Pandora Hearts ©Jun Mochizuki

This fic © Aoife the Shadow

.

Warning: AU, OOC, typos, death charas in later chapters

Note: PSC=Pandora Street Child DS=Dark Sabrie

Enjoy!

.

.

Chapter 10: The Last Effort

Gil dan Vincent segera mengacungkan pistol mereka ke arah pintu. Jari mereka sudah siap menekan picu pistol mereka. Mereka memang belum lama bergabung dengan PSC, tapi mereka bisa merasakan kalau musuh sudah datang.

Sharon sudah siap dengan harisen di tangan kanan dan sebuah belati lempar di tangan kiri. Ada, Alice, dan Alyss juga sudah mengeluarkan belati masing-masing yang mereka sembunyikan , Jack, Break, Elliot, Reo dan Echo juga sudah menghunus pedang dan pisau masing-masing.

"Sayang sekali kalian merusak pesta dengan datang lebih awal." lanjut Sharon.

"Maaf kalau kami merusak kejutannya." jawab seseorang yang sedang bersender santai di pintu markas PSC yang terbuka. Di belakangnya tampak beberapa orang lain yang sudah siap dengan senjata masing-masing.

Orang yang tadi menjawab memiliki rambut hitam gelap sebahu dengan iris violet, persis seperti Alice dan Alyss. Di sampingnya, terdapat seorang gadis berambut brunette panjang, persis seperti Alice!

Di belakang mereka, berdiri seorang gadis remaja berambut pink panjang, Lotti. Orang yang hampir berhasil menangkap Gil dan Vincent dulu. Mereka berdua merinding sejenak ketika melihat Lotti.

Di belakang mereka berdiri tiga orang laki-laki, yang satu menutupi wajahnya dengan tudung mantel merahnya, sedangkan yang lain memiliki sebuah tato di wajahnya. Berdiri di antara mereka berdua, adalah seorang pemuda dengan rambut merah terang panjang. Di belakang mereka, seorang pemuda berambut pirang dengan bekas luka melintang di wajahnya berdiri.

"Mereka hanya.." Gil berhenti sejenak, "Bertujuh?" bisiknya kepada Oz.

"Jangan remehkan mereka, mereka semua memiliki chain yang hebat!" Oz kembali berbisik.

Mereka semua kembali memperhatikan kerumunan tamu tak diundang itu. Semuanya, kecuali Gil dan Vincent, menyadari ada yang kurang dari kelompok itu.

"Dimana Lily, Glen?" tanya Break tajam kepada pemimpin kelompok itu, laki-laki berambut hitam itu.

Glen tersenyum malas, "Kami tidak bisa membiarkan seorang penkhianat mengikuti pesta ini, kan?" jawabnya dingin.

"Jadi kalian tahu kalau dia menguping pembicaraan kalian, dan kalian sengaja menyesatkannya sehingga kami menerima info yang salah, begitu?" tanya Jack. Pandangan kedua iris hijau terangnya terpancang kepada Glen. "Lama-lama kau makin licik, Glen!"

Glem mengalihkan pandangannya dari Break ke arah Jack, begitu pula dengan gadis berambut brunette disampingnya. "Ah, Jack. Aku dan Lacie merindukanmu. Kapan kita bisa bermain bersama seperti dulu lagi?"

"Dalam mimpimu!" Jack menyerbu maju dan mengayunkan pedangnya. Glen menangkisnya dengan mudah.

"Cukup!" teriak Sharon. Dia menatap semua anggota DS dengan tajam.

"Sebelum kita mulai pestanya, katakan, dimana Lily!" dia menatap Glen dengan tajam, menuntut jawaban.

Tapi kali ini Lotti yang menjawab, "Dia kami kurung di ruang bawah tanah, terkunci aman bersama kotak Pandora." Gadis itu tersenyum licik, "Dengan begitu dia tidak akan menganggu pesta kita!"

"Jadi kalian juga menamainya kotak Pandora, ya?" Oz mempersiapkan pedangnya.

"Sepertinya pesta bisa dimulai sekarang."

Jack langsung kembali menyerbu Glen. Mereka berdua langsung terlibat dalam pertarungan sengit. Oz melompat ke dalam pertarungan untuk membantu kakaknya.

Alice dan Alyss langsung berhadapan dengan Lacie.

"Halo, Lacie. Lama tidak bertemu!"sapa Alyss.

"Ya, sudah cukup lama, saudaraku." tambah Alice. Lacie tersenyum, dia mengeluarkan sebuah pisau.

"Senang bertemu dengan kalian berdua lagi. Sekarang, berhubung kita sudah lama tidak bertemu, bagaimana kalau kita bermain sebentar?" tanya Lacie. Dia mengayunkan pisaunya, Alice dan Alyss melompat mundur pada waktunya.

"Dengan senang hati!" Alice dan Alyss berseru. Mereka berdua melemparkan belati masing-masing ke arah Lacie. Lacie memblokir serangan itu dengan pisaunya. Area di sekitar mereka segera berubah menjadi arena pertarungan mematikan.

Gil dan Vincent ditantang oleh pemuda berambut pirang dengan bekas luka melintang di wajahnya. Pemuda itu membawa sebuah pedang di tangan kanannya.

"Halo, sepertinya kalian anggota baru, ya?" tanya pemuda itu.

"Kau pikir?" tanya Gil dingin. Entah kenapa, dia tidak menyukai lawannya itu.

"Aku terima itu sebagai iya. Omong-omong, namaku Zai." Zai mengayunkan pedangnya. Vincent memblokir serangan itu dengan laras pistolnya. Untung saja pistol itu berkualitas bagus sehingga tidak terpotong.

Ketika perhatian Zai teralih kepada Vincent, Gil mengambil kesempatan untuk menembak Zai. Tapi Zai memotong peluru itu dengan mudah. Peluru dan pedang pun segera mengadu kekuatan.

Echo dan Ada berhadapan langsung dengan Lotti. Lotti mengayunkan cambuk yang dipegangnya. Echo menahan serangan itu dengan pisaunya. Hebatnya, cambuk itu tidak putus walaupun terkena pisau Echo yang terkenal ketajamannya.

Ada mendecak, "Sepertinya kau sudah meng-upgrade cambukmu, ya?" tanya Ada.

Lotti menyeringai, "Tentu saja. Sekarang cambuk ini tidak bisa dipotong oleh apapun."

"Tapi pemakainya tetap bisa terpotong, kan?"Ada melemparkan belatinya, mengincar perut Lotti. Lotti hanya bergeser ke samping sedikit untuk menghindari pisau itu.

"Kau harus melatih lemparanmu lagi, Ada." Lotti tersenyum mengejek, membuat Ada bertambah panas. Mereka bertiga segera bertempur dengan hebat.

Kipas berhadapan dengan kipas, Sharon bertarung melawan laki-laki berambut merah panjang tadi. Selagi kipas di tangan kanan mereka saling beradu, menimbulkan suara seperti besi yang beradu, tangan kiri mereka juga sibuk menyerang dengan pisau masing-masing. Merupakan suatu keajaiban belum ada satupun diantara mereka yang terluka.

"Kemampuanmu sudah meningkat, Sharon." puji laki-laki itu ketika Sharon berkelit untuk menghindari pisaunya.

"Oh, ya?" Sharon balas menyerang laki-laki itu dengan ganas, "Kukira kemampuanmu yang menurun, Rufus." Mereka berdua kembali bertarung.

Elliot dan Reo berhadapan dengan si laki-laki bertudung. Laki-laki itu mengayunkan gada berdurinya kepada Elliot. Elliot dan Reo saling menyilangkan pedang mereka untuk menahan gada tersebut supaya tidak meremukkan tengkorak Elliot.

"Kau sama sekali tidak memberi kami kesempatan ya,Doug?" setelah berhasil menghindar dari gada Doug, Elliot dan Reo berusaha menusuk Doug dengan pedang mereka.

"Tidak." balas Doug singkat, padat, dan jelas. Dia memblokir serangan Elliot dan Reo dengan gadanya. Gada melawan pedang, bukan pertarungan yang adil.

Break berhadapan dengan laki-laki bertato di wajahnya. Pedang tipisnya beradu dengan pedang besar laki-laki itu. Mereka berdua bertarung tanpa banyak bicara.

Suara peluru-peluru berdesing juga pedang dan pisau yang saling beradu memenuhi lingkungan itu. Untung saja lingkungan itu adalah lingkungan yang sepi. Walaupun ada orang yang melihat mereka, orang tersebut akan lari ketakutan.

Setelah sekitar setengah jam bertarung, tiba-tiba terdengar teriakan kesakitan. Semua orang berhenti bertarung sejenak untuk melihat apa yang terjadi. Apa yang mereka lihat tidak terlalu bagus.

Seekor singa tiba-tiba muncul di tengah pertarungan, dan singa itu mengatupkan rahangnya pada lengan kanan Ada.

"Ada!" teriak Oz dan Jack ketika melihat adik perempuan mereka tergigit oleh Leon, chain Lotti.

Wajah Ada pucat pasi. Kedua mata emerald-pelahan menutup. Leon membuka rahangnya, dan Ada terjatuh ke lantai, tak sadarkan diri. Darah berceceran di sekitar lengannya.

Echo menatap Lotti dengan marah. "Belum saatnya untuk mengeluarkan chain, Lotti!" katanya dengan nada dingin, tidak seperti Echo. Dia memejamkan matanya sejenak, dan ketika dia membuka mata, Zwei sudah mengambil alih tubuhnya.

"Tapi karena kau sudah melakukannya, apa boleh buat?" Zwei merentangkan tangannya. "Terpaksa kita lanjutkan, bukan?" sesosok perempuan dengan banyak rantai muncul di belakangnya.

"Pertarungan chain dimulai!"

Suasana yang sebelumnya sudah kacau bertambah kacau ketika semua orang yang memiliki chain berteriak memanggil chain milik mereka.

"Dodo!"

"Owl!"

"Taub!"

"Griffon!"

"Cheshire!"

"B-Rabbit!"

"Eques!"

"Humpty Dumpty!"

"Mad Hatter!"

"Raven!"

"Yamane!"

Dalam sekejap chain-chain sudah memenuhi tempat itu dan membantu tuan-tuan mereka bertarung.

Satu persatu anggota PSC dan DS tumbang. Alyss terkena lemparan pisau di perutnya. Gil berhasil melumpuhkan Zai dengan lain juga mengalami luka-luka. Dalam sekejap, mereka tidak bisa membedakan mana kawan dan mana lawan.

"Bandersnatch!"

Teriakan itu mampu menghentikan pertarungan yang tampak mustahil dihentikan itu. Dalam sekejap, semua kepala yang masih bertarung menoleh ke arah pintu.

Dan di sana, Lily berdiri. Menatap mereka semua dengan tajam.

Tapi, kedua matanya tidak lagi berwarna biru, tetapi merah darah.

Semua terdiam ketika mata merah Lily menatap , bisik-bisik menyebar di antara mereka.

"The Last Effort?"

"Tapi, ini sudah yang ketiga kali bukan?"

"Sekarang, dia akan melawan siapa?"

"Lily? Tidak!" bisik Break. Dia meraba tempat dimana mata kirinya seharusnya berada. Mau tak mau, pikirannya melayang ke pertempuran satu tahun lalu.

.

.

Flashback

Pertempuran satu tahun lalu.

Pertempuran di mana Break melakukan The Last Effort pertamanya.

Pertempuran di mana Lily melakukan The Last Effort keduanya.

Pertempuran di mana Break kehilangan mata kirinya.

Pertempuran di mana Reim kehilangan nyawanya.

Pada saat itu PSC baru beranggotakan Oz, Jack, Ada, Break, Reim, Sharon, Echo dan Zwei. Dan mereka semua tidak siap menghadapi serangan mendadak DS. Setelah bertempur beberapa saat, PSC mulai terdesak.

Dan ditengah kekacauan itu, Lily menggunakan The Last Effort, membuat anggota PSC semakin terpojok. Rupanya, dari awal DS sudah berencana untuk menggunakan The Last Effort untuk mengalahkan PSC.

Karena kesal dengan keadaan, Break tanpa sengaja mengaktifkan The Last Effort-nya. Mad Hatter mengambil alih tubuhnya. Dan dia bertarung dengan Bandersnatch yang berada di dalam tubuh Lily.

Semua orang berhenti bertarung ketika mereka berdua bertarung. Semua orang hanya bisa menatap takjub ketika Break dan Lily mempraktekkan pertarungan yang tidak bisa dilakukan manusia biasa. Mereka terus menatap pertarungan itu dengan takjub hingga salah satu belati yang dilemparkan Lily nyaris mengenai Lacie. Kemudian mereka sadar mereka harus menyembunyikan diri, karena ketika seseorang melakukan The Last Effort, dia tidak akan mengenali siapa lawan dan siapa kawan.

Pertarungan itu seakan-akan berjalan selamanya. Tapi lama-lama, Lily kelihatan terdesak. Merasa sedang berada di atas angin, Break, atau Mad Hatter dalam hal ini, membiarkan pertahanannya menurun.

Dan ini adalah kesalahan terbesar Break.

Lily terjatuh, dan Break berdiri di atasnya. Dia memainkan pedangnya, menikmati kemenangannya. Dia membiarkan dirinya lengah.

Tidak ada yang menyangka kalau Lily akan kembali melompat dengan belati terhunus…

dan menusukkannya tepat di bola mata kiri Break.

Lily merenggut kembali belatinya, mengeluarkan bola mata kiri Break yang masih tertusuk di bilahnya.

"AAAAAARRRRRGGGGGGHHHHHH"

Tidak ada seorang pun yang mampu melupakan teriakan Break dan Mad Hatter pada saat itu.

Semua orang menutup kedua telinga mereka dan memejamkan mata mereka rapat-rapat. Tapi teriakan Break tetap menembus telinga mereka. Semua orang menggigil ketika jeritan kesakitan Mad Hatter dan Break merasuki otak mereka. Suara seperti itu seharusnya tidak ada di dunia ini.

Ketika mereka semua memberanikan diri untuk membuka mata mereka, mereka melihat Break terbaring terlentang di Hatter sudah meninggalkan tubuhnya. Kolam darah mulai terbentuk di sisi kiri kepala Break. Break menutup lubang matanya dengan kedua tangannya. Dia mengerang dan terengah kesakitan.

Dan Lily berdiri tepat di hadapannya, belatinya yang berlumuran darah berada di tangannya. Dia merenggut bola mata kiri Break dari belati dan melemparkannya ke luar. Sampai saat ini, bola mata itu tidak pernah ditemukan.

"Hehehehe" Lily menyeringai. Dia mengangkat belatinya, bersiap untuk mengayunkan belati itu ke jantung Break yang masih terbaring kesakitan di dekat kakinya.

"Selamat tinggal." bisik Lily. Sinar kegirangan terpancar dari kedua mata merahnya. Break menutup matanya, bersiap untuk akhir hidupnya.

Lily menggerakkan belatinya.

"Berhenti! LILLLLYYYYY!"

Terlambat..

Belati itu sudah menembus jantung seseorang.

"TIIIDDDAAAKKKK!"

Break membuka matanya ketika dia mendengar seseorang jatuh di sebelahnya. Dia menolehkan kepalanya ke kanan untuk melihat siapa yang jatuh. Mata kanannya melebar ketika melihat siapa orang itu.

"Reim?"

"Hai,Xarxs." bisik Reim pelan. Kondisi sahabatnya itu mengerikan. Lensa kacamatanya telah pecah, menyisakan frame yang kini terpasang miring di kepalanya. Bajunya robek di sana-sini. Darah merembes dari dada kirinya.

"Reim?" kedua mata Lily berangsur-angsur berubah kembali menjadi biru. Sebuah tato muncul di pipi kirinya. "Tapi, bagaimana bisa?"

Reim tersenyum lemah, dia terbatuk, "Ini bukan salahmu, Lily. Aku sendiri yang memutuskan untuk melindungi Break. Dia belum boleh mati, belum saatnya."

Break memaksakan diri untuk duduk dan menatap wajah sahabatnya. "Reim, kau seharusnya tidak melakukan ini." bisiknya pelan. "Seharusnya aku yang mati! Seharusnya aku!" Break berteriak dengan emosi.

"Xarxs, takdirmu masih panjang. Suatu hari kau akan berguna untuk Pandora. Tidak seperti aku yang tidak berguna." Reim kembali membatukkan darah.

"Sejak kapan kau jadi peramal, bodoh?"

"Reim-niiiiii" Sharon berlari ke arah mereka. Dari semua orang, tampaknya hanya dia yang tidak terluka. "Reim-nii, jangan mati!" Sharon berlutut di sebelah Reim. Air mata membasahi kedua pipinya.

"Sharon, sini. Aku ingin memberitahumu sesuatu." Sambil terus terisak,Sharon mendekatkan telinganya ke mulut Reim agar dia bisa mendengar apa yang dibisikkan Reim. Setelah beberapa saat, Sharon mengecup kening Reim dan kembali menjauhkan wajahnya. Dia masih terus terisak, tapi semburat merah muncul di kedua pipinya.

Reim menoleh ke arah Break, "Break, jaga mereka berdua, oke?" Break menggumamkan sesuatu.

Reim mengalihkan perhatiannya kepada Lily, yang sedang menangis dengan kepala tertunduk di sampingnya. Dia sangat menyesali perbuatannya, "Ini semua salahku!" dia berteriak.

"Lily?" Reim memanggil Lily. Lily menengadahkan wajahnya yang penuh dengan air mata.

"Reim, maafkan aku.." isaknya.

"Ini bukan salahmu, Lily. Dan di pihak manapun kau berada, kau tetaplah Lily yang kukenal. Aku mencintaimu, Lily.." suara Reim semakin memelan.

"Selamat tinggal. Kalian bertiga, tetaplah hidup!"

Bersamaan dengan itu, Reim pergi.

"TTTTTTIIIIIDDDDAAAAKKKK"

Jeritan Break, Sharon dan Lily kembali terdengar, mewarnai hari itu dengan lebih banyak duka.

End of flashback

.

.

Lily masih menatap mereka semua dengan mata merahnya. Semua orang masih terdiam, hingga Lily menggeramkan sesuatu.

"Kalian telah membuatku membunuh Reim. Kalian telah menggunakanku untuk melakukan pekerjaan kotor kalian. Kini, kalian semua akan membayar, Dark Sabrie!" Lily merentangkan kedua tangannya, mata merahnya menatap seluruh anggota DS dengan kebencian.

"BANDERSNATCH!"

Semua orang berlarian ketika Bandersnatch mengambil alih tubuh Lily. Lily melangkah maju, sebuah pedang tergenggam di tangannya.

"LEON!"

Rupanya Lotti menggunakan The Last Effort miliknya untuk menandingi Lily, karena chain hanya bisa dikalahkan dengan chain.

Break menatap kekacauan di depannya dengan terperangah. Pedangnya tergantung tak berguna di tangan kanannya. Dia tidak menduga situasi akan berubah seperti ini.

Tiba-tiba, rasa sakit yang amat sangat muncul di perutnya. Break menundukkan wajahnya, mendapati kalau pedang besar Fang yang berlumuran darah telah menusuknya. Dia kembali mengangkat wajahnya dan menatap wajah Fang yang sedang menyeringai.

"Kau lengah, Mad Hatter!"

Dan semuanya menjadi gelap.


TBC


A/N:

Jujur, ini chapter PSC tersusah yang pernah Aoife buat. Seharusnya chapter ini udah jadi hari senin lalu. Tapi karena sekolah, les, tugas, puasa, dll, baru beres sekarang ;_;

Anyway,menurut kalian pertarungan siapa yang paling menarik. Menurut saya sih, Rufus lawan Sharon XD

Ya sudah, RnR?