Aku Mau 100 Juta Yen!

Disclaimer: Punya-nya Kubo Tite

Summary: "Pokoknya aku mau SERATUS JUTA YEN!"/"Ta-tapi..."/"Tidak ada 'tapi' seratus juta, atau tidak sama sekali!"/"Tapi itu uang yang terlalu banyak untuk kami!"

Warning: Bahasa kaku, cerita berantakan, diskripsi kurang, alur sangat lambat, AU, OoC, typo(s), gaje, Ichiruki fic.


DON'T LIKE, CLICK BACK IMMEDIATELY

»«

.

«»

.

Malam ini tepat pukul 11.20. Kurosaki Isshin, selama lebih dari 35 tahun ia hidup dan menghembuskan napas di dunia ini, tidak pernah merasa setegang ini sebelumnya. Di sampingnya terdapat Rukia yang berusaha keras menahan kantuknya sejak tadi, terlihat dari matanya sudah sangat merah juga mulutnya yang tidak henti-hentinya menguap. Hal yang tidak jauh berbeda dirasakan oleh bocah berambut jingga. Memang sewajarnya anak-anak seumuran mereka sudah terlelap di pulau kapuk.

"Kau terlihat kacau sekali Rukia-chan, seharusnya kau menuruti nasihatku tadi untuk tidur sebentar," ujar Isshin membelai kepala gadis kecil itu.

"Tidak apa-apa oji-san, lagipula ini pengalaman pertamaku begadang," balas Rukia mencoba tersenyum namun terpotong karena ia sudah menguap lagi.

"Hei, benarkah aku tidak boleh ikut?" Ichigo mencoba untuk bertanya.

Rukia menggelengkan kepalanya pelan, "Sudah kubilang tadi, jika kau ikut semua akan berantakan. Lagipula kau disini juga mempunyai tugas yang tidak kalah penting!" ucap Rukia kembali bersemangat.

Mendengar kalau ia mempunyai tugas penting, membuat Ichigo menendang rasa kantuknya jauh-jauh. "Benarkah? Tugas penting apa untukku?"

"Tugasmu adalah..." Rukia menghentikan ucapannya agar bocah oren semakin penasaran, "Membantu dengan doa kepada Kami-sama supaya oji-san bisa kembali dengan nyawa yang masih berada dalam tubuhnya!" gadis itu mengucapakannya dengan tempo yang sangat cepat.

"Sialan, kupikir aku harus apa!" Ichigo mengerutkan bibirnya sebal.

"Tapi itu penting, Nak. Bayangkan saja jika nanti ayah pulang membawa uang namun kepala ayah tertinggal di tempat pertemuan," Isshin mencoba menakut-nakuti anak semata wayangnya.

"Itu tidak lucu oyaji, sekarang cepatlah berangkat dan bawa uangnya dengan selamat."

"Waaah~ terima kasih sudah mendoakan ayah tercintamu ini, Sayaaang~" pria berjambang tersebut bangun dari duduknya dan mulai memutar-mutar tubuhnya seolah penari balet profesional.

Rukia tersenyum geli melihat tingkah unik pria didepannya, "Seharusnya kau bersyukur mempunyai ayah yang sangat menghibur seperti itu kepala jeruk."

"Bersyukur?" Ichigo membeo, "Aku dikutuk Kami-sama sehingga memiliki ayah aneh seperti itu Rukia." bocah itu mengarahkan telujuknya pada orang yang masih berputar bahagia.

"Maksudku setidaknya ayahmu bisa membuat orang lain tersenyum." anak bermata cokelat muda itu menoleh pada gadis yang seolah baru saja mengatakan jika ayahnya adalah ayah idola. "Ah sudahlah. Lupakan saja."

Rukia kemudian bangkit berdiri, menghampiri Isshin yang ternyata sudah berdiri di ambang pintu.

"Kami berangkat Ichigo, jaga dirimu baik-baik," terdengar suara Rukia sebelum suara pintu tertutup membuat suasana di dalam rumah itu seketika hening.

"Seharusnya kau yang menjaga diri baik-baik malaikat mungil," lirih Ichigo pada dirinya sendiri.

Suara mesin mobil terdengar oleh telinga bocah itu, lalu suaranya terdengar semakin samar dan akhirnya menghilang. Ichigo menghela napas panjang dan menghempaskan punggungnya ke lantai, melipat kedua tangannya di depan dada, kemudian mencoba memejamkan matanya. Angannya untuk segera berlabuh ke alam mimpi terganggu karena ia merasakan sesuatu yang dingin dan terasa geli bergerak-gerak di pipinya. Membuka sedikit mata yang baru terpejam beberapa detik, ia tolehkan kepalanya kesamping kiri. Manik cokelatnya terbuka sempurna menyadari sepasang mata besar dan berwarna merah menatapnya balik.

"RUKIAAA!"

.

.

.

Byakuya sudah berada di tempat itu sejak tiga puluh menit yang lalu. Kakinya tidak bisa berhenti untuk tetap diam. Ia mondar-mandir seperti setrika rusak yang masih dipaksa untuk merapikan baju yang kusut. Berkali-kali ia melihat sekeliling, memastikan jika ada tanda penculiknya datang. Setiap kali ada kendaraan yang lewat, jantungnya berdegub kencang, berharap itu adalah si penculik bersama putrinya. Kembali ia melihat pergelangan tangannya dimana sebuah jam bermerk melingkar, masih sekitar sepuluh menit sebelum tepat tengah malam. Beberapa kaleng kopi yang tidak biasa diminumnya kini terlihat berserakan di sekitar tempat sampah yang sudah penuh. Mencoba duduk dan mengambil napas dalam-dalam, ia melihat puncak gedung didepannya. Di sanalah Tia berada, sekitar seratus meter dari tempatnya bertemu dengan Rukia. Siap untuk melepaskan peluru pembunuh jika diperlukan.

Selang beberapa menit, terdengar suara mobil berhenti di dekatnya. Seorang pria mengenakan topi rajut hitam dan kain untuk menutupi sebagian wajahnya keluar. Membuka pintu belakang, ia menggendong gadis kecil yang sangat diyakininya sebagai putrinya.

"Tou-san!" Rukia berteriak memanggil ayahnya seakan sudah sepuluh tahun tidak bertemu pria berambut hitam panjang itu.

Byakuya mencoba mendekati mereka, tapi suara serak pria yang membawa putrinya menghentikan langkahnya. "Apa kau sudah membawa uang yang kuminta tanpa kurang satu sen pun?"

"Ya, semuanya berada di dalam koper itu," Byakuya menunjuk dua benda hitam disamping kirinya.

Pria bertopi rajut mengangguk-angguk. Lalu melihat sekelilingnya yang sangat sepi. "Kau tidak menghubungi siapapun untuk melindungimu 'kan? Jika ada aku tak segan-segan membawa putri kecilmu ini mati bersamaku." ancamnya.

"Oji-san, aku belum mau mati," bisik Rukia sangat lirih. Isshin mengedipkan sebelah matanya seakan menjawab kekhawatiran gadis tersebut.

"Tidak. Aku tidak menghubungi siapapun. Sekarang serahkan putriku." Byakuya mencoba bicara setenang mungkin.

Isshin tertawa keras, "Jangan terburu-buru Kuchiki-sama. Pertama bisakah kau memasukkan satu-persatu koper-koper itu kedalam bagasi mobilku?"

Tanpa banyak bertanya, Byakuya menuruti perintah pria itu.

"Sebut saja itu hukuman ringan untuk ayahmu karena menyia-nyiakan gadis semanis dirimu, Rukia-chan." ucap Isshin pelan pada gadis mungil digendongannya.

Rukia mencium pipi Isshin cepat dan tak lupa memberikan senyuman. "Terima kasih banyak oji-san."

Selesai memindahkan koper ke dalam bagasi, Byakuya kembali menagih putrinya yang belum dilepaskan. Menurunkan Rukia perlahan, gadis itu langsung berlari kedalam pelukan hangat sang ayah.

"Tou-san, aku merindukanmu! Sangat merindukanmu!" ucap Rukia masih memeluk erat ayahnya.

"Kau tidak apa-apa Rukia? Apa mereka menyakitimu sayang?" Byakuya bertanya dengan nada khawatir yang jarang Rukia dengar.

Gadis itu melepaskan pelukan dan memandang wajah lelah dan sedikit pucat milik ayahnya. "Aku baik-baik saja tou-san. Mereka cukup ramah padaku jadi jangan sakiti mereka," Rukia menempelkan kedua telapak tangan mungilnya di pipi Byakuya. "Pipi tou-san sangat dingin, pasti tou-san sangat khawatir. Maafkan Rukia tou-san, maaf!" mata ungu Rukia terlihat mulai berkaca-kaca.

Byakuya tersenyum, lalu mulai menggendong malaikat mungilnya. Tak lupa melambaikan tangan kiri begitu berbalik dan melangkah menuju tempat dimana mobilnya terparkir. Meninggalkan Isshin yang masih terdiam memandang kepergian mereka. Melihat Rukia melambaikan tangannya kecil, ia pun tersenyum dan membalasnya. Setelah kedua orang tersebut menghilang dari pandangan, Isshin menghela napas lega dan memasukkan tangannya kedalam saku celana. 'Sepertinya aku masih bisa bertemu isteriku dan melihat matahari terbenam esok hari' ujarnya dalam hati. Sambil bersiul-siul layaknya seorang yang menang dalam perjudian, pria itu masuk kedalam mobil, dan mulai meninggalkan taman bersejarah baginya.

.

.

.

"Ohayou tou-san! Ohayou kaa-san!" sapa Rukia ceria, saat menghampiri kedua orang tuanya di meja makan. Samalam Rukia memang diberi ceramah panjang lebar dari ayah dan ibunya, agar ia lebih berhati-hati jika pulang sendirian. Tentu saja diakhiri dengan pelukan dan ciuman dari ibunda tercinta.

"Ohayou Rukia-chan, kenapa kau hanya menghabiskan susu saja? Apa pagi ini kau terburu-buru, Sayang?" tanya Hisana karena anaknya tersebut tidak memakan sarapannya.

Gadis itu memandang ibunya dan tersenyum senang. "Benar kaa-san, hari ini ada urusan penting di sekolah yang harus kuselesaikan."

"Biar tou-san yang mengantarkanmu kesekolah Rukia, karena hari ini tou-san ambil cuti" Byakuya menawarkan jasanya.

Mendangar perkataan sang ayah, Rukia menggeleng cepat-cepat. "Ti-tidak usah tou-san! Rukia tidak mau merepotkan tou-san yang kelelahan semalam, biar Ichimaru-san saja yang mengantar seperti biasanya," gadis itu langsung mengambil roti panggang bagiannya lalu mencium pipi ibu dan ayahnya. "Rukia berangkat dulu!"

Kedua orang berumur awal 30 itu hanya saling pandang melihat tingkah anaknya.

"Bukankah Rukia-chan selalu berharap agar ayahnya yang mengantarkan ke sekolah? Kenapa sekarang dia malah menolaknya?" komentar Hisana kemudian.

"Kamu benar, sepertinya dia menyembunyikan sesuatu dari kita. Tingkahnya lebih gesit daripada seekor kelinci yang melompat," kata Byakuya sambil melipat koran paginya. "Baiklah, aku akan ke ruang kerja. Siapa tahu para penculik itu sudah membuka isi kopernya."

.

.

.

Sebuah mobil BMW berwarna hitam mengkilat terparkir rapi di depan sebuah rumah kecil. Seorang laki-laki berambut putih keperakan terlihat duduk bersandar santai di atas kap mobil tersebut, sambil sesekali melihat arloji yang terpasang di pergelangan tangan kirinya. Seberapa pun ingin ia masuk kedalam, ia harus menahannya karena perintah sang putri kecil yang menyuruhnya untuk tetap menunggu di luar.

Klik... klik...

"Uaaaaaah,"

"Waaaaaw,"

"Astaga!"

Tiga kata berbeda itu meluncur dari mulut tiga orang yang berbeda pula ketika membuka salah satu dari dua koper yang mereka bawa semalam.

"Aku hanya pernah melihat daun gugur sebanyak ini saat musim gugur," ujar anak laki-laki berambut oren terang.

"Kau benar anakku, untuk pertama kali dalam hidupku aku baru melihat uang sebanyak ini layaknya daun yang disapu," sang ayah berkomentar dengan mata yang tidak berkedip.

"Ayahku memang hebat, bisa menyediakan uang segunung hanya dalam waktu singkat," Rukia ikut kagum dengan apa yang ada didepannya.

Gadis itu memang sengaja menyuruh Isshin untuk membuka koper keesokan harinya, saat ia berada disana. Rukia juga ingin melihat seberapa banyak uang 100 juta itu. Sekalian mengambil kelincinya yang tertinggal di rumah tersebut.

"Sekali lagi terima kasih Rukia-chan, kami tidak tahu apa yang akan kami lakukan jika tidak bertemu denganmu," ucap Isshin mengusap kepala Rukia.

"Bukan masalah oji-san, aku malah sangat senang bisa membantu kesulitan seseorang," Rukia tersenyum menanggapi Isshin.

Sebagai seorang laki-laki yang bertanggung jawab, Ichigo tidak mau diam saja. "Suatu saat nanti aku akan mengganti seluruh uangmu ini sepuluh kali lipat!"

Isshin dan Rukia terbengong mendengar ucapan seorang anak yang masih belum lulus SMP itu.

"Kau tidak perlu menggantinya Ichigo, apalagi sampai sepuluh kali lipat. Aku sangat ikhlas memberikannya pada kalian."

"Tapi seluruh uang ini bukan milikmu Rukia, ini semua milik ayahmu. Jadi aku akan mengembalikan padanya dengan atau tanpa persetujuanmu," Ichigo masih mempertahankan keinginannya.

"Baiklah, terserah kau saja. Aku akan menunggu sampai saat itu tiba," Rukia lalu berdiri dan mengangkat kelinci cokelatnya. "Aku harus segera berangkat sekolah, dan sampaikan salamku pada Masaki oba-san jika beliau sudah sembuh."

"Tentu saja aku akan menyampaikannya putri ketigaku!" Isshin mengacungkan jempolnya sebagai persetujuan.

"Terima kasih Rukia dan jangan sampai ada yang menculikmu lagi," Ichigo mengingatkan sambil berjalan di belakang gadis mungil tersebut.

Rukia memakai sepatunya lalu berbalik memandang Ichigo. "Aku bisa beladiri kau ingat? Jaga dirimu baik-baik Ichigo, dan jangan pernah berpikir jika kau ada kesulitan akan selalu ada yang membantumu. Kau harus berusaha sekuat tenaga untuk keluar dari masalahmu. Aku pergi dulu."

Ichigo memandang Rukia yang berjalan menuju mobilnya. "Aku pasti bisa mengembalikannya sepuluh kali lipat seperti janjiku, kau tunggu saja."

.

Di sebuah ruang kerja yang rapi dan nyaman, seorang pria berambut hitam panjang yang sedang memejamkan matanya tersenyum tipis. "Dasar anak nakal. Sepertinyaa tou-san harus menghukummu karena sudah membuat khawatir."

.

.

.

Sepuluh tahun kemudian...

Seorang gadis mungil terlihat sibuk memilih pernak-pernik aksesoris yang akan dibelinya. Berpindah dari etalase yang satu ke yang lainnya, meskipun sudah cukup banyak barang yang terletak di keranjang bawaan. Mata ungu-gelapnya terpaku pada sebuah pin berbentuk kepala kelinci berpita. "Wah, yang ini cantik sekali~" Tak perlu berpikir lagi, gadis itu langsung mengambilnya kemudian berjalan menuju kasir.

"Semuanya 435 yen!" seru seorang di balik mesin kasir.

Rukia mengangkat kepalanya, sejenak mata violetnya bertabrakan dengan iris cokelat penjaga kasir. Warna mata yang sepertinya cukup familiar baginya. Baru saja gadis itu membuka mulutnya untuk bertanya, sang pemuda mendahuluinya. "Rukia? Maaf, apakah nama Anda Rukia?"

"Ya benar. Nama saya Rukia. Tunggu sebentar, rasa-rasanya saya pernah melihat Anda."

Pemuda di depan Rukia membuka topi yang menutupi rambutnya, dan muncullah warna oranye terang di baliknya. "Ini aku Ichigo! Kau masih ingat padaku kan?"

Rukia menutup mulutnya yang menganga tidak percaya. "Ya Tuhan! Aku tak percaya kita bertemu disini setelah sekian tahun Ichi!" balas Rukia tertawa renyah. "Jadi, sejak kapan kau bekerja disini?"

"Aku hanya mampir saja kemari. Mengecek apa semua berjalan lancar disini," ujar Ichigo yang membuat Rukia mengerutkan alisnya bingung. "Apa kau punya waktu sekarang? Ada yang ingin kubicarakan denganmu."

"Boleh saja. Tapi apa nanti kau tidak dimarahi atasanmu jika bolos kerja?"

Ichigo tersenyum kecil mendengar ucapan Rukia. "Tidak akan ada yang berani memarahiku jika aku adalah bos-nya. Tunggulah sebentar diluar, aku akan mengganti bajuku."

.

.

.

Dua orang remaja itu duduk berhadapan. Di depan masing-masing terdapat segelas minuman dan juga sepotong kue cokelat. Suasana kafe siang itu terbilang cukup sepi. Hanya ada mereka dan sepasang pengunjung lainnya.

"Jadi, apa sekarang kau menjadi seorang bos Ichigo?" tanya Rukia memulai perbincangan.

"Tentu saja. Aku berusaha untuk menepati janjiku padamu sepuluh tahun yang lalu. Aku bekerja sangat keras untuk itu," jawab sang pemuda sambil tersenyum.

Rukia mengaduk-aduk minumannya—segelas jus stawberry, lalu meminumnya sedikit. "Jangan seperti itu Ichi, kau membuatku tampak seperti rentenir. Lalu bagaimana kabar ibumu?"

"Kau tidak seperti rentenir, ini semua murni karena kemauanku sendiri. Dan untuk kaa-san, beliau sudah sangat sehat. Dia selalu menanyakan kapan bisa bertemu denganmu," ucap Ichigo menatap Rukia lurus. "Kau terlihat semakin cantik Rukia."

Mendengar kalimat pujian dari seseorang yang sudah lama tidak bertemu membuat wajah Rukia sedikit memerah. "Jangan menggombal denganku Ichigo, itu tidak mempan! Syukurlah jika beliau semakin sehat, kapan-kapan aku akan berkunjung kerumahmu."

"Memangnya kau tahu di mana rumahku?" Ichigo menyendok kue cokelat miliknya. "Aku tidak sedang menggombal Rukia, aku hanya mengatakan apa yang kulihat."

Wajah Rukia terlihat semakin berwarna mendengar penuturan Ichigo. "Tidak tahu sih, tapi kau kan bisa mengantarku kesana, tawake!"

"Bahkan kau terlihat lebih manis jika sedang terlihat kesal seperti itu," pria berambut oren terang terus saja menggoda Rukia.

"Hentikan rayuanmu itu, karena aku sudah punya kekasih," ucapan Rukia seketika membuat senyum diwajah Ichigo luntur.

Mulut Ichigo membuka-tutup ingin mengatakan sesuatu, namun tidak ada satu kata yang sanggup dikeluarkannya. Melihat ekspresi pria di depannya seperti ikan yang terperangkap jala nelayan, Rukia terkikik geli. "Aku hanya bercanda Ichigo, aku sama sekali tidak mempunyai pacar saat ini. Bukankah dulu kau sudah berjanji akan menikahiku, hm?"

Mendengar perkataan Rukia tersebut, Ichigo menghempaskan punggungnya di sandaran kursi, melipat tangan didepan dada dan mengerucutkan bibirnya kesal. Rukia terpana pada aksi teman lamanya itu yang seperti anak lima tahun yang tidak diajak ke taman bermain.

"Ya Tuhan Ichi~ kau sangat menggemaskan sekali jika merajuk seperti itu," ucap Rukia menyeringai penuh kemenangan.

"Kau tahu, aku sangat menunggu kesempatan untuk bertemu denganmu. Dan saat kau mengatakan jika sudah mempunyai kekasih, rasa-rasanya roh-ku seketika keluar dari tubuhku Rukia," Ichigo berujar dengan muka yang masih terlihat sebal.

Pembicaraan keduanya masih terus berlanjut sampai Rukia sadar jika ia masih ada mata kuliah siang itu. Ichigo tidak menyiakan kesempatan untuk mengantarkan gadis berambut hitam itu kembali ke kampusnya.

Seminggu berlalu sejak pertemuan kembali mereka. Tak seharipun dilewatkan Ichigo untuk selalu bertemu malaikat mungilnya. Mengantar jemput Rukia kuliah menjadi pekerjaan tetapnya akhir-akhir ini.

Akhir pekan ini Ichigo berencana mengajak Rukia pergi kesuatu tempat yang pasti disukai gadis itu. Pukul 9 pagi pemuda itu sudah berada di rumah keluarga Kuchiki. Beruntung baginya karena ayah dan ibu Rukia sedang pergi keluar kota.

"Maaf membuatmu menunggu lama Ichi," ujar Rukia menghampiri pria yang sedang duduk manis di sofa ruang tengah.

Begitu menoleh ke arah sumber suara, manik cokelat Ichigo berbinar kagum melihat penampilan Rukia. Gadis itu sebenarnya hanya memakai rok biru selutut, dengan atasan kaus putih kasual dipadukan dengan jaket mini berwarna senada dengan roknya. Sepatu hak setinggi kurang dari 10 senti menjadi pelengkap penampilannya. Semuanya terlihat biasa saja, kecuali bagi pria berambut oranye Rukia bahkan lebih cantik dibandingkan super model manapun.

"I-iya, tidak apa kok," kata Ichigo begitu tersadar dari hipnotis yang secara tidak langsung diberikan Rukia. "Jadi, kita berangkat sekarang?"

Gadis itu mengangguk dan tersenyum senang saat tangan besar Ichigo menggandeng tangannya.

.

.

.

Rukia's PoV

Pejalanan kurang dari 1 jam ini membawaku dari Seireitei menuju Tokyo. Ichigo belum mau mengatakan apapun tentang tempat yang ditujunya. Namun begitu mobilnya berhenti di halaman parkir, aku tidak percaya memandang gerbang raksasa di depanku. 'Welcome to ChappyLand' aku membaca tulisan itu berulang kali, kucubit tanganku agar menyadarkanku jika aku sedang bermimpi di siang hari. Tempat yang sangat ingin kukunjungi semenjak 1 tahun yang lalu saat pertama kali dibuka. Ichigo, dia tidak mungkin bisa membaca pikiran seseorang, iya kan?

"Kenapa diam saja Rukia? Ayo keluar, bukankah kau ingin kemari?" pertanyaan pemuda itu mengembalikanku ke bumi. Kupandangi dirinya yang sudah beranjak keluar dari mobil, memutari bagian depan, dan akhirnya membukakan pintu untukku.

"Kenapa kau bisa tahu jika aku ingin kemari?" akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulutku.

Pria didepanku hanya tersenyum dan mulai menggandeng tanganku. "Karena aku adalah Ichigo," sial, sombong sekali tingkahnya.

Kami berjalan menuju tempat penjualan tiket, namun Ichigo tidak berhenti untuk membelinya. Ia hanya tersenyum sekilas pada petugas jaga dan langsung melenggang masuk. Sepertinya aku mencium sesuatu yang tidak beres disini.

Baru berjalan sekitar sepuluh langkah, kami disambut dengan iringan karnaval mini. Ada lebih dari 15 orang yang memakai kostum Chappy dan memainkan drum band dengan meriah. Kemudian mereka membentuk dua baris tepat disamping kiri-ku dan samping kanan Ichigo. Dari ujung muncul lagi Chappy yang memakai tuksedo warna hitam dan membawa sebuket bunga mawar merah. Perlahan ia—Chappy— menghampiri Ichigo. Hei, apa dia ingin melamar Ichigo?

Aku hanya memandangnya, aku sudah mengerahkan seluruh kemampuanku agar tidak berteriak histeris dan memeluk makhluk imut berwarna putih juga bertelinga panjang di depanku ini! Ichigo lalu mengambil bunga dari tangan Chappy dan memandangku dengan senyuman yang... yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Sebuah senyum tulus yang indah, yang sanggup membuat jantungku berdetak lebih cepat, yang sanggup membuatku menahan napas, dan juga yang sanggup membuat kedua belah pipiku memerah.

"Kuchiki Rukia," Ichigo memulai pidatonya sambil berlutut dihadapanku dengan satu lutut menempel di bumi dan memandang tepat di kedua iris ungu gelapku. "Aku, Kurosaki Ichigo, hari ini akan memenuhi janjiku sepuluh tahun yang lalu. Janji yang terucap bukan karena rasa ingin berterima kasih, janji yang selama ini selalu berada dalam memori otakku, sebuah janji yang jika aku mengingatnya akan selalu membuatku tersenyum senang." ucapannya langsung membuat jari-jariku terasa dingin.

"Selama ini aku berusaha keras agar bisa membuat semua mimpiku menjadi nyata. Menemukanmu bukanlah sebuah hal yang mudah, namun takdir membuat semua menjadi indah."

"Ichigo..." gumamku lirih. Kulirik sekitarku, oh tidak! Ternyata banyak sekali orang yang menyaksikan drama picisan ini!

"Semua yang berada di sini adalah milikmu Rukia, taman hiburan ini kubangun agar setiap hari kau dapat mengunjunginya," perkataan pria yang masih bersimpuh ini membuatku sangat terkejut. Jadi... ChappyLand ini miliknya? Seseorang yang kebetulan bertemu denganku sekitar seminggu yang lalu, yang kebetulan kutolong sepuluh tahun lalu, yang kebetulan dulu pernah berjanji akan menikahiku, yang kebetulan juga membuatku selalu menunggu-nunggu kapan bertemu lagi dengannya setelah ia mengantarkanku pulang kuliah?

"Namun yang paling penting, aku membuatnya untuk hadiah pernikahan kita kelak," hei, aku bahkan belum meng-iya-kan lamaran tidak langsungnya ini, dia malah sudah sampai perhikahan!

"Jadi Kuchiki Rukia, maukah kau menikah denganku?" aku masih terdiam atas ucapannya yang lebih dahsyat daripada terkena aliran listrik seribu volt. Tapi bukannya aku pernah kesetrum sih.

Tanpa sadar aku tersenyum dan mengangguk. Kuterima mawar merah di genggamannya, lalu ia berdiri dan memelukku erat. Melihat kerja kerasnya terpampang jelas dimataku, membuatku cukup yakin akan keseriusannya.

Kudengar tepuk tangan meriah dari sekeliling kami. Langsung saja kulepas pelukan pria didepanku ini. Dan tanpa pikir panjang Ichigo menggenggam tangan kiriku yang bebas dan langsung berlari keluar dari taman hiburan ini. Hei! Aku bahkan baru lima belas menit di sini dan belum melihat apapun yang ada di dalam, sekarang pria jingga itu mau langsung saja pulang?

"Kau bisa kemari kapanpun kau mau Rukia, tapi sekarang yang paling penting adalah meminta restu ayahmu dan secepatnya menikah."

"Hei!"

Dia terkikik mendengar nada protesku, aku belum lulus kuliah dan dia sudah mau mengajakku menikah? Oh, yang benar saja!

"Atau setidaknya kita bertunangan lebih dulu," ia tersenyum lembut, dan mampu membuatku sedikit kehilangan langkah.

Kau tahu Ichigo? Semua ini lebih dari yang kau janjikan dulu. Lebih dari sepuluh kali lipat dari seratus juta...

.

.

.

.

.

.

.

.

.

» SELESAI «


A/N: Aku benar-benar kehilangan ritme dan dalam menulis cerita di chapter terakhir ini. Sama seperti El-Real yang bermain tanpa Cristiano Ronaldo, atau seperti Spanyol tanpa gaya tiki-taka-nya. Entah kenapa rasanya ada yang tidak pas dengan cerita di atas. Ending-nya sangat memaksa dan gaje, aku tahu itu. Namun aku sudah berusaha sebaik mungkin agar tidak mengecewakan para pembaca sekalian. Jika ada uneg-uneg atau apapun itu silahkan ditulis dikotak review ^^b

Jika ada yang belum jelas, disini Ichigo pemilik hak cipta Chappy. Dia dan ayahnya memulai usaha sejak sepuluh tahun lalu setelah mendapat uang dari sisa biaya operasi. Namun baru sekitar 3 tahun belakangan Chappy booming. Anggap saja merk dagang Chappy sama seperti H*llo Kitt* di dunia nyata. Tentu saja, nama Chappy didapat Ichigo dari nama kelinci Rukia dulu.

Dan terima kasih untuk semua yang sudah menyempatkan membaca cerita gagal ini, juga terima kasih banyak untuk semua yang bersedia memberi komentar di review, aku sangatsangatsangat berterima kasih sekali :*

Untuk QRen:Terima kasih udah reviu, maaf jika chapter ini samaa sekali tidak memuaskan T.T

aene hibiki: Terima kasih atas reviu-nya, semuanya happy end kok ^^

Mungkin multichapter selanjutnya aku mau bikin GrimmRuki ^^,

Untuk yang terakhir kalinya, REVIEW PLEASE. . .