Pandora Hearts ©Jun Mochizuki

This fic© Aoife the Shadow

.

Warning: AU, OOC, typos, death charas in later chapters, contain OCs

Note: PSC=Pandora Street Child DS=Dark Sabrie

Enjoy!

.

.

Chapter 14: Test Tube Princess

Alice menunggu dengan gelisah di dalam selnya, menunggu saudara kembarnya dikembalikan. Gadis berumur 10 tahun itu khawatir para peneliti itu melakukan sesuatu yang buruk kepada saudaranya. Dia mengetuk-ngetukkan jarinya ke dinding berkeramik putih. Dia tidak tahu sudah berapa lama waktu berlalu sejak saudaranya dibawa. Gadis itu bahkan tidak tahu apakah sekarang pagi, siang, atau malam!

Tiba-tiba pintu kaca sel mereka bergeser. Alice menengadahkan kepalanya begitu mendengar suara pintu itu. Gadis itu terpekik kaget ketika melihat saudara kembarnya dilemparkan ke dalam sel.

"Alyss! Kau tidak apa-apa!" Alice segera bergegas menghampiri Alyss yang terkapar kesakitan di lantai ketika pintu kaca itu kembali ditutup.

"Aku tidak apa-apa, Alice…" jawab gadis itu lemah ketika Alice berlutut di sampingnya.

"Apa yang peneliti sialan itu lakukan padamu, hah? Rasanya akhir-akhir ini kau sering sekali dibawa!"

"Mereka hanya menyuntikkan beberapa zat kepadaku,kok. Tidak ada yang berubah." jawab Alyss lemah.

"Apanya yang tidak berubah? Coba lihat rambutmu!" pekik Alice.

"Eh? Ada apa dengan rambutku?" tanya Alyss bingung. Dia bangkit duduk untuk memeriksa rambutnya. Gadis itu membelalakkan matanya.

"Apa yang mereka lakukan dengan rambutku?" pekik Alyss kaget sekaligus tidak terima.

Rambut Alyss yang tadinya berwarna brunette, sewarna dengan rambut kembarannya, mulai berubah warna. Awalnya perubahan itu mulai dari pangkal rambutnya, kemudian merambat ke ujung. Kedua gadis itu menatap dengan ngeri ketika seluruh rambut Alyss berubah warna menjadi putih keperakan.

"Ini, bukan permanen, kan?" bisik Alyss tidak percaya.

"Aku harap begitu…"

Untuk yang kedua kalinya, pintu kaca sel mereka kembali gadis berumur sekitar dua tahun lebih tua daripada kedua saudara kembar itu. Gadis itu memiliki penampilan yang identik dengan Alice dan Alyss, kecuali kedua matanya yang berwarna merah darah, hasil dari eksperimen satu tahun yang lalu.

Gadis itu mendecakkan lidahnya begitu melihat kedua saudara kembar itu, "Alyss, kau mengecat rambutmu, ya? Baguslah, aku jadi tidak bingunglagi membedakan kalian berdua!"

"Kau menyindir, Lacie? Bagaimana rasanya ketika mereka mengubah warna kedua matamu, huh?" balas Alyss yang jelas sekali merasa tersindir.

"Sakit sih, tapi mau bagaimana lagi? Kalau aku melawan, sakitnya justru akan bertambah, kan?" jawab Lacie.

"Terserah katamu saja! Lacie, tidak biasanya kau menengok kami?" kini giliran Alice yang bertanya.

"Kalian kejam, ya? Tentu saja aku ingin menengok anak-anakku! Kebetulan saja, para penjaga sedang berbaik hati dengan mengizinkanku keluar dari selku dan pergi ke sini!" Lacie merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum bercanda.

"Kami bukan anak-anakmu, Lacie! Kami berdua hanya kloninganmu!"

"Kloning, anak, saudara, apalah, kita bertiga tetap terhubung, kan? DNA kalian berdua sama persis denganku!" Lacie duduk di dekat kedua kloningannya.

"Jadi, ayo kita bercakap-cakap! Aku bosan sendirian terus di sel! Kalian berdua masih lebih baik! Rasanya aku juga ingin memiliki saudara kembar." keluh Lacie.

"Kalau begitu, minta saja peneliti-peneliti itu membuatkanmu teman, Lacie! Sepertinya mereka bisa membuat apa saja!" saran Alyss.

Dan percakapan itu terus berlanjut. Kadang-kadang mereka bertiga tertawa-tawa di tengah-tengah pembicaraan. Mereka bertiga sangat akrab pada saat itu, kontras dengan keaadaan mereka saat ini.

.

"Bangun!"

Alyss merasakan seseorang menendangnya. Dengan enggan, gadis itu membuka kedua mata violetnya.

"Aku dimana?" pikir gadis itu bingung. Butuh beberapa saat baginya untuk mengingat apa yang terjadi.

"Jack… Dark Sabrie… Chain? Tunggu, apa aku ditangkap oleh Dark Sabrie?" pikirnya.

"Akhirnya kau bangun juga!"

Alyss baru menyadari dimana dirinya berada. Sepertinya dia berada di sebuah gedung kosong. Kedua tangannya terpasung di dinding dengan menggunakan borgol. Di sampingnya, Jack berada dalam kondisi yang sama, tetapi pemuda itu masih pingsan. Di depan gadis itu, berdiri orang yang paling dibenci Alyss di Dark Sabrie.

Sang original, yang secara langsung tidak langsung adalah ibu biologisnya.

Lacie.

"Apa maumu, Lacie?" bentak Alyss. Gadis itu berusaha membebaskan diri dari borgol yang mengikatnya, tetapi gagal.

"Ckckck, seharusnya kau menunjukkan rasa hormat yang lebih kepadaku, Alyss. Seharusnya kau memanggilku ibu!" Lacie menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sedih.

"Pah, tidak sudi aku memanggilmu ibu! Lagipula, kau hanya dua tahun lebih tua dariku!" Alyss kembali membentak. Gadis itu mencoba menendang Lacie dengan kakinya, sayang, Alyss baru sadar kalau kedua kakinya juga terikat.

"Alyss, kau lupa, ya? Kau adalah kloninganku, jadi, secara tidak langsung aku adalah ibumu! Dan sebagai sang original, aku memiliki kuasa atas dirimu!"

.

"Sharon! Dimana Alyss?" seluruh penghuni markas terlonjak kaget ketika Alice tiba-tiba mendobrak pintu masuk dan berteriak.

Sharon memandang Alice dengan pandangan minta maaf, "Maaf, Alice! Tapi Eques tidak bisa mengontak Alyss, chainku sudah mencarinya kemana-mana…"

"Bagaimana dengan Jack?" tanya Oz ketika dia menyusul Alice memasuki markas.

"Nah, kakakmu itu lebih sulit lagi dicari karena dia tidak memiliki chain. Eques masih berusaha mencari mereka sekarang."

"Sekarang, apa yang harus kita lakukan? Aku tidak mau kehilangan Alyss!" Alice menghentakkan kedua kakinya. Karena tidak ada yang menjawab pertanyaanya, Alice berjalan menuju ruang bawah tanah dengan kesal.

"Alice, kau mau kemana?" tanya Ada ketika Alice membuka pintu tingkap.

"Mengumpulkan persedian belatiku! Kita akan menyerang markas DS sekarang juga!" tanpa menunggu respon dari kawan-kawannya, gadis itu telah meloncat ke bawah. Keheningan menyelimuti seluruh markas Pandora begitu Alice menghilang.

"Ermmm, apakah perlu kukatakan kalau tadi Eques sudah mengecek markas DS dan Alyss maupun Jack tidak ada disana?" tanya Sharon ragu-ragu.

"Seharusnya kau bilang daritadi, Sharon." desah Break.

"Well, kita masih harus mengecek sekitar seratus gedung kosong di kota ini." komentar Gil, disambut dengan anggukan setuju dari Vincent.

Pada saat itu Alice sudah kembali dari ruang bawah tanah. Dia menatap kawan-kawannya dengan tajam, "Apa yang kalian tunggu? Cepat ambil senjata kalian!"

"Alice, tenangkan dirimu dulu!" Zwei berusaha menenangkan temannya.

"Bagaimana aku bisa tenang? Saudara kembarku ditawan oleh DS dan dia bisa dibunuh kapan saja! Apa yang akan kau rasakan kalau mereka menahan dan membunuh Echo?"

"Secara teknis, mereka juga menangkapku dan membunuhku. Kau lupa kalau aku dan Echo berbagi satu tubuh?"

"Tenang dulu, Alice!" sekarang giliran Oz yang berusaha menenangkan Alice. Anak laki-laki itu meletakkan tangan kanannya di pundak Alice.

"Bagaimana kau bisa santai seperti itu, Oz? Kakakmu juga ditawan! Hal yang sama juga berlaku untukmu, Ada!" Alice menunjuk Ada yang, seperti kakaknya, bersikap tenang,

"Karena kita tidak akan bisa membebaskan mereka kalau kita panik, kan?" jawab Ada.

"Lagipula, tidak ada gunanya kita menyerang markas DS, Alyss juga Jack tidak ditawan disitu. Sepertinya mereka disekap di salah satu gedung kosong di kota ini." Oz menimpali.

"Ada banyak gedung kosong di kota ini, Oz! Kita tidak mungkin mengecek satu per satu. Kalau bukan karena dibunuh oleh DS, mereka akan mati kelaparan duluan sebelum kita menemukan mereka!" pekik Alice

"Wait, guys!" seruan Sharon menghentikan cekcok mereka semua. Sekarang mereka memusatkan perhatian mereka kepada Sharon, yang sedang berdiri diam dengan kedua tangan menutupi telinganya, berusaha mendengarkan berita yang dibawa chainnya. Beberapa saat kemudian, dia menurunkan kedua tangannya kembali.

"Berita bagus, Eques berhasil mendeteksi keberadaaan Cheshire di daerah selatan kota! Dia tidak tahu dimana tepatnya, tapi setidaknya kita bisa mengeliminasi kemungkinan tempat mereka disekap sampai 75%" kata Sharon girang.

"Daerah selatan kota lumayan jauh dari sini, markas kita berada di daerah utara kota. Lagipula, ada sekitar dua puluh lebih gedung kosong disana, belum lagi rumah dan gudang kosong!" Elliot mengingatkan. "Mungkin DS memang sengaja menyekap mereka disana agar kita kesulitan mencari mereka."

"Daripada mengecek seluruh kota? Oke, sekarang ambil senjata kalian masing-masing dan bersiap-siap pergi. Zwei, Reo, kalian jaga markas!" perintah Oz.

"Kenapa harus kita yang jaga markas?" protes Reo.

"Iya, kita kan juga ingin bertarung! Kenapa tidak Sharon saja, atau Ada?" Zwei juga ikut protes.

"Kita membutuhkan Sharon untuk mencari Alyss dan Jack, sementara Ada adalah adik Jack, jadi dia harus ikut! Elliot dan Break dibutuhkan dalam operasi ini! Sementara untuk Gil dan Vincent, ini operasi pencarian pertama mereka, jadi mereka harus ikut, paham?" tanya Alice galak.

"Aku merasa tidak dibutuhkan…" bisik Reo lesu.

"Baiklah, ayo kita berangkat! Sharon, pimpin jalannya!" perintah Alice.

"Hai"

.

"Ouch! Lacie, perhatikan dimana kakimu menginjak, bisa?"

"Cih, kau memang keras kepala, ya?" Lacie menambahkan tenaga kepada kaki kanannya yang sedang menginjak perut Alyss. Kali ini Alyss tidak bisa menahan teriakannya.

"Nah, akhirnya kau teriak juga!"

"Ukh." rutuk gadis itu. Setetes darah muncul di sudut bibirnya. Lacie kembali menginjak perut Alyss, membuat gadis itu kembali berteriak.

Anehnya, teriakan Alyss yang terbilang cukup nyaring itu tidak juga membangunkan Jack. Anak laki-laki berumur 15 tahun itu tetap saja tergeletak setengah tidur setengah duduk dalam keadaan pingsan.

"Lacie, apa sih yang kau berikan pada Jack sampai dia tidak bangun-bangun begitu?" tanya Alyss sambil sedikit bergetar karena kesakitan. Sejak Alyss sadar, Lacie terus Lacie, Alyss tidak melihat keberadaan anggota DS yang lain di gedung itu.

"Jack? Oh, kuberi dia ini!" Lacie merogoh-rogoh kedalam sakunya dan mengeluarkan sebuah botol kaca kecil. Dia melambaikan botol kecil itu di depan Alyss.

Wajah Alyss langsung memucat begitu melihat botol itu, "Kau tidak memberinya racun, kan?"

"Tenang saja, aku tidak memberinya racun, kok! Tapi, obat ini akan membuatnya tidur lelap cukup lama hingga aku bisa membunuhnya tanpa rasa sakit!" Lacie menjelaskan dengan santai. "Karena sulit untuk memaksanya meminumk obat ini, akhirnya aku terpaksa menggunakan cara mulut ke mulut! Dia melawan cukup hebat!"

Perkataan Lacie itu membuat Alyss menemukan tenaga cadangannya, tidak ada seorangpun yang boleh menyentuh Jack-nya!

Gadis itu berusaha menendang Lacie untuk yang entah keberapa kalinya. Cukup sulit mengingat keadaan kedua kakinya yang terikat, tapi entah bagaimana Alyss sekarang bisa menendang kaki Lacie dengan cukup keras, membuat gadis itu terpaksa meloncat kebelakang. Alyss mencoba memanggil Cheshire lagi, tapi chainnya itu tetap tidak menjawab panggilannya.

"Masih mencoba memanggil chainmu, Alyss?" Lacie sudah pulih dari kekagetannya dan kini kembali mendaratkan kakinya di perut Alyss.

"Sudah kubilang itu percuma. Griffin sudah menahan Cheshire di Abyss, chainmu tidak akan bisa menjawab panggilanmu sekarang! Kau sama sekali tidak berdaya sekarang, Alyss!" ejek Lacie.

"Siapa bilang aku tidak berdaya? Aku yakin Alice, Oz, Ada dan yang lain sedang mencari kami sekarang!" balas Alyss dengan yakin.

"Kalaupun mereka bisa menemukanmu, kau sudah mati duluan!" Lacie berjongkong dan mengeluarkan belatinya. Gadis itu menempelkan ujung belati itu di leher Alyss.

"Apa kau punya permintaan terakhir, Alyss? Atau kau ingin menanyakan sesuatu? Silahkan saja, aku akan menjawabnya. Lagipula, walaupun aku mengatakan kebenarannya, kau tidak akan bisa menyampaikannya kepada teman-temanmu!"

"Kenapa kalian menculik kami, Lacie? Tidak biasanya Dark Sabrie menculik anggota Pandora. Apa Dark Sabrie punya rencana rahasia untuk merebut kotak Pandora?" tanya Alyss. Dalam hati, dia mencoba memanggil Cheshire kembali. Dengan lega Alyss mendengar jawaban Cheshire walau sayup-sayup, sepertinya chainnya sudah bisa membebaskan diri dari Griffin.

"Kenapa kami menculikmu dan Jack? Mudah saja, kami menyadari kalau menculik dan membunuh kalian satu per satu lebih mudah daripada pertempuran besar-besaran seperti menemui cukup banyak kesulitan untuk meculik kalian karena kalian selalu bersama hampir sepanjang waktu. Terimakasih untuk Oz, kalian tadi berpencar untuk mencari anak itu. Aku memohon kepada Glen untuk menculikmu terlebih dulu, dan Glen menyetujui! Karena kebetulan Jack sedang bersamamu, jadi dia juga kami culik!" Lacie menjawab dengan santai. Alyss merasakan tekanan pisau di lehernya semakin bertambah.

"Nah, satu pertanyaan sudah terjawab. Ada pertanyaan lain?"

Alyss menyadari ada sesuatu yang janggal di dalam cerita Lacie, "Bagaimana kalian bisa mengetahui kalau aku dan Jack akan pergi ke gang itu? Apa kalian terus membuntutiku? Yang lebih penting, bagaimana kalian bisa tahu kalau Oz sedang marah dan kami terpaksa berpencar untuk mencarinya?"

Lacie tergelak begitu mendengar pertanyaan Alyss, dia tertawa begitu kerasnya sampai terbungkuk-bungkuk. Alyss mengawasi tingkah laku induk kloningnya dengan waspada, bersiap-siap memanggil Cheshire begitu dia telah mengorek semua kebenaran dari Lacie.

Butuh beberapa menit bagi Lacie untuk menenangkan dirinya. Sambil terus tertawa kecil, dia balik bertanya, "Nah, yang ini agak rumit." Lacie bangkit berdiri, tekanan pisau di leher Alyss menghilang.

"Kau yakin mau tahu jawabannya, Alyss? Aku rasa kau tidak akan senang dengan jawabannya."

Alyss mengangguk pelan. Sebuah seringai terukir di wajah Lacie. Beberapa saat kemudian, gadis itu membuka mulutnya.

"Gampang saja, karena kalian memiliki seorang penkhianat diantara kalian!"

.

"Sharon, Break, kalian periksa daerah sini! Gil, Vincent, Elliot, kalian periksa daerah sana!" Aku, Alice, dan Ada akan memeriksa daerah sini!" Oz membagi tugas sembari menunjuk peta yang tadi mereka curi dari sebuah toko cenderamata.

"Siap!"

Mereka segera berpencar menurut daerah masing-masing. Oz, Ada, dan Alice segera berlari menuju daerah pencarian mereka.

Tiba-tiba, ketika mereka sedang berlari, Aliceberhenti berlari berteriak kesakitan . Refleks, Oz dan Ada juga menghentikan larinya.

"Alice! Kau tidak apa-apa, kan?" tanya Ada cemas ketika melihat wajah pucat sahabatnya.

"Aku tidak apa-apa, Ada. Lebih baik kita terus mencari!" jawab Alice sambil menggigit bibirnya, berusaha menahan sakit di perutnya. Yang tidak dikatakan oleh Alice adalah, sejak dia mengetahui Alyss diculik, dia terus merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Alice tidak ingin membuat teman-temanna cemas. Kalau Alyss sudah disiksa seperti itu, Alice tidak tahu apa yang akan dialami Jack.

Beberapa saat kemudian, mereka bertiga sampai di daerah pencarian mereka. Alice segera menendang pintu rumah kosong pertama yang mereka temui, sayang sekali pintu itu terkunci. Oz harus mengeluarkan sabit B-Rabbit miliknya untuk mendobrak pintu itu.

Mereka segera masuk ke rumah itu dan memeriksa seluruh ruangan dengan cepat. Sayangnya, Alyss dan Jack tidak berada di rumah itu. Mereka keluar dari rumah itu dan mencoba masuk ke rumah kosong yang berada di samping rumah itu.

"Sial, yang ini juga terkunci!" rutuk Ada ketika mencoba membuka pintu rumah itu. Sekali lagi, Oz terpaksa mengeluarkan sabit B-Rabbit. Mereka memeriksa rumah itu, nihil.

"Kalau semua rumah dan gedung dikunci seperti ini, ketika kita menemukan mereka berdua, aku akan terlalu lelah untuk bertempur! Lagipula, sabit B-Rabbit menimbulkan suara yang cukup keras ketika mendobrak pintu. Kalau kita terus seperti ini, polisi akan menemukan kita terlebih dulu sebelum kita menemukan Jack dan Alyss!" kata-kata Oz kurang lebih merangkum keadaan mereka ketika mereka menemukanpintu yang jyga terkunci di rumah selanjutnya.

Tepat setelah Oz mengucapkan huruf s terakhir dari nama Alyss, mereka mendengar suara pistol ditembakkan. Ada meloncat ke belakang seakan dirinya tersengat. Untung saja Ada sempat menghindar, karena di kaca jendela rumah dekat tempat Ada tadi berdiri telah terdapat lubang peluru.

"Polisi, atau DS?" tanya Alice sambil mengeluarkan belatinya.

"Tidak mungkin DS! Sejauh yang aku tahu, mereka tidak pernah memakai pistol, jadi kemungkinan besar polisi!" jawab Oz.

"Kalau itu memang benar polisi, sebaiknya kita kabur!" Ada segera menarik tangan Oz dan mengajak kakaknya itu menghindar dari situ.

"Tunggu dulu, Ada! Kita belum menemukan Alyss maupun Jack!" protes Alice. Beberapa saat kemudian, mereka kembali mendengar suara pistol ditembakkan, kali ini lebih dekat, disusul dengan suara tembakan-tembakan lain.

"Alice, kalau kita sampai tertangkap oleh polisi-polisi sialan itu, kita tidak akan bisa menolong kakakku maupun saudara kembarmu!" balas Ada dengan logis.

Alice tidak punya pilihan lain, dia terpaksa mengikuti kedua kakak beradik itu lari dari tempat tersebut. Beberapa detik kemudian, lingkungan tempat mereka berada telah berubah dari daerah terbengkalai menjadi medan tembak.

"Geez, aku tidak pernah mengira kalau akan ada begitu banyak polisi yang berpatlori di daerah sini!" seru Oz ketika mereka berusaha menghindar dari hujan peluru yang mematikan itu.

"Aneh, dari tadi tidak ada peluru yang mengenai kita, bahkan menyerempet pun tidak! Entah kenapa, aku merasa kalau mereka tidak ingin menembak kita. Mereka seakan sedang berperang melawan satu sama lain!" kata Alice setelah beberapa saat.

"Rasanya Alice benar…" Oz berhenti berlari, begitu juga Ada dan Alice. Benar saja, walaupun peluru beterbangan di sekeliling mereka, sama sekali tidak ada peluru yang mengarah kepada mereka. Pemilik-pemilik pistol itu seakan-akan sedang berperang satu sama lain dan tidak ingin melibatkan orang luar yang kebetulan lewat.

"Ini aneh, mana ada polisi yang bertempur seperti ini?" tanya Ada bingung.

Oz mengerutkan keningnya, "Itu berarti mereka polisi berandalan, atau mereka bukan polisi sama sekali!"

Mereka berdiri diam selama beberapa saat di situ, sampai ada yang berteriak kepada mereka, "Hey, kalian bertiga! Kalian cari mati atau bukan?"

Mereka menoleh ke arah teriakan itu berasal dan melihat seorang gadis berusian sekitar 17 tahun melompat dari lantai dua sebuah gedung dan mendarat dengan ringan di tanah. Gadis itu memakai jeans panjang berwarna hitam dan jaket kulit yang juga berwarna hitam dengan sebuak kacamata hitam. Rambut cokelat tua panjang milik gadis itu diikat ekor kuda, di tangannya terdapat dua buah pistol.

"Kenapa kalian masih disitu? Cepat pergi kalau kalian tidak mau mati!" teriak gadis itu lagi, membuyarkan keterkejutan mereka bertiga.

Mereka segera menuruti perintah gadis itu dan berlari ke gang terdekat, gadis itu mengikuti dari belakang, pistolnya terus menembaki musuh yang tidak terlihat oleh Oz, Alice, maupun Ada. Sepertinya gadis itu adalah incaran para penembak itu, karena sekarang rentetan demi rentetan peluru terus menyerang mereka. Mereka terpaksa berlari zig-zag untuk menghindari hujan peluru itu.

Dan tiba-tiba saja gadis itu sudah berada di kanan mereka, padahal mereka bertiga yakin kalau gadis itu tadi berada di belakang mereka. Gadis itu terus saja menembak ke segala arah, rambut ekor kudanya bergerak-gerak dengan liar mengikuti pemiliknya.

Beberapa saat kemudian, mereka sudah berada di luar medan pertempuran. Gadis itu menunjuk ke arah sebuah gang dan berlari memasukinya. Oz, Ada, dan Alice mengikuti gadis itu. Mereka terus mengikuti gadis itu menyusuri gang yang cukup gelap itu hingga mereka sampai di sebuah persimpangan.

Tiba-tiba, untuk yang kedua kalinya, gadis itu kembali meloncat dari lantai dua sebuah gedung. Mereka bertiga menatap gadis itu dengan bingung, bagaimana mungkin seseorang bisa bergerak secepat itu? Mereka bahkan tidak melihat gadis di depan mereka memasuki gedung manapun!

Kemudian mereka kembali menyadari kalau gadis yang tadi memimpin mereka masih berada di depan mereka! Singkatnya, ada dua orang gadis yang identik sedang berlari di depan mereka.

Gadis yang di kanan menunjuk ke arah sebuah gedung kosong, seakan-akan meminta persetujuan temannya. Gadis yang di kiri mengangguk setuju. Bersama-sama, mereka berbelok dan memasuki pintu gedung yang terbuka.

"Cepat masuk sebelum Clockwork sampai disini!" desis salah satu gadis itu kepada Oz, Alice dan Ada. Karena tidak memiliki pilihan lain, mereka bertiga terpaksa mengikuti kedua gadis itu memasuki gedung. Setelah mereka semua berada di dalam, salah seorang dari mereka menutup pintu gedung itu, membuat ruangan gedung tempat mereka berdiri berubah menjadi gelap gulita.

"Ann, kau bawa senter?" tanya salah seorang dari gadis itu.

"Sebentar, Aire! Aku lupa menaruhnya dimana!" balas gadis yang satu lagi.

"Siapa mereka?" bisik Ada kepada Alice dan Oz. Alice mengangkat bahunya.

"Tunggu, kalau tidak salah Clockwork adalah nama sebuah organisasi mafia yang cukup terkenal di kota ini. Mungkin mereka berdua adalah anggota kelompok mafia musuh Clocktower, kalau tidak salah nama kelompok itu Rain… Ren… Rem…" Oz mencoba mengingat-ingat.

"Reinhart!" salah satu gadis itu mengoreksi. Pada saat itu, gadis yang bernama Ann sudah menemukan senternya dan menyalakannya. Sekarang mereka bertiga bisa melihat wajah penyelamat mereka dengan jelas.

"Terimakasih karena telah menyelamatkan kami, nona. Tapi, apakah kami boleh tahu nama kalian berdua?" tanya Oz sopan.

Kedua gadis itu memandang satu sama lain sebelum membuka kacamata hitam mereka. Sekarang, Oz, Alice dan Ada bisa melihat mata kedua gadis itu. Gadis yang di kanan memiliki iris berwarna hijau gelap, sedangkan yang gadis yang di kiri berwarna hijau kebiruan.

"Reinhart's Twins on your service!"

TBC

A/N:

Yay, OC Aoife muncul lagi!

Aoife lagi semangat nulis nih, jadi maklum ya kalau updatenya lagi cepet-cepetnya. Tumben-tumbenan Aoife gak dapet wb.

Pertanyaan chapter ini, siapa penkhianat yang disebut Lacie? Terus, menurut kalian apakah Alice dkk bakal sempet menyelamatkan Alyss dan Jack? Silahkan jawab via review