Pandora Hearts ©Jun Mochizuki
Proof of Life © Whoever made this song
Smile © Avril Lavigne
This fic© Aoife the Shadow
.
Warning: AU, OOC, typos, death charas in later chapters, contain OCs
Note: PSC=Pandora Street Child DS=Dark Sabrie
Enjoy!
.
.
Chapter 12: Unwanted Boy
Fuyu wa tsugeru kaze no koe ni
Mimi wo katamuke furueru karada
Tonari ni iru anata no iki
Shiroku natte samusou
Suara Ada mengalun lembut, diiringi dengan geseken biola Elliot yang semakin memperjelas kesan sendu dalam lagu itu, membuat anak-anak PSC seakan-akan terhipnotis.
Echo, Alice, Alyss, Sharon, Break, Gil, dan Vincent hanya bisa mengagumi kemampuan ketiga anggota termuda mereka. Umur mereka bertiga baru 12 tahun, tapi secara tidak langsung, mereka bertigalah yang menjadi tulang punggung mereka semua.
Satu bulan telah berlalu sejak serangan terakhir DS. Situasi perlahan-lahan menjadi tenang, kehidupan anggota PSC kembali berjalan seperti biasa.
Setelah sekitar tiga menit bernyanyi, Ada mulai memasuki bagian yang membutuhkan duet antara dirinya dan Reo. Mereka berdua menarik nafas panjang sebelum melanjutkan.
Kurakute mienai yo
(Kurushitte itte kure yo)
Nani mo kikoe nai yo
(Sabishiitte itte kure yo)
Kowai yo kurushii yo sabishii yo
(Mukae ni iku donna tokore he mo)
Nani mo kamo subete ga
(Ikanai de yo idoku he mo)
Kiete yuku naka de
(Oite ka nai de)
Anata no egao dake ima kienai
(Bokura zutto futari de hitotsu darou?)
Mereka berdua baru saja hendak melanjutkan duet mereka ketika pintu markas mereka tiba-tiba dibuka dengan keras. Mereka semua segera menoleh untuk melihat siapa penganggu itu sambil melancarkan deatglare masing-masing, tidak rela hiburan mereka diganggu. Tapi, mereka semua segera menyadari seberapa pelik situasi yang sedang terjadi.
Oz dan Jack melangkah masuk ke dalam markas, dan mereka berdua sedang bertengkar. Wajah Oz tampak memerah karena marah.
"Aku tahu Jack! Ayah selalu memperhatikanmu! Tidak seperti aku!" suara Oz terdengar sangat ketus.
"Hey Oz! Aku hanya bercanda, jangan dibawa serius!" suara Jack terdengar panik ketika dia berusaha menenangkan adiknya.
"Kau tahu kalau itu soal sensitif untukku, kan? Kenapa kau masih mengungkit-ungkitnya lagi?"
Semuanya hanya bisa menatap pertengkaran kedua kakak beradik itu dengan pandangan tidak mengerti, tapi Ada dengan cepat memahami apa yang terjadi dengan kedua kakaknya. Dengan perlahan, gadis itu berjalan mendekati mereka.
"Kak?" tanya Ada dengan pelan.
"Diam, Ada! Ini bukan urusanmu!" balas Oz tajam. Ada hanya bisa mengernyit mendengar balasan kakaknya, tapi dia tahu kalau dia ikut campur, masalah akan menjadi semakin rumit. Dia pun kembali mundur dan menonton pertengkaran yang semakin memanas.
Akhirnya, Jack mendorong Oz ke arah dinding. Dia berteriak tepat di telinga Oz, "Dengar, Oz! Aku hanya bercanda! Aku tidak bermaksud mengatakan itu!" Dia menekan Oz semakin keras, "Kau mengerti?"
Oz menundukkan kepalanya sehingga Jack tidak melihat ekspresinya. Pemuda itu tertawa pelan, "Tapi, itu memang benar kan?" ucapnya lirih.
"Aku, memang anak yang tidak diinginkan…"
"Oz?" tanya Jack khawatir.
Tanpa diduga oleh siapapun, Oz melepaskan diri dari cengkraman Jack yang terkenal cukup kuat. Dia berlari keluar dari markas, poni keemasannya menutupi wajahnya sehingga tidak ada seorang pun yang bisa membaca ekspresinya.
"Oz!" Jack berusaha mengejar Oz, tapi Break menahannya. Jack memberontak dengan sekuat tenaga,"Break, lepaskan aku!"
"Biarkan saja dia sendiri, Jack. Dia butuh waktu untuk menenangkan diri." Break berusaha menarik Jack kembali ke dalam markas. Tapi Jack tetap melawan.
"Siapapun, tolong aku!" Break mulai kewalahan menahan Jack. Gil dan Elliot akhirnya membantu Break menyeret Jack kembali.
"Lepaskan! Aku harus mengejar Oz! Ini semua kesalah pahaman!" Jack masih berusaha melepaskan diri dari cengkraman mereka bertiga. Break, Gil dan Elliot mendudukkan Jack dengan paksa, Jack hanya menurut.
"Ini semua kesalah pahaman…" gumam Jack sambil menunduk.
"Ada, kau tahu apa yang sedang terjadi?" Elliot berbisik di telinga Ada yang berdiri di sebelahnya. Bahu Ada menurun sedikit.
"Bisa dibilang ini masalah keluarga…" jawab Ada pelan. Gadis itu berlutut di depan Jack yang masih menunduk. Dengan perlahan, Ada meletakkan kedua telapak tangannya di atas bahu kakanya.
"Onii-chan tidak usah khawatir. Kakak pasti akan mengerti kalau nii-chan hanya bercanda. Sekarang biarkan saja kakak menenangkan diri dulu. Kalau kakak tidak kembali juga, baru kita cari. Mengerti, nii-chan?" ucap Ada lembut.
Jack mengangkat wajahnya, kedua iris jamrudnya bertemu dengan kedua iris Ada yang juga berwarna sama. Akhirnya, pemuda itu mengangguk.
Ada mendesah lega. Setidaknya, satu masalah telah selesai.
.
"Otou-san sedang apa?"
"Otou-san, aku membuat nasi kepal untukmu! Cobalah!"
"Otou-san?"
PLAAAAKKKK
"Jangan sentuh aku!" balas ayah Oz dingin.
Oz yang pada saat itu berumur 8 tahun hanya bisa menatap ayahnya dengan tidak percaya. Ayahnya, ayah kandungnya sendiri, telah menepis genggaman tangannya, anaknya sendiri! Nasi kepal yang tadi dipegangnya dan hendak diberikan kepada otou-sannya, terjatuh dan menggelinding entah kemana.
"Otou-san?"
"Kau menjijikkan"
Dua kata itu menusuk hati Oz dalam, sangat dalam.
Kenapa? Kenapa?
Kenapa dia tidak diinginkan oleh ayahnya sendiri?"
.
"Kau memang hebat, Jack! Otou-san bangga padamu!"
"Siapa dulu dong, anaknya!"
"Kau juga hebat, Ada!"
"Terimakasih, tou-san!"
Oz mencengkram ujung pakaiannya ketika dia melihat pemandangan di depannya. Kenapa? Kenapa hanya dia yang diabaikan? Kenapa hanya dia yang dibenci? Padahal…
Padahal Jack bukan anggota keluarga yang sebenarnya. Bahkan Ada yang lebih muda darinya mendapat penghargaan jauh lebih banyak dari ayahnya.
Kenapa?
Kenapa dia dilahirkan?
Untuk apa dia hidup?
.
Oz berusaha menjernihkan pikirannya, dia membiarkan punggungnya bersandar di dinding sebuah bangunan. Jalanan di bawah kakinya yang tidak beralas -mana ada street child yang memakai alas kaki?- terasa panas. Dia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, menarik nafas dalam-dalam.
Orang-orang yang berlalu lalang sama sekali tidak menaruh perhatian terhadap Oz. Street child adalah hal biasa di kota itu, tidak akan ada orang yang heran ketika ada seorang street child yang berdiri sendirian di tengah keramaian seperti ini.
Tapi Oz merasa tidak nyaman dengan keramaian di sekitarnya. Dia membutuhkan tempat yang tenang, jauh dari keramaian.
Dan dalam sekejap, dia mengetahui tempat yang tepat.
Oz kembali menegakkan tubuhnya dan mulai berjalan menuju tempat yang dia tuju. Dalam waktu beberapa menit, dia sudah berdiri di depan tempat yang dia tuju.
Oz berdiri di depan sebuah toko kelontong yang sepi pengunjung. Di atas pintu toko tersebut terdapat papan yang bertuliskan "Waterhill's Shop", tempat dimana Oz percaya dia bisa menjernihkan pikirannya.
Oz mendorong pintu toko itu, membunyikan bel pintu selagi dia melakukannya, dan suara musik menyambutnya. Sepertinya tempat ini tidak benar-benar tenang, tapi Oz tidak peduli.
And that's why I smile
It's been a while since everyday and everything has felt this right
And now, you turn it all around
And suddenly you're all I need
The reason why I smile
Oz berada di dalam sebuah ruangan yang panjang. Di dinding sebelah kanan dan kirinya, terdapat rak-rak panjang yang bersandar ke dinding. Rak-rak itu memajang berbagai macam barang, mulai dari kebutuhan rumah tangga hingga keperluan anak sekolah, semuanya lengkap. Di dekat pintu, terdapat sebuah meja yang berfungsi sebagai kasir, tapi tidak ada yang berjaga di meja itu. Di atas meja itu, terdapat sebuah radio yang sedari tadi memutar lagu yang didengar Oz.
Di depan salah satu rak, seorang gadis berusia sekitar 17 tahun berdiri membereskan barang-barang yang berada di rak itu sambil bersenandung mengikuti musik yang dilantunkan radionya. Gadis itu berambut hitam sepunggung dan memakai jeans dan kaus lengan pendek berwarna hitam. Begitu mendengar bel pintu berbunyi, gadis itu menghentikan kegiatannya dan menoleh untuk melihat siapa yang datang. Dia tersenyum ketika melihat pengunjung tokonya, "Hai, Oz. Ada apa? Urusan biasa atau khusus?"
Oz hanya tersenyum lemah ketika mendengar sapaan gadis itu, "Bukan dua-duanya, Esther. Boleh aku tinggal di sini sebentar?"
Gadis yang dipanggil Esther itu mengangguk, dia menunjuk sebuah kursi yang berada di depan meja kasir, "Duduk saja di situ!"
Dengan penuh rasa terima kasih, Oz duduk di kursi yang ditunjuk Esther. Dia meletakkan kepalanya di atas meja. Esther menghampiri Oz dengan wajah khawatir. Dia kemudian duduk di kursi kasir, tepat di hadapan Oz.
"Oz, kau ada masalah?" tanyanya khawatir. Oz hanya menggumam tidak jelas sebagai jawaban. Esther tidak menekan Oz lebih jauh. "Well, kalau kau ingin cerita, aku selalu disini, oke?"
Keluarga Esther sudah mengelola toko ini sejak lama. Dan selama itu pula, merekalah yang menyuplai kebutuhan para street child di daerah itu, juga kebutuhan-kebutuhan "khusus" mereka. Jadi tidak heran kalau Esther mengenal hampir seluruh street child yang menjadi langganan tokonya. Dan diantara semua street child, Esther paling akrab dengan anggota-anggota PSC.
"Bagaimana kabar yang lain, Oz?" tanya Esther untuk membuka percakapan. Oz mengangkat kepalanya dari meja, kini mata emerald-nya menatap kedua mata biru laut Esther.
"Cukup baik, walaupun keuangan kami memburuk sejak serangan DS. Sharon sudah marah-marah saja karena dia pikir kita semua boros." jawabnya jujur. Esther tertawa renyah ketika mendengarnya. Tawa Esther mau tak mau membuat Oz tersenyum.
"Lalu, apa yang Sharon lakukan?" tanya Esther setelah dia selesai tertawa.
"Well, dia menyuruh kami untuk hidup hemat sejak saat itu. Langkah pertama yang dilakukannya adalah melarang Break membeli permen selama satu bulan! Kau harus melihat ekspresi Break pada saat itu!"
"Ha, aku tidak percaya Break akan mematuhinya, walaupun Sharon adalah kekasihnya."
"Sebenarnya, Break sudah melanggarnya kemarin…"
"Apa?"
Percakapan itu segera membuat Oz melupakan masalahnya. Dengan segera, dia menyadari dirinya telah menceritakan semua yang terjadi di dalam PSC, termasuk konflik mereka dengan DS. Tapi Oz juga yang lain mempercayai Esther, sehingga Oz menilai memberitahu Esther tentang konflik mereka tidak akan membawa dampak negatif, selama dia tidak memberitahu Esther tentang kotak Pandora. Lagipula, selama ini Esther-lah yang menyuplai kebutuhan pertempuran mereka.
"Omong-omong, kami baru mendapat stok baru. Kau mau melihatnya? Ada beberapa pistol keluaran terbaru juga, mungkin kau menyukainya." Esther menawarkan.
Oz mengangguk, "Tidak ada salahnya melihat." Dia bangkit berdiri, diikuti oleh Esther. "Ikuti aku!"
Esther memimpin Oz ke sebuah pintu, yang nyaris tersembunyi oleh rak. Esther membuka pintu itu, kemudian meyalakan lampu. Gadis itu memasuki ruangan dibalik pintu, Oz mengikutinya.
Oz menemukan dirinya berada di sebuah gudang. Kardus-kardus ditumpuk sembarangan di sekelilingnya. Dibelakangnya, Esther menutup pintu. "Aku tidak mau ada pengunjung lain yang melihat." terangnya ketika melihat pandangan bertanya Oz.
Esther berjalan ke tengah ruangan. Di sana, dia membuka sebuah pintu tingkap dan meloncat ke kegelapan di bawahnya. Tidak punya pilihan lain, Oz meloncat mengikutinya.
Oz mendarat dengan suara keras. Dia sedikit mengerang ketika efek yang diterima kakinya ketika mendarat mulai terasa. Dia memandang sekelilingnya, kemudian berdecak kagum.
Seluruh dinding ruangan tempatnya berada sekarang disandari oleh rak-rak seperti di toko. Tapi bukannya memajang barang-barang kebutuhan sehari-hari, rak-rak itu kini memajang berbagai macam senjata. Pedang, pistol, senapan, belati, granat, dan lain-lain. Perlengkapan di ruang latihan mereka kalah jauh dibandingkan di sini.
Esther menyeringai senang ketika melihat kekaguman Oz. Gadis itu sendiri bangga dengan ruang senjata milik keluarganya. Dia tidak tahu bagaimana kakek-neneknya bisa membuat ruangan seperti ini. Esther sendiri masih bingung bagaimana ayah dan ibunya bisa mendapat senjata-senjata itu.
"Selamat datang di gudang senjata keluarga Waterhill!"
"Wow, gudang senjata terlengkap yang pernah kulihat!" puji Oz. Dia belum pernah berada di gudang ini. Biasanya Jack atau Break yang mengurus pembelian senjata.
"Silahkan lihat-lihat, setelah itu mungkin kau bisa membujuk Sharon." Esther menawarkan. Dia meraih ke arah salah satu rak dan melemparkan benda yang diraihnya kepada Oz. "Tangkap!"
Secara reflek, Oz menangkap benda itu. Dia mengamati benda itu, "Granat?" tanyanya.
Esther mengangguk, "Yup, keluaran terbaru! Daya ledak lebih besar dengan waktu lebih cepat. Cocok untuk pertempuran di gang-gang, sangat tidak disarankan untuk pertempuran jarak pendek. Disarankan untuk membawa beberapa dummy untuk mengecoh musuh." terangnya.
"Bagus juga." Oz melemparkan granat itu kembali ke Esther. Esther menangkapnya dengan tangkas dan dengan hati-hati menaruhnya kembali ke rak.
"Apa pisau ini bagus?" tanya Oz. Dia sudah berdiri di depan salah satu rak yang memajang berbagai macam jenis pisau. Anak lelaki itu kini sedang memegang sebuah pisau. Esther berjalan mendekatinya untuk melihat.
"Pisau itu bagus. Sangat tajam dan ringan. Keseimbangannya sempurna untuk melempar."
"Kalau yang ini?"
"Cukup bagus. Pisau itu tajam, tapi hanya cocok untuk menusuk, tidak bisa untuk dilempar karena terlalu berat."
"Menurutmu pisau mana yang bagus untuk menusuk sekaligus melempar?"
"Well, menurutku sih yang ini. Tapi harganya cukup mahal karena besinya bukan besi biasa. Tapi harganya sebanding dengan kegunaannya."
Tanpa terasa, waktu berlalu sangat cepat. Satu jam telah berlalu sebelum akhirnya Oz dan Esther naik dari pintu tingkap menggunakan tangga gantung.
"Kurasa aku akan membujuk Sharon untuk membeli senjata-senjata itu. Kami nyaris kehabisan stok belati dan peluru, kau tahu?" jelas Oz.
"Hidup sebagai street child sepertinya tidak mudah, ya?" tanya Esther. Dia memutar gagang pintu gudang dan membukanya. Mereka berdua melangkah menuju toko yang kosong.
Tapi toko itu tidak sepenuhnya kosong. Di depan meja kasir berdiri dua orang remaja. Salah satunya adalah pemuda seumuran Esther yang memiliki rambut berwarna coklat tua. Pemuda itu langsung menoleh ketika mendengar pintu gudang yang terbuka. Dia langsung berseru dan berlari menghampiri Esther.
"Esther! Aku mencarimu dari tadi!"
"Will? Untuk apa kau mencariku?" tanya Esther bingung.
Oz mengenali pemuda di depannya. Pemuda itu adalah Will Waterhill, saudara sepupu Esther. Sebenarnya dia adalah pewaris toko yang sebenarnya, tapi karena sifatnya yang suka seenaknya, posisi Will digantikan oleh Esther.
"Jadi begini, aku ingin mengajak Ann pergi, tapi aku tidak memiliki nomor handphonenya. Berhubung kau adalah teman dekatnya, kau pasti tahu kan nomor handphonenya, kan?" tanya Will memelas.
"Kau bahkan tidak tahu nomor handphone kekasihmu?"
"Hey, kami kan baru jadian satu bulan!"
"Selama itu kau masih bilang baru?"
Ketika Oz sedang asyik mendengarkan percakapan, atau bisa dibilang pertengkaran, di hadapannya, Will menoleh sebentar ke arahnya, "Oya, Oz. Ada yang ingin bertemu denganmu."
Oz mengerutkan keningnya, tapi sebelum Oz sempat bertanya, dia merasakan seseorang menepuk pundaknya. Dia memutar tubuhnya, mendapati kalau seorang gadis yang sangat dikenalnya sedang berdiri di belakangnya.
"Alice?"
"Hey, Oz. Sudah kuduga kau berada di sini."
TBC
A/N:
KENAPA RETRACE 65 HARUS JADI KAYAK GITU?
Bisa dibilang chapter ini pelampiasan setelah baca retrace 65. Siapa lagi yang stress setelah baca retrace 65, angkat tangan!
Sesuai janji Aoife, chapter ini menceritakan tentang masa lalu Oz, Jack, dan Ada, walaupun cuma dikit sih. Tapi yang bakalan lebih banyak disorot itu Oz. Kenapa? Karena Aoife maunya gitu -3- #digampar
So, RnR? Tombol review tidak menggigit kok ^^"
