Step By Step
Disclaimer : Naruto dan Highschool DxD is not mine!
Hm..bagaimana cara mengawali sebuah cerita dengan bagus ya? –biasanya kalau di drama-drama dan opera sabun mereka mengawalinya dengan suara koko'an seekor ayam jantan, matahari terbit, dan satu lagi…
"Apa ini rumahmu, Venelana-san?" yeah, decak kagum dan pertanyaan para penonton.
"Secara teknis, tidak –tetapi secara alami, ya. Aku dilahirkan di sini, begitu pula dengan Kaa-san'mu" matanya violetnya menatap Naruto dengan lembut, dan tangannya yang halus membelai rambut pirang bocah jinchuriki ini.
"I..ini bukan rumah'kan?"
"Kalau di dunia ini, tempat seperti ini memang di sebut rumah. Bahkan ada yang lebih mewah daripada rumah ini" Naruto tidak lagi mendengar perkataan dari Venelana, melainkan dirinya lebih memilih untuk melihat langit di tempatnya berpijak, ungu –entah kenapa dirinya menyukai warna tersebut, warna yang tampak menawan dan menggambarkan keanggunan.
Lalu mata birunya melihat langit yang dipenuh oleh hewan berkaki 4 yang memiliki sayap, serta berkepala elang.
"Griffon, makhluk yang muncul di dalam buku yang pernah kubaca, merupakan keturunan dari seekor singa dengan elang, cinta memang tak mengenal ras" Naruto menyampaikan pendapatnya dengan nada yang err—gimana gitu.
Venelana yang mendengar perkataan Naruto hanya tersenyum, "Baiklah, mari kita masuk!" mengangguk'kan kepalanya, dan…
BRAK
Dengan elitnya Venelana membuka pinta istana tempat orang tuanya tinggal.
"Bisakah lain kali kau membukanya dengan halus, Venelana?" sedangkan sang pelaku hanya tersenyum lebar dan memasang wajah tidak berdosanya.
"Abaikan-abaikan! –sekarang kalian bisa memeluk cucu tercinta kalian!" dan dari belakang Venelana, Naruto berdiri dan memandang mereka semua dengan bingung. Asami Bael, ibunya Venelana menatap Venalana dengan pandangan yang hanya dimengerti oleh pemilik mata violet indah tersebut.
"Peluklah dia, Kaa-san! –Naruto butuh pelukan dari neneknya" cengiran lebar bertengger di mulut chery'nya.
"Senang bisa bertemu denganmu, Naruto-kun" Asami memeluk Naruto dengan erat, dan Naruto yang sedikit mengerti membalas pelukan dari sang nenek.
"Kurasa aku akan bilang, aku juga senang bertemu denganmu, hm...?" Naruto sedikit bingung harus memanggil wanita di depannya dengan sebutan apa, kalau dirinya memanggil wanita ini 'Nenek', bisa-bisa pipinya tercetak sebuah stempel yang disebut dengan 'sentuhan-manis-seorang-wanita'.
"Kenapa?" kening Asami berkerut, bingung.
"Aku harus memanggil anda apa?" pertanyaan polos terlantun dari mulut bocah pirang ini.
"Bukannya Naru harus memanggilku 'Nenek'?" mengangguk mengerti, "Kurasa aku akan bilang ; aku juga senang bertemu denganmu, Obaa-sama" dan dirinya mengulangi perkataannya.
"Ya ya ya…aku juga senang dengan reuni ini, tapi sekarang aku ingin menyampaikan ini" tangan halus wanita bersurai coklat ini memegang sebuah kotak berwarna coklat gelap, lalu dengan santainya Venelana melemparnya ke arah bocah pirang yang memandang kotak tersebut dengan bingung, sebelum akhirnya dirinya memutuskan untuk menangkap kotak tersebut.
"Bukalah! –dan di dalamnya ada peninggalan ayahmu" mengangguk lagi, kemudian dirinya membuka kotak tersebut dengan hati-hati –dan setelah kotak tersebut terbuka di dalamnya hanyalah sebuah buku dan surat. Mengangkat alisnya bingung, Naruto memandang wanita yang telah memberinya kotak tersebut.
"Aku tak tahu apa isinya, yang jelas itu peninggalan ayahmu, Minato Namikaze" dan seperti wanita tomboy pada umumnya, Venelana hanya membalas Naruto dengan gaya 'unlady'
Naruto memutuskan untuk menutup kotak itu kembali, "kenapa?" Venelana memandang bingung Naruto, dan sebagai jawabannya, "Aku belum bisa membaca".
Sweatdrop
xXx_S_b_S_xXx
Nah…kita tinggalkan masalah keluarga baru tersebut, sekarang kita beralih ke sebuah kota yang akan kita abaikan namanya. Bocah pirang yang memiliki mata biru dengan kulit yang agak pucat melihat kota yang ia singgahi ini dengan pandangan berbinar.
"Bumi seratus tahun yang lalu…menakjubkan" mata birunya seakan melihat timbunan berlian yang tak ternilai harganya.
Bocah bermata biru tersebut terus berjalan tanpa mempedulikan orang-orang yang mentapanya bingung, seakan tatapan mereka berkata ; 'Are-you-crazy?'
Bocah pirang tersebut hanya mengabaikan mereka dan terus berjalan melihat keindahan Bumi ini –tetapi setelah melewati 'sesuatu' dirinya seakan ditarik oleh sesuatu yang tak kasat mata –seperti benang merah, misalnya?.
"Cepatlah Venelana-san, jangan sampai kita ketinggalan pertunjukannya!" Naruto, anak yang baru berumur 7 tahun tersebut menarik tangan seorang wanita berambut coklat dengan mata violet indahnya.
"Pelan-pelan Naruto, kau tahu kalau aku sedang mengandung'kan?"
DEG
Tubuhnya tiba-tiba berhenti dan yang menjadi pertanyaannya adalah ; tadi itu apa? –ada 'sesuatu' yang mencoba menarik dirinya –sesuatu tersebut tidak bisa dirinya jelaskan dengan logika.
Sesuatu yang tidak mereka sadari adalah…dua pasang mata sebiru samudra saling menatap dengan pandangan yang berbeda.
xXx_S_b_S_xXx
"Ini…di mana?" dirinya menatap bingung sebuah ruangan bercat putih dan hanya terdapat sebuah kaca di depannya. Karna rasa penasaran menyerangnya dan tidak bisa menolak keinginan alami manusia untuk menghilangkan rasa penasarannya ini.
Dirinya memandang kaca di depannya dengan bingung –tangannya yang memang tangan khas untuk seorang bocah berusia 7 tahun menyentuh permukaan kaca, dan dirirnya kembali dibuat bingung oleh bayangannya sendiri –berbeda.
Bayangannya dengan dirinya berbeda jauh, jika dilihat sekilas memang sama, tetapi jika dilihat dari cara dirinya dan bayangannya memandang jauh berbeda –mata biru miliknya terlihat hampa, kosong, tidak memiliki tujuan, sedangkan mata milik bayangannya penuh dengan harapan dan tujuan hidup.
Mata shapire miliknya agak kusam, sedangkan sang shapire yang berada di balik cermin tersebut seperti…bersinar.
Dirinya menyentuh lagi permukaan cermin tersebut…
DEG
Perasaan ini lagi, perasaan yang sama seperti yang dirinya rasakan tadi siang…dan sekarang perasaaan tersebut semakin kuat dan…
"Arrgghhh…." Dirirnya berteriak kesakitan.
Tanah gersang
Mayat bertebaran di sepanjang penjuru
Naga merah raksasa
Dimesin yang memiliki relief jam
Ingatan ini bukan miliknya. Takut karna terjadi apa-apa pada tubuhnya, dirinya melompat ke depan cermin –matanya melebar.
Yang dirinya lihat di depan cermin memang masih sama seperti dirinya ketika terakhir kali becermin, tetapi yang membuat dirinya terkejut adalah…
Kehampaan dan harapan terpancar dari dua mata yang sewarna, tetapi berbeda tujuan.
"Jangan-jangan…
…doppelganger"
Dan sekarang ; dua jiwa mendiami satu tubuh, harapan dan kehampaan terpancar dari sepasang mata biru laut.
xXx_S_b_S_xXx
'Apa yang harus kulakukan, Kurama?' sekarang dirinya terduduk di atap tempat dirinya sekarang tinggal –matanya menatap lurus langit malam Neraka.
'Jangan tanya aku! –itu urusanmu, dan salahmu sendiri karna bertemu dengan doppel'mu'Kurama, sang rubah menjawab pertanyaan sang inang dengan malas.
'Ayolah, kau kan sudah berusia ribuan tahun, kasih saran dong!'
'Hah…cobalah untuk menerima ingatan dan tujuan dari doppel'mu tersebut, selaraskan pikiranmu dengan pikirannya. Hanya itu yang bisa kuberikan, sisanya kuserahkan padamu' Naruto yang mendengarnya hanya menghela nafas lelah, masalah yang muncul kali ini sangat sulit untuk bisa dirinya atasi seorang diri, ditambah saran Kurama tadi agak membuatnya bingung.
"Belum bisa tidur?" Naruto malas untuk melihat ke belakang, karna dirinya tahu siapa pemilik suara yang menegurnya ini.
Venelana mengambil tempat duduk di sebelah Naruto, matanya menatap bocah pirang ini dengan lembut. Naruto melihat ke arah Venelana…
"Kau siapa?" sekilas Venelana memang melihat kalau anak di depannya ini adalah Naruto, tetapi Venelana tahu seperti apa Naruto ini –lebih tepatnya, dirinya tahu kalau Naruto adalah tipe anak yang belum memiliki tujuan hidup, cahaya yang terpancar dari mata biru Naruto yang dirinya kenal masih redup, sedangkan anak yang 'mirip' Naruto di depannya ini memiliki setengah pandangan yang memancarkan harapan, dan setengahnya lagi kehampaan.
"Aku Naruto, Uzumaki Naruto –kenapa Venelana-san bertanya seperti itu?"
"Aku tahu Naruto itu seperti apa, kutanya sekali lagi ka—"
"Doppelganger" Venelana terdiam setelah mendengar penuturan dari anak di depannya ini.
"…doppelganger adalah makhluk yang sangat mirip denganmu, dikatakan kalau doppelganger adalah jiwa yang tidak menyatu, bagaimana jika aku bertemu dengan doppelganger?" melanjutkan perkataannya, kemudian mata birunya menatap Venelana dengan pandangan –err.
"Menurut buku yang kubaca, salah satu di antara kalian harus…mati" mata violet Venelana melebar, "ya, salah salah satu di antara kalian harus mati, tetapi dalam kasus'ku, jiwa kami kembali menyatu, dan hal tersebut mengakibatkan setengah dari'ku berubah ;sifat, kekuatan, ingatan, pengalaman. Semua hal tersebut membaut, aku sendiri binging ;mana yang merupakan ingatan'ku, atau yang mana ingatan doppel'ku" Naruto mengadahkan kepalanya ke atas, menatap bulan ciptaan dari Maou Beelzebub tersebut.
"Jadi intinya, kau yang sekarang memiliki dua jiwa yang harus menyelaraskan pikiran agar kalian tidak gila?" mata Naruto melebar, perkataan Venelana hampir mirip dengan perkataan Kurama sebelumnya.
"Apa maksudmu dengan kata 'menyelaraskan' Venelana-san"
"Begini saja, aku akan mencoba untuk membimbingmu; pejamkan matamu! –lalu fokuslah, cobalah untuk masuk ke alam bawah sadarmu, lebih dalam dan lebih dalam lagi" Naruto mengangguk mengerti, entah kenapa dirinya percaya dengan Venelana Bael atau lebih dikenal dengan Venelana Gremory.
…
Naruto seperti menyelam dalam kegelapan, tetapi suara Venelana membimbingnya untuk terus menyelam dan menyelam.
Setelah dirinya tidak merasakan air lagi, Naruto Uzumaki membuka matanya dan sekarang dirinya dihadapkan dengan ribuan peristiwa yang menurut dirinya tidak pernah dia rasakan.
"Pisahkah mana ingatan yang menurutmu adalah hal yang pernah kau alami" mengangguk mengerti, kemudian Naruto menglurukan tangannya ke depan seperti sedang menggapai sesuatu.
Penyiksaan
Diabaikan
Pertemuan pertama dengan Venelana
Kehidupan yang ia lalui di Neraka
Semua itu dirinya pisahkan dari ingatan yang ia yakini adalah milik doppel'nya.
"Sudah"
"Bagus, sekarang buatkan tempat yang cocok untuk masing-masing ingatan!" Naruto bingung dengan perintah Venelana kali ini.
'Biar aku saja' Naruto menolehkan kepalanya ke belakang, di sana berdiri seorang anak yang sangat mirip dengannya –wajah, rambut, mata, hampir tidak bisa dibedakan.
"Kau siapa?" Naruto bertanya dengan bingung.
'Aku Naruto Namikaze, doppel'mu' Naruot mengangkat sebelah alisnya, lalu mengangkat bahu, tidak peduli.
"Kalau kau bisa melakukan yang dikatakan Venelana-san, tidak masalah" doppel dari Naruto Uzumaki Bael ini mengangguk'kan kepalanya. Dengan seringai khasnya, dirinya berkonsentrasi untuk membuat rak-rak buku, kemudian ingatan-demi-ingatan yang telah di pisahkan oleh Naruto Bael tadi dijadikan buku-buku, dan sekarang si doppel menyusun buku-buku tadi di jejeran rak-rak buku tersebut –seperti perustakaan.
"Kenapa kau membuatnya seperti ini?" Naruto bertanya dengan nada bingung.
'yah, karna akan lebih mudah seperti ini, kau bisa mengaksesnya dengan mudah jika kau menyusunnya dengan rapi seperti buku di perpustakaan' mata yang memancarkan cahaya milik si doppel memandang Naruto, sembari tersenyum lembut.
"Terserah kau saja –tapi dari ingatanmu ; kau berasal dari masa depan, kenapa kau bisa berada di masa ini?"
'Bukannya ingatan kita telah bergabung?' Naruto mengangguk, tetapi kemudian mentap kembali jejeran rak-rak buku yang menyimpan kenangan mereka berdua.
"Aku belum mengakses semuanya, ingatamu yang menyatu dengan ingatanku membuatku bingung, ditambah baru tadi kita menyatu" memasang tampang mengerti, kemudian si doppel mengulurkan tangannya dan sebuah buku terbang ke arahnya.
'Aku kembali ke masa lalu untuk memerperbaiki masa depan –dunia ini akan berubah seratus tahun kemudian, dan aku datang ke masa ini untuk menghentikannya'
"Menghentikan apa?"
'Sebuah invasi yang mengerikan –aku terjebak di dimensi ruang dan waktu, dan karna hal tersebut aku mengetahui kenapa Bumi berubah seratus tahun kemudian' matanya mentap buku yang di pegangnya.
"Bukankah di dunia ini ada malaikat, malaikat jatuh, dan iblis yang akan menghentikan invasi tersebut?"
'Mereka musnah karna kedatangan sang malapetaka' mata Naruto melebar –jika iblis musnah maka…
'Ya, Venelana-san dan seluruh keluarga Bael…MATI' pandangan Naruto Bael menggelap.
"Aku tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi –aku juga akan membantumu untuk menghentikan invasi tersebut –tetapi sebelum itu, kita harus mendapatkan kekuatan yang sangat hebat dan kuat untuk menangani hal tersebut"
'Untuk kekuatan yang terkuat aku sudah mengetahuinya –di dimensimu sebelumnya terdapat sebuah benda yang sangat kuat, benda tersebut berhubungan dengan dunia kematian –jika kita bisa memilikinya maka invasi ataupun si 666 bisa kita hentikan'
"Baiklah, tapi kita harus melatih diri terlebih dahulu agar mendapatkan benda yang kau maksud –mulai besok aku akan berlatih lebih keras dari sebelumnya" si doppel dari Naruto memandang Naruto Bael dengan bingung.
'Untuk apa kau berlatih?'
Dan jawabannya hanyalah…
"Menjadi kuat dan melindungi Venelana-san" senyuman bertengger di mulut si doppel, mata shappire milik Naruto Bael mulai bercahaya.
'Aku juga akan membantumu, Naru!'
xXx_S_b_S_xXx
"Bagaimana? –apakah berhasil?" dengan semangat Naruto mengangguk, kemudian merebahkan badannya di atap rumah keluarga Great King Baeltersebut.
"Baguslah, dengan begitu kau tidak akan menjadi gila" Venelana juga mengikuti kegiatan Naruto, melihat bintang dunia bawah dengan merebahkan badannya.
"Venelana-san, siapa di keluarga Bael yang bisa mengendalikan Power of Destruction dengan baik dan stabil?"
"Kenapa?" Venelana memandang Naruto dengan bingung, "Aku ingin melatih kekuatan tersebut hingga ke level yang belum pernah ditangani oleh siapapun"
"Kalau begitu, kau bisa berlatih dengan putraku, dia sudah memasterikan kekuatan Power of Destruction dan menjadi super devil"
"Sirzech-nii?" Venelana mengangguk, "Baiklah, aku akan memaksanya untuk melatihku besok, dan jika dia tidak mau, aku akan berlatih sendiri" berdiri dari acara rebahannya, kemudian Naruto berlari menuju pagar pembatas atap tersebut, dengan sekali lompatan, Naruto telah terjun bebas dari atap rumah keluarga Bael tersebut.
"Hah…anak itu sama seperti ibunya" Venelana Gremory tersenyum, kemudian pergi meninggalkan atap tempat orang tuanya tinggal.
TBC
Fyuhh~, akhirnya siap juga chapter kali ini –maaf kalau updatenya lama sekali, saya baru tertimpa musibah karna suatu hal –hardisk saya rusak, dan saya harus membeli yang baru, jadi saya tidak menyentuh laptop sampai uangnya terkumpul.
So…karna hardisnya udah dapat, dan saya bisa ngetik lagi jadi saya bisa up ni chapter.
Fic saya pertama ini akan saya buat banyak misteri yang sudah saya siapkan jawabannya jika kalian teliti membaca perchapter.
1. Benda apa yang terkuat di dimensi shinobi dan berhubungan dengan kematian?
Fic ini saya gabungkan dengan fic milil Akira no Rinnengan (I Want Change the World)
See Next Chapter!
Catty! –nyaa~
