Break: *ngebaca script* Ojou-sama? Kita beneran disuruh acting kayak gini sama author gila itu?

Sharon: Eh? Masa? *ikut-ikutan ngebaca script*

Reim: *speechless*

Aoife: Woi, ngapain kalian disitu?

Break: Kita kan jadi tokoh utama di bab ini, jadi harus baca script dulu, dong!

Aoife: Iya juga, ya? *baru ngonnect* Sharon, sapa para readers!

Sharon: Halo, readers sekalian! Akhirnya setelah cerita ini sempat dihiatuskan oleh author tak bertanggung jawab ini *nunjuk Aoife* akhirnya dia berhasil mengupdate cerita ini. Dan peran utamanya masih aku dan Xarxs-nii!

Aoife: Good Job, Sharon! Break, disclaimer!

Break: Sampai kapanpun, Pandora Hearts tetep punya Jun Mochizuki, Good Bye My Friend tetep punya Spice Girl, Lucky tetep punya Jason Mraz, dan More Than Words tetep punya Westlife!

Aoife: Enjoy!^^


Pandora Street Child


Chapter 8: Lunette

Anak berambut cokelat itu duduk sambil mengawasi api unggun yang menyala di depannya. Sesekali dia menyodok-nyodok api itu dengan menggunakan sebuah ranting panjang. Dari keaadan di sekitarnya, dia sepertinya berada di dalam sebuah gedung yang terbengkalai.

Anak itu, yang bernama Reim, melirik ke sampingnya. Anak berambut perak yang tadi diselamatkannya terbaring di sebelah kanannya. Dia belum juga bangun. Reim sudah merawat luka-luka anak itu, dia bergidik ngeri ketika mengingat tentang luka-luka yang diderita anak itu.

Reim kembali mengarahkan pandangannya ke arah api. Dia melepaskan kacamata yang selalu setia bertengger di hidungnya dan membersihkannya dengan bajunya. Reim terbatuk kecil karena terlalu banyak menghirup asap api unggun.

Reim menangkap gerakan kecil di sebelah kanannya. Dia cepat-cepat memakai kembali kacamatanya dan menoleh. Anak yang tadi diselamatkannya rupanya sudah bangun dan, dengan posisi masih berbaring, menatap Reim dengan waspada.

"Hai, kau sudah bangun rupanya?" kata Reim. Anak berambut perak itu masih menatap Reim tajam dengan kedua iris merah darahnya. "Apa maumu?" akhirnya anak itu bersuara.

"Aku hanya mau menolongmu, itu saja. Kalau aku tidak menolongmu tadi, kau pasti sudah mati!" jawab Reim.

"Kalau begitu, lebih baik kau biarkan saja aku. Aku ingin mati!" kata anak itu dengan nada dingin. Dia mencoba bangkit dengan goyah, pandangannya mengabur. Dia kehilangan banyak darah tadi, tubuhnya belum cukup kuat untuk berdiri.

"Mau kemana kau?" tanya Reim.

"Bukan urusanmu!" bentak anak itu. Dia melangkah dengan goyah ke arah pintu keluar bangunan itu.

"Kau mau keluar, ya? Tak akan kucegah, kok! Tapi apa yang akan kau lakukan kalau kau bertemu para penduduk desa itu lagi? Kau akan berkelahi melawan mereka? Tubuhmu belum cukup kuat untuk itu!" anak itu berhenti di tengah langkahnya. Apa yang dikatakan anak berambut cokelat itu ada benarnya.

"Kenapa kau menyelamatkanku? Seharusnya kau membiarkanku mai!" tanyanya dengan suata mirip geraman. Reim kembali menusuk-nusuk api unggun dengan rantingnya.

"Karena kau sama denganku." jawab Reim, "Oh, bukan karena mata kita, tapi kita sama-sama korban takdir!" tambahnya ketika anak itu berbalik dan menatap kedua matanya, yang berwarna coklat.

Anak itu masih menatap Reim dengan tatapan tidak mengerti, tapi Reim tidak melanjutkan ceritanya. Anak itu memakluminya, mungkin masa lalunya juga mengerikan, sama sepertinya.

"Jadi, kau masih ingin keluar sekarang dan kembali berhadapan dengan penduduk desa itu? Atau kau punya teman diluar sana yang bisa membantumu?" tanya Reim lagi. Anak itu kembali membalikkan badannya menuju pintu, tapi dia masih berdiri diam. Hatinya bimbang.

"Tidak, aku tidak punya teman.. Tak pernah…" jawabnya lirih. Dia kembali teringat tentang kehidupannya selama ini. Reim menatapnya dengan penuh simpati, dia tahu bagaimana rasanya hidup sendirian, terlalu tahu malah.

"Kalau begitu, jadilah temanku! Hidup akan lebih mudah kalau kau memiliki teman yang bisa kaupercaya, bukan?" ajak Reim. Dia tidak tahu apakah anak itu menerima ajakannya atau tidak. Tapi dari gerakannya yang kembali duduk di sebelahnya, Reim berasumsi kalau dia menerimanya.

"Oiya, kita belum berkenalan! Namaku Reim, 12 tahun. Kau?"

"Break"


Di dalam markas yang kering, dua belas pasang mata menatap botol air mineral yang berputar di lantai itu lekat-lekat. Sambil berharap-harap cemas, mereka menunggu botol yang diletakkan secara horizontal itu menunjuk korban berikutnya, dan berharap dirinya tidak menjadi korban.

Botol itu terus berputar, berputar dan berputar, tanpa ada tanda akan berhenti. Sepertinya Elliot memutar botol itu terlalu kencang. Akhirnya, setelah beberapa saat, botol itu mulai memelan, dan semakin memelan. Akhirnya, botol itu berhenti dengan bagian tutup botolnya menghadap ke arah..

"Gil!" teriak semua anak Pandora kecuali Gil dengan riang gembira. Gil hanya bisa menelan ludah dan merutuki nasib buruknya.

"Gil, truth or dare?" tanya Elliot yang sebelumnya menjadi korban botol itu.

"Umm… dare?" jawab Gil dengan nada tidak yakin. Vincent membisikkan sesuatu di telinga Elliot. Elliot menyeringai ketika mendengar saran Vincent.

"Bagus juga saranmu, Vincent!" Elliot menyeringai semakin lebar. Gil merasakan firasat sangat tidak enak.

"Gil, aku tantang kau masuk ke kamar mandi dan tinggal disana selama satu jam bersama Cheshire! Pintunya akan kita kunci dari luar, tentu saja!" tantang Elliot.

"WTH?" pekik Gil. Tanpa mengindahkan pekikan Gil, Elliot memberikan perintah kepada Alice dan Alyss, "Alice, atau Alyss, tolong keluarkan Cheshire!"

Alice melakukan perintah Elliot dengan senang hati. Entah kenapa, dia selalu merasa bersemangat ketika disuruh mengerjai Gil. "Cheshire!" panggil Alice, dan dalam sekejap Cheshire sudah berada diantara mereka.

"Heh? Elliot! Kau beneran serius? GAK MAU!" pekik Gil histeris. Elliot dan Vincent menyeret kakak mereka dengan tidak berperasaan ke kamar mandi. Tentu saja Gil melawan, tapi Elliot ditambah Vincent lebih kuat darinya. Akhirnya, beberapa menit kemudian Gil sudah terkunci dengan aman di kamar mandi bersama Cheshire.

Semua anak Pandora minus Gil langsung berebut posisi terbaik untuk menguping. Alhasil, mereka semua berdiri bertumpukan di depan pintu kamar mandi. Mereka semua mendengarkan dalam diam.

"Gyaaa! Menjauh dariku *sensor* cat!" terdengar suara teriakan Gil.

"Nyaa, Cheshire itu bukan hanya kucing, tapi Cheshire juga chain!"

"Mau chain mau bukan, tetep aja rupamu kayak kucing! Tuh, buktinya tanganmu kayak cakar kucing!" semua anak Pandora terkekeh pelan.

"Kayak gini, nyaaa?"

"Kyaaaa!" kembali terdengar teriakan Gil. Dalam bayangan semua anak Pandora yang sedang menguping, Cheshire pasti mendekatkan cakarnya ke muka Gil. Dan sepertinya Gil pingsan karenanya. Semuanya langsung tertawa gila-gilaan.

"Nah, berhubung Gil tidak bisa memberikan truth or dare selanjutnya, aku yang akan menggantikannya!" kata Sharon ceria setelah suasana mereda. Semua orang langsung sweatdrop. Kalau Sharon yang memberikan truth or dare, siap-siap saja rahasiamu terbongkar.

Sharon memutar botol penentu itu kembali. Semuanya langsung berkumpul dan duduk membentuk lingkaran. Botol itu kembali berputar dan akhirnya berhenti dengan tutup menunjuk Zwei! Atau Echo?

"Aku atau Echo?" tanya Zwei yang masih mendapat giliran muncul. Sharon berpikir sejenak, kemudian menjawab, "Echo!" Zwei mengangguk, dalam hati dia lega karena bukan dirinya yang dipilih. Dia menutup matanya dan bertukar dengan Echo.

"Echo, ruth or dare?" tanya Sharon begitu Echo muncul.

"Truth!" jawab Echo tanpa sekalipun berpikir.

"Siapakah first love-mu?" tanya Sharon usil.

"Eh?" wajah Echo memerah. Sementara itu, petir mengelegar di kejauhan.

Hujan yang sejak tadi siang turun belum juga berhenti, walaupun waktu sudah hampir menunjukkan jam sepuluh malam. Malah hujan itu sudah berubah menjadi badai. Tidak ada orang waras, maupun anggota Pandora, yang mau berkeliaran di dalam badai sehebat ini.

Karena tidak punya hal lain yang bisa dilakukan, dan semuanya tidak sedang mood untuk berlatih, mereka semua memutuskan untuk bermain truth or dare. Setiap orang harus menjawab truth dengan sejujur-jujurnya dan melakukan setiap dare yang diberikan kepada mereka. Orang yang menolak melakukan dare dan menjawab truth akan menjadi pelayan orang yang memberikan truth or dare tersebut.

Sekarang semua orang sedang menunggu jawaban Echo. Sementara itu, Echo masih ber-blushing ria. Dia masih juga tidak menjawab. "Ayolah, Echo! Kalau kau tidak menjawab, nanti kau jadi pelayan Sharon, lho!" desak Ada. Echo masih belum menjawab.

Akhirnya, gadis yang identik dengan warna biru itu menghela nafas. Dia membuka mulutnya, "First love Echo itu.."

"BLAARR" suara petir yang menyambar dengan dahsyat menenggelamkan suara Echo. Tapi, semuanya mendengar jawaban Echo dengan jelas. Dan sekarang semua orang sibuk menyoraki Echo. Seementara Echo dan seorang anak laki-laki ber-blushing ria.

"Cieee!" sorak mereka.

"Ciee! Gak kusangka Echo bakalan suka sama dia!" sorak Jack sambil bersuit-suit ria. Sebuah bantal melayang dari arah anak laki-laki yang tengah ber-blushing ria dan dengan sukses mendarat di wajah Jack.

"Udah-udah, kasihan Echo! Mending sekarang kita lanjutkan saja permainannya." Alyss menengahi. Echo memutar botol itu kembali dan korban selanjutnya adalah Jack.

"Jack, gantiin tugas Echo selama sebulan, oke?" tantang Echo tanpa memberikan Jack pilihan. Sebelum Jack sempat memprotes, Echo menutup matanya dan kembali berubah menjadi Zwei. Zwei membuka kedua matanya dan menyeringai, "Aku akan mengawasimu, Jack!"

"Woi! Gak adil! Aku gak dikasih kesempatan!" protes Jack.

"Namanya juga truth or dare , mana ada truth or dare yang adil?" balas Zwei. Jack cemberut, dia kemudian memutar botol. Dan korban berikutnya adalah… Alice!

Break menatap teman-temannya yang sedang bermain dengan seulas senyum di bibirnya. Dia belum menjadi korban sejak permainan itu dimulai, dan dia bersyukur karenanya.

Setelah sekitar satu jam bermain, Ada menguap menahan kantuk. Dia bangkit berdiri, "Aku udahan, ya?" Ngantuk nih!" katanya. Dia berjalan ke kantung tidurnya dan langsung merebahkan diri disana. Gadis kecil itu segera tertidur. Alice dan Alyss menyusulnya. Diikuti oleh Sharon dan Zwei.

Setelah anak-anak perempuan tertidur, Elliot, Reo, Break, Oz, Vincent, dan Jack mengundi siapa yang akan berjaga malam ini. Setiap malam, dua anak laki-laki ditugaskan untuk menjaga markas sementara yang lain tidur. Ini dilakukan untuk berjaga-jaga kalau Dark Sabrie menyerang pada malam hari, yang sudah beberapa kali terjadi.

"Break dan Reo yang jaga malam ini!" Oz mengumumkan hasil undian mereka. Break dan Reo mengangguk.

Oz dan Jack segera pergi tidur. Vincent dan Elliot mengeluarkan kakak mereka yang berada dalam kondisi pingsan dari kamar mandi. Cheshire sudah dipanggil kembali oleh Alice.

Setelah Vincent, Elliot, dan Gil tertidur, Break dan Reo memulai tugas jaga mereka. Break merapihkan kotak miliknya, sedangkan Reo asyik membaca bukunya.

Break mengeluarkan semua isi kotaknya. Pertama-tama, dia mengambil pedangnya dan meletakkannya di pangkuannya. Kemudian dia mengeluarkan beberapa pakaian ganti, beberapa kantong permen, peralatan-peralatan sulap(A/N: Break bekerja sebagai pesulap jalanan), dan sebuah kacamata.

Break mengamati kacamata itu. Kacamata itu berlensa elips dengan beberapa goresan menghiasi lensanya.

"Kacamata Reim?" tanya Reo yang tiba-tiba sudah berada di samping Break. Break mengangguk, dia masih menatap kacamata itu.

"Dia benar-benar sudah pergi, kan?" tanya Break, untuk yang kesekian kalinya.

"Iya, Reim gak jadi hantu gentayangan, kok. Kalau iya, aku pasti gak bisa tidur setiap malam!" jawab anak lelaki berambut acak-acakan itu. Break mengangguk. Walaupun sudah mengetahui jawabannya, tetap saja dia merasa lega ketika mendengar jawaban Reo.

Break kembali memasukkan barang-barangnya, kecuali pedangnya, ke dalam kotak dengan hati-hati. Dia tidak mau kacamata itu rusak, kacamata itu menyimpan banyak kenangan baginya.

Sementara itu, Reo mengeluarkan serulingnya dari kotak miliknya. Dia meniupnya dan mulai memainkan salah satu lagu kesukaanya, Good Bye My Friend.

Reo bahkan belum sempat menyelesaikan intro-nya ketika Break menyela permainannya, "Reo, bisa main lagu lain, gak? Aku gak begitu suka lagu itu." Reo berhenti meniup serulingnya.

"Kalau ini?" Reo mulai memainkan nada-nada lain. "Lucky? Hmmm, gak deh."

"More Than Words?"

"Gak."

Karena semua lagi yang dimainkannya selalu diprotes oleh Break, Reo menyerah. Dia meletakkan serulingnya kembali dan menguap, "Aku tidur dulu, ya? Bangunkan aku jam dua!" katanya.

Break mengangguk. Reo pun pergi tidur, kacamatanya dia letakkan di samping kantung tidurnya. Walaupun kacamatanya sudah dilepas, tetap saja matanya tidak terlihat oleh Break, karena tertutup oleh rambut hitamnya yang acak-acakan. Seperti apa warna mata Reo merupakan misteri di kalangan anak-anak Pandora. Hanya Elliot yang pernah melihat mata Reo secara langsung.

Tinggallah Break sendiri yang masih terjaga. Setelah meletakkan pedangnya di sampingnya, dia bersandar ke dinding dan mulai mengeranyangi sekantung permen milinya.

Ketika dia sedang mengulum permennya yang entah keberapa, Break merasa mendengar seseorang berbicara. Dia berhenti mengulum permennnya dan menatap sekelilingnya dengan waspada, tidak ada yang aneh. Dia kembali merasa santai dan melanjutkan kegiatannya.

"Xarxs-nii!"

Break tersentak ketika mendengar suara itu. Satu-satunya orang yang memanggilnya dengan sebutan Xarxs-nii adalah…

"Xarxs-nii, Xarxs-nii!" Sharon kembali mengingau Break menghampiri gadis itu, sepertinya Sharon mengalami mimpi buruk. Dia terus mengingaukan namanya.

Break meraba kening Sharon. Suhu badan gadis itu normal. Bagus, setidaknya dia tidak terkena demam. Tapi Sharon masih terus mengingau, "Xarxs-nii! Kau mau kemana? Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku sendiri!" Sharon terisak dalam tidurnya.

"Sshh, Sharon, tenanglah! Aku disini, kok. Aku gak akan kemana-mana." bisik Break lembut agar yang lain tidak terbangun. Tapi Sharon sepertinya mendengarnya. Dia menggerakkan tangannya dan menemukan tangan Break yang masih berada di atas keningnya. Sharon mencengkramnya.

"Xarxs-nii janji?" igaunya.

"Iya, aku janji!" jawab Break. Sharon tersenyum dalam tidurnya dan melepaskan cengkramannya.

Break mengusap-ngusap pergelangan tangannya, tempat dimana Sharon mencengkramnya dengan kuat tadi. Dia bertanya-tanya, apa sih yang gadis kecil itu mimpikan?

Sharon tampaknya sudah kembali tenang. Dia tidak mengingau lagi. Break mengamati wajah Sharn yang sedang terlelap. Wajahnya begitu polos, begitu cantik, begitu..

Imajinasi Break diganggu oleh seseorang yang mengetuk pintu markas dengan panik. Break tersadar dari lamunannya. Dia segera meraih pedangnya di tempat dia meninggalkannya tadi. Dia mendekati pintu dengan waspada.

Break membuka pintu, pedangnya yang sudah dikeluarkan dari sarungnya terhunus di tangan. Dia mengacungkan pedangnya ke leher orang yang tadi mengetuk pintu, membuat orang itu tercekat.

"Break! Ini aku, Lily!" protes orang itu.

"Lilu! Ada apa kau datang malam-malam begini?" Break menurunkan pedangnya. Dia menatap tamu tak diundang itu. Ya, itu memang Lily. "Ada gerakan di Dark Sabrie?"

Lily mengangguk, "Ya! Mereka akan menyerang kalian lusa!"


TBC


Aoife: Lagi gak punya bacotan, cukup meminta RnR aja, ya? Yang R aja Aoife juga udah seneng kok^^ See ya in the next chapter!