Pandora Hearts ©Jun Mochizuki

This fic © Aoife the Shadow

.

Warning: AU, OOC, typos, death charas in later chapters

Note: PSC=Pandora Street Child DS=Dark Sabrie

Enjoy!

.

.

"Hei, Reim! Kau lihat gadis itu?" tanya Break sambil menunjuk seorang gadis berambut peach yang berlari dengan panik melewati mereka, seakan-akan dikejar oleh saat itu Reim dan Break sedang bersantai di sebuah gang sepi. Dan gang itu sangat tidak cocok untuk para gadis.

"Tentu saja aku lihat, Break. Dia kenapa, ya?" Reim ikut memperhatikan gadis itu, yang hampir mencapai ujung gang. Dia baru menyadari kalau gadis itu memegang sesuatu yang seperti, harisen?

"Ayo, kita cari tahu!" Break bangkit berdiri dan mengejar gadis itu. Liam mengikutinya dari belakang.

"Kau sudah berubah, Break." bisik Reim sambil tersenyum. "Break, tunggu aku!"

Sejak bertemu dengan Reim, sifat Break mulai berubah. Dia bukan lagi orang yang dingin seperti dulu, sekarang dia adalah orang yang ceria, kadang-kadang malah kelewat begitu, Reim tetap sulit memahami jalan pikiran Break.

Gadis itu berhenti di sebuah pojokan. Dia merapatkan dirinya ke tembok, sementara Break dan Reim tampak ketakutan.

"Ja..jangan, tolong!" rintih gadis itu, dia semakin merapatkan tubuhnya ke dinding ketika Break semakin mendekat. Dilihat dari penampilannya, umur gadis itu berkisar 10 tahun. Dia memakai gaun berwarna ungu lembut yang sudah luntur. Iris rose-pink-nya berkilat ketakutan.

"Tenang gadis kecil, kami tidak akan menyakitimu." bisik Break lembut. Tapi gadis itu tetap ketakutan. Dia mengayunkan harisen-nya ke depan, tepat mengenai tangan Break yang terulur. Break berteriak kesakitan,harisen itu meninggalkan goresan yang cukup dalam di tangannya. "Harisen macam apa itu?" pikirnya.

Sepertinya tindakan tadi menghabiskan seluruh keberanian gadis itu. Dia jatuh terduduk sambil menangis ketakutan, "Ja..jangan.." Break menatap gadis itu dengan bingung.

"Break, dibelakangmu!" Reim yang sedang berkeliling berteriak memperingatkan.

Dengan reflek, Break berputar ke belakang dan menyerang orang yang berada di belakangnya. Dia memelintir tangan orang itu dengan mudah dan membantingnya ke tanah. Selama itu, kedua mata Break tersembunyi di balik rambut poninya.

Lawan Break adalah seorang remaja berumur 16-an. Terkejut karena dibanting oleh Break, yang jauh lebih muda darinya, membuatnya tidak sempat melawan.

"Jadi kau yang menggangu gadis kecil itu? Bukankah dia terlalu muda untukmu? Dasar pedofil tidak tahu diri!" bentak Break kepada remaja itu.

Marah karena dikatai oleh anak yang lebih muda darinya, remaja itu segera bangkit berdiri. "Apa urusanmu? Dia milikku!"

"Milikmu, hah? Apa dia adikmu? Atau pelayanmu? Sepertinya bukan." jawab Break dingin. Dia menyibakkan poninya, menampakkan kedua bola matanya.

"Sepertinya dia milikku sekarang."

Remaja itu berteriak ketakutan ketika melihat kedua bola mata Break, "I..iblis!" menyeringai.

"Yup, aku iblis! Sekarang kau mau kabur atau bertarung melawanku?" sebagai jawabannya, remaja itu kabur terbirit-birit.

"Dasar pengecut!" cibir Break. Akhirnya dia berbalik menghadap gadis kecil itu dan Reim, yang sedang menenangkan gadis itu.

"Kalian baik-baik saja, kan?" tanya Break. Reim mengangguk, tapi gadis kecil itu masih memandang Break dengan ketakutan. Pandangannya tertuju ke arah kedua mata Break.

"Baka! Pasti dia akan lari ketakutan sekarang!" Break baru menyadari kalau kedua matanya terlihat jelas oleh gadis itu. Dia yakin gadis itu akan pergi begitu melihatnya.

Tetapi, gadis itu malah mendekati Break. Break yang terkejut otomatis melangkah mundur. Tapi sebelum Break sempat mundur lebih jauh, gadis itu sudah berdiri di depannya. Dia meletakkan kedua telapak tangannya di wajah Break dan mengatakan sesuatu yang membuat Break dan Reim terkejut setengah mati.

"Mata kakak cantik sekali. Aku suka warna merah." kata gadis itu polos.

Break menoleh ke arah Reim dengan terkejut. Baru kali ini ada orang yang memuji matanya, bahkan Reim tidak pernah melakukannya.

Setelah berhasil mengendalikan keterkejutannya, Break tersenyum lembut ke arah gadis itu, "Siapa namamu, gadis kecil?"

"Sharon."

"Dimana rumahmu?"

"Sharon.. Sharon tidak punya rumah lagi." Jadi dia juga seorang street child, batin Break.

"Sebaiknya kau ikut dengan kami, daripada kau dikejar-kejar oleh pedofil lagi." ajak Reim.

"Oke, kak." Sharon tersenyum riang. "Tapi, pedofil itu apa, ya?" tanyanya polos.

Reim dan Break saling berpandangan, kemudian tawa keduanya meledak.

Chapter 9: Reasons and The Beginning of The War

"Kau yakin mereka akan menyerang?" tanya Gil gugup.

"99,999% yakin." jawab Jack yang pada saat itu sedang duduk di samping Gil. "Lily tidak pernah berbohong." tambahnya.

Pada saat itu adalah pagi hari setelah Lily membawa kabar menghebohkan itu. Break langsung membangunkan mereka semua setelah mendengar berita itu. Lily langsung menceritakan secara singkat apa yang terjadi di Dark Sabrie.

"Hei, Jack. Kenapa Dark Sabrie dan Pandora selalu bertempur? Memangnya apa yang terjadi?" tanya Vincent.

"Kau masih ingat tentang hal yang Oz katakan tempo hari yang lalu kan, Vince? Tujuan DS adalah untuk menguasai kedua kotak itu. Mereka ingin menguasai Abyss. Tapi, tujuan kita berbeda…" Jack mengepalkan tangan kanannya.

"Tujuan kita adalah untuk menghancurkan kotak-kotak itu."

Gil dan Vincent tersentak terkejut, mereka tidak menyangka kalau itu adalah tujuan PSC yang sebenarnya. "Kalau kita ingin menghancurkan kotak itu, kenapa kita malah menggunakannya?" tanya Gil

"Karena kotak Pandora hanya bisa dihancurkan oleh kekuatan chain." jelas Alice. "Dan bukan sembarang chain yang bisa menghancurkannya. Hanya ada beberapa chain yang bisa melakukan hal itu."

"Selain itu, masih ada hal lain. Walaupun kita sudah memiliki kekuatan chain itu, kita tidak bisa menghancurkannya begitu saja. Kita harus mengumpulkan kedua kotak itu. Kalau kita menghancurkan kotak kita terlebih dahulu, maka kontrak kita akan terputus." tambah Jack. Gil dan Vincent terdiam ketika mendengarnya.

"Omong-omong, ini!" Alice melemparkan sekantung peluru kepada Gil dan Vincent, masing-masing mendapat satu kantung.

"Pastikan senjata kalian berada di dekat kalian, untuk jaga-jaga." Alice berlalu untuk mengedarkan senjata-senjata kepada yang lain.

"Bukankah mereka baru akan menyerang lusa?" tanya Gil.

"Bisa saja Lily mendapat informasi yang salah. Seluruh anggota DS mencurigai kalau dia adalah mata-mata kita." jawab Jack.

"Jack?" tanya Vincent. "Siapa Lily? Bagaimana dia bisa menjadi mata-mata kita?"

Jack tersenyum, "Untuk hal itu, lebih baik kau tanya Break." Jack meninggalkan mereka.

Gil melirik ke arah Break, yang sedang berlatih pedang dengan Elliot. Dia menelan ludah, "Dilihat dari situasinya, kita tidak bisa bertanya kepadanya. Lebih baik kita tanya Sharon." sarannya.

Tapi Vincent sama sekali tidak mendengar perkataan saudaranya. Dia berdiri dan berteriak ke arah Break, suaranya terdengar ke seluruh markas PSC.

"Woii, Break! Siapa itu Lily? Kenapa dia mau menjadi mata-mata kita? Jack tidak mau menjawab pertanyaanku, dan dia menyuruhku bertanya kepadamu!" teriaknya.

Rasanya Gil ingin menembak kepala adiknya itu.

Teriakan Vincent tidak hanya membuat Break dan Elliot terdiam dalam posisi pedang saling mengunci. Teriakan Vincent juga membuat semua anggota PSC menghentikan semua kegiatannya. Reo dan Echo yang pada saat itu juga sedang berlatih terkunci dengan posisi pisau Echo hanya berjarak beberapa centimeter dari leher Reo dan pedang Reo nyaris mengenai pinggang yang baru naik dari ruang bawah tanah untuk mengamankan barang-barang pribadi mereka membeku di tempat. Oz dan Jack yang sedang membicarakan sesuatu terdiam. Alice, Alyss dan Sharon yang sedang berargumen berhenti berteriak kepada satu sama lain. Sepertinya ini adalah topik sensitif.

Setelah berhasil melepaskan pedangnya dari kuncian pedang Elliot, Break memberikan death glare terbaiknya kepada Vincent. "Seharusnya Jack menyuruhmu untuk menanyakannya secara pribadi, bukan dengan berteriak begitu!"

"Maaf Break. Aku tidak menduga dia akan menanyakannya dengan terbuka seperti itu." Jack meminta maaf dengan menyesal.

"Bukan salahmu, Jack. Sepertinya kakaknya tidak mengajari adiknya tentang hal seperti ini dengan benar." Break mendesah.

"Apa kau bilang?"

Vincent menyedekapkan kedua tangannya, "Jawab pertanyaanku, Mad Hatter!"

"Oh, sejak kapan kau memanggilku seperti itu, Vince?"

"Lima detik yang lalu, sepertinya. Sekarang, jawab pertanyaanku!"

"Apa kakakmu tidak pernah mengajarimu sopan santun, sewer rat?"

"Apa kau bilang?"suara Vincent mulai meninggi.

"Jangan bawa-bawa aku, tolong!" Gil menggumam lemah dan melangkah menjauh dari kedua orang itu. Dia memilih untuk berdiri di dekat Oz.

"Apa sikap adikmu selalu seperti itu?" tanya Oz dengan suara pelan.

"Biasanya lebih parah." Gil mengakui sambil berbisik. Sementara itu pertengkaran antara Break dan Vincent semakin memanas.

"Sekali lagi, apa yang kau bilang tadi, pecinta permen gila?"

"Apa kau bilang, hah? Dasar tukang tidur!"

Tepat ketika Vincent dan Break mulai mengeluarkan pistol dan pedang masing-masing, Sharon memutuskan untuk ikut campur.

"Sudah-sudah, tidak baik untuk bertengkar sekarang!" Sharon melangkah ke antara kedua orang itu. Dia tersenyum manis, tapi aura mengerikan berada di sekitarnya. Harisen-nya sudah siap di tangan kanannya.

"Ukh" Break dan Vincent menyusut di bawah tatapan manis tapi mengerikan milik Sharon.

"Kau bertanya siapa Lily, Vincent? Karena Break sepertinya tidak mau menjawab, aku yang akan menjawab." Sharon membuka mulutnya, dia mulai bercerita.

Flashback mode on

"Reim, kau mau kemana?" tanya Break. Pada sat itu mereka bertiga telah menjadi anggota PSC.

"Ukh, tidak kemana-kemana." semburat kemerahan muncul di pipi pemuda berkacamata itu.

"Masa?" Break memiringkan kepalanya, memasang tampang meragukan. "Sepertinya kau sering keluar sendiri akhir-akhir ini? Ada apa?"

"Ukh, tidak apa-apa. Aku pergi dulu!" Reim langsung berlari keluar sebelum Break sempat menanyakan pertanyaan lain.

"Dasar aneh." Break membalikkan badannya.

Markas PSC kosong. Pada saat itu anggota PSC baru beranggotakan dirinya, Sharon, Reim, Oz, Jack, Ada, Echo, dan Zwei. Zwei sedang pergi untuk berjalan-jalan sebentar dengan Sharon. Karena Reim sudah pergi, sekarang hanya tinggal dia, Oz, dan Jack yang berada di markas.

"Break?" panggil Oz. "Aku mau ke alun-alun sebentar. Kau mau ikut?" ajaknya. Break mengangguk.

"Jack?" tanyanya.

"Dia tidak mau ikut. Ayo!"

Mereka berdua kemudian pergi ke alun-alun yang dapat ditempuh dalam waktu lima menit bila berjalan kaki. Sesampainya disana, Oz masuk ke dalam sebuah toko untuk membeli beberapa bahan makanan. Sementara Break membeli beberapa buah permen yang dijual di emperan.

Break mengulum permennya sambil menunggu Oz keluar dari toko. Kedua mata merahnya memandang ke sekeliling alun-alun yang cukup ramai hal positif dari kota ini, mata merah dianggap hal yang biasa di sini Hanya ada beberapa orang yang menganggap mitos tentang mata merah itu benar. Jadi Break tidak perlu menyembunyikan kedua matanya.

Tiba-tiba kedua pandangannyake arah seseorang berambut coklat yang dikenalnya. Break menyemburkan permennya karena terkejut, "Tidak mungkin, Reim?"

Yang membuat Break terkejut bukan karena dia bertemu Reim disini, tapi karena apa yang sedang dilakukan Reim.

"Break, aku sudah selesai!" Oz keluar dari toko dengan sebuah kantung di tangannya.

"Halo? Break?" tanya Oz lagi karena Break tidak merespon.

"Lihat disitu!" akhirnya Break menunjuk ke arah Reim. Oz mengikuti arah pandangan Break dan mendecakkan lidahnya.

"Aku baru tahu kalau Reim itu lollicon!" serunya.

"Aku juga baru tahu." Break menyetujuinya.

Reim sedang bergandengan tangan dengan seorang anak perempuan berusia sekitar sebelas tahun dengan rambut pirang keoranyean. Mereka berdua tertawa ketika melihat salah satu pertunjukan yang digelar di situ. Kemudian mereka berdua saling memandang satu sama lain, kemudian..

"Eurrgh,Reim! Kau benar-benar lollicon sejati! Gadis itu kira-kira tiga tahun lebih muda darinya!" Oz mengernyitkan dahinya ketika melihat apa yang Reim dan gadis itu lakukan.

Break mengangkat sebelah alisnya, "Sepertinya kita harus mengintegorasi Reim setelah dia sampai di markas, setuju?"

Oz menyeringai, "Setuju!"

Flashback mode off

"Kesimpulannya, dulu Lily adalah kekasih Reim?" tanya Vincent. Sharon mengangguk.

"Ya, dan setelah Reim meninggal di tangan DS, Lily ingin melakukan pembalasan. Itu sebabnya dia menjadi mata-mata kita." Tambahnya.

"Kau menceritakannya dengan terlalu jelas, Sharon." gumam Break.

"Ya, terima kasih, Sharon.Karena ceritamu, kini menjadi jelas kenapa Lily mengkhianati kami. Rupanya dia jatuh cinta pada pemuda berkacamata yang dia bunuh sendiri itu." terdengar sebuah suara.

"Tak perlu berterima kasih kepadaku." dengan satu gerakan cepat yang nyaris tak terlihat, dia mengambil sebuah belati dari suatu tempat di tubuhnya dan menyiagakannya di tangan kiri. Anggota PSC yang lain juga menyiagakan senjata mereka. Dalam sekejap pedang-pedang sudah dikeluarkan dari sarungnya, pisau dan belati dikeluarkan, dan pistol-pistol diacungkan.

"Dan sepertinya informasi Lily tentang kedatangan kalian tidak terlalu akurat. Kalian lebih awal satu hari dari yang kami perkirakan. Untung saja kami sudah mempersiapkan kedatangan kalian." Sharon memutar badannya, menghadap pintu yang tadi dipunggunginya.

"Dark Sabrie.."

TBC

A/N:

Lemme tell you something, wb is suck =="

Akhirnya setelah lama hiatus, PSC bisa kembali dilanjutkan. Dan setelah dipikir-pikir, charanya kok pada jadi OOC semua, ya? *pundung di pojokan* Maafkan Aoife ya (/\)

Yak, bagian yang membahas BreakSharonReimLily akan segera selesai. Mungkin satu atau dua chapter lagi. Nanti bagian selanjutnya akan membahas siapa, itu terserah kepada readers. Beritahu aja Aoife di review^^

Dan untuk pairing, Sharon udah pasti sama Break dan Reim sudah ditakdirkan dengan Lily. Tapi untuk yang lain, masih rahasia XD #ditembak readers.

Satu hal lain, fandom FPHI kok jadi sepi, ya? Penghuninya pada ke mana woy? Udah satu minggu lebih gak ada yang update? Pada kabur kemana nih? DX (padahal dianya sendiri baru muncul)

Akhir kata, bagi para readers yang ingin mendapatkan pahala, bersediakah anda mengklik kotak kecil bertuliskan review yang berada di bawah ini? Anda dipersilahkan mengisi kotak-kotak lain yang akan muncul dengan saran, kritik, bahkan flame^^

See ya!

P.S: Berhubung sebentar lagi puasa, Aoife minta maaf ya kalo Aoife punya salah disini (^/\^) Marhabban ya Ramadhan :D