Aku Mau 100 Juta Yen!
Disclaimer: Punya-nya Kubo Tite
Summary: "Pokoknya aku mau SERATUS JUTA YEN!"/"Ta-tapi..."/"Tidak ada 'tapi' seratus juta, atau tidak sama sekali!"/"Tapi itu uang yang terlalu banyak untuk kami!"
Warning: Bahasa kaku, cerita berantakan, diskripsi kurang, alur sangat lambat, AU, OoC, typo(s), gaje, Ichiruki fic.
DON'T LIKE, CLICK BACK IMMEDIATELY
»«
.
«»
.
Sebuah mobil baru saja terparkir rapi di halaman sebuah rumah yang tidak terlalu besar. Dua orang berambut hitam dan seorang lagi bermahkotakan wortel ‒eh maksudnya berwarna jingga keluar dan meregangkan otot sejenak.
"Inikah rumahmu oji-san? Kenapa kotor sekali?" pertanyaan pertama yang keluar dari mulut sang gadis mungil begitu menginjakkan kakinya di halaman rumah. Melihat daun-daun gugur berserakan dan juga tanaman yang tak terawat membuat Rukia memandangnya ngeri.
"Bukan, ini rumah temanku. Dia meminjamkannya selama kami berada disini. Memang sudah lama tidak ditempati dan baru dua hari kami berada di kota ini, namun aku dan anakku lebih sering berada di rumah sakit," jawaban Isshin membuat pertanyaan dalam kepala Rukia semakin bertumpuk.
Rukia memang tidak sempat menanyakan apapun pada 'penculikknya' selama di dalam mobil tadi. Kebiasaan yang tidak bisa hilang dari diri Rukia, selalu tertidur satu menit kemudian setelah mobil berjalan.
"Tapi jangan khawatir gadis manis, Ichigo sudah membersihkan bagian dalamnya kemarin," ucap Isshin sambil berjongkok menyamakan tingginya dengan si gadis.
"Ichigo? Apa oji-san menggunakan buah strawberry untuk membersihkan rumah?" tanya Rukia menelengkan kepalanya bingung.
"Bukan, tapi—"
"Ichigo itu namaku! Dan artinya 'orang yang melindungi' bukan strawberry, bodoh!" sela si strawberry sedikit berteriak kesal. Mungkin kekalahan dari Rukia tadi sedikit mempengaruhi mood-nya kini.
"Hei! Jangan panggil aku bodoh! Aku punya nama, dan namaku Rukia! Ingat itu baik-baik rambut norak!" Rukia yang sifatnya tak mau mengalah balik berteriak di muka Ichigo.
Ichigo membelalakkan matanya karena dua hal. Pertama, dia tak percaya gadis yang baru dikenalnya kurang dari lima belas menit lalu memanggilnya dengan sebutan tabu itu. Dan yang kedua, jarak wajah mereka berdua hanya terpaut satu senti. Ichigo bahkan bisa merasakan hembusan napas yang dikeluarkan Rukia menerpa mukanya, menatap mata violet besarnya yang berkilat-kilat marah, dan juga wangi dari tubuh Rukia menusuk indera penciumannya.
Hei, tunggu dulu bukankah tadi Rukia baru saja pulang dari berlatih karate? Berarti wangi yang Ichigo maksud adalah...
"Ka-kau bau sekali. Sudah berapa lama sejak terakhir kali kau mandi hah?" Ichigo mundur selangkah kebelakang, bermaksud sedikit mencelanya untuk menutupi kedua belah pipinya yang kini sudah bersemu merah jambu. Meski Ichigo juga tak bisa menyangkal, bahwa wangi Rukia membuatnya merasa nyaman. Entah mengapa.
"Eh, tadi aku baru pulang dari dojo, hehehe. Tapi masih wangi kok!" Rukia malah menggoda teman barunya dengan mengangkat ketiaknya tinggi-tinggi dan menunjukkannya pada Ichigo. Sambil menutup hidung, Ichigo berteriak geli dan segera masuk kedalam rumah sementaranya.
Isshin tersenyum cerah melihat kelakuan mereka berdua. Rasanya sudah lama sejak Ichigo bisa berekspresi selepas itu.
"Nah, mari masuk Rukia-chan," ajak Isshin pada tamu mungilnya itu.
"Tapi apa oji-san punya makanan? Maksudku wortel untuk kelinciku, karena dari tadi kutemukan dia belum makan apapun," tanya Rukia sambil mengangkat Chappy kedepan wajah Isshin. Lagipula bukankah tadi dia sudah berjanji bahwa akan memberikan makanan begitu sampai di rumah.
"Baiklah akan oji-san belikan dulu. Kamu di rumah saja bersama Ichigo ya," Isshin lalu menunduk dan mencium kening Rukia. "Terima kasih banyak Rukia-chan."
Gadis berambut sebahu itu hanya bisa mematung, melihat orang asing mencium keningnya. Bukan apa-apa, hanya saja ayah kandungnya sendiri sangat jarang sekali melakukan hal itu. Tanpa disadarinya setetes air jatuh dari pelupuk matanya yang indah.
.
.
.
Disebuah gedung mewah yang mempunyai ketinggian puluhan meter, seorang pria berambut panjang sedang menatap pemandangan kota dari balik kaca bening di kamarnya. Namun mimik wajahnya seketika berubah menakutkan tatkala seseorang di seberang sana memberikan laporan tentang apa yang terjadi pada putri semata wayangnya.
Selesai berbincang melalui telepon selular, pria itu berbalik dan mendapati sang istri baru saja keluar dari kamar mandi dengan mengenakan handuk mandi berwarna putih, rambutnya yang masih basah digelung keatas dan terbungkus handuk kecil.
"Ada apa Bya-kun? Kenapa kau terlihat tegang seperti itu?" tanya Hisana sambil menghampiri suaminya yang masih belum beranjak dari tempatnya berdiri tadi.
"Rukia belum pulang kerumah, ini sudah setengah jam sejak kelas karatenya dibubarkan." sahut Byakuya masih mempertahankan wajah tanpa ekspresi yang sudah menjadi ciri khasnya.
Hisana hanya tersenyum. Membelai lengan berotot suaminya, kemudian duduk di sisi tempat tidur. " Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Sayang. Mungkin saja dia bermain dengan Abarai seperti dulu. Rukia-chan pasti baik-baik saja."
Wanita itu mulai melepaskan handuk dan mengusap-usapkan pada rambutnya. "Lalu bagaimana dengan Ichimaru-san? Bukankah dia yang bertanggung jawab pada Rukia-chan?"
"Dia bilang Rukia memintanya agar diizinkan pergi sendiri. Seharusnya sejak awal aku tak membiarkannya menjaga Rukia sendirian. Rubah itu tak pernah bisa menolak dan terlalu lemah pada semua perintah dari Rukia," akhirnya Byakuya duduk disamping wanita yang sudah dinikahi selama dua belas tahun itu.
"Kita tunggu sampai matahari terbenam, jika belum pulang juga aku akan kembali ke Seireitei," ucap Hisana mencoba menenangkan ayah dari anak satu-satunya itu.
Meskipun terlihat tidak peduli, namun Byakuya sangat menyanyangi putrinya. Walaupun terkesan dingin saat membatalkan rencana berlibur tadi pagi, tapi dalam hati Byakuya berjanji akan membelikan Rukia sesuatu dari Karakura untuk buah tangan.
Rukia tak pernah tahu bahwa setiap malam, sepulang dari kantor Byakuya selalu menyempatkan diri menengok malaikat kecilnya yang pasti sudah tertidur. Melihat hasil pekerjaan rumah Rukia yang bertumpuk. Tak lupa juga mencium kening, pipi, serta hidung mancung Rukia. Terakhir mengucapkan selamat malam, meski sudah sangat terlambat.
.
.
.
"Apa yang kau lakukan kepala jeruk?" tanya Rukia begitu masuk rumah dan mendapati Ichigo sedang mengerjakan sesuatu di dapur.
Bocah beriris cokelat muda yang merasa dipanggil tak sesuai namanya mendelik tajam pada gadis mungil melalui bahunya yang kini sudah duduk di kursi meja makan. Tak lupa meletakkan kelinci cokelatnya di atas meja.
"Oh, baiklah maafkan aku. Maksudku apa yang kau lakukan Ichigo~?" ulang Rukia dengan nada dibuat-buat.
"Kau mandilah dulu, kamar mandinya ada di pojok sana," jawab Ichigo sambil menunjuk pintu berwarna biru kusam. "Dan aku sedang membuat ramen instan. Kau pasti lapar sehabis berlatih."
"Aku tidak menyangka kau begitu perhatian padaku Tuan Jeruk~" Rukia kembali menggoda bocah yang kini memajukan bibirnya kesal.
"Sementara aku mandi, tolong jaga Chappy. Sepertinya dia menyukai warna rambutmu yang mencolok itu," tak bosan-bosannya Rukia mengatakan sebutan tabu untuk anak itu.
Ichigo hanya bisa menghela napas pasrah.
'Sabar Ichigo, sabar,' batinnya dalam hati. 'Dia hanya sementara bersamamu, tidak untuk selamanya.'
Tak lama kemudian setelah menyelesaikan membuat ramen instan untuk dirinya, sang ayah, dan juga Rukia, terdengar suara teriakan gadis itu dari dalam kamar mandi memanggil namanya berkali-kali. Ichigo yang kaget langsung terburu-buru menghampirinya.
"Ada apa Rukia? Ada apa? Apa ada ular disana? Atau kecoak?" Ichigo bertanya panik sambil menggedor pintu kamar mandi.
Terdengar bunyi 'klik' pertanda kunci kamar mandi terbuka. Rukia sedikit melongok keluar, melihat Ichigo yang panik membuatnya tak bisa menahan senyum.
"Tidak ada apa-apa, hanya saja apa kau punya baju ganti? Mengingat pakaianku sudah bau, nanti kau tak mau dekat-dekat lagi denganku," ujar Rukia polos.
Ichigo menghela napas lega. "Kukira terjadi sesuatu padamu, kau sempat membuatku khawatir tadi."
Rukia terbengong mendengar ucapan laki-laki yang kini sedang mengobrak-abrik tas besar di ruang tengah.
Setelah mendapat apa yang dicarinya Ichigo segera menghampiri Rukia yang ternyata sudah keluar dari kamar mandi berbalutkan handuk dan sedang duduk di kursi dekat dapur.
"Ini pakailah, mungkin sedikit kebesaran tapi tidak masalahkan daripada kau harus mengenakan handuk terus," Ichigo menyerahkan sebuah kaus berwarna hitam polos dan juga celana pendek biru bermotif polkadot merah.
Rukia menerima pemberian Ichigo, lalu berbalik menuju kamar mandi. Namun sebelum sampai tujuan, ia memutar tubuhnya menghadap Ichigo lagi, sepertinya dia melupakan sesuatu.
"Hei, apa kau juga punya pakaian dalam untuk aku pakai?" Rukia bertanya dengan wajah tanpa dosa.
Wajah Ichigo seketika berubah warna menjadi semerah apel mendengar pertanyaan Rukia. "Te-tentu saja aku tidak punya benda seperti itu! Jangan meminta yang aneh-aneh padaku!"
"Pakaian dalam bukan benda aneh jeruk! Jangan-jangan kau sendiri tidak pernah memakainya ya?" Rukia tersenyum mengejek dan terus saja menggoda bocah malang itu.
"Ah sudahlah! Kalau kau bersikeras pakai saja yang tadi kau pakai. Aku hanya punya milikku sendiri dan aku tak akan meminjamkannya padamu!" Ichigo berkata sambil membalikkan badannya. Mungkin hidungnya akan mengeluarkan darah jika terus-menerus melihat tubuh mulus Rukia yang hanya bertameng selembar handuk.
.
"Jadi kenapa kalian menculikku?" Rukia memulai pembicaraan setelah mereka menghabiskan ramen instan buatan Ichigo. Ditemani segelas teh di tangan masing-masing, mereka bertiga duduk mengitari meja kecil di ruang tengah. Sedangkan Chappy masih dengan lahapnya memakan wortel yang baru dibeli Isshin tadi di atas sofa.
"Tentu saja karena kami butuh uang," Ichigo menjawab ketus pertanyaan dari Rukia.
Rukia mengerucutkan bibirnya, menatap kesal laki-laki disamping kirinya itu.
"Kami membutuhkannya untuk biaya operasi istriku. Sebetulnya kami sudah mendapatkan uang dari pinjaman bank, tapi sayang dalam perjalanan kembali ke rumah sakit ada yang merampok seluruh uang itu," Isshin menjelaskan garis besar kejadiannya dengan wajah sedih.
"Itu karena kau lemah tou-san! Tidak bisa mempertahankan uang itu dari perampok kelas teri."
"Ichigo, jaga bicaramu! Apa tidak bisa kau lihat wajah oji-san lebam-labam seperti ini? Itu berarti dia sudah berusaha sebaik mungkin melindunginya!" entah mengapa malah Rukia yang tidak terima.
"Tidak apa-apa Rukia-chan, yang penting tidak terluka parah," Isshin tersenyum senang Rukia mengkhwatirkannya.
"Lalu, berapa yang harus dibayar ayahku untuk menebusku dari penculikkan ini?"
"Biaya operasinya sepuluh juta Yen," Ichigo gatal juga ingin bicara.
"APA!" Rukia berteriak, tangannya menggebrak meja membuat kedua orang yang sedang minum teh dan juga mamalia cokelat yang memakan wortel terlonjak kaget.
"A-ada apa Rukia-chan? Terlalu banyak ya?" Isshin bertanya setelah pulih dari rasa kagetnya.
"Kalian pikir berapa kekayaan ayahku? Dan kalian hanya meminta sepuluh juta setelah bersusah payah menculikku? Aku tidak terima! Aku mau uang tebusannya seratus juta Yen!" tanpa pikir panjang Rukia mengemukakan pemikirannya.
Ichigo yang sedang mencoba menelan tehnya kini malah menyemburkannya keluar dari mulut.
"Apa kau sudah gila gadis kecil?" Ichigo tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Pokoknya aku mau SERATUS JUTA YEN!" mempertegas kalimatnya Rukia memandang bocah jingga tajam, seolah tak ada keraguan dalam ucapannya.
"Ta-tapi—"
"Tidak ada 'tapi' seratus juta atau tidak sama sekali!" Rukia masih juga mempertahankan 'penawarannya'.
"Tapi itu uang yang terlalu banyak untuk kami!" Ichigo berteriak sedikit frustasi menghadapi Rukia yang ternyata sangat keras kepala. "Kau pikir apa yang harus kami lakukan untuk menghabiskan sisanya?"
"Aku tidak peduli, yang terpenting uang yang dimiliki ayahku berkurang agar dia kembali punya waktu untuk bermain denganku!" tanpa sadar Rukia kembali teringat kebersamaan bersama sang ayah sebelum mengambil alih sepenuhnya perusahaan sekitar empat tahun yang lalu. Menurutnya jika perusahaan bangkrut, maka Byakuya bisa kembali seperti dulu. Dia tidak tahu, bahwa seratus juta Yen itu tidak lebih dari satu persen dari total seluruh aset yang dimiliki Kuchiki Group.
.
Setelah saling adu otot leher, akhirnya Ichigo menyerah. Membuat Rukia menyeringai penuh kemenangan.
Mereka bertiga sekarang merencanakan skema pangancaman, pengambilan uang, dan juga bagaimana cara tercepat untuk kabur setelah uang berada digenggaman.
Tentu saja otak kriminal sebenarnya di sini bukanlah Ichigo, apalagi Isshin. Rukia-lah yang berpikir setiap langkah yang harus dilakukan. Mulai dari awal sampai akhir. Ayah dan anak hanya mengangguk paham dan sesekali bertanya.
Rukia menjelaskan rencananya menggunakan gambar-gambar konyol—menurut Ichigo. Gambar seekor makhluk aneh bertelinga panjang yang selalu tersenyum. Meski harus terus memberi jitakkan pada kepala oren disampingnya karena tak henti-henti menghina seni lukisnya, Rukia tetap bangga dengan gambarnya itu.
"Nah, sekarang ambil bajuku dan segera tulis apa yang telah kuberi tahu tadi," perintah Rukia setelah selesai rapat singkat tadi.
Ichigo langsung berdiri, mengambil pakaian Rukia yang berada di kamar mandi lalu menulisinya menggunakan spidol warna merah.
"Seperti ini apa sudah cukup?" Ichigo menunjukkan hasil karyanya pada Rukia.
"Kurasa sudah," gadis itu mengambil kausnya dari tangan Ichigo. "Langkah selanjutnya kita akan kerumahku, dan melempar kaus ini di halaman depan. Ayo!"
Dengan semangat membara Rukia berlari menuju mobil, melihat itu Ichigo hanya bisa memandang Isshin dengan penuh tanda tanya. "Korban yang sesungguhnya itu siapa sih? Kenapa dia malah terlihat gembira dan bersamangat?"
Isshin berdiri dari duduknya kemudian tersenyum simpul. "Karena Rukia-chan benar-benar merindukan ayahnya yang dulu. Dan juga dia sangat ingin membantu kita."
Hari sudah beranjak malam saat Rukia keluar dari rumah. Tanpa membuang-buang waktu lagi segera saja mereka bertiga tancap gas menuju kekediaman gadis mungil itu. Tentu saja Rukia duduk di samping sopir, karena dialah yang akan menunjukkan jalannya.
Sesampainya di sekitar rumah target, Ichigo dan Isshin tak henti-hentinya dibuat kagum oleh betapa besar dan mewah rumah Rukia. Bagaimana tidak jika rumah itu—atau mungkin bisa disebut istana— berukuran sekitar dua puluh kali lipat dari rumah mereka sendiri yang berada di Karakura! Ternyata mereka tak salah memilih korban.
Bangunan yang Rukia sebut dengan rumah memiliki tinggi tiga lantai. Bukan hanya rumah, tapi halamannya juga yang mungkin lebih luas dari lapangan sepak bola. Dipenuhi dengan berbagai macam pohon-pohon yang dibentuk sedemikian rupa sehingga terlihat lebih indah. Tak lupa beberapa lampu warna-warni menambah kemeriahan halaman depan. Juga air mancur beserta kolam mini yang terletak persis ditengah-tengah area membuat semuanya terlihat sempurna. Terdapat jalan berbentuk setengah lingkaran yang menghubungkan antara pintu keluar dan pintu masuk. Pagar besi setinggi lebih dari dua meter dan bercat hitam menjadi benteng pertama istana milik keluarga Kuchiki.
"Wow, apa benar itu rumahmu Rukia? Bagiku itu tampak seperti istana di negeri dongeng!" Ichigo menyuarakan kekaguman pada bangunan didepannya.
"Tentu saja. Tapi aku tidak suka rumah sebesar itu, kau tidak tahu betapa melelahkannya berjalan dari kamar menuju dapur ataupun menuju pintu depan. Aku lebih suka rumah yang tadi kita tempati," dengan malas gadis beriris ungu itu menanggapi pertanyaan Ichigo.
"Oji-san sekarang waktunya melemparkan kausku melewati pagar tinggi itu," tanpa sungkan Rukia memerintahkan pria di samping kirinya.
Isshin yang diperintah segera memakai topi rajut hitam kemudian keluar dari dalam mobil. Melempar dengan sekuat tenaga kaus Rukia agar sampai kedalam melewati pagar. Selesai melaksanakan tugas, pria paruh baya itu kembali masuk ke mobil dengan napas terengah seolah habis dikejar sekelompok anjing gila.
"Ya Tuhan, hanya melakukan hal kecil seperti ini saja sudah membuat jantungku hampir copot!" sambil menyandarkan kepala dikursi Isshin mencoba mengatur napasnya yang tidak beraturan.
"Itu berari oji-san bukan orang jahat," mendengar ucapan itu Isshin menatap gadis yang baru saja mengatakan hal itu. "Kaa-san pernah bilang, jika kita merasa tidak nyaman saat melakukan suatu kejahatan, maka hanya ada dua kemungkinan. Pertama kita baru pertama kali melakukannya sehingga kita merasa gugup. Dan yang kedua kita bukan orang jahat jadi kita merasa takut pada dosa yang akan kita terima nanti dari Kami-sama."
"Tapi masalahnya dua kemungkinan itu yang baru saja terjadi pada tou-san, Rukia. Tak heran jika dia merasakan dua kali lipat rasa takut," tak lupa Ichigo menyerahkan sebotol air mineral pada ayahnya.
"Yang pertama? Bukankah kejahatan pertama kalian adalah berusaha menculikku?" meski Rukia berkata pada Ichigo, namun arah pandangannya kini tertuju pada sebuah mobil yang baru saja memasuki halaman rumahnya.
"Tunggu dulu, bukankah tiga hari lagi mereka baru akan pulang?" Rukia bergumam lirih.
"Siapa yang kau maksud dengan mereka Rukia-chan?" Isshin mengira bisikkan itu ditujukkan padanya.
"Kedua orang tuaku. Mereka sedang keluar kota mengurus rencana pendirian cabang baru di sana," jawaban yang diberikan Rukia terdengar sedikit dibumbui nada sedih. Mengingat pembatalan rencana liburan tadi pagi, mungkin. "Ah sudahlah, mungkin ada sesuatu yang tertinggal. Sekarang mari kita pulang."
Ichigo tertegun mendengar ucapan dari mulut gadis didepannya. Bukankah di sini rumahnya? Kenapa dia mengatakan 'mari kita pulang'? Bukankah seharusnya yang dikatakan 'mari kita kembali'? Mengenyahkan pemikiran rumit itu, Ichigo hanya mengedikkan bahu seolah tak peduli.
.
.
.
Semua orang berkumpul di ruang tengah. Seseorang berambut putih keperakan menundukkan kepalanya dalam, mengerti akan kesalahan fatal yang telah ia perbuat. Sang Nyonya besar yang duduk dihadapannya masih memperhatikannya dalam diam.
"Apa kau sudah mencoba mencarinya di sekitar perumahan Ichimaru-san?" tanya Hisana lembut, tak ingin membuat pengawal kesayangan anaknya merasa tertekan.
"Sudah Hisana-sama, bahkan saya sudah mencarinya di tempat yang mungkin dilewati dalam perjalanan pulang dan mengecek sekitar dojo dan tak lupa menanyakan pada teman-teman kelas karatenya. Jawaban mereka semua sama, mereka melihat Rukia-sama langsung pulang begitu kelas dibubarkan," jawaban panjang lebar Ichimaru tidak membuat Hisana sedikipun merasa senang.
Dalam keheningan yang mencekam, karena sang putri kecil belum menampakkan batang hidungnya semanjak tiga jam yang lalu, seorang penjaga kebun masuk ke dalam dengan langkah cepat, sedikit berlari.
"Hisana-sama! Hisana-sama! Saya menemukan baju yang dipakai Rukia-sama saat berangkat tadi di halaman depan!" sambil berteriak memecah suasana hening, pria itu menghampiri Hisana yang langsung berdiri menyambutnya.
"Kenapa hanya baju? Lalu dimana anakku?" Hisana bertanya dan langsung merebut kaus dalam genggaman penjaga kebun.
Begitu membentangkan kaus ditangannya, mata abu-abu Hisana terbelalak tidak percaya. Tiga kalimat yang dibacanya membuat dunia di sekitarnya berputar, oksigen di sekelilingnya seolah lenyap, membuat pandangannya sedikt kabur dan akhirnya semua menjadi gelap.
"Hisana-sama!" dengan sigap Ichimaru yang berada di samping langsung menangkap tubuh mungil majikannya. Kemudian membawanya kelantai dua, tampat di mana kamar Hisana dan suaminya berada.
Setelah menyuruh beberapa pembantu merawat dan menjaganya, Ichimaru kembali ke ruang tengah. Penasaran dengan apa yang membuat sang majikan jatuh pingsan, ia coba membaca kaus bertulis milik Rukia.
'ANAKMU BERADA DITANGANKU. JIKA INGIN DIA SELAMAT JANGAN MENGHUBUNGI POLISI. DAN SEGERA SIAPKAN UANG SERATUS JUTA YEN.'
Tanpa disadarinya, setelah membaca kaus itu Ichimaru mengikuti jejak Hisana. Pingsan. Tapi yang membedakannya kali ini tidak ada seorangpun yang menangkap tubuh kurusnya.
Sepertinya hal itu wajar, mengingat Ichimaru-lah yang menemani kemanapun Rukia pergi semenjak kecil jika ditinggal kedua orang tuanya. Melihat tuan putri kesayangan diculik, membuatnya merasa sangat bertanggung jawab dan juga rasa bersalah menggelayuti pikirannya.
.
.
.
Sesampainya di markas, Rukia mulai merasa lelah. Sepertinya seharian ini dia tidak sekalipun mendapat kesempatan istirahat barang sejenak. Dimulai dari pagi yang menyebalkan, sekolah yang membosankan, sedikit hiburan dari kelas karate, dan sebagai penutup hari dia harus merencanakan hal yang tak pernah terpikirkannya bersama dua orang asing yang tadi berusaha menculikknya.
"Apa kau sudah mengantuk Rukia-chan? Kamar tidurnya ada diatas, tapi kau harus berbagi kamar dengan Ichigo karena hanya satu kamar yang sempat dibersihkan kemarin," Isshin menghampiri Rukia yang sudah tidak kuat mengangkat kepalanya dan memilih meletakannya di meja.
"Lalu oji-san mau tidur dimana?" Rukia bertanya tanpa mengangkat kepala.
Isshin menepuk-nepuk sofa yang sudah tak berbentuk lagi dibelakangnya. "Oji-san bisa tidur di sofa ini."
Melihat tak ada jawaban dari gadis mungil disampingnya, Isshin mencoba memanggilnya beberapa kali. Namun tetap tidak ada respon.
"Dia sudah tertidur tou-san. Biar aku saja yang mengangkatnya keatas," Ichigo menghampiri mereka setelah keluar dari kamar mandi—memenuhi panggilan alam.
Mata Isshin berbinar cerah mendengar kalimat yang sangat jarang sekali atau mungkin tidak pernah itu keluar dari mulut anak laki-lakinya. "Wah, aku tak menyangka kau bisa menyukai seorang gadis anakku, mengingat kemana-mana kau selalu bersama bocah berambut biru temanmu itu. Kukira kau ini hom—"
DUAGH
Belum sempat Isshin menyelesaikan kalimatnya, tendangan maut Ichigo menyapa wajahnya. Membuat pria nyentrik itu tertunduk memegangi hidungnya yang mungkin sudah berubah bentuk.
"Jangan mengatakan hal-hal konyol seperti itu lagi kambing tua! Aku ini masih normal!" dengan wajah merah padam bocah berambut jingga membentak pelan ayahnya.
Sedikit mengangkat bahu kecil Rukia dari meja, kemudian Ichigo meletakkan tangan kirinya di belakang punggung mungil itu. Menyampirkan tangan kanan Rukia kebelakang lehernya, lalu menyusupkan tangan kanannya sendiri di belakang betis mulus milik gadis bermata ungu yang sudah terpejam. Dan terakhir mengangkatnya.
Sesampainya di kamar yang dituju, dengan hati-hati ia meletakkan korban yang diculiknya. Mengambil selimut dari dalam lemari yang kemudian dipakaikannya untuk Rukia. Melihat wajah tidur Rukia yang menggemaskan, Ichigo tak bisa menahan dirinya untuk tidak menunduk sejenak—mengecup kening Rukia. Sadar apa yang baru saja dilakukannya, bocah yang kini kedua pipinya bersemu merah langsung berlari keluar dari kamar.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung. . .
A/N : Terima kasih sudah mau membaca, walaupun enggan untuk menulis sesuatu di kotak reviu. Saya tahu cerita ini kurang pantas untuk dipajang. Tapi terima kasih sangat banyak untuk ranger-san, Hikary-san, Keiko-san, dan juga krabby-san. ^^
Untuk ranger-san: umur Rukia 10 dan Ichi 12. Kalo soal romens, mereka kan masih kecil, nanti saja jika udah gede ^^. Jangan kapok beri reviu ^^
