Pandora Hearts ©Jun Mochizuki
This fic© Aoife the Shadow
.
Warning: AU, OOC, typos, death charas, contain OCs
Note: PSC=Pandora Street Child DS=Dark Sabrie
Enjoy!
.
.
Arc 2
Chapter 7: Crimson Eye
Seorang anak laki-laki berlari dari satu gang ke gang lainnya seperti dikejar setan. Tubuhnya penuh luka, rambut peraknya yang berantakan menutupi wajahnya, menyembunyikan kedua bola matanya. Mata itulah yang menjadi penyebab orang-orang mengejarnya sekarang.
"Tangkap anak itu!" "Habisi dia!" "Anak pembawa sial!", teriak para penduduk desa yang mengejar anak itu. Masing-masing penduduk desa membawa pentungan.
"Haah...haahh...", suara napas anak itu terdengar terengah-engah. Anak itu sudah tidak kuat berlari lagi. Fakta bahwa dia terluka dan belum makan sejak kemarin sama sekali tidak membantunya. Kakinya sudah tidak lagi sanggup menanggung beban tubuhnya. Dia ambruk, kelelahan. Orang-orang yang mengejarnya langsung menyerbunya. Anak itu memejamkan matanya, menerima apa yang tak terelakkan.
Baku hantam terjadi. Anak itu menjerit keras. Dia sudah tidak tahan lagi, tapi kerumunan itu tidak bisa dihentikan. Mereka terus memukuli tubuh anak tak bersalah itu, yang hanya menjadi korban takdir.
Setelah beberapa saat, orang-orang tadi meninggalkan anak itu terkapar di tengah genangan darahnya sendiri. Mereka mengira bahwa dia telah tak bernyawa, tapi perkiraan mereka salah.
Anak itu membuka kedua kelopak matanya, menampakkan kedua iris merah darahnya. "Aku masih hidup, ya?" gumamnya lirih. Nafasnya yang tidak teratur nyaris tak terdengar.
Titik-titik air hujan mulai turun, seakan-akan langit turut menangis ketika melihat nasib anak itu. Tetesan-tetesan air segera membasahi tubuhnya, yang sudah tidak punya kekuatan bahkan untuk mengangkat tubuhnya dari tempat dia terbaring sekarang dan mencari tempat untuk berteduh. Dia meringis menahan sakit ketika air hujan menyengat luka-lukanya.
"Hei, langit! Kalau kau mau menolongku, jangan menangis! Kau malah menyakitiku, tahu!" gumamnya. Dia mengarahkan iris merahnya ke atas, ke arah langit kelabu yang masih menangis. Pandangannya mulai mengabur. Dia memejamkan matanya, menyerah untuk bertahan lebih lama lagi.
"Hei, kau tidak apa-apa? Bertahanlah!" suara itu merasuk ke dalam alam pikiran anak itu. "Siapa?" pikirnya. Dia berusaha membuka matanya, sebentar saja. Setidaknya, dia ingin melihat siapa yang peduli padanya, sebelum dia meninggalkan dunia ini. Toh siapapun itu, dia pasti akan pergi setelah melihat warna matanya.
Dan hal yang terakhir kali tertangkap oleh kedua bola matanya sebelum dia kehilangan kesadarannya adalah seorang anak lelaki berkacamata berlutut di depannya. Rambut cokelat muda pendeknya lepek terkena air hujan. Mata cokelatnya menatap cemas ke arah dirinya yang terbaring tidak berdaya.
.
"Break! Woi, Break! Bangun!" suara seseorang membangunkan Break dari tidurnya. Dia menggumam dan membuka mata satu-satunya. "Mimpi itu lagi?" gumamnya. Dia membalikkan tubuhnya, berusaha untuk tidur kembali. Dia ingin kembali berada di mimpi itu, bernostalgia dengan masa lalunya.
Satu hari sudah berlalu sejak bergabungnya Gil dan Vincent di Pandora, dan mereka kembali ke rutinitas mereka.
"Hei, Break! Yang punya Dormouse itu kamu atau Vincent sih? Vincent saja sudah bangun dari tadi!" Break kembali membalikkan tubuhnya, kesal.
"Berisik,!" teriaknya, kesal karena tidurnya diganggu. kesal. Jack, yang sedari tadi berusaha membangunkan Break, nyengir tanpa dosa.
"Akhirnya bangun juga! Susah banget sih dibanguninnya? Ini sudah jam 10 tahu!", kata Jack. Break mendesah. Dia bangkit berdiri dan beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Jack tetap mengikutinya sambil asyik curhat. Maklumlah, mereka memang seumur, 15 tahun. Yang lain berada di bawah mereka. Oz, Gil, Echo dan Zwei berumur 14 tahun. Vincent, Alice, Alyss, dan Sharon 13 tahun. Elliot, Reo,dan Ada baru menginjak 12 tahun.
Sepertinya anak-anak lain sudah pergi untuk melakukan pekerjaan masing-masing. Ada, Elliot, dan Reo sebagai pemusik jalanan. Zwei sedang memata-matai anggota Dark Sabrie dibantu dengan Alice, Alyss, dan tertinggal di markas hanya Oz, Gil, Vincent, Jack, dan Break.
Oz sedang melakukan sesi tanya jawab dengan Gil dan Vincent. Mereka berdua sedang asyik menghujani Oz dengan berbagai maca pertanyaan seputar chain. Oz sedang menjawab pertanyaan Vincent tentang bagaimana cara memanggil chain ketika Break melewati mereka.
" Kalian tidak akan belajar cara memanggil chain selama setidaknya satu minggu ke depan. Tubuh kalian masih membiasakan diri dengan keberadaan chain kalian. Aku hanya akan memberitahu kalian teorinya saja. Dan Vince, jangan coba-coba mempraktikkan ini sendirian!"
"Chain akan keluar ketika kau memanggilnya dengan hatimu, lebih baik lagi kalau kau juga mengucapkan namanya melalui mulutmu. Tapi dengan hati juga sudah cukup. Ingat, kau tidak boleh terlalu sering memanggil chain! Kalau kau terlalu sering memanggilnya, chain akan mengambil alih kendali akan tubuhmu! Rentang waktu yang aman untuk memanggil chainmu adalah seminggu.", Oz menjelaskan. Gil dan Vincent mengangguk tanda mengerti. Break mendesah dan melanjutkan perjalanannya ke arah kamar mandi.
Setelah mandi dan mengganti pakaiannya, dia merapihkan rambut peraknya. Dia mengatur poninya sehingga menutupi lubang tempat mata kirinya seharusnya berada. Sekarang hari Sabtu, dan Break akan melakukan rutinitas Sabtunya.
Jack mengantarkannya sampai pintu markas. Pemuda berambut pirang itu memandang langit dengan cemas. Langit berwarna kelabu, tanda-tanda pertama hujan. Tapi Break tidak peduli. Dia melangkah melewati pintu dan berjalan menyusuri gang.
"Hei, Break!", teriak Jack. "Kau tidak membawa payung? Sepertinya akan hujan lebat!", Break menggeleng tanpa menoleh ke belakang. Jack menggumam pelan, "Dasar keras kepala!", dan menutup pintu.
Break tetap meneruskan langkahnya. Dia berhenti di sebuah taman dan memetik beberapa kuntum mawar putih yang tumbuh di situ. Dia melanjutkan perjalanannya, hingga dia sampai di sebuah pemakaman.
Break memasuki area pemakaman itu, dia berjalan melewati banyak batu nisan. Mata merahnya menelusuri nama-nama yang terpahat di batu-batu dingin itu. Akhirnya dia menemukan makam yang dia cari. Break pun bergegas menghampiri makam itu.
Seorang gadis berumur 12 tahun dengan rambut pirang sudah lebih dulu duduk di samping makam itu. Sebuah lambang tertato di pipi kiri gadis tersebut, tanda bahwa dia telah dua kali melakukan The Last Effort.
The Last Effort adalah teknik kedua yang paling berbahaya dalam menggunakan chain. The Last Effort adalah kondisi dimana seorang kontraktor membiarkan tubuhnya diambil alih oleh chain dalam pertempuran. Karena sifat alami chain adalah pembunuh, maka cara ini efektif untuk mengurangi jumlah musuh, tapi sangat berisiko. Kau bisa kehilangan seluruh kendali akan tubuhmu. Begitu seseorang melakukan The Last Effort, hanya ada satu orang yang bisa menghentikannya. Seorang kontraktor hanya bisa melakukan The Last Effort sebanyak tiga kali dalam hidupnya. Setelah kali ketiga, kontraktor akan meninggal.
"Hai, Lily!" Break menyapa gadis itu. Gadis yang dipanggil Lily itu hanya mengangguk kecil. Beberapa kuntum mawar merah telah berada di atas makam. Break meletakkan mawar putih yang dibawanya. Tangannya mengusap nama yang terukir di batu nisan itu. "Hai, Reim!" bisiknya.
"Bagaimana kabar di Dark Sabrie, Lily?" tanya Break. Dia berjongkok di depan Lily, dengan makam Reim memisahkan mereka berdua. Lily mendesah, "Sama saja. Mereka masih menganggapku pengkhianat!" Break tersenyum.
"Ah, tapi kau memang pengkhianat kecil, kan? Kau membocorkan hampir semua gerakan Dark Sabrie kepada Pandora!" Lily tersenyum setengah hati.
"Aku akan melakukan apa saja untuk melunasi utangku pada Reim!", mereka berdiam diri dalam waktu yang cukup lama.
Setetes air mengenai lengan Break, lalu satu tetes lagi, dan lagi. Break menengadahkan wajahnya, menatap langit. "Hujan?, bisiknya. Dia mengarahkan telapak tangannya ke arah atas, menangkap beberapa tetes air hujan. Beberapa kenangan menyerbu benak Break, kenangan-kenangannya dulu bersama Reim dan Sharon.
Lily kembali mendesah, "Sepertinya aku harus pulang sekarang. Glen akan marah kalau tahu aku pergi ke sini!" gadis itu bangkit, mata birunya menatap Break. "Kau tidak pulang, Break?" Break menggeleng.
"Kau duluan saja, Lily! Aku ingin berada di sini beberapa saat lagi." Lily pun pergi meninggalkan Break. Break bangkit, kemudian berdiri mematung selama sekitar 10 menit. Gerimis kini telah berubah menjadi hujan lebat, membuat Break menjadi basah kuyup. Tapi dia tidak peduli, dibiarkannya air hujan itu membasahi dirinya.
Setelah puas berada di situ, Break mebalikkan tubuhnya. "Selamat tinggal, Reim!", bisiknya lirih. Dia pun berjalan meninggalkan makam Reim.
Seseorang memanggilnya ketika dia melewati gerbang pemakaman, "Xarxs-nii!" Break mebalikkan tubuhnya. Matanya menangkap sosok Sharon yang berdiri di bawah payung disamping gerbang. Wajahnya tampak memberengut, "Xarxs-nii lama sekali!" keluhnya.
Break tersenyum, "Ngapain kamu ke sini?" Sharon semakin memberengut. "Xarxs-nii gak bisa bilang terimakasih, ya? Aku langsung ke sini begitu Jack memberitahuku kalau kau pergi tanpa membawa payung. Jack "agak" marah ketika aku meminjam payungnya, karena dia jadinya gak bisa ngojek payung!"
Break terkekeh. Dia mengambil payung yang dipakai Sharon dengan tangan kirinya dan melingkarkan tangan kanannya di leher gadis kecil itu. "Seharusnya kau tidak menjemputku, Sharon! Aku bisa pulang sendiri, kok. Lagian, kasian Jack gak bisa kerja."
Sharon menjulurkan lidahnya, "Biarin! Lagian, Oz, Gil, Vincent, Elliot, dan Reo juga sedang ngojek! Kalau aku gak jemput, nanti Xarxs-nii bisa sakit!" Hanya Break yang mendapat sebutan kakak dari Sharon. Sedangkan Xarxs adalah kependekan dari Xerxes, nama yang diberikan oleh Reim dan Sharon untuknya. Dari mana asal nama tersebut, Break tidak tahu. Dan dia tidak berniat untuk mencari tahu.
"Hei, Sharon! Bagaimana kalau kita adu cepat ke markas? Dimulai dari, SEKARANG!" Break berlari sambil membawa payung Sharon, meninggalkan Sharon sendirian tanpa payung. Sharon menatap punggung Break yang semakin menjauh dengan aura membunuh. Dia mengeluarkan harisennya.
"Xarxs-nii jahat!" teriaknya kencang. Kemudian dia berlari menembus hujan untuk mengejar Break dengan harisen siap di tangan. "Kembalikan payungku!" teriaknya lagi. Break semakin mempercepat larinya.
"Ini payungnya Jack, kan? " Break balas berteriak. "Jadi akan langsung kukembalikan ke Jack!" "Xarxs-nii!" teriakan Sharon kembali terdengar. Break tertawa lepas. Dan mereka berdua pun berlari-lari dalam hujan seperti anak kecil.
.
Jack nyaris meledak ketika mereka berdua pulang, karena walaupun Sharon meminjam payungnya, tetap saja mereka berdua pulang dalam keadaan basah kuyup. Dia terus mengomel sementara Break dan Sharon duduk manis di depannya. Alice, Alyss, Ada dan Zwei memilih duduk berselimut dan menonton kedua anak itu dimarahi.
Setelah puas memarahi keduanya, Jack merebut payungnya dari tangan Break. Kemudian dia pergi untuk melakukan "tugas musimannya" . Dia menyuruh Break untuk menjaga markas.
"Onii-chan kalau marah serem juga!" kata Ada sambil geleng-geleng kepala. Dia menuangkan air yang baru dipanaskan ke dua cangkir. Ada menyerahkan kedua cangkir itu beserta dua buah selimut untuk Sharon dan Break.
"Trims, Ada!" kata Sharon. Dia meniup air itu untuk sedikit mendinginkannya. Break langsung meminum seluruh isi cangkirnya sekaligus, membuat semua orang yang berada di ruangan itu speechless. "Gak kebakar apa tenggorokannya?" pikir mereka bingung.
Break mencecap bibirnya, "Tinggal dikasih gula, deh!" komentarnya. "Gula mahal!" kata Sharon santai. Dia menyeruput airnya pelan-pelan.
"Kalo gak bisa beli gula, kok kita bisa beli pistol sih?" kata Break sambil pura-pura cemberut. Sharon tersenyum simpul, "Pentingan mana? Pistol atau gula?" "Gula lah!"
"Xarxs-nii, kalau masih berani protes, nanti permennya kusita, lho!" kata Sharon sambil mengeluarkan harisennya. Break langsung diam ketika mendengar ancaman dan melihat harisen Sharon. Alice, Alyss, Ada dan Zwei swt melihat hubungan mereka berdua. Merka bingung karena hubungan antara Sharon dan Break kadang-kadang seperti sepasang kekasih, kadang-kadang seperti kakak-adik, dan kadang-kadang seperti majikan dan pelayan.
Seseorang mengetuk pintu, "Ada! Buka pintunya!" terdengar suara Elliot. Ada segera membuka pintu. Elliot, Gil dan Reo melangkah masuk, pakaian mereka yang basah meneteskan air hujan. Gil dan Elliot tengah menggotong Vincent yang tertidur, sedangkan Reo mengikuti mereka sambil membawa payungnya sendiri, Gil, Vincent, dan Elliot.
"Vincent kenapa?" tanya Zwei. Dia menghampiri anak-anak lelaki tersebut. Gil dan Elliot meletakkan Vincent di lantai
"Dormouse berulah di saat yang salah! Untung saja Vincent sedang tidak ada pelanggan. " jawab Gil. "Sepertinya kita tidak bisa menyuruh Vincent "ngojek" lagi."
"Oh! Omong-omong kalian harus tanggung jawab dengan ini!" kata Zwei sambil menunjuk genangan air yang terbentuk di sekitar anak-anak lelaki itu. "Kasian Echo kalau dia lagi yang membereskannya!" Echo memang bertugas sebagai pengurus rumah tangga di Pandora.
"Gak mau ah! Itu kan kerjaan Echo!" kata Gil, Elliot, dan Reo kompak. Mereka pun ngacir keluar markas. Zwei mengejar mereka dengan pisau siap di tangan. Alice, Alyss, Ada dan Sharon hanya bisa speechless ditempat.
"Emangnya Zwei bisa pake pisau, ya?" tanya Alyss. Break menyusup ke dalam kantung tidurnya. "Gak tau deh! Mungkin yang mengendalikan tangan Zwei sekarang Echo." Katanya dengan nada mengantuk. Dia menutup matanya.
"Xarxs-nii!" sebuah sentuhan lembut kembali membangunkan Break. Break memutar tubuhnya dan mendapati Sharon duduk di sampingnya.
"Kenapa Sharon? Aku ngantuk nih!" Sharon menimpuk wajah Break dengan sebuah bantal. "Orang kau tidur sampe jam 10, kok!" rajuknya.
"Iya deh, iya! Aku bangun!" Break mengalah. Dia duduk bersila, siap untuk mendengarkan apapun yang akan dikatakan bergerak untuk duduk di pangkuan Break. Break mendesah, kemudian merangkul tubuh Sharon. Sharon tak pernah benar-benar kehilangan sifat manjanya.
"Sekarang tanggal berapa, Xarxs-nii?" tanya Sharon. Break memainkan rambut peach Shaton di antara jemarinya. "23 September." Jawabnya.
"5 hari lagi, ya?" kata Sharon dengan nada sedih. Break ikut tersenyum sedih. Ya, 5 hari lagi, 28 September, adalah hari yang tak bisa Break lupakan. Hari di mana Reim meninggal.
"Semua anak Pandora akan ikut ke makam, kan?"
"Yup. Tentu saja mereka ikut. Reim sangat berjasa bagi kita. Nah, tugasmulah untuk membuat karangan bunga, bisa kan?" tantang Break. Sharon tersenyum.
"Xarxs-nii juga harus bantu buat, dong!"
"Gak ah. Nanti kalau aku yang buat, jadinya ancur deh!" Sharon tertawa mendengar alas an Break.
Setelah itu mereka terdiam, masing-masing dari mereka mengenang shabat berkacamata mereka itu. Selain itu, mereka juga menikmati kebersamaan mereka berdua. Hujan terus turun, menjadi lagu pengiring kebersamaan mereka.
TBC
