Pandora Hearts ©Jun Mochizuki
This fic© Aoife the Shadow
.
Warning: AU, OOC, typos, death charas in THIS chapter, contain OCs
Note: PSC=Pandora Street Child DS=Dark Sabrie
Enjoy!
.
.
Chapter 15: When Friend Becomes Foe
"Alice! Cepat!"
"Sa… sakit…"
"Ayo! Para penjaga itu berada tepat di belakang kita! Kau mau dikurung lagi di sana?" desak Alyss sambil menarik kembarannya berlari menuju kota.
Gedung penelitian tempat mereka 'dibuat' dan dikurung, telah terbakar karena sebuah kecelakaan. Mereka berdua dan beberapa 'kelinci percobaan' yang lain berhasil selamat dari kebakaran dan kabur.
"Bagaimana dengan Lacie?" tanya Alice terengah-engah. Wajahnya mengernyit kesakitan setiap kali kaki telanjangnya yang terluka mengenai tanah.
"Aku tidak tahu. Aku berharap dia selamat, tapi selnya berada di dekat tempat kebakaran berasal. Kecil kemungkinan dia selamat." ungkap Alyss.
Mereka berdua terus berlari hingga mereka mencapai kota , gedung penelitian tempat mereka menghabiskan sebelas tahun pertama mereka memang berada di pinggir kota.
"Lyss, kita mau kemana?"tanya Alice. Alyss tidak menjawab dan baru berhenti berlari ketika mereka memasuki sebuah gang yang gelap.
"Aku tidak tahu, Alice…" jawabnya jujur. Alyss memang tidak tahu kemana mereka harus pergi. Setelah menghabiskan seluruh waktunya terkurung di ruangan tanpa jendela, segala sesuatu, langit, tanah, rumput, pohon, bangunan, orang-orang, semuanya terasa sangat asing bagi mereka berdua.
Beberapa saat kemudian Alyss baru menyadari luka yang dialami Alice. Darah membasahi tanah tempat Alice Alice memang terluka cukup parah karena tanpa sengaja menginjak pecahan kaca ketika mereka melarikan diri.
"Maaf, Alice! Aku lupa kalau kau berdarah!" pekik Alyss sambil menyesali kebodohannya. Dengan sigap, Alyss merobek bagian bawah gaun rumah sakit putihnya dan mulai membalut luka Alice.
"Tidak apa-ap… AW!" pekik Alice ketika Alyss mengencangkan balutanyya.
"Tidak apa-apa apanya?" gerutu Alyss setelah dia menyelesaikan balutannya. Setelah yakin balutannya cukup kuat, Alyss segera menggendong Alice dan berjalan mencari tempat untuk bermalam.
"Menurutmu, sebaiknya kita bermalam dimana?" tanya Alyss.
"Dimana saja. Kita sekarang sudah bebas, kan?"
.
KRAAAKK
"Alyss!"
"Aw, pasti pukulan tadi sakit."
Alice menatap anak laki-laki berumur lima belas tahunan yang berdiri di depannya dengan penuh kebencian. Dia mengayunkan kayu yang dipegangnya ke arah pemuda itu.
Tapi, bagaimanapun juga, kayu tidak bisa menandingi besi.
KRAAAKK
Kayu yang dipegang Alice patah menjadi dua begitu pedang Zai mengenainya. Kayu itu terhempas dari genggaman Alice.
Dengan satu gerakan lincah, anak laki-laki itu memukul kepala Alice dengan bagian tumpul pedangnya, membuat gadis itu pening sesaat. Kemudian, dia menendang kaki Alice, membuat gadis itu kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Sebelum Alice bisa bereaksi, anak laki-laki itu sudah menempelkan pedangnya ke leher Alice.
"Cukup, Zai! Aku bilang perlakukan mereka dengan lembut!"
Alice mengangkat wajahnya ketika mendengar suara yang sangat dikenalnya itu. Bahkan Alyss yang yang sempat pingsan karena pukulan Zai membuka matanya. Zai sendiri segera menyingkir begitu pemilik suara itu muncul.
"Lacie?" tanya Alice tidak percaya ketika melihat sosok yang sekarang berdiri di depannya. Sosok yang dipercayai mereka sudah mati dua bulan yang lalu
"Halo, anak-anakku! Bersediakah kalian bergabung dengan Dark Sabrie?"
.
.
"Reinhart's Twins on your service!"
Oz, Ada dan Alice masih tetap berdiri kebingungan ketika pasangan kembar itu memperkenalkan diri mereka.
"Namaku Aire, dan ini Ann. Kami berdua putri pemimpin Reinhart." salah seorang dari mereka, yang memiliki bola mata berwarna hijau kebiruan, memperkenalkan diri.
"Namaku Oz, ini adikku, Ada, dan temanku, Alice. Aku tidak pernah mengira kalau pemimpin Reinhart punya anak." ungkap Oz setelah memperkenalkan diri. Ann tersenyum samar.
"Ayah kami menyembunyikan identitas kami sehingga tidak ada yang mengancam kami. Selama ini, kami membaur dengan anggota Reinhart yang lain." jelas gadis itu. "Sangat sedikit orang yang mengetahui identitas asli kami."
"Well, cukup tentang kami. Sekarang waktunya bagi kalian untuk menjawab pertanyaan kami. Kenapa kalian berada di sana tadi? Apa kalian tidak tahu kalau kami sedang bertempur?" potong Aire.
"Kami tidak tahu kalau akan terjadi pertempuran, tiba-tiba saja kami sudah berada di tengah hujan peluru. Sedangkan kenapa kami bisa berada di sana, itu karena kami sedang mencari dua orang teman kami yang diculik anggota geng lain." jelas Ada, sedangkan Alice tetap diam dan menatap lantai.
"Hmmm, sebentar… Teman kalian diculik geng lain? Apa geng yang menculik teman kalian bernama Dark Sabrie?" tanya Ann. Mereka bertiga langsung menegang dan mengangguk.
"Bagaimana kalian bisa tahu?" tanya Alice dengan tinju terkepal.
Ann mengangkat bahunya sedikit, "Tadi aku melihat salah seorang anggota Dark Sabrie,yang berambut cokelat, aku tidak tahu siapa namanya, membawa masuk dua orang yang sedang pingsan ke dalam sebuah gedung di dekat sini. Kalau tidak salah, salah satu dari dua orang itu mirip denganmu, Alice! Tapi, gadis berambut cokelat itu juga mirip denganmu!" jawabnya.
"Gah, itu pasti Lacie!" pekik Alice penuh amarah.
"Kelihatannya kalian begitu membenci Dark Sabrie, jadi kalian anggota Pandora, ya? Pantas saja aku seperti pernah melihatmu, Oz! Kalau tidak salah, aku pernah melihatmu di toko Esther."
"Ann… Jadi, kau Ann yang dicari-cari oleh Will tadi pagi?" tanya Oz penasaran.
"Will mencariku? Yah, biarlah kadang-kadang si bodoh itu yang mencariku." Ann tersenyum jahil.
"Cukup! Sekarang beritahu kami dimana Alyss!" perintah Alyss.
"Well, aku tidak tahu dimana mereka, Ann yang melihat mereka, bukan aku." kata Aire sambil mengedikkan bahunya.
"Mereka ada di dekat sini. Mau kutunjukkan?" Ann menawarkan.
.
"Gampang saja, karena kalian memiliki seorang penkhianat diantara kalian!"
Sembilan kata yang diucapkan oleh Lacie itu sukses membuat Alyss membeku. Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin ada penkhianat di antara teman-temanku? Pikir Alyss ngeri.
Lacie tertawa pelan ketika melihat reaksi Alyss, "Kau kaget ya? Wajar sih kalau kamu kaget. Aku juga bakalan kaget kalau di Dark Sabrie ada penkhianat, selain Lily tentu saja."
Lacie membungkuk dan meletakkan pisaunya di atas dada Alyss, "Nah, karena kau telah mengetahu semuanya, kurasa sekarang sudah saatnya untuk membunuhmu. Sayang sekali, ya? Kau telah mengetahui sebuah informasi berharga, tapi kau tidak bisa menyampaikannya kepada teman-temanmu!" kekeh Lacie.
Tawa Lacie menjadi lebih keras ketika dia melihat Alyss membuka mulutnya, "Percuma saja kau memanggil Cheshire, Alyss! Walaupun dia telah melewati Griffin, tetap saja dia tidak akan bisa bertarung melawanku!"
Tapi yang keluar dari mulut Alyss bukanlah nama chainnya.
"JACK!"
"Percuma saja kau memanggil Jack, Alyss. Kau tahu dia telah kuberi obat, kan?" kekehan Lacie terdengar semakin keras. Alyss menatap Lacie dengan kedua mata violetnya.
"Lihat saja nanti!"
BUUUKKK
Tiba-tiba Lacie terjatuh pingsan setelah seseorang memukul bagian belakang lehernya. Dan di tempat Lacie tadi berada, Jack berdiri.
"Sepertinya informanmu tidak cukup tepat, Lacie. Kau tidak tahu kalau aku telah terbiasa diracuni oleh Ada? Obatmu itu tidak ada apa-apanya dibanding ramuan Ada!" kata Jack santai. Anak laki-laki itu telah melepaskan diri dari borgolnya dan bergegas membuka borgol Alyss.
Sementara Jack berusaha melepaskan ikatan Alyss, Alyss memanggil Cheshire. Chain gadis itu segera muncul di tengah ruangan.
"Alyss, maaf aku baru bisa muncul, nyaaa. Griffin susah untuk dilewati nyaaa."
"Kau kumaafkan Cheshire." kata Alyss ketika Jack menarik gadis itu berdiri.
"Ada perintah untuk Cheshire, nyaaa?" tanya Cheshire.
"Ada." Alyss menunjuk tubuh Lacie yang masih tidak sadarkan diri, "Bunuh gadis itu!" perintahnnya.
"Baiklah, nyaaa!" Cheshire segera bergerak untuk melaksanakan perintah Alyss. Tetapi sebelum Cheshire sempat melakukan apa-apa, sebuah belati tiba-tiba mencuat di tengah dada Cheshire. Alyss memekik kesakitan dan memegangi dadanya. Cheshire melolong kesakitan dan menghilang.
"Cheshire!" pekik Alyss ketika melihat chainnya menghilang.
"Sayang sekali, tapi kau tidak bisa membunuh gadisku dengan mudah, nona!"
Jack memperdengarkan suara tercekik. Alyss berbalik dan membelalakkan matanya. Jack mencoba melepaskan cekikan seseorang dari lehernya, wajah Jack sudah mulai membiru karena cekikan itu.
"Glen! Lepaskan Jack!" perintah Alyss.
Glen hanya tersenyum malas ke arah Alyss, "Halo, Alyss. Lama tidak bertemu!" sapanya.
"Yah, apapun yang kau mau katakan, lepaskan Jack dulu!"
"Kalau aku tidak mau, bagaimana?" tanya Glen sambil memperkuat cekikannya sehingga Jack mengeluarkan suara tercekik lagi. "Kau tidak berdaya sekarang, Alyss. Kami sudah melucuti senjatamu, sementara kau tidak bisa memanggil Cheshire, chainmu itu terluka cukup parah hingga dia tidak bisa menjawab panggilanmu."
Sebelum Alyss bisa menjawab, dia merasakan sentuhan dingin besi di lehernya.
"Wah, tega-teganya kalian bertiga main sendiri tanpa mengajakku!" rajuk Lacie sambil mempersempit jarak antara leher Alyss dan pisau yang dipegangnya.
"Ups, hati-hati, Alyss! Pisau ini beracun, lho!" Lacie memperingatkan ketika Alyss berusaha membebaskan diri. Dengan tangan kirinya, Lacie mengeluarkan sebuah pisau lagi dari lengan bajunya. Dengan hati-hati, Lacie menjatuhkan pisau beracunnya ke lantai. Kemudian dia menangkap pergelangan tangan kanan Alyss dengan kuat.
Alyss terus memberontak, tapi cengkraman Lacie sangat kuat. Lacie mengangkat tangan kanan Alyss, Alyss semakin memberontak, dia tahu apa yang akan dilakukan Lacie.
"Tenanglah, Alyss. Kalau kalau kau tidak berontak, ini mungkin tidak akan terlalu sakit." kata Lacie santai. "Dan, pisau yang ini tidak beracun kok!" tambahnya.
Lacie menekankan pisaunya ke pergelangan tangan Alyss dan menekannya dengan lembut. Alyss memberontak semakin liar. Sayang, usahanya untuk melepaskan diri berujung sengaja, pergelangan tangannya tergores pisau Lacie. Goresan itu cukup dalam, pisau itu berhasil memotong urat arteri Alyss. Darah segar segera menyembur dari goresan itu.
Alyss menjerit kesakitan. Lacie melepaskan pegangannya terhadap Alyss dan membiarkan gadis itu jatuh. Alyss bergelung kesakitan di atas tanah, memagangi tangan kanannya yang terus mengucurkan darah dengan deras. Kolam darah mulai terbentuk disekitarnya.
"ALYSS!" Jack berteriak panik ketika melihat Alice terluka. Dia berusaha semakin keras untuk melepaskan jari-jari Glen yang masih melingkari lehernya.
"Darahmu enak juga, Alyss!" puji Lacie sambil menjilat darah Alyss yang menodai jemarinya. "Jeritanmu juga enak didengar."
Lacie membalikkan badannya ke arah Glen yang masih mencekik Jack. "Jangan bunuh dia dulu, Glen. Aku yang akan membunuhnya."
"Baiklah, Lacie. Tapi aku yang akan membunuh anggota Pandora berikutnya yang akan kita tangkap!"
"Terserah kau sajalah, pokoknya aku yang akan membunuh Jack!" Lacie kembali membalikkan tubuhnya menghadap Alyss. Alyss mencoba bangkit berdiri, tapi gadis itu jatuh kembali. Wajah Alyss sydah berubah menjadi pucat karena kekurangan darah.
"Sialan kau, Lacie!" kecam Alyss dengan sambil menggertakkan gigi menahan sakit.
"Maaf, Alyss. Tapi kau sudah mendengar rencana kami, dan kami tidak bisa membiarkanmu memberitahu anggota Pandora yang lain. Jadi, aku harus membunuhmu. Tenang saja, aku masuh punya siksaan terakhir untukmu."
Lacie menyeringai dan mengeluarkan sebuah botol kaca dari sakunya. Botol itu bukan botol yang tadi ditunjukkanya kepada Alyss beberapa saat yang lalu. Kalau botol tadi berisi cairan berwarna hitam, botol yang ini berisi cairan berwarna hijau terang. Alyss yakin isi botol itu bukan obat tidur.
"Kau lihat ini?" Lacie melambai-lambaikan botol itu di depan Alyss. "Ini racun yang bisa membuatmu mati setelah sekarat kurang lebih lima menit! Racun ini langka, lho!" bangga Lacie.
Lacie membuka tutup botol itu dan menyodorkan bibir botol itu di bawah hidung Alyss. Aroma yang menguar dari botol itu sangat tidak mengenakkan, pedas sekaligus pahit. Mencium aroma racun itu saja cukup untuk membuat mata Alyss berair.
"Cup,cup, jangan nangis dong!" ejek Lacie ketika dia melihat mata Alyss yang berair karena mencium aroma racun tadi. "Tenang saja, adik kecil, racun ini bukan untukmu!"
Lacie menggoyangkan botol itu dengan pelan, mengaduk cairan yang berada di dalamnya. "Nah, bagaimana perasaanmu kalau kau melihat orang yang kau cintai sekarat, dan kau tidak bisa melakukan apa-apa? Terlebih lagi, apabila sebelumnya dia dicium oleh orang yang kau benci!"
Alyss membelalakkan matanya, "Jangan…" gumamnya lemah.
Lacie melangkah ke arah Glen yang masih terus menahan Jack di tempat. "Jack, aku tahu kalau kau mencintaiku. Jadi, tidak apa-apa kan kalau aku memberikanmu sebuah ciuman?" rayunya dengan suara manis.
Jack memberontak, tapi Glen malah mencekiknya semakin kuat, membuat anak laki-laki itu lemas kehabisan napas.
Lacie mendekatkan bibir botol itu ke bibirnya sendiri, "Maaf ya, Glen."
"Lakukan saja Lacie, aku tidak akan cemburu kok." kata Glen santai.
"Baiklah kalau begitu." Lacie menyeringai sesaat, kemudian meneguk racun di dalam botol. Lacie meletakkan kedua telapak tangannya di pipi Jack, menahan anak laki-laki itu di tempat.
"Tidak!" jerit Alyss. Tapi terlambat, Lacie sudah menempelkan bibirnya ke bibir Jack sebelum dia bisa melakukan apa-apa.
Glen melepaskan cekikannya dan Alyss hanya bisa menyaksikan dengan tidak berdaya ketika Jack jatuh ke atas lantai. Kedua iris jamrud milik Jack berputar ke belakang, tubuh anak laki-laki itu mulai kejang-kejang. Alyss meneriakkan nama Jack, tapi dia tidak merespon.
"Glen! Tega-teganya kau ikut menyakiti teman masa kecilmu!" isak Alyss. Glen menatap Alyss dengan pandangan dingin.
"Bahkan sahabat terbaik bisa berubah menjadi musuh, Alyss. Renungkanlah itu dalam-dalam di waktumu yang tinggal sedikit."
Glen mengalihkan perhatiannya dari Alyss ke Lacie, yang tampak tidak terpengaruh walaupun racun mematikan itu sempat singgah di mulutnya, mungkin dia sudah meminum penawarnya. "Kurasa urusan kita disini sudah selesai, Lacie. Mereka berdua akan mati sebentar lagi."
"Sebentar!" Lacie memungut pisau yang tadi digunakannya untuk mengiris tangan Alyss dari lantai. Gadis itu kemudian berlutut di samping Alyss yang memandangnya penuh kebencian.
"Aku hanya ingin memastikan kalau anakku ini tidak sempat memberitahu anggota Pandora lain tentang informasi yang dia dapat." kata Lacie sebelum dia mengiris pergelangan tangan kiri Alyss.
Alyss kembali menjerit kesakitan. Jeritannya bisa didengar sampai keluar. Alyss terengah-engah kesakitan sementara dia kehilangan semakin banyak darah.
"Aku sudah selesai, Glen!" kata Lacie riang sebelum berlari ke arah pintu gedung. Glen sudah menunggu disana . Sebelum dia melangkah keluar, Lacie menoleh kembali ke arah Alyss.
"Selamat tinggal, Alyss! Jack! Aku akan mengirim kembaranmu secepatnya, Alyss! Sampai jumpa lagi di kehidupan selanjutnya!" ejek Lacie sebelum dia dan Glen keluar dan menutup pintu kembali.
Alyss berusaha menyangga tubuhnya dengan kedua tangannya yang terluka. Gadis itu meringis kesakitan ketika dia menyeret tubuhnya ke arah dimana tubuh Jack berada. Usaha itu menghabiskan tenaganya. Alyss menjatuhkan dirinya di atas dada Jack.
"Jack…" bisiknya sembari memeluk tubuh Jack, menodai pakaian anak laki-laki itu dengan darahnya.
"A… lyss…" Alyss mengerjap terkejut ketika dia mendengar suara Jack.
"Jack, kau belum mati?" tanya Alyss. Sambil gemetaran, Alyss berusaha mengangkat tubuhnya. Jack tersenyum lemah, kedua iris hijaunya berubah menjadi sepucat susu.
"Aku masih hidup, kok. Berkat Ada, aku punya sedikit kekebalan terhadap racun. Tapi racun yang tadi diberikan Lacie sangat kuat. Aku masih punya waktu beberapa menit lagi, menurutku." bisiknya. "Tanganmu? Maaf, aku tidak bisa menolongmu…"
"Tidak apa-apa, Jack. Tapi kau pernah menyelamatkan aku dan Alice dari Lacie dulu."
"Tapi aku tidak bisa menyelamatkan Phillip. Aku gagal menyelamatkan anak tidak bersalah."
"Tapi kau berhasil menyelamatkan kami! Dan aku belum membalasnya! Seharusnya aku menyelamatkanmu dari Lacie tadi!"
Alyss terdiam, dia sadar kalau tadi dia telah membentak Jack, padahal Jack sedang sekarat, "Maafkan aku Jack, seharusnya aku tidak membentakmu di saat ini."
"Tidak apa-apa kok."
Mereka berdua terdiam selama beberapa saat, menatap wajah satu sama lain. Kemudian Alyss menanyakan sesuatu yang mengganjal hatinya.
"Jack, soal yang dikatakan Lacie tadi, apa benar kau menyukainya?" tanyanya lirih.
Jack menggapai tangan Alyss dan mengenggamnya. Alyss berusaha agar tidak mengernyit kesakitan ketika Jack melakukannya. Jack tersenyum meminta maaf.
"Dulu aku memang mencintainya. Tapi, tidak lagi setelah aku mengetahui sisi buruknya. Sekarang, aku mencintai gadis lain, dan gadis itu ada disampingku sekarang."
Semburat merah muncul di kedua pipi pucat Alyss, "Kau serius?"
"Mana mungkin aku bercanda sekarang?" Jack tertawa pelan, kemudian memandang lurus ke langit-langit.
"Aku sekarat, dan aku belum minta maaf kepada Oz…"
"Aku yakin Oz akan memaafkanmu, Jack."
Alyss membaringkan tubuhnya di samping Jack ketika mendapati kesadarannya mulai memudar. Tangannya masih mengenggam tangan Jack. Dia memejamkan matanya, begitu juga Jack. Mereka berniat untuk menghabiskan menit-menit terakhir hidup mereka dalam keheningan.
"I love you, Jack…"
"I love you too, Alyss…"
.
"ARGH!" pekik Alice kesakitan sambil memegangi pergelangan tangan kirinya.
"Alice! Kau tidak apa-apa!" tanya Oz khawatir.
"Berhenti bicara dan cepat temukan Alyss dan Jack!" bentak Alice, membuat keempat orang di sekitarnya berlari semakin cepat. Sekelebat bayangan menarik perhatian Alice, membuat gadis itu menoleh sesaat.
"Itu Glen dan Lacie! Kemana mereka mau pergi? Ah, sudahlah! Fokus saja untuk mencari Alyss dan Jack! Aku harap mereka tidak apa-apa…"
Beberapa saat kemudian, Aire dan Ann berhenti di depan sebuah gedung yang sudah terbengkalai. "Disini tempatnya." bisik Ann. Tanpa ragu-ragu lagi, Alice, Oz, dan Ada mendobrak pintu gedung itu.
Informasi yang diberikan Ann terbukti tepat. Mereka berlima mendapati kedua orang yang mereka cari sedang berbaring di samping satu sama lain, jari jemari mereka terjalin, senyum di wajah mereka. Mereka berdua berbaring di atas kolam berwarna pekat yang mereka sadari adalah darah.
"Alyss!" pekik Alice sebelum berlari ke arah saudara kembarnya, sementara Oz dan Ada meneriakkan nama kakak mereka sebelum menyusul Alice. Aire dan Ann memilih berdiri diam di ambang pintu, sepakat untuk tidak ikut campur.
Alice mengguncang-guncang tubuh Alyss, "Alyss! Kau dengar aku? Kumohon Alyss, jangan pergi dulu!" isaknya. Tetesan air mata membasahi matanya dan mulai menitik turun.
Secercah harapan muncul di hati Alice ketika dia melihat kelopak mata Alyss bergetar. Perlahan-lahan, Alyss membuka kedua bola mata violetnya. Matanya yang biasanya penuh kehidupan sekarang meredup.
"A..lice?" bisiknya tidak percaya.
"Iya, Alyss, aku ada disini. Kumohon, bertahanlah! Kami akan membawamu dan Jack ke markas!"
"Tidak, Alice! Kau tidak akan bisa menyelamatkanku atau Jack sekarang! Ada informasi penting yang harus kusampaikan, jadi dengarkan baik-baik."
"Apapun itu, itu bisa menunggu sampai kita membawamu ke markas." Alice mulai mencoba untuk mengangkat Alyss.
"Tidak, Alice! Kau harus mendengarkannya sekarang!" perintah Alyss. Kemudian gadis itu batuk, darah keluar dari mulutnya.
"Alyss!"
"Alice, tolong, dengarkan baik-baik. Kalau kau membawaku ke markas terlebih dulu, aku takut aku tidak bisa bertahan. Jadi, dengarkan!" pinta Alyss.
Alice menatap wajah kesakitan saudara kembarnya sambil berurai air mata. Samar-samar, dia bisa mendengar percakapan terakhir antara Oz, Ada, dan Jack. Alice hanya bisa menangkap beberapa kalimat, seperti "Maafkan aku…" dan "Aku memaafkanmu, kak…"
"Baiklah Alyss, aku mendengarkan."
Alyss menghela napas dan menceritakan informasi yang dia dapat dengan terbata-bata. Setelah dia selesai, energi Alyss telah benar-benar terkuras. Bahkan dia kesulitan untuk mempertahankan kesadarannya.
"Alice, akhirku sudah dekat. Aku tahu ini berat untukmu, tapi tolong jangan bersedih terlalu lama. Aku akan sedih kalau kau terus menerus murung. Berjanjilah untuk tetap menjadi Alice yang ceria!" pinta Alyss.
Alice menghapus air mata yang sudah menuruni pipinya dengan jemarinya, "Aku berjanji…"
Alyss tersenyum lembut kepada kembarannya, kemudian menutup matanya, "Jangan lupakan aku, Alice. Aku menyangimu." pesannya sebelum dia menghembuskan napas terakhirnya.
Alice bangkit berdiri, air mata masih mengalir deras di pipinya. Dia melihat Ada sedang memeluk tubuh kakaknya yang sudah tidak bernyawa, sedangkan Oz memandang kosong wajah kakaknya. Sementara itu, Aire dan Ann menundukkan wajah mereka tanda berduka di dekat pintu.
"Semua ini salahku. Kalau saja aku…" gumam Oz
"Diam, Oz! Tidak ada waktu untuk menyalahkan diri sendiri! Kita harus mengurus mereka berdua!" bentak Alice. Kemudian dia mengalihkan pandangannya agar tidak ada orang yang melihat air matanya.
"Lagipula, ada penkhianat yang harus kita beri pelajaran!"
TBC
A/N:
Mari kita mengheningkan cipta untuk Alyss dan Jack yang telah gugur *hening*
Gomen Aoife updatenya lama, pendek pula. Buat fans Alyss dan Jack, maaf ya tokoh kesayangan kalian Aoife matiin. Di warning Aoife udah janji bakal ada yang mati di chapter ini, kan? Gomen, dari awal memang idenya udah kayak gitu. Tapi setidaknya mereka mati barengan, kan?
Satu lagi, jangan kaitkan cerita ini sama chapter-chapter terbaru PH, oke? Jadi, jangan anggap Glen Lacie incest, atau Jack jahat, dsb. Jujur aja, Aoife sempet bingung ngadaptasi chapter-chapter terbaru di sini.
Anyway, wish me luck for 'pagelaran' TUC, mid test, and UN guys RnR please.
