Pandora Hearts ©Jun Mochizuki

This fic© Aoife the Shadow

.

Warning: AU, OOC, typos, death charas in later chapters, contain OCs

Note: PSC=Pandora Street Child DS=Dark Sabrie

Enjoy!

.

.

Chapter 13: The Most Wanted Boy

"Damn, kemana sih anak itu?" Jack menyumpah-nyumpah selagi dia dan Alyss berlari-lari dari gang ke gang untuk mencari Oz. Satu jam sudah berlalu sejak Oz pergi, dan mereka semua pergi untuk mencari anak laki-laki itu, kecuali Ada dan Sharon yang menunggu di markas.

"Salah kau sendiri, Jack. Sebenarnya, apa sih yang kaubilang pada Oz?" tanya Alyss terengah-engah karena berusaha mengimbangi langkah Jack yang terburu-buru.

"Yah, kubilang pada dia kalau dia itu tidak diinginkan. Tapi sumpah, aku cuma bercanda!" jawab Jack lesu.

"Salah sendiri kau bilang begitu, kau tahu kalau Oz itu orang yang sensitif, kan?" Alyss mendesah sambil terus berlari. Jack memang senang bertindak tanpa berpikir panjang.

Ketika mereka memasuki sebuah gang, tiba-tiba Jack berhenti berlari, dia memandang sekelilingnya dengan waspada. Alyss berhenti tepat di belakangnya.

"Ada apa, Jack?" tanya Alyss bingung. Jack menyentakkan tangannya, dan sebuah belati sudah berada di tangan kirinya. Melihat reaksi Jack, Alyss juga ikut mengeluarkan belatinya dan bersiap-siap memanggil Cheshire.

"Ada yang tidak beres…" gumam Jack pelan,"andai aku membawa pedangku, belati ini hampir tidak ada gunanya!"

Mereka berdua merapatkan punggung mereka, memandang sekeliling mereka dengan waspada, mencari-cari kemungkinan serangan.

"Ternyata indra peringatanmu bekerja dengan cukup baik, Jack. Kami tidak mengira kau akan merasakan kehadiran kami."

"Dark Sabrie?" tanya Alyss lirih. Seakan-akan menjawab pertanyaan gadis itu, chain-chain bermunculan dan mengepung mereka.

"Sepertinya dugaanmu benar, Alyss…" jawab Jack terkesan. Mereka berdua membawa belati mereka ke posisi siap. Beberapa saat kemudian, Cheshire mewujud di samping Alyss. Mereka berdua bersiap-siap untuk terjun dalam pertarungan mematikan.

.

.

"Alice?"

"Hey, Oz. Sudah kuduga kau berada di sini."

"Bagaimana kau bisa tahu kalau aku ada disini?" tanya Oz bingung.

"Gampang. Kau pasti butuh seseorang untuk curhat, kan? Kemana lagi kalau bukan kesini?" jawab Alice santai.

"Memangnya aku gampang ditebak, ya?" tanya Oz pelan. Alice mengangguk.

"Kau masih marah sama Jack?" tanya Alice langsung. Oz menunduk.

"Aku tidak tahu…" jawabnya pelan.

Alice menatap Oz sebentar, kemudian menarik tangan Oz, membuat Oz tersentak kaget.

"Alice, ada apa?" tanya Oz bingung. Alice tidak berkata apa-apa lagi, dia mulai menarik Oz ke arah pintu keluar toko dengan mudah, seakan-akan Oz hanya seorang anak kecil.

"Esther, terimakasih telah bersedia menampung Oz! Kapan-kapan kita kesini lagi!" teriak Alice kepada Esther yang masih sibuk cekcok dengan Will.

Esther melirik sebentar ke arah Alice, "Sama-sama. Kalau ada masalah, kesini saja!" dia balas berteriak sebelum kembali melanjutkan cekcoknya.

"Alice, kita mau kemana? Kembali ke markas?" Oz kembali bertanya ketika dia dan Alice sudah berada di luar toko.

"Bukan ke markas, tapi ke suatu tempat dimana aku bisa menceramahimu!" jawab Alice tanpa menolehkan kepalanya. Gadis itu terus memaksa agar Oz mengikutinya. Oz pasrah saja.

Beberapa saat kemudian, mereka berdua sampai di suatu tempat. Oz memandang sekelilingnya, kemudian mengangkat sebelah alisnya.

"Taman kota?" tanyannya bingung. Alice mengangguk, gadis itu masih terus menarik tangan Oz. Mereka berdua berjalan melalui taman, hingga mereka sampai di dekat air mancur. Oz jarang pergi ke sini, dia memang jarang pergi ke taman. Tapi tampaknya Alice cukup sering pergi ke sini.

"Ini salah satu tempat favoritku dan Alyss, kau tahu?" tanya Alice.

Oz menggeleng, "Kau tidak pernah cerita sebelumnya!"

Alice tertawa, "Kami berdua memang belum pernah menceritakannya ke siapa-siapa!"

Alice melepaskan genggamannya pada tangan Oz ketika mereka berdua sudah berada di hadapan air mancur. Air mancur itu cukup indah, dengan penampung air yang tampak seperti kolam berair jernih. Kalau diizinkan, pasti asyik untuk bermain air di situ.

Bagaimanapun juga, Alice bukan ke situ untuk menikmati keindahan air mancur itu.

"Well, sekarang, saatnya menceramahimu!" kata Alice sambil menyeringai.

.

.

Sharon dan Ada menunggu di markas sambil berharap-harap cemas. Untuk membunuh waktu, mereka memutuskan untuk membereskan dapur markas yang agak berantakan itu.

"Aku harap Oz dan Jack-nii baik-baik saja…" gumam Ada sembari membereskan piring-piring bekas sarapan. Kebiasaan anak laki-laki Pandora adalah tidak pernah merapihkan piring mereka sendiri setelah dipakai. Hal ini sering membuat anak-anak perempuan kesal.

"Sudahlah Ada, jangan khawatir. Pasti kakakmu baik-baik saja." hibur Sharon. "Lagipula, aku sudah menyuruh Eques untuk mengikuti Jack. Alyss juga ada bersama Jack, pasti Jack baik-baik saja."

"Trims, Sharon!" mereka berdua kembali membereskan bagian markas yang mereka jadikan dapur itu.

Tiba-tiba, Sharon menjatuhkan piring yang dipegangnya. Dia menangkupkan kedua tangannya di kedua telinganya, seakan-akan berusaha untuk mendengarkan sesuatu. Ada menatap sahabatnya dengan bingung, kepanikan mulai tumbuh di hatinya. Dia takut sesuatu terjadi kepada kakaknya.

"Eques… Eques…" panggil Sharon dengan suara lirih, berusaha memanggil chainnya.

"Sharan-chan?"

"EQUES!" karena Eques tidak juga merespon panggilannya, Sharon berteriak untuk memanggilnya. Kemudian gadis itu terdiam ketika Eques menjawab memandang Sharon dengan cemas sementara gadis itu mendengarkan chainnya berbicara.

Ada memperhatikan ketika wajah Sharon berubah menjadi seputih kertas, "Eques, cari yang lain, suruh mereka kembali ke markas, SEKARANG JUGA!"

Beberapa saat kemudian, Sharon tersadar dari trans-nya. Dengan suara bergetar, dia berkata, "Eques kehilangan Jack, dia juga tidak bisa menemukan Alyss maupun chainnya. Itu hanya berarti satu hal…"

Ada merasa tenaga sudah meninggalkan tubuhnya, dia terjatuh bersimpuh di lantai, "Jack-nii… Alyss…"

.

.

"Jadi, kau masih marah dengan, Jack?" tanya Alice sembari beranjak duduk di pinggir air mancur.

"Aku tidak tahu, rasanya aku belum bisa memaafkannya…" balas Oz lirih. Mengikuti contoh Alice, dia ikut duduk di sebelah gadis itu.

"Memangnya kenapa sih kalau dia bilang kau tidak diinginkan? Kau tahu dia bercanda, kan? Kenapa mesti marah?" tanya Alice.

"Sudah kubilang aku tidak tahu, rasanya terlalu mengingatkanku dengan masa lalu…" Oz tersenyum pahit.

"Kau tahu kan, bagaimana masa laluku? Aku tidak diinginkan oleh ayahku sendiri. Ayahku selalu membanggakan Jack dan Ada, tapi dia tidak pernah menyebut namaku, apalagi membanggakanku! Keberadaanku tidak diinginkan olehnya. Mungkin, aku anak paling tidak beruntung di dunia, ya?" Oz tertawa getir.

"Oz?" tanya Alice. Oz menundukkan kepalanya.

"Apakah ibumu, dan keluargamu yang lain, menyayangimu?"

"Kurasa iya…"

"Apakah kami menyayangimu?"

"Well, itu tergantung kalian, tapi rasanya iya."

"Apakah Ada dan Jack menyayangimu?"

"Ya…"

"Apakah kau sendirian sekarang?"

"Tidak…"

"Kalau begitu,kurang apalagi?" Alice meloncat kembali ke tanah dan berdiri di depan Oz.

"Kau, Oz, adalah anak paling beruntung di dunia!"

"Tidak mungkin! Aku anak paling tidak beruntung di dunia!"

"Masih perlu bukti?" Alice mulai berjalan mondar-mandir di depan Oz. "Kau tahu masa lalu kami semua, kan?"

"Iya, aku tahu kok." jawab Oz, heran kenapa Alice menanyakan hal itu. Sebagai pemimpin, sudah seharusnya dia mengetahui segala sesuatu tentang orang-orang yang dipimpinnya.

"Sekarang bandingkan masa lalumu dengan masa lalu kami! Coba bandingkan masa lalumu dengan Elliot, Gil, dan Vincent? Kau sempat tinggal di rumah yang cukup bagus, tidak seperti mereka. Aku dan Alyss? Kami berdua bahkan tidak tahu siapa orangtua kami! Walaupun secara biologis, Lacie bisa dikatakan sebagai ibu kami, tapi siapa yang mau mempunyai ibu yang hanya lebih tua dua tahun darinya? Sharon? Kau tidak perlu dikejar-kejar pedofil pada masa kecilmu! Echo? Zwei? Kau tidak perlu berbagi tubuh seperti mereka! Reo? Kau tidak harus terus-terusan "melihat" seperti dia. Break? Masa lalumu jauh lebih baik daripada dia! Kau tidak perlu khawatir apakah kau akan hidup untuk melihat hari esok!"

"Siapa yang pamanmu tunjuk untuk menjaga kotak Pandora? Kau! Bukan Ada, bukan Jack. Siapa yang berhasil mengikat kontrak dengan B-Rabbit, chain terhebat? Kau! Siapa yang membawa kami semua kesini dan memberi kami tujuan hidup? Kau! Siapa yang disukai oleh hampir seluruh gadis di sini? KAU! Dan kau menyebut dirimu sebagai anak yang tidak beruntung hanya karena ayahmu membencimu?"

"Lupakan masa lalumu! Tidak, jangan lupakan masa lalumu! Jangan hidup di dalam kenangan. Masa lalu adalah masa lalu, kita tidak bisa mengubahnya. Masa lalu ada agar kita bisa mengambil pelajaran dari situ. Kau adalah pemimpin kami, tapi kami tidak bisa mengikutimu kalau kau terus melihat ke belakang, kan? Kenang masa lalu, jalani sekarang, dan tatap masa depan!"

Alice menghentikan ceramahnya untuk sementara, " Kau mengerti maksudku, kan? Jangan sebut dirimu sebagai anak yang tidak beruntung lagi! Kalau Jack meledekmu lagi, abaikan saja dia, atau tonjok saja dia! Apapun lebih baik daripada marah berkepanjangan seperti sekarang! Kau membuat kami repot tahu!"

Oz memandang Alice dengan tidak percaya, tidak percaya kalau gadih yang biasanya rusuh itu bisa berkata-kata seperti itu. Tapi setelah dia memikirkan kata-kata Alice, dia menyadari kalau masa lalunya masih lebih baik daripada teman-temannya yang lain. Dialah pemimpin Pandora, tapi dia tidak akan jadi pemimpin yang baik kalau dia terus meratapi masa lalunya.

"Jadi kau sudah mengerti?" tanya Alice lagi.

"Rasanya aku sudah mengerti, terimakasih untuk doronganmu, Alice. Sulit dipercaya kau bisa berceramah seperti itu." Oz tersenyum kecil.

"Baguslah kalau begitu." kata Alice puas, "Omong-omong, kau harus mentraktirku karena aku telah menguras seluruh kemampuan berkata-kataku untuk menceramahimu!"

.

.

"Damn, dimana sih dua anak itu?" tanya Reo gemas kepada dirinya sendiri. Elliot sudah menerima pesan dari Sharon melalui chainnya, Humpty Dumpty. Sekarang mereka berdua berpencar untuk mencari Oz dan Alice. Eques tidak bisa melacak Cheshire dan mengalami kesulitan untuk melacak B-Rabbit, karena B-Rabbit jauh lebih kuat dari Eques.

"Pikir, Reo, pikir. Menurutmu, dimana Oz sekarang?" Reo berhenti berlari dan berpikir keras, menerka-nerka kemungkinan dimana Oz atau Alice berada sekarang. Setelah beberapa saat, nama sebuah tempat muncul di kepalanya.

"Waterhill Shop!" pekiknya, membuat beberapa orang menoleh dan memberinya pandangan aneh. Reo tidak peduli, dia segera berlari ke toko langganan mereka itu.

Jarak antara tempat Reo berada dan Waterhill Shop cukup jauh. Sialnya lagi, sore itu polisi memutuskan untuk mengadakan razia anak jalanan. Lebih dari satu kali Reo terpaksa berbelok untuk menghindari polisi, membuat jalan yang harus dilaluinya semakin panjang.

"Kenapa razia harus sekarang sih? Polisi gak bisa liat-liat situasi apa?" Reo terus merutuk selagi dia berlari kencang dari gang ke gang.

Akhirnya dia sampai juga di Waterhill Shop. Reo segera mendobrak pintu toko itu, untung saja pada saat itu sedang tidak ada pengunjung. Anak laki-laki itu mendapati Esther sedang duduk melamun di meja kasir sambil mendengarkan musik yang tidak dikenali Reo.

"Esther, kau lihat Oz tidak?" teriakan Reo membuat gadis itu tersentak dari lamunanya.

"Eh, Reo? Ada apa?" tanya gadis itu.

"Jawab saja pertanyaanku, Esther!"

"Iya, santai! Kadang-kadang kau seram juga, Reo! Oz tadi memang kesini, tapi dia dan Alice sudah pergi sejak hampir satu jam yang lalu." jawab Esther.

"Apa dia ke markas?" tanya Reo lagi.

"Kayaknya sih tidak, mereka pergi ke arah kanan, aku tidak tahu kemana. Tapi aku sempat mendengar Alice berkata akan membawa Oz ke tempat dia bisa menceramahinya. Memangnya ada apa sih?" tanya Esther penasaran. Melihat ekspresi Reo, Esther segera menambahkan, "Urusan Pandora? Baiklah, aku tidak akan ikut campur."

"Trims, Esther!" Reo kembali membanting pintu tertutup, meninggalkan Esther yang kebingungan.

"Sebenarnya ada apa, sih? Gak biasanya Reo jadi kayak gitu." gumam Esther bingung. Akhirnya, dia memutuskan kalau semua itu tidak ada hubungannya dengannya dan kembali melamun.

"Kemana lagi mereka? Tidak mungkin mereka kembali ke markas! Kira-kira kemana lagi mereka?" Reo kembali berpikir keras sambil menghindari beberapa polisi yang berada di depannya.

"Tempat Alice bisa menceramahi Oz? Kira-kira dimana? Di taman mungkin?" gumam Reo.

"O iya, Taman Kota! Kenapa baru kepikiran sekarang?" tanpa berpikir dua kali, Reo segera berlari ke taman kota

.

.

Sementara itu, dua orang yang dicari Reo masih duduk santai di pinggir air mancur taman. Mereka memutuskan untuk menikmati suasana sore hari yang cukup ramai di taman itu. Masalah dengan Jack bisa diselesaikan nanti, pikir mereka kompak.

"Hey, Alice?" Oz memanggil gadis yang sedang duduk sambil memainkan air di sampingnya. Merasa namanya dipanggil, gadis itu menoleh.

"Ada apa?" tanyanya.

"Tadi kau bilang kalau hampir semua gadis di sini menyukaiku, kan?" tanya Oz untuk memastikan.

"Oh ya? Rasanya aku sudah lupa. Kau tahu kan kalau aku itu cepat lupa?" Alice terkekeh kecil.

"Aku yakin kau bilang itu, kok."

"Kalau memang iya, memangnya ada masalah apa?" tanya Alice lagi.

"Well, yang ingin kutahu adalah, apakah kau termasuk salah satu dari mereka?" tanya Oz langsung ke inti.

Semburat merah muda muncul di kedua pipi Alice, "Sial! Kenapa aku tadi bilang kayak gitu?" maki gadis itu dalam hati.

"Alice? Jawab dong!" Oz menempatkan kedua tangannya di pipi Alice, membuat gadis itu semakin tersipu.

"Alice, mukamu merah tuh! Jangan-jangan, kau beneran suka sama aku, ya?" goda Oz.

"Heh? Gak mungkin aku suka sama remaja labil kayak kamu!" Alice cepat-cepat mengelak dari pertanyaan Oz.

"Ah, masa sih?" Oz mendekatkan wajahnya dengan wajah Alice, membuat semburat merah di pipi Alice menjadi lebih jelas.

"Aghhh! Kalau Alyss melihatku seperti ini, aku pasti ditertawai habis-habisan!" pekik Alice dalam hati.

"Akui saja, Alice! Kau suka denganku, kan?" Oz masih terus menggoda Alice.

"Gak kok! Gak mungkin aku, Alice yang hebat, suka dengan kamu!" Alice terus mengelak, tapi itu malah membuat Oz ingin menggodanya lebih lanjut.

"Ayo, akui saja, lah!"

"Oz, lepaskan tanganmu dariku!"

"Ckckck, rupanya Alice malu disentuh oleh pemuda tampan sepertiku, ya?"

"Sumpah, Oz! Kau memang labil! Lima menit yang lalu kau begitu depresi, sekarang kau kembali menjadi seorang playboy!" keluh Alice.

"Memangnya aku playboy, ya? Kayaknya engga, ah!"

"Iya. Coba kau tanya Ada, Echo, Zwei, Alyss, atau Sharon! Jawaban mereka pasti sama denganku. Bahkan Esther juga tahu kalau kau itu seorang PLAYBOY!"

"Alice jahat!" Oz merajuk sambil berpura-pura mendorong Alice.

"Oz, sudah kubilang jangan sentuh ak…"

BYUUURRRR

"Ermmm, maaf?" kata Oz tanpa dosa. Karena Oz, sekarang gadis itu basah dari ujung kepala sampai kaki. Alice menatap pemuda di hadapannya dengan pandangan membunuh.

BYUUURRR

"Alice! Kenapa kau bawa-bawa aku? Sekarang bajuku jadi basah, kan?"

"Siapa yang mendorongku ke sini, hah?"

"Kan aku gak sengaja!"

"Sengaja gak sengaja, tetap ada balasannya!"

Alhasil, mereka berdua asyik menyipratkan air ke arah satu sama lain. Orang-orang yang lewat memberi mereka pandangan geli dan menggumamkan sesuatu tentang indahnya masa muda. Oz dan Alice tidak mempedulikan mereka, mereka terus saja menyerang satu sama lain sambil tertawa-tawa.

"Kalian berdua itu adik-adik yang gak peka, ya?"

Tiba-tiba, sebuah pukulan yang cukup keras mendarat di kedua kepala mereka. Mereka mengaduh kesakitan, kemudian mendongak untuk melihat siapa yang berani menganggu permainan mereka.

"Kenapa sih? Gak bisa lihat orang lagi senang, ya?" protes Oz, diikuti oleh anggukan persetujuan dari Alice.

Reo melipat kedua tangannya, "Benar-benar, ya! Bagaimana kalian bisa dengan asyiknya bermain air seperti ini? Setengah mati aku dan yang lain mencari kalian berdua!"

"Santai, Reo! Memangnya ada apa, sih? Kayaknya panik banget?" tanya Oz lagi. Dia dan Alice bangkit berdiri dan melangkah keluar dari kolam air mancur.

Reo mendesah panjang, "Oke, maaf sudah menganggu kalian, tapi ini mendesak!"

"Langsung ke inti bisa?" Oz menyarankan. Reo mulai membuka mulutnya kembali.

Tapi Alice sudah terjatuh ke atas tanah sambil berteriak kesakitan. Kedua tangannya yang masih basah memegang perutnya. Wajah kesakitan Alice sudah berubah menjadi putih pucat.

"Alice!"Reo dan Oz memandang Alice dengan panik.

"Alice! Ada apa denganmu?" tanya Oz panik sambil berlutut di samping gadis itu.

"Jangan bilang mereka sudah…" gumam Reo ketakutan.

"Alyss… Cheshire…"

"Reo, apa yang terjadi?" tanya Oz kepada Reo. Karena terlalu kaget dengan perkembangan ini, Reo tidak mendengar pertanyaan Oz. Tidak sabar, Oz bangkit berdiri dan mencengkram kerah baju anak laki-laki berkacamata itu, membuatnya kesulitan bernafas.

"..terjadi!" Oz kembali bertanya dengan penekanan pada setiap kata.

"Cheshire… Cheshire…"

"Oz… lepas… Dark Sabrie… mereka…" jawab Reo denga terbata-bata, sebagian karena kesulitan bernafas, sebagian karena ketakutan melihat reaksi Oz.

"CHESHIRE!" Alice meneriakkan nama chainnya dengan sekuat tenaga hingga oarang-orang kembali menatap mereka. Percuma, Cheshire tidak juga datang.

Masih terbaring di atas tanah, Alice menolehkan kepalanya ke arah Reo dan Oz. Keduanya bisa melihat air mata yang menuruni kedua pipi gadis itu dengan jelas, "Jangan bilang… sesuatu yang buruk terjadi kepada Alyss?"

"Masalahnya, itu yang harus kusampaikan!" Reo membuat isyarat agar Oz melepaskan cengkraman di kerah bajunya. Dengan perlahan, Oz melepaskan cengkramannya pada anak laki-laki berkacamata itu.

"Reo, cepat katakan!" perintah Oz.

Setelah menggosok-gosok lehernya yang terasa sakit dan menghela nafas sekali lagi, Reo memberitahukan kabar tentang kakak mereka kepada Oz dan Alice, membuat kedua orang itu terkejut setengah mati.

"Jack… Alyss… Mereka berdua ditangkap oleh Dark Sabrie!"

TBC

A/N:

Eng ing eng, apa yang akan terjadi kepada Jack dan Alyss sekarang? Bagaimana perkembangan hubungan Oz dan Alice? Mari kita lihat di chapter depan! #dihajar massa

Oke, oke, Aoife bilang Aoife gak bakal update sebelum UAS kan? Kenapa sebelum UAS udah ada update lagi? Sebenernya Aoife ngetik cerita ini cuma buat ngisi waktu di sekolah kemaren. Berhubung guru-guru gak ada, temen-temen Aoife gak pada dateng, dan harus nungguin latihan yang baru mulai jam sepuluh, daripada ngegaring mendingan ngetik deh. Untung bawa laptop. Aoife kira paling cuma beres sedikit. eh, karena ide lagi lancar, malemnya udah beres deh ^^v

Sebelum saya tambah curcol, RnR, minna? XD

Next Update: Unbreakable Vow (yang bukan fudanshi dilarang baca!)