali terlelap, kini ia setengah terbangun dan menepuk-nepuk kasur disampingnya, mengisyaratkan pada sang istri untuk menemaninya tidur kembali.

"Aku perlu persiapan, Sasuke-kun. Tidurlah sendiri."ucap Sakura yang masih asik dengan kegiatannya, membuat Sasuke menaruh pipinya di lipatan punggung tangannya, dengan wajah datar namun terlihat jelas bagaimana wajahnya menampilkan seorang yang kelelahan, dan sepertinya matanya yang sudah berkantung dengan lingkaran hitam dibawahnyalah yang paling mendukung fakta betapa lelahnya seorang Uchiha Sasuke sekarang.

"Kemarilah, Sakura. Dengarkan perintah suamimu!"Sasuke kembali berucap, namun kini Sakura mengabaikannya. Ia menempatkan kacamata gayanya yang berwarna hitam yang awalnya tertahan oleh hidung mancung sakura ke atas kepala, lalu kembali berpose. "Uchiha Sakura… dengan siapa kau bicara?"

"Apa yang kau bicarakan, Sasuke-kun?!"

Sasuke bangkit dari kasur king size-nya, lalu berjalan mendekati Sakura yang masih berkutat dengan cermin besar sehingga Pantulan bayangan Sasuke yang berjalan mendekat terlihat jelas oleh Sakura, namun ia tak takut. Memangnya apa yang akan dilakukan suaminya?

"Uchiha Sakura, kau sedang bicara dengan direktur perusahaan Uchiha Corp tempat dimana kau akan bekerja, dan kalau kau tak ingin aku memecatmu di hari pertamamu, sebaiknya sebagai office girl yang baik menuruti keinginan atasannya, benar kan?" Sasuke berdiri di hadapan Sakura dan menutupi cermin yang sedari tadi Sakura pandangi, serta menangkupkan kedua tangannya di pipi chubby istrinya sambil menciutkannya, membuat Sasuke tersenyum tipis melihat betapa lucunya eskpresi Sakura saat ini, Sakura mengangguk pasrah agar cepat dilepaskan.

"Kau menggunakan kekuasaanmu untuk memerintahku. Curang! Di rumah kan aku istrimu."seru Sakura jengkel sambil memberengutkan wajahnya sebal, ia juga beradu tatap dengan onyx Sasuke yang justru semakin puas dengan respon yang diberikan Sakura.

"Siapa bilang?" Sakura semakin membelalak, ia tak percaya suaminya akan mengatakan hal itu. Apa maksudnya? Jadi, Sasuke tak akan mengakui dirinya sebagai istri hanya karena ia bersikeras bekerja menjadi office girl? Ini tidak lucu.

"Kau istriku dimanapun kau berada."ucap Sasuke menarik tubuh Sakura agar terperangkap dalam rengkuhannya, ia memeluk istrinya posesif. Sedang yang dipeluk juga balik mengeratkan pelukannya dengan senyum yang tercetak jelas disana. "Jadi, menurutlah. Oke?" Sasuke menuntun wanitanya itu untuk kembali ke ranjang mereka, menarik kembali selimut keatas dan bergelung di dalamnya, sedang tangan kekarnya masih melingkar dengan eratnya di pinggang mungil istrinya, yang nampak menguap. Bahkan dengan sedikit belaian di rambutnya, dengkuran halus terdengar di gendang telinga Sasuke, seolah mendengar nyanyian tidur iapun turut terlelap dalam mimpinya.

Kini kedua suami istri itu tengah menikmati waktu bersamanya pergi bekerja di perusahaan untuk pertama kalinya, tentu saja. Ia memang memiliki alasan kenapa tak ingin membawa serta Sakura ke perusahaan, serta mengumumkan mengenai statusnya yang sudah beristri. Tapi Sasuke tak habis pikir jika untuk pertama kalinya kesempatan datang untuk membawa serta istrinya, ia harus berada dalam posisi yang begitu bertolak belakang seperti ini. Direktur utama dengan Office girl, belum lagi keinginan Sakura yang menyuruhnya berpura-pura tidak mengenalnya. Mencoba protes? tentu saja. Tapi ia sudah berhenti memprotes saat Sakura dengan tegasnya mengatakan kalau hal itu adalah keinginan sang jabang bayi, tentu saja Sasuke hanya dapat mengangguk pasrah dengan hal itu. Ya meskipun bisa saja itu hanya alasan Sakura, ia juga tak sampai hati membiarkan keinginan Sakura terabaikan begitu saja.

"Stop, Kakashi-san!" Sakura yang sedari tadi menyandarkan kepalanya di bahu Sasuke mengangkat kepalanya tiba-tiba dan berteriak, tentu saja hal itu sedikit mengagetkan Sasuke yang tengah asik menggenggam tangan sang istri dan memainkan rambut pinky-nya yang baru dikeramas itu.

"Ada apa, Sakura?"Sasuke menatap istrinya bingung.

"Sasuke-kun, Aku tidak mungkin datang satu mobil denganmu. Aku, office girl. Kau, Direktur utama. Aku tidak mungkin satu mobil apalagi satu bangku denganmu. Nanti semua orang akan mencurigaiku." Ya, Sakura mulai lagi dengan ide anehnya yang semakin lama semakin menggila.

"Sekarang maumu apa?"

Sakura menghela napas, lalu mengangguk menghilangkan ragunya. "Aku harus turun dan jalan kaki."jelasnya.

"TIDAK!" respon Sasuke tanpa perlu menimbang-nimbang. Kini apalagi? Setelah dengan sangat berat hati mengijinkan istrinya menjadi office girl di perusahaan, kini ia meminta jalan kaki untuk datang kesana hanya karena tak mau ketahuan? Tidakkah Sakura itu memikirkan betapa khawatirnya dirinya pada istrinya itu dan pada calon buah hatinya?

"Sasuke-kun, aku tak mau ketahuan di hari pertama. Aku bahkan membeli hape buluk ini agar tidak ketahuan, dan sekarang malah mau berangkat bersama? Tidak mungkin."

"Sakura, dengarkan aku. Aku memang tak bisa untuk menolak permintaanmu. Tapi tidak kali ini, kau sedang hamil. Aku tak mau mengambil resiko hanya karena bermain peran seperti ini."

"Tapi aku tak mau ketahuan."suara Sakura terdengar sedikit serak, Ia kembali menaruh kepalanya untuk bersandar pada dada bidang Sasuke, mencari kenyamanan disana. Sedang Kakashi hanya terdiam, menunggu keputusan yang akan dibuat oleh majikannya itu.

"Tapi jangan melakukan hal bodoh seperti itu."respon Sasuke mengecup ujung kepala istri pinky-nya.

"A-ah, benar juga, kenapa tidak terpikirkan? Aku akan duduk di depan bersama Kakashi-san, jadi aku bisa mengatakan kalau aku tetangga Kakshi-san yang juga ingin mendapat pekerjaan, jadi tidak masalah aku berangkat naik mobil bersama asalkan tidak sebangku denganmu di bangku belakang, Sasuke-kun."

"Sakura, apa maksud dari idemu adalah kau duduk dengan lelaki lain di depan suamimu sendiri?" seru Sasuke tak terima dengan usul Sakura, yang benar saja. Ia akan melihat istrinya bersebelahan dengan bawahannya di depan matanya sendiri? Tidak mungkin.

"B-bukan begitu, A-aku... Kalau begitu jalan kaki saja."

"Lupakan, kau boleh pindah saat jaraknya tinggal seratus meter dari perusahaan."jelas Sasuke memberi keputusan, ia memalingkan wajahnya karena terpaksa harus memutuskan hal ini. Tentu saja ini bukan kemauannya, sekalipun hanya sejauh seratus meter melihat mereka duduk berdampingan, tapi rasanya tetap saja jengkel.

"Arigatou, Sasuke-kun. Aku mencintaimu, suamikuuuu."ucap Sakura memeluk Sasuke erat, sedang Sasuke masih enggan menatap istrinya, tentu saja ia masih tak menyukai ide yang ada di benak sang istri. Huh, apa-apaan itu?! Sakura hanya terkikik melihat suaminya yang nampak kesal dengan idenya, entahlah. Yang penting suaminya itu menyetujui usulnya, tentu saja ia tak mau langsung dicurigai staff lain kalau dirinya merupakan istri dari direktur mereka.

"Hn."respon Sasuke singkat, membuat Sakura semakin mengeratkan pelukannya mencoba menggoda suaminya dan mengurangi kekesalannya yang nampak begitu kentara karena tiba-tiba saja aura dalam mobil itu menjadi berbeda. Suaminya itu memang tak pernah marah padanya, namun merajuk karena hal seperti ini bukanlah yang pertama kali.

"Sumimasen, Sasuke-sama, Sakura-sama. Kita sudah sampai 100 meter sebelum gerbang masuk Uchiha Corp." ucap Kakashi menghentikan mobilnya dan menepi, memberikan waktu untuk kedua majikannya menentukan keputusan selanjutnya.

"Hai, Aku akan pindah ke depan."Sakura beranjak hendak menukar tempatnya ke depan, namun sebelumnya ia sempatkan mengecup pipi sang suami yang masih saja memalingkan wajahnya ke arah lain, sedangkan Kakashi yang mengetahui mood tuannya sedang tidak baik, hanya terdiam.

Setelah bokong Sakura menyentuh jok mobil depan, Kakashi kembali meneruskan mobilnya menuju perusahaan yang bangunannya sudah terlihat menjulang tinggi seolah hendak mencabik langit, karena mencakar saja sepertinya tak cukup. Dan setelah mobil itu berhenti tepat di depan pintu masuk utama, dimana hanya kendaraan Sasuke sajalah yang boleh berhenti disana, baik Sasuke maupun Sakura tak membuka suara. Sepertinya sudah saatnya, namun belum ada dari mereka yang turun. Padahal beberapa staff yang di depan gedung sudah menundukkan kepalanya menunggu sang direktur keluar dari mobil.

"Mana tanganmu?" Sasuke membuka suara, Sakura yang sedari tadi ketar ketir takut karena merasakan kali ini kekesalan Sasuke lebih menyeramkan dari biasanya hanya menunduk, ia mengepalkan tangannya yang mulai berkeringat padahal AC dalam mobil itu cukup dingin. Namun ia tak boleh seperti ini, yang di depanmu bukan hanya direktur perusahaan tempatmu bekerja, melainkan suamimu, Sakura. Untuk apa kau takut?

Sakura menjulurkan tangannya, matanya menyipit dan uluran tangannya sedikit bergetar, selan itu mulutnya juga meringis takut. Pikirannya berjalan terlalu jauh, apa Sasuke akan memukul tangannya? Tapi sebelum ini ia tak pernah bersikap begitu semarah apapun dirinya padanya sampai melakukan kekerasan.

Sasuke menerima uluran tangan Sakura, matanya masih menyorot tajam dan wajahnya datar. Sungguh, Sakura bahkan berani mengangkat sebelah tangannya bersumpah bahwa ia meragukan lelaki di depannya yang biasanya selalu lembut dan baik padanya itu adalah suaminya. Belum lagi onyx itu masih memicing dengan tajamnya seolah hendak menelan Sakura hidup-hidup. Namun tiba-tiba saja pandangan Sasuke melunak, ujung bibirnya melengkung tipis membentuk senyuman samar, dan ia mendekatkan bibirnya pada tangan Sakura, mengecupnya lembut, namun matanya masih menatap lekat sosok istrinya yang kini sudah tersenyum, bodoh sekali dirinya yang sedari tadi ketakutan tidak jelas pada suaminya itu.

"Jaga dirimu baik-baik, Sakura."ucap Sasuke tepat setelah ia melepaskan bibirnya dari tangan Sakura, ia menarik tubuh istrinya dan kini bibir mereka bertemu dan menyatu, Kakashi yang melihat hal itu hanya menunduk. Memang bukan hal baru melihat tuan dan nyonya-nya melakukan hal itu, di rumahpun sudah tak terhitung berapa kali ia melihat adegan seperti itu. Namun kali ini berbeda, dirinya berada satu mobil dengan kedua majikannya yang masih saja menyatukan kedua bibir mereka dan mengacuhkan keberadaan dirinya. Sungguh ia ingin keluar dari tempat sempit itu yang membuat dirinya seolah yang merasakan kecanggungan, namun belum ada perintah khusus mengenai hal itu sehingga Kakashi hanya diam. Ia bahkan belum berani mengangkat pandangannya hanya untuk memastikan apakah kegiatan kecil mereka sudah berakhir atau belum.

Tak berselang lama Sasuke memberi isyarat pada Kakashi untuk membuka pintu mobil, dan segera saja dirinya membukakan pintu. Sasuke keluar dari pintu yang disambut oleh staff-staff yang memang berada di depan, setelah sebelumnya sempat mendongakkan kepala mereka karena sang direktur yang tak kunjung keluar dari mobil mewahnya itu kembali menunduk hormat begitu Kakashi turun dan membukakan pintunya.

Tanpa basa basi, Sasuke hanya melangkah turun dan melewati staffnya begitu saja dan berjalan dengan angkuhnya, sama seperti biasanya dan bergegas ke ruangannya. Tak ada respon khusus yang keluar dari mulut Sasuke meskipun semua staff yang memberinya hormat padanya itu memberikan sapaan hangat selamat pagi padanya. Namun setelah direktur mereka pergi, kehadiran sosok gadis berambut pink dengan mengenakan pakaian office boy yang keluar dari mobil sang direktur menginterupsi perhatian mereka sehingga mereka tak langsung memasuki perusahaan, namun terlebih dulu mengamati lamat-lamat gadis yang nampaknya masih sangat belia itu dari ujung kepala sampai kakinya, sudah lama perusahaannya itu tidak mempekerjakan office girl.

"E-ehm, Aku Uch- Aku.. Aku Uch- Uchimokuro Sakura, tetangga Kakashi-san. Aku akan bekerja sebagai office girl disini, douzo yoroshiku onegaishimasu." Sakura tergagap saat menyebutkan namanya, lidahnya secara spontan hendak menyebut embel-embel Uchiha di depannya. Untung saja terlintas kata 'Uchimokuro' sehingga tidak menimbulkan kecurigaan yang berarti.

Setelah melihatnya secara utuh dan mendengar perkenalan yang tidak begitu lancar darinya para staff mulai masuk ke pintu utama, mengabaikan perkenalan Sakura. Dia hanya gadis biasa yang tak begitu mempesona, hanya wajahnya saja yang sedikit imut dengan pipi chubby-nya, namun jidatnya begitu lebar dan perawakannya tidaklah dapat dijadikan sasaran empuk pelampiasan fantasi bagi mereka. Kakashi tersenyum tak enak majikannya diperlakukan demikian, namun ternyata Sakura juga tengah tersenyum. Nampaknya Ia memakluminya.

"Sakura-sama, ayo masuk kedalam."ucap Kakashi begitu semua staff masuk, sedangkan Sakura memelototkan matanya garang mendengar panggilan kakashi yang masih menggunakan suffix –sama padanya.

"Berhenti memanggilku dengan suffix -sama disini, panggil saja Sakura."ucap Sakura sedikit berbisik-bisik, Kakashi mengangguk mengerti dan menyuruh dirinya masuk ke dalam.

"Silahkan berkenalan dengan staff disana, dan ruangan Office boy ada di belakang."ucap Kakashi memberi intruksi, yang dijawab anggukan antusias dari Sakura. "Saya akan pergi ke ruangan Sasuke-sama." Sakura mengangguk dan menggumamkan 'arigatou' padanya, lalu mulai melangkahkan kakinya mendekati ruangan staff yang nampak sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Hanya ada beberapa staff perempuan di ujung sana yang sepertinya sedang berbincang.

"Sumimasen, Ohayou gozaimasu. Aku Sakura. Office girl baru disini, douzo yoroshiku onegaishimasu."ucapnya memberi perkenalan dengan riang, sontak saja pekerjaan para staff itu terhenti dan kini memandang Sakura dengan pandangan yang entah sulit diartikan oleh Sakura. Dan kembali Sakura dihujani oleh tatapan mengintimidasi dari sorotan mata mereka, dan kembali ditatap dari atas ujung kepala sampai ujung kakinya, sama seperti saat staff di depan yang juga memperlakukannya begitu.

"A-ah, kau yang tadi satu mobil dengan Sasuke-sama? Perkenalkan aku Tenten."ucap seorang gadis berambut cokelat bercepol dua, merespon perkenalan Sakura sekaligus mendekat menghapus jarak antara mereka berdua, jarak yang tak hanya mengeliminasi ruang, namun juga jabatan. Membuat Sakura sedikit terasa terhibur karena merasa dihargai oleh mereka meskipun dirinya HANYA seorang office girl dan HANYA merupakan istri dari direktur utama mereka yang kali ini identitasnya ia sembunyikan. Tak ada yang salah dengan kata 'Hanya' disini, kan?

"Iya, aku tetangga Kakashi-san sehingga mulai sekarang aku satu mobil dengannya."

"Waaahh… sugoi… kau sangat beruntung dapat satu mobil dengan direktur. Aku tau kau mungkin mengira aku sudah menikah tapi aku masih menunggu Sasuke-sama melamarku." sela seseorang yang menurut Sakura memiliki tubuh yang benar-benar seksi apalagi pakaian yang membungkusnya yang berupa kemeja ketat berwarna peach memperlihatkan setiap lekukan tubuhnya dan juga bawahan rok span hitam yang begitu kontras dengan kaki jenjangnya. Ia juga memiliki rupa yang cantik, pakaiannya yang sepertinya bukan merek sembarangan itu juga menambah poin plus baginya.

Ada apa ini? Hanya melihat dua dari pegawai suaminya saja membuat dirinya sedikit minder dan kehilangan kepercayadiriannya, mereka berdua benar-benar memiliki paras yang cantik dan memiliki tubuh yang tidak bisa diabaikan apalagi bila seorang lelaki normal yang melihatnya pasti akan jatuh kedalam pesonanya. Dan bukan tidak mungkin suaminya diam diam menaruh minat pada mereka, mengingat suaminya adalah lelaki normal. Tapi tidak mungkin, Sasuke-kun bukanlah orang seperti itu, ayolah mana rasa percaya dirimu, Sakura?! Mau bagaimanapun istri Sasuke-kun adalah dirimu.

"Heh?!"Sakura membelalakkan matanya, baru tersadar dari lamunannya. Apa katanya, melamar? Jangan-jangan semua wanita disini menyukai suaminya? Tidak, jangan biarkan hal itu terjadi. Ia tidak bekerja disini dengan menyamar untuk hal ini, ia hanya ingin tau bagaimana sosok suaminya dimata mereka. Sakura memang memaklumi banyaknya wanita yang menyukai dan mengagumi sosok Sasuke, tapi tetap saja menghadapi kenyataan secara langsung seperti ini bukanlah kemauannya, apalagi kali ini ia harus melakukan sedikit peran yang membuat dirinya dengan suaminya terasa memiliki jarak yang sulit diretas dan sulit di eliminasi dari segi manapun.

"Abaikan dia, Sakura. Tsunade-san memang orangnya begitu. Orang setampan Sasuke-sama tentu saja akan mencari pasangan yang cantik dan tentu saja muda, dia tak akan gampangan memilih gadis untuk dijadikan istrinya. Apalagi di usianya yang baru dua puluh dua, dia sudah begitu sukses menjadi direktur utama di perusahaan ini. Gadis manapun tak mungkin tidak jatuh hati padanya." jelas seseorang yang lain, ia bahkan belum memperkenalkan namanya namun sudah berceloteh mengenai ketampanan Sasuke, benar-benar tak mungkin Sakura memberitahu yang sebenarnya pada mereka. Bahkan mereka sedang membicarakan seseorang didepan istrinya sendiri. Tak salah lagi, wanita itu juga menyukai Sasuke-kun. Sudah tiga orang yang wanita cantik yang berkenalan dengannya, dan semuanya menyukai Sasuke-kun!

"Apa maksudmu? Aku yakin Sasuke-sama punya mata yang bagus untuk memilih seseorang menjadi istrinya, ia akan memilih wanita yang memiliki body yang bagus sepertiku, tidak kerempeng sepertimu Matsuri, Tenten, atau mungkin sepertimu, Sakura."ucapnya menghela napas, lalu menutup mulutnya seperti baru menyadari sesuatu. "Ah, kenapa aku begitu jujur? Gomen, tapi jujur saja tubuhmu benar-benar kecil, Sakura." Pernyataan Tsunade padanya benar-benar menohok hatinya, kerempeng dan kecil? Belum pernah ada yang mengatakan hal seperti itu padanya, bahkan suaminya sekalipun.

"Jangan diambil hati, Sakura. Dia memang sukanya begitu,kok. Oh ya, apa Sasuke-sama membiarkanmu begitu saja naik mobil mewahnya? Kudengar mobil apalah itu namanya harganya senilai 40 miliar, lho. Aku bahkan tak bisa membayangkan bagaimana cara pembayarannya."ucap gadis bercepol yang diketahui bernama Tenten, ia baru menyadari ternyata pakaian yang dikenakan Tenten tak jauh berkelas dari yang dikenakan Tsunade, meskipun pakaian yang mereka kenakan tak memiliki harga semengerikan dirinya, tetap saja itu adalah baju yang lumayan berkelas untuk ukuran mereka, dan entah mengapa pakaian itu jadi terasa lebih berkelas dipakai oleh mereka. "Sakura?!"

"Ah, maaf. Namanya Lamborghini Veneno, dan harga lebih tepatnya 41,06 miliar , Tenten-san."jelas Sakura, lagi-lagi dirinya melamunkan hal yang tidak seharusnya ia pikirkan. Ini adalah resikonya memilih office girl di perusahaan ini dan berpura-pura tak mengenal suaminya sendiri. Tapi ini benar-benar diluar pemikirannya, mereka benar-benar tau mengenai semuanya. Bahkan harga Lamborghini itu, meskipun sedikit meleset. Tapi kan tetap saja.. Tunggu, Ah kenapa dirinya begitu bodoh? Kenapa pula ia harus membetulkan ucapannya mengenai nama harga persis mobil itu?

"Eh? Bagaimana kau tahu?"sela Tenten dan beberapa staff lain ikut mengangguk menuntut jawaban darinya.

"A-ah, aku…Aku… mencarinya di internet."

"Oaaalaaahhh…Wow, wow… Dia benar-benar pria yang mengerikan. Padahal usianya masih belia namun kekayaannya seakan sulit di dibayangkan." Matsuri mengatakannya dengan mata berbinar, sedangkan Sakura hanya menunduk meratapi kebodohannya yang bisa semudah itu meloloskan hal tak masuk akal dari mulutnya, untung saja ia terpikirkan alasan itu. "Kalau saja sikapnya tidak seangkuh itu, pastinya akan lebih mudah mendekatinya. Selain itu, aku juga tidak terlalu buruk."lanjutnya, ini dia poin penting yang perlu Sakura catat, ternyata memang benar kalau suaminya adalah seorang yang angkuh, persis seperti yang terlihat di foto yang ia dapatkan hasil dari salah satu pelayannya yang ia suruh membuntutinya beberapa hari lalu, dan ternyata memang begitu kenyataannya, bahkan staff-pun secara gambling mengatakannya. Tunggu, mereka tak hanya menyukai Sasuke tapi juga ingin mendekatinya? Aaah, betapa gatalnya ia ingin membuka mulut dan mengklaim bahwa orang yang sedari tadi mereka ributkan adalah suaminya.

Tetapi memang tak ada yang salah bila seseorang mendekati lelaki yang disukainya, tentu saja semua orang berhak berlaku begitu. Yang salah disini adalah karena lelaki yang mereka dekati sudah beristri, dan mereka membicarakannya didepan dirinya yang merupakan istrinya. Walau bagaimanapun, tetap saja Sasuke sudah dimiliki olehnya sepenuhnya. Mungkin mereka memang cantik, rupawan, memiliki perawakan yang bagus, tubuh yang molek dan seksi, bahkan mengundang nafsu para lelaki, apalagi mereka cerdas dan sepertinya dapat diandalkan, selain itu mereka semua juga nampak dari keluarga yang tidak bisa diremehkan meskipun hanya bekerja sebagai staff biasa, dan dapat di tegaskan sekali lagi hal itu dapat diketahui dengan jelas lewat pakaian yang mereka kenakan, tapi tetap saja mereka bukan siapa-siapa dari Direktur Utama Uchiha Corp, Uchiha Sasuke.

Sedangkan Sakura yang terlihat menyedihkan dengan baju atasan dan bawahan berwarna biru muda norak lengkap dengan logo Uchiha yang seharusnya bisa dibanggakan dan berkelas bila berupa pin yang tertempel di atas pin nama, namun sekali lagi sayangnya logo tersebut benar-benar merusak pemandangan karena logo tersebut mendominasi pakaian atasannya baik dari depan maupun belakang. Sangat jauh berbeda dengan pakaian staff yang bebas namun kasual dan elegan yang menampilkan setidaknya belahan dadanya dan jenjang kakinya, selain itu kaki mereka juga terlapis heels yang memanjakan mata setiap yang melihatnya, sedangkan dirinya? Kakinya bahkan tak terlihat sedikitpun karena bawahan longgar sialan dan kakinya yang muluspun harus mengumpet di dalamnya. Belum lagi kakinya ia alaskan dengan sepatu sneakers, memang harganya cukup mencengangkan tapi dirinya tidak dapat memungkiri, ingin juga terlihat keren dengan memakai heels seperti mereka. Ah, betapa bodohnya telah memilih pekerjaan seperti ini, niat mau berbangga diri karena merupakan istri direktur malah luntur melihat betapa konyolnya penampilannya saat ini dibandingkan mereka yang bukan siapa-siapanya namun terlihat begitu berkelas.

"Kenapa kau disini? Apa yang kau lakukan disini, Sakura?!"tanya seseorang, sontak saja Sakura terbangun dari lamunannya dan mendongak untuk mengetahui siapa yang menanyakan pertanyaan yang terdengar menyudutkan dirinya tersebut.

"Aku bekerja sebagai office girl disini, maaf mengganggu sebelumnya."ucap Sakura yang membungkuk pada gadis berhelaian pirang itu dan hendak berlalu memulai kewajibannya sebagai seorang office girl.

"Aku benar-benar tidak bisa mengerti dirimu…"ucapnya lagi, kali ini ia menahan tangan Sakura. Sebenarnya ada apa dengan gadis itu? Kenapa ia bersikap seperti ini? Sedari tadi ia tidak merasa telah melakukan sesuatu yang salah padanya. "Aku merindukanmu, jidat!"ucapnya tiba-tiba memeluk dirinya. Heh? Kali ini apa? Jidat? Mungkinkah?

"Ino?"tanyanya ragu, yang ia lihat sedari tadi benar-benar bukan bukan sahabat pirangnya yang selalu bersamanya saat SMP dulu, namun seorang gadis cantik dan seksi yang lebih mirip seorang bule dengan bola mata aquamarine yang makin memperdalam anggapan bahwa gadis ini adalah bule. Namun ditengah keraguannya juga terbesit perasaan yang begitu kuat bahwa gadis itu benar-benar Ino mengingat hanya Ino-lah yang memanggilnya dengan sapaan seperti itu.

"Akhirnya kau mengingatku juga."responnya melepas pelukan yang seolah dapat membuat dirinya kehilangan pasokan udaranya, bahkan berciuman dengan Sasuke pun rasanya tidak sesesak ini. Tunggu, kenapa meributkan hal itu sekarang?!

"Kau benar-benar Ino pig?!"tanya Sakura masih tak percaya, Ino mengangguk mantap. Lalu setengah berlari dengan menyeret tangan Sakura, tanpa pikir panjang lagipun Sakura segera mengikuti Ino yang ternyata membawanya ke dapur, sepertinya tempat bagi Office girl seperti dirinya.

"Aku akan mengenalkanmu tentang perusahaan. Ini dapurnya, tugasmu adalah membuat minuman, mengantarkan barang, mem-fotocopy, dan menerima paket. Tapi kau harus menghafal semua jenis minuman yang disukai semua staff disini, termasuk direktur. Kau juga mengantarkan barang-barang yang diperlukan para staff, kalau memfotocopy bukanlah hal sulit karena tidak melelahkan, benarkan? Dan kalau menerima paket, kau hanya perlu mengecek apakah ada paket yang disampaikan oleh kantor pos? Kalau ada, kau harus menerimanya dan mengantarkannya. Bisa jadi paket itu dari perusahaan lain, atau milik seorang staff disini. Sangat jarang perusahaan menerima office girl disini, karena tugasnya memang lumayan berat. Hanya ada office boy yang selama ini menggantikan semua peran office girl, namun karena sudah ada kau, tugasnya jadi dilimpahkan padamu, para office boy lebih diarahkan untuk bagian kebersihan."

"Oh, begitu."respon Sakura, kepalanya seakan berputar. Oh ayolah, siapa yang tidak bingung dijelaskan oleh seseorang dengan begitu cepat sangat panjang seperti itu?

"Ada yang mengganjal, tapi apa ya aku lupa. Oh ya, kenapa pula sekarang bekerja menjadi office girl? Aku masih ingat betul kau cukup pandai di sekolah saat SMP dulu. Aku bahkan tak lebih pintar darimu, kenapa tidak coba melamar menjadi staff disini? Aku yakin kau punya kesempatan."

"Bukan begitu, hanya saja aku tidak ingin pekerjaan yang memusingkan."ucap Sakura, sahabatnya tersebut masih belum berubah ternyata, ia masih sangat cerewet.

"Tapi menjadi office girl juga bukan solusinya, meskipun gaji office girl di Uchiha Corp lumayan tinggi sih, tapi kan melelahkan."

"Aku baik-baik saja."respon Sakura, tersenyum.

"Ah, mungkinkah kau hanya sedang main-main? Jangan-jangan kau punya maksud lain seperti hanya ingin modus pada direktur, ya?! Ayo ngakuuu! Kau hanya ingin numpang di mobil direktur dan bisa memandanginya dari jarak dekat… Oh oh oh sekarang aku dapat memahaminya, kau sengaja memilih pekerjaan office girl agar bisa dekat-dekat direktur saat mengantarkan minuman ya?"

"Ah- b-bkan begitu."

"Ayo ngaku saja, Sakura! Ngaku ayo ngakuu.. Kau harus tau, tentu saja kau boleh bermimpi, aku juga sejujurnya sering bermimpi menjadi kekasih direktur, pastinya sangat menyenangkan. Tapi ya, aku sadar tentu saja staff biasa sepertiku tak punya kesempatan untuk mendapatkan hati direktur yang sedingin es dan seangkuh itu, tapi tetap saja pesonanya mengobrak abrik pikiranku dan memaksaku untuk lebih percaya diri mendekatinya, lagipula tak hanya aku disini sendirian yang menyukainya, tetapi hampir semua staff perempuan disini juga tergila-gila padanya."

"Benarkah? Hampir semua?"tanya Sakura dibuat melongo dengan pernyataan sahabatnya.

"Hu um, namun sayangnya direktur tak pernah terlihat menaruh minat pada wanita di perusahaan, ia sangat dingin meskipun pada perempuan. Hanya Karin-san yang sepertinya dapat membuat hatinya lunak, ah tentu saja karena ia adalah mantan kekasihnya. Memang sih, Karin-san sangat cantik dan seksi selain itu dia juga berasal dari keluarga yang terpandang, dia bukan gadis sembarangan. Belum lagi disini dia adalah sekretaris pribadi direktur, tentu saja ia jadi sering sekali terlihat bersamanya. Kau tau, bukan tidak mungkin mereka kembali menjalin kasih, mengingat hanya Karin-san yang berani memanggil Sasuke-sama dengan suffix 'San'. Kedekatan mereka benar-benar membuatku iri! Tapi, sebenarnya meskipun Sasuke-sama dekat dengan Karin-san, tak jarang Sasuke-sama juga membentaknya bila kinerjanya salah. Pokoknya, selama aku hidup sampai sebesar ini, aku baru melihat ada lelaki yang begitu sulit di dekati seperti Sasuke-sama, aku bahkan pernah berpikiran kalau Sasuke-sama adalah gay."

"SASUKE-KUUN BUKAN GAYY!"

krik krik krik.

Ada apa ini? Kenapa lagi-lagi Sakura bertingkah bodoh? Kenapa ia bisa begitu tololnya emosi karena Sasuke dikatakan 'gay'? Seharusnya dia bisa mengendalikan diri, Ino pasti akan merasakan curiga padanya. Aaahh.. bagaimana kalau Ino tahu kalau dirinya adalah istri Sasuke? Ini bahkan merupakan hari pertamanya bekerja, ia tak ingin secepat ini ketahuan. Dan, ah kenapa pula memanggilnya menggunakan suffix 'kun'.

"Kun?"Ino mendekatkan wajahnya menatap Sakura, wajahnya begitu kaget terlihat seakan baru saja mendengar pengumuman kapan persisnya hari kiamat akan terjadi. "Aku bisa memaklumi kau tak terima Sasuke-sama dikatakan gay, tapi kau tak boleh bersikap tidak sopan, Sakura. Bahkan Karin-san yang merupakan mantan kekasih direktur memanggilnya dengan suffix 'san', aku bukannya tidak suka mendengarmu menyebutkan namanya, hanya saja kau bisa dilabrak olehnya bila Ia mendengarnya. Tapi, tak masalah bila kau menggunakan suffix 'kun', tapi kau hanya boleh menyebutkannya bila dihadapanku, hanya di depanku. Bisa berbahaya bila Karin-san tau."

"Ah, baiklah. Rasanya lebih menyenangkan memanggilnya 'Sasuke-kun', tapi kalau tidak sopan, aku akan membiasakannya memanggil dengan suffix 'Sama'."

Ah, sepertinya penderitaannya tak hanya sampai disini, siapa lagi itu Karin? Mantan kekasih Sasuke-kun? Ia bekerja bersama dengannya, bahkan sedekat itu? Kenapa suaminya tak pernah mengatakn apapun? Dan ia harus membiasakan diri memanggil suaminya dengan suffix 'sama'?!

"Aku sudah melihat gelagat wanita yang sepertinya tak punya sopan santun sepertimu, Sakura-san. Aku tak mau berlama-lama berbicara denganmu, hanya saja kau terlalu lancang menyebutnya dengan suffix semaumu, kau harus tau hanya mantan kekasihnya saja, yaitu aku yang boleh memanggil direktur dengan akrabnya yaitu 'San', kuharap kau cepat mengerti posisimu."ucap seseorang yang tiba-tiba saja datang dari pintu dapur dan mendekat padanya, semua yang dikatakan ino tidak salah. Dari semua wanita yang ia lihat sedari tadi, ternyata Karinlah yang paling menawan dari mereka semua. Dan itu benar-benar membuatnya muak, bahkan sangat muak. Apa-apaan gadis tidak tahu diri ini memakinya? Tidak tahukah dengan siapa ia sedang berhadapan? Dia sedang berhadapan dengan ISTRI dari orang yang sedari tadi ia ributkan.

Setelah mengatakan hal itu, Karin keluar kembali setelah sebelumnya tangannya mampir dan mengacak sedikit helaian pinky Sakura, memang tak membuatnya berantakan, tapi tetap saja menyebalkan.

"Itu yang kumaksud, Sakura. Kau harus lebih berhati-hati. Sepertinya aku tak bisa menunda lagi pekerjaanku. Kita bertemu saat jam makan siang, ya! Jaa, Sakura!"Ino mengatakan itu dan setengah berlari keluar dari pintu dapur, dan benar-benar menghilang saat pintu itu tertutup, meninggalkan Sakura yang sendirian dengan kedongkolan hatinya yang bahkan sulit ia gambarkan.

….

Dan disinilah Sakura berdiri, tepat di depan pintu masuk ruangan khusus direktur. Setelah semua yang terjadi, akhirnya badai telah berlalu. Memang, telah terjadi badai besar dimana rasanya dunia seakan jungkir balik seperti sedang menaiki wahana tornado, dimana dirinya yang biasanya menyuruh-nyuruh dengan seenak hati pada pelayannya kini ia menjadi sasaran empuk para staff untuk membuat dirinya membantu pekerjaan-pekerjaan mereka.

Sangat sulit-pun rasanya masih kurang untuk di katakan mengingat betapa tidak mudahnya membantu pekerjaan mereka, mulai dari membuatkan minum. Sepertinya terdengar sederhana ya, hanya membuatkan minum. Tapi ia tidak membuat minum untuk dirinya sendiri sehingga ia bisa dengan mudah meracik minuman yang diinginkannya. Ia meracik minuman untuk 35 staff yang terdiri dari 15 wanita dan 20 pria, apalagi mereka memiliki lidah yang berbeda dan secara otomatis selera mereka juga berbeda, mungkin bila dikumpulkan dan didata, ia hanya perlu membuat 5 macam minuman, teh, kopi, jeruk panas, Cappuchino, dan latte. Untuk orang yang baru mempelajarinya semalam cara membuat semua minuman itu tentu bukan tidak mungkin menjumpai kesalahan. Ia benar-benar bingung awalnya cara membuat semua minuman itu, dan setelah bersusah payah mencari informasi dari internet, dirinya harus dihadapkan pada masalah lain dimana takaran gula yang mereka inginkan benar-benar berbeda.

Ada yang menyukai manis, atau sedang, atau bahkan tanpa gula. Belum lagi, beberapa bahkan tak mau wadah tertentu, misalnya Karin-san lebih menyukai cangkir tanpa alas, Tsunade-san lebih menyukai gelas jumbo, Matsuri-san sangat suka gelas bertangkai, atau Ino tidak suka tutup untuk tehnya agar anginnya cepat masuk dan mendinginkan tehnya tersebut, belum lagi ada yang lebih suka wadah plastik agar dapat dipindah kemana-mana. Sungguh, bukan waktu-waktu yang mudah, untung saja semua dari mereka kecuali Karin memaafkan kesalahan dirinya, dan bahkan memakluminya karena ini merupakan pengalaman pertama kalinya baginya, tapi Karin benar-benar menggunakan kesempatan itu untuk memarahinya. Bagaimana eskpresinya ya, saat marah barusan? Ah, benar-benar muak untuk kembali dibayangkan.

Belum lagi urusan mengantar paket, ternyata paket tersebut memiliki ukuran yang sangat beragam, ada yang sekecil tempat pensil, bahkan ada yang sebesar kardus tv 21 inchi. Dan yang lebih menyebalkannya lagi, sebagian besar barang-barang tersebut bukanlah kepentingan perusahaan, melainkan barang-barang pribadi milik staff. Dan yang paling menjengkelkan dari semuanya, banyak dari mereka yang menggunakan nama samaran, seperti Teddy gembul, Cepol badai, red eye glass,Tengkuk bengkok dan masih banyak lagi, membuatnya harus menanyakan satu persatu siapa si-pemilik nama itu.

Dan kini masalah baru menghantuinya, sedari tadi ia gagal mem-fotocopy. Semua file yang hendak ia fotocopy berhamburan dan justru menghasilkan hasil copy-an yang jumlahnya melipat berkali kali dari jumlah yang ia inginkan, dan menyebalkannya bukan arahan yang ia dapat justru amarah karena dikatakan menghambat karena bukannya membantu justru mengacaukan pekerjaan mereka. Dan untung saja kini semua deritanya akan sirna mengetahui dirinya akan segera menemui suami sekaligus direktur perusahaan tempat dimana dirinya bekerja, ia benar-benar tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.

"Tunggu, Sakura!" ucap seseorang yang membuat langkah Sakura terhenti dan berbalik, dan ternyata itu adalah Matsuri, Ia kemudian berjalan mendekat. "Biar aku saja yang mengantarkan minumannya."lanjutnya yang membuat lutut Sakura melemas dan hampir saja menjatuhkan kopi hitam khusus untuk suaminya tersebut, tidak cukupkah deritanya sedari tadi?

"Tak perlu repot-repot, Matsuri-san, ini sudah pekerjaanku."jawab Sakura masih memegang erat nampan minuman, sedikit menjauhkannya dari jangkauan Matsuri.

"Dia benar, Matsuri. Kau harus menyelesaikan laporanmu, direktur menunggu hasilnya hari ini,lho.. Lebih baik aku saja yang mengantarnya!"sela seseorang yang tak lain adalah Tsunade.

"Tidak-tidak, kalian melupakan jadwal? Helloow, hari ini jadwalku mengantarkan minum untuk Uchiha-sama."seru yang lain tak mau kalah, kali ini Ino yang membuka mulut.

"Lupakan soal jadwal, ayo kita suit seperti biasa."ucap Tenten memberi keputusan, diam-diam mereka semua menyetujuinya. Sakura yang masih memegang erat nampan nampak memberi tatapan puppy eyes yang membuat semua dari mereka merelakan Sakura juga ikut suit, dan ternyata memang keberuntungan sedang memihaknya. Tiga kali dari hasil suit itu menunjukkan kalau dirinyalah yang menang dan mendapat hak mengantar minum. Yess!

"Kau harus ingat tata kramanya, sebelum masuk, ketuk pintunya dengan ketukan yang pas dan irama yang khas, jarak antara ketukan pertama dan kedua jangan terlalu lama atau terlalu cepat, kemudian beri jeda selama 15 detik untuk menunggu adanya respon. Tepat sebelum menginjak detik ke-16 kau bisa mengetuknya ulang, dan saat itu kau bisa menyebutkan nama dan bagian serta keperluan. Jika selama 5 detik tidak ada tanda-tanda Kakashi-san membuka kenop pintu, itu artinya tak ada ijin masuk dari direktur. Namun jika pintu terbuka, itu artinya kau lolos. Setelah itu kau harus berjalan kearahnya, pandangan menunduk namun jangan terlihat gerogi apalagi sampai keringat dingin, direktur sangat tidak menyukainya. Lalu kau bisa menunduk dengan sudut elevasi tepat 45°, dan jangan beranjak sebelum anggukan kepalanya tertangkap matamu. Setelah memastikan ia mengangguk, kau bisa beranjak dan menyebutkan nama minuman yang kau bawa, gunakan kata yang sopan dan nada yang ramah tamah dengannya, meskipun aku yakin seratus persen ia tak memperdulikan hal itu. Tapi kau bisa digantung olehnya bila kau tidak menuruti tata karma. Oh ya, setelah itu taruh minumannya tepat di meja samping di sebelah selatan lampu hias, jarak lampu dengan minuman sekitar 15 cm, lalu kau bisa kembali setelah mengambil nampan dan pamit undur diri padanya." ucap Ino, Pernah melihat lari marathon? Cepat bukan? Lalu, bagaimana menurutmu jika yang kau lihat adalah ngomong marathon?!

Apa-apaan mereka itu, apa mereka sedang mengajarinya cara bersikap di hadapan suaminya? Apa tidak salah? Dan apa-apaan dengan semua itu? Padahal kan hanya tata cara mengantar minuman, namun terdengar seperti undang-undang di telinganya.

"Apa tata karma seperti itu benar-benar ada?"tanya Sakura dengan polosnya.

"Tentu saja, itu pengetahuan umum. Sudah cepat antar, aku mendoakan keberhasilanmu, Sakura! Ganbatte!"ucap ino mengayuhkan sebelah lengannya memberi semangat, diikuti para staff lain yang juga turut memberinya semangat. Kalian harus mengerti, bahwa berhadapan dengan suaminya adalah keahliannya, kalian tak perlu mencemaskan dirinya. Benar-benar seperti melihat lelucon garing.

Setelah mengangguk, akhirnya iapun mengetuk pintu sesuai dengan instruksi panjang lebar Ino, lalu menyebutkan namanya. Dan tak lama kemudian nampak Kakashi membukakan pintu untuknya, membuat lengkungan kecil tersembul dari bibir mungilnya, dan membuat staff lain memuji keberuntungan Sakura bisa memasuki ruangan pada ketukan pertama.

"Sasuke-kun!"pekik Sakura saat pintu kembali tertutup dan jurang pemisah antara seorang office girl dengan direktur utama seolah diretas dengan terbukanya pintu tadi, dan pemandangan yang dilihatnya dan menyegarkan pikirannya adalah sang suami yang tengah berkutat dengan setumpuk dokumen, ia mengenakan kacamatanya bahkan keningnya sampai berkerut karenanya. Benar-benar pemandangan langka dari suaminya.

"Sasuke-kun?"ulang Sakura kini mendekat, dan sepertinya Sasuke baru menyadari kehadiran sang istri sehingga ia baru mendongakkan kepalanya, dan benar saja. Sang istri yang sedari tadi ia curi-curi pandang lewat CCTV sembari mengerjakan setumpuk dokumennya tengah berdiri di depannya, ternyata istrinya itu tetap saja menggemaskan meskipun hanya pakaian office girl yang membalut tubuhnya kini.

"Sakura."respon Sasuke menyunggingkan senyum, andai saja ia bisa memamerkan hal ini pada semua staff diluar yang dengan sombongnya menyebutkan tata krama apalah itu padanya. See? dirinya jauh lebih mengerti dibandingkan kalian. "Kemarilah."

Sakura sedikit berlari menghampiri suaminya dan segera saja menghempaskan tubuhnya dipangkuan sang suami yang terduduk di atas kursi direktur utama layaknya singgasana raja. Setelah pantatnya terduduk diatas pangkuan sang suami dengan posisi miring sehingga kakinya terjulur kearah yang lain, Sakurapun mengalungkan tangannya pada leher sang suami. Sehingga posisi mereka saat ini seperti sedang digendong ala bridal style namun dalam posisi duduk.

"Bagaimana dengan pekerjaanmu, Suamiku? kau bisa berkonsetrasi penuh, kan?"tanya Sakura membuka-buka beberapa laporan yang tergeletak di hadapannya. Nama 'Tsunade' tertera di bagian depan laporan, ah ternyata laporan milik Tsunade-san.

Dengan tangan kiri yang menumpu beban punggung Sakura dan tangan kanan yang terbebas, Sasuke terlihat melanjutkan pekerjaannya dan mengetikkan sesuatu di laptopnya, sedangkan Sakura masih mengalungkan lehernya dan mendekap suaminya beberapa kali.

"Tentu saja, tapi sudah tidak lagi saat wanitaku datang dan duduk memandangku dengan jarak sedekat ini, ah ia bahkan menaruh kedua tangannya di leherku. Kau pikir aku masih bisa berkonsentrasi?"ucap Sasuke balik bertanya, tangannya masih bergerak mengetikkan sesuatu di laptopnya. Sakura yang gemas dengan jawaban suaminya mulai mencium pipi tirus suaminya, hangat dan dalam, membentuk seringaian kecil dari bibirnya. "Kau benar-benar menggodaku, bagaimana dengan pekerjaanmu, Istriku? Menyenangkan?" entah kenapa Sakura bisa merasakan ada nada mengejek yang terlontar dari mulut suaminya, benar-benar menyebalkan, Sakura melepaskan ciumannya di pipi Sasuke lalu kembali memandang wajahnya.

"Sangat menyenangkan apalagi dengan aturan-aturan konyol yang mereka punya, apa-apaan itu. kau harus tau bagaimana rasanya menyajika minuman untuk 35 orang dengan selera yang berbeda-beda, mengantarkan paket dengan nama samaran, memfotocopy setumpuk file, bahkan aku tak bisa caranya memfotocopy. Dan baru saja aku diceramahi tata cara menyajikan minuman padamu, mereka benar-benar konyol. Belum tau siapa aku sebenarnya, benar-benar membuatku kesal!"gerutu Sakura yang kini dengan nakalnya berucap sambil memainkan jarinya di wajah tampan Sasuke dan menyusuri setiap lekukan sempurna disana.

"Kau yang menginginkan hal itu, tapi tetap memaksa. Jadi, ayo kita keluar dan katakan pada mereka yang sebenarnya. Oh ayolah, Aku tak bisa membiarkan istriku diperbudak bawahanku."ucap Sasuke menandatangani beberapa berkas.

"Jangan, aku masih penasaran dengan mereka. Apalagi kini aku mengetahui ternyata hampir semua staff wanita di perusahaan menyukaimu, Sasuke-kun. Ah, bahkan tergila-gila padamu. Mereka semua benar-benar wanita yang cantik dan seksi membuatku pusing karena entah di lihat dari segi manapun mereka tetap saja lebih menarik dariku, dan aku benci hal itu. Kau juga tak pernah mengatakan tentang Karin-san, kalian benar-benar akrab! Mantan kekasih, ya?! Cih! Dia bahkan terang-terangan mengancamku dan meremehkan diriku, dan menyebalkannya lagi aku dipaksa untuk memanggilmu dengan suffix 'sama', huh lelucon macam apalagi itu. Apakah ada seseorang yang memanggil suaminya dengan suffix seperti itu?"

"Aku tak pernah menginginkan hal itu, Sakura. Kau harus percaya aku tak pernah peduli dengan perasaan mereka, dan jangan bandingkan dirimu dengan mereka. Kau berbeda, kau spesial untukku. Dan untuk lelaki sepertiku, aku tak pernah memikirkan bagaimana paras maupun perasaan wanita lain, aku hanya memperhatikan satu titik dan itu kau, Sakura. Tak ada yang perlu kau khawatirkan, kau memilikiku. Lagipula aku dan Karin tidak akrab, aku pernah mengatakan padamu aku punya satu mantan kekasih dulu kan? Tak ada yang kututupi darimu." jelas Sasuke, menghentikan kegiatannya membubuhi tanda tangan dan hendak menempelkan bibirnya pada bibir mungil istrinya, sebelum sebuah tangan membungkan mulutnya. Itu tangan wanitanya, dan ia tak bisa mengabaikannya. Ia melihat bagaimana kepala istrinya menoleh ke berbagai arah, mungkin mencari keberadaan Kakashi, padahal Sasuke sudah mengatakan padanya untuk masuk ke ruangan lain dan tidak mengganggu dirinya bersama sang istri bila Sakura masuk. Sehingga tak ada yang perlu dikhawatirkan.

"Ayo kita bermain, Sasuke-kun. Sepertinya ini keinginan calon bayi kita, kau mau kan?"tanya Sakura, Sasuke terlihat memutar bola matanya namun kemudian mengangguk. Hampir tidak ada keinginan yang tidak ia turuti, dan meskipun terdengar aneh untuk bermain-main ditengah bekerja namun diam-diam ia juga penasaran dengan apa yang tengah Sakura rencanakan. "Apapun yang kulakukan, kau harus diam. Tak boleh merespon, apapun yang kulakukan. Dan kalau kau gagal, aku akan menanyakan pertanyaan yang harus kau jawab jujur, hanya tinggal menjawab ya atau tidak. Bagaimana?"

"Setuju." jawab Sasuke cepat, hanya tidak perlu merespon, kan? itu adalah keahliannya. Meskipun sepertinya tidak mudah karena kali ini yang ia abaikan adalah istrinya.

"Sasuke-kun, apa kau suka diam-diam memperhatikan tubuh seksi Tsunade-san?"tanya Sakura yang mengubah posisinya dengan menyilangkan kakinya diantara tubuh Sasuke sehingga kini ia tepat berhadapan.

"Aku tidak sepengangguran itu."respon Sasuke cepat, dan Sakura menggeleng-geleng.

"Sudah kukatakan untuk tidak merespon apapun yang kulakukan. Kau kuberi satu pertanyaan."

"Itu pertanyaan jebakan? Yasudah, tanyakan saja."

"Apa kau suka memperhatikan para staff wanita?"tanya Sakura, penuh selidik.

"Tentu saja, aku harus memantau kinerja mereka."

"Sasuke-kun, hanya perlu menjawab 'ya' atau 'tidak'."sela Sakura.

"Ah, baiklah."

Secara tiba-tiba Sakura menempelkan bibirnya pada bibir Sasuke, sontak saja Sasuke kaget dengan perlakukan istrinya. Dan entah karena naluri atau karena tak tahan digoda seperti itu, iapun membalas kecupan di bibir sang istri dan lagi-lagi melupakan permainan sialan itu.

"Sasuke-kun, jangan merespon."ingat Sakura, dan ternyata Sasuke sudah menyadarinya saat kecupan ketiga yang diberikan Sakura namun dirinya masih nekat juga karena tak tahan digoda dengan cara seperti itu, apalagi wanita yang menggodanya adalah istrinya sendiri.

"Pertanyakan kedua, kau tau kebiasaan para staff perusahaan?"

"Aku mengetahuinya, mereka melakukan wawancara saat melamar dan aku salah satu yang hadir dalam wawancara itu, tentu saja aku tau."jawab Sasuke.

"Hanya 'Ya' dan 'tidak', Sasuke-kun."

"Ah, sudahlah! Ayo hentikan permainan konyol ini, Sakura. Bukankah lebih baik kau belajar memfotocopy?"sela Sasuke, membuat istrinya seolah tersadar telah membuang waktunya. Padahal tujuan utamanya adalah meminta tolong diajarkan memfotocopy.

"Ah benar juga, bisa tolong fotocopy-kan file milik Tsunade-san dan Matsuri-san, Sasuke-kun?"tanya Sakura, memandang wajah suaminya lekat-lekat.

"Kau menyuruhku melakukan pekerjaan bawahanku? Hah, apa mereka tak punya cukup tenaga untuk memfotocopy sendiri pekerjaan mereka? Kenapa harus menyuruhmu?"ucap Sasuke dengan nada yang sedikit meninggi, pekerjaannya saja sudah cukup membuat lipatan halus terbentuk di dahinya, dan kini ia harus membantu pekerjaan bawahannya?

"Tapi aku kan bawahan mereka, Sasuke-kun."

"Dan aku atasan mereka, Sakura."ucap Sasuke meraih kopi yang tadi Sakura letakkan asal di atas mejanya, dan itu mengingatkan Sakura pada hal besar.

"Sasuke-kun, berapa lama aku disini?"

"Sekitar 25 menit, kenapa?"

"Heeeh? 25 meniit? Aaaaa… Aku bisa dibunuh oleh para staff disiniii!"

…..

TBC

Oke,lagi-lagi apdet tengah malem. Sorry banget karena ngga bisa balesin review, lagi-lagi bisa apdet aja untung. Fic ini masih belum keluar masalahnya, masih awal-awal jadi masih masalah ringan-ringan. tapi bakalan ada kok, masalahnya. Sabar ya!

Oya, semoga masih suka sama cerita ini ya, karena aku merasa bersalah bulan kemaren ngga apdet, chap ini aku buat panjang banget kek dua chapter, jadi semoga terhibur.

Ngga banyak cuap-cuap deh, udah malem. Big thanks buat yang udah fav, review, dan follow fic ini yaa.. aku sangat menghargainya. Dan janganlah malas untuk mengetik review karena itu berengaruh besar dengan kelanjutan fic ini, wkwk. Gimana ya, semakin banyak review jadi makin semangat lanjutinnnya.

Oke,deh. Jaa…

Review please :)

Sign

Anfidoos.