Pandora Hearts ©Jun Mochizuki
This fic© Aoife the Shadow
.
Warning: AU, OOC, typos, death charas, contain OCs
Note: PSC=Pandora Street Child DS=Dark Sabrie
Enjoy!
.
.
Chapter 16: Move On!
Oz melempar dan menangkap koin yang sedang dia pegang sembari melamun. Di sampingnya, Ada duduk menyandar ke dinding, matanya menatap entah kemana dengan pandangan nanar. Teman-teman mereka yang lain juga berada dalam kondisi yang kurang lebih sama.
Seminggu ini mereka hampir tidak pernah keluar dari markas, mereka terus berkabung untuk kedua teman dan keluarga mereka yang telah pergi. Setelah pemakaman kedua sahabat mereka itu, mereka segera kembali ke markas dan selama seminggu ke depannya, mereka jarang berbicara kepada satu samalain. Dalam hati, mereka semua mengutuk Dark Sabrie, terutama Lacie dan Glen, yang telah menyebabkan kematian Alyss dan Jack.
Tentu saja yang terpengaruh paling parah oleh kematian mereka berdua adalah Ada, Oz, dan Alice. Sejak kepergian saudara mereka, mereka seperti kehilangan semangat hidup mereka. Oz terus menyalahkan dirinya sendiri atas kematian kakaknya dan Alyss. Ada nyaris tidak mengucapkan sepatah kapanpun sejak pemakaman kakaknya. Sementara Alice kehilangan semangat dan keceriaannya.
Setelah berdiam diri selama beberapa saat, Ada bangkit berdiri dan beranjak keluar dari markas. Mencari udara segar, atau begitulah katanya sebelum melangkah keluar. Beberapa saat kemudian, Elliot menyusulnya.
"Aku khawatir dia ditangkap oleh Dark Sabrie." katanya sebelum berlari menyusul gadis yang sedang berduka itu.
Oz menyenderkan punggungnya ke dinding, kedua iris emeraldnya memandang ke arah teman-temannya. Dia melihat Zwei sedang tidur-tiduran tanpa semangat di atas kantung tidurnya, sementara Sharon sedang mengelap sebuah piring tanpa semangat di samping gadis itu. Gil dan Vincent sedang bermain adu ayam dengan asal-asalan, Break menonton mereka berdua bermain tanpa minat. Seperti biasa, Reo menenggelamkan diri di balik bukunya, sementara Alice…
Oz mengernyitkan dahinya, heran. Sekali lagi dia menghitung jumlah teman-temannya, tapi hitungannya tidak pernah genap. Sebuah pertanyaan menyerbunya.
Dimana Alice?
Rasanya dia tidak melihat gadis itu sejak pagi.
Dalam sekejap, Oz sudah bangkit berdiri. "Dimana Alice?" tanyanya panik.
Teman-temannya memandang satu sama lain, kemudian menggelengkan kepala mereka masing-masing dengan pelan. Mereka juga baru menyadari kalau Alice tidak berada di antara mereka ketika Oz bertanya.
"Sial!" rutuk Oz. Tanpa diperintah, anak laki-laki itu segera berlari keluar dari markas, mencari gadis pemilik Cheshire itu.
Zwei, Sharon, Break, Gil, Vincent dan Reo hanya bisa terdiam melihat aksi pemimpin mereka. Setelah hening beberapa menit, akhirnya Break angkat bicara, "Ada yang mau menyusul dia? Aku takut nanti Oz bunuh diri atau apa…"
"Aku saja!" Gil menawarkan diri.
"Aku ikut!" pekik Zwei. Sharon memandang sahabatnya itu dengan pandangan aneh, karena biasanya Zwei paling malas kalau disuruh mencari orang.
"Kau, atau Echo?" tanya Sharon curiga.
"Tentu saja Echo!" jawab Zwei sambil mengedip nakal, kemudian gadis itu menutup matanya dan bertukar posisi dengan alter egonya.
"Ayo, Echo!" ajak Gil sambil mengulurkan tangannya. Echo menerima uluran tangannya dan mereka berdua segera berlari menyusul Oz.
.
"Tch, dimna sih dia?" gerutu Oz. Dia sudah berputar-putar selama sekitar lima belas menit dan belum juga menemukan Alice. Bahkan Oz sudah mencari ke makam Alyss dan Jack, tapi gadis itu tidak berada di sana.
Tanpa sadar, langkah kaki Oz membawa anak laki-laki itu menuju taman kota. Oz memandang sekelilingnya dengan bingung, bertanya-tanya bagaimana dia bisa sampai di sini. Tanpa sadar, dia melangkah menuju air mancur tempat Alice menceramahinya minggu lalu.
Beberapa meter sebelum dia mencapai air mancur itu, dia melihat seorang gadis telah duduk membelakanginya di pinggir air mancur. Gadis itu tampak sedang sedih, karena kepalanya tertunduk menatap air di bawahnya, menyembunyikan wajahnya. Kedua kakinya terendam di dalam air, rambut brunette-nya melambai pelan karena tertiup angin sepoi-sepoi.
Oz tersenyum ketika dia melihat gadis itu. Beberapa saat kemudian, Oz sudah duduk di samping gadis itu.
"Ternyata kau disini, Alice…" gumamnya pelan kepada gadis yang berada di sampingnya.
"Hai, Oz…" gadis itu, yang tentu saja adalah Alice, ikut bergumam.
"Kenapa kau pergi tanpa bilang-bilang? Kau membuat kami khawatir, kau tahu?" tanya Oz. Jari-jari miliknya memainkan rambut-rambut Alice yang terasa lembut.
"Maaf, aku hanya butuh waktu sendiri…" Alice mendongakkan wajahnya, menatap langit biru cerah yang terbentang di atas mereka.
"Berat rasanya kalau ada anggota keluargamu yang pergi, terutama kalau dia adalah saudara kembarmu."
"Aku tahu rasanya, Alice. Aku dan Ada juga mengalaminya." kata Oz pelan.
"Tapi kalian hanya kehilangan kakak kalian, Oz, kakak angkat pula! Sementara aku kehilangan saudara kembarku!" pekik Alice, butir-butir air mata mulai mengalir menuruni pipi putihnya, air mata yang sudah ditahannya sekian lama. Oz memilih untuk diam saja, dia tahu Alice belum selesai menumpahkan isi hatinya.
"Aku dan Alyss selalu bersama. Kami berbagi satu rahim, sama-sama menderita ketika kami menjadi kelinci percobaan. Ketika Alyss senang, aku pun turut senang. Ketika Alyss menderita, akupun turut menderita. Kau pernah dengar teori kalau dua anak kembar sebenarnya adalah satu jiwa yang berada di dalam dua tubuh yang berbeda? Nah, menurutku itu benar. Jadi, ketika Alyss pergi, setengah jiwaku juga pergi."
"Aku dan Alyss tidak terpisahkan. Di mana aku berada, Alyss juga ada di situ. Walaupun kami terpisah, kami selalu bisa mengetahui apa yang terjadi terhadap yang lain. Kau ingat ketika Alyss ditangkap dan aku terus menerus kesakitan? Kami berdua seperti… tersambung. Sekarang, setelah dia pergi, sambungan itu hilang. Rasanya seperti kau kehilangan kedua tanganmu, atau kakimu, aku merasa seperti tidak utuh lagi."
Alice terdiam setelah dia selesai menumpahkan isi hatinya, dia kembali menundukkan kepalanya, menatap refleksinya yang dipantulkan oleh air.
"Rasanya aku tidak akan bisa kembali seperti dulu lagi."
Selama itu, Oz tetap diam. Setelah Alice terdiam cukup lama, Oz mengusap air mata Alice menggunakan jari-jarinya. "Sudah selesai?" tanyanya lembut. Alice mengangguk.
"Aku tahu ini berat untukmu, Alice. Tapi, kau harus merelakan kepergian Alyss. Dia tidak akan senang kalau tahu kau mengabaikan pesannya dan terus bersedih." Oz mencoba menasihati Alice. Kedua tangannya bergerak untuk merangkul Alice.
Alice menangkap dan menahan kedua tangan Oz sebelum dia sempat merangkulnya. Kedua iris violetnya menatap iris emerald milik Oz dengan tajam, "Kau sendiri? Kau sendiri masih bersedih, kan? Kau masih marah dan terus menyalahkan dirimu sendiri atas kematian Jack, kan?" tuduhnya.
Oz menunduk sebentar sebelum menjawab, "Ya, aku masih marah kepada diriku sendiri. Kalau saja aku tidak marah pada waktu itu, tentu saja Jack dan Alyss masih hidup sekarang."
"Jadi, kau sendiri masih marah, kan? Kalau saja kau tidak marah dan pergi saat itu… Kalau saja Alyss dan Jack tidak masuk ke dalam perangkap… Kalau saja tidak ada penkhianat diantara kita… Kalau saja kita menemukan mereka lebih cepat… Kalau, kalau, dan kalau. Terlalu banyak kalau di dalam kejadian ini!" isak Alice.
"Memang terlalu banyak kalau. Kalau saja kita tidak bertemu Aire dan Ann, mungkin kita tidak akan bisa mendengar pesan terakhir mereka." balas Oz. "Setidaknya, masih ada yang positif diantara kalau-kalau itu."
Alice mengusap air matanya, kedua matanya menjadi merah karena menangis, "Aire dan Ann sungguh beruntung, mereka masih memiliki satu sama lain."
"Siapa bilang aku dan Aire tidak pernah kehilangan seseorang?"
Oz dan Alice menoleh ke arah suara itu. Saking emosinya mereka, tanpa mereka sadari, seorang gadis berambut cokelat tua telah duduk di samping Alice.
"Hai, Ann! Apa yang kau lakukan disini?" tanya Oz.
"Menunggu Will, dia terlambat seperti biasa!" keluh Ann sambil menggembungkan pipinya. Melihat penampilannya sekarang yang seperti gadis biasa, tidak akan ada yang mengira kalau sebenarnya dia adalah seorang putri gangster terkenal.
Beberapa saat kemudian, ekspresinya berubah serius kembali, "Aku turut berduka atas kematian saudara kalian berdua." Oz dan Alice hanya mengangguk untuk menanggapi perkataan Ann.
"Omong-omong berduka terlalu lama itu tidak baik, lho!" tambah Ann.
"Kau tidak tahu bagaimana rasanya, Ann." desah Alice. "Kau masih memiliki Aire!"
"Jangan bilang aku tidak tahu rasanya, Alice." balas Aire tenang. "Aku tahu benar bagaimana rasanya!"
"Hidup sebagai gangster itu tidak mudah. Setiap saat, kau bisa kehilangan temanmu, entah ditangkap polisi, atau dibunuh oleh anggota geng lain. Aku dan Aire telah kehilangan banyak teman baik ditangan polisi, Clockwork, maupun geng-geng lain. Aku bahkan telah kehilangan saudara kembarku." Aire melanjutkan, masih dengan nada tenang.
"Tunngu, kukira Aire kembaranmu?" tanya Oz bingung.
Ann tersenyum simpul, "Aire bukan satu-satunya kembaranku, kami masih punya kembaran yang lain. Sebenarnya, kami adalah triplets bukan twins.Kalau jiwamu terbagi dua, Alice, jiwaku terbagi tiga!"
"Kami kehilangan dia dua tahun lalu ditangan Clockwork. Awalnya, aku dan Aire sama seperti kalian, sedih dan marah kepada diri sendiri. Kalau saja aku membunuh snipper itu terlebih dahulu, kalau saja Aire tidak mengambil jalan yang salah, kalau saja kami melindunginya pada saat itu. Kami terus menyalahkan diri sendiri, bahkan Aire nyaris bunuh diri!"
"Hari demi hari berlalu, hingga akhirnya aku dan Aire bisa menerima kepergiannya. Kami sadar, yang telah terjadi tidak akan bisa terulang. Kalau kami ingin menghormati dia, aku dan Aire harus tetap melanjutkan hidup. Kami tidak ingin membuat pengorbanannya sia-sia."
"Hal itu juga berlaku untukmu, Alice, Oz! Mungkin duniamu terasa runtuh sekarang, tapi bangunlah kembali dunia itu! Kalian tidak ingin mengabaikan pesan terakhir mereka, kan? Jadi, jangan berduka berlarut-larut! Menyalahkan diri sendiri juga tidak ada gunanya, karena kau tidak bisa memutar balik waktu. Percayalah kalau Jack dan Alyss sudah bahagia di alam sana!"
"Ya, mungkin kalian tidak bisa kembali seperti dulu lagi. Kalian berubah, tapi usahakanlah agar kau berubah menjadi lebih baik. Misalnya kau, Oz! Kau bisa belajar untuk mengontrol kemarahanmu. Buatlah kejadian itu sebagai pelajaran, pelajaran agar kalian, juga PSC, berubah menjadi lebih baik! Kalian berdua mengerti?"
Ann bangkit berdiri dan mengibaskan debu yang tidak terlihat dari roknya, "Sekarang, kalian pikirkan semua itu! Aku pergi dulu, Will sudah datang. Sampai jumpa!"
Dengan kata-kata itu, Ann melangkah pergi dengan tenang, meninggalkan Oz dan Alice untuk memikirkan kata-katanya.
Oz dan Alice terdiam cukup lama setelah Ann meninggalkan mereka. Keheningan diantara mereka membuat mereka tidak nyaman, hingga akhirnya Oz angkat bicara.
"Kurasa yang dikatakan Ann benar, kita tidak boleh terus bersedih dan marah seperti ini. Jack dan Alyss pasti murka kalau mereka berdua melihat keadaan Pandora!"
"Benar juga. Yang sudah terjadi tidak bisa terulang lagi. Jack dan Alyss sudah pergi, kita tidak mungkin membawa mereka kembali." komentar Alice. Oz dan Alice menatap satu sama lain, sebuah senyum kecil terbentuk di bibir mereka.
"Maaf karena sering marah selama ini!"
"Maaf karena sudah terlalu lama bersedih!"
"Jadi," Oz meloncat turun dari tempat duduknya dan merebahkan diri di atas rumput, "Pandora akan kembali seperti semula, eh?"
"Pandora tidak akan terasa sama lagi tanpa Alyss dan Jack!" Alice ikut merebahkan diri di samping Oz, "Tapi, setidaknya kita masih punya teman-teman kita yang lain!"
"Kau tahu? Aku penasaran siapa penkhianat itu! Menurutmu, siapa dia?" tanya Oz sambil menatap langit.
"Kita tidak boleh asal menuduh, Oz! Kalau kita saling menuduh, Pandora akan pecah!"
"Iya, aku tahu. Tapi tetap saja aku penasaran!" gumam Oz, kemudian dia terdiam, seperti memikirkan sesuatu.
"Oz, kau masih disitu?" tanya Alice yang agak heran karena kediaman Oz yang tiba-tiba.
"Iya, aku masih disini. Hanya sedang… berpikir…"
"Berpikir apa?" Alice bangun dan menyangga tubuhnya dengan sikunya agar dia bisa melihat Oz.
"Well, kalau Jack adalah kakak angkatku, berarti aku tidak punya hubungan darah dengannya, kan?"
"Iya, lalu?"
"Jack menyukai Alyss, kan? Jadi, mungkin dia akan menikahi saudaramu di alam sana."
"Kemungkinan besar seperti itu. Tapi, apa hubungannya dengan kita?"
"Karena aku dan Jack tidak ada hubungan darah, dan Jack sudah tidak ada disini, jadi tidak apa-apa kan, kalau aku menjadikan kau… apa ya istilahnya? Ke…kkk…ee… mphhh!" sebelum Oz sempat menyelesaikan kalimatnya, Alice sudah menutup mulut Oz dengan menggunakan telapak tangannya.
"Tidak usah diselesaikan, Oz!" wajah Alice sudah semerah tomat sekarang. Setelah yakin Oz tidak akan melanjutkan kalimat tadi, Alice melepaskan bekapannya.
Oz menyeringai melihat wajah Alice yang sudah bersemu merah, "Jadi, kau mau?"
Alice membuang muka agar Oz tidak melihat ekspresi malunya, "Ermm… aku…"
"Aku tidak menerima jawaban 'tidak'!" tambah Oz.
"Baiklah, baiklah, AKU MAU! Puas?" pekik Alice. Rasanya gadis itu tidak sanggup lagi menahan malu ketika orang-orang yang lewat menatap mereka berdua.
Oz tersenyum puas ketika mendengar jawaban Alice, "Nah, itu baru bagus!"
Oz bangkit berdiri dan merangkul Alice, membuat gadis itu semakin merona. Oz mengencangkan rangkulannya hingga Alice merasa sesak.
"Oz, lepaskan!" Alice mencoba meronta, tapi Oz malah semakin mempererat rangkulannya.
"Oh, tidak bisa!" balas Oz sambil tersenyum licik. Anak laki-laki itu membenamkan wajahnya di rambut Alice, menghirup aroma gadis itu. Setelah mencoba melepaskan diri dari pelukan Oz selama beberapa saat, akhirnya Alice memilih untuk pasrah.
"Hey, kalian berdua! Bukannya bermesraan di tempat umum itu dilarang?" teriak seseorang yang berada di depan mereka. Oz dan Alice mendongak dan melihat kalau Elliot dan Ada telah berada di depan mereka.
"Terserah kami, dong! Kalian sendiri, ngapain pegangan tangan?" tanya Oz dengan nada mengintegorasi. Barulah Elliot dan Ada sadar kalau mereka berdua sedang berpegangan tangan. Mereka berdua segera melepaskan pegangan mereka. Sama seperti Alice, wajah keduanya juga merona malu.
"Nii-chan, ini bukan apa-apa…" jawab Ada lemah. Oz memicingkan matanya.
"Elliot, apa yang kau lakukan kepada adikku?" tanya Oz curiga.
"Aku tidak melakukan apa-apa! Aku hanya menceramahinya agar tidak bersedih terus menerus dan tiba-tiba saja dia sudah memegang tanganku!"
"Mmm, Elliot? Bukannya kau yang memegang tanganku duluan?"
"Aku? Aku tidak ingat! Pasti kau duluan!"
"Kau duluan!"
"Bukan, kau!"
Oz dan Alice hanya bisa tersenyum ketika melihat pasangan yang tidak mau mengaku itu. Mereka berdua cocok, mungkin itulah yang ada di pikiran mereka.
.
"Menurutmu, Oz ada dimana?" tanya Gil. Dia dan Echo sudah mencari Oz selama satu jam, tapi mereka tidak juga menemukan anak laki-laki itu, walaupun mereka sempat bertemu Elliot dan Ada.
"Tidak tahu, mungkin dia sudah menemukan Alice? Setidaknya Elliot dan Ada sudah setuju untuk membantu kita." jawab Echo. Gadis itu menoleh ke arah kanan dan kirinya, mencari tanda anak laki-laki berambut pirang itu.
"Mungkin kita bisa mencari di taman kota. Kita belum mencari di sana, kan?" usul Gil. Echo mengangguk setuju. Mereka pun mengubah arah perjalanan mereka menuju taman kota.
"Nee, Echo? Kau pikir Oz, Ada dan Alice akan bisa kembali seperti dulu?" tanya Gil untuk mencairkan suasana.
"Aku tidak tahu." jawab Echo jujur, gadis itu menendang sebuah kerikil yang menghalangi jalannya.
"Sepertinya Ada sudah kembali normal, mungkin karena Elliot. Alice, dilihat dari sifatnya, aku yakin dia akan kembali seperti dulu. Sementara Oz, aku tidak tahu apakah dia akan kembali normal. Kematian Jack dan Alyss memang berat untuk kita semua, kita semua berubah karena kepergian mereka."
"Memang sih, sekarang kita rasanya lebih serius. Rasanya seperti bukan Pandora!" Gil mengakui. "Rasanya aku ingin menyiksa si penkhianat itu begitu kita mengetahui siapa dia! Omong-omong, menurutmu siapa tikus kecil itu? Bukan kau kan, Echo?"
"Aku tidak akan pernah menkhianati Pandora." Echo berkata pendek, "Pandora adalah alasan kenapa aku masih hidup sekarang!"
"Bukan Oz?"
"Oz termasuk anggota Pandora, kan?"
"Benar juga, ya…"
Mereka berjalan selama beberapa saat dalam diam sebelum Echo memecahkan keheningan, "Gil?"
"Kau suka dengan Alice, kan?"
Gil tersentak ketika mendengar lima kata singkat itu. Hanya lima kata, tapi mampu membuat jantungnya berdebar-debar. "Eh? Kenapa tiba-tiba…?"
"Tidak apa-apa, hanya penasaran." kata Echo santai. "Jadi, jawabannya?"
"Erm, sepertinya iya…" Gil mengakui dengan malu-malu.
"Sudah kuduga." Echo tersenyum kecil, "Menurutku, kau cocok dengan Alice. Well, semoga berhasil mendapatkan Alice!"
"Memangnya kenapa?" tanya Gil, bingung karena Echo yang biasanya pendiam tiba-tiba mengatakan hal-hal aneh seperti tadi.
"Kau sendiri menyukai Oz, kan?" Gil balik bertanya.
Echo membuang muka ke samping agar Gil tidak melihat wajahnya, "Mungkin…" gumamnya.
"Jadi, kau ingin aku merebut Alice, agar kau bisa mendekati Oz?" tebak Gil.
"Bukan seperti itu!" pekik Echo sebelum berjalan cepat mendahului Gil.
"Hey, Echo! Tunggu!" Gil berusaha mengejar Echo yang sudah cukup jauh di depannya. Sayangnya, lari Echo lebih cepat daripada Gil. Anak laki-laki itu baru bisa menyusul Echo ketika gadis itu berhenti di depan taman.
"Kenapa lari? Aku kan cuma bercanda!" protes Gil, tapi Echo tidak merespon perkataan Gil.
"Echo? Halo!" Gil menepuk pundak Echo, tapi gadis itu tidak juga menunjukkan respon. Akhirnya, Gil mengikuti pandangan Echo, dan dia segera mengerti kalau Echo sedang mengalami perang batin, seperti yang segera dialaminya begitu Gil melihat Oz yang sedang memeluk Alice dengan erat.
"Echo?" tanya Gil lemah, "Kau saja yang memanggil mereka, ya? Aku tidak bisa melakukannya…" pintanya sebelum berbalik dan berlari entah kemana.
Echo masih terpaku di tempat dia berada selama beberapa saat, kemudian dia berbalik dan berbisik, "Aku juga tidak bisa…" sebelum berlari dan menghilang di antara rumitnya jalan-jalan kota Sabrie.
"Kau tahu dia tidak akan pernah menjadi milikmu…" Echo bisa mendengar Zwei menggumam pelan di pikirannya ketika dia berlari dan terus berlari, entah kemana.
"Aku tahu! Aku tahu! Aku tahu!" pekik Echo di pikirannya agar bisa didengar oleh alter egonya.
"Tapi, kenapa aku tidak bisa menerimanya?"
TBC
(End of Arc 3)
A/N:
Akhirnya, Arc ketiga selesai! Kira-kira tinggal tiga arc lagi, berarti sekitar sepuluh chapter lagi!^^
Oke, sekarang fic ini Aoife bagi jadi beberapa arc, setiap arc terdiri dari beberapa chapter yang berpusat pada beberapa tokoh. Contoh, Arc 1 berpusat pada Gil dan Vincent, Arc 2 Break dan Sharon, Arc 3 Oz, Jack, Alice dan Alyss. Nanti Arc 4 akan berpusat pada pada Elliot, Reo, dan Ada^^
By the way, Aoife punya niat untuk merombak chapter-chapter di Arc 1, karena pas Aoife baca ulang, kok rasanya ngaco, ya? ==a Nanti Aoife juga akan ngasih info tambahan tentang kotak Pandora di chapter 5!
Anyway, RnR guys!
