Aku Mau 100 Juta Yen!

Disclaimer: Punya-nya Kubo Tite

Summary: "Pokoknya aku mau SERATUS JUTA YEN!"/"Ta-tapi..."/"Tidak ada 'tapi' seratus juta, atau tidak sama sekali!"/"Tapi itu uang yang terlalu banyak untuk kami!"

Warning: Bahasa kaku, cerita berantakan, diskripsi kurang, alur sangat lambat, AU, OoC, typo(s), gaje, Ichiruki fic.


DON'T LIKE, CLICK BACK IMMEDIATELY

»«

.

«»

.

Mentari pagi belum sempat menampakkan sinarnya, namun pria berkenseikan itu sudah tiba di rumah besar dan mewah miliknya. Setelah mendapat kabar dari orang rumah bahwa isterinya jatuh pingsan karena mengetahui putri tunggalnya menjadi korban penculikkan, pria itu langsung menyelesaikan urusannya di Karakura malam itu juga. Meski rapat dadakannya baru selesai pukul tiga dini hari, namun ia tak memberi kesempatan tubuhnya untuk rehat sejenak. Begitu selesai rapat, langsung saja ia meluncur menuju Seireitei menggunakan mobil karena tak sempat memesan tiket pesawat. Perjalanan yang biasanya memakan waktu sekitar empat jam, hanya ditempuhnya kurang dari tiga jam.

Pakaian yang dikenakan salah satu orang paling berpengaruh dalam urusan bisnis di Jepang dan bahkan di dunia menurut majalah bisnis terkemuka asal Amerika, itu sudah acak-acakkan. Lengan kemeja warna biru tua yang digulung asal, rambut yang tidak tersisir rapi, serta wajah kusut karena tak memejamkan mata barang sedetik.

Sesampainya di dalam rumah, tanpa buang waktu ia langsung menuju kamarnya. Saat membuka pintu, manik abu-nya lansung menangkap sosok isterinya yang menangis sesenggukan sambil memeluk sebuah kaus yang diyakininya adalah milik malaikat mungilnya.

"Bya-kun, Rukia-chan! Rukia-chan!" pekik Hisana saat mengetahui suaminya sudah berdiri di samping tempat tidur.

Byakuya mendudukan diri di tempat tidur lalu memeluk Hisana erat. "Tidak apa-apa, semuanya pasti akan baik-baik saja. Rukia yang kita kenal adalah gadis paling kuat. " tangannya tak henti-hentinya membelai lembut mahkota malam istrinya, berharap bisa sedikit menguapkan beban yang tertanam disana.

"Mereka bilang kita tidak boleh menghubungi polisi jika ingin Rukia-chan selamat. Mereka juga meminta uang tebusan sebesar seratus juta yen," Hisana mengangkat wajahnya dan menatap dalam mata indah suaminya dengan wajah sembab karena hampir semalaman suntuk menangis.

"Tidak usah khawatir, biar aku saja yang menangani semua ini. Kau beristirahatlah, keadaanmu saat ini tak lebih baik dari seekor ayam yang tahu bahwa dirinya akan disembelih," masih sempat-sempatnya Byakuya bercanda disaat genting seperti ini.

"Bya-kun!" sedikit membentak dan memukul pelan dada suaminya yang malah bercanda tidak pada tempatnya. "Kau sendiri seperti kucing yang baru saja tercebur dalam kolam. Lihatlah, penampilanmu berantakan sekali. Mandi dan rapikan dirimu sebelum mencari Rukia-chan!"

"Hei, aku seperti ini karena buru-buru pulang saat mendengar kabar bahwa ada wanita mungil yang langsung jatuh pingsan begitu tahu putrinya diculik," Byakuya memperlihatkan ekspresi yang tidak akan mungkin diperlihatkannya pada orang lain selain istrinya, yaitu cemberut.

Ya Tuhan, kenapa mereka saling melempar ejekan sih? Waktu lima menit jadi terbuang percuma 'kan.

.

.

.

Sinar hangat mentari pagi mencoba menerobos masuk melalui celah-celah korden berwarna merah kusam yang tak tertutup sempurna. Sesosok tubuh mungil masih setia terbalut selimut yang membungkusnya. Mengerjapkan mata beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya sang surya yang menggelitik kelopak mata, akhirnya manik ungu gelap itu terbuka sempurna. Merenggangkan otot tangan dan kaki, gadis itu kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Mencoba mengumpulkan nyawa yang sebagian masih terbawa alam bawah sadar, sosok mungil kini mendudukkan tubuhnya. Melihat sekelilingnya yang terasa asing. Kemudian senyum kecil menghiasi sudut bibir tipisnya, teringat apa yang terjadi kemarin.

Mengingat hari ini dia tidak perlu berangkat kesekolah, tawa pelan memenuhi ruangan sunyi itu. Tapi setidaknya ia harus tetap cuci muka dan gosok gigi 'kan? Sadar akan hal itu, segera saja ia mengayunkan kaki-kaki mungilnya kesisi tempat tidur. Baru satu bagian yang menginjakkan lantai terdengar pekikan keras dari arah bawah.

"Ohok!"

Ups, ternyata Rukia tanpa sengaja menginjak perut seseorang yang tertidur di bawahnya beralaskan futon.

"Astaga! Apa yang kau lakukan di bawah sana Ichi!" Rukia berteriak kaget dan langsung saja mengangkat kakinya lagi.

"Ugh, tentu saja tidur dengan nyaman sebelum kakimu menginjak perutku!" Ichigo memegang bagian yang terinjak Rukia dan untuk mendramatisasi keadaannya, ia menekuk tubuhnya seolah baru saja diinjak orang berbobot lebih dari 80 kilogram.

"Maaf, aku tidak tahu kalau kau tidur di bawah," dengan wajah bersalah Rukia kini turun dan duduk di depan Ichigo. Mencoba melihat seberapa parah dampak dari injakkan kaki mungil yang dimilikinya.

Merasa ada tangan lain yang kini juga ikut memegangi perutnya, Ichigo langsung berguling kearah berlawanan. Tangan asing itu seperti mengirim jutaan volt arus listrik kedalam tubuhnya, membuat aliran darah berkumpul di sekitar wajah tampannya.

"A-apa yang kau lakukan?!" Ichigo kini beringsut mundur dan menyandarkan tubuhnya didepan lemari. Napasnya sedikit terputus-putus.

"Apa maksudmu? Tentu saja aku hanya mau melihat keadaanmu. Siapa tahu ususmu terburai karena kuinjak tadi," jawab Rukia asal karena merasa aneh dengan sikap berlebihan Ichigo.

"Aku tidak apa-apa, hanya sedikit kaget tadi," Ichigo mulai memandang gadis yang duduk berhadapan dengannya. Memandang jam dinding yang tergantung di tembok samping kirinya, lalu kembali menatap Rukia. "Apa kau selalu bangun sepagi ini? Ini bahkan belum pukul enam pagi."

"Tentu saja, kalau ingin bertemu dengan tou-san dan sarapan dengannya aku harus bangun pagi sekali. Karena setelah itu akan sulit untuk bertemu lagi," kini Rukia mulai merangkak ke arah Ichigo, dan duduk bersandar disebelahnya. "Beliau pulang kerumah saat aku sudah tertidur."

"Ayahmu pasti orang yang sangat sibuk, dan tak punya banyak waktu untukmu," balas Ichigo menanggapi ucapan Rukia.

"Itu benar, semenjak jii-san meninggal empat tahun yang lalu," Rukia tersenyum sedih. "Padahal kaa-san sudah sering membantu pekerjaannya, namun tetap saja tidak akan sama lagi seperti dulu." gadis itu memeluk lututnya yang ditekuk. Kemudian membenamkan wajahnya diantara lipatan itu.

Melihat hal itu, bocah berkulit kecokelatan mulai merapatkan tubuhnya pada Rukia. Tangannya terangkat dan membelai lembut rambut sehitam malam tanpa bintang gadis itu.

"Jika kau merasa sedih saat menceritakannya, kau tidak perlu melakukannya Rukia. Aku tidak akan memaksamu mengingat kembali sesuatu yang bisa membuatmu bersedih. Tapi jika suatu saat kau merasa ada waktu yang tepat dimana kau mau menceritakan semuanya padaku, aku akan mendengarkannya. Dan sampai saat itu tiba, aku akan menunggu."

Ucapan dari anak laki-laki di sebelahnya itu langsung membuat Rukia mengangkat wajahnya. Dan tanpa adanya petir ataupun banjir, gadis mungil itu langsung memeluk Ichigo seerat mungkin. Seolah ingin menitipkan sebagian kesedihan yang dimiliki padanya.

Ichigo yang tidak menyangka serangan dadakan dari Rukia mematung sesaat, tersenyum kecil dan kemudian melingkarkan tangannya pada tubuh kuat namun rapuh itu.

"Terima kasih Ichigo. Terima kasih," Rukia mencoba menahan air mata yang sudah memaksa untuk keluar, namun sia-sia.

"Aku tida tahu apa yang kau bicarakan," jawab Ichigo merendah.

Kehangatan pelukan mereka hanya bertahan sampai suara gaduh terdengar dari lantai bawah. Suara alat penggorengan yang beradu dengan penggorengannya. Tak lupa juga suara nyanyian yang sanggup membuat burung tetangga jadi kabur.

.

Kurosaki Isshin seolah dirasuki jiwa seorang koki handal. Beramunisi spatula dan wajan hitam yang baru saja digosok sekuat tenaga, pria berjambang itu mencoba membuat sesuatu yang bisa dimakan. Karena saking semangatnya ia memasak sambil menari-nari dan bernyanyi sekencang mungkin. Tak sadar akan suaranya yang sumbang dan membuat semua tikus di rumah itu mengungsi ke tempat tetangga sebelah.

Semua terasa sempurna baginya, sampai sebelah sandal rumah menghantam tepat belakang kepalanya dan membuat koki dadakan itu menoleh pada tersangka pelemparan yang tak lain dan tak bukan adalah anaknya sendiri.

"Suaramu itu jauh lebih buruk dari besi yang diseret baka-oyaji, jadi berhentilah bernyanyi!" ucap Ichigo yang kini berdiri tepat di belakang ayahnya.

Mendengar panggilan baru dari putra tunggalnya, Isshin menghentikan sejenak acara memasaknya dan menjatuhkan tubuhnya kedepan dengan kedua tangan menyentuh lantai untuk menahan berat badannya. "Oh Masaki, isteriku tercinta, sekarang anak kita sudah tidak menghormatiku lagi. Dosa apa yang telah kuperbuat hingga Kami-sama menghukumku seperti ini."

Ichigo terbengong melihat tingkah unik pria didepannya. Karena sebelum ini seingatnya sang ayah tidak pernah bertingkah sekonyol ini. Meski sehari-hari ia berkelakuan aneh sih.

"Apa yang kau bicarakan! Apa semalam kepalamu terbentur sesuatu? Atau kau lupa minum obat pagi ini?" tanya Ichigo yang mulai risih dengan ayahnya.

"Huwaaa... sekarang Ichi-chan malah menghinaku lagi," bukannya berhenti, Isshin malah berguling-guling di lantai dapur layaknya seorang anak kecil yang tidak diberi es krim sebagai makanan penutup.

"Hentikan kelakuanmu itu! Kau membuatku malu mempunyai ayah sepertimu!" Ichigo sudah tidak tahan lagi melihatnya. "Sementara kau berguling tidak karuan seperti itu, aku mengucapkan selamat tinggal pada masakanmu yang sudah gosong!"

Mendengar kalimat yang diucapkan bocah yang kini beranjak meninggalkannya menuju ruang tengah, Isshin langsung melompat melihat masakan yang rencananya akan dibanggakannya didepan Rukia nanti.

"TIDAAAK! NASI GORENG ISTIMEWAKUUU!"

Sebuah awal yang buruk untuk mengawali hari yang cerah dan indah ini.

.

Begitu selesai membersihkan tubuhnya, Rukia yang memakai kembali baju semalam ikut bergabung bersama keluarga barunya di ruang tengah.

"Ohayou oji-san," sapa Rukia begitu melihat Isshin yang baru keluar dari dapur dan membawa tiga piring untuk sarapan. "Apa perlu kubantu membawanya ?"

"Ohayou Rukia-chan! Tidak, kau tidak perlu membantuku, sekarang duduklah yang manis disini," ucap Isshin meletakkan piring di meja kecil itu. "Aku akan mengambil teh hangat dan kita akan segera sarapan."

Mendengar penawaran bantuannya ditolak, Rukia menuruti perintah Isshin—duduk manis dihadapan Ichigo. Matanya kemudian tertuju pada makanan di depannya. Makanan yang disebut nasi goreng, biasanya berwarna merah kecoklatan. Namun yang Rukia lihat, nasi goreng itu berwarna merah kehitam-hitaman. Serta bau gosong menusuk hidungnya.

"Err Ichigo, ini apa?" gadis itu bertanya pada anak di seberangnya.

"Itu nasi goreng spesial buatanku Rukia-chan!" Isshin menyela Ichigo yang sudah membuka mulutnya untuk menjawab. "Meski sedikit gosong karena Ichigo menggangguku tadi, tapi rasanya tetap enak kok!"

"Sedikit? Bagaimana bisa kau menyebutnya sedikit gosong jika hampir semuanya berwarna hitam!?" Ichigo mengaduk-aduk makanan di hadapannya untuk memperjelas ucapannya. "Dan jangan menyalahkanku karena kesalahan bodohmu itu."

"Oh ayolah, kau malu mengakui kesalahanmu di hadapan Rukia-chan bukan?" Isshin menggoda bocah oren itu dengan menyenggolkan sikunya berulang kali.

"Hentikan! Kau membuat selera makanku menghilang seketika!"

Melihat tingkah unik ayah-anak dihadapannya, membuat Rukia tersenyum sangat tipis. Karena hal seperti itu tak pernah terjadi padanya dan ayahnya.

"Rukia-chan, kenapa raut wajahmu seperti kau ingin menangis?" pertanyaan Isshin mengantar Rukia kembali ke bumi.

"Ah, tidak apa-apa oji-san!" Rukia mencoba tersenyum selebar mungkin. "Nah, ittadakimasu!"

Tidak mau terlarut dalam angan-angan kehangatan sarapan bersama sang ayah, Rukia segera mengambil sendok dan mengambil nasi goreng satu suapan penuh.

"Ini cukup enak oji-san, meski sedikit ada rasa pahitnya," komentar Rukia begitu menelan makanan dalam mulutnya.

"Be-benarkah?" mata Isshin mulai berkaca-kaca mendengar pujian yang dilontarkan Rukia. "Terima kasih atas pujiannya, menantuku!" Isshin yang sudah membentangkan kedua tangannya mencoba memeluk Rukia tertahan karena tarikan kerah belakangnya oleh Ichigo.

"Apa maksud ucapanmu barusan oyaji!" anak itu masih memegang kerah ayahnya yang menurutnya sudah bicara ngawur.

"Lho, bukankah kau menyukai Rukia-chan,Ichigo? Oleh karena itu aku harus membiasakan diri dengan menantuku yang cantik ini," ucap Isshin sambil memandang anaknya dengan senyum lebar.

"Bodoh! Mana mungkin orang seperti Rukia mau menikah dengan laki-laki sepertiku?" sangkalnya melepas genggaman pada kerah sang ayah.

"Aku mau kok,"

Jawaban gadis mungil di hadapannya membuat Ichigo seperti lupa bagaimana caranya bernapas. Seluruh perhatian matanya mengarah pada Rukia.

"Karena aku merasa nyaman dan tenang bersamamu, suatu saat kau harus menikahiku. Kau harus berjanji." Rukia melanjutkan pernyataannya dan membuat Ichigo ambruk kebelakang memikirkan dimasa depan ia harus menikahi gadis bermata ungu itu.

"Ada apa dengan Ichigo, oji-san? Apa dia tidak suka menikah denganku?" tanya Rukia pada Isshin yang masih terus saja tersenyum lebar.

"Bukan itu Rukia-chan, dia terlalu gembira karena ternyata kau mau menikah dengannya. Lihat saja wajahnya yang sudah lebih merah dari apel," ucap Isshin sambil menunjuk wajah memerah milik anaknya.

"Tutup mulutmu oyaji!" sepertinya Ichigo akan lebih menyukai panggilan baru untuk ayahnya tersebut.

.

Selesai dengan nasi goreng yang sedikit gosong dan membereskan piring serta meja, mereka bertiga berkumpul lagi dimeja bundar.

"Langkah selanjutnya, kita harus menghubungi nomor telepon rumahku. Tapi sebelumnya, suara penelepon harus disamarkan," Rukia melihat sekelilingnya, dan pandangannya jatuh pada koran bekas yang terletak di atas meja dapur. Gadis itu lalu berdiri mengambilnya kemudian diserahkan pada Isshin.

"Ke-kenapa oji-san yang harus meneleponnya, Rukia-chan?" Isshin sedikit protes pada tugasnya.

"Karena jelas mereka akan mengenali suaraku dan kita tidak mungkin menyuruh Ichigo. Dengan suara cemprengnya, mereka pasti tidak akan percaya," jelas Rukia panjang lebar.

"Hei! Suaraku tidak cempreng!" Ichigo sedikit berteriak dengan nada suara yang sedikit tinggi. "Oh baiklah, terserah kau saja."

"Jika nanti berhadapan dengan ayahku, pastikan oji-san tidak gugup. Beliau memang sangat pandai mengintimidasi orang dengan ucapannya, jadi apapun yang terjadi tetaplah terlihat meyakinkan!" saran Rukia dengan semangat yang berlebih sambil mengacungkan kepalan tangannya ke udara.

Ichigo dan Isshin hanya bisa terpana dengan sikap yang ditunjukkan gadis mungil itu. Sikap yang sangat berbanding terbalik dengan para korban penculikkan yang sering mereka lihat diberita-berita kriminal.

Isshin mulai menggulung koran tadi menjadi berbentuk silinder. Menunggu Rukia selesai mengetikkan nomor telepon rumahnya pada ponsel jaman dulu miliknya. Sambil berdoa dalam hati agar nanti suara yang ia keluarkan tidak bergetar karena rasa takut yang kini sudah membuat jari-jari tangan dan kakinya terasa sangat dingin.

.

.

.

Selesai sarapan yang tidak separti biasa—karena ketidak hadiran si putri kecil, Byakuya menyuruh isterinya untuk beristirahat. Hal yang langsung ditolak oleh Hisana. Ia juga ingin membantu atau setidaknya memberi semangat pada Byakuya untuk menemukan Rukia. Melihat keseriusan dari mata isterinya, akhirnya Byakuya mengalah dan membiarkan Hisana berada di sampingnya.

Terlihat sekitar lima orang berpakaian serba hitam dan kacamata hitam bertengger di pangkal hidung masing-masing, tak lupa sebuah headset terpasang rapi dan tersembunyi di telinga sebelah kanan memasuki ruang tengah.

Tidak, Byakuya tidak menghubungi polisi manapun. Ia hanya meminta bantuan teman yang kebetulan adalah seorang detektif swasta yang sangat handal. Jadi dari segi teknis, pengusaha berwajah dingin itu tidak melanggar peraturan yang diberikan penculik anaknya, bukan?

Mereka segera mempersiapkan alat penyadap dan keperluan lain di meja tamu. Seorang yang paling tua diantara mereka berjalan menghampiri pasangan suami-isteri yang akan menuju ruang tengah.

"Jadi apa benar Rukia-chan diculik?" tanyanya dan melepas kacamata hitam yang dipakai.

"Itu benar Barragan-san,dan kami meminta bantuanmu untuk segera menemukannya," ujar Byakuya menundukkan kepalanya memberi hormat pada orang yang sudah dikenalnya semenjak kecil.

Ayah Byakuya—Kuchiki Soujun dan Barragan Luisenberg adalah teman semasa SMA kemudian berlanjut pada jenjang kuliah, meski jurusan yang mereka ambil berbeda. Soujun berada di fakultas ekonomi, sedang sahabatnya mengambil jurusan hukum tentu saja.

Baru saja akan melanjutkan perbincangan, suara derap kaki mengalihkan perhatian mereka.

"Kuchiki-sama, ada telepon dari oarang yang tidak mau menyebutkan identitasnya. Dia bilang 'berikan teleponnya pada Tuanmu jika besok masih ingin melihat putrinya bernapas'," ucap seorang pembantu bermata oranye cerah sambil menyodorkan gagang telepon pada majikannya.

Tanpa berpikir dua kali, Byakuya mengambil telepon yang mungkin akan mempertemukan pada malaikat mungilnya. Sedang Barragan segera memberi kode kepada anak buahnya untuk menyadap pembicaraan mereka.

"Apa benar ini Kuchiki Byakuya-sama?" tanya seorang di seberang dengan suara serak dan sedikit tidak jelas.

"Benar. Siapa kau dan apa maumu?" Byakuya menjawab dengan nada sedingin mungkin.

"Kau tak perlu tahu siapa aku. Yang perlu kau tahu hanyalah apa kemauanku." seorang diseberang sana juga menggunakan nada dingin untuk meladeni Byakuya.

Barragan memberi isyarat pada Byakuya agar mengulur percakapan mereka. Mengerti hal itu, ayah satu anak tersebut mengangguk.

"Lalu apa maumu?" Byakuya bertanya dengan nada yang sedikit menghina.

"Apa kau belum membaca kaus yang kukirimkan padamu kemarin? Seharusnya kau sudah tahu apa mauku!" bentak suara misterius itu.

"Kaus yang mana? Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan?" Byakuya terus berusaha memancing emosi si penculik yang sepertinya akan menyembur keluar.

"Berikan aku seratus juta jika kau ingin anakmu hidup!"

"Seratus juta yen atau seratus juta dollar?"

'Bagus teruslah begitu Byakuya! Teruslah mengulur waktu agar lokasinya terlacak !' mungkin itu yang ingin diucapkan Barragan saat mengacungkan jempolnya pada orang yang sudah dianggap anaknya sendiri.

"Seratus juta yen, sialan!" teriak orang asing di seberang frustasi.

"Baiklah. Tapi aku ingin berbicara dengan anakku terlebih dulu," Byakuya masih mempertahankan nada bicaranya yang dingin.

Terdengar suara bergemerisik sebelum suara yang sanggup membuat Byakuya membelalakkan manik abu-nya lebar.

"Tou-san!"

Tuut tuuut tuuut

"Rukia!"

Terlambat. Hanya nada putus yang membalas teriakan Byakuya.

"Bagaimana keadaan Rukia-chan, Bya-kun?" tanya Hisana yang sejak tadi diam mendengarkan percakapan suaminya.

"Entahlah. Sambungannya terputus bahkan sebelum sempat aku menanyakan keadaannya," Byakuya mengalihkan perhatian pada sekelompok orang berpakaian hitam diseberangnya.

"Maaf, padahal hanya kurang sedikit lagi. Tapi sayangnya mereka memutuskan sambungan telepon tepat dua detik sebelum semua terlacak." jawab salah satu anak buah berambut hitam sebahu yang terlihat paling pendek diantara teman-temannya.

Mendengar hal itu Byakuya menjatuhkan tubuhnya di sofa. Menghembuskan napas panjang yang terdengar pasrah. Ternyata penculik putrinya lebih cerdik dari yang diperkirakannya.

.

.

.

"Kenapa kau malah menutup teleponnya Rukia-chan? Bukankah kau ingin bicara dengan orang tuamu?" tanya Isshin bingung karena begitu memanggil ayahnya gadis itu langsung mematikan sambungan telepon.

"Aku lupa jika tou-san mempunyai kenalan detektif handal. Yang kutakutkan bila mereka menyadap telepon dari kita, maka tak lama lagi tempat ini akan ditemukan," jelas Rukia pada Isshin yang hanya menganggukan kepalanya mengerti.

"Lalu apa yang akan kita lakukan? Apa kita harus pergi dari sini?" Ichigo jadi terlihat takut membayangkan dirinya diseret kekantor polisi dan dipenjara.

"Tidak perlu, kurasa mereka belum selesai memindai data jadi sementara kita masih aman."

"Kau tahu darimana semua hal seperti itu? Jangan bilang kalau kau hanya menebaknya!" ucap Ichigo asal.

"Tentu saja tidak bodoh! Aku hanya sering melihatnya di film yang sering kutonton bersama Ichimaru-san!" balas Rukia tidak terima. "Seingatku butuh waktu sekitar dua menit untuk menyelesaikan pemindaian, dan menurut durasi bicara di ponsel menunjukkan satu menit lima puluh delapan detik."

"Nya-nyaris saja kita ketahuan," Isshin berkata dengan tangan memegang dada sebelah kirinya.

"Selanjutnya kita harus lebih berhati-hati," Rukia menatap Isshin dan menyerahkan kembali ponselnya. "Oji-san, hubungi lagi ayahku lagi karena kita belum memberi tahu di mana letak transaksinya."

"Baiklah. Semoga setelah semua ini berakhir aku masih bisa melihat isteriku yang cantik dan matahari terbit esok hari," dengan menekan tombol hijau dua kali, Isshin mempersiapkan mental sekuat banteng yang ingin terbang.

Tidak menunggu waktu lama begitu nada sambung terdengar satu kali, suara dingin berwibawa memenuhi ruangan itu.

"Bawa uangnya tengah malam ini. Aku akan menunggumu di taman kecil dua ratus meter dari arah barat Seireitei Medical Centre. Dan jika ada satu orang saja yang mengikuti atau mengawasi kita, aku bisa memastikan jika Rukia-chan saat itu juga pergi ke surga karena kesalahan ayahnya," tanpa memberi kesempatan Byakuya angkat suara, Isshin langsung mematikan teleponnya. Terlihat keringat dingin menetes di pelipisnya.

"Wajahmu seperti baru saja melihat hantu yang telanjang, oyaji," celutuk Ichigo melihat keadaan ayahnya yang cukup memprihatinkan.

"Kau tak pernah bisa tahu apa yang kurasakan saat ini anak nakal!" Isshin mencubit gemas pipi putranya. "Tapi Rukia-chan, seratus juta itu terlalu banyak. Ap—"

"Tidak apa-apa oji-san, anggap saja rejeki dari Kami-sama. Oji-san juga bisa menggunakannya untuk melunasi hutang di bank dan sisanya mungkin bisa digunakan untuk modal awal usaha," jawab Rukia tersenyum manis mendengar ada orang yang sedikit menolak rejeki nomplok.

"Kau benar-benar seperti malaikat bagi keluarga kami Rukia-chan," Isshin menundukkan kepala, tangannya berusaha menyeka air mata yang mengalir keluar. "Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membalas semua kebaikanmu ini."

Melihat itu Rukia menghampiri pria yang sudah dianggap ayah kedua karena kehangatan yang dipancarkannya. Melingkarkan kedua lengan mungilnya pada tubuh besar Isshin, gadis itu ikut terisak.

"Oji-san tak perlu melakukan apapun. Aku hanya ingin oji-san tidak melupakanku dan itu sudah cukup untukku," balas Rukia semakin mengeratkan pelukannya.

"Mana mungkin aku bisa melupakan gadis sepertimu, Rukia-chan! Bukankah sudah kubilang kalau kau adalah calon menantuku?" ujar Isshin sambil melirik Ichigo yang terdiam melihat mereka berdua.

.

.

.

Jam masih menunjukkan pukul 09.00 malam, namun terlihat seorang pria berambut panjang sudah bersiap-siap. Dua buah koper cukup besar berwarna hitam berada tidak jauh dari tempatnya berdiri.

Satu menit setelah pembicaraan dengan penculik putrinya berakhir, ia langsung mengambil seluruh uang yang berada dalam brankas besinya. Untunglah, persediaan uang tunai yang ia punya lebih dari cukup untuk menebus malaikat mungilnya dari tangan para penjahat.

Barragan sempat menawarkan pengawalan jarak jauh untuknya, namun mengingat otak si penculik cukup cerdik, Byakuya tak mau mengambil resiko itu. Pria tua itu juga memberi ide untuk menempatkan salah satu sniper terbaiknya disalah satu gedung tinggi disekitar lokasi pertemuan. Gagasan yang ternyata tidak ditolak oleh Tuan Besar Kuchiki. Mengingat jika ada gerakan mereka yang mencurigakan atau mencoba menyakiti putrinya, mungkin ia tak segan-segan untuk memberi isyarat pada sniper agar meledakkan isi otak si penculik.

"Kau sudah memasukkan semua uang ke dalam koper yang kuberikan tadi Byakuya?" tanya Barragan sambil duduk di sofa belakang pria berambut panjang.

Menoleh kebelakang dan menghampiri tempat di mana ia duduk, Byakuya juga ikut mengistirahatkan sebentar tubuhnya yang terasa mati. "Tentu saja sudah. Aku benar-benar ingin tahu siapa orang yang berani bermain-main denganku."

"Jika sudah tahu, apa yang akan kau lakukan padanya?" pria yang sudah berumur lebih dari setengah abad itu mengambil kopi yang disediakan dan meminumnya sedikit.

"Entahlah, aku belum memikirkannya. Namun jika kutemukan sedikit saja luka pada tubuh putriku, aku tidak akan memaafkannya," butuh waktu cukup lama bagi Byakuya menjawab pertanyaan itu. "Tapi bagaimana jika alatmu nanti tidak berfungsi?"

Barraga tertawa keras, seakan pertanyaan Byakuya tadi adalah semacam lelucon konyol baginya. "Itu tidak akan mungkin terjadi Byakuya, semua peralatan yang kupunyai sudah teruji dan selalu yang terbaik!"

Dua buah koper hitam yang dijadikan wadah uang tebusan memang bukan koper biasa. Di sana terdapat alat pelacak dan penyadap yang akan aktif begitu kopernya terbuka. Kedua alat itu tersimpan rapi dan tersembunyi di dalam pegangan benda berbentuk kotak tersebut.

Byakuya melihat lagi jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Menghela napas panjang karena lelah menunggu. Hanya sepuluh menit berlalu sejak ia memeriksanya terakhir kali. Kenapa disaat seperti ini waktu terasa berjalan seperti seekor siput, sangat lama baginya yang sudah tidak sabar lagi untuk memeluk tubuh mungil anak satu-satunya itu.

"Lalu bagaimana dengan sniper yang kau janjikan itu?" Byakuya kembali bertanya. Siapa tahu waktu bisa cepat terlewati jika ia terus berbincang-bincang, meski tidak penting.

Barragan tersenyum penuh arti mendengar pertanyaan itu. "Kau tidak perlu mengkhawatirkannya. Putriku sudah lama terlatih dan dia pasti tidak akan mengecewakanmu."

"Aku tidak menyangka wanita berwajah setengah itu bisa menjadi pembunuh bayaran yang hebat," sindir Byakuya mengingat orang yang sedang mereka bicarakan adalah salah satu teman masa kecilnya yang selalu menggunakan semacam cadar atau kadang memakai pakaian berleher tinggi untuk menutupi sebagian wajahnya.

"Jangan mengatakan Tia-ku sebagai pembunuh bayaran! Meskipun ia sniper yang handal tapi ia tidak pernah sekalipun menembak orang tanpa alasan," bela sang ayah yang tidak terima putri kesayangannya disebut pembunuh. "Saat ini Tia sedang mencari posisi yang tepat untuk melakukan eksekusi. Kau mau mereka langsung mati atau dibuat sekarat dulu?"

"Aku tidak tahu, tadi sudah kubilang 'kan," Byakuya terlihat seperti berpikir sembari memandangi langit-langit kediamannya. "Katakan padanya jika nanti kuberi isyarat tangan kanan, itu berarti mereka harus mati. Jika tangan kiri, biarkan mereka pergi. Kita bisa menangkapnya jika ia membuka koper."

"Kau terlalu baik pada mereka Byaku. Jika aku jadi kau, mereka pasti akan langsung menghadapi kematian di tanganku satu detik setelah putriku berada nyaman dipelukan." ujarnya sarkatis.

"Dan membuat putriku trauma seumur hidup karena melihat dengan mata kepalanya sendiri saat aku membunuh mereka, begitu? Kurasa jawabannya tidak." tutup Byakuya pada pembicaraan malam itu.

.

.

.

.

.

.

.

Bersambung. . .


A/N: Untuk nasib Isshin selanjutnya kita akan tahu dichapter depan, sekaligus chapter terakhir ^^. Dan aku ucapkan terima kasih sudah mau meluangkan waktu membaca karya gagal ini, terima kasih banyak untuk semua yang menyempatkan mengisi kotak reviu. Sungguh rasanya seperti mendapat hadiah mercy dari magnum(?). Percaya atau tidak aku sampe ketawaketiwi sendiri dikamar membaca reviu kalian semua :D. Sekali lagi terima kasih untuk uzumaki. kuchiki, Keiko Eni Naomi,hendrik. widyawati , Krabby Paty, Ray Kousen7, dan Hikary Cresenti Ravenia, balasan reviu udah dikirim lewat pos. Kalian benarbenar membuat semangat menulisku naik lagi ^^.

Dan untuk yang tidak login ini balesannya:

emy: Terima kasih banyak udah mereviu! Ini udah aku update semoga termasuk kilat, hehehe. Dan terima kasih sudah menyukai gaya penulisanku ^^. Reviu lagi ya...

Guest: Terima kasih banyak udah mereviu! Sesuai permintaan, ini update-nya ^^. Silahkan dibaca

Guest: Terima kasih banyak udah mereviu! Iyah, Rukia emang anaknya baik hati dan suka menolong ^^. Reviu lagi yah...

Qren: Terima kasih banyak udah mereviu! Rukia pada dasarnya seperti magnet bagi kaum adam, termasuk Ichigo ^^. Reviu lagi ya...

aeni hibiki:Terima kasih banyak udah mereviu! Reaksi dari papa Byaku sudah bisa diliat diatas ^^. Reviu lagi ya...

Seo Shin Young:Terima kasih banyak udah mereviu! Dan terima kasih sudah menyukai cerita ini, semoga adegan diatas tidak terlalu romens , aku juga berdoa agar penculikannya berjalan lancar ^^. Silahkan mereviu lagi.

Oh ya, aku mau minta maaf kepada ranger-san, kemarin penname-nya malah kutulis rengez T.T Sekali lagi mohon maaf, kemarin aku kurang konsen, tapi udah ku-edit kok^^

Satu lagi, mungkin chapter depan akan sedikit lebih lama untuk update. Aku masih bingung harus bagaimana dengan endingnya. Ada yang mau kasih saran?