Pandora Hearts ©Jun Mochizuki

This fic© Aoife the Shadow

Double Lariat(c) Agoaniki-P

.

Warning: AU, OOC, typos, death charas, contain OCs

Note: PSC=Pandora Street Child DS=Dark Sabrie

Enjoy!

.

.

Chapter 2: A Coincidence?

Gil menguap dan menyibakkan kain tipis yang menyelimutinya dan Vincent pada malam hari. Mereka berdua biasanya tidur di sebuah gang yang sepi, dengan banyak kotak-kotak kayu tak bertuan yang menyembunyikan mereka dari pandangan-pandangan tidak bersahabat.

"Vincent? Kau sudah bangun?" gumamnya karena dia tidak merasakan kehangatan yang berasal dari tubuh adiknya yang biasanya tidur di sampingnya. Hanya kesunyian yang menjawab pertanyaanya.

Karena tidak kunjung mendapatkan jawaban dari Vincent, Gil berjuang untuk duduk dan memandang sekelilingnya. Tidak ada tanda-tanda Vincent di sampingnya maupun di gang itu, yang ada hanya kotak-kotak kayu tanpa suara dan jalan batu dingin tempat dia dan Vincent menghabisakan malam.

Gil mendesah pelan, ini bukan pertama kalinya dia bangun dan mendapati Vincent tidak ada di sampingnya. Adiknya itu akan kembali pada sore hari, kadang-kadang dengan satu atau dua luka di tubuhnya. Tentu saja itu membuat Gil khawatir. Bukannya Gil terlalu protective atau apa, tapi dia tidak mau kehilangan Vincent seperti dia kehilangan Elliot.

"Oh well, sepertinya aku harus memberikan dia kesempatan untuk tumbuh dewasa." katanya sambil menguap. Anak laki-laki itu menendang selimutnya ke belakang sebuah kotak tua. Lagipula kami akan tidur di sini lagi nanti malam, tidak perlu membawa-bawanya, begitulah pikir Gil.

Atau begitulah pikirnya.

.

Tangan Gil dengan lihai mengambil sebuah apel dari sebuah kios ketika penjaganya tidak melihat, kemudian memasukkanya dengan gerakan terlatih ke dalam baju lengan panjangnya. Di dunia street child yang keras ini, mereka harus melakukan segala cara untuk bertahan.

Setelah berada cukup jauh dari kios tadi, Gil mengeluarkan apel curiannya. Rupanya Gil sedang beruntung hari ini, karena walaupun Gil tidak memilih-milih ketika mengambilnya tadi, apel yang diambilnya cukup besar dan berwarna merah menggoda. Dengan hati-hati, dia menggigit apel itu, rasanya manis, tanpa ada rasa asam sama sekali. Lumayan untuk sarapan, pikirnya.

"Itu grup musik jalanan yang terkenal itu?"

"Iya, itu Rakuen no Music! Kabarnya pernah ada seorang pencari bakat yang menawarkan kontrak, tapi mereka menolak!"

"Sshhh! Mereka mau bermain!"

Gil melihat sebuah kerumunan yang cukup ramai di jalanan. Anak laki-laki itu sudah pernah mendengar tentang Rakuen no Music, tetapi belum pernah mendengar permainan mereka secara langsung. Gil membuang bagian tengah apel yang sudah selesai dimakannya dan berjalan menuju kerumunan itu, penasaran untuk mendengar permainan mereka yang terkenal itu.

Gil berusaha untuk menembus kerumunan yang rapat itu, tapi tidak bisa, para penonton itu terlalu egois untuk memberikan tempat baginya. Akhirnya, Gil menyerah dan lebih memilih mendengarkan saja permainan mereka dari pinggir.

Hankei hachiijuugo senchi ga kono te no todoku kyori

Ima kara furimawashimasu node hanarete ite kudasai

Suara nyanyian energik seorang gadis membuat kerumunan yang berisik itu terdiam ketika dia menyanyikan opening lagu itu tanpa ditemani oleh musik. Satu ketukan setelah gadis itu selesai menyanyikan baris kedua, barulah musik dimainkan, paduan yang harmonis antara biola dan seruling.

Tada mawaru koto ga tanoshikatta kono mama de itakatta

Tada mawaru koto wo tsuzuketeitara tomorikata wo wasurete ita

Mawari no nakamatachi ga jibun yori umaku mawareru no wo

Shikata nai to hitokoto tsubuyaite akiramete furi wo shite ita

Gil memejamkan matanya, menikmati aliran musik yang merdu itu. Ini pertama kalinya Gil mendengar lagu itu, dan dia tidak terlalu mengerti artinya, tapi dia menikmati musik itu. Suara sang penyanyi dan musik melebur dengan harmonis. Entah kenapa, cara sang violis memainkan biolanya mengingatkan Gil kepada satu orang.

Elliot.

Seingat Gil, hanya Elliot yang bisa memainkan biola semerdu ini. Dulu, ketika keluarga mereka masih utuh, setiap malam dia dan Vincent biasa mendengarkan Elliot memainkan biola peninggalan ayah mereka. Nada-nada yang dimainkan adik mereka selalu menjadi lagu nina bobo untuk mereka berdua.

Tapi semua itu sudah hilang.

Ibu mereka bunuh diri, Elliot diculik, Gil dan Vincent terpaksa hidup di jalanan. Mereka berdua tidak pernah melihat Elliot lagi sejak dia diculik dua tahun lalu.

"Argh! Kenapa aku malah memikirkan masa lalu seperti ini?" Gil mengacak-acak rambut hitamnya dengan frustasi.

"Elliot sudah hilang, Gil! Kau tidak akan pernah bertemu dengannya lagi! Tidak akan pernah! Sekarang tugasmu adalah melindungi Vincent, jangan sampai kau gagal melindunginya seperti kau gagal melindungi Elliot dulu!" Gil menggumam terus menerus kepada dirinya sendiri dan melangkah menjauh dari kerumunan, tanpa sadar bahwa orang yang dicarinya berada begitu dekat.

.

Gil tersentak bangun ketika merasakan sesuatu yang hangat menggesek kakinya. Gil memandang sekelilingnya dengan panik dan mendapati kalau yang menggesek kakinya tadi adalah seekor kucing. Dengan wajah pucat pasi, Gil segera mengusir kucing berbulu abu-abu itu. Sejak dulu, Gil memang sudah mempunyai fobia tersendiri terhadap kucing.

Gil menatap langit yang mulai gelap, hari sudah beranjak sore. Rupanya dia tertidur cukup lama. Gil kembali membungkus dirinya dengan selimut dan menyandarkan punggungnya di dinding batu.

"Vincent belum kembali juga, ya?" gumamnya mengantuk. "Padahal sudah sore, kenapa dia belum juga kembali? Apa aku harus mencarinya?"

Setelah beberapa saat, Gil kembali memejamkan matanya, memutuskan untuk tidur sebentar lagi sebelum mencari butuh waktu lama baginya untuk kembali ke alam mimpi. Tapi tidurnya tidak berlangsung lama, karena lima menit setelah dia tertidur, sesuatu kembali menyentuh kakinya.

Gil tidak berpikir panjang lagi, dia langsung menendang apapun itu yang menyentuhnya dengan keras dan melompat berdiri, mengira kalau dia akan bertemu dengan seekor kucing lagi. Gil menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri, mencari binatang kecil berbulu itu.

Tapi tidak ada seekorpun kucing di gang itu.

Alih-alih, Gil mendengar suara erangan pelan di dekat kakinya. Gil menurunkan pandangannya dan menjerit panik, kaget setengah mati.

Tepat di depan kedua kaki telanjang Gil, adiknya terbaring tidak berdaya dengan kondisi babak belur.

"Vincent! Kau membuatku kaget! Kau tidak apa-apa?" pekik Gil panik.

Vincent jelas-jelas tidak baik-baik saja. Tubuh anak laki-laki itu penuh dengan luka yang cukup dalam, mengalirkan darah ke jalan berbatu tempat dia terbaring. Bajunya robek di beberapa tempat, menampakkan luka-luka yang berada di baliknya. Rambut pirang Vincent berantakan, ada luka cakar di pipi kanannya yang hampir mencapai mata. Kedua mata Vincent setengah tertutup sementara dia berusaha mempertahankan kesadarannya.

"Vincent! Siapa yang melakukan ini padamu? Biar kuhajar mereka!" Gil mengepalkan tinjunya, tidak rela adiknya dihajar sampai seperti itu.

Dengan sisa tenaganya, Vincent meraih celana Gil dan menariknya pelan, berusaha membuat kakaknya memperhatikannya. Segera setelah dia mendapatkan perhatian kakaknya, dia berkata dengan suara yang tidak lebih keras daripada sebuah bisikan.

"Lari… Dia mengejarku…"

Tanpa banyak bertanya lagi, Gil segera mengangkat tubuh Vincent dan menggendongnya di punggungnya. Anak itu berusaha berlari secepat mungkin dengan susah payah. Rupanya Vincent cukup berat.

Selama mereka berlari, Vincent berusaha memberitahukan sesuatu kepada Gil. Tetapi Gil tidak mengerti sepatah kata pun apa yang disampaikan Vincent, karena Vincent menyampaikannya dengan suara tidak jelas dan sepotong-sepotong.

"Singa… sangat besar… gadis itu… menghajarku… cepat…" racaunya.

"Aku sudah berusaha untuk cepat, Vince. Lagipula, darimana saja kau sejak pagi?" gerutu Gil.

"Tak ada waktu… dia… dibelakang kita!" pekik Vincent, sesaat sebelum auman yang menusuk telinga mereka terdengar. Gil segera memacu langkahnya dengan lebih cepat setelah mendengar suara auman itu. Dia tidak tahu siapa atau apa yang mengejar mereka, tetapi sudah jelas itu bukan sesuatu yang ramah.

Tiba-tiba Gil berhenti berlari, sebuah dinding yang kokoh menghalangi jalan mereka. Gil merutuk pelan, "Sial, kita harus putar balik, Vince!" Dia merasakan Vincent menegang di belakangnya.

"Terlambat~" Gil mendengar seseorang berkata manis di belakangnya, kemudian sesuatu memecut dan melilit pergelangan kaki kanannya dan membuatnya terjatuh ke samping. Beban di punggung Gil menghilang ketika Vincent kehilangan pegangannya dan terjatuh berguling hingga dia menabrak dinding. Anak laki-laki itu harus berusaha keras agar tidak pingsan.

"Vincent!" Gil berusaha bangkit dan menolong adiknya, tetapi kakinya tidak mengizinkannya. Gil memandang marah ke arah seseorang yang berada di depannya.

"Tinggalkan kami! Jangan ganggu adikku lagi!" bentak Gil kepada orang itu.

"Ahh~ kakak yang perhatian! Menarik sekali!" kata orang itu dengan nada mencemooh. Orang itu adalah seorang gadis berambut merah muda dengan sebuah senyum sadis di bibirnya. Gadis itu memegang sebuah cambuk di tangannya.

"Apa maumu!" bentak Gil lagi. Gadis itu melangkah ke depan Gil dan membungkukkan badannya, memegang dagu Gil dengan kedua tangannya.

Gadis itu memaksa Gil menatap wajahnya, "Aku hanya ingin tahu, apa kalian berdua ingin bergabung dengan Dark Sabrie? Kulihat kau punya potensi, dan mata merah akan selalu diterima oleh kami!" kata gadis itu sambil tersenyum girang.

"A… aku…" Gil kehilangan kata-katanya begitu dia melihat kedua mata gadis itu. Kedua mata merah muda itu begitu dalam, penuh dengan garis-garis melingkar tipis yang mengitari kedua pupilnya. Rasanya garis-garis itu terus meliuk, memasuki kedalaman mata gadis itu. Gil merasa tubuhnya lumpuh, seakan-akan dia dihipnotis.

"Ckckck! Lotti, kau tidak akan pernah mendapatkan anggota baru apabila itu adalah caramu untuk merekrut."

Gadis itu mendesis dan melepaskan dagu Gil. Dalam sekejap, Gil mendapati kalau dia sekarang bisa mengendalikan tubuhnya kembali. Dia segera merangkak menuju Vincent, yang berbaring dengan mata hampir tertutup, tetapi masih sadar.

"Pandora!" desis gadis itu. "Bukankah seharusnya kalian tidak ikut campur?"

"Lotti, kau lupa kalau ini adalah daerah kekuasaan kami, ya?" suara yang lain bertanya, dan dua orang anak laki-laki melompat turun dari atap tempat mereka mengawasi sedari tadi.

"Dan kami tidak mengizinkan kekacauan apapun di daerah kami, apalagi yang disebabkan oleh kelompokmu!" ujar salah seorang dari mereka, yang berambut pirang sama seperti Vincent.

Udara di belakang anak laki-laki itu mulai berdenyar, dan tiba-tiba seekor kelinci hitam raksasa seukuran telah berdiri menjulang di belakangnya. Gil mengedipkan matanya untuk memastikan kalau dia tidak berhalusinasi, tetapi kelinci itu masih tetap ada di sana! Kelinci hitam ganas dengan mata semerah darah dan cakar setajam pisau. Kelinci itu memamerkan taringnya kearah gadis itu, Lotti.

Lotti meludah, "Battle? Fine! Aku akan meladenimu!" desisnya, dan dalam sekejap, seekor singa berukuran besar sudah berada di belakang gadis itu.

Gil melihat Vincent membelalakkan matanya, "Itu… itu singa yang menyerangku tadi!"

"Break! Bawa kedua anak itu ke markas dan obati mereka! Aku punya sedikit urusan dengan nona manis ini!" perintah anak laki-laki itu ke temannya yang berambut perak, yang tampak lebih tua darinya.

"Oke. Usahakan agar kau tidak mati, ya?" anak berambut perak itu berlari mendekati Gil dan Vincent.

"Kau!" anak itu menunjuk Gil. "Apa kau bisa berjalan?"

Dengan canggung, Gil berusaha berdiri. Rasanya sakit, tetapi setidaknya dia bisa berdiri, "Kurasa bisa." katanya ragu.

"Kalau begitu bawa adikmu, kita harus segera pergi dari sini kalau tidak mau menjadi daging cincang!" desak Break. Gil mengangguk dan segera menggendong Vincent dan berlari mengikuti pemandu mereka.

"Oz, pastikan kau kembali tanpa terluka apabila kau tidak ingin dibunuh oleh yang lain!" seru pemandu Gil sebelum mereka berbelok menuju gang lain.

Lotti mendesis marah ketika dia melihat mangsanya kabur. Dia menunjuk anak laki-laki pemilik kelinci raksasa itu dengan telunjuknya, "Kau akan membayar untuk ini, Oz!"

"Oh ya?" kata anak laki-laki itu, Oz, dengan santai. Dia merentangkan tangannya ke samping, begitu pula dengan kelincinya, dan sebuah sabit muncul di tangan kelinci itu.

"Kurasa kau yang harus membayar karena membuat kekacauan disini!" Oz tersenyum tipis. Kelinci hitamnya mengayunkan sabitnya ke depan, dan pertempuran pun dimulai.

Dan tidak ada orang lain, bahkan orang-orang yang lewat, menyaksikan pertempuran makhluk gaib itu.

TBC

A/N:

Oke, jangan tanya kenapa nama grup musiknya Rakuen no Music. Kalau gak suka, salahin otak Aoife, ok?

As always, RnR? ;)