Pandora Hearts ©Jun Mochizuki

This fic © Aoife the Shadow

.

Warning: AU, OOC, typos, death charas in later chapters

Note: PSC=Pandora Street Child DS=Dark Sabrie

Enjoy!

.

.

Chapter 11: Propechy from A Dead Friend

Semuanya terlihat gelap.

Break membuka matanya, dia tidak bisa melihat apa-apa."Dimana aku?" pikirnya.

"Apa aku sudah mati?" Dia meraba perutnya, mencari luka yang disebabkan oleh pedang Fang. Sama sekali tidak ada luka di situ. Break meraba wajahnya, ke tempat di mana mata kirinya dulu berada.

Dan disitulah mata itu berada, terpasang dengan baik seakan mata itu tidak pernah dicabut sebelumnya.

"Sepertinya aku benar-benar sudah mati…" gumamnya. Dia menyadari kalau dia berada dalam posisi duduk. Dia meraba tempat dimana dia duduk. Jari-jarinya menyentuh permukaan yang terasa kasar, seperti kulit pohon.

"Sebenarnya aku di mana?" pikirnya lagi. Dia memandang sekelilingnya, menyadari kalau kegelapan di sekelilingnya mulai memudar. Setelah beberapa saat, Break menyadari di mana dia berada.

"Taman?" batinnya selagi dia memandang sekelilingnya.

Taman itu indah, bunga-bunga liar berwarna terang tumbuh di antara rumput-rumput hijau yang tebal. Beberapa pohon tumbuh di situ, menambah cantik tempat itu. Taman itu berada di tepi sebuah danau yang luas. Break memandang sekelilingnya dengan takjub. Kemudian, dia menyadari kalau semua pemandangan itu berada di bawahnya.

Dia berada di atas sebuah pohon.

"Bagaimana aku bisa berada di sini? Apa ini yang namanya after life?" Break terus bertanya-tanya dalam hati.

"Hey, Reim! Makan roti itu, aku sendiri yang buat lho!"

Break nyaris jatuh dari pohon tempat dia duduk ketika mendengar suara yang melengking itu. "Sepertinya aku kenal suara itu." pikirnya.

"Iya, santai aja, Lily!" Break mengintip ke bawah dan nyaris mati kaget ketika melihat sumber suara itu. Tepat di bawah naungan pohon tempat dia berada, duduk dua orang yang tampaknya sedang asyik berpiknik.

"Reim? Lily?" pekiknya kaget.

"Oh, halo Break! Ngapain kamu di situ?" Reim menengadahkan kepalanya. Tidak salah lagi,rambut cokelat dan kacamata bulat, itu benar-benar Reim.

"Justru itu yang aku bingungkan!" Break meloncat turun. Dia menatap pasangan di depannya dengan bingung.

"Kita sudah mati, bukan?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Break. Reim dan Lily saling berpandangan, kemudian mereka berdua tertawa terbahak-bahak.

"Apa yang lucu?" tanya Break sambil menggaruk-garuk kepalanya.

Reim dan Lily masih juga tertawa. Akhirnya tawa mereka mereda dan mereka berdua menatap Break dengan serius.

"Hanya aku dan Lily yang sudah mati, Break. Kau masih hidup." terang Reim.

"Tapi, bagaimana aku bisa berada di sini? Dan Lily, kau sudah mati?" Break masih tampak bingung.

"Tentu saja aku sudah mati. Aku sudah melakukan The Last Effort sebanyak tiga kali, bukan?" jawab Lily santai.

" Dan Break, kau tidak berada di sini. Tubuh dan rohmu masih ada di dunia sana, hanya pikiranmu yang berada di sini. Kalau kau tidak percaya, coba saja kau sentuh kami." Reim menjelaskan. Untuk memastikan, Break mencoba untuk menyentuh Reim. Tapi tangannya menembus tubuh Reim.

"Sekarang kau percaya? Kau tidak bisa menyentuh kami karena kau tidak sepenuhnya berada di sini." lanjut Reim. Break mengangguk.

"Tapi bagaimana aku bisa ada di sini?"

"Aku tidak tahu. Lily, kau tahu?" Lily menggeleng. Reim mendesah.

"Yang pasti, Break. Kau harus kembali ke duniamu. Belum waktunya kau mati. Jalan hidupmu masih panjang. Sebaiknya kau kembali sekarang!" saran Reim.

"Sejak kapan kau jadi peramal, Reim?" goda Break.

"Lupa." jawab Reim polos, membuat Break gemas melihatnya.

"Jadi," Break mengalihkan perhatiannya kepada Lily. "Apakah Pandora menang?"

Lily mengangguk, "Yup, DS menyerah ketika aku dan Lotti pingsan kelelahan. Setelah itu, aku mati." Lily membicarakan tentang kematiannya tanpa beban.

Break menyadari kalau tubuhnya mulai memudar, Reim menatapnya dengan tajam.

"Aku tidak tahu kenapa kau berada di sini, Break. Tapi mumpung kau berada di sini, akan kuberitahu kau sesuatu. Perjuangan Pandora belum terakhir. Pertempuran sekarang bukan yang terakhir, yang terburuk masih akan datang. Banyak yang harus kalian korbankan, termasuk sahabat sendiri. Dan yang paling buruk, akan ada salah satu di antara kalian yang berkhianat. Aku tidak tahu siapa dia, tapi sebaiknya kalian berhati-hati. Ingat itu."

Tubuh Break semakin memudar, penglihatannya mulai kabur. "Kau benar-benar jadi seorang peramal, Reim!" gumamnya.

Reim nyengir, "Benarkah itu?" Break mengangguk.

"Kata-katamu sungguh menakutkan!"

"Maaf. Tapi lebih baik kuperingatkan kau. Dan Break, hal menyenangkan akan terjadi padamu besok. Selamat tinggal, aku dan Lily titip salam untuk kalian semua, terutama Sharon!" Reim dan Lily melambaikan tangan mereka kepada sosok Break yang mulai memudar.

"Kalian berdua belum berubah, ya?" gumam Break sementara sekelilingnya berubah lagi menjadi gelap.

.

.

Break kembali membuka matanya. Kali ini mata kanannya langsung menatap langit-langit yang sudah akrab dengannya. Dengan lega Break menyadari kalau dia sudah kembali ke dunianya.

"Apa tadi itu mimpi?" pikirnya.

"Xarxs-nii?" Break menoleh dan mendapati Sharon yang duduk di sampingnya. Sharon terlihat berantakan, kedua matanya merah karena menangis.

"Halo Sharon!" gumam Break.

"Xarxs-nii?" Sharon terbelalak tidak percaya ketika melihat kakak kesayangannya sudah bangun.

"Siapa lagi?" tanya Break sambil terkekeh.

"Xarxs-nii!" Sharon meloncat ke atas tubuh Break saking senangnya. Break hanya bisa mengaduh kesakitan ketika luka di perutnya tertekan, tapi Sharon tidak peduli. Dia membenamkan wajahnya di dada Break, menangis sejadi-jadinya.

"Xarxs-nii.. hiks.. kalau pingsan… hiks.. jangan lama-lama!" Sharon terus terisak.

"Siapa juga yang mau lama-lama pingsan?" batin Break. Tapi dia tidak mengatakan apa-apa, dia hanya membelai rambut Sharon yang masih terus terisak.

Sementara itu markas Pandora mulai menjadi ribut.

"Break sudah bangun!" teriak Oz yang kebetulan sedang berada di dekat situ.

Semua orang segera meninggalkan pekerjaan yang sedang mereka lakukan dan berkerumun di sekitar tempat Break berbaring. Break melihat beberapa temannya berada dalam kondisi babak belur, walaupun tidak separah dirinya. Wajah Ada masih cukup pucat, perban melilit dari mulai pergelangan tangan kanannya hingga bahu. Alyss memiliki balutan di perutnya, sedangkan dahi Reo dibungkus perban. Mereka semua tampak gembira karena senior mereka sudah sadar.

"Kau sudah tidak sadar selama dua hari, Break!" kata Jack.

"Akan ada salah satu di antara kalian yang berkhianat." perkataan Reim tiba-tiba melintas dalam benak Break.

"Kira-kira siapa yang akan berkhianat?" pikir Break selagi dia menatap wajah teman-temannya satu persatu. "Aku tidak boleh lengah."

"Xarxs-nii?" Sharon mengangkat wajahnya , heran karena Break terus diam. "Kau tidak apa-apa?"

Break tersenyum, "Aku sudah pulang!"

.

.

"Sekarang mereka berdua sudah bersama." Sharon meletakkan karangan bunga mawar putih buatannya di atas makam Reim. Anggota PSC yang lain sudah pulang, meninggalkan mereka berdua sendiri.

"Ya, mereka sudah bahagia." Break bergumam. Dia memandang sebuah makam di depannya. Satu makam lagi sudah ditambahkan di samping kanan makam Reim. Nama Lily terukir di nisannya. Dia meletakkan karangan bunga lily yang juga dibuat oleh Sharon di atas makam itu.

"Sama sekali tidak ada anggota DS yang ikut mengantar dia?" tanya Break kepada Sharon. Sharon menggeleng sedih.

"Tidak ada.." bisiknya.

"Mungkin itulah nasib seorang penkhianat. Aku bertanya-tanya apa benar ada pengkhianat di antara kita?" kata Break dengan suara pelan.

"Kau tadi bilang apa Xarxs-nii?" Sharon memiringkan kepalanya.

"Bukan apa-apa." jawab Break cepat. Sharon tampak curiga, tapi dia tidak bertanya lebih jauh.

"Soal pengkhianat itu sebaiknya kurahasiakan. Aku takut PSC akan terpecah belah kalau mereka mengetahuinya." pikir Break. Dia belum menceritakan apa-apa soal pertemuannya dengan Reim.

"Sebenarnya apa yang Xarxs-nii rahasiakan? Ah, sudahlah! Dia memang misterius. Lebih baik kau pikirkan bagaimana caranya mengatakan "itu" padanya!" semburat merah muncul di wajah Sharon ketika dia memikirkan tentang "Itu".

Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Tidak ada di antara mereka yang ingin memecahkan keheningan itu. Mereka berdua sibuk dengan pikiran masing-masing.

Akhirnya Sharon memberanikan diri, dia menarik nafas dalam. "Xarxs-nii?" panggilnya. Break tersadar dari lamunannya.

"Eh? Ada apa Sharon?" tanya Break bingung. Tidak biasanya dia melihat wajah Sharon semerah ini.

"Enggg ano, ini soal pesan terakhir Reim kepadaku." Sharon berhenti, menunggu respon dari Break.

"Memangnya apa pesannya?" tanya Break to the point. Sharon kecewa, bukan respon seperti itu yang diharapkannya.

"Siap tidak siap, harus aku katakan sekarang!" Sharon menyemangati dirinya sendiri.

"Ano, Reim bilang agar aku memberitahu Xarxs-nii kalau waktunya sudah tepat. Dan aku kira ini waktu yang tepat. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi besok, kan?" Sharon mengucapkan kata-kata yang sudah dihafalnya dari kemarin.

"Lancar!" batin Sharon penuh syukur.

"Lalu?"

"Xarxs-nii gak peka!" Sharon mulai mengamuk dalam hati, merutuki Break yang menurutnya sangat gak peka.

"Errrr, aku mau… Xarxs-nii menjadi lebih dari seorang kakak bagiku." Sharon menundukkan wajahnya, malu luar biasa.

"Maksudnya?" Break masih tidak mengerti.

Rasanya Sharon ingin menonjok laki-laki di depannya itu. Dia menarik nafas dalam-dalam, mempersiapkan diri..

"AKU INGIN JADI KEKASIHMU, PAHAM?" Sharon berteriak karena emosi. Setelah itu, dia kembali menunduk dan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Wajahnya sudah semerah kepiting rebus.

"Tolong terima, tolong terima, tolong terima!" Sharon berdoa dalam hati, sementara Break masih memproses perkataan Sharon sebelumnya. Perlahan-lahan, dia mulai memahami situasi yang sedang dialaminya.

"Hal menyenangkan akan terjadi padamu besok."

"Jadi ini yang Reim maksud?" pikir Break.

Perlahan-lahan, Break berjalan mendekat ke arah Sharon, yang masih menunduk. Dia melingkarkan kedua tangannya di tubuh Sharon, kemudian berbisik di telinganya, "Kenapa tidak bilang dari dulu, ojou-sama?"

Sharon mengangkat wajahnya, iris rose miliknya bertemu dengan iris merah milik Break. Perlahan-lahan, dia tersenyum.

"Syukurlah dia menerimanya! Terimakasih Tuhan!" Sharon mengucapkan syukur dalam hati.

Break perlahan-lahan mulai menurunkan wajahnya, mendekatkan bibir miliknya dengan milik Sharon. Sharon memejamkan wajahnya, menunggu..

Hingga sesuatu menyentuh bibirnya. Tapi bukan "benda" itu yang diharapkan Sharon.

Sharon membuka kedua matanya kembali, kekecewaan terpancar jelas dari wajahnya. Dia mendapati kalau tangan kanan Break menempel di bibirnya.

"Kenapa, Xarxs-nii?" tanya Sharon kecewa.

"Kita cari tempat lain dulu.." bisik Break.

"Kenapa?"

"Karena.." Break melemparkan batu yang entah sejak kapan dipegangnya ke arah sesemakan yang berada tidak jauh dari tempat mereka berada.

Lemparannya menembus sesemakan itu. Terdengar sebuah teriakan kesakitan yang Sharon sadari mirip dengan suara Gil.

"… stalker-stalker tidak beradab itu!"

"Yah, ketahuan, ya?" kepala Alyss muncul dari sesemakan.

"Yah, acaranya terganggu deh." kali ini kepala Vincent yang muncul. Diikuti kepala-kepala lain. Akhirnya Sharon menyadari kalau seluruh anggota PSC hampir menyaksikan "adegan" tadi. Wajahnya kembali memerah karena malu.

"Kita cari tempat lain, ayo!" tanpa Sharon sadari, Break sudah menggendong dirinya dengan gaya bridal style. Kemudian dia berlari.

"Kejar mereka!" teriak Jack.

"Pasangan baru gak boleh dibiarkan hidup tenang!" seru Elliot sadis. Akhirnya, mereka semua terlibat dalam permainan kejar-kejaran yang melibatkan seluruh anggota PSC.

Akhirnya, setelah sekitar lima menit kucing-kucingan dengan teman-temannya, Break menurunkan Sharon di sebuah gang kosong.

"Sepertinya di sini aman." Break bergumam. Dia melirik Sharon, "Kita lanjutkan?" tanyanya jahil.

Sharon menyeringai gembira, "Tentu saja!"

Break mendorong Sharon dengan lembut hingga punggung gadis itu menyentuh dinding. Kemudian, dia mengurung Sharon dengan kedua lengannya.

"Xarxs-nii, jangan lebih dari "ini", ya?" pinta Sharon.

"Kau kira aku apa?"

"Laki-laki.."

"Tidak semua laki-laki itu serigala.." gumam Break, wajahnya semakin mendekati wajah Sharon, hingga akhirnya bibir mereka bertemu. Sharon memejamkan kedua matanya, begitu pula dengan Break, sementara mereka semakin mendalami ciuman mereka.

.

.

Glen mengamati pasangan baru yang sedang asyik dengan dunia mereka itu. Senyuman licik merekah di bibirnya.

"Kalian boleh beranggapan kalau kalian telah menang, PSC. Tapi ingat, pertempuran belum berakhir! Kami, Dark Sabrie, akan menguasai kedua kotak Pandora, lihat saja!"


TBC


A/N:

Aoife kena WB lagi! WB, WB, pergilah! #abaikan

Jadi, maaf kalau chapter ini agak aneh, terutama pas bagian ketemu Reimnya. Sebenernya ide udah ada di kepala, cuma susah ditulisnya. Terus maaf juga kalau ada typo, soalnya ade Aoife yang bertugas sebagai editor lagi gak ada di rumah T.T

Jadi, adakah orang yang baik hati untuk melakukan ritual RnR? Ayo, mumpung lagi puasa, pahalanya besar lho! XD

Next chapters akan membahas sejarah Pandora dan triple Vesallius kita!

See ya!